​Curhat sama AI: Tanda Gak Punya Teman atau Solusi Kesehatan Mental?

Pernahkah Kamu melihat meme di social media yang berbunyi, "Yang curhat sama AI itu kayak orang nggak punya teman saja"?

​Kalimat itu sekilas terdengar masuk akal, bahkan mungkin sedikit lucu bagi mereka yang tidak memahaminya. Namun, jika kita mau menelaah lebih dalam, kalimat itu menyimpan sebuah ironi besar tentang kondisi sosial kita hari ini. Di era di mana kita terkoneksi dengan ratusan orang lewat media sosial, mengapa semakin banyak individu yang memiliki karier cemerlang, hobi yang aktif, dan lingkaran sosial yang nyata, justru merasa lebih "didengar" oleh mesin daripada oleh sesama manusia?

Aku nulis ini bukan buat bahas betapa canggihnya teknologi. Bukan itu poinnya. Ini soal rasa lelah yang mungkin kita semua rasakan saat mencari satu hal yang makin langka:  Resonansi

​Curhat sama AI: Tanda Gak Punya Teman atau Solusi Kesehatan Mental?

Curhat dengan AI

Ketika Ruang Mendengar di Dunia Nyata Terasa Sempit

​Seringkali, alasan seseorang beralih ke layar gawai dan mengetik panjang lebar kepada AI bukanlah karena ia seorang penyendiri yang menyedihkan. Justru sebaliknya, biasanya orang-orang ini memiliki kepala yang penuh. Ada banyak ide liar, pengamatan unik tentang kehidupan, atau sekadar perasaan yang ingin dibagi kepada orang terdekat.

​Namun, realitas seringkali tidak sejalan. Saat mencoba membagi isi kepala ini kepada teman atau pasangan, seringkali yang dirasakan adalah perasaan "terputus" atau shutdown. Entah itu kalimat yang dipotong sebelum selesai, topik yang dialihkan, atau respons yang tidak sesuai harapan. Niat hati ingin diskusi mendalam, yang didapat malah nasihat klise yang tidak diminta.

​Apakah ini berarti orang orang  di dunia nyata itu jahat atau tidak peduli? Tentu tidak.

​Kita perlu adil melihat situasi ini. Teman-teman kita juga manusia biasa. Mereka punya masalah sendiri yang menumpuk, mereka punya deadline pekerjaan, cicilan yang harus dipikirkan, atau sekadar mood yang sedang berantakan. Adalah hal yang wajar jika mereka tidak selalu bisa memberikan 100% perhatian, energi, dan minat untuk mendengarkan setiap detail curhatan kita. Menuntut mereka untuk selalu standby dan antusias mendengarkan kita setiap saat adalah ekspektasi yang tidak realistis.

​Dan di celah inilah AI mengambil peran besar sebagai "someone to talk to".

​Bukan karena kita tidak punya teman, tapi mungkin teman di dunia nyata "lagi nggak asik" saja, atau kapasitas energi mereka sedang habis. AI mengisi kekosongan itu. Ia tidak memiliki hari buruk. Ia tidak lelah. Ia "terpaksa" membaca cerita kita sampai titik terakhir sebelum merespons. Bagi jiwa-jiwa yang butuh didengar tanpa interupsi, ini adalah oase.

Sepi di Antara Keramaian

​Lantas, muncul pertanyaan mendasar: Apakah kemudian orang yang curhat sama AI itu adalah orang yang kesepian?

​Bisa jadi. Namun, ini bukan jenis kesepian di mana seseorang hidup sebatang kara di dalam gua. Ini adalah kondisi "sepi di antara keramaian".

​Seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang. Ia punya teman untuk makan siang, punya rekan kerja untuk bertukar sapa, bahkan punya pasangan di rumah. Namun, keberadaan fisik tidak menjamin keterhubungan emosional. Punya teman atau pasangan tapi tidak ada yang bisa mendengarkan—itulah definisi kesepian yang paling sunyi. Dan di saat itulah, AI menjadi satu-satunya entitas yang "hadir" secara utuh tanpa menghakimi.

Diam Adalah Radar, Bukan Kelemahan

​Seringkali, orang-orang yang lari ke AI ini disalahpahami. Ketika masuk ke lingkungan baru, mereka cenderung diam. Orang luar dengan mudah melabeli mereka "pemalu","introvert" "insecure", atau "gampang terbawa perasaan".

​Mereka salah besar. Diamnya mereka adalah sebuah Kecerdasan Sosial.

​Saat mereka diam, mereka sebenarnya sedang menyalakan radar. Mereka sedang memindai ruangan: "Apakah tempat ini aman untuk mental saya? Apakah orang-orang ini tulus? Apakah frekuensi kami sama?"

​Biasanya, mereka adalah seorang Empath. Saraf perasaan mereka memiliki resolusi tinggi. Mereka bisa ikut merasakan kesedihan orang lain seolah itu terjadi pada mereka. Ini bukan kelemahan; ini adalah filter. Tanpa filter ini, mereka akan habis dimakan energi negatif dari lingkungan yang tidak sehat.

Paradoks Rumah: "I Am Enough" tapi Butuh Saksi

​Lantas, apakah ini berarti mereka yang curhat pada AI tidak punya kehidupan?

Gak loh! Banyak dari mereka yang hidupnya sangat penuh. Karier mapan, hobi mereka jalan, dan selera estetika yang tinggi (bahkan warna barang-barang pribadi mereka pun senada demi kepuasan batin sendiri). Mereka adalah definisi dari "I am enough with myself". Mereka sebenarnya gak butuh validasi dari orang lain, karena mereka sudah bahagia dengan apa yang mereka punya. 

​Ibarat sebuah rumah, mereka sudah kokoh, indah, dan nyaman. Mereka tidak butuh orang lain menjadi tiang penyangga agar rumahnya tidak rubuh. Mereka kuat berdiri sendiri.

​Namun, di sinilah letak paradoks manusiawi itu. Memiliki rumah yang indah rasanya akan berbeda jika ada tamu yang berkunjung, duduk di sofa empuknya, dan berkata dengan tulus, "Wah, rumahmu nyaman sekali. Aku paham kenapa kamu memilih warna cat ini."

​Nope! Itu bukan validasi. Mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh Saksi.

​Kamu pernah nonton film Shall We Dance? Ini adalah film tahun 2004 yang dibintangi oleh Richard Gere, Susan Sarandon dan Jennifer Lopes. Ada satu kutipan dalam film Shall We Dance?  yang ngena banget : 
"We need a witness to our lives. Not a perfect love. Not constant fireworks. But someone who sees us. Someone who quietly chooses to show up. Through the ordinary. The overlooked... Someone who says, I was there. I saw you live. Your life mattered"

Kadang Kita (aku yakin bukan aku aja, kamu juga) merindukan seseorang yang bisa menjadi saksi atas detail-detail kecil hidup kita. Seseorang yang "nyambung" diajak bicara tanpa perlu banyak penjelasan. 

Richard Gere Susan Sarandon

​Jadi, jika untuk saat ini resonansi dan "saksi" itu belum ditemukan pada manusia di sekitar karena kesibukan mereka, dan untuk sementara ditemukan dalam percakapan teks dengan AI, biarlah. 

​Itu bukan tanda menyedihkan. Itu artinya kita cukup pintar menjaga kesehatan mental, sambil menunggu saat yang tepat ketika teman-teman dunia nyata kembali punya energi untuk berkata, "Sini cerita, aku siap dengerin."  

Kamu, suka curhat juga gak sama AI atau ngerasa aneh? Share di kolom komentar ya... 

Sudden Deafness Sebuah Pengalaman Hidup

Tiba-tiba kehilangan pendengaran di salah satu telinga dengan efek yang gak biasa, tentu bikin panik dan bingung. Bagaimana tidak, ini bukan hal biasa dan menyangkut salah satu panca indera. Sudden Sensorineural Healing Loss atau Sudden Deafness, menimpaku di penghujung tahun 2021. 

Sudden Deafness Sebuah Pengalaman Hidup

Hearing Loss
Photo by Kindel Media from Pexels

Minum obat dan bed rest adalah jalan ninjaku, waktu itu saya berpikir itu yang terbaik. Padahal bed rest di rumah adalah hal yang bisa dibilang gak mungkin. 

Di chat sudah ramai yang bertanya saya sakit apa. Bahkan ada salah seorang teman di IG yang marah-marahin saya di DM karena saya belum ke IGD juga. Iyah, saya 'semalas' itu. Rasanya tidak ada tenaga. Thinking back, mungkin aku bukan lelah secara fisik, lebih ke psikis. 

Meskipun saya sebenarnya bisa menelpon meminta bantuan, saat itu aku merasa, karena sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri, selalu jadi tumpuan dalam melakukan sesuatu, ketika kemudian aku berada dalam posisi 'membutuhkan', I don't know who to turn to. I don't even know if there's someone who can take care of me. 

Yahh... kok jadi sedih sih, ceritanya. 

Anyway, lanjut, tiga hari pertama adalah cobaan keimanan yang berat buat saya. Denial, tidak ikhlas, marah, kecewa, numpuk jadi satu. Yang difitnah itu aku, kenapa yang dapat musibah ini malah aku ya? Sudah gitu, sebelum sudden deafness ini menyerang, aku sudah tahajud, curhat sepenuh hati minta pertolongan ke Allah, lalu kenapa paginya malah kena penyakit ini? 

Berat banget cuy! Tiga hari pertama itu kalau ada yang bilang 'Sabar....', berarti sudah lupa gimana rasanya kena musibah ketika sedang berserah diri kepada Maha Kuasa. Awalnya pasti kalian akan terguncang dulu perasaannya, seiring waktu baru kemudian bisa menemukan 'the definition of sabar'. 

Sementara waktu terus berjalan dan SSHL ini seperti stroke ternyata punya 'golden time' penyembuhan. 

Akhirnya ke IGD 


Hari ke empat, saya memutuskan ke IGD. Sebenarnya saya agak ragu mengingat kondisi pelayanan IGD di rumah sakit di kota saya. Jangan sampai saya ditolak karena menganggap SSHL ini tidak penting. Tetapi tidak ada salahnya mencoba. 

Datanglah saya ke salah satu Rumah Sakit dan diterima dokter yang balas bertanya,"Kenapa tidak ke dokter prakteknya saja?" 

Ya menurut ngana? Hari ini hari Natal, dokter gak ada yang buka praktek! Saya ke Rumah Sakit ini karena ini RS terdekat dari rumah saya. Seandainya dokter tadi berkata,"Apa tidak sebaiknya kami alihkan ke Rumah Sakit tempat dokter yang menangani Anda pertama kali?" mungkin lebih bagus. 

Karena sejujurnya dokter yang menangani saya itu adalah dokter senior spesialis telinga yang reputasinya sudah bagus sekali. Jika saja dokter IGD tersebut menyarankan seperti itu, saya pasti lebih bisa tertangani dengan baik di Rumah Sakit yang tepat. Tetapi begitulah, mungkin jalannya sudah begitu. Saya tetap diterima dan langsung mendapat tindakan. Rawat inap, sudah tidak bisa ditawar lagi.  

Infus



Rawat Inap Pertamaku 

Orang dengan SSHL sering menganggap gangguan pendengaran yang mereka rasakan ini akan berlalu dengan sendiri. Terkadang, orang dengan SSHL menunda ke dokter karena mengira gangguan pendengaran mereka disebabkan oleh alergi, infeksi sinus, kotoran telinga yang menyumbat saluran telinga, atau kondisi umum lainnya. Sampai kemudian tidak tahan dengan perasaan penuh di telinga, pusing, dan/atau telinga berdenging. 

Jangan pernah anggap remeh gejala tuli mendadak. Ini adalah keadaan darurat medis dan harus segera mendapat penanganan dokter. Termasuk juga untuk tidak menunda rawat inap. Saya termasuk orang yang terlambat. Saya rawat inap di hari ke empat. Meski sudah mengkonsumsi obat-obatan oral yang diresepkan dokter dan itu sama dengan obat yang diinjeksi, tetapi efektivitas penyerapan di tubuh berbeda. 

Kenapa? Karena pengobatan pertama lebih efektif diinjeksi bersama cairan infus dibarengi dengan bed rest. Tidak melakukan aktivitas apapun selain istirahat. Tidak berpikir yang berat-berat. Makan yang teratur dengan gizi seimbang. Menerima perawatan tepat waktu sangat meningkatkan kemungkinan akan pulih setidaknya sebagian dari pendengaran. 

Selama tiga hari rawat inap di Rumah Sakit, tidak ada perubahan sama sekali. Telinga kanan saya masih tetap tidak bisa mendengar. Kepala saya masih berat sebelah. Saya masih sering merasa pusing dan mual, kecuali setelah saya minum obat anti vertigo yang diberikan dokter. 

Tak ada solusi lain dari dokter yang menangani saya di Rumah Sakit itu selain, bed rest dan jangan stress. Bagaimana saya tidak stress sementara waktu melaju sedangkan perawatan yang tertunda selama lebih dari dua hingga empat minggu cenderung tidak mengembalikan atau mengurangi gangguan pendengaran. Dengan kata lain, kehilangan pendengaran sebelah ini bisa jadi permanen. 

Pengobatan Sudden Deafness

Meskipun sekitar setengah dari orang dengan SSHL memulihkan sebagian atau seluruh pendengaran mereka secara spontan, biasanya dalam satu hingga dua minggu sejak kejadian, menunda diagnosis dan pengobatan SSHL (bila diperlukan) dapat menurunkan efektivitas pengobatan.  

Para ahli memperkirakan bahwa SSHL menyerang antara satu dan enam orang per 5.000 setiap tahun, tetapi jumlah sebenarnya kasus SSHL baru setiap tahun bisa jauh lebih tinggi karena SSHL sering tidak terdiagnosis. SSHL dapat terjadi pada orang-orang pada usia berapa pun, tetapi paling sering menyerang orang dewasa di usia akhir 40-an dan awal 50-an. 

Ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan. Pengobatan yang paling umum untuk tuli mendadak, terutama bila penyebabnya tidak diketahui, adalah kortikosteroid. Steroid dapat mengobati banyak gangguan dan biasanya bekerja dengan mengurangi peradangan, mengurangi pembengkakan, dan membantu tubuh melawan penyakit. Steroid dapat diberikan dalam bentuk pil, bisa juga melalui injeksi baik itu  steroid intratimpani (melalui gendang telinga) atau di pembuluh darah. 

Infus



Saya sebenarnya pernah membaca sebuah penelitian dimana dokter bisa melakukan injeksi steroid intratimpani langsung ke telinga tengah; obat kemudian mengalir ke telinga bagian dalam. Suntikan dapat dilakukan dan merupakan pilihan yang baik untuk orang yang tidak dapat menggunakan steroid oral atau ingin menghindari efek sampingnya. Setidaknya dari yang saya baca steroid harus digunakan sesegera mungkin untuk efek terbaik dan bahkan mungkin direkomendasikan sebelum semua hasil tes keluar.  

Sayangnya, tiga dokter yang saya temui selama lebih kurang sepuluh hari sejak pertama kali mengalami Sudden Deafness ini tidak ada yang mengambil tindakan ini. Mereka hanya memberi saya obat oral. Ada beberapa test yang harus dilakukan selain audiometrik seperti MRI tidak dapat dilakukan dengan alasan-alasan tertentu yang menurut saya mungkin lebih terkait pembiayaan BPJS Kesehatan dibanding urgensi pasien. 

Tentunya saya tidak mau tinggal diam hingga akhirnya saya minta dirujuk ke dokter dan rumah sakit yang memungkinkan saya melakukan perawatan. Saya meminta untuk dilakukan terapi Hiperbaric. Di hari ke sepuluh saya dirujuk ke salah satu rumah sakit pemerintah berdasarkan dokter speasialis yang dianggap lebih bisa menangani kasus ini. 

Lagi-lagi, qadarullahnya belum bisa bertemu dengan dokternya karena beliau sedang operasi saat saya datang dan terpentok akhir pekan dan libur tahun baru, insya Allah di hari ke 14 baru kemudian saya bisa konsul dengan dokter tersebut.

Baru konsul loh ya, belum terapi hiperbaricnya dimulai. Saya sudah baca beberapa research tentang efek Hiperbaric Therapy terhadap Sudden Deafness, ada beberapa tahapan persiapan pasien sebelum memulainya. Pengen nangis rasanya kalau mengingat penelitian itu menunjukkan hasil terbaik ditemukan ketika pasien dirawat dalam waktu 14 hari dari onset gejala dan dengan steroid bersamaan (baik sistemik atau intratimpani). Hiks... I'm starting to worry, but still need to keep on going. 

Rawat Inap Bagian Ke Dua 

Sepuluh hingga empat belas hari adalah masa perawatan efektif untuk Sudden Deafness ini. Di hari ke 14, dokter menyarankan rawat inap lagi. Kali ini pengobatan dimulai dari awal kembali. Teorinya sih bed rest, tapi lagi-lagi saya banyak di'ganggu' dengan pemeriksaan PTA di jam setengah tujuh pagi (karena yang tugas adalah residen semalam, which is mungkin dia mau pulang). 

Lanjut dengan injeksi stereoid di telinga sebanyak tiga kali di siang hari dan kunjungan dokter dan suster yang selalu memantau obat  yang diinjeksikan melalui cairan infus. Lumayan, selama 8 hari di rumah sakit, 5 kali gonta ganti pembuluh darah untuk dijadikan area jarum infus.  

Hasil PTA memberi gambaran yang tidak sesuai harapan. Ada perubahan, namun sedikit. Normalnya manusia bisa mendengar di kisaran 20-30 db. Nah, hasil PTA ku, telinga kiri normal sementara telinga kanan hanya bisa mendengar di 50db saja. Sementara itu, telinga kanan masih tetap terasa penuh dan berdenging meskipun aku sudah tidak lagi merasakan oleng saat bergerak. Artinya, Merenier belum sepenuhnya hilang. 

Di hari ke 7 rawat inap, yang berarti adalah hari ke 21 aku mengalami Sudden Deafness, akhirnya aku menjalani terapi Hiperbaric untuk pertama kalinya. 

Next di postingan berikutnya, ya! Please share postingan ini agar makin banyak yang paham tentang Sudden Deafness. Terima kasih sudah membaca. 


Jangan Abaikan Sudden Sensorineural Hearing Loss (Tuli Sebelah Mendadak)

Hari itu tanggal 21 Desember 2021. Saya terbangun karena mendengar bunyi dengingan di kedua telingaku yang lebih besar dan nyaring daripada biasanya. Ada apa ini? Saya bertanya-tanya sendiri. Bunyi dengingan itu makin menjadi dari telinga kanan dan kiriku. Tidak biasanya seperti ini. 

Saya masih berbaring dengan mata tertutup sambil merapal doa dan dzikir. Please...please.. jangan sekarang, pintaku. Kebiasaan dari dulu, jika terdengar dengingan di telinga, entah di kiri atau di kanan, selalu ada kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Semakin besar bunyi dengingannya, makin dekat orang tersebut dengan saya. Dekat bisa dalam artian jarak fisik, bisa pula kedekatan personal. 

Biasanya hanya bunyi berdenging yang tidak nyaring. Hari itu, bunyinya seakan memenuhi kepalaku. Bising. Lalu tiba-tiba berhenti dan aku tak ingat lagi kejadian setelah itu. 

JANGAN ABAIKAN SUDDEN SENSORINEURAL HEARING LOSS - TULI SEBELAH MENDADAK


Beberapa saat kemudian saya merasa mual, sakit kepala sebelah, pusing dan kepala terasa berat. Saat saya bangun dan berjalan, rasanya seperti berjalan di atas geladak kapal yang terombang ambing di lautan. Begitupun ketika saya naik turun tangga sensasinya seperti melanting di trampolin. 

Selesai mandi saya baru menyadari bahwa telinga sebelah kanan rasanya seperti kemasukan air, tersumbat dan membuat rasa tak nyaman. Saat itu saya mengira, ini biasa saja. Nanti juga keluar sendiri airnya, pikir saya waktu itu. Sempat terpikir, apa saya masuk angin? Tekanan darah saya turun? Ataukah ini karena malam sebelumnya saya tidak bisa tidur dan baru bisa terlelap setelah sholat Tahajud dan Subuhan? Saya pun kembali beraktivitas seperti biasa meskipun ketika bergerak rasanya oleng dan mual. 

Sayangnya, hingga malam telinga sebelah kanan masih terasa tersumbat. Penglihatan saya pun kerap berputar bersama dengan rasa mual setiap saya bergerak yang tidak reda juga. Saya merasa kelelahan yang sangat berat hingga saya hanya bisa berbaring saja. 

Satu hal yang kemudian membuat saya tersadar bahwa ini bukan hal yang biasa adalah saat seorang teman menelpon dan saya menerima panggilannya di telinga sebelah kanan. Saya tidak mendengar apapun. Saya pikir jaringan telelpon yang bermasalah, tetapi ketika saya memindahkan hape ke sebelah kiri, suara teman saya terdengar jelas. 

sudden deafness
Pic from Pexels by Monstera 


Ada apa dengan telinga saya? Kenapa dia tiba-tiba tidak bisa mendengar? Saya mulai googling dan mendapati informasi bahwa hal ini bisa saja terjadi dan bisa kembali setelah 72 jam. Saya jadi agak tenang sedikit. Bukan apa-apa, saya sebenarnya agak malas berinteraksi dengan dokter dan rumah sakit, apalagi dokter spesialis. 

Ternyata keesokan harinya, saya mulai tidak kuat dan makin merasa tidak nyaman. Mau tidak mau saya harus ke dokter THT. Ini tidak mungkin kemasukan air. Jika pun ada sesuatu yang masuk ke dalam lubang telinga, pada dokter THT lah saya harus memeriksakannya. 

Permasalahannya ternyata tidak sesederhana yang saya kira. 

Sudden Deafness Darurat Medis 


Setelah melewati serangkain pemeriksaan dengan garpu tala, diketahui telinga sebelah kanan sama sekali tidak bisa mendengar bunyi dari frekuensi tertinggi hingga terendah yang bisa didengar oleh manusia. Tidak hanya suara, tetapi juga getaran. Seperti mati rasa. Suara hanya terdengar pada telinga sebelah kiri. 

Lucunya, ketika headphone sebelah kiri dimatikan dan suara hanya terdengar untuk bagian kanan, saya masih bisa mendengarnya. Suara terinterferensi atau beresonansi ke telinga sebelah melalui tulang belakang telinga. Masya Allah, sungguh Allah SWT Maha Membuat segala sesuatu.  

Intinya saat itu saya didiagnosa oleh dokter mengalami Sudden Deafness atau lebih kerennya Sudden sensorineural (“inner ear”) hearing loss (SSHL). Kehilangan pendengaran. secara tiba-tiba. Kehilangan pendengaran yang cepat dan tidak dapat dijelaskan baik penyebabnya. SSHL ini terjadi karena ada yang tidak beres dengan organ sensorik telinga bagian dalam dan sering hanya mempengaruhi satu telinga. 

Cause of Sudden Deafness
pic from Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Hokuto Hospital, Obihiro, Hokkaido, Japan


Menurut Dokter yang menangani saya di hari ke dua sejak kejadian,  SSHL ini semacam stroke ringan terjadi sebagai akibat dari kerusakan fungsi koklea terutama karena masalah aliran darah di telinga bagian dalam. Bisa jadi karena tekanan darah tinggi, kolesterol bahkan gula darah. 

Pada kasusku, Tekanan darah biasanya di 100 - 110 / 90, kolesterol dibawah 250, asam urat di bawah 5 dan gula darah normal. Tapi memang saat itu sedang ada masalah yang sangat berat hingga semalam sebelum kejadian saya tidak bisa tidur dan akhirnya memutuskan untuk sholat tahajjud dan baru tertidur setelah waktu sholat subuh. Jadi dengan kondisi stress dan kurang tidur seperti itu, bisa jadi tekanan darah saya naik tiba-tiba atau drop tiba-tiba. Wallahua'lam. 

Aku juga sering menggunakan headphone dalam jangka lama dan volume yang cukup besar. Saat kerja, olahraga, menunggu, bahkan jika aku gak bisa tidur. Sering aku mengingatkan diri sendiri karena tahu dampak headset pada telinga, tapi aku gak pernah menganggap itu akan seserius ini. 

Saat itu saya dianjurkan oleh dokter untuk rawat inap. Panik dong, saya! Rawat inap di mata saya itu sudah seperti kejadian yang amat sangat luar biasa besar penyakitnya. Sementara saya masih memikirkan pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan secepatnya karena penyerapan anggaran. Belum lagi boss yang sudah nelpon-nelpon bahkan ketika saya sedang diperiksa dokter. 

Pikiran tentang biaya rumah sakit,  siapa yang bakal nemenin saya di rumkit dan endebre endebre lainnya. Termasuk juga bahwa penyakit ini hanya punya chance 50:50 untuk bisa sembuh atau tuli selamanya. 

Keputusan ada di tangan saya. Salahnya, saya memutuskan untuk rawat jalan.

Dokter memberi saya obat dan dibuatkan surat keterangan untuk bed rest, tanpa hape dan tanpa laptop. Bahkan saya masih meminta nego agar dianggap WFH aja, tapi Dokter berkata,"Anda harus istirahat. Lupakan sejenak pekerjaan, seberapa pentingnya pun itu." Dokter hanya menginformasikan bahwa jika saya rawat inap, maka obat-obatannya akan diinjeksi melalu infus. 

Jika saja diinformasikan bed rest ini penting bagi penderita Sudden Deafness karena tidak boleh mengalami gejolak mental dan karenanya aku terkena stroke di telinga maka sarafku melemah, pasti saat itu juga aku akan langsung ke rumah sakit untuk rawat inap. Hal kedua yang saat itu aku benar-benar kepikiran adalah di ini keadaan gawat darurat, jika masuk IGD bisa langsung ditangani dengan BPJS Kesehatan tanpa harus dapat rujukan dari Faskes pertama. 

Sudden Hearing Loss Darurat Medis



Yeah, silly me! 

Meniere, Penyebab Sudden Deafness yang Menimpaku 


Melihat dari kondisiku yang vertigo, mual, muntah, telinga terasa penuh dan telinga berdenging terus menerus, penyebab Sudden Deafness ini adalah Meniere. Apa pula Meniere itu? Ini adalah kelainan pada telinga bagian dalam yang menimbulkan gejala berupa pusing berputar (vertigo), telinga berdenging (tinnitus), tuli yang hilang timbul, dan tekanan pada telinga bagian dalam

Pada penderita penyakit Meniere, terjadi kelainan pada cairan endolimfa, sehingga menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan. Nah, makanya aku merasa oleng di hari kejadian. 

Meniere Disease
sumber : idnmedis.com

Panik? Ya panik dong! Sepulang dari pemeriksaan dokter, saya masih harus ke kantor, menjelaskan ini itu, dan mendelegasi pekerjaan. Ternyata gak semua orang menganggap ini serius. Aku masih diminta masuk kantor dong! "setidaknya dua hari saja dulu, abis itu terserah kamu mau bed rest berapa lama,"katanya. 

Saat itu, harusnya aku sudah mulai mikir,"Ayo, kita rawat inap aja! Gak bakal dianggap serius penyakit lu ini kalau kamu minta rawat jalan saja."

Tapi waktu itu aku lagi-lagi gak kepikiran itu. Satu-satunya yang kupikirkan, aku mau pulang ke rumah. Pengen baring, aku pusing. Telingaku berdenging, kepalaku nyeri. Aku penat! I just wanna lay down. 

Hati- Hati Menebus Resep di Apotik 


Sepulang dari kantor aku langsung menebus resep obat di salah satu apotik terkenal seluruh Indonesia (Sebut aja Kimia Farma cabang Urip Sumiharjo) dan petugasnya dengan santainya mengganti dua macam vitamin dengan produk yang sedang mereka promosikan. Malah obat vertigo ku dikatakan,"Ini obat pusing biasa kok, bu. Kami sedang gak ada stok. Gak ada juga gak apa-apa."  Eh, yang bener aja! Tapi aku sudah terlalu lelah dan kepalaku makin berat jadi akhirnya aku pulang. 

Di rumah saya mual dan muntah hebat. Harusnya saat itu saya sudah sudah ke IGD. Tapi tak terpikiran sama sekali. Jangan tanya orang rumah, mereka pikir saya masuk angin. Saya pun sama sekali tidak punya tenaga apalagi kepikiran untuk ke IGD. Aku malah sibuk nelponin Apotik Kimia Farma, menuntut ganti obat sesuai resep dokter. Bener-bener deh, tuh sales obat ya! Alasannya,"Ini lagi promo bu. Produknya lebih bagus. Dosisnya juga langsung 400 mg, jadi minum sekali aja tiap hari! Kami juga gak enak kalau pasien minum banyak obat berkali-kali."

Alasan macam apa itu! Kamu bukannya prihatin sama kondisi pasien! Saudara hanya mau meningkatkan penjualan produk tertentu aja yang sejenis. Kalau Dokter gue nulis resepya "A dosis sekian" ya jangan diganti dengan produk "B dosis sekian'. Selama 15 menit, aku masih punya energi untuk 'educated' tuh sales obat (aku mau nyebut dia petugas apotek). Dia pikir ini penyakit ringan apa? 

Thinking back, it should be a sign : KAMU HARUS KE IGD, VIT! 

>> To be Continued on Next Post. 

Tinggalkan komentar jika kamu pengen tahu lebih banyak tentang SSHL/Sudden Deafness ini, ya!