Travelling : Rame-Rame, Berdua Atau Sendiri?

Hayo ngaku, kalian pasti nungguin saya posting tentang jalan-jalan ke Korea, kan? Hihihi, ge-er dikit boleh dong. Toh, emang ada yang nanyain kapan ngepost cerita halan halan ngebolang di negerinya Park Bo Gum.

Tapi sabar ya gaes.. 

Saya mau cerita dulu nih sisi lain dari travelingku ke Korea Selatan minggu lalu. Di bandara pas transit saya sempat bertemu dengan serombongan orang Indonesia yang pengen corporate gathering ke Malaysia. Salah seorang dari mereka sempat berkomentar,"apa serunya jalan berdua,mbak? Jalan rame-rame tuh lebih seru."

Mmh..gimana ya? Menurut saya belum tentu juga jalan rame-rame itu lebih seru. Bisa jadi lebih ribet. Sama dengan pilihan ikut grup tour atau jalan sendiri (entah backpacker style or flashpacker), semua tergantung masing-masing kepribadian sih menurut saya. Paling gak menurut analisa saya aja sih ya, traveling bisa kamu lakukan dengan 3 cara.

Travelling : Rame-Rame, Berdua Atau Sendiri Aja ? 





Disclaimer : Untuk menghargai teman-teman saya yang tidak mau fotonya dipajang, maka beberapa foto diperagakan oleh model (hahahaha) .



Rame-Rame 

Saya membagi kategori rame-rame ini dalam dua bagian : group tour yang jumlah pesertanya antara 10 hingga puluhan orang dan small group dengan 3-9 orang. 

Group Tour 

Biasanya grup tur itu emang buat orang yang sudah berkeluarga, corporate gathering, family gathering, study tour atau pengen liburan aja ama teman-teman se geng. Tapi grup tour bisa juga kamu pilih kalau kamu ngerasa terlalu repot buat mikirin itinerary,nyari tiket murah,pilih penginapan atau gak pede jalan sendiri seperti yang kerap dilakukan oleh traveler mandiri (either backpacker or flashpacker). Pokoknya mah tinggal bayar, geret koper aja sudah. 

Kelebihannya yah pasti kamu tinggal 'menikmati' liburan kamu aja. Kekurangannya yah ada kemudahan dan fasilitas pasti ada harga yang lumayan juga. Meski belum tentu juga lebih mahal daripada kamu jalan sendiri (kalau gak diperhitungkan dengan baik). Selain itu biaya tour biasanya ada biaya guide. Kendala lainnya adalah waktu yang dibatasi di tiap lokasi dan lokasi yang kamu maui belum tentu dikunjungi. Kecuali kalau ada waktu kosong sehari yang mana bisa kamu pake ngebolang sendiri, ya tinggal siapkan keberanian kamu aja. 

Nah, makanya kalau gak pede jalan sendiri atau emang suka jalan berkelompok, buat grup tour antar temen-temen dekat aja. Meski rame-rame, tapi tetap harus nyari tiket sendiri. Kesesuaian jadwal juga penting karena belum tentu jatah cuti atau tingkat kesibukan sama. Nyusun itinerary pun harus dikompromikan antar teman-teman segrup. Keuntungannya, budget buat penginapan atau rental modem bisa jadi lebih murah. Untuk kamu yang gak begitu mempermasalahkan mau ke mana aja yang penting seseruan rame-rame, this is might be the best choice for you. 

Small Group Travelling

If traveling with more than 10 people is so 'chaotic' for you, maybe small group travelling is better. Bisa jadi gak semua travelling agency menyediakan small group kayak gini. The best way is set up your own small group.

Saya pernah jalan berempat aja ke Bali dengan teman-teman ex kantor lama. Tiket diserahkan sepenuhnya pada seorang teman,sementara hotel saya yang nyari, transportasi selama di Bali dihandle teman satu lagi. Kita nunjuk 1 bendahara untuk menghandle keuangan untuk urusan pembayaran kecuali personal expenses semacam jajan di mana atau beli oleh-oleh (yaiyalaah!). Jadi tiap orang tuh punya tugas masing-masing dan tanggung jawab untuk kebersamaan. Iya, supaya gak ada yang merasa terbebani. 

Itinerary gak baku-baku amat yang sampai ditulis perjam atau permenit. Cukup ngelisting aja tempat-tempat yang pengen kita kunjungi bersama. Selebihnya dikondisikan. Misalnya dua diantara kami lebih suka shopping sementara dua lainnya lebih suka nongkrong di cafe. Silahkan jalan terpisah tapi jangan lupa to meet at meeting point which is tempat mobil rental kita di parkir.

Kelebihannya menurut SAYA, 'dramaless' karena sudah tahu karakter dan kesukaan masing-masing jadi komprominya lebih enak. Gak sepi-sepi amat karena berempat cukup rame juga. Hosip-hosip di kamar sebelum tidur itu loh yang kadang-kadang perlu ketegasan sendiri. Kalau enggak bisa kesiangan bangunnya. 

Kamu mau foto2 juga ada yang motoin (hahahaha). Dari segi biaya penginapan relatif murah karena bisa ngambil kamar berempat. Sebagai gambaran mungkin bisa nonton Youth Over Flower Africa di mana Park Bo Gum, Ryu Jun Yeol and the other two casts from Reply 1988 traveling berempat. 

Youth Over Flower Africa 

Keberangkatan saya ke Korea Selatan awalnya mau berempat juga. Sayang ditengah jalan terjadi hal tak terduga dan schedule kita pun berantakan. Akhirnya saya memilih traveling berdua aja.

Travelling Berdua

If you feel like group trip ala travel agent bukan kamu banget, atau teman2 kamu yang lain gak ada yang pengen ke tempat itu sementara kamu gak berani jalan sendiri karena kamu sendiri belum pernah ke tempat itu, maka traveling lah berdua.  

Sepanjang sejarah pertravelingan, saya sudah beberapa kali ngetrip berdua aja. Ada yang memang berangkat bareng dari Makassar, tapi ada juga yang ketemunya pas di bandara transit ( Jakarta atau Surabaya). Lalu di mana letak keseruan traveling berdua (bukan sama pasangan,pacar,pacar orang,mantan atau gebetan yaahh..) ?

Traveling Berdua tuh Kayak Gini. Meski Berbeda Kepribadian tapi Tetap Satu Tujuan

Menurut saya karena yang ditemanin jalan itu orang yang sudah kamu kenal dan deket ama kamu, both of you can explore tempat-tempat yang emang 'kalian banget'. Komprominya juga lebih enak sih menurutku, because we're just have to deal with one person. 

Untuk urusan nyari tiket, penginapan sampai itinerary bisa dilakukan barengan. In my case karena pernah beberapa kali ngetrip berdua tapi kami berbeda kota, tiketnya nyari sendiri-sendiri. Itinerarynya dirembukkan bersama atau dibagi berdasarkan tempat yang pengen dikunjungi. Sesuai kebijakan masing-masing aja. 

Begitu kita setuju dengan itinerary yang sudah disusun, kalaupun terjadi perubahan di hari H atau terjadi sesuatu yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya (misalnya nyasar atau kehujanan) yaah diterima dengan lapang dada aja.  Namanya juga traveling. Kalau gak nyasar berarti lo sudah jadi warga setempat. Ya gak sih?

Urusan budget dan kenyamanan juga perlu dibicarakan. Ini juga berlaku untuk traveling dengan small grup. Budget traveling seseorang kan emang beda-beda dan biasanya berpengaruh ke masalah kenyamanan. Misalnya mau pake airline budget atau airline full service, penginapan kamar mandi dalam atau di luar, hostel atau hotel, naik kendaraan umum atau sewa kendaraan semuanya perlu dibicarakan di depan. Gak perlu malu terus terang kalo memang budget gak sesuai dengan rencana yang diusulkan partner traveling kamu.

Nonton Juga :  How To Get to Seoul From Incheon International Airport - Arrival Tour



Yang perlu diingat karena ini jalan berdua (I'm not talking about marriage couple ya gaes) dimana budget depend on your own money, daripada terasa memberatkan pas di lokasi (misal lo akhirnya kelelahan krn harus naik subway melulu) atau sepulang traveling (tagihan CC malah membengkak), better mempertimbangkan dari gaya hidup kalian di Indonesia. Sama gak? Beda banget atau beda tipis? 

Kalau masih bisa ditolerir, just go ahead. Rencanakanlah traveling berdua. Saya personally selalu melihat kesesuaian gaya hidup dan standar kenyamanan karena gak mau ada diantara kami yang merasa 'kebanting' duluan.

Baca juga traveling berdua dengan anak di postingannya Nina

Kalau pun ternyata gak match, masih ada pilihan berikutnya. Either cari partner lain, sekalian ikut grup traveling yg dihandle traveling agent atau solo traveling alias jalan sendiri.  Ingat ya ini liburan, bukan cobaan! Jangan nyusahin diri dan partner traveling kamu. 


Travelling Sendiri 

Nah, ini dia yang belum pernah saya lakukan. Belum berani aja, takut nanti kenapa-napa apalagi saya termasuk orang yang ceroboh. Suka ninggalin barang seenaknya. Kalau ada partner kan lumayan bisa ngingetin atau ngecheck barang bawaan #eh. 

Takut Traveling Sendiri? Segera Hubungi Alpha Team

Tapi kalau melihat dua teman saya yang demen solo traveling kayaknya fun juga yah. You can go wherever you like, berapa lama mangkal di mana, suka suka kita aja lah. 

Kekurangannya pasti gak ada teman shared biaya hotel. Kalau mau hemat paling ambil kamar dorm, sekamar dengan orang yang gak dikenal dengan kepribadian yang belum tentu cocok ama kamu juga. Kamar mandi juga pasti shared dong dengan mereka. (Based on what my friends told me). 

Sisi lainnya adalah, although solo traveling might be seems lonely, kamu gak bakal sendiri. Just say hi to your room-mate or people around you, who knows you probably can make new friends to strolling around with. Ya kan? 

Gak enaknya sih emang kalau mau foto-foto sih, masa selfie doang. Tapi tenang aja, selalu ada orang baik di mana-mana kok. Pengalaman saya waktu akhirnya partner traveling nyerah dengan tanjakan di daerah Ihwa Mural Village dan saya memilih jalan sendiri, ada other travelers yang bisa diminta tolongin motret kamu. As long as kita minta tolong dan sopan, kayaknya gak bakal jadi masalah.

The Choice is Yours! 

Jadi gimana, apakah traveling sendiri atau berdua gak cukup seru dibanding traveling rame-rame? Nah, itu sekali lagi tergantung kamu sendiri. Traveling rame-rame, berdua atau sendiri aja bisa menjadi menyenangkan asalkan kamu gak merasa terpaksa untuk menjalaninya.

Kamu lebih suka yang mana? Drop your comment below dan ceritakan pengalaman traveling sendiri/berdua atau rame-rame kamu, ya! 

Sulit atau Mudah Mengurus Visa Korea ?

Jadi finally akhirnya saya memberanikan diri mewujudkan salah satu keinginan yang sudah lama terpendam : traveling ke Korea (Selatan tentu saja, belum ada niat ke Utara). Kenapa saya bilang 'memberanikan' diri? Karena sejak 2012 selalu ada aja yang jadi bahan pertimbangan. Mulai dari masalah waktu, kesempatan, dana umum (eh!) sampai VISA. Iyes... Visa perjalanan yah gaes, bukan Visa kartu kredit loh. 

Dari banyak kisah-kisah perjalanan para traveler yang saya baca dan dengar gak semua yang nge-apply itu bisa melengang cantik seperti Taeyon SNSD dengan visa tertempel di passport. Ada yang bilang passportnya gak boleh kosong lah, minimal harus ada dua cap negara lain.  Ada yang ngasih tahu 'harus sekian puluh juta di rekening, gak boleh kurang' lah.  Kudu punya tiket pulang pergi yang sudah diissued lah. Macam-macam pokoknya. 

Duh ya kok ribet banget gitu loh! Padahal orang Korea aja masuk ke Indonesia cuma kena visa on arrival doang. Apalagi katanya setelah makin booming orang-orang Indonesia ke Korea untuk traveling, approval visa Korea itu hanya Tuhan dan orang kedutaan aja yang tahu. Halah! 

Sulit atau Mudah Mengurus Visa Korea ? 

Berhubung ini perjalanan pertama saya ke negeri yang mengharuskan adanya visa kunjungan, gak mau dong kalau sampai gagal. Mulailah saya mengecek persyaratan pengajuan visa kunjungan wisata Korea Selatan di website resmi kedubes Korea Selatan


Persyaratan Visa Kunjungan Wisata Korea Selatan 

Apa aja sih persyaratannya? Ternyata permintaannya gak banyak kok. Gak pake bubur merah bubur putih segala. Cukup ini aja  : 


Paspor Asli dan Fotokopi Paspor (halaman identitas beserta visa/cap negara-negara yang telah dikunjungi) 

Belum punya paspor? Ya bikinlah! Gak perlu khawatir kalau belum pernah ke mana-mana. Partner perjalanan saya paspor nya masih fresh dari imigrasi, lolos juga kok. Jangan kayak gue kemakan kata-kata traveler kondang, jadinya gue traveling dulu ke Malaysia dan Singapore. Demi apaaaa?? Demi memenuhi persyaratan 'visa/cap negara-negara yang telah dikunjungi'. Hahaha.. Tapi gak apa-apa, Sekalian 'nenangga' juga sih.. 

Formulir Aplikasi Visa (dengan satu lembar foto yang ditempel pada kolom foto)

Diisi yang baik dan benar. Meski pada dasarnya formulir aplikasi visa ini dalam huruf hangul, tapi tenang aja, ada bahasa Inggrisnya kok di bagian bawah. Lengkapi dengan foto terbaru berlatar belakang putih atau paling lama 6 bulan sebelumnya. Pokoknya penampakan kamu yang sekarang gak jauh beda lah sama yang di foto. 



Oiya, ini pas foto yah bukan foto alay, hahahaha! Ukuran 4x6 aja, gak usah ukuran poster, Kalau bingung, foto di studio foto aja dan bilangin foto ini buat visa. Mereka sudah ngerti kok. Jangan lupa, ini foto kamu yahh, bukan foto bias kamu apalagi mantan. 

Kartu Keluarga atau Dokumen yang dapat membuktikan hubungan kekeluargaan

Ya kale ternyata kamu sekeluarga dengan Park Bo Gum. Difoto kopi aja selembar. Panjang ntar urusan kalau ngasih yang aslinya. Bisa-bisa kamu malah dicoret dari kartu keluarga yang baru sama bapak kamu. 

Surat Keterangan Kerja dan Fotokopi SIUP Tempat Bekerja

Manis-manisin deh bagian SDM, hahaha! Surat ini menurut saya cukup sakti untuk menghapus kecurigaan kalau kita datang ke Korea untuk bekerja. Di dalam surat berkop nama tempat bekerja itu disebutkan berapa lama akan berada di Korea, untuk tujuan apa ke sana sekaligus bahwa yang bertanda tangan di surat itu menjamin kamu gak bakal nyari kerja di sana dan pulang begitu liburan selesai. 

Untuk yang pegawai negeri sipil gak perlu pake SIUP dong yaa... Kalau saya, cuma masukin surat keterangan kerja, surat rekomendasi dari atasan dan kartu pegawai aja. 

Surat Keterangan Mahasiswa/Pelajar, bagi yang masih bersekolah

Isi suratnya kurang lebih sama cuma yang tanda tangan itu Dekan atau ketua jurusan tempat kamu kuliah. Lampirkan surat keterangan mahasiswa dan surat persetujuan dari orangtua. 

Fotokopi Bukti Keuangan:
    * Surat Pajak Tahunan (SPT PPH-21) 
    * Rekening koran tabungan 3 bulan terakhir dan surat referensi bank 

SPT tahunan bisa diambil di bagian keuangan kantor kamu. Waktu saya lagi ngurus visa pas banget sama lembaran SPT PPH-21 dibagiin di kantor. Jadi aman. Tinggal di kopi aja. Lain cerita dengan rekening koran tabungan. Karena agak khawatir juga dengan 'katanya.. harus sekian puluh juta' itu, akhirnya saya memasukkan dua rekening koran dari dua account tabungan yang saya punya. Sebenarnya pengen masukin tiga rekening lainnya lagi sih, cuma ntar ketahuan kalau saya dapat job paid review atau buzzer fee dari perusahaan bapaknya Park Hyung Sik (hadeeuhh!). 

Surat referensi banknya cukup satu aja. Mahal bo soalnya! Surat referensi bank yang saya masukkan itu dari rekening gaji saya di BRI. Biayanya Rp.150rb sudah termasuk rekening koran. Awalnya ngantri di CS, tapi ternyata kalau di BRI ada bagian khusus di back office yang ngurusin dokumen seperti ini. Cukup bilang aja surat referensinya buat ngurus visa ke negara mana. 15 menitan sudah jadi kok. Lebih lama nunggunya sih menurut saya.. hehehe.. 

Oiya biaya surat referensi dan rekening koran tiap bank itu beda-beda. Silahkan cek di bank masing-masing ya!

Dimana Mengurus Visa Korea ?


Di kedutaan besar Korea Selatan yang berlokasi di Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 57 Jakarta, tentu saja. Gimana kalau tinggal di Jakarta atau gak ada waktu ke Kedubes? Santai.. , pake travel agen saja. Kayak saya nih, karena berdomisili di Makassar kok ya rasanya ribet ama mesti ke Jakarta dulu. Makanya saya lebih memilih mengurus visa Korea lewat travel agen saja. Tentunya cari travel agen yang terpercaya. 

Sempat baca di website KTO sebenarnya ada 16 travel agen yang bekerja sama dengan mereka untuk mengakomodir pelancong yang gak sempat ke kedubes. Diantara 16 itu ada dua yang punya cabang di Makassar. Datanglah saya ke travel agen A. Officernya menetapkan minimal 30 juta di rekening. Duh! Kurang dari itu 'dengan berat hati kami tidak bisa membantu menguruskan', demikian katanya. Ke travel agen B malah lebih parah, harus 40 juta! Katanya 'ke Australia aja harus 50 juta, mbak', Ya sudah kalo gitu nambah 10 juta mending sekalian saya ke Australia aja, yes? 

Nanya ama teman di kantor, ternyata bisa kok mengurus visa Korea lewat travel agen meski di isi rekening kita gak sebanyak itu. Cuma waktu itu dia berangkat rame-rame dengan teman-temannya yang pengusaha kaya raya, jadi masuk visa grup gitu. Entah gak ada hubungannya atau memang ada, visa nya diapproved kok. 

Akhirnya nanya ke teman sekota yang sudah tiga kali ke Korea. Dia merekomendasikan Panorama Tours. Memang biaya visa nya lumayan mahal, Rp.700rb dengan perincian biaya resmi apply visa 544rb+ongkos kirim dokumen+pajak+fee travel. Tapi gak apa-apa, daripada saya ke Jakarta yang mana tiket pesawat pp aja sudah 1,3 juta, ya kan? Officernya juga gak banyak cingcong nanyain jumlah rekening dan helpful banget. Pihak travel agen cuma minta beberapa dokumen yang tidak disebut di website sebagai pelengkap. Soalnya memang dokumen yang telah dilampirkan jika dianggap masih belum lengkap oleh konsul maka pihak Kedubes Korea berhak untuk meminta tambahan dokumen. Dokumen apa saja kah itu?

Dokumen (tambahan) yang diperlukan untuk Visa Korea 

1. Fotokopi NPWP 

Sebagai warga negara taat pajak kartu NPWP sudah punya kan? Saya gak begitu ngerti ya kalau yang belum bekerja atau yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Setahu saya, buibu itu bisa nebeng di NPWP suami deh. 

2. Fotokopi KTP 

Nah yang ini buibu gak bisa nebeng suami ya! Hahaha.. Kecuali kalau belum berusia 17 tahun yang tentunya gak punya KTP, itu bisa pake kartu keluarga dan surat pernyataan dari orangtua. 

3. Fotokopi Akte Lahir 

Untuk memastikan nama kamu sama dengan di paspor dan kartu keluarga. Kalau pernah ganti nama lengkapi dengan surat resmi pendukungnya. 

4. Slip Gaji Terakhir

Ini bagi yang bekerja tentu saja. Sementara ibu rumah tangga dan yang masih belum memiliki pekerjaan/penghasilan harus melampirkan bukti keuangan suami atau keluarga (orang tua atau saudara yang menjadi sponsor). Oiya kalau kamu pengusaha yang ingin mengajak serta asisten rumah tangga, harus melampirkan surat sponsor dari employernya (surat keterangan kerja, kartu keluarga, bukti keuangan tidak perlu dilampirkan). Ini untuk menghindari human trafficking

5. Bukti Booking Hotel/Hostel/Penginapan 

Saya memasukkan bukti booking dari sebuah situs pemesanan hotel/hostel yang sudah terpercaya dengan jaminan uang kembali jika pemesanan batal dua minggu sebelumnya. Ini penting karena kalau visa ditolak, gak ada cerita uang penginapan hangus. Tinggal dicancel aja bookingannya.


e-voucher bookingan kamar yang diprint 


Cukup simple kan ya? *lalu nyanyi Mr. Simple* Gak perlu itinerary dan kode booking tiket segala. Kedubes Korea gak sejahat itu mengharus kita beli tiket sampai issued tiket segala, kok. Itulah mengapa gaji dan saldo di rekening diperlukan, just in case, di sana perlu beli tiket pesawat pulang atau memastikan  kita gak terlunta-lunta disana karena gak punya cukup uang untuk menyewa kamar. Ya masa ngemper di Gangnam sih.. kan gak mungkin juga * lalu gelar tikar di depan gedung SMent di Apgujong* 

So, What's Next? 


Dokumen semuanya dikirim oleh pihak travel agen di hari Senin sore dan diterima Selasa sore di kedubes Korea. Rabu pagi saya ngecek di website www.visa.go.kr , statusnya sudah received. Menurut informasi di website lama proses pembuatan visa itu minimal 6 hari kerja, dihitung satu hari setelah hari penyerahan dokumen. Proses bisa lebih dari 6 hari kerja jika dokumen dianggap belum lengkap dan interview jika dibutuhkan. Alhamdulillah hari Selasa sore status dokumen berubah menjadi approved. Itu berarti cuma 4 hari kerja aja. Hari Jumat sore, paspor yang sudah bertempelkan visa Korea saya sudah nyampe di travel agent. Azza!! 


Kenapa Permohonan Visa Korea Ditolak ? 

Nah ini dia yang sering dipertanyakan. Alasannya sih memang tidak pernah diungkap nyata setajam silet oleh pihak kedubes. Kata kebanyakan orang jawabannya hanya Tuhan dan officer kedubes Korea aja yang tahu. Jadi saya coba menganalisis nya sesuai pengalaman dari orang-orang terdahulu  aja, yah (duhh.. emangnya sub bab II : Penelitian Terdahulu yang Relevan ). 

1. Status Pekerjaan 

Meski bisa aja kamu buat kop surat sendiri, tapi kan ada SIUP yang bisa dicek. Pekerjaan menjadi hal penting karena untuk menutup kemungkinan orang mempergunakan visa kunjungan wisatawan sebagai kedok untuk bekerja dan menetap di Korea. Duh yaa takut bener sih.. Indonesia dong, tenaga kerja ilegal banyak banget dan gak pusing soal itu. *rolling eyes* 

Beberapa orang menganggap kalau sudah PNS atau kerja di perusahaan ternama bisa jadi jaminan mutu visa diapproved. Bisa ya, bisa juga enggak. Karena pengalaman para klien dari teman yang punya grup travel sendiri,  ada yang visa nya ditolak  padahal sudah PNS bahkan karyawan bank ternama. 

2. Transfer Dana Tiba-Tiba dalam Jumlah Besar di Rekening

Biasanya karena  takut visa nya gak diapprove gara-gara dana di rekening, beberapa orang memutuskan untuk mentransfer atau menyetor sejumlah besar dana hanya untuk saldo akhirnya sekian puluh juta. Setelah rekening koran dicetak, dana tersebut ditransfer kembali. Makanya untuk menghindari hal ini, saya siapin dua rekening koran dari rekening gaji dan tabungan. Jadi bisa kelihatan tiap bulan pemasukan pengeluarannya lancar dan gak ada dana siluman. Kalaupun kamu cuma punya satu rekening dan biasanya terima transferan dalam jumlah banyak, yah gak masalah sih. Partner traveling saya hanya masukin satu rekening koran dari rekening gajinya, ternyata diapprove juga. Menurut saya asalkan flownya lancar gak ada pemasukan yang mencurigakan, insya Allah aman-aman aja. 

3. Emang gak Jodoh Aja! 

Hahahaha... ini sih becandaan saya ama teman-teman aja. Ya abis gimana kalau dokumen sudah lengkap dan meyakinkan, sudah berusaha dan berdoa terus gak approve? Masalah traveling itu kan masalah rejeki dari Allah juga. Kadang ada dana, gak waktu. Bisa jadi ada waktu eh tapi dana gak cukup even itu buat beli tiket promo. Ada tiket promo tapi kamu gak kebagian. Begitu ada dana, ada waktu, dapat tiket murah eh ternyata kamu ditipu (hahahaha, asli ini mah apes!). Visa approve atau ditolak pun juga termasuk di dalamnya. 

Maka saya sebagai orang yang alhamdulillah visa nya sudah diapprove hanya bisa mendoakan semoga yang pengen traveling ke negara mana aja yang membutuhkan visa bisa lancar dalam pengurusan dan diapproved. Mudah-mudahan sih besok-besok makin banyak negara yang bisa menerima paspor hijau kita tanpa perlu embel-embel visa nempel di dalamnya. Supaya kita bisa semudah warga negara lain yang masuk ke Indonesia dan cuma bayar visa on approval aja. Semoga!

Kamu punya pengalaman seputar pengurusan visa (approved atau ditolak) negara apa aja? Share di kolom komentar ya!