[Review Buku] OTW Bahagia, Perjalanan Menciptakan dan Menemukan Kebahagiaan


Sore itu di acara buka puasa bersama, aku menerima sebuah buku bersampul biru dengan tulisan “OTW Bahagia” Perjalanan Menciptakan dan Menemukan Kebahagiaan. OTW Bahagia? Memangnya dari dulu ke mana aja? Pengen usil nyelutuk seperti itu, tapi gak jadi karena sebenarnya rasa penasaran pada isi buku ini lebih kuat. Apalagi salah satu kontributor penulis pada buku kumpulan essai tentang kebahagian ini adalah teman kuliah saya dulu di program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Unhas, Imelda Dyana. 

Seneng lah aku tuh.. temen aku ada ada yang baru sekali ikut kelas penulisan langsung pecah telur, tulisannya termuat di buku. Aku aja sudah sekian lama nulis, ngeblog, menang lomba penulisan sampai sekarang ikutan ngevlog pun belum punya buku. Iyah, abis aku kalau diminta ikutan antalogi sering kebablasan deadlinenya,sih. Masih bahagia bahagia aja nulis di blog (dan dibayar pula!). Tapi next time kalau ada tawaran, insya Allah disanggupi. Makanya, tawarin aku dong nulis buku.. 

OTW Bahagia, Perjalanan Menciptakan dan Menemukan Kebahagiaan 




Bahagia itu sederhana, kata banyak orang yang mungkin terinspirasi oleh lagu atau tagline iklan. Tapi apakah sesederhana itu juga orang-orang tersebut merasa bahagia? Ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Paling  tidak kesan itu yang aku dapatkan setelah membaca beberapa (yaah.. sekitar 15 an cerita secara acak) dari 131 cerita yang termuat dalam buku setebal 350 halaman ini.

Ada yang menyadari kebahagiaannya setelah diberi ujian dikhianati, ada yang merasakan kebahagian itu nyata saat ia mensyukuri hal-hal kecil yang ia miliki, ada pula yang merasakan kebahagiaan lain setelah merasa kehilangan nikmat yang selama ini tak pernah disadari.  Bahkan ada pula yang merasakan kebahagiaan ketika akhirnya berhasil berusaha nyari duit sendiri demi ke Jakarta untuk menonton konser KPOP (Sumpah, itu bukan saya!). Manusiawi banget and it could happened to anyone of us. 

Kisah dalam buku OTW Bahagia ini memang beragam. Melihat ‘bahagia’ dari sudut pandang 131 orang dengan latar belakang yang berbeda membuat buku ini jadi menarik. Definisi bahagia dan cara menemukannya bisa beda-beda. Seorang ibu rumah tangga yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum diberi momongan tentu berbeda proses menemukan kebahagiannya dengan seorang wanita pekerja yang harus LDM (Long Distance Marriage) an. Begitu pula yang sudah jungkir balik pengen kuliah tapi gak direstui orang tua dengan yang didorong kuliah S2 pada jurusan pilihan orangtua. Keseluruhan ceritanya ditulis oleh 131 orang perempuan  based on their experience in life. The strugle is there and you can see how strong women are to find their happiness. 



Misalnya tulisan teman aku tentang struglenya dia menjalani LDM. Sudah nikah, eh malah berjauhan. Bukannya nikah untuk hidup bersama kan ya? Ini dia harus mengurus anak-anak sendiri, kerja kantoran pula, sementara suami diseberang sana. Kemana-mana harus sendiri. Gak dianterin suami. Kalau mau disusah-susahin ya bisa aja dibawa susah. Tapi keadaan ini membuat Ime menemukan sesuatu kebahagian tersendiri dibalik kesulitan yang ia rasakan. Apakah itu? Baca aja sendiri.. 

Karena Bahagia Itu Memang Sesederhana Itu, Ferguso! 

Aku pribadi membaca kisah-kisah yang ada dalam buku OTW Bahagia diam-diam merasa bersyukur, bahwa apa yang saya miliki dan apa yang tidak saya miliki adalah kebahagiaan. Saya bahagia dengan yang saya punya, pun saya bahagia tidak memiliki apa yang ingin saya punya. Aneh ya? Gak memiliki kok bahagia.

Ya dong,  yang kita gak miliki bukan berarti yang kita bener-bener butuhkan dalam hidup ini. Bisa jadi yang dimiliki orang lain membuat kita merasa kekurangan hingga tak bisa bahagia, padahal apa yang tidak dimiliki oleh orang lain ternyata ada pada diri kita. So why bother? Kalau rejeki pasti bakal dimiliki juga, entah bagaimana cara Allah SWT mengaturnya. Usaha dan doa gak bakal menyalahi takdir.   Eaaa... 

Jadi begitulah, bahagia itu memang sederhana untuk sebagian orang. Meski begitu buat kamu yang masih OTW menemukan kebahagian kamu, I won't despise you karena memang bahagia itu kadang tidak sesederhana itu juga. 

Bahagia aja walaupun angin datang memporak-porandakan tatanan hijab. 

Anyway, pembaca bisa bercermin dari tulisan-tulisan di buku OTW Bahagia, bahkan ketika kita merasa sudah menemukan kebahagiaan sekalipun. Memang sih ada beberapa hal yang menurut aku sebagai pembaca cukup ganggu. Misalnya font yang terlalu kecil dan spasi yang rapat. Cepat bikin mata lelah dan bosan, apalagi yang skill menulisnya harus lebih banyak diasah. Kadang aku langsung skip ke ending tulisannya saja. Sorry! 

Buku ini sebenarnya adalah hasil karya kelas Nulis Yuk batch 20, yaitu komunitas kelas belajar menulis online yang memberi challange bagi peserta untuk menulis setiap minggu. It’s ok, we are still learning each and everyday, right? Meskipun masih sederhana, namun dari kesederhanaan tulisan terpancar ketulusan pemikiran penulisnya. 

Pada akhirnya dijadikan buku tentu tulisan yang terbaiklah yang akan kita terbitkan sebagai pertanggungjawaban bagi pembaca yang rela mengeluarkan uangnya untuk membeli buku kita. Bukankah tulisan yang enak dan nyaman dibaca bisa membuat pembaca bahagia?

Ah, aku jadi pengen tahu definisi bahagia and bagaimana mendapatkan kebahagian versi kamu. Share di kolom komentar ya!

Novel Review : Imaji Terindah - Sitta Karina

Entah bagaimana awalnya hingga akhirnya sebuah DM dari Sitta Karina mampir di akun Twitter saya. I mean, yes.. I follow her on Twitter, karena saya suka aja baca blognya dan twitnya yang banyak ngasih tips menulis. Tapi untuk ditawari akan dikirimi novel tulisannya untuk direview, duh.. aku sama sekali gak kepikiran. Apalagi novelnya beneran sampai ke rumahku kira-kira.. mmmh.. empat bulan yang lalu.

Iyah, tahun lalu! Kenapa baru sekarang direview? Bukan.. bukan karena aku orangnya gak konsisten dengan sebuah komitmen apalagi gak menghargai kebaikan hati orang lain. Lebih karena novelnya tiba-tiba ngilang dari rak setelah aku baca. Usut punya usut ada yang pinjem dan gak sempat bilang ke aku. Jadilah akhirnya ketika ketemu lagi, aku baru bisa foto novelnya dan ngeposting review ini.  

Imaji Terindah : Jangan Jatuh Cinta Kalau Nggak Berani Sakit Hati.


So, apa sebenarnya isi novel Imaji Terindah ini?



Kisah dalam Imaji Terindah bermula dari dua pemuda dari dua keluarga yang terikat hubungan bisnis. Yang satu bosan lalu jadi iseng, satunya lagi memendam curiga tanpa sebab jelas. Chris dan Kei. Novel Imaji Terindah ini akan lebih focus ke Chris sebagai salah satu bagian dari keluarga Hanafiah yang terkenal super tajir dan memiliki aneka bisnis.

Dalam novel in karakter Chris digambarkan sebagai seorang murid SMA kelas atas yang mampu beli barang-barang mahal tanpa berpikir dua kali. Pokonya ' I get What I See'. Jangankan mobil mewah, ngajak Kimura Takuya (Iyaah... 'that' Kimura Takuya, actor legendarisnya Jepang itu) maen ke rumahnya. Christopher Hanafiah is that guy who would walk around the school, looking straight ahead and all the girls at school look at him like he was the prince of some fairy tale. Prince Christopher, that's what he called and no one argue.

Hidupnya tampak plain boring, sampai kemudian Kei menantang dia untuk jatuh cinta.

"Jangan Jatuh Cinta Kalau Nggak Berani Sakit Hati."

Chris Hanafiah yang merasa tertantang untuk membuktikan, akhirnya menjatuhkan proyek percobaan jatuh cintanya pada Kianti Srihadi, siswa baru di sekolah pindahan dari Jepang. Aki, begitu nama panggilannya, tidak menanggapi pernyataan cinta Chris. Baginya persahabatan lebih mengena dibanding berpacaran dengan pangeran sekolahan ini. Ada sesuatu yang Aki tidak ingin Chris ketahui tentang dirinya. Dia merasa bersahabat saja sudah cukup.

Chris mau tidak mau mengikuti keinginan Aki untuk hanya sekedar menjadi sahabat. Hari demi hari kedekatan mereka berdua membuat Chris akhirnya mengetahui sesuatu yang tidak ingin Aki tampakkan kepadanya. Kedekatannya dengan Aki pun sedikit banyak mempengaruhi hubungannya dengan Alde dan Rimbi yang sudah lama menjadi sahabatnya. Namun untuk menjauh dari Aki pun ternyata tidak dapat dilakukannya setelah mengetahui rahasia gadis itu.

Complicated? Mmh.. makanya jangan jatuh cinta kalau gak berani sakit hati. Hahaha.. *Mulai ikut-ikutan, deh!* 


My Two Cents 


Novel ini adalah sebuah kisah bergenre teenlit dari series Keluarga Hanafiah yang sudah banyak dikenal oleh pembaca teenlit. Berhubung aku bukan pembaca teenlit, jadilah membaca novel Imaji Terindah ini menjadi 'perkenalan' aku dengan anggota klan Hanafiah ini.

Kisahnya sih sebenarnya tipikal anak sekolahan, dimana kita bakal ngefans dengan cowok jago basket yang posturnya tinggi, wajahnya tampan, naik mobil ke sekolah dan jalan di seantero sekolahan dengan muka lempeng seakan gak peduli dengan orang sekitarnya yang terpana menatap ketampanannya. Masa di mana anggota cheerleaders adalah cewek paling megang di sekolah. Masa di mana awalnya kamu ber 'loe-gue' sama gebetan dan kemudian ber 'saya-kamu'. Aiishh.. jadi ingat mantan! *Eh, gimana?*

Menurut aku Sitta Kirana, menuliskan cerita ini sangat mengalir dan enak untuk dibaca, hanya saja kurang greget. Mungkin karena aku sudah ngelewatin masa-masa cinta anak sekolahan gini, kali ya? Overall sih, baca novel ini banyak quote yang bagus juga menurut aku. Ada beberapa hal juga yang bisa kita pelajari dari karakter Aki.

Sitta juga membungkus ending novel ini bagus banget, jadi meskipun kamu bukan pembaca novel teenlit, misalnya kayak aku, kamu masih bisa consider this novel as a one of good piece of art yang gak rugi kamu baca. Meskipun begitu, aku sebenarnya kurang sreg dengan penamaan karakternya. Dari nama Kianti menjadi Aki itu gambarannya jadi beda. Kianti nama yang cantik, sementara Aki mengingatkan aku pada 'Aki Aki' dalam Bahasa Sunda, hehehe...

So if you like teenlit kind of novel, you should read Imaji Terindah. Sementara if you're not teen anymore, baca novel ini bisa jadi kamu akan teringat lagi gimana menyenangkannya jadi anak SMU dulu.

Happy reading, gaes! Please let me know in comment section below, pendapat kamu tentang novel ini.

The Journey of Song Triplets Giveaway

Yes!! Finally I published long-awaited-post about Daehan, Minguk, Manse. Setelah keputusan Song Il Gook untuk berhenti bergabung dalam variety show The Return of Superman, saya jadi ikut-ikutan gak pernah update kabar Daehan, Minguk, Manse lagi di blog atau pun di IG dan Twitter. 

Senangnya, dua minggu lalu dapat kabar kalau Daehan, Minguk, Manse akan tampil lagi di The Return of Superman special. Hanya satu episode sih.. tapi kan lumayan daripada lu manyun. Hehehe.. 

Saya jadi tiba-tiba teringat beberapa bulan lalu Penerbit Haru berbaik hati mengirimi saya sebuah buku K-Toon The Journey of Song Triplets. Komik ini dibuat oleh Sandy Claws, seorang komikus Korea yang ngefans banget dengan Song Il Gook dan anak kembar tiganya. 


Daehan, Minguk, Manse

Review K-Toon The Journey of Song Triplets


Anyway, jadi sebenarnya The Journey of Song Triplets itu isinya apa? 

The Journey of Song Triplets adalah sebuah mini komik perjalanan si kembar tiga Daehan, Minguk, Manse. Di mulai ketika mereka lahir dan beberapa adegan-adegan menarik dari episode-episode yang mereka jalani dalam variety show The Return of Superman.

Daehan, Minguk, Manse
Jadi meskipun gak pernah nonton acaranya di tv atau mungkin malah gak tahu sama sekali tentang Daehan, Minguk, Manse gak masalah. Shandy Claws menuturkan latar belakang Song Triplets ini beserta cerita-cerita petualangan mereka melalui gambar-gambar yang keren.Memang sih agak di'lebih-lebih'kan sedikit dibanding yang ada di layar kaca tapi malah itu yang membuat komik ini jadi lebih seru. 

Gak cuma tentang Daehan, Minguk, Manse bersama ayahnya aja loh yang ada dalam buku K-Toon ini. Teman-teman si triplets bahkan triplets oemma alias ibu mereka yang kalau muncul di layar kaca cuma keliatan sekilas dua kilas itu juga terpampang nyata di komik ini. 

Daehan, Minguk, Manse

Oiya, buku komik ini juga menyertakan lagu-lagu yang favorit Daehan, Minguk, Manse termasuk lagu tema Song Triplets. Jangan khawatir, selain tulisan hangeul ada juga tulisan romanisasinya biar kamu bisa ikutan nyanyi. 

Daehan, Minguk, Manse

  
Selain itu diselipin juga satu-dua halaman tidak berwarna. Maksudnya semacam coloring page buat anak-anak (orang dewasa juga bisa kok) yang pengen mewarnai gambarnya Shandy Claws sesuai imajinasi masing-masing. 

Daehan, Minguk, Manse

Buku setebal 174 halaman ini dicetak full color diatas kertas yang cukup tebal sehingga tidak mudah lecek. Meski ditulis dalam bahasa Inggris (ya mendingkan daripada tulisan Hangeul), saya yakin gak nyusahin orang-orang Indonesia yang membacanya.

Gambarnya lucu-lucu dan keren-keren. Bahkan jika bukan fans Triplets sekalipun, ibu-ibu bisa menjadikan komik ini sebagai bacaan yang edukatif bersama todlernya. Apalagi yang ngefans sama Song Triplets karena dari jaman kapan tahu kek saya yah, wajib punyaa!! Komik ini bisa kamu dapatkan di toko-toko buku terdekat atau toko buku online.

Daehan, Minguk, Manse


The Journey of Song Triplets Giveaways

Daehan, Minguk, Manse


Senangnya Penerbit Haru baik hati banget selain mengirimi saya buku keren ini, Penerbit Haru juga menyediakan 3 buku The Journey of Song Triplets untuk readers blog Vita Masli - An Excited Blogger dan follower IG/Twitter @vitamasli . Huwaaa.. Aku terharu.


Caranya : 

  1. Follow blog ini
  2. Follow akun Twitter  @vitamasli dan Instagram @vitamasli
  3. Follow Twitter dan Instagram : @penerbitharu
  4. Share postingan ini di Twitter/Facebook/Google+/Instagram sertakan hastag #TheJourneyofSongTriplets #vitamasliGA
  5. Tinggalkan komentar di blog ini mengapa komik The Journey of Song Triplets penting untuk kamu punyai dan buku/novel/komik apa yang kamu pengen diterbitkan oleh Penerbit Haru.
  6. Ajak teman-teman kamu juga ya!

Itu aja kok. Gak sulit kan syaratnya? Akan ada tiga pemenang beruntung yang bisa mendapatkan K-Toon The Journey of Song Triplets. Buruan ikutan, giveaway ini hanya sampai tanggal 30 November 2016.

Goodluck!

Review Novel & Giveaway My Other Half :Tidak Ada Cinta Yang Benar-Benar Pergi

Sore itu sepulang kantor, sebuah paket mendarat manis di depan pintu kamar saya. Sampulnya berwarna orange dengan logo bertulis 'Gagas Media' tertera di sudut kanan. Kiriman novel pasti, nih! batin saya. Tidak sabar saya buka dan benar saja, dari dalam menyembul sebuah novel dengan sampul dominan biru dan hijau bertuliskan 'My Other Half'. Ah.. ini dia novel yang saya tunggu-tunggu. 


Sekilas Novel My Other Half 

Judul buku: My Other Half
Penulis: Cyndi Dianing Ratri
Editor: Tesara Rafiantika
Desainer sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-859-9
Cetakan pertama, 2016
165 halaman


My Other Half adalah  cerita mengenai kehidupan dua anak kembar yang memiliki jalan hidup yang berbeda.  Adalah Aninda dan Adinda yang terpisah karena perceraian orangtua mereka. Dinda ikut ayahnya, seorang pengusaha sukses di Surabaya. Sementara Anin hidup sederhana bersama ibunya di Bogor. Keduanya terpisah oleh keadaan hingga akhirnya suatu hari Dinda mengetahui kabar bahwa Anin meninggal dunia. 



Tidak banyak yang Dinda tahu mengenai Anin sejak perpisahaan kedua orangtua mereka. Dalam hati Dinda selalu merasa sepi karena kehilangan yang dirasakannya di masa lalu. Rasa itu menyakitkan hingga ia merasa tak mudah memaafkan dan melupakan masa lalunya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sakit yang diderita Anin. Dinda menyesal ikatan sedarah tidak dapat membuatnya dekat dengan saudara kembarnya. Hingga akhirnya ia menemukan buku harian Anin. Perlahan, ada genangan air dalam cekungan matanya. 



Diary Anin menjadi penyambung apa yang telah terputus antara Dinda dan Anin. Melalui tulisan-tulisan Anin, Dinda mengetahui  bahwa Anin berbakat menulis. Anin tak hanya bercerita tentang dirinya, ia juga bercerita tentang kisah hidup orang lain yang memberikan banyak pelajaran. 

Anin menuliskan tentang arti mengikhlaskan melalui kisah cinta Dira dan Ardan. Ada pembelajaran tentang masa lalu tidak menggambarkan masa depan dari seorang Sekar yang hamil diluar nikah. Bima si pelari yang mengajarkan tentang bagaimana mimpi mampu mendorong seseorang mencapai banyak hal luar biasa yang baru. Dan kisah tentang ibu yang selalu mencinta tanpa syarat 



Tulisan-tulisan Anin di dalam diary ini lah yang menunjukkan betapa sebenarnya Anin meski terpisah jauh dari Dinda, tidak pernah melupakan 'the other half'nya. Sakit yang dideritanya disimpan sendiri namun dia ingin sepeninggalnya, Dinda mendapat harapan baru melalui tulisan-tulisannya. Seperti juga ketika akhirnya Dinda bertemu Adam yang kemudian mengajarinya berdamai dengan masa lalu. 

My Two Cents of My Other Half 

Saya sebenarnya tidak begitu suka membaca novel tentang kehilangan, ternyata saya salah besar. Novel setebal 165 halaman ini tuntas saya baca dalam sehari. Hal-hal yang terasa berat seperti arti kehidupan mengalir secara ringan namun tetap bermakna. Pemilihan kata dan diksi yang indah menggambarkan kuatnya hubungan antara Dinda dan Anin meski hidup terpisah. Penyampaian pesan pun sangat mengena termasuk juga banyak kalimat-kalimat yang quotable banget. 



Jika kamu bosan dengan novel-novel percintaan yang cemen, My Other Half adalah sebuah novel yang menghadirkan cinta dari berbagai sisi yang berbeda. Cinta pada saudara, orangtua, teman, hingga pada seseorang yang tiba-tiba mengetuk hatimu tanpa terduga. Bahwa dikhianati, merelakan dan kehilangan adalah bagian-bagian yang melengkapi cinta yang dirasakan. Seperti juga 'the other half' yang melengkapi kita. Daleeeem banget kakak... Suka!!!!!

Oiya, di halaman belakang novel ini ada dua halaman kosong untuk menuliskan ceritamu sendiri. Asik kan? 

Giveaway My Other Half :Tidak Ada Cinta Yang Benar-Benar Pergi 






Nah, supaya kamu gak penasaran-penasaran banget, saya dan Gagas Media mau berbagi novel 'My Other Half'. Caranya : 

1. Berdomisili di Indonesia atau memiliki alamat di Indonesia

2. Follow blog ini dan juga twitter atau Instagram (pilih salah satu atau dua-duanya juga boleh) : @vitamasli,  @GagasMedia, dan @cindyCDR

3. Share link posting ini di akun sosial media milikmu seperti twitter, facebook, Instagram atau Google+ dan sertakan hastag #MyOtherHalfGiveAway 

4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar dengan mencantumkan akun twitter kamu serta alamat email. 

Siapa sih yang kamu anggap sebagai 'My Other Half' kamu dan apa yang membuatmu merasa begitu ? 



Giveaway akan berlangsung hingga tanggal 2 Juni 2016 dan satu orang yang beruntung akan mendapatkan novel My Other Half yang akan dikirimkan oleh penerbit Gagas Media. Pemenang akan diumumkan di blog, twitter dan Instagram. 

Jadi tunggu apalagi! Yuk buruan komen di bawah ini ya....


========================================================================

Pengumuman Pemenang Giveaway My Other Half 


Yes, setelah membaca semua komentar-komentar kalian, akhirnya diputuskan pemenangnya adalah : 

Heni Susanti 

Selamat ya! Silahkan kirimkan alamat dan nomer telpon melalui email ke : vitamasli@me.com dengan subject : Pemenang Giveawat My Other Half. Hadiah akan dikirimkan langsung oleh pihak Gagas Media. 

Oleh karena itu saya tidak lupa berterima kasih kepada Gagas Media dan Cindy CDR atas kerjasamanya. Sukses terus ya kak sampai best seller novel My Other Half nya! 

Terima kasih juga untuk kalian yang sudah ikutan giveaway dan bantu sebar-sebarin postingan GA ini. Untuk yang belum menang, jangan kecewa ya. Novel My Other Half sudah tersedia di toko-toko buku terdekat di kota kamu. Buruan atuh dibeli! 

Oiya, Insya Allah akan ada giveaway berikutnya di blog atau via social media Vita Masli. Makanya jangan di unfollow ya! Hahahaha.. Sampai ketemu lagi dan keep reading ya!

Novel Review & Giveaway : 1-4-3, It’s Not A Simple Game of Number

Beberapa orang menganggap menjadi fans Kpop itu cuma bisa teriak-teriak di konser, ribut di twitter (fanwar), delusional atau paling parah jadi sasaeng fan yang ngikutin idolnya sampe ke toilet. Ngeri ya? Terobsesi sekaligus over protektif membuat fans Kpop menjadi terlihat negatif.   

Ternyata gak semua seperti itu. Ada juga loh fans Kpop yang menggunakan 'kegilaan'nya untuk hal yang kreatif. Membuat cerita fiksi, misalnya. Nah biasanya fans Kpop yang punya kemampuan nulis menuangkan imajinasi ke dalam bentuk fanfic (fan fiction). Biasanya fanfic itu disebarkan di forum fanbase atau paling gak dipublished di blog. Belakangan para publisher buku pun melirik kemampuan para fans Kpop meramu ceritanya ini dan menerbitkannya dalam bentuk novel. 

Nah, 1-4-3 itu salah satunya.

Super Junior Fanfic

Sinopsis 1-4-3,  It’s Not A Simple Game of Number 


Henry Lau, seorang pria yang sedang patah hati memutuskan untuk berlibur ke Seoul untuk menenangkan pikirannya sekaligus mengobati sakit hatinya. Namun tidak disangkan Henry malah bertemu seseorang yang telah membuatnya sakit hati disana, dan parahnya lagi orang tersebut adalah wanita yang disukai sepupunya. Perang batin pun di alami oleh Henry tatkala harus melihat wanita tersebut bersama sepupunya. Di saat Henry tengah bergumul dengan sakit hatinya, seseorang datang ke dalam kehidupannya, Choi Raemun seorang gadis yang bekerja di cafรฉ sepupu Henry. Henry dan Raemun berteman baik sejak mereka pertama bertemu, dan belakangan Henry mengetahui kalau Raemun menyukai sepupunya Cho Kyuhyun.

Henry memutuskan untuk melupakan sejenak sakit hatinya dan membantu Raemun yang juga terpuruk karena mengetahui Kyuhyun pria yang sangat ia cintai dan selalu menjadi pelindungnya ternyata menyukai wanita lain. Rasa simpati Henry kepada Raemun ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di hati Henry, perlahan Henry mulai bisa menerima hubungan Kyuhyun dan juga Choi Hyena- mantan kekasihnya dan Henry pun mulai membuka hatinya untuk Raemun. Sama seperti Henry, Raemun pun mulai merasakan benih-benih cinta itu, apalagi saat Henry datang sebagai pelindung untuknya, sama seperti Kyuhyun. 

Raemun dan Henry mulai mencoba untuk melupakan masa lalu mereka dan memulai kehidupan baru serta membuka hati masing-masng. Namun disaat keduanya sudah mulai menerima perasaan masing-masing, Henry kembali bimbang dengan perasaannya. Tiba-tiba rasa simpati terhadap Hyena tumbuh di dalam hatinya membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri. 

Bisakah Henry tetap menjaga perasaannya kepada Raemun saat Hyena kembali mengusik kehidupannya? Bagaimana Henry bisa menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh masa lalunya agar tidak menyakiti siapa pun?


Review 

Novel ini merupakan novel Song Fiction, dimana setiap sub bab dari novel ini merupakan judul lagu dari album solo Super Junior M Henry. Cerita dimulai dengan sub judul Trap, kemudian I Would, Ready To Love, My Everything dan terakhir  1-4-3(One Four Three). Istilah 1-4-3 sendiri adalah bahasa gaul untuk kalimat I love you. Semua judul tersebut menghasilkan sebuah cerita cinta dengan konflik yang bikin gregetan.

Settingnya mengambil tempat di Seoul dengan menyelipkan satu dua patah kata berbahasa Korea (tenang.. ada artinya di bagian footnote, kok). Penulisnya, R.A,  juga berusaha dengan baik menggambarkan karakter Henry yang konyol seperti yang dikenal di dunia perkpopan. Di sisi lain penulis juga memperkenalkan sisi Henry yang digambarkan romantis. 

Selain Henry ada pula karakter Kyuhyun, salah satu member Super Junior, sebagai second lead male. Di dunia nyata, Kyuhyun adalah mentor Henry agar tidak lost in translation dalam berbahasa Korea. Maklum, aslinya kan Henry orang Taiwan yang gede di Canada. Dalam novel ini Kyuhyun digambarkan sebagai sepupu Henry, tentunya tanpa sifat evilkyu. Yalaahh.. namanya juga novel percintaan dewasa. Kyuhyun harus berubah lebih bijak! Hihihi..

Hal yang saya suka dari novel 1-4-3 ini adalah ceritanya gak maksa, cara bertuturnya enak, penulisannya juga tidak seperti novel Korea terjemahan. Gak salah kalau 1-4-3 ini terpilih menjadi salah satu naskah yang terpilih untuk dipublikasikan oleh Grasindo dalam PSA 3 (Publisher Searching For Authors) di tahun 2015 lalu. Penulisnya, R.A atau lebih akrab saya panggil Dewi ini bisa ditebak adalah seorang ELF juga. Tapi entah kamu ELF atau sama sekali bukan fans kpop, novel 1-4-3 bisa dinikmati sebagai salah satu novel romance yang manis.

Giveaway Novel 1-4-3

It's giveaway time!!

Pengen tahu ending dari kisah segi empat antara Henry-Hyena-Kyuhyun-Raemun ini? Penulis novel 1-4-3 berbaik hati berbagi 1 novel 1-4-3 dengan bonus pembatas buku dari empat karakter utamanya.

Novel Korea


How to Win 


1. Follow akun Twitter penulis novel 1-4-3  @Rabiyatulakhmar dan akun @vitamasli 

2. Share info giveaway ini di twitter beserta url postingan ini dengan hastag #143NovelGiveaway dan mention @vitamasli  dan @Rabiyatulakhmar . Di bagian bawah ada "share this post ", klik itu aja lebih mudah.

3. Cantumkan nama, akun twitter, link share info giveaway dan jawaban pertanyaan di bawah ini di kolom komentar :

"Jika kamu diberi kesempatan untuk menentukan ending 1-4-3, Henry dipasangkan dengan Hyena  atau Raemun ?" 


Tulis juga alasannya, yah!

Udah, itu aja syaratnya. Gak ada jawaban benar atau salah, tapi kalau pengen dapat poin lebih, silahkan follow akun Instagram @Rabiyatulakhmar dan akun @vitamasli. Serius, kita gak nolak, hehehehe..

Giveaway novel 1-4-3 ini akan berakhir pada tanggal 29 Februari 2016 Pukul 24.00 WITA. Pengumuman pemenang paling lambat 3 hari setelah giveaway berakhir.

So, what are you waiting for? Yukkk ikutaaaan!! 

Tsundoku, Kebiasaan Unik Pembaca Buku



Tsundoku, Kebiasaan Unik Pembaca Buku

Sebagai orang yang katanya suka baca buku (eh iya sih), setiap bulan saya selalu punya alasan untuk mampir sejenak dua jenak di toko buku. Awalnya lihat-lihat deretan 'New Arrival', lalu kemudian mampir ke bagian best seller dan pada akhirnya ngider ke segala penjuru dan berakhir dengan satu dua buku di tangan menuju kasir. Sampai di rumah, bungkus plastiknya di buka, lepasin label harga buku dari plastik dan menempelkannya di bagian dalam sampul baca selembar dua lembar lalu kemudian membiarkannya tergeletak di sisi tempat tidur. Besok-besok ke toko buku lagi, gak tahan untuk tidak beli buku baru lalu kejadian yg sama terulang. Gitu aja terus, sampai akhir tahun bukunya numpuk setinggi2nya. Yang bener-bener dibaca sampai habis hanya beberapa saja. Sounds familiar? Alhamdulillah yah,kalau gitu. Berarti I'm not the only one.

Ternyata kebiasaan seperti itu di Jepang disebut dengan Tsundoku. Ini adalah kata yang menggambarkan seseorang yang membeli buku, lalu  kemudian menumpuk di lantai atau di rak-rak, dan berbagai macam perabot lainnya tanpa membacanya. Kata tsundoku sendiri mulai dikenal pada awal Jepang modern, era Meiji (1868-1912). Diambil dari kata Tsunde oku yang jika diartikan secara harafiah berarti membiarkan sesuatu yang menumpuk dan ditulis. Barulah kemudian saat pergantian abad, oku (ใŠใ) dalan kata tsunde oku berganti menjadi doku (่ชญ) yang berarti membaca. Berangsur kata tsunde doku yang agak sulit diucapkan itu berganti menjadi tsundoku yang dikenal untuk menggambarkan para penimbun buku. 


Sebenarnya Tsundoku ini sehat gak sih? 

Beberapa menganggap kebiasaan seperti itu cuma buang-buang uang. Ngapain beli buku gak dibaca. Eh ya bener juga sih. Beberapa lainnya tentu punya alasan tersendiri. Saya sendiri bersembunyi dibalik alasan ‘kesibukan’ *uhuk*.  Kerja atau kuliah Senin sampai Jumat, Sabtu dan Minggu tergoda drama Korea dan rapelan tidur, itu gimana coba? Ada juga alasan nabung bacaan buat liburan (which is never happen, karena mending puas-puasin jalan atau tidur. Ini gue aja apa gimana ya?). Alasan berikutnya adalah sebagai referensi tulisan dan bahan pembelajaran (tsaah yang anak kuliahan mah alasannya gitu). Tapi yang jelas sih bukan untuk jadi pajangan semata biar dikira orang yang berintelektual tinggi padahal sih sebenarnya penimbun buku. Serius, nanti juga saya baca kok. Nantiiiii tapi gak tahu kapan, hihihi.. Maunya sih beli buku supaya nambah ilmu, eh ini malah nambah debu. Hiks. 

Kamu pernah seperti itu juga gak sih? Pelan-pelan menjadi Tsundoku atau malah sudah jadi Tsundoku kronis?  Share cerita kamu di sini yah.. Semoga kita bisa menjadi Tsundoku yang tobat, asalkan bukan jadi Sadako. Kalo itu mah ogaaaahhh!!!! 

Email dari Amerika

Saya tertarik untuk membaca buku ini ketika selesai mengikuti Workshop Narrative Journalism di Makassar International Writer Festival bulan Juni 2015 lalu. Bukan karena judulnya, tapi lebih kepada ketertarikan saya pada materi workshop dan cara Janet Steele membagi ilmunya pada kami. Saya ingin tahu bagaimana ia menerapkan apa yang sudah dibaginya pada kami dalam tulisannya sendiri. Jadi begitu workshop selesai, saya langsung cuzz ke booth book sale untuk membeli buku Email dari Amerika ini.  



Janet Steele, adalah seorang profesor jurnalisme di School Of Media and Public Affairs, George Washington University, Washington DC. Janet sangat identik dengan narrative journalism (jurnalisme sastrawi). Pada 1997-1998 Janet mendapatkan beasiswa Fulbright untuk mengajar di Universitas Indonesia serta riset di Lembaga Pers Dr. Soetomo di tahun 2005 -2006. Setiap tahun Janet Steele bertandang ke Indonesia. Tidak heran saat saya bertemu dengannya di Makassar International Writer Festival, bahasa Indonesianya cukup lancar. Dia bahkan menulis Email dari Amerika dalam bahasa Indonesia.
Awalnya saya pikir ini semacam satu  essay yang panjang. Ternyata Email dari Amerika adalah kumpulan tulisan yang dikirim Janet Steele melalui email untuk mengisi sebuah  kolom di surat kabar Surya dari tahun 2007 hingga 2011. Topik yang ditulisnya tentang cerita sehari-hari yang mungkin bagi beberapa orang sangat sederhana, namun ketika  dilihat dari sudut pandang Janet Steele, seorang Amerika yang jatuh cinta pada Indonesia, ada kesan lain yang saya dapatkan.


Tulisan tentang salju, misalnya. Janet Steele bercerita tentang anak-anak sekolah di Amerika yang sangat suka salju.


Jika ada banyak salju, tidak ada sekolah! Istilahnya snow days atau hari salju.  ( Halaman 15)


Kontradiksi dengan anak-anak, para orangtua di Amerika tidak suka snow days karena mereka harus mencari tempat penitipan anak. Salju juga banyak memberi ‘kerepotan’ di jalan, bandara bahkan peraturan-peraturan. Misalnya setiap pemilik rumah harus bertanggung jawab menyapu salju dari trotoar di depan rumahnya.


Kalau ada pejalan kaki yang terpeleset karena salju belum disapu, si penghuni rumah bisa digugat. (Halaman 16)


Janet Steele juga banyak bercerita tentang Indonesia. Sebagai seorang Associate Professor  di Sekolah Media dan Urusan Publik di George Washington University, Janet sering berkunjung ke Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia untuk workshop Jurnalisme Sastrawi, menjadi pembicara atau melakukan research. Liburan kuliah di tempatnya mengajar menjadi waktu yang dipergunakan untuk Janet melakukan kegiatannya di Indonesia.


Di salah satu sub bab berjudul ‘Teknisi’ yang ditulisnya pada tanggal 25 Juli 2008, Janet Steele bercerita tentang mesin cuci di apartemennya di Jakarta  yang rusak.


Di Amerika, kalau ada seseuatu yang rusak biasanya dibuang. Beda sekali di Indonesia! Saya sangat terkesan dengan para teknisi Indonesia yang bisa memperbaiki apa saja.  (Halaman 83)


Setelah diperiksa ternyata yang rusak adalah bagian switch dari mesin cuci Janet. Sayangnya sang teknisi tidak membawanya. Alih-alih meninggalkan mesin cuci Janet begitu saja, sang teknisi memberi alternatif agar mesin cuci itu tidak perlu menggunakan switch.

Masih tentang teknisi, Janet mendapat kesulitan dengan bola lampunya.

Tidak ada masalah dengan bola lampu. Juga tidak ada masalah dengan kabel listrik dibagian bawah. Akhirnya dia melepaskan bagian atas. Ada kawat yang rusak! Sesudah beberapa menit Pak Nim memperbaiki kawat, lampu saya menyala. Saya sangat senang. Sekali lagi saya sangat yakin para teknisi Indonesia bisa memperbaiki apa saja. (Halaman 84)

Dan ketika dia kembali ke Amerika dan menemukan masalah yang sama denga mesin cucinya. Janet tidak bisa tidak membandingkan teknisi Amerika dan Indonesia. Teknisi Amerika menolak 'mengakali' sesuatu, karena standar perusahaan Indonesia dan Amerika yang berbeda. Janet harus menunggu switch yang dipesan dari pabrik satu atau dua minggu lagi.

Janet Steele tidak hanya bercerita tentang hal-hal yang ‘ringan’ tapi juga yang bersinggungan dengan politik. Ditulis dengan gaya narrative journalism, email yang berjudul Minggu Dili di tanggal 9 Agustus 2009 ini menarik sekaligus memberi persepsi baru.


Kemarin, Sabtu, saya bertemu dengan seorang teman dari Timor untuk makan siang, namanya Fatima. Dia dulu kuliah di Jakarta. Dia masih punya banyak teman di Indonesia. Waktu Fatima kuliah, dia tinggal di rumah kos bersama beberapa teman lain. Salah satu menjadi sahabat baik, seperti saudara dan ketika Fatima berada di Jakarta dia selalu mengunjungi ‘keluarga kedua’ itu.


Fatima bercerita mengenai ‘keluarga’ dia di Jakarta, terutama orang tuanya. Sesudah jajak pendapat tahun 1999 ayahnya tidak ingin Fatima kembali ke Dili. “Untuk apa?” dia bertanya. Lebih banyak kesempatan di Indonesia.


Tapi Fatima adalah putri Timor yang baik, dan dia membalas bahwa semua keluarga dia tinggal di sana. Selain itu, Timor Leste menjadi negerinya sendiri. ( Halaman 203 -204)


Di bagian lain dari buku ini, Janet Steele juga berkisah tentang pengalamannya dengan orang Dili. Mereka ternyata lebih suka berbahasa Indonesia dibandingkan berbahasa Portugis. Sama seperti petugas hotel lebih suka ‘‘menyelundupankan’ air mineral Aqua ke dalam kamar hotel Janet dibanding air import dari Portugis yang diharuskan di hotel tersebut.


Mungkin ada benarnya, orang Timor Leste hanya terpisah batas wilayah kenegaraan saja dengan Indonesia. Pada dasarnya hati mereka masih Indonesia banget.


Macam-macam kesan, pengalaman, selipan pemikiran dan perenungan ditulis Janet dalam 150 emailnya di buku ini. Selain pandangannya tentang Indonesia, Amerika, Malaysia,  dan beberapa tempat lain, Janet pun tak ragu membagi kisah pribadinya tentang keluarga, teman terdekat, mahasiswa dan bahkan tentang hewan peliharaannya : Conrad.


Saya memiliki burung beo, atau mungkin lebih tepatnya jika dikatakan dia yang memiliki saya. Namanya Conrad. Dia berwarna hijau dengan sedikit merah, biru dan kuning. Ukurannya kira-kira 35 sentimeter. Dia tinggal di sangkar burung besar, yang terletak dekat meja tulis di rumah saya. Tetapi biasanya pintu sangkar itu dibuka dan Conrad duduk di atas. Tempat favoritnya di atas bahu saya. ( Conrad, halaman 13)


Conrad menghiasi beberapa tulisan dari buku Email dari Amerika ini. Tidak mengherankan, karena selama 20 tahun Janet ditemani Conrad. Ada banyak hal-hal menarik yang mereka lalui bersama. Janet menggambarkan betapa Conrad adalah burung yang pencemburu.


Kecemburuan Conrad tidak hanya kepada orang-orang yang dekat pada Janet tetap juga kepada barang-barang yang ‘mengambil perhatian’ Janet. Dia tidak suka pada televisi, alat penghisap debu dan radio. Menurut saya Conrad tidaklah sepencemburu itu. Mungkin dia cuma tidak suka kebawelannya ditandangi. Mungkin..


Membaca tulisan-tulisan Janet tenang Conrad sedikit banyak membuat saya bisa mengerti perasaan Janet ketika Conrad akhirnya meninggal. Iyah… saya pun sedih dibuatnya.




Tulisan-tulisan Janet yang mengalir dan deskriptif memang bisa membawa kita melihat dan merasakan pengalaman-pengalaman yang ada dalam Email dari Amerika ini. Perbedaan dan persamaan dari Indonesia dan Amerika yang dirasakannya sebagai dosen / orang biasa ditulis dengan kerendahan hati dan tidak menjatuhkan satu negara dengan lainnya.


Saya juga menyukai bagaimana Janet membuat judul yang sangat singkat, hanya satu atau dua kata saja, namun menggambarkan apa yang diceritakannya. Sederhana, tidak perlu berbunga-bunga tapi tetap membuat orang tertarik untuk ingin tahu apa yang dituliskannya.


Saya bukannya tidak menemukan kekurangan dari buku ini, tapi tidak banyak. Saya pikir untuk beberapa email isinya ada yang  terlalu singkat. Kadang seperti berlari terburu-buru lalu tiba-tiba sudah ‘Salam hangat dan sampai minggu depan’ (Kalimat penutup semua email Janet). 

Sebenarnya bisa dimengerti karena tulisan-tulisan ini sejatinya untuk mengisi kolom surat kabar yang tentunya punya patokan berapa kata untuk setiap edisinya. Mungkin saya hanya terlalu menikmati membaca tulisan-tulisan Janet hingga tidak rela berhenti.


Bagaimanapun saya menikmati membaca buku ini. Banyak hal yang terkadang terlupa untuk diperhatikan dari hubungan antar manusia, antar manusia dan hewan, antar dua kehidupan di dua benua yang berbeda. Sayang buku ini tidak saya temukan di toko-toko buku besar. Tapi mungkin jika berminat bisa menghubungi Yayasan Pantau melalui twitter di @@Yayasan_Pantau.  

Yes, I Got Her Signature and Note. Yay! 

Email dari Amerika ditulis dalam bahasa Indonesia ala Janet Steele yang bisa dinikmati bahkan untuk orang yang merasa berat untuk membaca literatur non fiksi sekalipun. Menarik untuk dibaca, selayaknya surat dari seorang teman lama.

Supernova Episode Gelombang, Keping ke 5 Di Tangan Alfa Edison

Gelombang adalah salah satu novel rangkaian dari Supernova yang ditulis oleh Dewi 'Dee' Lestari. Ini bukan pertama kalinya saya membaca karya-karya Dee, bisa dibilang saya termasuk fans beratnya (walaupun bukan hardcore fan ya.Uhuk!). Di tahun 2000, ketika pertama kali Supernova : Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh terbit, saya tidak pernah menyangka bahwa ternyata cerita ini bersambung menjadi beberapa keping kisah yang ditulis masing-masing dalam satu buah novel. Sepanjang 14 tahun, Dee sudah menulis Akar, Petir, Partikel. Di tahun 2014  Gelombang dipublished dan menjadi keping kedua dari terakhir dari serial Supernova.

Supernova Episode Gelombang

Supernova Episode Gelombang, Keping ke 5 Di Tangan Alfa Edison 


Dalam setiap keping, selalu ada tokoh sentral yang berbeda dari keping sebelumnya. Untuk Gelombang, Dee 'menciptakan' Alfa Edison, seorang Batak dengan kecerdasan luar biasa. Orangtuanya bercita-cita ingin Alfa
menjadi orang yang tidak sekedar menjadi jago kampung. Persiapan telah dibuat namun kedua orangtunya dihadang dilema. Alfa diperebutkan oleh dua orang sakti mandraguna dari dua kampung berbeda. Orang-orang sakti ini berniat menjadikan Alfa sebagai murid spritualnya. Dari salah satu diantara mereka, Alfa diberi sebuah batu bersimbol aneh. Dia harus menjadi 'penjaga' kampung seperti batu itu menjaga dirinya. Untuk itu dia tidak boleh merantau. Sesuatu yang bisa menyia-nyiakan kecerdasan seorang Alfa Edison a.k.a Inchon.

Bukan tanpa sebab Inchon diperebutkan orang-orang sakti ini. Para tetua-tetua adat dan orang-orang sakti ini percaya Inchon telah dipilih oleh Si Jaga Portibi, mahluk gaib yang menjadi penghubung antara pencipta dan manusia. Inchon tidak hanya 'bertemu' dengan Si Jaga Portibi dalam keadaan sadar, tapi juga saat ia terlelap. Setiap kali dia tertidur, Inchon bermimpi aneh dan mencekam. Ada sesuatu dalam mimpinya yang berusaha untuk membunuhnya. 

Mimpi itu terus memburunya walaupun ia telah merantau jauh ke Amerika. Sebagai imigran gelap dia berusaha menembus belantara New York menjadi mahasiswa sekaligus karyawan perusahaan trader Wall Street ternama. Bermimpi jika ia tertidur menjadi ketakutan terbesar Inchon. Dia menjadi insomnia kelas akut. Suatu hari seseorang perempuan hadir dan memicunya untuk menghadapi ketakutan terbesarnya.

Dan itu membawanya jauh hingga ke Tibet, dimana satu demi satu jawaban dari semua pertanyaannya yang disimpan bertahun-tahun akhirnya terjawab. 

Hanya ada satu pertanyaan tersisa, dimanakah Inchon harus menemukan  keempat pemegang batu bersimbol seperti yang dipunyainya? 

My Impression

Dee selalu luar biasa dalam merangkai kata dan cerita. Saking luar biasanya saya sempat dibuat bingung dan agak mabok istilah-istilah di Supernova: Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh. Untunglah makin kesini, serial Supernova semakin bisa mengeluarkan Dee dari keinginan terlihat pintar dan benar-benar memperlihatkan dia betul-betul cerdas dengan tidak menumpahkan semua istilah-istilah yang tidak familiar seenak hatinya. Selain Partikel, Gelombang adalah salah satu keping yang cukup santai dalam penuturan dan alur cerita. 

Hal yang menarik adalah, jika pun tidak pernah membaca novel sebelumnya, masih tetap akan mengerti jalan cerita. Namun Gelombang juga tidak luput dari kesalahan-kesalahan kecil. Saya sangat menikmati cerita pencarian Diva hingga ketika lampu sorot pindah pada tokoh Inchon kecil. Namun ketika Inchon pindah ke New York ada beberapa hal yang saya rasa sebagai 'pelajaran gaya hidup bebas' terselubung. Walaupun Alfa beragama penyembah berhala (menurut keluarga yang ditebengin Inchon) dan hidup di New York yang bebas, tidak bisakah Inchon digambarkan tidak ikut-ikutan tidak perjaka hanya karena teman-temannya menertawainya? I mean, buku ini dibaca oleh anak muda Indonesia. Jika ada contoh, bisa jadi ini dijadikan pembenaran : Cowok Perjaka sebelum menikah itu gak cool, meeen..... Apapun agamanya, bolehkan kalau bukan hanya perempuan yang menjaga diri tapi juga lelaki? 

Untuk hal yang lain seperti jalan hidup Inchon yang terlalu mudah, dari ke Jakarta, pindah ke New York, dapat beasiswa hingga kerja di perusahaan ternama dengan gaji luar biasa tidak mengesankan buat saya. Namanya juga fiksi, tokoh utama tetap harus dipermudah jalannya walaupun kadang ada beberapa hal yang terlalu dipaksa. Semisal kenapa harus ke Amerika dulu untuk akhirnya bertemu sebuah buku yang ditulis Kalden? Bukannya dia sering nongkrong di toko buku bekas bapaktua? 

Inchon juga digambarkan jago bermain gitar dan berhasil memenangkan kontes di sebuah club. Bisa jadi ini penggambaran Dee untuk tokoh Inchon agar dia kelihatan lebih keren daripada sekedar jadi geek, mahasiswa peraih beasiswa di universitas ivy league. But that don't impress me much! Tidak ada hubungannya juga dengan inti cerita. Kecuali kalau tiba-tiba dia jadi ksatria bergitar dalam mimpinya lalu menemukan jawaban tanpa harus ke Tibet. (Lah, jadi Bang Rhoma dong... ). 

Dan walaupun ini bukan novel agama, saya merasa banyak unsur-unsur ajaran agama Budha yang disuntikkan dalam pemaparan kisahnya. Sesuatu yang pernah membuat saya jadi sedikit antipati pada Dee saat ia menuliskan Zarah yang beragama Islam namun dengan entengnya menjawab Jamur sebagai Tuhannya. *Sigh* But,hey! Dee hanya menulis untuk dirinya sendiri dulu, memang bukan untuk memenuhi selera pasar. Salah pembaca kalau kemudian jatuh suka. Ya kan?

Ada hal yang saya kagumi, ada pula yang harus saya maklumi. Yang jelas Dee adalah seorang penulis dengan segudang ide namun terkadang terlalu liar berimajinasi. Keliaran imajinasinya itu bisa jadi membawa pembaca jadi penasaran atau malah berhenti ditengah jalan karena kelelahan.

Gelombang adalah salah satunya buah pemikiran dan hasil riset Dee yang akan berlanjut pada Intelensia Embun Pagi yang akan menghubungkan novel-novel sebelumnya. Diantara beberapa hal yang tidak memuaskan tadi saya masih tetap penasaran ingin membaca ending dari serial Supernova. Sementara itu, mari terbawa gelombang hingga waktu yang belum ditentukan. 

Selamat membaca!

SABTU BERSAMA BAPAK Review

Judul : Sabtu bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2014
Tebal : 277 halaman

Adhitya Mulya

Pertama tahu kalau Adhitya Mulya nulis novel lagi, i was very excited. Novelnya kali ini tentang apa ya? Semoga bukan novel cinta bersetting perjalanan atau kota-kota di luar negeri sana, which is i found it really bo to the ring, boring! Dilihat dari judul sih sepertinya gak akan lari ke novel jenis itu yah. Sabtu Bersama Bapak. Mmh.. jangan-jangan ini novel tentang menghabiskan liburan bersama Bapak di rumah kakek seperti karangan jaman kita SD dulu? ( KITAAAAA??? Ahh.. iyaa Kita. Ayo ngaku deh, jangan nunjuk ke saya aja dong!)
Hahahaha.. Ternyata bukan.

In The Bag, Kisah Koper yang Tertukar Cinta

Don't Judge The Book By Its Cover

Dulu sih katanya gitu. Belakangan sepertinya sudah tidak berlaku, paling gak buat saya :D. Salah satu contohnya pas nemu novel yang ini di kategori "New Arrival" sekitar dua minggu lalu ( iyah,maafkan aku agak malas nulis belakangan ini). 

Ketika membaca back cover story aku pikir, wah lumayan seru juga nih. Walaupun sempat agak ragu mengingat penulis naungan  penerbit "Gramedia Pustaka" seringnya agak kaku, akhirnya saya bawa pulang juga Lagi-lagi karena sampulnya keren. Hahaha!



Ternyata gak nyesel juga sih belinya. 

Pertama karena terjemahannya enak dibaca. In The Bag ini memang novel terjemahan. Penulisnya Kate Klise ini awalnya adalah seorang koresponden majalah People yang banyak meliput skandal selebriti sampai pembunuhan berantai. Jadi jelas ini bukan novel K-Drama, yes? Hahaha..  Nah, In The Bag ini adalah novel dewasa pertamanya. Namun walaupun dilabeli "novel dewasa" tenang saja karena gak ada adegan-adegan seperti "Fifty Shades Of Grey" kok :D *eh gak ada yang kecewa kan*

In The Bag ini bercerita tentang Coco remaja tanggung bersama Ibunya, Daisy serta Webb dan Ayahnya Andrew. Coco dan Daisy sedang dalam rangka liburan ke Paris sementara Webb diajak Ayahnya dalam rangka pekerjaan ke Madrid. Mereka secara kebetulan satu pesawat dari Chicago dan secara tidak sengaja terlibat "kecelakaan". Ayah Andrew tidak sengaja membuat Daisy ketumpahan wine dan menodai bajunya. Dia bermaksud untuk minta maaf tetapi pramugari menyuruhnya untuk segera duduk. Andrew pun menuliskan pesan disecarik kertas dan menyelipkannya di saku tas Daisy. Sebuah permintaan maaf dan ajakan kencan sebagai permintaan maaf. Ternyata bukan hanya Daisy yang tertimpa hal mengesalkan, Coco juga. Tasnya tertukar. Dia baru sadar ketika ia membongkar tasnya dan menemukan pakaian dan sepatu laki-laki. Di Madrid Webb tak kalah terkejut melihat isi ranselnya yang berubah menjadi "cewek".

Tas yang tertukar dan pesan yang terselip menjadi benang merah kisah antara Coco-Webb dan Daisy-Andrew. Dua orang tua tunggal yang mengira mereka terlalu sibuk untuk berkencan dan dua remaja yang diam-diam tidak berhenti saling mengirimkan email flirting rahasia. Membaca novel ini seperti mengajak saya jalan-jalan di Paris, Madrid hingga Barcelona. 

Aku suka cara Kate Klise menulis. Setiap bab POV diambil dari ke empat character secara bergantian.  Liburan selama 6 hari ini dilengkapi dengan gambar yang berhubungan dengan perjalanan mereka. Sangat enak untuk dibaca.Kate tahu menempatkan dirinya dalam kerangka berpikir bukan saja orangtua tetapi juga remaja 17 tahun. Menarik. Interaksi ibu dan anak perempuannya, ayah dan anak lelakinya dan dua remaja yang masing-masing belum pernah berkencan dipaparkan secara ringan sekaligus juga menyentuh.  Mmh, kadang-kadang sebagai anak sering lupa pengorbanan dan pengertian orang tua menghadapi mood anaknya :D * hugs *  sementara sang anak rahasia-rahasian menyusun rencana ketemuan. Ah, bandelnya anak-anak :p 

Jatuh cinta, kadang kala memang begitu mudah dan penuh resiko seperti tertukar bagasi pada penerbangan International. Jatuh cinta juga kadang kala begitu rumit karena salah pengertian. Namun jatuh cinta itu menyenangkan seperti adventure dalam perjalanan. Gak setuju? Coba baca dulu deh novelnya. Habis itu kasih tahu aku yah pendapatmu disini :D 

Selamat membaca!
XoXo

V