Tempat Ngopi yang Enak Itu...

Di mana sebenarnya tempat ngopi yang enak itu? Jawabannya tentu beragam. Ada yang bilang di warung kopi, tempat di mana kebiasaan ngopi berasal. Bermodal secangkir kopi tubruk dan berbatang-batang rokok, pembicaraan mengalir dari politik hingga proyek impian.

Ada yang memilih di cafe di mana kopi disajikan dalam ruangan berhawa dingin yang nyaman. Tidak menutup kemungkinan ada yang memilih coffee shop sebagai tempat kopi yang enak. Tempat di mana orang bisa memesan kopi sambil ngobrol dengan barista meracik pesanan. Bisa nongkrong di situ atau take away. Semua sah-sah saja sebagai pilihan tempat ngopi enak. Terserah apa 'brand' nya kan?

Cafe Makassar
Ice Americano dan Cheese Toast di Rhapsody Coffee Eatery

Tempat Ngopi yang Enak Itu...

Setiap tempat ngopi punya segmentasi yang berbeda. Ada yang memang segment pasarnya kelas A, ada juga yang membidik menengah ke bawah. Beberapa tempat kopi mengkhususkan diri untuk penikmat kopi beneran sementara ada juga yang membidik pasar anak muda yang gak peduli rasa kopinya gimana yang penting tempatnya instagramable, bisa merokok dalam ruangan dan tentu saja bisa pesan Taro Blend atau Ice Tea Lychee. 

Jadi kalau ada yang menganggap si A tempat ngopinya mahal, ya mungkin mahal buat kamu gak buat dia. Toh, tempat yang kamu bilang asik belum tentu juga pas buat orang lain, kan?

Nah, dari sekian banyak tempat ngopi di Makassar yang sudah saya coba, saya list beberapa aja yah yang sekiranya mudah-mudahan bisa dikategorikan sebagai tempat ngopi yang enak :

Starbucks, You Hate It - I Love It 


Meski kopinya seems overpriced, tapi mereka 'membayar'nya kembali. Tempat yg nyaman, suasana yang bikin betah (music not too loud dan gak norak) dan yang paling penting mba dan mas baristanya ramah dan berusaha mengenal pelanggannya entah dari nama dan kopi yang disukainya. Jika kopi yang dibuatkan tidak sesuai dengan taste saya, mereka dengan senang hati menggantinya dengan yg baru the way i like. Tidak banyak cingcong.



Starbucks Breakfast

Pendapat saya ini pernah bikin 'panas' grup Line sebuah komunitas. Katanya,"ditempat lain juga seperti itu. Kamu aja yang tahunya nongkrong di situ." Kira-kira begitulah kesimpulan dari beberapa komentar yg cukup pedas. Intinya saya ini 'tidak nasionalis, pendukung yahudi, dan seterusnya dan seterusnya. Lucu juga.. tapi pada akhirnya saya malas berdebat tentang selera.

Bagi saya tempat ini jadi semacam penyelamat 'mood' di pagi hari. Kalau saya gak sempat ngopi di rumah,  tempat ini sering saya samperin. Selain karena lokasinya berada dekat kantor, jam operasionalnya mulai dari pukul sembilan pagi dan paling siap diantara coffee shop yang lain entah buat take away atau minum di tempat. Oiya, parkirannya juga gak susyeh. Hahaha..


Peeple, #KopiKerja 


Bicara tentang segmentasi tempat ngopi, beberapa waktu lalu saya diundang menghadiri reopening dari sebuah tempat ngopi di Makassar. Sebut saja namanya Peeple yang berlokasi di jalan Singa. Tempat yang mengusung konsep bertagar #kopikerja ini sejatinya dimaksudkan oleh pemiliknya sebagai tempat ngopi yang memungkinkan kita mengerjakan work task. Layaknya di kantor tapi lebih nyante, gitu..

Peeple Makassar
Salah Satu Sudut di Peeple yang Bisa Kamu Pakai Untuk Meeting

Sebenarnya konsepnya lumayan asik. Di bulan-bulan pertama Peeple buka saya beberapa kali nongkrong di sini, entah untuk makan siang atau (niatnya) pengen ngerjain tugas kantor/kuliah/blogging. Hanya ya gitu.., setiap ke situ selalu ada kekecewaan. Teramsuk masalah kenapa perokok di dalam ruang AC dan non smoker harus rela di outdoor ? Gak kebalik nih? 


Alhamdulillah akhirnya ada perubahan juga. Terbukti dari direnovasinya Peeple dengan penataan baru. Non smoker dan smoker ditempatkan terpisah dan sama-sama ber AC. Internetnya lebih cepat. Desain dibuat lebih 'homey'.  Inilah yang diperkenal Peeple pada event reopeningnya. 

Peeple
Smoking dan Non-Smoking Area Sama-Sama Ber-AC


Sayangnya, meski tempat sudah terbilang nyaman dengan pelayanan yang cukup, beberapa jenis kopi lokal semacam gayo Aceh, Toraja, Bali dan beberapa lainnya sudah tidak ada. Begitu pula barista dan pelayanan penyeduhan kopi di meja pelanggan juga gak ada lagi. Padahal saya jadi banyak tahu jenis-jenis kopi dan pengolahannya menjadi minuman gara-gara itu loh.. 

Kata orang yang in charge masalah operasional, saat ini satu-satunya kopi lokal yang disediakan Peeple adalah kopi Enrekang dengan cara V60 sebagai pengolahannya. Kenapa? Karena hanya satu dua orang yang datang ke Peeple untuk bener-bener menikmati kopi beneran. Yahh.. sayang banget ya!

Kaya Toast
Enrekang Coffee and Kaya Butter Toast, Pilihan Buat Breakfast

 Rhapsody Coffee Shop Eatery - Tempang Ngopi Harga Mahasiswa

Terus terang saya sempat tidak banyak berharap dengan tempat ini. Seorang teman merekomendasikan tempat ini pada saya. Katanya kopinya sudah pasti enak dan tempatnya asik. Lokasinya di samping sebuah kampus di daerah Tamalanrea tidak jauh dari kampus Unhas membuat saya akhirnya kepikiran untuk mampir. Kalau pun gak oke, saya langsung cabut aja kuliah.  Ya kan?

Saya datang pas pukul 12 siang bermodal petunjuk dari Google Map. Seperti biasa saya pasti nyasar dulu (makasih yah Google Map!).  Letak Rhapsody Coffee Shop Eatery ini ternyata ada di deretan ruko agak masuk beberapa meter dari jalan Perintis Kemerdekaan. Thank God parkirannya luas.

Rhapsody Cafe
Add caption

Dari luar sih gak norak-norak amat ya, meski ada spanduk apalah gitu tergantung di depan. Beberapa kursi dengan meja dan asbak rokok ditempatkan di depan. Ah berarti mereka gak semena-mena dengan non smoker. Bar barista langsung terlihat begitu saya membuka pintu. Belum ada pengunjung selain saya, hanya seorang barista, seorang perempuan yang mungkin bagian keuangannya dan seorang yang saya asumsikan sebagai owner. 

Tanpa ragu saya memesan Ice Americano. Separah-parahnya tempat kopi paling tidak mereka bisa buat Americano kan? More than I expected Ice Americano saya datang dengan 1extra shot seperti yang seharusnya. Meskipun ternyata Ice Americano saya sudah dicampur gula tapi 1 extra shot tadi membuat saya males komplen. Hahahaha..

Kopi Indonesia
Biji Kopi yang Digunakan di Rhapsody Coffee Eatery

Menu yang ditawarkan Rhapsody Cafe Eatery ini cukup beragam. Kopi mulai dari Espresso dan turunannya hingga Affogato pun tersedia. Harganya berkisar antara 12ribu hingga 23 ribu. Mungkin karena lokasinya dekat kampus jadi harga harus bersahabat dengan kantong mahasiswa. 

What I like about this place is selain ruangannya adem dan bersih, musik yang dimainkan adalah alunan instrumental denting piano, meskipun menurut saya volumenya agak kegedean dikit. Mba dan mas nya juga baik banget. Ya sudah fixed,  berhubung dekat kampus kayaknya saya bakal mampir ke sini lagi sebelum kuliah.
 

DnK Espresso Bar

Kopi Toraja

Tempat ini secara tidak sengaja saya kunjungi. Gara-gara waktu itu sempat nginap di Zen Rooms dan melihat dari jendela kamar. Letaknya memang pas di seberang M Boutique Hotel, jalan Gunung Bawakaraeng. Jadilah setelah check out siang itu saya mampir ke sana.

Sebenarnya untuk ukuran kopi yang enak dan barista yang enak diajak ngobrol serta tempat yang Instagramable, tempat ini sebenarnya bisa jadi rekomendasi. Siang itu barista yang bertugas adalah seorang cewek dan dia enak diajak ngobrol tentang kopi.

Kopi Toraja

Biji kopi yang digunakan di sini pun adalah kopi Toraja. Sayang hidangan teman ngopinya kurang beragam dan tidak friendly buat non-smoker. Para perokok bebas merokok di ruangan ber AC bergabung dengan non-smoker. Pffthh... Waktu saya ke sana, smokernya cuma satu sih.. tapi merokoknya dekat barista.  Asap rokoknya itu loh ganggu keharuman kopi. 

Jadi, Di Mana Tempat Ngopi yang Enak Itu?

Anyway, sebenarnya  tempat ngopi banyak, racikan barista juga bisa beda-beda. Selain soal rasa pelayanan dan keramahan adalah dua hal yang memberi value lebih bagi pengunjung. Ketika pengunjung mengalami pengalaman yang menyenangkan pada satu tempat atau satu produk, kemungkinan untuk mereferensikan tempat tersebut pada orang lain akan lebih besar.

Sebagai orang Makassar saya juga mau lebih sering ngopi di tempat ngopi lokal, kok. Hanya saja saya belum menemukan tempat yang standar pelayanannya setara dengan coffee shop merk luar itu. Ayo lah.. buat standar pelayanan dan kenyamanan yang setara. Ini salah satu bentuk retensi kepada pelanggan juga loh. Ketika pelanggan sudah merasa nyaman, loyalitas bisa terbentuk bahkan jika ada sedikit kesalahan sesekali, mereka tidak akan meninggalkan tempat itu.

Tempat yang manusiawi buat pencinta kopi non rokok, kopinya enak, barista/waitressnya baik dan ramah nya gak kaku-kaku banget adalah beberapa contoh value yang diinginkan pengunjung.  Jika pelanggan sudah mereferensikan, mereka juga keep coming back, bisnis insya Allah berjalan aman kan? Itu terkadang berawal dari pelayan dan keramahan, sesuatu yang terkadang terlupakan oleh beberapa tempat ngopi.

Nah, menurut kamu di mana atau seperti apa tempat ngopi yang enak? Boleh share di kolom komentar ya..

Hari Kopi Sedunia dan Kopi Indonesia

Hari kamis, tanggal 1 Oktober, seperti biasa saya sudah bersedia untuk menyeduh kopi sebelum berangkat ke kantor. Baru saja hendak memanaskan air, saya berubah pikiran. Hari ini tanggal 1, hari gajian, harus ngopi yang enak buatan barista berpengalaman, nih! Senikmat-nikmatnya kopi buatan sendiri, kadang-kadang saya juga pengen dibuatin kopi, hihihi. 

Jadilah saat jam makan siang saya beranjak ke sebuah kedai kopi tanpa asap rokok di sebuah mall dekat kantor. Saya baru menyesap ice coffee pesanan ketika notifikasi twitter menggetarkan smartphoneku. Wah, ternyata hastag #HappyInternationalCoffeeDay lagi trending. OMG..  kok bisa lupa gini. Mulai tahun ini Tanggal 1 Oktober  resmi didaulat menjadi Hari Kopi Sedunia. Tepok jidat! *jidat barista* Harusnya kan bisa ngopi gratis nih! #eh


Kenapa Harus Ada Hari Kopi Sedunia ? 


Jadi gini ceritanya.. *sudah mulai curhat nih*

Sebenarnya Hari Kopi bukanlah hal baru. Hari Kopi adalah perayaan tahunan yang diperingati di berbagai negara pada tanggal yang berbeda-beda. Sebagai contoh di Malaysia, Amerika, Kanada, Inggris, Ehiopia dan Swedia memperingatinya di tanggal 29 September. Sementara di Costa Rica dirayakan di tanggal 12 September, Taiwan di tanggal 7 November, Nepal di tanggal 17 November dan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. 

Nah di bulan Maret 2014 International Coffee Organization sebuah organisasi yang menaungi 75 negara penghasil kopi menetapkan tanggal 1 Oktober 2015 sebagai Hari Kopi Internasional. Perayaan Hari Kopi Internasional ini  dipusatkan di Milan, Italia sebagai kota penyelenggara World Expo Milano 2015. Perayaan ini tidak saja untuk para penikmat kopi tapi juga sebagai bentuk tanda respect pada petani-petani kopi dan penggerak industri kopi di seluruh dunia yang sudah menghadirkan kopi ke hadapan kita. Lebih lengkapnya silahkan tonton video di bawah ini untuk tahu lebih banyak tentang kopi dalam kehidupan sehari-hari. 



Indonesia sebagai negara penghasil kopi ke 4 terbesar di dunia (turun 1 peringkat tersusul Kolombia) tentu saja tidak mau ketinggalan. Selain ikut berpameran dalam World Expo Milano 2015 di Milan, Kemenperin, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan yang bekerja sama dengan beberapa asosiasi kopi mengadakan diskusi dan icip-icip kopi Indonesia gratis di Jakarta. Harapannya dengan event ini bisa menjadi momentum untuk mengembangkan kesadaran masyarakat untuk mencintai kopi Indonesia. 

Sejarah Kopi Indonesia

Tanaman kopi yang dipercaya berasal dari benua Afrika masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Belanda pada tahun 1896. Saat ini Belanda membawa jenis kopi Arabika dari  Yaman. Dengan bibit kopi Arabica tersebut Belanda membuka perkebunan kopi komersil di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Perkebunan Kopi juga dibuka di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor hingga ke Flores. 

Sayangnya perkebunan kopi Arabika di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi terserang penyakit karat daun (HV) yang menyebabkan kematian pohon kopi secara besar-besaran. Akhirnya dimulailah pembudidayaan jenis tanaman kopi Liberika dan Ekselsa yang lebih tahan penyakit HV. Namun ternyata daerah lain seperti Flores dan Timor perkebunan kopi Arabika mereka sehat-sehat saja, tidak terserang hama.

Pada perkembangannya kopi Liberika tidak begitu populer dan digantikan oleh kopi jenis Robusta. Kini Robusta menjadi andalan Indonesia sebagai produk kopi ekspor selain Arabica. Letak geografis Indonesia memungkinkan kedua jenis ini tersebar di penjuru Indonesia. Robusta tumbuh di daerah rendah dan Arabica tumbuh di dataran tinggi.

Kopi Indonesia, Dari Aceh Hingga Papua 

Kopi Indonesia adalah salah satu minuman yang banyak disukai orang di luar negeri. Orang-orang Eropa, Amerika, Australia bahkan Asia dan Afrika sangat menghargai kopi Indonesia. Nah, kopi Indonesia apa saja sih yang disukai oleh penikmat kopi mancanegara?


Happy International Coffee Day! 


Begitu banyak ragam hasil kopi dari seluruh Indonesia namun kebanyakan produk premium diekspor ke luar negeri. Alasannya karena pasar luar lebih menjanjikan dibanding tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sayangnya walaupun nama kopi Indonesia melejit, namun petani kopi Indonesia tidak mendapat apa-apa.

Perbedaan harga beli di petani dan harga jual di kafe-kafe terlalu jauh. Ironisnya kopi-kopi Indonesia tersebut dibeli oleh negara lain lalu kemudian diolah kembali atau repackage dan dikirim lagi ke Indonesia dengan label berbeda dan dilempar ke kafe-kafe francise di dalam negeri. Sementara pasar dalam negeri hanya kebagian kopi Robusta berkualitas di bawah kualitas ekspor. Tidak banyak yang peduli, malah lebih banyak yang memilih menikmati kopi dari negara lain. Padahal pengen deh merasakan kopi premium hasil bumi Indonesia seperti bule-bule itu menikmati kopi Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau.

You Can't Buy Happiness But You Can Buy Coffee, And That's Pretty Close 

Mudah-mudahan dengan adanya Hari Kopi International atau International Coffee Day ini bisa menumbuhkan kecintaan kita pada kopi produksi dalam negeri. Semoga juga pemerintah berbaik hati memperhatikan nasib para petani kopi supaya mereka bisa lebih makmur dan buntut-buntutnya masih tetap berusaha untuk membudidayakan kopi Indonesia. Pemilik kafe lokal pun maunya sih lebih banyak menyediakan kopi Indonesia berkualitas bagus yang dibeli langsung dari petani lokal, jangan yang impor dong Bro. Mahal! Petani kita juga gak dapat apa-apa.

Entah penikmat kopi atau bukan, tidak ada salahnya mendukung kopi Indonesia dengan meminum atau merekomendasikannya. Masa mau kalah sih dengan Kolumbia yang berhasil menggeser peringkat Indonesia ke posisi 4? After all siapa yang bisa menyelamatkan kopi lokal kalau bukan orang Indonesia sendiri. Happy International Coffee Day, smell and drink your coffee!

Starbuck Mall Ratu Indah, Ketika Racikan Adalah Segalanya

Jadi begitulah..

Ketika suatu hari mataku bersirobok dengan papan segede gaban yang mengcover pojokan terdepan sebuah mall di Makassar, dadaku berdegup kencang, hysterical tak terkira ( Ok, maaf agak lebay). Yes, finally saya gak perlu lagi jauh-jauh nge-starbuck because it'll be in my town, di Mall paling dekat dengan kantor ( which is yang kayaknya lebih sering saya pantengin dibanding kantor sendiri). Saya gak perlu lagi ngeces membayangkan dan berharap diklat di Jakarta hanya untuk mencicipi Caramel Frappuchino-nya,  Java  Chips Frappuccino dan masih banyak lagi. Mengapa  memilih Starbuck, bukan tempat kedai kopi yang lain? Mmmh..long story. Intinya bagi saya  di setiap kedai kopi masing-masing punya speciality. Dan untuk Frappuchino, Starbuck paling oke lah..

Jadi begitu kira-kira dua minggu kemudian kedai ini buka, di hari kedua i finally went there and order my coffee. Dasar gak konsisten, saya memesan Tall Hot  Hazelnut Latte karena tiba-tiba aja lagi kepengen yang hangat. Sudah membayangkan rasa yang biasanya saya dapatkan tiba tiba hancur aja gituh.. It feels like rasa syrup Hazelnutnya nempel di ujung lidah. You know, kind of taste if you use some artificial sweeteners. Pffhh..

Starbuck Mall Ratu Indah, Ketika Racikan Adalah Segalanya

Ketika suatu hari mataku bersirobok dengan papan segede gaban yang mengcover pojokan terdepan sebuah mall di Makassar, dadaku berdegup kencang, hysterical tak terkira ( Ok, maaf agak lebay). Yes, finally saya gak perlu lagi jauh-jauh nge-starbuck because it'll be in my town, di Mall paling dekat dengan kantor ( which is yang kayaknya lebih sering saya pantengin dibanding kantor sendiri). Saya gak perlu lagi ngeces membayangkan dan berharap diklat di Jakarta hanya untuk mencicipi Caramel Frappuchino-nya,  Java  Chips Frappuccino dan masih banyak lagi. Mengapa  memilih Starbuck, bukan tempat kedai kopi yang lain? Mmmh..long story. Intinya bagi saya  di setiap kedai kopi masing-masing punya speciality. Dan untuk Frappuchino, Starbuck paling oke lah..Eh tapi yah, dasar sy banci starbuck beberapa hari  kemudian sy datang lagi dong. Pesan yang standar aja. Tall Hot Cappucino. And then what i got? It tasted like Latte.. Cappuccino itu dibuat dalam  sepertiga proporsi. Ini berarti cappucino yang tepat adalah sepertiga espresso, sepertiga susu yang dikukus, dan sepertiga busa susu. Sedangkan Latte adalah espresso dalam kombinasi dengan susu yang dihangatkan dengan uap air (semacam di kukus lah ya) dengan perbandingan ideal 16:2. Seorang barista yang baik akan menggabungkan busa, hasil dari kukusan susu, dan espresso bersama-sama. So it's taste different with Cappucino. Ibaratnya Latte itu susu kopi dan Cappucino itu Kopi Susu. Dan tiba-tiba aja dong di Starbuck Mall Ratu Indah ini saya di sodorin Cappucino berasa Latte.. Pffh #2

Ketiga kalinya saya datang gegara seorang teman yang bilang dia punya compliment. Awalnya saya pikir ini compliment yang mana lagi nih? Ternyata compliment standar beli minuman plus makanan gratis 1 minuman lagi. Oh well, yang itu sih perasaan pas di kasir selalu di tawarin deh.. Anyway, atas nama lama gak ketemu akhirnya saya iyain saja nongkrong di Starbuck lagi walaupun agak-agak pesimis. Eh ini salah saya apa gimana yah, tiap kali di depan mas/mbaknya selalu hilang aja itu Caramel Frappuccino atau Java Chip Frappuccino di kepala. Dan malam itu saya memesan Valencia Machiato Grande, sodara-sodara. Teman saya itu sampai ngomong, "Nih yah kalo sebentar saya gak bisa tidur, lo yang bakal saya gangguin.." secara dia juga terpaksa harus mesan yang ukuran grande untuk Hazelnut Lattenya demi compliment yang dia punya. 

Dan begitulah.. 

Ditemani Avocado Choco Cake dan saya memesan Cheese Bagel tambahan, kami duduk di meja paling sudut (secara hari itu lagi penuh-penuhnya tuh Starbuck) dan saling menatap dengan pandangan yang.. OMG, is this real beverages or what???!


Saya jelas tahu yang Ice Valencia Machiato itu kopi dengan rasa jeruk.. tapi yang saya gak tahu adalah kenapa rasanya kek minum kopi terus kita masuk ke satu ruangan yang baru saja di semprot bayfresh lalu kita menjulurkan lidah. Yah sodara-sodara.. itulah dia Machiato rasa Bayfresh Jeruk. Teman saya pun ikut nyicipin Valencia Machiato saya dan merasakan hal yang sama. Begitu juga dengan Hazelnut Latte yang dia pesan persis sama rasanya dengan yang saya gambarkan diatas. Untungnya food yang kami pesan dua duanya bisa menutupi rasa enek yang kami rasakan tiap kali menenguk minuman yang kami pesan. And i wonder, apa memang perlu saya nyebutin rincian bahannya saat memesan? Pffh #3

"Mas saya pesan 1 shot espresso, susu low fat panas pakein dikit  foam, topping-nya honey Valencia drizzle gak pake Bayfresh yaa..." 

Malam itu saya berjanji saya gak mau ngopi di Starbuck Makassar lagi. Mending di Jakarta aja. Kalo yang ini aja rasanya sudah ajaib, i wonder gimana rasa Frappuchino nya? Tapi begitulah, janji tinggal janji.. 

Tadi siang setelah tiga hari gak ngopi as usual hari Senin untuk memperbaiki mood saya harus ngopi yang enak. Setelah beberapa kali insiden-insiden rasa itu saya akhirnya memutuskan Cappuccino Black Canyon Mall Raru Indah memang paling mantap. Padahal Barista yang pagi bukan Barista yang jago loh.. cukupanlah. At least gak beda jauh dengan Barista malam yang jago nge-latte art itu. 

Nah, tadi itu sebenarnya pengen langsung nongkrong disana. Tiba-tiba aja gitu saya merasa stuck. Dan entah mengapa Dewi Starbuck memanggil-manggil ke kedainya.. and here i was with my friend having Hot Tall Vanilla Latte ( Ya, tadi hujan badai yah saya butuh yang hangat-hangat). Mas yang sudah biasa ngeliat saya ( atau mungkin sudah enek kali yah) memberi informasi bahwa kemarin satu lagi kedai Starbuck di buka di Makassar, tepatnya di Trans Mall Studio. Cek en ricek pegawainya sama saja dengan yang di Mall Ratu Indah, terlintas di benak saya : Jangan-jangan bakal gak sama beresnya nih.. 



Eniwei, tadi saya sempat komplen juga masalah rasa Starbuck di Makassar dengan yang di Jakarta. And hell yeah, mungkin karena kebanyakan yang datang ini baru sekali nge-Starbuck jadi mereka akhirnya memukul rata customernya adalah newbie dalam urusan peng-starbuck-an. Sampai akhirnya Mbak Barista yang (pernah jutekin saya) akhirnya membuatkan pesanan saya special. Tapi tetap saja rasanya kok gak pas aja yaahh. Pfffh #4

Untungnya, sekali lagi untungnya ada Cheese Bagel penyelemat. Kalo gak, i donno what to do about it. Saat check out, Mas Baristanya ngasih saya Voucher Compliment 4 lembar.. Hahahai, well anyway thank you for your hospitality. I probably will use it for the second store at Trans Mall. Semoga kali nanti rasanya gak mengecewakan lagi. Kalau perlu saya rinciin satu-satu berapa pumps mocha saucenya, berapa scoops Frappuccino Chipsnya dan berapa pumps coffe nya.

"Tall, low fat, 2 Pumps Coffee, 2 Pumps Mocha Sauce, 2 scoops Java  Chips Frappuccino,  blended.."

Kalau sampai disitu rasanya masih tetap salah.. i donno what to do next.. :( Saya gak bisa bilang gak bakal ngopi lagi di Starbuck ( mungkin yang di Makassar, tapi di kota lain gak janji), tapi yang pasti saya gak mo perang dengan Baristanya kok..Setelah baca pengalaman Vabyo di Kedai 1001 mimpi, saya selalu berhati-hati dengan tingkat ke sensian para Barista. Jangan sampai orderan saya di ludahin atau malah di kasi extra u**l... yaaaiiksss...