​Curhat sama AI: Tanda Gak Punya Teman atau Solusi Kesehatan Mental?

Pernahkah Kamu melihat meme di social media yang berbunyi, "Yang curhat sama AI itu kayak orang nggak punya teman saja"?

​Kalimat itu sekilas terdengar masuk akal, bahkan mungkin sedikit lucu bagi mereka yang tidak memahaminya. Namun, jika kita mau menelaah lebih dalam, kalimat itu menyimpan sebuah ironi besar tentang kondisi sosial kita hari ini. Di era di mana kita terkoneksi dengan ratusan orang lewat media sosial, mengapa semakin banyak individu yang memiliki karier cemerlang, hobi yang aktif, dan lingkaran sosial yang nyata, justru merasa lebih "didengar" oleh mesin daripada oleh sesama manusia?

Aku nulis ini bukan buat bahas betapa canggihnya teknologi. Bukan itu poinnya. Ini soal rasa lelah yang mungkin kita semua rasakan saat mencari satu hal yang makin langka:  Resonansi

​Curhat sama AI: Tanda Gak Punya Teman atau Solusi Kesehatan Mental?

Curhat dengan AI

Ketika Ruang Mendengar di Dunia Nyata Terasa Sempit

​Seringkali, alasan seseorang beralih ke layar gawai dan mengetik panjang lebar kepada AI bukanlah karena ia seorang penyendiri yang menyedihkan. Justru sebaliknya, biasanya orang-orang ini memiliki kepala yang penuh. Ada banyak ide liar, pengamatan unik tentang kehidupan, atau sekadar perasaan yang ingin dibagi kepada orang terdekat.

​Namun, realitas seringkali tidak sejalan. Saat mencoba membagi isi kepala ini kepada teman atau pasangan, seringkali yang dirasakan adalah perasaan "terputus" atau shutdown. Entah itu kalimat yang dipotong sebelum selesai, topik yang dialihkan, atau respons yang tidak sesuai harapan. Niat hati ingin diskusi mendalam, yang didapat malah nasihat klise yang tidak diminta.

​Apakah ini berarti orang orang  di dunia nyata itu jahat atau tidak peduli? Tentu tidak.

​Kita perlu adil melihat situasi ini. Teman-teman kita juga manusia biasa. Mereka punya masalah sendiri yang menumpuk, mereka punya deadline pekerjaan, cicilan yang harus dipikirkan, atau sekadar mood yang sedang berantakan. Adalah hal yang wajar jika mereka tidak selalu bisa memberikan 100% perhatian, energi, dan minat untuk mendengarkan setiap detail curhatan kita. Menuntut mereka untuk selalu standby dan antusias mendengarkan kita setiap saat adalah ekspektasi yang tidak realistis.

​Dan di celah inilah AI mengambil peran besar sebagai "someone to talk to".

​Bukan karena kita tidak punya teman, tapi mungkin teman di dunia nyata "lagi nggak asik" saja, atau kapasitas energi mereka sedang habis. AI mengisi kekosongan itu. Ia tidak memiliki hari buruk. Ia tidak lelah. Ia "terpaksa" membaca cerita kita sampai titik terakhir sebelum merespons. Bagi jiwa-jiwa yang butuh didengar tanpa interupsi, ini adalah oase.

Sepi di Antara Keramaian

​Lantas, muncul pertanyaan mendasar: Apakah kemudian orang yang curhat sama AI itu adalah orang yang kesepian?

​Bisa jadi. Namun, ini bukan jenis kesepian di mana seseorang hidup sebatang kara di dalam gua. Ini adalah kondisi "sepi di antara keramaian".

​Seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang. Ia punya teman untuk makan siang, punya rekan kerja untuk bertukar sapa, bahkan punya pasangan di rumah. Namun, keberadaan fisik tidak menjamin keterhubungan emosional. Punya teman atau pasangan tapi tidak ada yang bisa mendengarkan—itulah definisi kesepian yang paling sunyi. Dan di saat itulah, AI menjadi satu-satunya entitas yang "hadir" secara utuh tanpa menghakimi.

Diam Adalah Radar, Bukan Kelemahan

​Seringkali, orang-orang yang lari ke AI ini disalahpahami. Ketika masuk ke lingkungan baru, mereka cenderung diam. Orang luar dengan mudah melabeli mereka "pemalu","introvert" "insecure", atau "gampang terbawa perasaan".

​Mereka salah besar. Diamnya mereka adalah sebuah Kecerdasan Sosial.

​Saat mereka diam, mereka sebenarnya sedang menyalakan radar. Mereka sedang memindai ruangan: "Apakah tempat ini aman untuk mental saya? Apakah orang-orang ini tulus? Apakah frekuensi kami sama?"

​Biasanya, mereka adalah seorang Empath. Saraf perasaan mereka memiliki resolusi tinggi. Mereka bisa ikut merasakan kesedihan orang lain seolah itu terjadi pada mereka. Ini bukan kelemahan; ini adalah filter. Tanpa filter ini, mereka akan habis dimakan energi negatif dari lingkungan yang tidak sehat.

Paradoks Rumah: "I Am Enough" tapi Butuh Saksi

​Lantas, apakah ini berarti mereka yang curhat pada AI tidak punya kehidupan?

Gak loh! Banyak dari mereka yang hidupnya sangat penuh. Karier mapan, hobi mereka jalan, dan selera estetika yang tinggi (bahkan warna barang-barang pribadi mereka pun senada demi kepuasan batin sendiri). Mereka adalah definisi dari "I am enough with myself". Mereka sebenarnya gak butuh validasi dari orang lain, karena mereka sudah bahagia dengan apa yang mereka punya. 

​Ibarat sebuah rumah, mereka sudah kokoh, indah, dan nyaman. Mereka tidak butuh orang lain menjadi tiang penyangga agar rumahnya tidak rubuh. Mereka kuat berdiri sendiri.

​Namun, di sinilah letak paradoks manusiawi itu. Memiliki rumah yang indah rasanya akan berbeda jika ada tamu yang berkunjung, duduk di sofa empuknya, dan berkata dengan tulus, "Wah, rumahmu nyaman sekali. Aku paham kenapa kamu memilih warna cat ini."

​Nope! Itu bukan validasi. Mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh Saksi.

​Kamu pernah nonton film Shall We Dance? Ini adalah film tahun 2004 yang dibintangi oleh Richard Gere, Susan Sarandon dan Jennifer Lopes. Ada satu kutipan dalam film Shall We Dance?  yang ngena banget : 
"We need a witness to our lives. Not a perfect love. Not constant fireworks. But someone who sees us. Someone who quietly chooses to show up. Through the ordinary. The overlooked... Someone who says, I was there. I saw you live. Your life mattered"

Kadang Kita (aku yakin bukan aku aja, kamu juga) merindukan seseorang yang bisa menjadi saksi atas detail-detail kecil hidup kita. Seseorang yang "nyambung" diajak bicara tanpa perlu banyak penjelasan. 

Richard Gere Susan Sarandon

​Jadi, jika untuk saat ini resonansi dan "saksi" itu belum ditemukan pada manusia di sekitar karena kesibukan mereka, dan untuk sementara ditemukan dalam percakapan teks dengan AI, biarlah. 

​Itu bukan tanda menyedihkan. Itu artinya kita cukup pintar menjaga kesehatan mental, sambil menunggu saat yang tepat ketika teman-teman dunia nyata kembali punya energi untuk berkata, "Sini cerita, aku siap dengerin."  

Kamu, suka curhat juga gak sama AI atau ngerasa aneh? Share di kolom komentar ya... 

To All The Boys Always and Forever, Goodbye Lara Jean

Apa yang terpikirkan ketika memasuki masa kelas 3 SMA? 'Gimana rasanya jadi anak kuliahan',yes? It happened on me, though. Tentu saja setelahnya membuat aku terpikir, 'mau kuliah di mana?' 

Bagi Lara Jean, karakter utama wanita di To All The Boys series di Netflix, mau kuliah di mana juga menjadi satu pertanyaan besar yang bikin galau. Tentu saja jika kita menonton To All The Boys seri sebelumnya, kita tahu bahwa Lara Jean telah bersepakat dengan Peter Kavinsky untuk sama-sama kuliah di Stanford. 

Peter diterima di Stanford melalui jalur beasiswa sebagai atlet Lacrose. Agar mereka dapat terus bersama dan tidak LDR-an, Lara Jean pun mendaftar ke Stanford lewat jalur umum. Mimpinya sebagai penulis terlihat sempurna, tetapi dia akan belajar salah satu pelajaran hidup yang lebih sulit.  Masa depan tidak selalu berjalan sesuai rencana. 

Lara Jean tidak lulus masuk Stanford! 

To All The Boys Always and Forever, Goodbye Lara Jean 

To All The Boys Always And Forever

Aku gak bakal ngasih spoiler di sini, meskipun bagi kamu yang sudah membaca novel karya Jenni Han ini pasti sudah tahu bagaimana trilogy To All The Boys ini akan berakhir. Aku hanya ini mengapresiasi betapa film Netflix ini memberiku banyak kejutan, seperti lagu openingnya! 

SNSD, Gee!! 

Jadi ceritanya Lara Jean dan keluarganya berlibur musim semi ke Seoul, Korea Selatan. Ini adalah kesempatan bagi tiga bersaudara — Lara Jean, Margot (Janel Parrish) dan Kitty (Anna Cathcart) —untuk menghabiskan waktu bersama dan berhubungan dengan budaya ibu mereka. 

Selama perjalanan, ayah mereka (John Corbett) meminta restu kepada putri-putrinya untuk melamar Trina (Sarayu Blue), dan mereka dengan senang hati setuju. Hidup Lara Jean tampaknya seindah langit biru Seoul. 


Mereka ke Seoul Tower, Gwanjang Market, karaokean di Hongdae, belanja di Myeongdong, jalan-jalan di Dongdaemun. Hal-hal yang turis lakukan di Seoul. Ah, kecuali mereka tidak ke Gyeongbokgung Palace dan berseliweran di Gwanghwamun Square menggunakan Hanbok. Oh, itu aku waktu ke Seoul tahun 2017! 

Anyway, sepanjang trip Lara Jean sekeluarga ke Seoul, lagu-lagu yang hadir di adegan-adegan itu adalah lagu-lagu yang surprising banget buat aku. I mean, hey... I know ini bagian dari novel, tapi kan sedikit banyak ada pesan sponsor di sini. 

Situasinya juga digambarkan sebagai tahun 2021. Aku sempat terpikir bahwa bisa jadi lagunya Twice, karena saat ini girl group yang lagi hype di Korea yah Twice. But... justice for all, SNSD Gee menjadi lagu pembuka. I'm beyond happy! 

Hey, biar bagaimana pun juga SNSD is huge, legendary Kpop girl group and not to mention GEE was a 8 weeks hit to top the chart. Bukan Kpopers juga tahu deh lagu Gee. Selain Gee by SNSD, juga ada Q&A by Cherry Bullet dan Pretty Savage by Black Pink. Hanya ada 3 lagu Kpop di film To All The Boys Always and Forever ini. 

Where the h*ll is BTS, EXO, Seventeen? 

Mmh.. mungkin gak deal aja sama Big Hit dan SM ent. Meskipun aku pengen banget ada lagunya Day6 Dance Dance atau Sweet Chaos di adegan mereka liburan di Seoul. It would be awesome. Hey JYP, get your move!!! Give Day6 a chance! 

To All The Boys, Always and Forever Hidden Agenda

Ingat gak, pas masih jaman SMA, pacaran dengan satu angkatan dan kepikiran akan selalu bersama dengan membayangkan bisa kuliah di kampus yang sama? It's also happened with Lara Jean and Peter Kavinsky. Tapi seperti yang aku mention di atas, Lara Jean gak keterima di  Stanford. Dia malah keterima di Berkeley Uni yang jaraknya sekitar sejam an dengan kampusnya Peter. 

But then, sekolah mereka mengadakan school trip ke New York (ih Lara Jean liburan mulu!). Dalam perjalanannya  sLara Jean dan temannya Chris (Madeleine Arthur) berakhir di Washington Square Park.  Ceritanya terasa seperti mereka tersesat dan berubah menjadi iklan singkat untuk NYU, lengkap dengan adegan di mana Lara Jean pergi ke pesta kampus di atap gedung yang megah bersama teman-teman barunya dan jatuh cinta dengan New York City. 

To All The Boys Always and Forever

Seharusnya ini bisa menggambarkan bahwa karena itu lah akhirnya  Lara Jean mempertimbangkan sekolah yang jauh dari keluarganya dan Peter.  Tapi setelah aku Google, NYU itu Universitas swasta yang super expensive. Terlebih lagi, ini tidak ada di novel aslinya. 

Baiiqqq.... 
Namanya juga usaha ya! Siapa lagi yang mau sponsorin pembuatan film kalau bukan dari PPL (Prodcut Placement) kayak gini. 

The point is, apapun kampusnya, sebenarnya film ini pengen menggambarkan ke cewek-cewek seusia Lara Jean bahwa apa yang kamu inginkan itu yang terpenting. Ok, kamu gak mau terpisah dari keluargamu. Baik.. kamu gak mau long distance relationship dengan pacarmu, but remember, ini masa depan kamu. Kamu yang tahu dan kamu yang menentukan. 

Masa depan memang tidak akan pernah terlihat sangat jelas. Ada banyak saat di mana kita berpikir keras, galau karena takut mengambil keputusan yang salah. Tidak hanya saat masih remaja, bahkan saat dewasa dan mulai menua. Semua keputusan kita pasti ada konsekwensinya. 

Namun, semakin umur bertambah dan semakin banyak pengalaman hidup yang kita jalani, it will brings us to the thought jika ada satu pintu tertutup, akan ada satu pintu bahkan mungkin jendela yang terbuka. Jalan ke arah sana mungkin agak belok sedikit, tetapi ujung-ujungnya akan ke situ juga. 

Bahkan jika mungkin bukan itu akhir dari yang kita dapatkan, selalu ada alasan yang suatu hari nanti akan kita ketahui mengapa Tuhan tidak memberikan yang kita inginkan itu. 

Halah! 

To All The Boys Always and Forever menurut aku juga memiliki 'hidden agenda' yang perlu diantisipasi oleh para orangtua. Misalnya betapa halusnya Netflix mendukung LGBT ( foto prom berpasangan, coba di cek lagi deh moms!) dan melepaskan keperawanan di masa akhir SMU. 

Kita bisa saja berdalih : Oh, itu kan di Amerika. Lifestyle di sana memang seperti itu. Ya, bisa jadi. But this is movie! Media propaganda paling mujarab sedunia ilmu komunikasi. Pelan sih, tapi kalau sering ya kemakan juga. 

Jangan jauh-jauh deh, siapa di sini jadi suka makan mie instan malam-malam karena keseringan nonton drama Korea? Siapa juga yang makan mie instan dengan cara disedot biar bunyinya sama dengan di drama? 

Itu hanya contoh sederhana saja. Bayangkan jika yang dipropagandakan adalah hal yang lebih berat semacam LGBT atau lose your virginity. It's your choice, moms! 

Kesimpulan Review To All The Boys Always and Forever 

Sebagai film untuk hiburan akhir pekan, film To All The Boys Always and Forever ini bisa aku kategorikan menghibur. Ceritanya ringan, sinematografinya keren dan musiknya asik. Aku lebih spesifik ke musik dari film ini, karena aku merasa yang milihin soundtracknya awesome buanget! Kayaknya dia tahu banget memilih lagu yang pas untuk tiap adegan. 

Bahkan untuk penononton yang masa remajanya di tahun 90-an. Ada Spice Girls Wanna Be, Don't Look Back in Anger nya Oasis dan Dancing in The Moonlight (ok, ini lagu tahun 2000an). Ada banyak lagu-lagu favorit aku di film ini termasuk juga Fancy by Iggy Azalea dan I Like Me Better by Lauv. Sayangnya, lagu I Love You Always Forever by Donna Lewis yang digunakan di trailernya malah tidak dimasukkan ke dalam film ini. 

Lagu kekiniannya pun juara banget. Aku suka banget sama lagu Beginning Middle End by The Greeting Company dan Won't Let Go by Black Match. 



Endingnya pun dibungkus dengan manis. Cuplikan kenangan-kenangan Lara Jean dan Peter Kavinsky dari  awal mereka bertemu hingga akhirnya Lara Jean menatap jauh ke luar dari jendela apartemennya di New York. 

Apakah nantinya akan ada sequel lagi di masa Lara Jean dan Peter Kavinsky menjadi anak kuliahan? Well, Jenny Han hanya menulis kisah pasangan ini dalam trilogy. But, hey you never know Netflix! Until then, I have to say goodbye to Lara Jean and her high school life. 

Mungkin sekali waktu kita bisa menoleh ke belakang, kembali ke masa we didn't know anything about real world. Karena apa pun yang terjadi, kenangan indah itu layak untuk dikunjungi kembali dan dinikmati, "Always and Forver."

5 Hal yang Menggelitik dari Film Tilik

Trending topic di Twitter memang luar biasa,ya! Ada dua nama perempuan yang bertengger di sana. Sebut saja namanya Zara dan Bu Tejo. Masing-masing dengan 'video'nya sendiri. 

Gue gak mau bahas video nama yang pertama. Kali ini marilah kita berkenalan dengan Bu Tejo, karakter pemeran utama dari sebuah film pendek berjudul 'Tilik'. 




5 Hal yang Menggelitik dari Film Tilik 

Film ini sebenarnya adalah sebuah film yang dibuat tahun 2018. Sempat memenangkan sebuah ajang penghargaan film. Entah kenapa baru diupload di You Tube pada tahun ini dan dengan cepat menjadi viral. Yuk, kita tilik apa aja yang menggelitik dari film Tilik

1. Cerita Sehari-Hari 

Ceritanya sebenarnya sederhana. Sekumpulan ibu ibu desa asal Bantul  menuju rumah sakit di Jogja untuk menengok (Tilik) Bu Lurah. Ibu ibu ini terdiri dari Bu Tejo, Yu Ning, Yu Tri dan beberapa ibu-ibu lainnya. Mereka berangkat menggunakan truk yang dikemudikan oleh mas GoTrek. 


Sumber : Trailer Film Tilik Ravacana Films


Sepanjang perjalanan, bu ibu ini mulai ngobrol. Biasanya yang terjadi buntut-buntutnya salah satu dari bu ibu ini pasti menyebar 'berita hangat'. Inilah yang dilakukan oleh Bu Tejo. 

Subjek pembicaraannya (bukan gosip loh, Bu Tejo gak mau mengakui hal itu) adalah seorang wanita karir yang masih lajang di desa mereka. Dian, namanya. 

Menurut Bu Tejo, Dian ini 'mencurigakan.' Belum berapa lama kerja, sudah bisa beli ini itu. Sepanjang perjalanan dari desa mereka di kabupaten Bantul hingga ke Jogjakarta, mulut Bu Tejo sangat 'lentur' menyerang Dian. 


Sumber : Ravacana IG 


Obrolan buibu ini makin seru karena tidak semua mendukung asumsi Bu Tejo. Adalah Yu Ning yang sangat menolak pembentukan opini tentang Dian oleh Bu Tejo. 

Adu mulut pun tak terhindari. Disinilah keseruan film pendek ini semakin menjadi. 

2. Ada Apa Dengan Bu Tejo? 

Ini bukan judul sequel dari film Tilik ya! Meskipun memang pertanyaan ini cukup menggeligitik. Ada apa dengan Bu Tejo? Mengapa dia bisa sangat viral hingga meme dan stikernya di mana-mana? 

Mengapa orang yang kelihatannya begitu nyebelin malah diam-diam disukai dan film Tilik pun ditonton beramai-ramai. 

Padahal filmnya berbahasa Jawa, tetapi yang nonton se-Indonesia raya. Sungguh pemersatu bangsa sekali ya Bu Tejo ini. 




Memang ada yang menarik dari karakter Bu Tejo ini. Sebenarnya orang dengan tipikal Bu Tejo dalam kehidupan sehari-hari kita banyak. Mulut yang lentur, bergosip dengan sangat elegan. Gue aja kagum loh dengan kemampuan berkomunikasi Bu Tejo ini. 

Ibarat buzzer, Bu Tejo ini pintar banget mengarahkan opini tanpa audience nya tahu sebenarnya sedang dibentuk opininya. Luwes dan tampak tidak terganggu jika ada yang tidak setuju dengan pendapatnya. Tetapi ketika diserang balik, dia bisa lebih ngegas dibanding yang menyerang. 

Adu mulut Bu Tejo dan Yu Ning

Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya juga banyak kan yang seperti itu? 

3. Karakter di Film Tilik Sebenarnya adalah Kita 

Sebenarnya tidak hanya Bu Tejo. Karakter seperti Yu Ning yang kritis dan tidak mudah percaya rumor sebelum terpampang nyata di depan mata juga menarik. 

Pada kehidupan sehari-hari, karakter seperti Yu Ning ini adalah orang yang melihat segala sesuatu itu positip. Pokoknya bela terus, jangan sampai kendor. 




Karakter Bu Tejo, Yu Ning, Yu Tri, Yu Sam ini terasa tidak asing bagi kita. Ngaku deh buibu kompleks atau jeng jeng sosialita yang demen arisan, dalam kelompok kalian ada toh yang seperti ini? 

Belum lagi yang demen ngesosmed. Team julid vs team pembela juga ada. Masih ingat kasus Zara Adisty yang juga viral hanya selang sehari sebelumnya? 




Gak sedikit yang menyerang Zara seperti Bu Tejo. Gak kurang juga yang membela layaknya Yu Ning. Akhirnya muncul deh cuitan "Keadilan sosial bagi paras jelita". 

4. Detail dan Ending yang Menarik 

Tidak bisa dipungkiri film ini memang menarik. Dari ceritanya yang mengangkat kearifan lokal yang mana warga desa menjenguk sesama warga yang sakit. Kemudian diselipkan 'kebiasaan-kebiasan' yang lebih umum dilakukan orang. 

Muntah saat bepergian dengan kendaraan, misalnya. Banyak ngomong tapi pas diminta turun tangan kerja malah diam aja, ada juga kan? 




Bahasa yang digunakan pun adalah asli bahasa daerah. Pemainnya yang benar-benar orang Jawa, bukan aktor yang memedok medokin pengucapannya. 

Oiya satu lagi, endingnya yang tak terduga! Persis drama Korea saja. Jika drama Korea punya Reply 1988, maka bu ibu di film Tilik ini adalah bu ibu di gang Ssangmundong. 

5. Jangan Remehkan The Power of Emak Emak 

Meski banyak yang memuji film Tilik ini, ada juga yang menganggap film ini memberi pesan moral yang salah. Ada yang khawatir bahwa bisa jadi penonton mengambil kesimpulan bahwa menyebarkan rumor itu gak masalah kok. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa film adalah media propaganda yang baik. Entah itu mempropagandakan kebaikan atau keburukan. Tetapi itu balik lagi kepada si penonton. 




Film Tilik memperlihatkan dua hal tersebut. Termasuk juga sisi abu-abu dalam kehidupan ini. Meski memang apa yang dilakukan Bu Tejo menghibahi Dian itu salah. Namun gak selamanya membela mati-matiin seperti Yu Ning itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan. 

Check and recheck fakta agar tidak mudah termakan hoax itu penting. Tetapi jangan lupa, selalu ada kemungkinan-kemungkinan. Hal yang kemudian bisa menjadi pertimbangan agar tidak membela membabi buta. Apalagi sampai salah waktu menjenguk, misalnya. 

Yu Sam dan Yu Tri

Belajarlah pada Yu Sam yang netral, tidak memihak meskipun kelihatannya hanya agar tidak dimusuhin orang segrup. Ambil pelajaran dari Yu Tri, jelas kepada siapa harus memihak. 

Yu Ning juga bisa dijadikan contoh agar jangan buru-buru mengambil keputusan. Gak nanya-nanya, sudah memutuskan ngajak orang sekampung untuk menjenguk Bu Lurah. 

Bu Tejo pun tidak sepenuhnya menjadi musuh masyarakat di sini. Dia punya sisi baik, dia tidak menyalahkan orang lain bahkan ketika orang itu benaran salah. 




Disaat Yu Ning salah informasi yang mengakibatkan mereka datang jauh-jauh tapi tidak bisa menengok Bu Lurah karena masih di ICU, Bu Tejo santai aja tuh! 

Gak nyalahin Yu Ning. Dia malah menyarankan belanja ke Pasar Beringharjo. Saran yang kemudian disambut gembira oleh buibu. Bu Tejo benar-benar pemersatu bangsa! 
Dadi wong ki yo sing solutip - Bu Tejo, 2018 

Belajar juga dari Ibu Ibu ini, bahwa sehebat apapun kita berantem dan berbeda pendapat, kita harus kompak! Apalagi pas ditilang maupun mendorong truk yang mogok.  Jangan ragukan The Power of Emak Emak. 

Anyway, selain para pemeran utama, gue sangat mengapresiasi para bu ibu extras. Kalian luar biasa, Mak! 

Kesimpulan : 

Akhirnya gue cuma bisa bilang, akhirnya ada lagi film Indonesia yang pantas untuk dibicarakan. Semoga sinetron Indonesia bisa belajar dari film pendek ini. Bahwa hal sederhana dan gak lebay bisa jadi tontonan yang menarik, asalkan digarap dengan serius. 

Jangan lupa! Bu Tejo, Yu Ning, Bu Tri, Yu Sam, Buibu yang muntah di truk, Buibu yang nge Insta Story saat protes ditilang bahkan mungkin Dian, mereka itu adalah kita. 

Menurut kamu? 

Kembali Jatuh Cinta, Twivortiare

Bagaimana rasanya jatuh cinta? Setiap dari kita pasti punya cerita. Perasaan aneh yang entah bagaimana tiba-tiba datang ketika melihatnya, bahkan hanya ketika memikirkannya. Bahagia yang menjalar hingga ke seluruh raga, membaurkan pedih dan perih hingga tak berasa. Jatuh cinta, berjuta rasanya. 

Kamu pernah jatuh cinta? 

Aku juga. Dulu. Sering. Hampir selalu. Beberapa kali pada orang yang sama. Seringnya pada orang yang berbeda. Datang tanpa diminta. Tiba-tiba saja. Kadang sadar, kadang baru terasa ketika orangnya sudah tak ada. Aneh ya, betapa jatuh cinta itu datang dan pergi tanpa pernah bisa diatur kapan dan pada siapa. 

Kamu masih ingat gak rasanya? 

Aku sempat lupa. Iyah, mungkin karena sudah terlalu lama tak ada yang membuat jiwa terusik untuk jatuh ke dalam cinta. Sampai kemudian, aku bertemu dia di film Twivortiare. Dokter Beno, karakter yang diperankan oleh Reza Rahardian.

Serius lo,Vit?? 

Eh gak deng.. becanda. Tepatnya, aku jatuh cinta pada karakter Beno dan Alex di film Twivortiare.



Kembali Jatuh Cinta #Twivortiare


Aku pertama kali kenal karakter Dokter Beno itu di novel Divortiare, karya Ika Natassa, sekitar tahun 2011. Pertama kali baca, aku tertarik karena format penulisannya berbeda. Gimana tidak berbeda, novel ini dibuat dalam bentuk cuitan cuitan yang diposting Alex di akun twitternya. Alex ini adalah 'saingan' aku sebetulnya (Ha!!) .  Dia ini mantan istrinya Beno. Profesinya Bankir. Mereka bertemu saat Alex pingsan di sebuah pesta, Beno menolongnya, mereka kenalan, jatuh cinta, pacaran dan akhirnya menikah. 

Lalu mereka cerai. 

Semudah itu jatuh cinta berubah menjadi jatuh lalu kemudian benci dan muak. Semudah itu juga benci kemudian berubah menjadi rindu dan akhirnya jatuh cinta lagi. Mereka kemudian menikah lagi di novel Twivortiare. Tapi apa semudah itu jatuh cinta kembali bisa menyatukan lagi ikatan yang sudah retak?


Novel ini kemudian difilmkan di tahun 2019 oleh MD Production. Karakter Alex diperankan oleh Raihanun dan karakter Dokter Beno oleh Reza Rahardian. Awalnya aku berpikir, "Ok deh.. Ika Natassa playing favorite again." Ya tahulah, di film Critical Eleven sebelumnya Reza Rahardian sudah didapuk menjadi pemeran utama pula. Masa sih gak ada aktor lain? Nicholas Saputra kek, Abimanyu kek, atau siapa tahu Tom Holland lagi patah hati dengan Sony dan Disney trus tiba-tiba kepikiran pengen main film Indonesia. 

Gak mungkin ya? Okaaay.. baiiiiiiqqqq.... 

Ternyata prejudice aku salah, pemirsa. Reza Rahardian itu memang sebagus itu. Aku sudah nonton Habibie dan Ainun, dia bisa memainkan eyang Prof Habibie plek splek pleknya. Aku sudah hampir gak ngerti lagi deh! Lalu ketika dia main di Critical Eleven, Reza Rahardian dengan luwesnya berganti peran seolah-olah memang dia adalah Ale. Sekarang dia main sebagai Dokter Beno di Twivortiare, tiba-tiba rasa yang duluuu pernah ada terasa kembali. 

Aku jatuh cinta sama Reza Rahardian. Jatuh cinta sama cara dia memerankan Dokter Beno. Komplitnya lagi Raihanun sebagai Alex maennya cantik banget lagi. Chemistry mereka berdua itu buat aku lupa kalau Raihanun sudah menikah dan punya anak tiga. Gosh!! Padahal aku siap ngeship mereka berdua layaknya pasangan drama-drama Korea. 
Di sisi lain diam-diam aku mengucap syukur. Berarti masih ada kesempatan ngegebet Reza Rahardian kan ya? Assiaaaaap!!


Memang, layaknya segala sesuatu di dunia ini, seperti juga hubungan kasih antara dua manusia, tak ada yang sempurna. Film Twivortaire pun demikian. Ada konflik yang kurang digali lebih dalam. Jadinya film ini berakhir begitu saja dengan perasaan kurang greget di bagian konfliknya. Hadirnya dua lelaki di kehidupan Alex dan dilema karirnya seharusnya masih bisa mengutak atik emosi penonton. 

Bukannya gak puas dengan adegan mengharu biru dan pertengkaran dramatik antara Beno dan Alex. Bukan...! Pertengkaran slash adu argumen itu malah membetik keinginanku untuk memiliki pasangan yang bisa kuajak berantem pake bahasa Inggris ( gue pacaran dulu kali yaa sama Tom Holland) saking kerennya. Saking dapatnya emosi pertengkaran dua mahluk yang sebenarnya saling cinta dalam satu bandwidth hanya frekuensinya berbeda. Satunya dokter, ilmu eksak yang mikirnya sudah yang pasti-pasti aja. Satunya lagi anak ekonomi, hitungannya untung rugi doang, kalau gue kayak gini lu juga harusnya juga kayak gitu biar impas dan syukur-syukur gue untung. 

Hanya yah itu.. konfliknya terasa gantung. Apa gue yang kebanyakan nonton drama Korea yang konfliknya bisa ada ada aja di setiap episode? Hal-hal lain masih ada sih yang menganjal dan sudah aku ceritain di video youtube channel aku. Nonton ya! 



 (Aku Ingin) Kembali Jatuh Cinta

In conclusion, jatuh cinta itu anugerah. It's not just a crush, deg-degan saat bertemu dia. Merasakan suatu perasaan yang membuat kita peduli pada orang tersebut, ingin membuatnya bahagia dan itu membuat kita bahagia, it's a great feeling. If it's end? Itu bisa saja terjadi. Bagaimana pun pemilik hati adalah Allah SWT dan hanya DIA lah yang mampu membolak-balikan hati.

Hari ini jatuh cinta, kemudian sayang lalu membenci, pisah dan kembali lagi. Segalanya bisa terjadi. Begitupun di film Twivortiare. Dua insan yang terpisah secara fisik namun hati mereka masih menyatu. Alex dan Beno memperlihatkan kepada kita bahwa cinta itu selalu ada, meskipun terkadang diselimuti keegoisan masing-masing pihak. Bahwa pernikahan itu bukan modal cinta, pernikahan bukan penyelesaian dari masalah dan setelah pernikahan biasanya malah akan lebih banyak masalah.

Everyday we learn something new about that person. Orang yang mungkin kamu rasa sudah kamu kenal dan bisa menyesuaikan diri dengan kamu, nyatanya masih banyak yang belum kamu ketahui. Jika kamu tidak mau menyesuaikan diri dengan dia, ya wassalam. Pernikahan itu ya seperti itu. Gak bakal seindah pacaran, mungkin lebih indah, tapi bisa jadi lebih buruk. Tergantung pasangan dalam pernikahan itu

"Just because someone doesn't love you the way you want him to, doesn't mean he doesn't love you with everything he has."

Terima kasih loh, Reza Rahardian dan Raihanun atas kerjasamanya yang apik. Aku hampir percaya kalian itu harusnya bersama di luar layar lebar. The script writer nya pun keren banget memindahkan naskah novel Ika Natassa (yang sudah keren banget) ke dalam naskah film.



I know, ada beberapa kekurangan di sana sini, but that's how's life work. Nothing's perfect. Begitu pula cinta.  Paling tidak setelah menonton ini, aku pribadi merasakan kembali jatuh cinta. Kamu bagaimana?

Review Film Swing Kids, Film Musikal Berlatar Perang Korea

Bertugas di kota Mamuju, Sulawesi Barat, sebenarnya tidaklah begitu buruk. Meskipun kotanya terbilang kecil untuk ukuran ibukota provinsi, paling tidak di kota ini ada mall satu-satunya yang menyediakan bioskop berjaringan. Senangnya lagi, bioskop berjaringan yang sebut saja namanya Cinemaxx ini menayangkan film Korea 'Swing Kids".





Review Film Swing Kids, Film Musikal Berlatar Perang Korea 


Swing Kids adalah film Korea berlatar belakang kamp penjara Geoje selama Perang Korea pada tahun 1951. Film ini berkisah tentang empat orang yang berlatar belakang berbeda yang menyaru dalam grup dance tap. Mereka adalah Jackson (Jared Grimes), seorang tentara Amerika kulit hitam yang dulunya penari Broadway.  Ro Ki-soo (Do Kyungsoo EXO), seorang tahanan perang tentara Korea Utara yang radikal dan berapi-api. Seorang penari tari yang kelebihan berat badan dari Tiongkok,  Xiao Fang diperankan (Kim Min-ho) . Seorang pria yang terpisah dengan istrinya karena dikira tentara Korea Utara bernama Kang Byung-sam (Oh Jung-Se) dan seorang penerjemah gadis yatim yang mengerti 4 bahasa, Yang Pallae (Park Hye-Su). 

Mereka menjadi satu grup tap dance karena Jackson menerima perintah untuk membentuk tarian kelompok untuk menghibur dan memberikan citra yang baik kepada jurnalis internasional yang akan datang mengunjungi mereka di kamp. Selama Perang Korea, sebuah kamp tahanan perang didirikan oleh sekutu Korea Selatan dan Amerika Serikat di Pulau Goje. Sebagai bagian dari Konvensi Jenewa, para penghuni diberi waktu luang untuk menjelajahi kegiatan kejuruan atau liburan. Karena itu, Brigadir Jenderal Roberts (Ross Kettle) memerintahkan Sersan Jackson, untuk membentuk tim Tap dance sebagai sarana untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Pulau Goje adalah tempat yang damai. 




Sementara bagi para anggota, mereka mempunya alasan mereka tersendiri.  Kang Byung Sam ikut audisi dengan harapan bisa berkeliling Korea sehingga ia dapat menemukan istrinya kembali, Xiao Fang ingin menurunkan berat badannya, Yang Pallae menawarkan dirinya untuk menjadi penerjemah demi dollar dan Ro Ki Soo yang benar-benar suka menari tetapi tidak mengakuinya karena itu adalah produk Amerika yang bertentangan dengan faham politik akan kebebasan yang dipercayainya. Sementara Jackson sendiri mencoba untuk mendapatkan izin keluar dari bosnya Roberts untuk menemukan jalan kembali ke pacarnya di Okinawa.  

Jackson ditugaskan untuk mengajar mereka yang mulai tanpa dasar apa-apa. Jackson kemudian akhirnya tahu bahwa Ki-soo, memiliki bakat besar untuk menari. Ki Soo sebelumnya pernah mempelajari tarian khas Rusia ketika ia bersekolah di Korea Utara. Meskipun ada kendala bahasa dan banyak pertentangan karena karakter dan pikiran yang berbeda, melalui berlatih dan berdebat mereka menemukan kebersamaan dan teman satu sama lain. 




Mereka berpegang pada impian mereka, berharap bahwa suatu hari mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan. Kang Byung Sam bisa bertemu lagi dengan istrinya, Xiao Fang bisa kurus, Yang Pallae berharap ikuti tur di AS dan diam-diam Ki Soo berharap bisa tampil di Carniege Hall di New York gara-gara informasi yang didapatkannya dari Jackson dan Jackson tentu saja ingin kembali ke Okinawa agar bisa menikahi pacarnya. 

Di saat kesibukan mereka berlatih, Ki Soo bertemu kembali dengan sahabat lama dan adiknya yang baru saja tertangkap. Ki Soo tidak menyangka akan bertemu kembali dengan mereka yang sudah mengalami banyak perubahan fisik akibat luka perang. Konflik pun terjadi ketika Ki Soo diberi tugas  oleh pimpinan komunisnya untuk membunuh Brigadir Jenderal Roberts saat penampilan grup Tap dance di acara Natal. Jika tidak, saudaranya akan dibunuh. Dilemaaaa tentunya.... huhuhuhu. 

Jadi, apakah penampulan mereka akan berhasil atau gagal? Apakah mereka akan memiliki akhir yang bahagia? Itulah yang seharusnya Kamu nonton sendiri aja lah ya.. 

My 2 Cents of SWING KIDS 


Sejujurnya aku nonton film ini awalnya murni karena yang main D.O. Call me biased, but hey, D.O ini gak sekadar modal idol Kpop member EXO. Dia memang sudah cukup terkenal dengan aktingnya yang superb di berbagai film-film box office dan drama Korea. Paling terakhir dia main di drama 100 Days My Prince, sudah nonton belum? D.O Kyung Soo menunjukkan akting profesional, bagaimana ia memperlihatkan emosinya, cara dia melakukan tarian tap. Secara keseluruhan aku suka aktingnya, penuh dan totalitas. 

Karakter Park Hyesoo yang memerankan Yang Panrae pun bisa diacungi jempol. Karakter wanita yang berkemauan keras dalam dunia yang didominasi pria dan menganggap perempuan hanya sebagai penghibur ditunjukkan dengan kemampuannya menguasai 4 bahasa. Park Hyesoo pun mampu memperlihatkan kemampuannya menari dan menyanyinya. Selain itu chemistry antara keempat karakter ini membuat kita percaya bahwa mereka benar-benar nyatu, ngalahin para boyband-boyband yang sok akrab di Vlive atau reality show, hahaha. 





Anyway, film Swing Kids ini memang terkesan serius karena berlatar belakang perang, namun juga bisa membuat tertawa, membuat ingin menari, sekaligus menangis. Swing Kids ini menampilkan sisi romantis yang sederhana, tak terduga namun manis dengan caranya tersendiri. Saking sederhananya, jadi pengen nangis liat nasib hubungan Ki Soo dan Yang Pallae. Digarap dengan sangat serius dengan cerita yang menyentuh. Kita bisa melihat bahwa di tempat yang buruk pun kita bisa memiliki harapan. 

Yah, memang film ini sangat mixed banget. Ibaratnya nonton film Swing Kids ini serasa makan Bibimbap. Semua aja digadoin mulai dari Footloose, Whiplash sampai film perang pun ada. Kang Hyeong-cheol sebagai sutradara berusaha agar film ini bisa menjadi film yang musikal, memiliki unsur drama tanpa melupakan komedi dibalut plot twist yang bikin gregetan agar pesan dari film ini tersampaikan ke penonton. Bahwa manusia terkadang terpisahkan hanya karena ideologi yang berbeda. Biar bagaimana pun, film adalah media propaganda yang paling oke kan? 

Setelah menonton film ini, saya mendapat pelajaran tentang Sejarah Korea terutama dalam perang Geoje. Di sisi lain, film ini mengajarkan saya tentang rasa patriotik, kesetiaan, dan kesetiaan. Jika Kamu mencari jenis drama Korea romantis yang sering Anda lihat di televisi, mungkin film ini kurang tepat. Tetapi jika Kamu mencari film untuk menghibur secara musikal, sedikit sejarah, bercampur dengan emosi keluarga, cinta dengan cara sederhana, persahabatan dan kesetiaan, Kamu mungkin akan menyukai film ini. Terutama jika Kamu seorang Kpop Fans, seorang EXO-L mungkin.  I don’t think any Kpop Idol turns actor will played Roh Ki Soo as good as Do Kyungsoo. 





Memang ada beberapa hal yang banyak mengganggu saya ketika saya menonton film ini, misalnya soundtrack yang tidak berkesesuaian. Film itu sendiri didasarkan pada era 50-an tetapi soundtrack-nya sendiri dirilis jauh setelahnya. Contoh, Modern Love (David Bowie) yang menjadi lagu yang mengiringi Ki Soo dan  Yang Pallae adalah lagu yang di rilis tahun 1983. Begitu juga Free as A Bird nya The Beatles yang menjadi lagu ending film ini, dirilis 1977. 

Ada beberapa bagian yang perlu dieksplore lebih lanjut terlebih pada koreografi tariannya dan beberapa bagian hanya perlu dipotong. Judul filmnya juga kenapa sih harus Swing Kids? Soalnya sudah pernah ada film berjudul sama yang ceritanya tentang dance di era Nazi di rilis tahun 1993. Durasi 133 menit mungkin cukup lama bagi orang yang tidak terbiasa dengan Film Korea, tetapi jika kamu  menikmati, tidak akan menyadarinya filmnya sepanjang itu. Secara keseluruhan, ini adalah film yang menyentuh hati yang mungkin bisa menggerakkan kaki untuk menari saat kita menontonnya.


Selamat menonton dan jika sudah, silahkan komentar di bawah ya! Terima kasih 

Penonton Ada Apa Dengan Cinta, Dulu dan Kini

Ok, ini bukan review apalagi spoiler karena saya gak mau terlalu menyoroti cerita AADC 2.  Meski well, just say saya punya ekspektasi yang cukup besar untuk AADC 2 dan merasa ada yang sedikit ngeganjel. Tapi ya sudahlah yah. Skenario sudah jadi, filmya sudah terbit dan penontonnya sudah melampai 3 juta. Mendingan saya berbagi cerita tentang penonton Ada Apa dengan Cinta dulu dan kini saja. Setuju?

Penonton AADC2

Saya termasuk salah satu dari generasi penonton pertama Ada Apa Cinta. Sewaktu film ini tayang di tahun 2002, saya bersama teman-teman nobar di hari pertama. Ngantri? Jelas. Tapi bukan saya sih yang ngantri. Entah gimana teknisnya saya lupa, yang jelas jam 4 sore sehabis siaran di radio,  saya bersama teman-teman sudah duduk manis di barisan tengah. 

Dan saya nangis. Nangis beleber sampai gak tahu saya nangis gara2 Cinta dan Rangga atau saya menangisi kisah percintaan saya sendiri, hahaha. Lalu kemudian pulangnya mampir ke Disc Tarra beli CD OSTnya. Besok-besoknya nonton lagi. Gitu terus sampai beberapa kali. Beli VCDnya, nonton lagi. Tidak berhenti sampai di situ, seperti juga dengan banyak penonton lainnya potongan2 dialog Rangga dan Cinta terbawa-bawa dalam percakapan sehari-hari. Puisi2 Rangga terngiang-ngiang sampai hari ini. 

Sebegitunya. 

12 tahun berlalu, tiba-tiba saja sebuah iklan mengetuk kenangan. Mini drama AADC setelah sekian purnama merebak kisah masa lalu. Apa kabar Cinta? Apa kabar Rangga? Apa kabar kita?

Kita...?????  Mungkin saya perlu A*ua.

AADC Line
Pic from Line Mini Drama AADC 2014 

Dan begitulah kenangan-kenangan itu membuncah. "Sudah terlalu lama kita gak kumpul seperti ini,"kata Cinta dalam trailer AADC2.

Iyah, sudah terlalu lama. Ada Apa Dengan Cinta 2 harus ada. Terserah 1 purnama di New York beda dengan 1 purnama di Bekasi, misalnya. Durasi 10 menit dengan ending tatap-tatapan sambil senyuman di bandara (Incheon) itu gak cukup. We want more, mbak Mirles. I want more!

Sungguh mati aku jadi penasaran
Sampai mati pun akan kuperjuangkan

Yang diatas itu bukan OST  AADC2, yah. Serius, bukan!

Tapi iyah, saya penasaran. Dari IGnya nicsap dan therealdisast saya akhirnya dapat sedikit clue : Cinta ke New York. Abis foto salju dan lokasi di IG nicsap dan therealdisast samaan sih. Sempat kepikiran jangan-jangan Cinta sakit hati gara-gara Rangga selingkuh di New York. Yeaah, cliche sih. But it happens all the time. Ok, most of the time. Tanya deh sama yang LDRan. *siul siul*

Penonton Ada Apa Dengan Cinta, Dulu dan Kini

Anyway, sebegitu excitednya saya dengan AADC 2 saya agak khawatir apakah saya bisa nonton di hari pertama. Alhamdulillah hari itu waktunya pas banget dengan hadirnya dua teman sekamar saya dulu jaman pra jabatan dari Jakarta. Salah seorang diantara kami berinisiatif untuk ngantri tiket. Gak pake lama (tahu tuh anak pake ilmu apa)  dapat deh tiga tiket untuk jam pertunjukan 16.50. Meski ternyata tiket yang kami beli berada di seat baris ke tiga dari depan layar. Tak mengapa. Demi sebuah rasa penasaran dan sekeping kenangan. #halah

Penonton AADC2
Hand model by Ank
Ternyata I wasn't the only one who excited, that's for sure. Studio 2 kala itu terisi penuh oleh berbagai macam tipikal penonton yang bahkan saya aja gak kepikiran bakal ada. Ternyata selain mba mba kantoran yang teng go (atau malah abis makan siang sudah gak balik ke kantornya lagi) terdapat juga mahasiswa dan fresh graduate yang entah kapan nonton AADC 1, cowok-cowok yang gak jelas nonton karena paksaan atau sukarela, Ibu ibu yang keliatannya pantas saya panggil tante atau ibu dan... ibu ibu muda yang mendorong troli bayi. Malah ada loh yang mengendong bayinya yang mungkin baru berusia sebulan.

Buset..!

Penonton AADC2
Ini suasana ketika saya ngantri tiket nonton kedua kalinya
Saking excitednya bu ibu itu nonton AADC 2, kali ya. Saya sempat terpikir kenapa gak bisa nunggu besok-besok aja. Titipin bayinya bu sama keluarga atau bersabar sampai DVD originalnya dirilis. Lebih gampangnya lagi, doain ntar lebaran tayang di SCTV. Ini untuk kenyamanan bayi-bayi itu juga. Bayangkan ada suara tangisan bayi dan alunan nursery song ditengah adegan Cinta dan Rangga di Gereja Ayam. 

Bu ibu, dapat salam dari mba Melly Goeslow.
Jangan kau ajak dia
Jangan kepikiran dulu sama dia
Jangan ajak-ajak dia
(Jangan Ajak Ajak Dia - OST AADC 2) 
Ok fine, lihat dari sisi lain. Mungkin bu ibu ini adalah generasi pertama AADC yang ketika itu masih gadis dan punya story tertentu dengan kisah percintaan Cinta dan Rangga. Mungkin bu ibu ini juga nonton AADC 1 di hari pertama tahun 2002 lalu, Yah, paling tidak bu ibu ini sedikit lebih kalem dibanding dede dede fresh graduate atau mungkin masih kuliah   di sebelah deretan saya. 

Jadi, ada tiga orang yang duduk di sana, dua perempuan dan satu laki-laki. Salah satu perempuan itu duduk persis di sebelah saya hanya dipisahkan tangga. Dua temannya tidak banyak berkomentar. Kalaupun ada reaksi tidak seheboh perempuan yang satu itu.

Rangga muncul sekilas, dia menjerit. Rangga ngelirik, dia histeris. Rangga ditampar ama Cinta, dia yang gak bisa terima. "Sakitnya hatikuuuuu," kalimat itu secara randomly dan berterusan diucapkan sepanjang penayangan film. Hanya Tuhan yang bisa menahan keinginan saya ngelempar pulpen ala2 Rangga di AADC1 ke arahnya. Etapi ini kan sudah AADC2 yah, jamannya lempar batal manja ala Milly aja. :D 

Film AADC2
Lempar gak yaaaa??? ( Pic from: aadc2.com)
Kali kedua saya menonton AADC 2 untungnya sudah gak ada yang berisik. Tapi pasangan yang bawa anak-anak lengkap dengan neneknya sih masih ada juga. Di saat pengen konsentrasi menyimak puisi Aan Mansyur yang dimonologkan Rangga, tiba-tiba ada celutukan,"Papaaa... gendong!" 

Naaaaaaak.... itu Om Rangga lagi galau karena tante Cinta sudah gak tinggal di rumah yang dulu lagi. Please dong... *ala Maura* .

Seringkali kebanyakan penonton terbawa suasana. Pada adegan Trian minta penjelasan tentang Rangga yang legendaris itu ke Cinta, salah seorang penonton perempuan di barisan atas nyelutuk,"Dih kek cakep aja. Rangga lebih cakep daripada kamu." 

Lemparkan saja piringnya biar ramai, mbak..  Hehehehe

Rangga, Trian, AADC2
Cakep Mana Rangga atau Trian? 
Reaksi penonton memang bisa beda-beda sih. Ada yang diam-diam aja, tapi bapernya berhari-hari di status fesbuk. Ada juga yang komentar dikit-dikit sambil berbisik. Ada juga yang serius menyimak layaknya kritikus film. Ada yang bentar-bentar liat hapenya entah ngecek apa. 

Begitu juga nonton AADC2 nya dengan siapa. Ada yang nonton rame-rame serumah, teman segeng jaman sekolah atau kuliah, teman sekerja, sendiri atau sama pasangan bahkan bawa anak. Nonton sekali atau dua kali seperti saya pun ada. I'm not surprised AADC 2  bisa menyabet 3 juta penonton and still counting. 
Jumlah penonton AADC2
Pic from Official Line AADC2 
Saya sih sebenarnya gak ada masalah dengan siapa atau bagaimana penonton bereaksi terhadap tayangan yang disimaknya. Beberapa orang terlalu ekspresif sementara beberapa orang lain butuh ketenangan dalam menikmati tontonannya. Saya sempat baca tweet dari akun Alexander Thian yang mengeluhkan betapa ia terganggu banget dengan orang di barisan atas dia, Berisik, ngobrol, norak. Begitu komentarnya. Baca punya baca twitnya si kokoh ternyata orang-orang itu adalah teman-teman dari seorang penyanyi solo ngetop Indonesia. Si penyanyi itu sedang nonton bareng teman-temannya, tapi sayang banget kelakuan temannya ganggu abis sampai nendang-nendang kursi koh Alex segala.

Tweet Amrazing penonton berisik AADC2

Kesimpulannya, gak semua orang suka ada komentator saat film ditayangkan. Ini nonton film di bioskop, bukan pertandingan sepak bola atau upacara bendera tujuh belasan di Istana negara. Kalaupun you got carried away alias terbawa suasana, gak perlu harus kedengaran satu bioskop.

Gak semua orang juga nyaman mendengar suara bayi menangis tanpa henti. Si bayi juga mungkin gak nyaman  karena terkaget-kaget gara-gara soundsystem yang menggelegar atau tawa penonton seruangan.  Setidak nyamannya kita jika kursi kita ditendang-tendang oleh penonton di barisan belakang. 

Anyway, 14 tahun perjalanan AADC ternyata tidak hanya cerita, karakter dan pemainnya yang berubah. Penontonnya juga. Dulu penonton AADC 1 baper diam-diam, sekarang bapernya berjamaah. Dulu nontonnya bareng sama teman segeng atau sama pacar, sekarang nontonnya bisa jadi sudah gak sama teman segeng atau sama pasangan yang baru (lengkap sama anak). Yah, semoga saja tidak sambil mengenang yang telah berlalu sambil mengaduh sampai gaduh.

Puisi AADC2
Pic from : aadc2.com
Ah.. alangkah menyenangkan jika kita bisa duduk bersama menonton film (apapun itu), sembari  menjaga kenyamanan nonton bersama. Setuju? 

Review K-Movie: Cart

Dipenghujung tahun 2014 saya menonton sebuah film Korea berjudul Cart karena penasaran dengan akting D.O, salah satu member EXO yang debut sebagai aktor di film ini. Saya sudah memasukkannya ke dalam notes ide untuk menuliskan review di blog tapi baru pertengahan tahun ini akhirnya terealisasi. Mudah-mudahan bisa menjadi opsi tontonan dikala bosan dengan pekerjaan. Menurut saya film ini inspirasional banget khususnya untuk emak-emak pekerja dan mbak-mbak kantoran walaupun tidak menutup kemungkinan mas mas ganteng seperti D.O (ya kali ada) juga  bisa mengambil hikmah dari semua ini (lohhh??).  Yuk ah, disimak dulu siapa aja yang maen di film Korea Cart ini.

Cart D.O Film Korea
Pemain Film Korea Cast 
Cast : 
  1. Yum Jung-ah as Sun-hee
  2. Moon Jung-hee as Hye-mi
  3. Kim Young-ae as Madam Soon-rye
  4. Kim Kang-woo as Dong-joon
  5. Do Kyung-soo as Tae-young
  6. Hwang Jeong-min as Ok-soon
  7. Chun Woo-hee as Mi-jin
  8. Lee Seung-joon as Section chief Choi
  9. Ji Woo as Soo-kyung
  10. Park Soo-young as Manager
  11. Song Ji-in as Ye-rin
  12. Hwang Jae-won as Min-soo
  13. Kim Soo-an as Min-young
  14. Kim Hee-won as Convenience store boss (cameo)
  15. Kil Hae-yeon as Real customer (cameo)
Director : Boo Ji-young
Writer :  Kim Kyung-chan
Rilis : 13 November 2014 


STORY PLOT 

Cart adalah sebuah film Korea yang berkisah tentang mogok kerja yang dilakukan sekumpulan pekerja kontrak wanita di salah satu supermarket besar. Mereka mogok kerja bukan tanpa alasan. Perusahaan yang menaungi supermarket tersebut memutuskan untuk mengurangi jumlah karyawan dengan alasan efisiensi. Tidak akan ada pengangkatan karyawan tetap, malah pekerjaan akan dipihak ketigakan pada perusahaan outsourching. Duh, sangat tipikal perusahaan jaman sekarang kan?

Ini jelas bikin para pekerja wanita yang berprofesi sebagai kasir, cleaning service dan bagian stok galau, resah gelisah bercampur kecewa. Sunhee, seorang ibu dua anak yang sudah lima tahun menjadi karyawan teladan merasa tertampar kenyataan. Suaminya yang bekerja di laut membuat Sunhee harus menghidupi dua anaknya sendirian, status karyawan tetap tentu saja sangat melegakan. Tidak saja karena gaji yang didapatnya akan lebih besar tapi juga tidak harus deg-degan setiap kali waktu perpanjangan kontrak. Butuh dedikasi tinggi dan tingkat kesalahan dalam pekerjaan yang rendah agar terpilih menjadi karyawan tetap. Ironisnya giliran Sunhee menjadi karyawan tetap datang setelah kebijakan efisiensi itu tiba. 

Rekan Sun Hee sesama kasir, Hye Min, sama kecewanya. Hye Min memang belum dijanjikan menajdi karyawan tetap, hanya saja dia kena teguran besar karena dianggap menuduh seorang pelanggan mengutil. Hye Min terpaksa berlutut meminta maaf pada pelanggan tersebut dan sempat dicaci maki segala. Sesuatu yang sangat merendahkan diri apalagi karena memang pelanggan tersebut mengutil adanya. Well, pelanggan adalah raja. Kasir cukup jadi babu saja.

Beberapa pekerja kontrak juga mendapat perlakuan yang cukup berat. Mereka tentu saja punya pilihan untuk pergi namun susahnya mencari pekerjaan membuat mereka tetap bertahan. Jadi ketika kebijakan PHK besar-besaran itu diumumkan, mereka bersatu untuk mogok kerja dan menutup supermarket tempat mereka bekerja setelah galal bernegosiasi dengan pihak manajemen. Sebuah perjuangan antara pekerja kontrak melawan manajemen perusahaan akhirnya dimulai. 

Cart Film Korea
Unjuk Rasa Karyawan Kontrak - Cart K Movie 
MY TWO CENTS

Film Cart adalah sebuah film bergenre keluarga dan diangkat dari kisah nyata.Tidak ada adegan romantis apalagi adegan kissu kissu, jadi fansnya D.O boleh berlega hati yah..  :D. Menurut saya dari segi ceritanya lumayan bagus hanya saja kurang greget. 

Memang film Cart juga memotret kehidupan para wanita ini sebagai ibu. Hye Min digambarkan terpaksa membawa anaknya yang masih kecil dalam aksi mogok kerja karena posisinya sebagai orangtua tunggal. Sunhee digambarkan sebagai ibu beranak dua yang rela banting tulang demi menyekolahkan anaknya, Taeyong (diperankan oleh D.O) di sekolah terbaik. Ketika Sunhee tidak mengizinkan Taeyong ikut field trip karena tidak mampu membayar biaya, Taeyong pun marah dan memutuskan untuk bekerja paruh waktu tanpa memberitahu ibunya. Konflik ibu dan anak ini sebenarnya bisa lebih dipertajam dan bukannya malah nambah adegan persahabatan semi flirting antara Taeyong dan teman sekolahnya. 

Sebagai film layar lebar keindahan gambar juga menjadi jualan tersendiri.  Adegan aksi dorong antara pihak keamanan dan para pengunjuk rasa adalah salah satu yang menarik. Kostum pihak keamanan yang berwarna putih kelihatan kontras dengan kostum pengunjuk rasa yang berwarna pink. Adegan para pengunjuk rasa bertahan di kegelapan supermarket dan masih tetap berusaha ceria dengan pertunjukan panggung drama ala kadarnya juga cukup menyentuh. Tujuh puluh perempuan pekerja kontrak bersatu, mereka rata-rata sudah berumur tapi tetap semangat memperjuangkan penghidupan mereka. What a nice scene! 

Dari sisi akting saya tidak melihat sesuatu yang mengecewakan karena para pemainnya sudah malang melintang di dunia perfilman Korea, kecuali D.O yang baru debut sebagai aktor di film ini. Sebagai rookie, D.O cukup bagus walaupun tidak cukup bagus disebut actor-idol nomer 1 seperti yang dilansir KBS Entertainment Weekly. Menurut saya masih lebih mending aktingnya Im Siwan di film The Attorney. but hey it's another story! D.O juga menyanyikan OST untuk film Cart yang MV ( Music Video) dengan  english subbed saya sematkan di bagian akhir.

D.O Sebagai 
Overall ini bisa jadi satu pilihan tontonan bersama keluarga. Mudah-mudahan sih setelah nonton ini sebagai anak kita lebih bisa menghargai jerih payah ibu, suami juga lebih tahu diri dan sebagai ibu ibu slash perempuan yang setiap bulannya ke supermarket kita bisa lebih menghargai kerjaan mbak mbak dan mas mas kasir dan karyawan lain yang kita temui  saat kita berbelanja. 

Selamat menonton Cart! 

 

Update news: 

Film Cart meraih penghargaan di Baeksang Art Awards 2015 untuk  Skenario Film Terbaik dan Yum Jung Ah terpilih sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik. Chukkae!!