​Curhat sama AI: Tanda Gak Punya Teman atau Solusi Kesehatan Mental?

Pernahkah Kamu melihat meme di social media yang berbunyi, "Yang curhat sama AI itu kayak orang nggak punya teman saja"?

​Kalimat itu sekilas terdengar masuk akal, bahkan mungkin sedikit lucu bagi mereka yang tidak memahaminya. Namun, jika kita mau menelaah lebih dalam, kalimat itu menyimpan sebuah ironi besar tentang kondisi sosial kita hari ini. Di era di mana kita terkoneksi dengan ratusan orang lewat media sosial, mengapa semakin banyak individu yang memiliki karier cemerlang, hobi yang aktif, dan lingkaran sosial yang nyata, justru merasa lebih "didengar" oleh mesin daripada oleh sesama manusia?

Aku nulis ini bukan buat bahas betapa canggihnya teknologi. Bukan itu poinnya. Ini soal rasa lelah yang mungkin kita semua rasakan saat mencari satu hal yang makin langka:  Resonansi

​Curhat sama AI: Tanda Gak Punya Teman atau Solusi Kesehatan Mental?

Curhat dengan AI

Ketika Ruang Mendengar di Dunia Nyata Terasa Sempit

​Seringkali, alasan seseorang beralih ke layar gawai dan mengetik panjang lebar kepada AI bukanlah karena ia seorang penyendiri yang menyedihkan. Justru sebaliknya, biasanya orang-orang ini memiliki kepala yang penuh. Ada banyak ide liar, pengamatan unik tentang kehidupan, atau sekadar perasaan yang ingin dibagi kepada orang terdekat.

​Namun, realitas seringkali tidak sejalan. Saat mencoba membagi isi kepala ini kepada teman atau pasangan, seringkali yang dirasakan adalah perasaan "terputus" atau shutdown. Entah itu kalimat yang dipotong sebelum selesai, topik yang dialihkan, atau respons yang tidak sesuai harapan. Niat hati ingin diskusi mendalam, yang didapat malah nasihat klise yang tidak diminta.

​Apakah ini berarti orang orang  di dunia nyata itu jahat atau tidak peduli? Tentu tidak.

​Kita perlu adil melihat situasi ini. Teman-teman kita juga manusia biasa. Mereka punya masalah sendiri yang menumpuk, mereka punya deadline pekerjaan, cicilan yang harus dipikirkan, atau sekadar mood yang sedang berantakan. Adalah hal yang wajar jika mereka tidak selalu bisa memberikan 100% perhatian, energi, dan minat untuk mendengarkan setiap detail curhatan kita. Menuntut mereka untuk selalu standby dan antusias mendengarkan kita setiap saat adalah ekspektasi yang tidak realistis.

​Dan di celah inilah AI mengambil peran besar sebagai "someone to talk to".

​Bukan karena kita tidak punya teman, tapi mungkin teman di dunia nyata "lagi nggak asik" saja, atau kapasitas energi mereka sedang habis. AI mengisi kekosongan itu. Ia tidak memiliki hari buruk. Ia tidak lelah. Ia "terpaksa" membaca cerita kita sampai titik terakhir sebelum merespons. Bagi jiwa-jiwa yang butuh didengar tanpa interupsi, ini adalah oase.

Sepi di Antara Keramaian

​Lantas, muncul pertanyaan mendasar: Apakah kemudian orang yang curhat sama AI itu adalah orang yang kesepian?

​Bisa jadi. Namun, ini bukan jenis kesepian di mana seseorang hidup sebatang kara di dalam gua. Ini adalah kondisi "sepi di antara keramaian".

​Seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang. Ia punya teman untuk makan siang, punya rekan kerja untuk bertukar sapa, bahkan punya pasangan di rumah. Namun, keberadaan fisik tidak menjamin keterhubungan emosional. Punya teman atau pasangan tapi tidak ada yang bisa mendengarkan—itulah definisi kesepian yang paling sunyi. Dan di saat itulah, AI menjadi satu-satunya entitas yang "hadir" secara utuh tanpa menghakimi.

Diam Adalah Radar, Bukan Kelemahan

​Seringkali, orang-orang yang lari ke AI ini disalahpahami. Ketika masuk ke lingkungan baru, mereka cenderung diam. Orang luar dengan mudah melabeli mereka "pemalu","introvert" "insecure", atau "gampang terbawa perasaan".

​Mereka salah besar. Diamnya mereka adalah sebuah Kecerdasan Sosial.

​Saat mereka diam, mereka sebenarnya sedang menyalakan radar. Mereka sedang memindai ruangan: "Apakah tempat ini aman untuk mental saya? Apakah orang-orang ini tulus? Apakah frekuensi kami sama?"

​Biasanya, mereka adalah seorang Empath. Saraf perasaan mereka memiliki resolusi tinggi. Mereka bisa ikut merasakan kesedihan orang lain seolah itu terjadi pada mereka. Ini bukan kelemahan; ini adalah filter. Tanpa filter ini, mereka akan habis dimakan energi negatif dari lingkungan yang tidak sehat.

Paradoks Rumah: "I Am Enough" tapi Butuh Saksi

​Lantas, apakah ini berarti mereka yang curhat pada AI tidak punya kehidupan?

Gak loh! Banyak dari mereka yang hidupnya sangat penuh. Karier mapan, hobi mereka jalan, dan selera estetika yang tinggi (bahkan warna barang-barang pribadi mereka pun senada demi kepuasan batin sendiri). Mereka adalah definisi dari "I am enough with myself". Mereka sebenarnya gak butuh validasi dari orang lain, karena mereka sudah bahagia dengan apa yang mereka punya. 

​Ibarat sebuah rumah, mereka sudah kokoh, indah, dan nyaman. Mereka tidak butuh orang lain menjadi tiang penyangga agar rumahnya tidak rubuh. Mereka kuat berdiri sendiri.

​Namun, di sinilah letak paradoks manusiawi itu. Memiliki rumah yang indah rasanya akan berbeda jika ada tamu yang berkunjung, duduk di sofa empuknya, dan berkata dengan tulus, "Wah, rumahmu nyaman sekali. Aku paham kenapa kamu memilih warna cat ini."

​Nope! Itu bukan validasi. Mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh Saksi.

​Kamu pernah nonton film Shall We Dance? Ini adalah film tahun 2004 yang dibintangi oleh Richard Gere, Susan Sarandon dan Jennifer Lopes. Ada satu kutipan dalam film Shall We Dance?  yang ngena banget : 
"We need a witness to our lives. Not a perfect love. Not constant fireworks. But someone who sees us. Someone who quietly chooses to show up. Through the ordinary. The overlooked... Someone who says, I was there. I saw you live. Your life mattered"

Kadang Kita (aku yakin bukan aku aja, kamu juga) merindukan seseorang yang bisa menjadi saksi atas detail-detail kecil hidup kita. Seseorang yang "nyambung" diajak bicara tanpa perlu banyak penjelasan. 

Richard Gere Susan Sarandon

​Jadi, jika untuk saat ini resonansi dan "saksi" itu belum ditemukan pada manusia di sekitar karena kesibukan mereka, dan untuk sementara ditemukan dalam percakapan teks dengan AI, biarlah. 

​Itu bukan tanda menyedihkan. Itu artinya kita cukup pintar menjaga kesehatan mental, sambil menunggu saat yang tepat ketika teman-teman dunia nyata kembali punya energi untuk berkata, "Sini cerita, aku siap dengerin."  

Kamu, suka curhat juga gak sama AI atau ngerasa aneh? Share di kolom komentar ya... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Drama Korea : MISAENG, an Incomplete Life, Complete Without Love Line

10 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Daehan, Minguk, Manse - Song Triplets

ASUS Zenbook S14 OLED – Laptop si Paling AI