Sinopsis dan Review Drama Korea It's Okay Not To Be Okay

Pada jaman dahulu kala di sebuah kastil tua, hiduplah tiga orang bersaudara. Anak lelaki yang selalu menggunakan topeng, anak perempuan tong kosong dan anak lelaki yang tidak bisa keluar dari kardusnya. Mereka bertiga dikurung oleh seorang penyihir jahat hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari kastil tua itu. 

Ini adalah sepenggal premis dongeng yang ceritanya ditulis oleh Ko Moon Young seorang penulis dongeng yang kejam, jutek, sinis, egois dan agak phys co dalam drama Korea "It's Okay Not To Be Okay".  


Sinopsis It's Okay Not To Be Okay 

Drama Korea Netflix yang juga tayang di tvN ini baru saja berakhir setelah 16 episode. Berkisah tentang Moon Gang-tae yang diperankan oleh Kim Soo-hyun, seorang pekerja kesehatan komunitas di bangsal psikiatri yang tidak punya waktu untuk cinta. 

Moon Gang-tae hidup berdua dengan kakaknya Moon Sang-tae, diperankan Oh Jung Se, yang menderita autis. Sejak kecil mereka diasuh oleh ibu mereka yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga. 

Menjadi single mom dengan anak berkebutuhan khusus seperti  Moon Sang-tae tak ayal membuat sang ibu mengharapkan anak bungsunya, Moon Gang-tae dapat menjaga dan bertanggung jawab atas kakaknya ini sepanjang waktu. 


It's Okay Not To Be Okay


Sebagai anak kecil, bungsu pula, dihadapkan pada tanggung jawab menjaga seseorang yang lebih tua dan berkebutuhan khusus membuat Moon Gang-tae kecil harus terbiasa bersikap kuat, sabar dan tidak memperlihatkan perasaannya. 

Tuntutan dari ibu nya, rasa kecewa dan sedih karena merasa kurang mendapat kasih sayang ibu membekas dalam tanpa ia sadari hingga ia dewasa. Apalagi ketika sang Ibu meninggal menggenaskan karena dibunuh dihadapan Moon Sang-tae, Moon Gang-tae pun secara otomatis menjadi penanggung jawab dan pelindung kakaknya itu dari traumanya. 


Moon Gang Tae Moon Sang Tae
Moon Sang-tae dan Moon Gang-tae 


Bertahun-tahun mereka hidup melarikan diri dari satu tempat ke tempat yang lain, menjauhkan diri dari ketakutan Moon Sang-tae terhadap kupu-kupu. Iyah, tetapi ini bukan kupu-kupu biasa. Kupu-kupu ini mengancam mengakhiri hidup Moon Sang-tae jika ia bicara tentang pembunuhan ibunya. 

Perjalanan hidup kedua bersaudara ini mempertemukan mereka kembali dengan Ko Moon-young (Seo Ye-ji), seorang penulis buku anak-anak sukses yang menderita gangguan kepribadian antisosial dan tidak pernah mengenal cinta. 

Moon Sang-tae ngefans sekali dengan penulis buku yang cantik tapi sadis ini. Ko Moon-young sebenarnya bukan orang baru di kehidupang Moon bersaudara. Mereka sempat bertemu saat mereka masih kanak. Moon Gang-tae malah pernah suka pada perempuan dingin nan angkuh ini. 

Kim Soo Hyun Seo Ye-ji

Pengalaman buruk yang dialami ketiganya di masa kecil membentuk karakter mereka masing-masing tanpa mereka sadari. Tiga orang dewasa yang trauma dengan kasus pelecehan dan pembunuhan orang tua ketika mereka masih kecil belajar menerima orang lain ke dalam hati mereka dan mengatasi kenangan buruk yang mengubah hidup mereka. 

Drama sepanjang 16 episode ini tidak melulu berkisar tentang romantisme percintaan. Ada persaingan antar saudara, hubungan ibu dan anak, persahabatan, penerimaan kenyataan hidup hingga masalah kejiwaan dari karakter-karakter lain yang ada dalam It's Okay Not To Be Okay ini. 

Review Drama Korea It's Okay Not To Be Okay 

Gue nonton drama ini lewat Netflix saat drama ini sudah tayang sekitar 10 episode. Awalnya saya memang maju mundur untuk menonton drama ini. Premis tentang karakter utama yang phys-co sempat membuat gue ragu, soalnya gue gak begitu suka drama thriller. 

Meskipun memberikan kesan yang tampak sulit - dan hampir mengerikan - di episode-episode awal, pendapat gue berubah seiring cerita bergulir. Karakter Ko Moon Young yang unik, sadis namun terlihat normal, bener-bener menggambarkan orang yang sakit jiwa tapi tidak gila. She's a phys-co in style, like literally, in style. 


Magda Butrym
Draped asymmetric dress from Magda Butrym

Ko Moon Young memakai yang ini untuk bekerja dan bertemu Moon Gang-tae di kantor. Dia memasangkannya dengan anting-antingnya dari Subyul, bersama dengan tas dari Playnomore dan sepatu hak dari Gianvito Rossi. 

Seo Ye Ji Wears Prada
Gaun vintage warna-warni dari Dior

Tampil mewah dan dramatis. Ko Moon Young mampir ke rumah sakit menemui Moon Gang-tae dengan gaun vintage Dior dan sepatu pump merah dari Prada. She is devil wears Prada look-a-like. 

Seo Ye Ji It's Okay Not To be Okay
Sienna polka-dot dress from Magda Butrym

Gaun ini harganya sekitar USD 1.502, dipasangkan dengan ankle boots Tulle 105 suede seharga $ 1011 (USD) dari Gianvito Rossi. Tas hitamnya dari Moynat. Ko Moon Young menggunakannnya di saat dia mengutarakan isi hatinya pada Moon Gang-tae dengan cara preman, hehehe. 


Fashion Seo Ye Ji It's Okay Not To be Okay
Two-piece pink set from Minju Kim

Baju yang membuat gue berpikir makan apa Seo Ye-ji sampai pinggangnya seramping ini. Bandingkan dengan style Moon bersaudara. 


Perbedaan karakter bahkan style ketiganya membuat banyak konflik di antara mereka. Berantem dan ngambek-ngambekan gak mau ngomong lah pasti buntut-buntutnya. Ada aja alasannya. Rambut panjang atau pendek, rebutan boneka sampai 'rebutan Gang-tae' antara Ko Moon-young dan Moon Sang-tae. 

Sebagai kakak yang selalu bersama-sama adiknya, dia gak rela ada perempuan yang bukan keluarga memasuki kehidupan mereka. Sementara Moon-young yang sebenarnya adalah perempuan yang kesepian tanpa kasih sayang orang tua menemukan kembali rasa kekeluargaan saat berada bersama Moon bersaudara. Lucu sih, khas pertengkaran saudara banget. 




Serunya drama ini, penulis skenarionya tuh pinter banget memainkan emosi sekaligus mengingatkan penonton akan dirinya sendiri. Semacam ceritanya related banget dengan kehidupan banyak orang. 

Beberapa diantara kita bisa jadi sering merasa orangtua kita lebih sayang pada saudara kita yang lain daripada kita sendiri. Padahal sebenarnya orangtua kita berusaha banget banget agar perhatian ke anaknya adil dan merata. 

Seperti Gang-tae yang selalu merasa mamanya lebih sayang pada Sang-tae hingga akhirnya ia tahu alasan mengapa setiap hari Minggu mereka bertiga sering makan mie pedas Jjampong. 




Begitu Moon-young yang sering mendapat perlakuan buruk dari mamanya ternyata sangat dijaga dan disayangi oleh papanya dengan caranya sendiri. 

Hal-hal menyangkut mengungkapkan kasih sayang terkadang menjadi masalah kita semua bukan? Ayah dan ibu tentu punya cara mereka masing-masing untuk mengungkapkannya. Sebagai anak terkadang kita hanya memikirkan apa yang harusnya kita terima tetapi lupa kita sudah terlalu sering diberi. 

Bahkan antara kita dan saudara pun terkadang tidak mudah untuk mengungkapkan atau menunjukkan kasih sayang kita. 

Kim Soo Hyun Oh Jung Se


Drama It's Okay Not To Be Okay ini pun memberi 'pelajaran' tersendiri dari karakter pendukungnya. Bagaimana perlakuan yang seseorang dapatkan di masa kanaknya bisa membekas sangat dalam meskipun luka fisik sudah tak ada. Bahwa sakitnya perasaan lebih lama disembuhkan daripada luka yang terlihat di badan itu benar adanya. 


Kwak Dong Yeon


Banyak hal yang bisa dipelajari dari drama Korea It's Ok Not To Be Ok. Termasuk juga memaafkan diri sendiri, berani menghadapi ketakutan dan bukan lari dari masalah adalah kuntji seseorang bisa move on dari masa lalunya. 

Tidak perlu menjadi orang lain agar disukai dan belajar menjadi dewasa tidaklah mudah, namun tetap harus dicoba. Serta berkompromi dengan orang lain adalah kekuatan kerjasama. Halah! Tetapi beneran deh, 16 episode yang awalnya agak gloomy segera berubah menjadi pengalaman yang paling menghangatkan hati. 

“Tubuh tak bisa berbohong. Saat terluka, tubuh akan menangis. Namun, hati bisa berbohong. Saat hati terluka, hati mampu terdiam”

Ah.. last but not least ... akting para pemeran utama khususnya Oh Jung Se sebagai Moon Sang Tae yang menderita autis sungguh luar biasa. Gak nyangka gue samchoon!! Begitu pula plot twist dalam cerita ini JUARA!! Sungguh tidak kusangka, writer-nim!! Setiap karakter dalam cerita ini mengajarkan kita suatu hal yang terkadang kita lupa. Cerita ini perlu dibuatkan season 2 nya. 

Bagaimana menurut kamu, sudah nonton juga? Share di kolom komentar ya! 

Traveling di Era New Normal

Sejak negara api menyerang dan Pembatasan Sosial dalam Berskala Besar atau PSBB, praktis kegiatan bepergian ke satu tempat ke tempat lain entah itu untuk traveling atau urusan pekerjaan pun menjadi ambyar. Selamat tinggal liburan. Cuti pun harus diperjuangkan, apalagi untuk ASN seperti saya. Boro-boro cuti, perjalanan dinas saja penuh pertimbangan. 

Bukan apa-apa, syarat untuk melakukan perjalanan entah itu urusan pribadi ataupun dinas memerlukan beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Itu tentu membutuhkan biaya. Ya alhamdulillah jika perjalanan itu untuk urusan dinas kantor. Otomatis bisa masuk ke dalam biaya perjalanan dinas karena berdasarkan surat tugas. Kebayangkan jika ini urusan pribadi semacam traveling. Tentunya pikir-pikir dulu. 

Awal bulan Juli 2020 ini Aku ditugaskan perjalanan dinas ke kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Senang, iyah pasti! Tapi ternyata ada beberapa hal yang perlu aku siapkan dan harus dijalani. Menurut aku, ini penting juga untuk teman-teman ketahui.  Apa saja kah itu? 

5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Traveling di Era New Normal 




1. Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Rapid Test nya bisa dilakukan di Rumah Sakit. Aku waktu itu melakukan Rapid Test di Rumah Sakit Mitra Mamuju dengan biaya Rp.460.000. Muaaahal yaa! Iyah! Pertama, petugas mengambil darah sebanyak 1 ampul dan aku harus menyetorkan KTP asli. Jika hasil rapid test dinilai reaktif, harus test swab yang tentunya biayanya lebih mahal dan waktu untuk mendapatkan hasilnya lebih lama. Alhamdulillah, hasil rapid test aku negatif jadi aku gak perlu di swab test. Hasil rapid test beserta surat keterangannya selesai kurang lebih satu jam.  

Surat ini diperlukan sekali, apalagi jika perjalanannya menggunakan pesawat. Untuk Rencana berangkat dari Mamuju  hari Jumat tengah malam lewat darat karena harus ke Makassar mengejar pesawat siang keesokan harinya ke Gorontalo. Berarti ada tiga pos Gugus Tugas yang harus aku lewati. Pos Gugus Tugas di kota Polman, perbatasan provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Kedua di Pos Gugus Tugas kota Pare-Pare di Provinsi Sulawesi Selatan dan yang ketiga di Bandara Sultan Hasanuddin sebelum check in. Dengan surat ini, bisa dibilang 50% dari prosedur perjalanan di era new normal sudah dikantongi. 

2. Legalisir Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Apakah setelah memiliki Surat Keterangan Hasil Rapid Test kita sudah bisa melenggang dengan bebasnya? Tunggu dulu Ferguso! Meski di surat keterangan tersebut sudah ada tanda tangan dokter dan penanggung jawab di rumah sakit tempat kita memeriksa, surat keterangan tersebut harus di legalisir di posko Gugus Tugas. Ada stempel, ada paraf, perlu ngantri. Gak ribet-ribet banget sih, cuman ngantrinya itu loh. Sudah panjang, rame dan kadang orang-orang yang pengen melegalisir gak ngerti ngantri dengan tatanan baru. Jaga jarak mas bro...!! Gak heran tentara perlu diturunkan untuk menertibkan antrian.  



3. Memiliki Akun di  Aplikasi eHAC Indonesia 

Ini dia yang paliiiiiingggggg memakan waktu selain legalisir surat keteranga hasil rapid test. Aplikasi eHAC Indonesia atau electronic Indonesia Health Alert Card. Setiap penumpang penerbangan diwajibkan mengisi data diri dan data perjalanan dari dan menuju ke mana melalui aplikasi ini. Untuk calon penumpang yang gak gatek sih bisa dengan mudah dan cepat. Toh bisa diisi sebelum tiba di bandara. 

Sementara untuk pejalan dari era kolonial, urusan aplikasi di gadget bisa memakan waktu lama selain memang kurang paham. Di bandara Gorontalo, petugasnya masih mau ngebantuin mengisi data di aplikasi. Tetapi di bandara Hasanuddin Makassar, sebelum masuk ke antrian tentara yang bertugas sudah memeriksa dan tidak membantu mengisi aplikasi Hanya memberi instruksi harus mendownload di mana. Sisanya ya sesuai kemampuan Anda.  

eHAC


Aku bersyukur meski berusia 42, aku gak gaptek gaptek amat dan masih lincah untuk urusan technology. Berhubung saat perjalanan dinas aku bersama rombongan dimana aku yang paling muda, akhirnya aku yang mengisikan data para peserta perjalanan dinas melalui satu akun saja. Ini tentu saja memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah cukup membuat satu akun saja di aplikasi eHAC. Satu orang yang memiliki akun adalah pelancong utama dan selebihnya menjadi pengikut dengan status yang disesuaikan, apakah keluarga, kenalan atau travel agent. Kekurangannya adalah, pada saat antri keluar dari bandara yang dituju, peserta yang datanya ada di aplikasi tersebut sebaiknya harus berendengan. Jika terpisah, maka akan memperlambat proses antri keluar. Kasian yang ngantri di belakang kita. 

4. Sediakan Waktu Untuk Mengantri dan Check In di Bandara  

Traveling di era new normal memang berbeda. Dulu kita bisa tiba di bandara selambat-lambatnya sejam sebelum berangkat. Itu juga belum check in, belum masukin bagasi. Sekarang, tunggu dulu Markonah! Pelancong setidaknya harus berada di bandara paling lambat dua hingga tiga jam sebelumnya. Antrian yang mengular, proses pengecekan surat-surat untuk izin terbang dan proses check in pun kini memerlukan surat rapid test yang sudah dilegalisir segala. 




Meski ada kemungkinan dipersilahkan memotong antrian untuk penerbangan yang sudah sejam lagi akan boarding, tetapi tetap saja ada kemungkinan telat di bagian check in penerbangan especially jika kamu punya bagasi. So, make sure to spare some time. 

5. Membawa Masker dan Hand Sanitizer 

Ini penting, PENTING BANGET! Berada dalam ruangan tertutup ber AC selama lebih kurang 2 hingga 3 jam di pesawat, bahkan di ruang tunggu bandara, kita mau gak mau bersama dengan sekumpulan orang-orang yang belum tentu peduli dengan protokol kesehatan. Kebanyakan orang memang membawa masker, tapi menggunakannya secara baik dan benar belum tentu. Tidak semua orang juga dalam keadaan sehat. 

Meski tidak diperlihatkan, bisa jadi karena takut diseret ke ruang karantina, ada juga loh pelancong yang batuk dan pilek. Mereka tidak semuanya menghalangi batuk dan bersinnya dari orang-orang dengan cara menutupi dengan masker atau tissue. Lebih banyak batuk dan bersin sesukanya aja, malah membuka maskernya. Tangan pun tidak dibersihkan setelahnya. Jadinya, kita yang benar-benar extra hati-hati dengan selalu jaga jarak, menggunakan masker, ganti masker jika sudah batuk, bersin atau sudah lebih dari 8 jam. Sering-sering cuci tangan atau membersihkan dengan hand sanitizer. It seems a little paranoid, but believe me it helps. 



Nah, itu dia 5 hal yang perlu dipersiapkan saat traveling di era new normal berdasarkan pengalaman aku. Kamu punya pengalaman juga? Yuk, share tips kamu di kolom komentar!  

Usaha Kue Kekinian Masih Laris dan Tipsnya untuk Pemula

Usaha kue merupakan salah satu usaha yang masih laris manis dan banyak dicari oleh konsumen di pasaran. Kue bisa digunakan untuk cemilan dan juga hidangan utama sehingga dengan fungsi kue tersebut maka tidak heran kue merupakan makanan yang banyak disukai oleh masyarakat.


Usaha Kue Kekinian Masih Laris dan Tipsnya untuk Pemula





Bagi Kamu yang mempunyai ketertarikan untuk membuka usaha kue, di bawah ini ada beberapa tipsnya yang dapat digunakan untuk memulai membuka usaha kue:

 

  1. Memilih jenis kue yang akan dijual

Tips pertama yang bisa diperhatikan oleh pemula adalah dengan memilih jenis kue yang akan dijual. Dengan pertimbangan yang matang ketika akan memulai usaha maka bisa untuk menentukan keberhasilan tersebut. Oleh karena itulah Kamu bisa untuk berpikir dan menyiapkan berbagai hal dengan matang sebelum akan membuka usaha kue agar dapat berhasil. Seperti dengan memilih jenis kue yang akan dibuat apakah kue basah atau kue kering. Selain itu juga bisa memilih kue yang populer seperti kue nastar, kue putri salju, dan juga kue lainnya. Terakhir adalah dengan memilih rasa kue yang disukai dan bisa laris manis seperti rasa coklat dan keju.

 

  1. Memasarkan dengan harga kompetitif

Tips selanjutnya yang dapat diperhatikan ketika akan membuka usaha kue untuk pemula adalah dengan memberikan harga kompetitif. Ketika membeli kue, konsumen juga akan membandingkan harga selain dari rasanya. Cara untuk bisa memberikan harga kompetitif adalah dengan membeli bahan di tempat yang menawarkan harga bahan kue murah seperti di Tokowahab.com yang juga menyediakan bahan kue lengkap.

 

  1. Memilih cara penjualan yang efektif

Tips terakhir yang bisa diperhatikan oleh pemula ketika akan membuka usaha kue adalah dengan memilih cara penjualan. Selain dengan memasarkan kue di tetangga dan secara offline, sekarang ini cara penjualan secara online bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan keuntungan lebih baik. Dengan menjual kue keju secara online juga tidak perlu untuk menyewa tempat atau kedai sehingga akan mengurangi biaya dan modal yang dipersiapkan untuk membuka usaha kue.





Nah.. gimana, gampang kan? Membuka usaha kue kekinian bukan lagi hal yang terlalu sulit. Apalagi di era di mana kita harus pinter-pinter cari duit. Yuk, mulai dari sekarang!

Kampung Pelangi, Melihat Warna Warni Semarang dari Ketinggian

Semarang masih menyisakan petang ketika akhirnya aku keluar dari hotel tempat menginap. Tujuan pertama adalah Kampung Pelangi. Tempat ini adalah salah satu spot pariwisata kekinian Semarang yang cukup viral. Letaknya di Jl. DR. Sutomo No.89, Randusari, Kec. Semarang Sel Kota Semarang. Di depannya berjejer penjual bunga segar dan hias untuk papan ucapan maupun buket. Terlihat asri dengan wangi bunga sayup sayup sampai tercium walaupun terkadang bergantian dengan bau dari kanal yang menyeruak. Padahal kanalnya sudah lumayan bersih,loh! 

Eniwei... Kampung Pelangi ini sedikit banyak mengingatkanku pada Ihwa Mural Village di Seoul, Korea Selatan. Selain karena lokasinya adalah perumahan penduduk yang dindingnya dihias lukisan mural nan artistik, konturnya pun nanjak abis. Harus kuat naik tangga. Untungnya tangga-tangga di Kampung Pelangi tidak sebanyak dan sejahannam tanjakan di Ihwa Mural Village, tapi lumayan lah buat olahraga sore. Siapin betis dan paha yang kuat aja ya, kak! Oiya, jangan lupa napas yang panjang.  




Awalnya Kampung Pelangi ini adalah perkampungan kumuh. Pemerintah Kota Semarang akhirnya menata perkampungan ini  agar terlihat menarik dan bersih. Menurut penduduk yang sempat aku temui, masing-masing rumah mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk membeli cat sedangkan untuk pengerjaan  mural dilakukan mandiri. Warnanya terserah, motif muralnya pun tergantung selera yang punya rumah. Pokoknya kelihatan menarik dan enak dipandang mata. 

Memang ada beberapa spot dimana pengerjaan muralnya dilombakan, ada pula dikerjakan khusus oleh anak muda kreatif yang bukan penduduk Kampung Pelangi. Apapun perkampungan ini pun bagai disulap menjadi tempat yang berseni dan jauh dari kesan kumuh. Mungkin karena diperlombakan dan mendapar bantuan dana, penduduk setempat pun makin semangat menghias rumah dan pekarangannya. Selain mural, hiasan-hiasan seperti lampion, payung-payung kertas mempercantik bagian atas jalan. Buat kamu yang suka foto-foto atau pengoleksi konten, Kampung Pelangi cocok banget jadi lokasi foto-foto instagram. Bahkan beberapa penduduk mengkhususkan halaman rumahnya menjadi spot foto yang instagramable. Tentu saja tidak gratis, tapi gak mahal kok! 




Dari sekian banyak spot Instagramable di Kampung Pelangi, ada satu spot yang menjadi favorit aku. Letaknya berada di bagian paling atas perkampungan dan menjadi lokasi penempatan nama Kampung Pelangi. Lumayan ngos ngosan juga untuk mencapainya, tapi begitu sampai di atas pemandangan yang disajikan luar biasa. Penampakan Kota Semarang berhias sunset dan langit bersemu jingga. Apalagi jika ada pesawat yang bergerak ke dan dari bandara, rasanya kayak sudah di drama Korea aja. Tak ada kebisingan yang terdengar, hanya suara angin dan sesekali suara unggas peliharaan warga. Kalau tidak ingat hari sebentar lagi gelap, masih betah nongkrong aku di sana. 

Oiya, saat menuju puncak (kek lagu ya..) Kampung Pelangi, mau tidak mau kita melewati jalan setapak menanjak di samping dan depan perumahan warga. Waktu sore adalah waktu di mana kebanyakan mereka duduk-duduk di depan rumah. Jadi sebaiknya jangan lupa permisi dan gak berisik. Pengalamanku dulu di Ihwa Mural Village, awalnya warga setempat senang-senang aja wilayahnya didatangi turis. Lama kelamaan dengan semakin banyaknya turis yang datang, mereka mulai merasa tidak nyaman. Beberapa turis terkadang lupa bahwa tempat yang mereka datangi ini meskipun menjadi objek wisata tapi tetap saja adalah wilayah perumahan. Mereka terkadang berisik karena terlalu heboh berfoto atau terlalu senang sehingga ngobrol keras-keras. Namanya juga kompleks atau perkampungan, orang-orang yang tinggal di situ tentu butuh ketenangan. Pada akhirnya dibuatlah pengumuman di beberapa titik untuk mengingatkan para turis agar tidak berisik. 

Saat aku berkunjung ke Kampung Pelangi, aku belum menemukan pengumuman atau teguran tertulis agar para pengunjung tidak berisik, sih. Mungkin karena pengunjung belum sebanyak turis yang datang ke Ihwa Mural Village di Seoul. Bisa jadi karena pendatang sudah tahu diri dengan kesopanan dan keramahan warga Kampung Pelangi. Meski begitu, tidak ada salahnya aku mengingatkan melalui tulisan ini. Ya siapa tahu ada yang berniat ke sana. Menikmati suasana boleh, tapi tetap harus jaga sikap ya gaes! 


Hari beranjak malam ketika aku memutuskan untuk mengakhiri eksplorasiku di Kampung Pelangi. Lampu-lampu mulai dinyalakan, adzan Magrib pun terdengar entah dari sudut yang mana. Aku pun mulai bergegas keluar dari kampung yang penuh warna. Terus terang aku tak tahu keluar dari pintu yang mana padahal aku butuh informasi itu agar pengemudi taksi online tidak salah menjemput. Untungnya mba mba di salah satu kios penjual bunga di depan Kampung Pelangi memberi tahu di titik mana pengemudi harus menjemputku. Ini mungkin adalah keramahan yang sederhana, namun bagi pendatang seperti saya hal itu adalah bentuk pertolongan yang penuh warna. Layaknya pelangi, seperti nama tempat ini. 

Semarang (Akhirnya) Aku Datang

Sepucuk surat undangan tiba di mejaku siang itu di awal Januari tahun 2020 ini. Bukan, ini bukan surat undangan pernikahan dari mantan. Ini adalah surat undangan rapat kerja dari kantor pusat. Tidak seperti biasa, kali itu rapat kerja diadakan di Semarang. Yes, Semarang!! 



Jelas saja aku excited. Sekian lama aku traveling dan business trip seputar pulau Jawa, belum pernah sekalipun aku menginjakkan kaki ke Semarang. Pernah diniatkan untuk liburan sekalian ke Karimun Jawa, malah batal. Sekalinya dipasrahkan, tiba-tiba ada undangan rapat. Alhamdulillah yah. Artinya meski dalam rangka kerja, setidaknya ada sedikit kemungkinan untuk mengeksplor kota Semarang di sela waktu tersisa. 

Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah ini, sudah sejak lama mengusik keinginan tahuku. Berawal dari sejak SMP membaca buku karya NH.Dini seperti Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami dan Sekayu untuk tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Tulisannya walaupun menggambarkan kota Semarang di jaman penjajahan Belanda dan Jepang, dalam pikiranku aku membayangkan seperti apa kota Semarang di jaman modern. Hawanya mungkin tidak seadem Sukabumi, bisa jadi selembab Makassar, tetap saja aku penasaran. Terlebih, aku tertarik mengetahui kota yang menjadi tempat kelahiran seseorang yang sempat singgah di hati. Iyah, sesederhana itu.  Sebuah kenangan akhirnya menggugah keingintahuanku hingga bertahun kemudian. 

Semarang (Akhirnya) Aku Datang !


Perjalan kutempuh dengan pesawat Wings Air dari bandara Tampa Padang Mamuju, transit ganti penerbangan di bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan akhirnya tiba di bandara Ahmad Yani, Semarang. Tidak ada penerbangan langsung dari Mamuju, selain karena airlinesnya terbatas hanya ada Wings dan Garuda Indonesia, ukuran pesawatnya juga kecil. Sementara penerbangan dari Makassar ke Semarang pun kebanyakan tidak ada penerbangan langsung. Rata-rata harus transit di Surabaya atau Jakarta. Satu-satunya penerbangan direct dari Makassar ke Semarang menggunakan Sriwijaya Air adanya di hari Minggu. Maka berangkatlah aku di hari Minggu meskipun rapat kerjanya hari Rabu. Terpaksa ambil cuti demi traveling yang ditandem dengan perjalanan dinas. 




Cuaca cerah ketika aku tiba di bandara Ahmad Yani setelah lebih kurang 2 jam perjalanan dari Makassar. Perasaan bersemangat sekaligus penasaran dengan bandara Ahmad Yani. Katanya bandara ini adalah bandara pertama di Indonesia dengan konsep floating airport dan Terminalnya pun dibangun dengan konsep eco airport dan go green. Tampaknya memang seperti itu karena aku melihat lebih banyak dinding kaca untuk penghematan listrik dan ruang terbuka hijau. Terminal kedatangannya juga tergolong luas dan bersih. Tempat pengambilan bagasi pun lebih lapang dengan display yang informatif sehingga penumpang pun bisa lebih nyaman menunggu bagasinya. Sungguh berbeda dengan bandara Sultan Hasanuddin yang meskipun katanya bandara internasional tapi kondisinya tidak menampakkan ke internasionalannya. 

Naik BRT Trans Semarang dari Bandara Ahmad Yani 


Anyway, mumpung masih sore dan bawaan aku hanya 1 koper kabin dan ransel laptop, aku memutuskan untuk mencoba BRT bandara menuju pusat kota. Moda transportasi seperti taksi bandara atau ojek online sebenarnya ada. Berhubung aku selalu penasaran dengan moda transportasi publik di setiap kota yang aku kunjungi, maka kuputuskan untuk naik BRT aja. Lokasi halte BRT terletak tak jauh dari pintu keluar kedatangan. Hanya menyebrang dan jalan sekitar dua menit maka tibalah aku di halte BRT. 




Jadwal antar satu bus dengan bus lain berkisar 30 menit. Maka beruntunglah aku karena aku tiba di saat sekitar sepuluh menit sebelum bus tiba. Sebelumnya aku membeli tiket di loket sambil memastikan halte tempat aku turun. Hotel tempat rapat kerja yaitu PO Hotel terletak di jalan Pemuda. Letaknya tidak begitu jauh dari Halte Pemuda Balaikota. Pun hanya tinggal menyebrang jalan ke Joglosemar travel shuttle bus jika hendak ke Jogja. Lebih asiknya lagi, aku hanya perlu membayar Rp.3500 alias tiga ribu lima ratus rupiah menuju pusat kota Semarang. Dibandingkan naik Taksi Bandara atau Taksi Ojol dengan tarif puluhan ribu tentu BRT lebih murah, yes? 

Moda transportasi ini tidak aku sarankan untuk kamu yang datang dengan grup apalagi jika teman-teman kamu bukan tipe traveler penikmat transportasi publik. Meski BRTnya cukup nyaman dan penumpangnya cukup tertib, kamu harus berganti bus di halte transit untuk pindah koridor. Menurutku itu sudah biasa dan sebenarnya tidak terlalu masalah. Toh gak perlu bayar lagi, cuma sekali itu aja bayarnya. Pembayaran bisa dilakukan tunai maupun non tunai dengan e-money. Mudah, tidak merepotkan. 

Semarang, Pelan Pelan Saja 

Dari balik jendela bus BRT yang membawaku ke halte Pemuda di sebelah Balai Kota Semarang, kuperhatikan jalan dan segala perilaku penggunanya yang bisa kutangkap dengan mata. Aku mengharapkan kemacetan atau kesemrawutan layaknya kota besar dan ibukota provinsi. Tampaknya estimasiku tidak terpenuhi dengan lancarnya trafik sore itu. Penumpang BRT silih berganti naik dan turun di setiap pemberhentian. Tak sedikitpun kulihat mereka berdesakan. Mungkin mereka lebih baik menunggu bus berikutnya ketimbang harus berhimpitan di dalam. Tak ada keterburuan dalam gerakan. Begitu juga kendaraan yang lalu lalang. 

Hari berikutnya ketika aku hendak ke Kampung Pelangi, sempat aku mengobrol dengan supir mobil ojol yang mengantarkanku. Apakah di Semarang ada kemacetan, penjabretan atau pencurian kendaraan bermotor. Si mas menjawab santai,"Seperti kebanyakan kota besar ya pasti adalah mba. Tapi macetnya itu tidak separah Jakarta. Paling di pintu tol atau ada demo, banjir. Kawasan Simpang Lima ini ya paling gitu-gitu aja mba. Ramai lancar." 

Aku perhatikan juga cara mengemudi orang-orang di Semarang itu gak kesusu meski tidak bisa dibilang santai juga. Jarang ada yang mengklakson atau menyalip ugal-ugalan. Jadi aku juga sungkan minta supirnya nyetir agak cepat. Ya sudah, nikmatin aja lah. Namanya juga di tempat orang lain, ikuti aja kebiasaan setempat. 

Semarang Itu Manis, Seperti Kamu Kulinernya 

Mengunjugi satu tempat tidak akan afdol jika tidak mencicipi masakan khasnya. Terus terang aku hanya tahu kuliner khas Semarang itu hanya Lumpia. Jadi berburulah aku Lumpia yang katanya ngehits di kota ini. Sebenarnya Lumpia pun ada di Makassar, mungkin karena asal Lumpia itu hasil asimilasi Indonesia dan China yang dibawa oleh pedagang-pedagang di jaman lampau. Bedanya Lumpia di Semarang dimakan bersama acar timun, daun bawang dan cabe rawit. Isian Lumpia nya juga sedikit berbeda. Jika diminta memilih, mungkin karena sudah terbiasa, aku lebih memilih Lumpia Makassar saja. 


Selain Lumpia, jajanan khas Semarang adalah Wingko Babat. Nah kalau ini, aku suka. Gurih kelapa, ketan dan manisnya gula ditambah dengan perasa lain seperti durian, cokelat dan keju. Cocok banget sebagai teman minum kopi. Sayang masa berlaku Wingko Babat hanya 3 sampai 4 hari. Gak bisa nyetok banyak-banyak. 

Makanan berat lainnya yang menarik rasa dan teringat sampai sekarang adalah Garang Asem. Aku gak tahu apa ini masakan khas Semarang atau Jawa Tengah secara umum. Bagi aku yang suka masakan asem asem gurih dan pedes, Garang Asem ini cocok sekali. Apa mungkin karena aku mencobanya tepat sedang lapar laparnya? Saking laparnya, difoto pun tak sempat? 

Tampaknya tidak, karena terkadang saat lapar banget pun jika ada makanan yang tidak sesuai selera bisa jadi akan kita makan juga tapi tidak akan terkenang. Garang Asem ini berbeda. Terkadang pengen banget makan masakan ini, sayang di Mamuju gak ada yang jualan. 

Sebenarnya ada beberapa makanan lain yang sudah kucoba dan menjadi khas Semarang. Beberapa terasa sangat manis buatku hingga tidak kumasukkan dalam daftar favorit. Sekedar sudah pernah mencoba rasa yang pernah ada  khas setempat. Paling tidak aku jadi tahu kenapa orang Semarang manis-manis, seperti kamu eh seperti rasa masakannya. 

Semarang, Kutinggalkan Secuil Hatiku Untuk Kembali 


Beruntunglah sebelum pandemi Covid 19 aku masih berkesempatan mengunjungi Semarang meski hanya untuk beberapa hari saja. Belum banyak tempat yang kukunjungi, belum banyak makanan yang kucicipi dan belum  banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengan orang-orang di sana. Setidaknya aku sudah sempat menjejakkan kaki ke Semarang dan melengkapi cerita perjalananku ke ibu kota seluruh provinsi di pulau Jawa. 



Semoga setelah pandemi berakhir, ada kesempatan lagi untuk kembali. Mengulik kota ini lebih banyak, menikmati panas mataharinya yang garang namun tak terik, kerlap kerlip lampu di Simpang Lima dan keramahan  serta kelembutan khas Jawa Tengah. Kutinggalkan secuil hatiku, agar mudah aku untuk menemukan jalan kembali ke hatimu  tempat itu. Semarang, sampai bertemu lagi ya! 

6 Hal Yang Bisa Kita Pelajari dari Drama Korea The World of The Married

Akhirnya setelah 16 episode, tuntas juga drama Korea The World of The Married yang tayang di JTBC dan platform drama online. Drama Korea ini sebenarnya bukan genre drama yang aku suka, tapi berhubung kekurangan tontonan di masa pandemi Covid 19 ini, akhirnya aku tonton juga. Awalnya karena di dua episode pertama penayangannya, teman-teman pencinta drakor di twitter pada heboh membahas drama pelakor yang ngeselin dan bikin gemes ini. Bisa dibilang drama Korea The World of The Marriage ini plot kisahnya khas bu ibu Indonesia banget : Perselingkuhan dan Pelakor. Fixed, langsung jadi TTWW. 

6 Hal Yang Bisa Kita Pelajari dari Drama Korea The World of The Married 




Bagi teman-teman yang belum nonton dan hanya baca status-status yang berseliweran di sosial media tentang drama drama Korea The World of The Marriage, aku bocorin sedikit sinopsisnya, yah. Oiya, perlu diingat drama ini diberi rate 19+ sehingga tidak cocok ditonton oleh remaja. 

Sinopsis Drama Korea The World of The Married


Drama ini berkisah tentang pernikahan karakter utamanya Jin Sun Woo, seorang dokter dan wanita karier yang sukses dan tangguh. Kariernya melesat akibat kemampuannya serta dedikasinya dalam pekerjaannya sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit di Gosan. Tidak hanya sebagai dokter, Jin Sun Woo juga merupakan wakil direktur di rumah sakit tersebut. 

Drama Korea The World of The Married
Dokter Jin Sun Woo

Sementara suaminya, Lee Tae Oh adalah pemilik rumah produksi film sekaligus penulis skenario film yang hingga mereka berumah tangga dan memiliki anak remaja tidak pernah sukses juga. Proposal filmnya selalu ditolak, perusahaannya selalu merugi dan dia sama sekali tidak tahu cara mengelola keuangan perusahaan. Mau tidak mau, Jin Sun Woo lah yang pada akhirnya selalu mensupport rumah produksi suaminya. Mulai dari membantu melobby investor sampai menyuntikkan dana.  


Lee Tae Oh The World of The Married
Lee Tae Oh 

Kehidupan pernikahan mereka tampak sangat mesra dan saling mendukung satu sama lain. Meski telah menikah lebih dari sepuluh tahun, pasangan Tae Oh dan Sun Woo tetap hot dan mesra. Tae Oh tampak sangat menyayangi istri dan anaknya serta setia. Sampai kemudian kecurigaan bermula tatkala Sun Woo menemukan lip balm cherry di saku jaket suaminya yang baru saja pulang dinas luar ke China. Awalnya Sun Woo masih percaya saat Tae Oh beralasan dia asal saja membeli lip balm di bandara karena tidak tahu berbahasa mandarin. Tae Oh pun sempat memberi syal berwarna biru kepada Sun Woo yang pada akhirnya membuat Sun Woo makin curiga karena menemukan selembar rambut panjang berwarna hazel di syal tersebut. Siapakah pemilik sehelai rambut itu sementara rambut Sun Woo sendiri pendek dan berwarna hitam. 

Insting seorang perempuan pun bermain. Sun Woo mulai menyelidiki dan mencurigai satu demi satu perempuan yang dekat dengan suaminya. Firasatnya mengatakan Lee Tae Oh berselingkuh tapi dia tak juga mau menanyakan langsung. Setelah investigasi yang mendalam tanpa disengaja dan tak diduga akhirnya Sun Woo mengetahui siapa pelakor dalam rumah tangganya bersama Lee Tae Oh. 

The World of The Married
Da Kyung, Pelakor Tahun Ini 

Perselingkuhan terkuak di perayaan ulang tahun Lee Tae Oh. Di depan matanya sendiri, Jin Sun Woo akhirnya mengetahui bahwa perempuan bernama Da Kyung ini adalah anak dari pasiennya sendiri. Anak orang kaya dan berpengaruh di kota Gosan. Masih muda, cantik, seksi, pokoknya mah pikiran kita sebagai penonton 'kenapa mau sih sama laki orang?'. 

Perselingkuhan di Depan Mata 

Kisah drama Korea The World of The Married ini makin memanas di episode-episode berikutnya. Pertarungan yang sengit antara Jin Sun Woo yang ingin menyelamatkan pernikahannya dan Da Kyung si pelakor yang tampaknya makin menggila serta suami Lee Tae Oh yang makin tidak tahu diri. Masalah makin diperumit ketika perselingkuhan diketahui oleh sang anak Lee Joon Young. 

Lee Joon Young, ABG yang Keseringan Melihat Kemesraan Orangtua Lalu Kemudian Kecewa Bokapnya Berselingkuh 

Perselingkuhan ini akhirnya melibatkan makin banyak orang karena ternyata selama ini semua orang yang dekat dengan Jin Sun Woo tahu Lee Tae Oh pacaran dengan Da Kyung. Like everybody in Gosan, kota sekecil upil itu tahu dan Jin Sun Woo aja yang dibohongi selama lebih dua tahun kagak ngeh juga kalau diselingkuhin. Gabungan antara terlalu sibuk kerja dan terlalu percaya sama suami kayaknya nih! Gak cukup masalah gonjang ganjing rumah tangganya, pekerjaannya pun sempat oleng karena kasus ini terbawa-bawa sampai ke kantor. Tetangga juga ikut-ikutan rese pula. Sudahlah, ini seperti Jin Sun Woo melawan dunia, orang-orang yang dipercayainya malah adalah orang yang mengkhianatinya. 

Drama The World of The Married ini makin seru karena usaha Jin Sun Woo bermain cantik dalam menjebak Da Kyung dan keluarganya sekaligus memberi pelajaran pada Lee Tae Oh dan para bu ibu arisan sosialita Gosan yang kerap ngerumpiin dia di setiap pertemuan. Meskipun pada akhirnya dia memilih bercerai, perjalanan kisah hidup bu dokter yang kadang pinter kadang panikan hingga berbuat bodoh ini belum selesai begitu saja. Jin Sun Woo dan Lee Tae Oh masih tetap berseteru bahkan ketika akhirnya Lee Tae Oh menikah dengan Da Kyung karena doi hamil duluan. 

Oiya, selain cerita pernikahan Jin Sun Woo dan Lee Tae Oh, The World of The Married juga mengisahkan perkawinan pasangan Go Ye Rim dan Son Je Hyuk, tetangga kompleks yang sudah bertahun-tahun menikah tapi sang suami masih rajin 'jajan' dan gak mau punya anak. Pasangan pacaran Park In Gyu yang sering melakukan kekerasan fisik pada Min Hyun Seo tapi susah putus (karena kalau minta putus pasti digebukin) dan gosip-gosip khas bu ibu sosialita yang gak kalah seru. 

 Son Je Hyuk dan Go Ye Rim


6 Hal Yang Bisa Kita Pelajari dari Drama Korea The World of The Married

Nonton Drama Korea The World of The Married ini seperti melihat potret realistis kehidupan pernikahan. Memang, namanya juga drama, pasti adalah yang dilebih-lebihkan. Tapi.. sedikit banyak ada 6 hal yang bisa diambil pelajaran dari drama ini,khususnya kamu yang masih single : 

1. Pilihlah Pasangan yang Setara 


Sejak awal sebenarnya Jin Sun Woo sudah tahu Lee Tae Oh ini pekerjaan dan karirnya kagak jelas. Mau jadi produser film tapi kok ya gak punya modal dan gak percaya diri. Jin Sun Woo sudah jadi residen, dia belum jadi apa-apa. Hanya bermodalkan rasa tanggung jawab karena sudah bablas hamil duluan akhirnya mereka menikah. Ketika menikah tidak ada perubahaan dalam karir Lee Tae Oh. Tidak tahu mengelola keuangan perusahaan, tidak percaya diri, tidak tahu melobby orang, tahunya marahin istri tapi ternyata malah istrinya yang bantuin dia ngelobby calon investor. Aigoo.. 

Akibatnya, sebagai suami Lee Tae Oh selalu merasa berada dibawah bayang-bayang istrinya. Dengan alasan tersebut dia akhirnya mencari penghormatan dan rasa dibutuhkan pada perempuan yang lebih muda dan cantik seperti Da Kyung. Menurut Lee Tae Oh, dia merasa terintimidasi oleh Jin Sun Woo sementara dengan Da Kyung dia merasa nyaman dan merasa hidup kembali. 

The World Of The Married
Paling Tidak Seperti Ini lah. Sama Sama Dokter Sukses


Tidak sedikit kasus perselingkuhan bermula dari rasa ketidakpercaya diri sang suami akibat pasangan mereka lebih kuat dan stabil secara ekonomi dibanding mereka. Makanya menurut aku penting bagi perempuan-perempuan untuk memilih pasangan yang setara. Kalau pekerjaannya sudah gak jelas dan tampaknya bakal kamu yang modalin dia, sudah tinggalin aja. Gak ada cerita gak apa-apa hidup susah-susah bersama di awal. Jangan! Kamu sudah hidup nyaman, ngapain cari susah? 

2. Jauhi Laki-Laki Sakit Jiwa atas Nama Cinta dan Laki-Laki Parasit 

Park In Gyu adalah contohnya. Tahunya cuma bisa menyakiti Min Hyun Seo. Sudah Min Hyun Seo yang banting tulang kerja, dia tahunya mabok doang dan minta uang mulu. Parasit banget kan? Setiap kali Min Hyun Seo berniat putus atau melarikan diri, pasti dapat jatah pukulan dari Park in Gyu. Sakit jiwa sih ini sebenarnya. 



Selain model cowok parasit kayak Park In Gyu, Lee Tae Oh sebenarnya adalah laki-laki parasit juga. Sudah selingkuh, dating dan belanjain cewek selingkuhannya pakai kartu kredit yang dibayar sang istri. Dana tabungan untuk anak diambil, aset istri dijadikan jaminan, eh.. begitu menikah lagi, mertua lagi yang membuatkan perusahaan dan menempatkan dia sebagai direktur. Gak mandiri secara finansial, dimodalin dan difasilitasi mertua. 

Aigoo.. dua cowok macam ini yang harus dihindari ya, ladies. Secinta apapun kalian dan seganteng apapun orangnya, sudah tinggalin aja!! 

3. Pikir Lagi Pacaran dengan Suami Orang 

Sebagai perempuan, sedikit banyak melihat laki-laki yang rapih, wangi, enak dilihat dan kelihatannya mapan itu sungguh sangat menarik. Mereka tampak lebih dewasa, lebih mengayomi, lebih sabar dan kelihatan lebih sukses dibandingkan laki-laki sebaya yang baru saja meniti karir. Nah disini para cewe-cewe single kadang lupa, bahwa dibalik kerapihan baju yang mereka pakai, wangi yang menggoda, wajah mulus, tatanan rambut dan gaya yang menarik hati, ada perempuan yang bertitel ISTRI yang ngaturin itu semua buat mereka. Apa kalian pikir laki-laki bisa mengurus diri mereka sendiri ? 



Enggak... sekeren-kerennya laki-laki yang bisa mendandani diri mereka sendiri di saat single, lebih keren laki-laki beristri. Kenapa? Ya karena mereka terima beres aja. Makan siapin, badan gak kurus dan tampang gak kuyu. Baju disetriakain, parfum dipilihin, dasi dipasangin, aaih.. liat deh bapak dan ibu kamu. Tanya aja sama ibu kamu, dulu waktu sebelum mereka menikah memang bapak kamu sekeren setelah menikah? Trus kenapa mereka kelihatan lebih dewasa, lebih mengayomi, lebih sabar, lebih tahu maunya kamu sebagai perempuan? Ya karena sudah belajar menghadapi istrinya..... !  

Nah kalau sudah tahu, ada perempuan yang sudah lebih dulu jadi istrinya di balik gemerlap yang memukaumu itu.. coba balikin ke diri sendiri. Gimana perasaan kamu kalau ada perempuan lain yang menggoda bapak kamu dan akhirnya bapak kamu meninggalkan mama kamu, Suka? Gimana kalau pasangan kamu yang sudah kamu 'rawat' dan cintai sepenuh hati tergoda perempuan lain, kamu rela? 

Pada akhirnya meski Da Kyung sebagai pelakor akhirnya menikah dengan Lee Tae Oh, dia tak pernah merasa bahagia dengan perkawinannya. Kamu mau juga seperti itu? 

4. Menikah dengan Duda Cerai Punya Tantangannya Tersendiri

Sorry to say ladies.. ini bukan cuma di drama dalam kehidupan nyatapun menikah dengan duda yang bercerai apalagi yang sudah memiliki anak memang agak beresiko. Ada kemungkinan sang laki-laki belum bisa move on dari mantan istrinya. Lebih sulit lagi jika mereka punya anak. 

Ada beberapa 'kasus' di sekitar aku dimana mereka menikah dengan duda cerai beranak satu atau dua. Menurut mereka, kesulitannya adalah mau gak mau si suami dan mantan istrinya masing sering bertemu karena alasan anak. Jikapun tidak, entah bagaimana dalam perjalanan pernikahan mereka mantan istri jadi bayang-bayang istri baru. Gak dibandingin sih, cuma jadi semacam level game yang harus dilewatin dan itu kadang-kadang bikin capek juga. 

Jadi jika pun ingin menikah dengan laki-laki yang sudah cerai dan memiliki anak, make sure aja, mantan istri sudah menikah atau belum? Jangan-jangan dia pengen nikah lagi karena si mantan sudah nikah duluan. Pastikan kamu menikah dengan orang yang sudah move on dari masa lalunya. Jangan kayak Lee Tae Oh, sudah nikah masih nyariin Jin Sun Woo dengan alasan balas dendam .

5. Move On dari Hubungan yang Gak Sehat

Ketika pasangan terus-menerus menjatuhkanmu, mengancam dirimu bahkan teman-temanmu, sering selingkuh, atau melakukan kekerasan, disitulah kamu terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Lebih tidak sehat lagi ketika mereka melakukan itu padamu dan kamu memaafkannya hanya karena faktor kasihan atas nama cinta. 

Bedakan cinta dengan kasihan ya, gengs. Kamu merasa dibutuhkan olehnya dan kamu merasa tanpa kamu dia gak bakal hancur, oleh karenanya kamu bertahan ? Itu bukan cinta.. itu kasihan. Cinta itu tidak membuat diri kamu rela untuk disakiti. Sayangnya yang kamu perlu kasihani itu bukan dia, tapi diri kamu sendiri. Rela gak putus hanya karena terenyuh melihat dia nangis-nangis gak bisa gak ada kamu, yakin tega sama diri sendiri? 

Jadilah tegas seperti Min Hyun Seo yang akhirnya memilih untuk tegas putus dengan Park in Gyu. Karena pada akhirnya dia sadar rasa cintanya pada dirinya sendiri harus lebih besar dibandingkan rasa kasihan berbalut cintanya pada pacarnya yang abusive itu. Begitu juga dengan Jin Sun Woo yang meskipun Lee Tae Oh minta balikan, dia sudah merasa cukup disakiti oleh perselingkuhan dan tingkah laku mantan suaminya itu. 



6. Jangan Menyalahkan Orang Lain atas Kegagalan Diri Sendiri 

Lee Tae Oh menyalahkan Jin Sun Woo saat perselingkuhannya ketahuan oleh calon investornya yang gak lain adalah ayah Da Kyung. Dia juga menyalahkan Sun Woo karena Joon Young tidak berpihak padanya. Lee Tae Oh semakin meruntuki Sun Woo saat dia akhirnya kehilangan jabatan dan fasilitas yang diberikan mertuanya dan diceraikan Da Kyung. Menurut Lee Tae Oh, kegagalan karir dan rumah tangganya yang baru akibat Sun Woo. Padahal siapa sih yang awalnya mulai selingkuh, meninggalkan istri dan anak demi kekasih baru? Kegagalan diri sendiri bukan karena orang lain, itu berawal dari diri kita sendiri wahai Lee Tae Oh... Anak lu aja tau! 

The World Of The Married
Jin Young Sudah Mulai Dewasa



Namanya juga drama Korea, sekusut-kusutnya ceritanya tetap lebih kusut kehidupan nyata. Drama The World Of The Married ini memang tidak berdasarkan kisah nyata, namun tidak bisa dipungkiri juga kisahnya sedikit banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya dari kisah drama Korea pun ada yang bisa diambil pelajaran, bahwa apapun yang terjadi jangan gak tahu malu kayak Lee Tae Oh. Sudah jadi benalu, dibiayain melulu, selingkuh, abusive, pas gak punya duit minta balikan. Idih! 

Lee Tae Oh yang Tak Tahu Diri 

Menurut pendapat kamu gimana? 

Air Cooler Apa yang Harganya DIBAWAH Sejuta ?


Menetap di tempat yang hawanya bikin gerah rasanya pengen ngadem aja. Pengen pasang AC, tapi kok ya mahal. Belum bayar listrik per bulan bakal nambah dan pasangnya juga agak ribet. Pake kipas angin, dingin enggak masuk angin iya. Akhirnya setelah lama berpikir, aku memutuskan untuk beli air cooler aja. 

Apa sih Air Cooler itu?

Air Cooler adalah penyejuk ruangan yang dapat untuk melembabkan udara melalui proses penguapan. Bedanya dengan AC yang menggunakan freon untuk mendinginkan, Air Cooler menggunakan air untuk menyejukkan udara. Kesejukan yang dihasilkan oleh Air Cooler ini lebih baik dari kipas angin. Jadi bisa dikatakan Air Cooler ini berada di tengah-tengah Air Conditioning dan Kipas Angin. 

Kebetulan, pas aku lagi jalan-jalan ke Ace Hardware, ternyata ada air cooler yang lagi diskon 50%. Ini dia :


Detail Produk dan Spesifikasi : 

  • Aliran udara : 500 CMH
  • Daya : 85 Watt
  • Kapasitas kontainer : 10 liter
  • Pengaturan kecepatan kipas
  • Bantalan Honeycomb
  • Warranty Part 12 Bulan
  • Warranty Services 12 Bulan
  • Remote 
  • Area Penggunaan : 10 - 15 M2
  • Mode Natural dan Sleep
  • Pengatur Waktu 7,5 jam 
  • Kompartemen es batu di bagian atas unit
  • Harga : Rp. 849.000,- 

Review Product 

Dilihat dari segi penampakan product, Air Cooler ini tampak seperti AC standing dengan ukuran yang lebih bantet. Hal ini cukup menarik buat saya, karena terlihat lebih elegan untuk diletakkan di sisi ruangan. Warnanya yang putih memudahkan kita untuk memadu padankannya dengan warna furniture dan warna tembok di ruangan tempat Air Cooler ini diletakkan. 


Air Cooler yang hanya dijual di Ace Hardware ini memiliki lubang angin yang besar dengan tiga level kecepatan yaitu High, Medium and Low speed. Selain itu Air Cooler Apa ini juga memiliki mode Sleep dan Natural. Semakin tinggi level kecepatannya, angin akan semakin kencang namun suara kipasnya pun semakin keras. Sehingga, saya biasanya lebih memilih level kecepatan low saja. Apalagi Air Cooler ini hanya saya tempatkan di ruangan berukuran 4 x 5 saja. Segitu juga sudah cukup dingin menurut saya. 

Cukup mengisi tanki air tidak lebih dari 10 liter dan menekan tombol cool, ruangan sudah cukup terasa dingin. Jika ingin lebih dingin lagi, boleh tambahkan ice cube atau blue ice pada kompartemen es batu di bagian atas unit. Memang sih, dinginnya agak beda dengan dingin AC tapi boleh dikatakan bahwa masih lebih baik daripada menggunakan kipas angin biasa atau kipas angin uap. 

Untuk arah anginnya bisa diatur menggunakan tombol swing. Sayangnya arah angin hanya bisa kiri dan kanan dan tidak bisa atas dan bawah. Hal menarik lainnya adalah Air Cooler ini dilengkapi dengan remote dengan jarak jangkauan 5 meter. Sehingga lebih memudahkan jika sudah mager. 



Berbeda dengan Air Cooler lainnya, kompartemen es batu terletak di atas. Sayangnya Air Cooler Apa ini tidak menyediakan ice cube. Kalau kata Ace Hardwarenya sih bisa diisi pakai es batu biasa. Iya sih, krn air dari es batu yang meleleh itu nantinya akan masuk jga ke penampungan airnya. 



Di sebelah kiri ada tangki air di mana untuk pengisiannya gak boleh lebih dari 10 liter dan diisi dalam keadaan off.  Di sebelah kanan gak ada apa-apa sih kecuali pegangan untuk mengangkat Air Cooler.



Di bagian belakangnya terdapat lubang keluar air, misahlnya pengen ganti air atau air coolernya pengen dibersihkan, bisa mengeluarkan airnya dengan menarik tutupnya. Terdapat pula filter debu dan bantalan dalam Honey Comb. Jika ingin dibersihkan, buka aja sekrupnya.



Air cooler Apa ini dilengkapi dengan 4 buah roda jadi lebih mudah untuk digeser ke berbagai tempat. Tips dari aku, karena hembusan anginnya kuat,, rajin-rajin bersihin kamar supaya debuan. Ok, itu aja review dari aku, mudah2an membantu. Video reviewnya bisa kamu simak di sini :