In The Bag, Kisah Koper yang Tertukar Cinta

Don't Judge The Book By Its Cover

Dulu sih katanya gitu. Belakangan sepertinya sudah tidak berlaku, paling gak buat saya :D. Salah satu contohnya pas nemu novel yang ini di kategori "New Arrival" sekitar dua minggu lalu ( iyah,maafkan aku agak malas nulis belakangan ini). 

Ketika membaca back cover story aku pikir, wah lumayan seru juga nih. Walaupun sempat agak ragu mengingat penulis naungan  penerbit "Gramedia Pustaka" seringnya agak kaku, akhirnya saya bawa pulang juga Lagi-lagi karena sampulnya keren. Hahaha!



Ternyata gak nyesel juga sih belinya. 

Pertama karena terjemahannya enak dibaca. In The Bag ini memang novel terjemahan. Penulisnya Kate Klise ini awalnya adalah seorang koresponden majalah People yang banyak meliput skandal selebriti sampai pembunuhan berantai. Jadi jelas ini bukan novel K-Drama, yes? Hahaha..  Nah, In The Bag ini adalah novel dewasa pertamanya. Namun walaupun dilabeli "novel dewasa" tenang saja karena gak ada adegan-adegan seperti "Fifty Shades Of Grey" kok :D *eh gak ada yang kecewa kan*

In The Bag ini bercerita tentang Coco remaja tanggung bersama Ibunya, Daisy serta Webb dan Ayahnya Andrew. Coco dan Daisy sedang dalam rangka liburan ke Paris sementara Webb diajak Ayahnya dalam rangka pekerjaan ke Madrid. Mereka secara kebetulan satu pesawat dari Chicago dan secara tidak sengaja terlibat "kecelakaan". Ayah Andrew tidak sengaja membuat Daisy ketumpahan wine dan menodai bajunya. Dia bermaksud untuk minta maaf tetapi pramugari menyuruhnya untuk segera duduk. Andrew pun menuliskan pesan disecarik kertas dan menyelipkannya di saku tas Daisy. Sebuah permintaan maaf dan ajakan kencan sebagai permintaan maaf. Ternyata bukan hanya Daisy yang tertimpa hal mengesalkan, Coco juga. Tasnya tertukar. Dia baru sadar ketika ia membongkar tasnya dan menemukan pakaian dan sepatu laki-laki. Di Madrid Webb tak kalah terkejut melihat isi ranselnya yang berubah menjadi "cewek".

Tas yang tertukar dan pesan yang terselip menjadi benang merah kisah antara Coco-Webb dan Daisy-Andrew. Dua orang tua tunggal yang mengira mereka terlalu sibuk untuk berkencan dan dua remaja yang diam-diam tidak berhenti saling mengirimkan email flirting rahasia. Membaca novel ini seperti mengajak saya jalan-jalan di Paris, Madrid hingga Barcelona. 

Aku suka cara Kate Klise menulis. Setiap bab POV diambil dari ke empat character secara bergantian.  Liburan selama 6 hari ini dilengkapi dengan gambar yang berhubungan dengan perjalanan mereka. Sangat enak untuk dibaca.Kate tahu menempatkan dirinya dalam kerangka berpikir bukan saja orangtua tetapi juga remaja 17 tahun. Menarik. Interaksi ibu dan anak perempuannya, ayah dan anak lelakinya dan dua remaja yang masing-masing belum pernah berkencan dipaparkan secara ringan sekaligus juga menyentuh.  Mmh, kadang-kadang sebagai anak sering lupa pengorbanan dan pengertian orang tua menghadapi mood anaknya :D * hugs *  sementara sang anak rahasia-rahasian menyusun rencana ketemuan. Ah, bandelnya anak-anak :p 

Jatuh cinta, kadang kala memang begitu mudah dan penuh resiko seperti tertukar bagasi pada penerbangan International. Jatuh cinta juga kadang kala begitu rumit karena salah pengertian. Namun jatuh cinta itu menyenangkan seperti adventure dalam perjalanan. Gak setuju? Coba baca dulu deh novelnya. Habis itu kasih tahu aku yah pendapatmu disini :D 

Selamat membaca!
XoXo

V

[Novel Review] Her Sunny Side, A Bittersweet Love Story.

It's my second time to read Japanese Novel. First was 'Kitchen' ( that i haven't finished till now) and second was "Her Sunny Side". At first i was attracted by the title "Her Sunny Side". It's so catchy. I also read that this novel will be filmed with casts of two of my favorite Japanese actor and actress : Matsumoto Jun and Ueno Juri. Those two reason finally made me buy this novel. So cheesy,right? :)) 


STPC - LONDON, Hujan dan Misteri Cinta


Saya membeli novel ini dari sebuah shopping online tanpa membaca sinopsisnya. Saya hanya sempat mencari tahu siapa pengarangnya. Setelah blogwalking dan membaca beberapa entry postingan penulisnya, Windry Ramadhina, saya memutuskan memesan novel ini. Terus terang ada perasaan seperti "Judge The Book By Its Cover". Saya sebenarnya agak malas membaca novel non-sastra penulis Indonesia karena sering ketipu cover dan back cover story. Namun mengingat bahwa ini adalah terbitan Gagas Media saya hanya berharap pilihan saya tidak salah. 

Begitu novel itu tiba ditangan saya, segera saja novel bersampul sederhana itu saya baca. Sebuah postcard sebagai bonus terselip di belakang sampul. Ok, seperti biasa bonus novel STPC pada umumnya (padahal mungkin akan lebih menyenangkan jika yang terselip adalah tiket Jakarta-London PP, misalnya). Sebuah kalimat "Untuk Para Pencinta Hujan" tercetak di halaman setelah ucapan terima kasih penulis. Pencinta Hujan? Ok, that's me. Jadi apakah kita akan berhujan-hujan bersama di London?



STPC - LONDON, Hujan dan Misteri Cinta


Cerita dibuka dengan Prolog yang makin menarik perhatian saya. London yang terkenal dengan cuaca yang berkabut dan berhujan sudah terhampar di depan mata. Namun penulis mengajak saya kembali ke Jakarta di Bab pertama. Diawali Oleh Wiski, menggambarkan latar belakang kisah ini terjadi. Gilang, seorang penulis yang memendam cintanya bertahun-tahun pada tetangga sekaligus sahabatnya, Ning memutuskan untuk mengejar Ning ke London. Di kota itulah tempat Ning kuliah dan akhirnya bekerja di Tate Museum, tempat yang selalu menjadi impian Ning selama ini. Terpisah ribuan kilometer membuat Gilang dikomporin empat sahabat terbaiknya untuk segera menuntaskan ketidakpastian hubungannya dengan Ning. 

Dan berangkatlah Gilang dengan segala keberanian yang dia punya. Ternyata perjalanannya ke London untuk mengejar cintanya membawanya banyak bertemu dengan orang-orang yang tak pernah disangkanya. Seorang lelaki blasteran Indonesia-Eropa yang serupa tampangnya dengan Guy Fawkes, karakter V for Vendetta di pesawat. Seorang lelaki Inggris tua yang selalu setia datang berkunjung ke penginapannya hanya untuk bertengkar dengan wanita berwajah masam pemilik penginapan. Seorang blasteran Inggris India yang bekerja di tempatnya menginap, perempuan Indonesia yang terobsesi memiliki buku cetakan pertama dan tentu saja dia. Seorang perempuan yang selalu muncul di saat hujan, cantik dan selalu membius Gilang dengan pesonanya. Tanpa nama, dia datang, tersenyum,menyapa lalu kemudian hilang disaat hujan reda. Tak ada jejak kemana perempuan serupa malaikat itu pergi. Hanya ada sebuah payung merah miliknya yang tertinggal. Itupun ternyata dibawa lari si lelaki bertampang Guy Fawkes.Sial! 


Gilang merasa kesialannya belum berkurang. Bertemu dengan Ning ternyata tak semudah skenario yang direncanakannya di Jakarta. Saat bertemu pun tak membuat semuanya jadi mudah untuk Gilang mengungkapkan perasaannya yang terpendam. Seorang lelaki, Finn,  serupa Ethan Hawkes di Great Expectation diperkenalkan Ning padanya. Hanya teman,kilah Ning. Namun dimata Gilang ia merasa lelaki ini diam-diam sudah merebut gadisnya. Waktu yang semakin sempit membuat Gilang harus segera mengungkapkan cintanya pada Ning. Diluar ketakutannya langkahnya didahului si Ethan Hawkes, ternyata Gilang juga takut jika Ning tak akan bersikap sama lagi padanya jika ternyata Ning tak merasakan perasaan yang sama. 

Persahabatan antara lelaki dan perempuan memang selalu bisa dijadikan latar belakang cerita. Entah siapa, tetapi biasanya salah satu diantara mereka punya perasaan yang lebih dibanding lainnya. Klise, namun benar adanya. Jika keduanya ternyata menyimpan perasaan yang sama, tentu saja akan menjadi happy ending. Sedihnya, kemungkinan sad ending pun bisa terjadi. Nah apakah novel ini berakhir bahagia atau sedih? Silahkan baca sendiri yah..

Yang jelas saya sangat menikmati membaca novel ini. Selalu ada kejutan disetiap babnya.Bikin penasaran. Seperti potongan puzzle,satu demi satu pieces dari tokoh yang berbeda terekat oleh satu kesamaan. Mengapa perempuan cantik tanpa cela itu selalu datang saat hujan dan pergi ketika hujan reda? Mengapa payung merah yang tampak sederhana ternyata sangat berharga? Semuanya akan terjawab di akhir cerita. Selamat membaca dan mari larut dalam hiruk pikuk kota London yang berkabut cinta.

XoXo
V

This Is Us : One Direction, Normal Guys Who Had Fun But Were Terrible Terrible Terrible Dancers

Ok, let's forget awhile about Kpop things and get back to the kind of music i used to love ( hey, I still do!) : Western Pop. Or just "Pop"..whatever you may called. Anyway, i'm talking about the movie called: This is Us by a British boyband called "One Direction" ( and everybody says : Ahhh... ) 




I'm not a Directioner,actually. But i kinda like some their hits like "One Way or Another, Kiss You, One Thing, Little Thing, That's Makes You Beautiful" and other songs from their first to third album that loaded into my ipod. :D

And for the record, i don't even know each one of their names except for Zayn (because he's moslem), Harry ( because he dated Taylor Swifth) and Liam ( because one of my friend always talk about him). The only thing i knew was : They are X-Factor UK's contestant who didn't win but totally got a HUGE success.

So.. i just knew that they will release their first movie. Skeptically i thought, just like any happening idol they got to have at least one movie while they're on top. Justin Bieber, Katy Perry, even SMTown Family and Super Junior made their "daily activities and tour life" into 3D Movie. But  when i first saw "Best Song Ever" music video on Vevo channel, the skeptical mind of mine just swept away. I hope to see something different.

My Ticket
So there i was, sitting in the C row, 5 minutes late, hoping to get entertained by these five guys from England. I have to warn you,  this is  the kind of movie that made for fans and should be enjoy by the fans only. I mean, who cares about what these boys do at the backstage, driving the golf car like crazy, chasing and lift up by their bodyguard or waking up in the middle of the night after 10 minutes sleep just for record verse part of the new song. Only fans do. They screaming out loud like crazy every time they see Harry half naked or Zayn smiles (which is i admitted.. oh well, cute!). They sing along with these boys in every concerts footage that appear. You know, those kind of things that only fans would do. But the fun part is, i did enjoy watching this movie, although i'm not the Directioner.

This Is Us :  One Direction, Normal Guys Who Had Fun But Were Terrible Terrible Terrible Dancers


Basically it's almost the same with Justin Bieber "Never Say Never and Katy Perry "The Part Of Me". There are story about them on stage and backstage. Unfortunately "This Is Us" you won't see the "private" life like what we see in Katy Perry's. There was no love live that expose in. Not even a slight talk about Taylor Swifth. *no hope*

But the excitement wasn't diminished. Chris Rock, Christiano Rinaldo, Martin Scorsese and of course not to forget Simon Cowell  are appear as the cameo. These boys talking about themselves, actually about the basic things like how they met, the first impression and even talked about there was a time when they had special conversation about kicked Zayn out of the band. I don't know if it was revealed before, but i just knew that. Hahaha.

As a none-Directioner  i found this movie like a documentary of how a boyband that doesn't look like a stereotype boyband been made. I mean, if we look back to the former boybands like Nsync', Backstreet Boys, Take That, Westlife or even older than that, New Kids On The Block, they all have the same pattern.

They are all consist of five good looking boys which have bad boy, sweet boy, funny boy, playful boy and calm boy. Some can sing, some can rap, other can dance. I'm not judging but i can see these pattern too in One Direction. The different is They ALL can sing ( and got good voice) but CAN'T dance.

They don't want to wearing the same wardrobe, smile or act like they tell them to be. They just want to be.. Them, just like ordinary guys in age between 19-21 years old. They come across as the regular guys they claim to be, five fellows who like to mess about, are grateful for their family. The difference is they surrounded by girls who can't stand not to scream or even fainting every time they showed up, flying from one country to another and have a little time to sleep.

Yes, there are some scene when they "mess" their image. Harry's sarcastic. Niall's exuberant. But  This Is Us is the Rockumentary that shows the innocuous image of One Direction. Well, hopefully those images are hold their ground because most of their precursors skidded on their fame, lost and hard to get back. 


This is us One Direction


FYI, "This Is Us" , is a 3D movie which is ( for me) only works on concert scene. It really looks like these boys in front of you. So prepared yourself to be stupefied or screaming (just like most of the girls who watching this movie). Nothing special on the effects,but the you can get the atmosphere of the concerts.

There are some extra visual zip to their usual concert spectacle, transforming the singers into superheroes or augmenting the “Space Invaders”-inspired graphics. effectively boosting the 3-D appeal. Most of the viewers are Directioners so it wasn't a surprised to hear them sing along just like they're really at the gig. If you're not the Directioner, don't worry.

I only knew their best hits but i still can enjoyed the movie. In fact, i was surprised when they're perform "Teenage Dirtbag" in one of the concert scene. "Teenage Dirtbag" is a song by American alternative rock group Wheatus. It was released in July 2000 as the lead single from their eponymous debut album. It was included on the soundtrack of the movie Loser. Some of you probably don't know it.. or you do? :D 

In the end, i agreed to what one of them said that he hopes One Direction is remembered  as normal guys who had fun but were terrible terrible terrible dancers. lol. Because that's what this movie wants to show the world that this is who they are. They're all good in singing ( and no one who doing only rapping) but they're seriously terrible dancers. 


Obviously, those who hate group’s music should avoid “This Is Us” at all costs. But if you just want to have some fun after a-long-hard-weekdays, this movie should give you something entertain and to get to know them a little more. And probably you couldn't help but like One Direction, even sing along every time “Best Song Ever” came on your car radio. Or you don't? :D. Can't wait to read your comment about it.

[J-Dorama] ITAZURA NA KISS Love In Tokyo

Yes, finally!
Setelah sekian lama gak nonton J-Dorama, akhirnya saya dapat satu tontonan yang menarik juga. Ini membuat saya seperti kembali ke awal lagi. Sebelumnya saya memang lebih suka nonton J-Dorama yang lebih simple dan episodenya gak kepanjangan. Berhubung semakin hari semakin susah mendapatkan DVD bajakan JDorama akhirnya malah keterusan nonton K-Drama.

Tapi tak apalah.. it's another story :D

Kali ini saya jatuh hati LAGI dengan Irie Naoki. Yap, lagi! Karakter cowok yang pintar, cakep tapi jutek  ini adalah salah satu tokoh dari Itazura Na Kiss,manga yang dibuat Kaoro Tada. Manganya sendiri dibuat di tahun 1991 dan meraup sukses besar.  Di tahun 1996 Itazura Na Kiss dijadikan drama sepanjang 10 episode disaat manganya sendiri masih terus berjalan. Sedihnya, manga Itazura Na Kiss tak selesai dibuat karena Kaora Tada meninggal di tahun 1999. Hiks. Saya sendiri baru menonton VCD Itazura ini disekitar tahun 1999. Baru belakangan ini saya tahu it was made on 1996. Hahaha, telat ya!

Walaupun begitu, kesuksesan J-Dorama Itazura Na Kiss ini ternyata menarik perhatian negara lain. Akhirnya ada It's Started With A Kiss ( Versi Taiwan - 2005), They Kissed Again ( sequel versi Taiwan - 2008), Playful Kiss (Versi Korea - 2010). Kedua versi itu tidak saya tonton. Gak tahu, males aja. Di Jepang sendiri juga dibuat versi Animenya. Nah, akhirnya di tahun 2013 dibuat lagi versi Jepangnya Itazura Na Kiss : Love In Tokyo.

Itazura Na Kiss Love In Tokyo - 2013 

[NOVEL] Wonderful Radio, Ketika Luka Menjadi Penghalang Untuk Mencinta

Novel ini saya beli dan selesai di baca di bulan September 2012. Sudah lama juga ya. Tapi baru sekarang kesampaian menyisakan sedikit waktu untuk menulis reviewnya. 

Novel Korea Wonderful Radio


Wonderful Radio, Ketika Luka Menjadi Penghalang Untuk Mencinta

Ini adalah salah satu novel terjemahan yang saya suka. Bukan karena ini adalah novel terjemahan Korea. Namun karena novel ini mengangkat kisah seorang penyiar radio dan produser acaranya. Jarang ada novel atau film yang mengangkat kisah penyiar radio. Mungkin karena sebagai penyiar hanya suara saja yang terdengar jadi kelihatannya tidak se"gemerlap" penyiar TV yah? Jangan salah, sebagai penyiar radio banyak hal "tak terlihat" yang lebih gemerlap dan menarik. Salah satunya yang diangkat oleh novel ini.

Wonderful Radio adalah sebuah program yang dibuat untuk menghilangkan kelelahan penduduk kota dengan memutarkan lagu-lagu menenangkan dan menampilkan cerita-cerita hangat saat jam pulang kerja. Acara ini dibawakan oleh si tokoh utama, Shin Jin Ah, yang dulunya adalah seorang idol grup perempuan, Purple. Sayangnya program radio yang dibawakannya itu mempunyai rating yang buruk sehingga perlu perubahan konsep. Pemilik radio akhirnya meminta tolong pada seorang produser yang sudah terkenal Jae Hyeok. Harapan untuk mengangkat rating acara ini kembali kini ada di pundaknya. 

Jae Hyeok dikenal sebagai produser yang kaku. Walaupun dia terkenal sebagai produser yang tak pernah melakukan kesalahan dalam 10 tahun kariernya, tetap saja dia sangat membosankan. Sifatnya tidak bersahabat dan dingin. Sedingin Ice Americano yang selalu diminumnya setiap hari walaupun di musim dingin. Dengan attitudenya yang seperti itu, sudah dua kali rapat dengan para crew tak juga ada ide yang bisa membuat Jae Hyeok senang. Termasuk ide dari Shin Jin Ah yang dianggapnya biasa saja. 

"Jin Ah, ada tiga hal yang harus dimiliki seorang DJ bagus. Ketenaran, kemampuan membawakan acara, sifat. Memiliki ketiganya bagus sekali, tapi aku selalu berpikir bahwa memiliki dua dari tiga hal itu pun sudah cukup." ( Jae Hyeok, hal 62)
Konflict antara Produser dan Penyiar semakin lama semakin bertambah. Suatu hari disaat siaran, Shin Jin Ah salah menyebutkan nama penyanyi. Jae Hyeok yang tak pernah melakukan kesalahan saat bekerja langsung mendatangi Shin Jin Ah dan meragukannya sebagai seorang penyanyi. Shin Jin Ah merasa kesalahan itu wajar karena dia memang sering tertukar antara Kim Hyun Shik dan Kim Gwang Suk. Jae Hyeok tidak bisa menerima kesalahan tersebut Menurutnya kalau bersalah seharusnya minta maaf dan bukannya bermuka tebal. Mereka pulang dengan perasaan yang sama-sama kesal. 

Jin Ah yang tidak bisa menyingkirkan kekesalannya akhirnya memilih mendengarkan lagu dari Kim Gwang Suk yang salah dia sebutkan tadi. Saat mendengarkannya tiba-tiba Jin Ah terbawa kedalam kenangan masa lalunya sebagai seorang idol. Tiba-tiba Jin Ah mengasihani dirinya sendiri yang selalu bersembunyi dalam image buatan. 

Shin Jin Ah, Kau baik-baik saja. Setidaknya sekarang kau dapat melihat dirimu sendiri. Kau telah menemukan dirimu yang hilang. Tiga puluh tahun, belum terlambat untuk cinta maupun pekerjaan,kok. 

Terbawa kenangan masa lalu membuat Jin Ah bisa berpikir lebih jernih. Sebuah SMS permintaan maaf dia kirimkan pada Jae Hyeok. Balasan yang diterimanya memang sangat singkat. Namun setelah kejadian itu kekakuan antara Jae Hyeok dan Jin Ah sedikit demi sedikit mencair. Hal ini juga berpengaruh pada kinerja Jin Ah. Selama ini dia hanya mengikuti rancangan dan naskah yang disiapkan produser dan para penulis (naskah) lainnya. Namun karena Jae Hyeok dengan caranya yang berbeda membuat semua staf tak terkecuali Jin Ah ikut serta dalam programnya. 

Kali ketiga rapat, Jin Ah memberikan konsep baru. Jin Ah memutuskan untuk menjadikan Wonderful Radio sebagai tempat bagi orang-orang untuk menyatakan perasaan kepada orang yang mereka kasihi lalu mempersembahkan sebuah lagu untuk mereka. Jae Hyeok menyukai konsep itu. Maka dibuatlah segment " Lagu Untukmu" di acara Wonderful Radio. 

Ternyata konsep baru ini disukai oleh pendengar. Sedikit demi sedikit rating Wonderful Radio kembali membaik menjadi tiga kali lipat. Ketika Jin Ah dan acaranya mulai naik daun, Mi Ra, teman lamanya di Purple menyerangnya. Memang sudah sejak lama Mi Ra menyimpan dendam dan amarah pada Jin Ah. Mi Ra sakit hati karena Jin Ah membubarkan Purple tanpa berembuk dengan member lainnya. Setelah Purple bubar, Mi-Ra lah sosok yang paling terpukul. Untuk mengubur kesedihannya dia meluncurkan album solo yang sayangnya tidak laku di pasaran. Dia juga sempat membuat sensasi dengan mencoba bunuh diri, tetapi kemudian dia bangkit lagi. Saat itulah dia bertekad untuk menggeser kedudukan Jin Ah. 

Dengan bantuan managernya Mi Ra menempatkan seorang tamu di segment Lagu Untukmu. Tamu itu kemudian mengatakan lagu ciptaan Jin Ah yang sempat menjadi hits Purple pada waktu itu adalah hasil jiplakan. Tidak terima dituduh memplagiat, Jin Ah berteriak dan memaki tamunya saat on air. Walhasil Jin Ah pun diberhentikan dari program Wonderful Radio. Hal ini sangat membuat Jae Hyeok kecewa dan sedih. Dibalik sikap dinginnya, jauh di lubuk hatinya diam-diam dia menyimpan rasa pada Jin Ah. Yang tak diketahuinya sebenarnya Jin Ah pun demikian. 

Namun ketika Jin Ah yang sedang tertimpa masalah ini datang ke apartemen Jae Hyeok, ia malah menemukan wanita lain. Seperti jatuh tertimpa tangga pula, Jin Ah memutuskan untuk melupakan Jae Hyeok. Acara Wonderful Radio pun juga sudah direbut Mi Ra. Jin Ah merasa tak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Jika kondisi mental Jin Ah lebih lemah sedikit saja, dia pasti tidak akan bisa bertahan. 

Apapun yang terjadi, aku harus terus bertahan hidup. 

Wonderful Radio merupakan novel yang ditulis oleh Lee Jae Ik yang juga penyiar radio. Programnya Cult Show merupakan program yang menghadirkan para pekerja seni Korea seperti Song Hye Kyo, Super Junior, Big Bang, Wonder Girls, 2PM, TVXQ dan masih banyak lagi. Melihat sosok orang-orang yang bekerja sama untuk menghasilkan sebuah program menginspirasinya untuk menulis novel ini. Wonderful Radio merupakan petikan dari sebuah cerita yang benar-benar terjadi saat Lee Jae Ik siaran. Wah, jadi penasaran yah, siapa sebenarnya Jin Ah, Jae Hyeok dan Mi Ra itu. Dan bagaimana pula nasib Jin Ah kemudian? Apakah dia berhasil untuk terus bertahan hidup dan bangkit kembali dari tuduhan plagiat? 

Untuk itu silahkan baca sendiri novelnya. Dengan membaca novel ini sedikit banyak pembaca akan tahu dibalik layar sebuah stasiun radio dijalankan. Bagaimana sebuah program dikerjakan tidak hanya oleh sang penyiar tapi puluhan orang terlibat di dalamnya. Bagi saya yang (dulu) penyiar radio, sedikit banyak membuat saya lebih menghargai profesi ini dan lebih banyak lagi merindukannya. Ah yah.. it is Wonderful (to work in) Radio, after all. :) 

Happy Reading 

XoXo

V

PS : Novel ini telah difilmkan di tahun 2012 dengan judul sama : Wonderful Radio. Shin Jin Ah diperankan oleh Lee Min Jung, Lee Jae Hyeok diperankan oleh Lee Jung Jin , Yoon Mi-Ra oleh Seo Young dan manager Jin-Ah diperankan oleh Lee Kwang Soo. Iyaahh Lee Kwang Soo, Running Man itu. Novel dan film dua-duanya sayang untuk dilewatkan.


Wonderful Radio

[NOVEL] AFTER D-100


"Sejujurnya,aku tidak ingin terlihat putus asa di depan teman-temanku karena tidak memiliki pekerjaan. Sebenarnya,aku yang tidak pernah bekerja susah payah ini rasanya ingin sedikit pamer karena mendapat tangkapan bagus. Itu sebabnya aku cepat-cepat menikah. Saat itu pun aku menyukai Jung Chul Oppa. Tidak, dulu aku ingin memilikinya."  (Kang Gyung Hee)



Kang Gyung Hee, memutuskan menikah di usianya yang ke-22. Masih terlalu muda untuk ukuran Ibu bahkan kakak laki-lakinya sendiri. Dia baru saja selesai kuliah dan belum bekerja. Namun ketika suatu hari ia menerima ajakan kencan dari  Lee Jung Chul yang juga teman dari kakak lelakinya, Kang Gyung Hee memutuskan untuk menikah. Seminggu setelah kencan mereka, pihak keluarga Lee Jung Chul mengundang untuk bertemu untuk membicarakan pernikahan. Sayangnya dari hasil pembicaraan itu, Kang Gyung Hee sadar bahwa keluarga Lee Jung Chul meminta terlalu banyak. Ia pun panik dan bingung karena ternyata ibunya malah mencatat semua permintaan keluarga Jung Chul dengan senyum puas. Gyung Hee merasa ini bukan pernikahan tetapi transaksi jual beli. Maka ia pergi menemui Jung Chul untuk membatalkan lamaran tersebut.


Sayangnya seperti telah di takdirkan untuk bersama, persiapan pernikahan tetap di jalankan oleh kedua keluarga. Kang Gyung Hee dan Lee Jung Chul pun akhirnya menikah. Selama dua tahun Kang Gyung Hee menjalani kehidupan sebagai rumah tangga. Terkadang rasanya dia ingin melepaskan dan mengabaikan segala hal dalam kehidupannya. Dua tahun menikah, mereka masih belum punya anak juga. Suaminya selama dua tahun ini selalu acuh tak acuh setiap kali ia menyambutnya dengan gembira. Jung Chul tidak pernah mendengarkan ketika diajak mengobrol dan hanya sibuk membaca buku. Suami yang bahkan tidak mengingat hari ulang tahun pernikahan mereka. 

Disaat itulah, pada suatu hari dia menemukan foto-foto dan dokumen dari dalam laci meja suaminya yang selalu terkunci. Gyung Hee merasa selama itu dia tidak mengenal suaminya sendiri seperti yang dia kira. Karena penemuan yang mengejutkan itu, Gyung Hee merasa sangat muak dengan suami dan kehidupan pernikahannya. 
Namun,aku, Kang Gyung Hee, akan tetap bersabar layaknya wanita elegan selama 100 hari lagi. Setelah itu, aku akan menikamnya dari belakang dengan mengajukan gugatan cerai.
Dan disinilah After D-100 dimulai.. 

After D-100 ini ditulis oleh Park Mi Youn. Mengapa D-100? Karena novel ini mengisahkan perhitungan hari mulai dari saat Gyung Hee memutuskan untuk bercerai hingga hari-hari setelahnya. Novel ini memang mengangkat tema pasangan menikah dan problematika yang cukup sulit dan sensitif : Kemandulan. Jalan cerita yang cukup berat dan bernuansa suram ini oleh penulisnya dibuat menjadi lebih mudah diterima pembaca karena adanya tokoh Gyung Hee yang selalu ceria dan lucu. Kesalahan yang dibuat Jung Chul, penyakit kejiwaan yang menyerangnya, munculnya perempuan dari masa lalu, lelaki charming yang belum menikah dan naksir berat pada Gyung Hee serta misteri-misteri kehidupan Jung Chul silih berganti menaik turunkan emosi Gyung Hee. Selama membaca novel ini, pembaca bisa dengan mudah berada di pihak Gyung Hee. Penulisnya pun saat menuliskan novel ini pun begitu. Tetapi semakin mengikuti alur cerita maka pembaca mungkin akhirnya bersimpati pada Jung Chul di akhir cerita. Saya sendiri menganggap terkadang Gyung Hee memang masih terlalu muda untuk menikah. Emosinya masih terlalu labil tapi menganggap dirinya sudah dewasa. Ha! Ini memang hanya sebuah cerita dalam novel,tetapi saya seperti sudah bertemu Gyung Hee dalam kehidupan nyata. *smirk* Tiba-tiba teringat seorang teman yang juga menikah muda (walaupun dia tidak punya masalah dalam hal mempunyai anak).

Well, anyway.. 
Berhubung ini adalah novel tentang kisah perkawinan dan bergenre dewasa, maka jangan kaget jika ada adegan ranjang yang terselip di dalamnya. Yah, jangan kaget seperti saya (fiuh) ! Secara logika dan realnya sih masuk akal juga. Inikan kisah kehidupan dalam berumah tangga. Hal itu wajar dilakukan oleh pasangan suami istri. Toh penulis, penerjemah dan editornya sudah membuat adegan itu sehalus dan "seindah" mungkin. Tapi tetap saja saya kaget get get..hahahaha.. 

Apapun, yang jelas setelah membaca novel ini bisa jadi memberi gambaran tersendiri bagi kehidupan pernikahan baik bagi yang sudah menikah maupun yang belum pengen banget menikah. Bahwa pernikahan itu bukan sekedar,"Hey, i finally married!" tapi ada yang lebih kompleks dan bisa jadi sulit untuk dilalui sendiri hanya berdasarkan "Aku mencintai lelaki itu dan menikahinya". 

In the end, ada satu paragraph dari novel ini yang menarik untuk di kutip. Ini adalah komentar kakak lelaki Kang Gyung Hee saat ia mendengar adik bungsunya ini ingin menikah dengan Lee Jung Chul, teman kuliahnya. 
Sebaiknya kau nanti menikah dengan lelaki yang tidak bisa hidup dan tidak bisa bernapas tanpamu. Cari lelaki yang setidaknya mau pura-pura tidak tahan hidup sendiri tanpamu. Kau ini masih muda, kenapa sudah ribut ingin menikah? Kau harus coba berpacaran dulu, tahu bagaiman rasanya  patah hati. Setidaknya harus ada pengalaman, baru menikah. 
 And the rest is all up to you..  :)

Happy Reading
XoXo

V