The Hunger Games.. Games Yang Menggemaskan

Menggemaskan atau menggenaskan,should i say?

Coba bayangkan jika anda terpilih secara acak sebagai salah satu kontestan dari sekian remaja berusia 12-18 tahun, senang atau malah keder duluan? Permainan yang di sebut The Hunger Games ini adalah sebuah reality show yang di buat untuk menghukum perbuatan pemberontak yang berhasil menghancurkan distrik ke-13. Distrik 1 hingga Distrik 12 harus mengirimkan  seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan untuk ikut berkompetisi di permainan hidup dan mati ini. Mereka dilepas di tengah hutan dan harus tetap bertahan hidup karena hanya akan ada satu pemenang dalam permainan ini. Caranya? Setiap kontestan harus membunuh kontestan yang lain..


Katnis Everdeen Volunteered

The Hunger Games.. Games Yang Menggemaskan

Awalnya bukan  Katniss Everdeen,16 tahun, yang terpilih untuk mengikuti permainan ini melainkan adiknya Primrose. Karena rasa sayangnya pada adiknya itu maka ia mengajukan diri sebagai sukarelawan menggantikan adiknya mewakili Distrik 12. Katnis punya seorang sahabat (cowok) bernama Gale Hawthrone yang juga diikutkan dalam undian kontestan. Kepada Gale lah Katnis menitipkan adik dan ibunya karena yang terpilih dari kumpulan anak lelaki adalah Peeta Mellark,teman sekolah Katnis yang pernah melemparkannya roti saat Katnis kelaparan di tengah hujan. 

Katnis dan Peeta di bawa ke Capitol dan bertemu dengan Mentor pemabuk. Katnis yang kurang bisa bersosialisasi sempat kesal dengan tingkat mentor Haymitch Abernathy,pemenang The Hunger Games edisi ke 50.Sementara Peeta yang pintar mengambil hati bisa cepat akrab dengan mentornya. Menurut Haymitch cara Peeta benar. Walaupun Katnis jago memanah tapi jika tidak bisa mengambil hati publik dia akan susah mendapatkan sponsor. Dengan kata lain akan lebih susah untuk bertahan hidup.

Sponsor?

Ya, seperti halnya acara-acara TV lain yang berdasarkan rating, semakin banyak penonton yang menyukai penampilan seorang kontestan maka semakin banyak pula produk yang ingin mensponsorinya. Hal ini terbukti pada saat Katnis yang berhasil mencuri perhatian para sponsor di hari terakhir persiapan sebelum permainan di mulai. Awalnya Katnis dianggap sepele karena dia tidak bisa memanah tepat ke sasaran. Tapi begitu dia memberi element suprise dengan memanah apel di mulut Babi Panggang yang hendak di santap oleh Producer acaranya, barulah ia mendapat perhatian. 

Dan sponsornya?

Tunggu adegan dimana Katnis terluka bakar atau pada saat Peeta terkena sayatan pedang. Ada ada saja kiriman datang dari sponsor. Jangan membayangkan tiba-tiba ada produk hape melayang atau sabun cuci di pinggir kali lalu kemudian ada running text " Moment ini dipersembahkan oleh...". Tidak se obvious itu sih. Lebih smooth dan gak bikin eneg. 

Katnis and Peeta.. Moment Ini Dipersembahkan Oleh..
And everybody loves Katnis. Tidak saja karena dia adalah seorang volunteer menggantikan adiknya,mempunyai skor awal tertinggi atau kontestan yang tidak sebringas yang lain, tapi juga di dukung oleh kelihaian teamnya dalam "mengemas" Katnis dalam satu paket. Salah satu contohnya ketika ia tampil bersama Peeta dalam parade tribute di malam pembukaan The Hunger Games. Girl On Fire akhirnya menjadi julukannya karena ia menggenakan busana yang bersalut api. Saat Katnis di interview di hadapan berjuta pasang mata dia sempat grogi dan menjawab jujur apa adanya. Tak tahunya itu malah membuat dia lebih di sukai lagi oleh penonton. Sedangkan Peeta yang memang dasarnya gampang mengambil hati malah semakin menaikkan rating saat ia mengatakan sebenarnya dia menyukai seorang gadis tapi gadis itu tidak memperhatikannya sampai saat ia mengikuti The Hunger Games. Bahkan jika ia menang tak akan ada artinya karena itu berarti dia harus mengalahkan gadis itu. 

Jeng jeng jeng.. Sudah mulai kepo yahh?

Film ini diangkat dari buku trilogy yang di tulis oleh penulis muda Suzanne Collins. Semetara saya menulis review ini saya belum membaca bukunya. Tapi saya mendapat kesan film ini terinspirasi oleh Gladiator dan acara-acara reality show di TV. Permainan saling membunuh? Untuk remaja berusia 12-18 tahun pula? Apa reality show semacam American Idol, The X Factor atau The Amazing Race sudah gak jaman lagi yah pada saat itu?

Apapun yah film untuk PG-13 ini cukup menghibur. Seru sekali melihat para kontestan ini dengan berbagai karakter berusaha untuk bertahan hidup. Ditambah dengan bumbu-bumbu ala reality show yang di sisipkan oleh sang producer acara. Mulai dari kebakaran hutan mendadak,di kejar sekawanan monster anjing gila sampai adegan dalam gua ketika Katnis merawat Peeta dan tibalah paket sup dari Sponsor bertuliskan " Is that what you called a kiss?" >> ( Untungnya tidak di persembahkan oleh permen Kiss). But they kissed and someone seemed had his heart broken to see it on TV.
 
Kabarnya masih di minggu pertama pemutarannya film ini sudah berhasil mengalahkan Twilight Saga, Harry Potter dan Batman. Mungkin karena kisahnya yang sudah familiar dengan kehidupan sehari-hari kali yah? Kita bisa dengan mudah bertemu dengan sosok Peeta yang sebenarnya kurang percaya diri dan punya skill yang biasa saja tapi bisa berhasil karena tahu mengambil hati orang lain. Kita juga mungkin punya teman yang skill yang mumpuni tapi gak dilirik lirik juga karena tidak tahu bergaul seperti Katnis. Atau teman seperti Cato yang ambisius sampai gak peduli siapapun bahkan si Rue yang pemalu tapi menyenangkan.

.... I Won't Forget
So what is gonna be? Apakah Katnis yang akan memenangkan The Hunger Games ke 74 kali ini? Bagaimana dengan Peeta? Lalu lalu.. si Gale apa kabar? Well, saya gak mau merusak suasana dengan memberi tahukan endingnya. Walaupun saya tahu ada juga yang sudah googling tentang film ini atau malah sudah baca bukunya. Tapi saya percaya setiap orang punya pengalaman dan kesan yang berbeda untuk setiap film dan buku yang di bacanya. I just say akan ada hubungan Edward - Bella - Jacob lagi sepertinya.. 

Well, Happy Hunger Games! And may the odds be ever in your favor!

XoXo

Vie


Rick Price And Kahitna, Love in Concert

Hujan yang sedari pagi deras membasahi Makassar berhenti siang itu saat penukaran voucher tiket Rick Price And Kahitna Love In Concert di buka. Untungnya langit Makassar tak lagi galau saat malam menjelang. Langit, kamu gak usah ikutan galau juga deh..Ada juaranya lagu galau malam ini : Kahitna. 

Saya bergegas menuju venue. Di tiket tercantum pukul delapan malam adalah waktunya walaupun saya agak pesimis acara akan di mulai tepat waktu. Tak apa. Panitia menggunakan sistem pembagian berdasarkan kelas dan duduk di kursi. Tidak seperti ujian di kelas, semakin jauh dari dosen/guru semakin baik. Nah ini harus cari tempat strategis demi view yang oke. 

Betul saja, di depan sudah penuh terisi. Hati masih tenang, selama ini saya nonton pertunjukan musik eventually saya pasti bisa ke depan panggung. *Nyengir*. Sambil duduk manis di tengah bersama "Gerombolan Asik" saya menyusun strategi. Enaknya sih nonton pertunjukan musik yg lagu-lagunya asik jangan sambil duduk biar bisa seru-seruan. Tawaran ID Card Press dari kantor ( Yes, You're late Mister.. Kenapa gak dari tadi sore sih) sebenarnya bisa menempatkan saya di barisan terdepan bersama para crew TV lainnya. Tapi setelah beberapa menit berada di antara mereka saya merasa gak enak meninggalkan Gerombolan Asik. Balik lagi duduk di deretan tengah menunggu performancenya Om Rick Price. 

Postcard from Rick Price
Beda. Itulah yang tampak dalam konser Rick Price dan Kahitna. Tidak seperti konser-konser pada umumnya di mana musisi Indonesia hanya menjadi pembuka dan musisi luar negeri yang menjadi bintang utamanya, kali ini Rick Price akan tampil sebelum Kahitna. Tapi sebelum Om Rick muncul, tersebutlah dua orang MC yang kurang persiapan. Sepanjang yang saya tahu dua MC dari radio M dan P ini sudah sering ngemsi. Sayangnya mereka mungkin gak cari tahu apa aja sih lagu-lagunya Rick Price dan Kahitna. Si emsi cowo dengan gamblangnya bilang,"Siapa sih disini yang gak tahu hits-hitsnya Kahitna, seperti Jinak-Jinak Merpati..." 

Jedeeeenggggg!!! 

Saya sebagai orang yang pernah mentraining si emsi cowo di radio M jadi malu gimana gitu. Don't hide behind your cue card,please cari tahu siapa yang lo presenting ini.. Gak usah terlalu banyak di bahas lah dua MC ini.Tanpa babibu lagi muncullah Rick Price dengan setelan keren dan gitar. 
Jreng!

Tak banyak basa basi Rick memainkan lagu-lagu dari album lawas dan barunya. Seperti yang saya duga sebelumnya sambutan penonton Makassar adem ayem saja. Malah lebih banyak yang sibuk dengan gadget dan socmed mereka masing-masing. Satu dua kali saya dengar dari belakang teriakan "Heaven Knows" yang tentunya di tanggapi sepi oleh Rick Price. Penyanyi ini memang terlihat sedikit kaku dan jaim dengan penonton. Terlalu dingin. Memang dia sempat melemparkan satu dua pertanyaan ke penonton, misalnya : Siapa yang disini pengantin baru dan Siapa yang nonton dengan anaknya? Hanya saja penonton Makassar juga menanggapinya dengan ke-jaiman yang sama. Mungkin ada yang kurang mengerti bahasa Inggris tapi tak sedikit yang memang kurang jelas mendengar apa yang di katakan Rick. Entahlah. Tapi saya sempat membuka jasa translate bahasa Inggris ke Indonesia gegara Rick.*Eh bayar dong :p * #ditimpukseBallRoom.

Si Muka Jutek Bagi-Bagi Tttd
Penonton Makassar mulai sedikit bersuara ketika Rick menyanyikan "Nothing Can Stop Us Now"  Oh well, gak bisa nge-blaming mereka juga sih. Lagu-lagu Rick Price yang lekat di ingatan mereka mungkin hanya tiga : Nothing Can Stop Us Now, If You Were My Baby dan Heaven Knows. Jadi ketika Rick membawakan lagu-lagu dari album terbarunya "The Water's Edge" kebanyakan masih dengan duduk manisnya hanya bertepuk tangan selayaknya. At least they were trying to be nice. Walaupun begitu tidak melunturkan standar perform Rick Price, tetap kuat dan maksimal.
Hingga kemudian Rick Price mengumumkan ia akan perform sebuah lagu bersama Kahitna, penonton langsung semangat lagi. Melihat tanggapan penonton yang bertolak belakang dengan sebelumnya,rasanya pengen menepuk bahu Rick,"Yang sabar yah.. Tapi kami menyimak loh tadi.."pake hastag #PukPuk.

Rick Price silam ke belakang panggung dan Kahitnya yang jelas-jelas lebih di tunggu mulai menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Di buka dengan Everybody Needs Somebody, Cerita Cinta dan Aku Punya Hati tanpa jeda. Setelah lagu ketiga Hedi Yunus mulai menyapa penonton di timpali ke Mario dan Carlo.Vokalis yang satu ini bener-bener jadi andalan Kahitna sekarang nampaknya. Gak bisa disalahkan juga secara sebagai penyanyi berusia paling muda dan good looking bisa di pakai untuk ngegaet para fans baru yang Abege gitu. Maklum untuk bertahan di industri musik don't underestimated the power of putih abu-abu tampaknya. Walaupun yang anak kuliahan juga tetap jadi perhatian. Tapi harusnya sih biar bagaimanapun Kahitna jangan sampai lupa dengan fans lamanya yang sudah dewasa. Mereka gak bakal ada selama 25 tahun tanpa dukungan fans lama loh..

Kahitna Nyanyi Lagu Cantik
Secara garis besarnya Kahitna who own the night. Mereka lebih komunikatif dan sangat bisa mengambil hati penonton Makassar. Bukan saja dengan cara trio vokalis membuat penonton lain sirik sesirik-siriknya dengan seorang penonton yang di tarik ke atas panggung tapi juga joke yang di lontarkan Yovie Widianto tentang miscommunication dengan orang Makassar.

Ceritanya sewaktu kuliah Yovie pernah bertandang ke kosan temannya yang berasal dari Makassar. Waktu itu ia bertanya,"Kopi mana?" Maksudnya nanya Kopi buat dia mana. Tapi di jawab oleh teman Makassarnya dengan "Sapi main bola". Bingunglah Yovie. Ditanyain Kopi buat dia mana kok malah diberi jawaban tentang Sapi sih. Padahal dalam dialek Makassar sehari hari Sapi itu kependekan dari SA PergI sedangkan Kopi itu Kau PergI. Lumayan bisa buat orang Makassar ini tertawa tanpa merasa di tertawakan :D

Konser malam itu di tutup dengan penampilan bersama Kahitna dan Rick Price membawakan lagu Heaven Knows. Rick Price pun turun ke panggung menyapa penonton untuk terakhir kalinya masih dengan muka lempengnya. Anyhow, konser ini sebenarnya boleh dikatakan kurang memuaskan buat saya bukan karena perform mereka tapi karena ketentuan dari Panitia yang mensetting penonton untuk duduk. Padahal akan lebih seru jika dibuat kelas festival,berdiri di depan panggung seperti biasa.

Heaven Knows - Rick Price & Kahitna



Priceless Moment with Mr.Price
By the way setelah konser habis panitia memberi kesempatan untuk tanda tangan Rick Price. Aksi dorong-dorongan pun terjadi di depan meja dimana Rick dengan muka lempengnya mendatangani setumpuk postcardnya. Saya berhasil dua kali minta tanda tangannya malah sempat foto bersama walaupun nyempil-nyempil dengan "Gerombolan Asik".

Apapun memang gak ada gading yang tak retak, demikian lah.. Sampai ketemu lagi di konser berikutnya.

XoXO

V

My Kopi O' ... Ooohh Begini Rasanya

Ketika di Bulan Desember tahun lalu ada sebuah slot di Mall Ratu Indah yang di tutupi label "My Kopi O' " di sepanjang papan tripleks yang mengelilinginya sy langsung kepikiran "Yeah, another place to ngopi2 cantik to go". Dan keadaan itu terus terlihat sampai kemudian benar-benar buka di awal bulan Maret. Gila, lama bener preparationnya.. Lebih lama dari tempat ngopi sebelah yang sama-sama "pasang banner" opening soon ituh..

Anyway, Senin siang saya dan seorang teman memutuskan untuk ngopi-ngopi cantik di tempat itu. Menurut seorang di ranah twitter Cappuccinonya enak. Saya sih sebenarnya kurang begitu yakin karena pas saya nanya ke dia tentang satu tempat ngopi di lokasi yang sama dia malah belum pernah nyobain Cappuccinonya.Padahal menurut saya Cappuccino buatan mas Barista juara nasional itu belum ada tandingannya, at least di Makassar. 

My Kopi O' ... Ooohh Begini Rasanya

Jadi masuklah saya ke My Kopi O'. Satu hal yang langsung menarik perhatian adalah konsep design Open Kitchennya. Cantik. Didesign dengan berwarna putih membuat tempatnya jadi terkesan luas dan homey. Saya duduk manis di meja non-smoking dan datanglah mas-mas waiternya yang lebih terlihat seperti satpam bagi saya. Dia menyodorkan dua menu ukuran koran. Satu untuk menu Food dan satunya lagi menu Beverage. Di beberapa sisi  nama makanan/minumannya nampak icon jempol dan gambar cabe. Menurut mas-masnya itu berarti menu pilihan dan tingkat kepedesan masakannya. Yang menarik dari menu ini adalah di bagian belakang ada informasi bisa berfoto dengan setting My Kopi O'. Melihat design interiornya memang boleh banget di pakai untuk foto Pre Wedding atau semacamnya. 

Back to menu, My Kopi O' menyediakan menu yang beragam mulai dari ala Melayu-peranakan Cuisine, ala Japan hingga Western. Pilih punya pilih ini lah menu lunch kami tadi..

Caesar Salad


Cappuccino with Almond





Yakiniku Noodle & Ice Coffee Blackforest 






The Taste


Sebagai pencinta Cappuccino saya cuma bisa bilang penambahan rasa tertentu dalam Cappuccino hanya akan merusak cita rasa. Almond lebih enak di campur di bahan kue bukan di kopi. Untuk yang suka ngopi-ngopi sachetan ya bolehlah mencoba Cappuccino disini.Ringan cenderung manis. Gak perlu tambah gula. FYI Kopi basednya adalah kopi Robusta Lampung. Sementara Caesar Saladnya lumayan enak walaupun rasa Bawang Bombaynya agak susah hilang dari lidah. Habis makan ini better siapin permen atau mouthwash yah.. 

Pilihan ke dua adalah Yakiniku Noodle yang rasanya juga tidak terlalu istimewa walaupun juga tidak bisa dikatakan gak enak. Mungkin karena sudah terlanjur kecewa dengan Cappuccino nya jadi masakan ini dan Ice Coffee Blackforest nya pun akhirnya jadi biasa saja. 

The Price 


Memang sih di menu kisarannya antara 20rb-an hingga 40-rb-an. Tapi jangan lupa ada tax dan service nya. Empat menu tadi menghabiskan uang Rp.154rb-an. Mahal untuk ukuran rasa yang biasa saja. Dengan harga segitu saya bisa ngopi di Sbux ato di Black Canyon Coffee with a better taste of Coffee. 

Is it worth to hang out there?


It depends. Untuk ngopi2 cantik atau nge-date tempatnya tepat karena ada sisi romantisnya juga. Jika hang out with various people yang tujuannya gak sekedar ngopi tapi juga makan berat, tempat ini juga boleh di jadikan pilihan karena menunya beragam mulai dari Appetizer hingga Dessert. Tapi bagi saya mungkin cuma sekali itu saja saya mau berkunjung lagi kecuali ada yang traktir :)

Bagaimana pun selalu ada harga untuk setiap kenyamanan. Tapi soal kopi, mungkin masih banyak tempat yang lain.  Silahkan buktikan sendiri. 

XOXO


V

Because It's Me.. As Simple As That


I do believe that people choose something based on what they are like. I'm a simple girl who pursue my dreams by doing what i like the most. I love writing,listening to music,reading book and traveling. Those things and the path in life that i chose finally brought me to broadcasting.

I have been a full time government officer who being placed in public broadcasting TV for about a year and half. Actually when i applied to be government officer for this Ministry, it never crossed my mind that i would be joining the TV department. I was very shocked that moment. But because  i also being part time radio announcer since i was in university,i have some experience and skill that related enough to my new job. The media may be different but the based rules are quiet the same. So i thank God, i have this experience on radio broadcast so that's why i won't let it go although I have my full time job. So far, because my show on the radio is only on Saturday and Sunday the part time job and a full time one go on very well. 

To think about it, my full time job and my part time job both need creativity. How to make the audience and the people stick to the program and choose it as the trusted media is a very challenging job to do. Especially because i produce my own radio show as well as being the DJ myself. So i have to find the topic,the guest (if there's any),arrange the playlist and communicate it all to the audiences. Sometimes it makes me crazy when the preparation is need more time and at the same time i got schedule in the main office. As an editor for TV News Programme there's no official day off. Whether it's weekend or holiday if it's my name is on schedule i have to work. So typically my routine is a very hectic especially on weekend. Sometimes it's a little bit frustrating but above of all the hectic things,most of the time i think it's very cool. I'm sure most people think that person who works in the media such TV and Radio is very cool,right? (Oh.. my confidence)

Anyway..it's the same thing of what i'm thinking when it comes to technology. Everyday there are a lot of some things new invented and there are many gadgets that thrown in to the market. If it's only to follow desire , i probably end up with buying all the cool gadget everytime. Thank God, i'm not impulsive person. Choosing the right one that suitable with my needs is sometimes hard. For example, because i love to writing and my two jobs required me to do media editing such video and voice, i need a notebook that not only looks good but also feels good without make me stress. There are many times i got stressed out by the notebook or personal computer that suddenly freeze out when i edit video or voice for my project. I need something that can fulfills my needs.

Then i saw this..i think i don't need to look for more. It's just so me. For someone who do creative works,this notebook seems the right one. Tough,thin,light,3rd generation Intel Core i7 processor,AMD Radeon HD 7670M GPU, VRAM 1 GB and so handy. It has gesture hand which is so cool. You know why it's cool? Because you can wave your hand to start music playback, advance a slide in a Powerpoint presentation,turn one webpage to another like turn the pages of the book . The control technology taps the webcam to recognize gestures. It allows musicians to record, edit, and produce music as well as  i can edit my video easily. Moreover the battery has lifetime for 7 hours. And the color.. oh my God.. It's metallic with soothe a purple color tinge.  If there's love at the first sight, it would be that moment when i saw this Vaio Seri E 14P.

I want one.. And the guy who hold it,too.. :) 
It's a breath taking. I can do video or audio editing and if i got stuck of idea i can relax my mind by browsing the internet at the same time. I don't know how much the price but then again..for this quality and the brand i think it's worth to buy. Although i don't rejected any gift of this notebook, i only can say i'm gonna have it right away. There are probably any other notebooks but it suits my needs. It's supports what i'm doing which need creativity and yet looks cool just like me. Hahaha.

So it's probably true. People intend to choose based on what they are alike. As for me i think i found the one, i choose this Vaio Seri E 14P as my choice. Because it's me.. As simple as that.

Books Of The Month

Setiap bulan saya selalu mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli keperluan-keperluan harian. Buku salah satu diantaranya. Bulan ini saya bertekad membeli dua buku saja. Selain karena dua buku itu saja harganya sudah 200 rb-an, saya masih punya utang 2 buku yang belum saya baca. Rencananya sih akan saya review juga. Sayangnya seperti juga beberapa buku sebelumnya yang tergelatak manja di sebelah tempat tidur saya, sepertinya saya sudah mulai kekurangan motivasi untuk menuliskannya dalam blog ini.

Anyway...
Here are the books i bought.. Jreng jreng...





Books Of The Month

Onward (Howard Schultz dan Joanne Gordon)

Saya penasaran saja tentang asal muasal Starbucks yang kata banyak orang kopinya biasa saja ( mmh iya juga sih) tapi bisa mendunia banget. Beberapa hari membawa buku ini kemana-mana, sempat di kira karyawan Starbucks. Halah! Saya aja gak yakin karyawan Starbucks baca buku ini. Padahal buku ini bagus banget untuk tahu History dan esensi tempat mereka bekerja. Diluar issue Starbucks adalah penyumbang terbesar Israel dan serangan-serangannya ke Palestina, untuk belajar management dan building your own company rasanya tidak apa-apakan membaca buku ini? 


Dia Ada Dimana-mana ( M. Quraish Shihab) 

Sebelumnya saya sudah membeli dan membaca buku ulama ini. Tidak menggurui tapi bertutur sebagaimana seorang bapak pada anaknya. Persis seperti yang biasa beliau lakukan di acara-acara keagamaan di TV. Itulah mengapa saya tidak ragu untuk membeli buku ini. Buku ini mengajak kita lebih memperhatikan hal-hal kecil di sekeliling kita yang sesungguhnya bisa mempertemukan kita dengan "tangan_Nya". Setiap saat dan di semua tempat. 

Hermes Temptation ( Fitria Yusuf & Alexandra Dewi) 

Ini bukan novel. Ini kisah tentang dua sosialita yang jadi reseller sebuah brand yang bernama HERMES. Lika liku dan keseruan mereka menjadi reseller sekaligus cerita-cerita mereka tentang para client penggila brand tersebut. Membacanya tidak membuat saya tiba-tiba pengen punya Tas Birkin juga sih, tapi paling gak saya berkesimpulan "The real beauty of a bag rests upon the people who carry it." Gila aja harganya bisa seharga rumah, isi tasnya apa aja yah? Oh iya, buku ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Underground ( Ika Natassha) 

Nah kalo ini asli Novel. Berkisah tentang sekumpulan anak muda yang bekerja di salah satu TV ala MTV  yang berlatar belakang kota New York. So far saya membacanya agak bosan juga. Saya gak melihat keseruan dari novel setebal 385 halaman dalam bahasa Inggris ini. Mungkin karena sang penulis tidak betul betul tahu dunia pertelevisian jadi gak bener-bener bisa masuk ke dunia para tokoh-tokoh kreasinya. Sebelumnya saya sudah pernah membaca novel-novel Ika Natassa seperti A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare dan  Anthology Rasa yang kesemua tokoh utamanya berlatar berlakang banker ( which is "dia banget"). Jadi berasa banget ketika dia menggambarkan pekerjaan para tokoh ini hanya dengan beberapa penggambaran mereka membuka atau menutup siaran mereka. Ribet-ribetnya dunia TV broadcasting, being producer sampai suatu acara jadi tontonan tidak begitu kerasa. Apapun itu nice try untuk penulis yang katanya gak pernah pake draft dan langsung menulis saja. No wonder, karakternya sekali lagi sangat Ika Natassha banget. :) 

Nah loh, jadi di review dikit-dikit deh.. 

Apapun itu semoga tidak menyurutkan keinginan yang lain untuk membacanya. Jikapun sudah ada yang pernah membaca salah satu atau salah dua buku-buku diatas dan punya pendapat berbeda gak masalah. Sudut pandang dan selera orang beda-beda kan ya... :) 

And it reminds me, kalau buku biasa saja saya punya waktu membacanya bahkan hingga di angkot ataupun saat menunggu, harusnya waktu membaca Al-Quran harus lebih banyak yah :)

The Reader and The Sinner..

xoxo

V