Review Lensa Prime 7artisans 50mm F 1.8 Untuk Kamera Sony E-Mount

Akhirnya kesampaian juga punya lensa prime untuk kamera mirrorless Sony Alpha 6000 gue. Jadi dulu waktu beli kamera ini gue sempat ikut kelas fotografi dasar gratis yang diadakan oleh DOSS (toko tempat gue beli) dan Sony.  

Salah satu lensa yang dipamerkan dan bisa dicoba adalah lensa Sony E-Mount 50mm f/1.8 OSS . Sayang harganya muaaaahal, sampai sekarang gak kebeli.

Setelah sekian lama berpikir, akhirnya gue memutuskan untuk mencari opsi merk lain yang kompatibel dengan Sony E-mount. Pilihan jatuh kepada brand 7Artisans, buatan China. 

Review Lensa Prime 7artisans 50mm F 1.8 Untuk Kamera Sony E-Mount



Pertama, gue bahas sedikit alasan ingin memiliki Lensa prime dan apa bedanya dengan lensa kit. 

Perbedaan Lensa Prime dan Lensa Kit 

Lensa prime atau biasa juga disebut dengan lensa fixed adalah lensa dengan panjang fokal yang tidak dapat diubah. Artinya ketika ingin memperbesar atau memperlebar jangkauan objek yang ingin difoto, Kita harus melakukan zooming secara manual. Caranya dengan menggunakan kaki alias maju mundurkan badan. 

Sementara lensa kit adalah lensa yang dipaketkan dengan kamera. Untuk Sony Alpha 6000 lensa kitnya adalah lensa zoom  yang biasanya adalah lensa zoom 16-50mm. 


Meskipun hasil foto dengan lensa kit sudah luar biasa, gue merasa masih memerlukan lensa prime. Khususnya jika gue membutuhkan foto portrait yang bokeh. 

Sementara itu, dengan konstruksi lensa zoom yang kompleks, biasanya diafragma yang ditawarkan hanya F3.5 atau F4. Kurang cocok apabila digunakan untuk foto potret. 

Unboxing Lensa Prime 7artisans 50mm F 1.8 

Gue memutuskan membeli lensa 7artisans ini di salah satu market place dengan harga Rp. 799.000 dengan potongan diskon Rp.25.000. Total jadinya Rp.774.000 bebas ongkir

Hanya butuh tiga hari, lensanya tiba dengan aman di rumah. 

Ok, kita lihat dulu isi boxnya. Seperti biasa ada kartu garansi dan kwitansi pembelian. Penting disimpan, karena ada garansi 1 tahun . Ada manual user juga, dalam bahasa China, jadi sudah pasti gak bakal aku baca karena kagak ngerti. 

Okay... so here is the lens



Lensa 7Artisans 50mm f/1.8 untuk kamera Sony ini merupakan lensa yang memiliki bentuk desain yang mungil. Bodinya cukup kokoh, ringkas dan tidak terlalu berat. Berbahan metal dengan optik kaca yang berkualitas tinggi. Lumayan mudah dibawa ke mana-mana. 

Menurut info yang gue baca berkat pelindung neoprene dengan kepadatan yang tinggi, lensa ini dapat bertahan dan digunakan pada kondisi cuaca yang buruk sekalipun. tahan terhadap benturan dan goresan yang tidak disengaja, serta tahan air. Walaupun begitu, gue gak pengen juga lensa ini kena air.  Sayang!




For your information, Lensa 7Artisans 50mm f1.8 for Sony E-Mount ini tidak memerlukan adapter. Tetapi sebelum digunakan, ubah settingan kamera di menu gear opsi ke 3. Pilih "Release Without Lens" nya di "Enable". Jika tidak, maka kamera menganggap tidak ada lensa yang terpasang jadi gak bakal bisa motret. 

Hasil Foto Menggunakan Lensa 7Artisans 50mm F/1.8 

Lensa 7Artisans 50mm f/1.8 yang satu ini memiliki bukaan f/1.8 sampai yang terbesar f/16. Tipe fokus lensa ini adalah manual dengan jarak fokus terdekat 0,5m. Dengan spesifikasi tersebut, kamera ini mampu menghasilkan foto berkualitas dengan bokeh yang cukup baik. 

Indoor



Outdor 



Portrait 



Portrait 


Sebagai perbandingan, ini adalah foto yang menggunakan lensa Sony E 50 mm f 1.8 OSS yang fokusnya otomatis. 

Gimana menurut kalian, perbandingan bokehnya? Komen di kolom komentar ya!

Kesimpulan: 

So far menurut gue, lensa 7 Artisan ini lumayan kok. Dari sisi harga jika dibandingkan dengan lensa 50mm f/1.8 lainnya, 7Artisans 50mm f/1.8 untuk kamera Sony ini adalah lensa yang tergolong murah. Kualitas bokehnya pun gak kalah dengan lensa Sony E 50 mm f 1.8 OSS. 

Kekurangannya adalah pengaturan fokus lensa 7Artisans 50mm f/1.8 dilakukan manual. Sementara lensa Sony E 50 mm f 1.8 OSS sudah auto fokus sehingga lebih mudah. 



Meski begitu, ini tidak menjadi masalah karena kita bisa mengatur fokus sendiri. Jika kamu tidak keberatan dan mau repot mengatur fokus, sepertinya lensa lensa 7Artisans 50mm f/1.8 ini cocok buat kamu. 

Bagi gue, lensa ini tidak mengecewakan dan sepadan dengan harganya. Meskipun jika nanti ada rejeki lebih, kayaknya sih pengen punya lensa Sony beneran. Sementara itu gue sudah cukup puas dengan lensa 7Artisan 50mm f/1.8 ini. 




Gimana, menurut kamu? 

Untuk review lebih lengkap silahkan nonton video reviewnya di Vita Masli Youtube Channel. 



5 Hal yang Menggelitik dari Film Tilik

Trending topic di Twitter memang luar biasa,ya! Ada dua nama perempuan yang bertengger di sana. Sebut saja namanya Zara dan Bu Tejo. Masing-masing dengan 'video'nya sendiri. 

Gue gak mau bahas video nama yang pertama. Kali ini marilah kita berkenalan dengan Bu Tejo, karakter pemeran utama dari sebuah film pendek berjudul 'Tilik'. 




5 Hal yang Menggelitik dari Film Tilik 

Film ini sebenarnya adalah sebuah film yang dibuat tahun 2018. Sempat memenangkan sebuah ajang penghargaan film. Entah kenapa baru diupload di You Tube pada tahun ini dan dengan cepat menjadi viral. Yuk, kita tilik apa aja yang menggelitik dari film Tilik

1. Cerita Sehari-Hari 

Ceritanya sebenarnya sederhana. Sekumpulan ibu ibu desa asal Bantul  menuju rumah sakit di Jogja untuk menengok (Tilik) Bu Lurah. Ibu ibu ini terdiri dari Bu Tejo, Yu Ning, Yu Tri dan beberapa ibu-ibu lainnya. Mereka berangkat menggunakan truk yang dikemudikan oleh mas GoTrek. 


Sumber : Trailer Film Tilik Ravacana Films


Sepanjang perjalanan, bu ibu ini mulai ngobrol. Biasanya yang terjadi buntut-buntutnya salah satu dari bu ibu ini pasti menyebar 'berita hangat'. Inilah yang dilakukan oleh Bu Tejo. 

Subjek pembicaraannya (bukan gosip loh, Bu Tejo gak mau mengakui hal itu) adalah seorang wanita karir yang masih lajang di desa mereka. Dian, namanya. 

Menurut Bu Tejo, Dian ini 'mencurigakan.' Belum berapa lama kerja, sudah bisa beli ini itu. Sepanjang perjalanan dari desa mereka di kabupaten Bantul hingga ke Jogjakarta, mulut Bu Tejo sangat 'lentur' menyerang Dian. 


Sumber : Ravacana IG 


Obrolan buibu ini makin seru karena tidak semua mendukung asumsi Bu Tejo. Adalah Yu Ning yang sangat menolak pembentukan opini tentang Dian oleh Bu Tejo. 

Adu mulut pun tak terhindari. Disinilah keseruan film pendek ini semakin menjadi. 

2. Ada Apa Dengan Bu Tejo? 

Ini bukan judul sequel dari film Tilik ya! Meskipun memang pertanyaan ini cukup menggeligitik. Ada apa dengan Bu Tejo? Mengapa dia bisa sangat viral hingga meme dan stikernya di mana-mana? 

Mengapa orang yang kelihatannya begitu nyebelin malah diam-diam disukai dan film Tilik pun ditonton beramai-ramai. 

Padahal filmnya berbahasa Jawa, tetapi yang nonton se-Indonesia raya. Sungguh pemersatu bangsa sekali ya Bu Tejo ini. 




Memang ada yang menarik dari karakter Bu Tejo ini. Sebenarnya orang dengan tipikal Bu Tejo dalam kehidupan sehari-hari kita banyak. Mulut yang lentur, bergosip dengan sangat elegan. Gue aja kagum loh dengan kemampuan berkomunikasi Bu Tejo ini. 

Ibarat buzzer, Bu Tejo ini pintar banget mengarahkan opini tanpa audience nya tahu sebenarnya sedang dibentuk opininya. Luwes dan tampak tidak terganggu jika ada yang tidak setuju dengan pendapatnya. Tetapi ketika diserang balik, dia bisa lebih ngegas dibanding yang menyerang. 

Adu mulut Bu Tejo dan Yu Ning

Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya juga banyak kan yang seperti itu? 

3. Karakter di Film Tilik Sebenarnya adalah Kita 

Sebenarnya tidak hanya Bu Tejo. Karakter seperti Yu Ning yang kritis dan tidak mudah percaya rumor sebelum terpampang nyata di depan mata juga menarik. 

Pada kehidupan sehari-hari, karakter seperti Yu Ning ini adalah orang yang melihat segala sesuatu itu positip. Pokoknya bela terus, jangan sampai kendor. 




Karakter Bu Tejo, Yu Ning, Yu Tri, Yu Sam ini terasa tidak asing bagi kita. Ngaku deh buibu kompleks atau jeng jeng sosialita yang demen arisan, dalam kelompok kalian ada toh yang seperti ini? 

Belum lagi yang demen ngesosmed. Team julid vs team pembela juga ada. Masih ingat kasus Zara Adisty yang juga viral hanya selang sehari sebelumnya? 




Gak sedikit yang menyerang Zara seperti Bu Tejo. Gak kurang juga yang membela layaknya Yu Ning. Akhirnya muncul deh cuitan "Keadilan sosial bagi paras jelita". 

4. Detail dan Ending yang Menarik 

Tidak bisa dipungkiri film ini memang menarik. Dari ceritanya yang mengangkat kearifan lokal yang mana warga desa menjenguk sesama warga yang sakit. Kemudian diselipkan 'kebiasaan-kebiasan' yang lebih umum dilakukan orang. 

Muntah saat bepergian dengan kendaraan, misalnya. Banyak ngomong tapi pas diminta turun tangan kerja malah diam aja, ada juga kan? 




Bahasa yang digunakan pun adalah asli bahasa daerah. Pemainnya yang benar-benar orang Jawa, bukan aktor yang memedok medokin pengucapannya. 

Oiya satu lagi, endingnya yang tak terduga! Persis drama Korea saja. Jika drama Korea punya Reply 1988, maka bu ibu di film Tilik ini adalah bu ibu di gang Ssangmundong. 

5. Jangan Remehkan The Power of Emak Emak 

Meski banyak yang memuji film Tilik ini, ada juga yang menganggap film ini memberi pesan moral yang salah. Ada yang khawatir bahwa bisa jadi penonton mengambil kesimpulan bahwa menyebarkan rumor itu gak masalah kok. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa film adalah media propaganda yang baik. Entah itu mempropagandakan kebaikan atau keburukan. Tetapi itu balik lagi kepada si penonton. 




Film Tilik memperlihatkan dua hal tersebut. Termasuk juga sisi abu-abu dalam kehidupan ini. Meski memang apa yang dilakukan Bu Tejo menghibahi Dian itu salah. Namun gak selamanya membela mati-matiin seperti Yu Ning itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan. 

Check and recheck fakta agar tidak mudah termakan hoax itu penting. Tetapi jangan lupa, selalu ada kemungkinan-kemungkinan. Hal yang kemudian bisa menjadi pertimbangan agar tidak membela membabi buta. Apalagi sampai salah waktu menjenguk, misalnya. 

Yu Sam dan Yu Tri

Belajarlah pada Yu Sam yang netral, tidak memihak meskipun kelihatannya hanya agar tidak dimusuhin orang segrup. Ambil pelajaran dari Yu Tri, jelas kepada siapa harus memihak. 

Yu Ning juga bisa dijadikan contoh agar jangan buru-buru mengambil keputusan. Gak nanya-nanya, sudah memutuskan ngajak orang sekampung untuk menjenguk Bu Lurah. 

Bu Tejo pun tidak sepenuhnya menjadi musuh masyarakat di sini. Dia punya sisi baik, dia tidak menyalahkan orang lain bahkan ketika orang itu benaran salah. 




Disaat Yu Ning salah informasi yang mengakibatkan mereka datang jauh-jauh tapi tidak bisa menengok Bu Lurah karena masih di ICU, Bu Tejo santai aja tuh! 

Gak nyalahin Yu Ning. Dia malah menyarankan belanja ke Pasar Beringharjo. Saran yang kemudian disambut gembira oleh buibu. Bu Tejo benar-benar pemersatu bangsa! 
Dadi wong ki yo sing solutip - Bu Tejo, 2018 

Belajar juga dari Ibu Ibu ini, bahwa sehebat apapun kita berantem dan berbeda pendapat, kita harus kompak! Apalagi pas ditilang maupun mendorong truk yang mogok.  Jangan ragukan The Power of Emak Emak. 

Anyway, selain para pemeran utama, gue sangat mengapresiasi para bu ibu extras. Kalian luar biasa, Mak! 

Kesimpulan : 

Akhirnya gue cuma bisa bilang, akhirnya ada lagi film Indonesia yang pantas untuk dibicarakan. Semoga sinetron Indonesia bisa belajar dari film pendek ini. Bahwa hal sederhana dan gak lebay bisa jadi tontonan yang menarik, asalkan digarap dengan serius. 

Jangan lupa! Bu Tejo, Yu Ning, Bu Tri, Yu Sam, Buibu yang muntah di truk, Buibu yang nge Insta Story saat protes ditilang bahkan mungkin Dian, mereka itu adalah kita. 

Menurut kamu? 

5 Kesalahan Blogger dan Cara Membuat Blog Berhasil

Hari gini di saat menjadi You Tuber sudah sangat menjanjikan, selebgram pamornya masih naik dan Tiktok merajalela, ternyata masih banyak yang pengen jadi Blogger. 



Sebagai blogger ada beberapa hal yang gue pelajari dari pengalaman sekitar 5 tahun serius ngeblog. Kesalahan-kesalahan yang menurut gue sebenarnya bisa dihindari atau paling tidak diminimalisir. Beberapa diantaranya gue bocorin di sini : 

5 Kesalahan Blogger dan Cara Membuat Blog Berhasil 

 1. Tidak Konsisten 

Oh yes dear, konsistensi sebenarnya diperlukan dalam hal apapun. Beribadah, mencintai, menjaga berat badan (eh!) saja butuh konsistensi. Apalagi bekerja. 

Menjadi blogger gue anggap sebagai profesi. Sesuatu yang tidak memerlukan datang ke kantor dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, gak perlu dandan atau berpakaian rapi. 

-- meskipun jika lu mau gak ada yang ngelarang juga,sih!-- 

Kamu gak perlu punya kantor 

--walaupun bisa saja men set up sudut rumahmu menyediakan meja kerja yang nyaman. 

It's literally like profesi yang santai dan suka-suka di mata orang lain tetapi jika kamu sudah benar-benar terjun di sana, yah gak sesantai dan suka-suka gitu juga. 

Salah satunya yah itu : Konsistensi. 



Seorang Blogger memang bisa suka-suka dia aja mau nulis jam berapa, di mana, pake baju apa, sambil kayang pun gak ada yang larang. Biasanya suka-suka itu akhirnya menjadi sangat melar sehingga yah suka-suka kapan gue posting. 

Bisa jadi minggu ini gue lagi rajin banget. Ada dua hingga empat postingan dalam seminggu. Setelah itu gue gak ngeposting apapun sampai dua atau tiga minggu. Bahkan pernah sampai dua bulan. 

Untuk part time Blogger kayak gue yang kerjaan utamanya adalah menjadi abdi negara, ada banyak alasan. Beban pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya (kayak haid hari kedua aja!) . Bisa juga suddenly gue kehilangan mood untuk menulis. Like, I don't know how to begin with  dan akhirnya judul hanya terendap di section draft for months! 

KONSISTEN ADALAH KUNTJI  

Pernah dengar tentang DA PA atau Moz rank yang seringkali jadi patokan para agency (atau sub agency) pemberi job? Katanya untuk menaikkan DA/PA ini seorang Blogger harus tahu tentang SEO alias Search Engine Optimization . 

SEO ini membantu website atau blog lebih mudah mendapatkan ranking tinggi di hasil pencarian Google. Semakin di atas blog kita dalam pencarian suatu kata kunci, makin besar kemungkinan orang mengklik dan membaca postingan kita. 




Indikator utama SEO menurut para pakar gak akan gue bahas di poin ini. Tetapi ada satu hal yang menarik yang gue dapatkan dari salah satu pelatihan online Gapura Digital tentang SEO. 

Google sebagai search engine akan lebih merekomendasikan blog atau website yang memposting secara teratur. 

Gimana caranya teratur? 

2. Kurangnya Komitmen 

Dari pengalaman gue yang kurang konsisten ini, gue belajar untuk membuat jadwal. Dulu, di awal-awal gue ngeblog, gue bahkan punya scrap book yang isinya gue mau posting apa di tanggal berapa. 

Sekarang, gak perlu repot. Ada Google Calender. 


Google Calendar
Contoh Google Calendar Gue 


Kesini-sini, masih sih.. tetapi gak gue jalankan. Gue menganggap diri gue terlalu terburu-buru. Setiap selesai nulis, langsung pengen gue posting hari itu di jam itu. Sebenarnya itu tidak menguntungkan. 

Akhirnya, jika minggu itu gue ada waktu luang dan semangat nulis, postingan gue bisa 2 atau 3 dalam seminggu. Abis itu gue ngilang sampai sebulan karena kesibukan pekerjaan atau merekam dan mengedit video You Tube channel gue. 

Ngomong-ngomong sudah subcribe belum? Cuz, atuhlah ke You Tube Channel Vita Masli

Gue sebenarnya  bisa melakukan cara ini : Menjadwalkan postingan untuk dipublish tanggal dan jam berapa. Jika gue menetapkan blog gue harus update sekali seminggu, gue bisa nulis seharian untuk 3 atau 4 postingan. Gue tinggal menjadwalkannya sekali seminggu, di hari dan jam yang sama. Voila! 

Konsisten ngeblog terjaga, gue juga commit ngeblog dan waktu yang lain bisa gue pergunakan untuk hal lain. 

3. Terlalu Banyak Informasi dalam Satu Postingan 

Kesalahan gue berikutnya adalah gue 'terlalu bawel' dalam satu postingan. Semuanya mau gue masukin. Padahal kemampuan manusia untuk optimal menyerap informasi hanya 20 menit. 

Kalimat terlalu panjang akan membuat pembaca seperti kehabisan nafas. Begitupula paragraf yang terlalu padat akan membuat mata menjadi cepat lelah. Akibatnya.. skip skip skip. 

Pembaca gak akan lama di blog kita. Bounce rate pun akan meninggi. Sayang, ya... 

Bounce Rate Google Analytics
Contoh Bounce Rate di Google Analytic


Gue akhirnya memperhatikan tampilan preview untuk mengetahui bagian mana yang terlalu panjang dan padat. Keuntungannya adalah dengan satu topik yang sama, kita bisa membuatnya dalam beberapa postingan yang berbeda. Gak akan kehabisan bahan tulisan. 

4. Tidak Terhubung Dengan Pembaca 

Beberapa kali gue melakukan kesalahan ini. Seringnya karena kebiasaan published-promote-lupakan. Setelah published yang buru-buru, promote link ke sosmed, paling gue balik ke dashboard blogger untuk mengapprove komentar yang masuk. 

Tetapi jarang dibalas. Paling blogwalking balik. Kecuali kalau lagi sengang banget, gue balas deh tuh satu-satu. 


Comment on Blog
Photo by cottonbro from Pexels


Idealnya kita harus membuat engagement dengan pembaca kita melalui balasan komen tersebut. Ini akan membantu membangun hubungan yang kuat antara kita dan pembaca. 

5. Kolaborasi 

Diawal gue sempat tuh buat postingan kolaborasi dengan seorang blogger yang sama-sama fans Super Junior. Kita gak bahas soal Suju aja sih, lebih ke K Pop dari sudut pandang perempuan single dan single mom. 

Masing-masing dari kami menyisipkan link agar pembaca dapat melihat dari dua sisi. Ini bagus untuk menaikkan DA blog sebenarnya. Sayangnya, lagi-lagi gak lanjut karena balik lagi ke poin 1 dan 2. 


Nahh ini kami pernah Collab di You Tube Membahas Nu'est 


Gak konsisten dan kurang komitmen. Kamu jangan gitu, ya! 

Sebaiknya mulai mencari teman blogger yang bisa sama-sama komit dan konsisten. Jangan hanya satu, kalau perlu perluas opsi menjadi beberapa. Lumayan kan rekomendasi link dari blog yang sehat bisa sama sama menaikkan reputasi blog. 

Ada yang pengen kolab dengan gue gak? Cuz, DM di sosmed gue ya! 

Kesimpulan 

Sebenarnya ada beberapa lagi kesalahan yang gue buat sebagai blogger, khususnya yang berhubungan dengan 'gemerincing' recehan dari postingan berbayar. Sabar.. gue update di postingan berikutnya. 

Anyway, apa kesalahan kamu sebagai blogger? Share di kolom komentar, yuk! Jika kamu punya pertanyaan, silahkan tuliskan juga di bawah. Terima kasih sudah membaca. Salam! 


Sinopsis dan Review Drama Korea It's Okay Not To Be Okay

Pada jaman dahulu kala di sebuah kastil tua, hiduplah tiga orang bersaudara. Anak lelaki yang selalu menggunakan topeng, anak perempuan tong kosong dan anak lelaki yang tidak bisa keluar dari kardusnya. Mereka bertiga dikurung oleh seorang penyihir jahat hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari kastil tua itu. 

Ini adalah sepenggal premis dongeng yang ceritanya ditulis oleh Ko Moon Young seorang penulis dongeng yang kejam, jutek, sinis, egois dan agak phys co dalam drama Korea "It's Okay Not To Be Okay".  


Sinopsis It's Okay Not To Be Okay 

Drama Korea Netflix yang juga tayang di tvN ini baru saja berakhir setelah 16 episode. Berkisah tentang Moon Gang-tae yang diperankan oleh Kim Soo-hyun, seorang pekerja kesehatan komunitas di bangsal psikiatri yang tidak punya waktu untuk cinta. 

Moon Gang-tae hidup berdua dengan kakaknya Moon Sang-tae, diperankan Oh Jung Se, yang menderita autis. Sejak kecil mereka diasuh oleh ibu mereka yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga. 

Menjadi single mom dengan anak berkebutuhan khusus seperti  Moon Sang-tae tak ayal membuat sang ibu mengharapkan anak bungsunya, Moon Gang-tae dapat menjaga dan bertanggung jawab atas kakaknya ini sepanjang waktu. 


It's Okay Not To Be Okay


Sebagai anak kecil, bungsu pula, dihadapkan pada tanggung jawab menjaga seseorang yang lebih tua dan berkebutuhan khusus membuat Moon Gang-tae kecil harus terbiasa bersikap kuat, sabar dan tidak memperlihatkan perasaannya. 

Tuntutan dari ibu nya, rasa kecewa dan sedih karena merasa kurang mendapat kasih sayang ibu membekas dalam tanpa ia sadari hingga ia dewasa. Apalagi ketika sang Ibu meninggal menggenaskan karena dibunuh dihadapan Moon Sang-tae, Moon Gang-tae pun secara otomatis menjadi penanggung jawab dan pelindung kakaknya itu dari traumanya. 


Moon Gang Tae Moon Sang Tae
Moon Sang-tae dan Moon Gang-tae 


Bertahun-tahun mereka hidup melarikan diri dari satu tempat ke tempat yang lain, menjauhkan diri dari ketakutan Moon Sang-tae terhadap kupu-kupu. Iyah, tetapi ini bukan kupu-kupu biasa. Kupu-kupu ini mengancam mengakhiri hidup Moon Sang-tae jika ia bicara tentang pembunuhan ibunya. 

Perjalanan hidup kedua bersaudara ini mempertemukan mereka kembali dengan Ko Moon-young (Seo Ye-ji), seorang penulis buku anak-anak sukses yang menderita gangguan kepribadian antisosial dan tidak pernah mengenal cinta. 

Moon Sang-tae ngefans sekali dengan penulis buku yang cantik tapi sadis ini. Ko Moon-young sebenarnya bukan orang baru di kehidupang Moon bersaudara. Mereka sempat bertemu saat mereka masih kanak. Moon Gang-tae malah pernah suka pada perempuan dingin nan angkuh ini. 

Kim Soo Hyun Seo Ye-ji

Pengalaman buruk yang dialami ketiganya di masa kecil membentuk karakter mereka masing-masing tanpa mereka sadari. Tiga orang dewasa yang trauma dengan kasus pelecehan dan pembunuhan orang tua ketika mereka masih kecil belajar menerima orang lain ke dalam hati mereka dan mengatasi kenangan buruk yang mengubah hidup mereka. 

Drama sepanjang 16 episode ini tidak melulu berkisar tentang romantisme percintaan. Ada persaingan antar saudara, hubungan ibu dan anak, persahabatan, penerimaan kenyataan hidup hingga masalah kejiwaan dari karakter-karakter lain yang ada dalam It's Okay Not To Be Okay ini. 

Review Drama Korea It's Okay Not To Be Okay 

Gue nonton drama ini lewat Netflix saat drama ini sudah tayang sekitar 10 episode. Awalnya saya memang maju mundur untuk menonton drama ini. Premis tentang karakter utama yang phys-co sempat membuat gue ragu, soalnya gue gak begitu suka drama thriller. 

Meskipun memberikan kesan yang tampak sulit - dan hampir mengerikan - di episode-episode awal, pendapat gue berubah seiring cerita bergulir. Karakter Ko Moon Young yang unik, sadis namun terlihat normal, bener-bener menggambarkan orang yang sakit jiwa tapi tidak gila. She's a phys-co in style, like literally, in style. 


Magda Butrym
Draped asymmetric dress from Magda Butrym

Ko Moon Young memakai yang ini untuk bekerja dan bertemu Moon Gang-tae di kantor. Dia memasangkannya dengan anting-antingnya dari Subyul, bersama dengan tas dari Playnomore dan sepatu hak dari Gianvito Rossi. 

Seo Ye Ji Wears Prada
Gaun vintage warna-warni dari Dior

Tampil mewah dan dramatis. Ko Moon Young mampir ke rumah sakit menemui Moon Gang-tae dengan gaun vintage Dior dan sepatu pump merah dari Prada. She is devil wears Prada look-a-like. 

Seo Ye Ji It's Okay Not To be Okay
Sienna polka-dot dress from Magda Butrym

Gaun ini harganya sekitar USD 1.502, dipasangkan dengan ankle boots Tulle 105 suede seharga $ 1011 (USD) dari Gianvito Rossi. Tas hitamnya dari Moynat. Ko Moon Young menggunakannnya di saat dia mengutarakan isi hatinya pada Moon Gang-tae dengan cara preman, hehehe. 


Fashion Seo Ye Ji It's Okay Not To be Okay
Two-piece pink set from Minju Kim

Baju yang membuat gue berpikir makan apa Seo Ye-ji sampai pinggangnya seramping ini. Bandingkan dengan style Moon bersaudara. 


Perbedaan karakter bahkan style ketiganya membuat banyak konflik di antara mereka. Berantem dan ngambek-ngambekan gak mau ngomong lah pasti buntut-buntutnya. Ada aja alasannya. Rambut panjang atau pendek, rebutan boneka sampai 'rebutan Gang-tae' antara Ko Moon-young dan Moon Sang-tae. 

Sebagai kakak yang selalu bersama-sama adiknya, dia gak rela ada perempuan yang bukan keluarga memasuki kehidupan mereka. Sementara Moon-young yang sebenarnya adalah perempuan yang kesepian tanpa kasih sayang orang tua menemukan kembali rasa kekeluargaan saat berada bersama Moon bersaudara. Lucu sih, khas pertengkaran saudara banget. 




Serunya drama ini, penulis skenarionya tuh pinter banget memainkan emosi sekaligus mengingatkan penonton akan dirinya sendiri. Semacam ceritanya related banget dengan kehidupan banyak orang. 

Beberapa diantara kita bisa jadi sering merasa orangtua kita lebih sayang pada saudara kita yang lain daripada kita sendiri. Padahal sebenarnya orangtua kita berusaha banget banget agar perhatian ke anaknya adil dan merata. 

Seperti Gang-tae yang selalu merasa mamanya lebih sayang pada Sang-tae hingga akhirnya ia tahu alasan mengapa setiap hari Minggu mereka bertiga sering makan mie pedas Jjampong. 




Begitu Moon-young yang sering mendapat perlakuan buruk dari mamanya ternyata sangat dijaga dan disayangi oleh papanya dengan caranya sendiri. 

Hal-hal menyangkut mengungkapkan kasih sayang terkadang menjadi masalah kita semua bukan? Ayah dan ibu tentu punya cara mereka masing-masing untuk mengungkapkannya. Sebagai anak terkadang kita hanya memikirkan apa yang harusnya kita terima tetapi lupa kita sudah terlalu sering diberi. 

Bahkan antara kita dan saudara pun terkadang tidak mudah untuk mengungkapkan atau menunjukkan kasih sayang kita. 

Kim Soo Hyun Oh Jung Se


Drama It's Okay Not To Be Okay ini pun memberi 'pelajaran' tersendiri dari karakter pendukungnya. Bagaimana perlakuan yang seseorang dapatkan di masa kanaknya bisa membekas sangat dalam meskipun luka fisik sudah tak ada. Bahwa sakitnya perasaan lebih lama disembuhkan daripada luka yang terlihat di badan itu benar adanya. 


Kwak Dong Yeon


Banyak hal yang bisa dipelajari dari drama Korea It's Ok Not To Be Ok. Termasuk juga memaafkan diri sendiri, berani menghadapi ketakutan dan bukan lari dari masalah adalah kuntji seseorang bisa move on dari masa lalunya. 

Tidak perlu menjadi orang lain agar disukai dan belajar menjadi dewasa tidaklah mudah, namun tetap harus dicoba. Serta berkompromi dengan orang lain adalah kekuatan kerjasama. Halah! Tetapi beneran deh, 16 episode yang awalnya agak gloomy segera berubah menjadi pengalaman yang paling menghangatkan hati. 

“Tubuh tak bisa berbohong. Saat terluka, tubuh akan menangis. Namun, hati bisa berbohong. Saat hati terluka, hati mampu terdiam”

Ah.. last but not least ... akting para pemeran utama khususnya Oh Jung Se sebagai Moon Sang Tae yang menderita autis sungguh luar biasa. Gak nyangka gue samchoon!! Begitu pula plot twist dalam cerita ini JUARA!! Sungguh tidak kusangka, writer-nim!! Setiap karakter dalam cerita ini mengajarkan kita suatu hal yang terkadang kita lupa. Cerita ini perlu dibuatkan season 2 nya. 

Bagaimana menurut kamu, sudah nonton juga? Share di kolom komentar ya! 

Traveling di Era New Normal

Sejak negara api menyerang dan Pembatasan Sosial dalam Berskala Besar atau PSBB, praktis kegiatan bepergian ke satu tempat ke tempat lain entah itu untuk traveling atau urusan pekerjaan pun menjadi ambyar. Selamat tinggal liburan. Cuti pun harus diperjuangkan, apalagi untuk ASN seperti saya. Boro-boro cuti, perjalanan dinas saja penuh pertimbangan. 

Bukan apa-apa, syarat untuk melakukan perjalanan entah itu urusan pribadi ataupun dinas memerlukan beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Itu tentu membutuhkan biaya. Ya alhamdulillah jika perjalanan itu untuk urusan dinas kantor. Otomatis bisa masuk ke dalam biaya perjalanan dinas karena berdasarkan surat tugas. Kebayangkan jika ini urusan pribadi semacam traveling. Tentunya pikir-pikir dulu. 

Awal bulan Juli 2020 ini Aku ditugaskan perjalanan dinas ke kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Senang, iyah pasti! Tapi ternyata ada beberapa hal yang perlu aku siapkan dan harus dijalani. Menurut aku, ini penting juga untuk teman-teman ketahui.  Apa saja kah itu? 

5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Traveling di Era New Normal 




1. Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Rapid Test nya bisa dilakukan di Rumah Sakit. Aku waktu itu melakukan Rapid Test di Rumah Sakit Mitra Mamuju dengan biaya Rp.460.000. Muaaahal yaa! Iyah! Pertama, petugas mengambil darah sebanyak 1 ampul dan aku harus menyetorkan KTP asli. Jika hasil rapid test dinilai reaktif, harus test swab yang tentunya biayanya lebih mahal dan waktu untuk mendapatkan hasilnya lebih lama. Alhamdulillah, hasil rapid test aku negatif jadi aku gak perlu di swab test. Hasil rapid test beserta surat keterangannya selesai kurang lebih satu jam.  

Surat ini diperlukan sekali, apalagi jika perjalanannya menggunakan pesawat. Untuk Rencana berangkat dari Mamuju  hari Jumat tengah malam lewat darat karena harus ke Makassar mengejar pesawat siang keesokan harinya ke Gorontalo. Berarti ada tiga pos Gugus Tugas yang harus aku lewati. Pos Gugus Tugas di kota Polman, perbatasan provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Kedua di Pos Gugus Tugas kota Pare-Pare di Provinsi Sulawesi Selatan dan yang ketiga di Bandara Sultan Hasanuddin sebelum check in. Dengan surat ini, bisa dibilang 50% dari prosedur perjalanan di era new normal sudah dikantongi. 

2. Legalisir Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Apakah setelah memiliki Surat Keterangan Hasil Rapid Test kita sudah bisa melenggang dengan bebasnya? Tunggu dulu Ferguso! Meski di surat keterangan tersebut sudah ada tanda tangan dokter dan penanggung jawab di rumah sakit tempat kita memeriksa, surat keterangan tersebut harus di legalisir di posko Gugus Tugas. Ada stempel, ada paraf, perlu ngantri. Gak ribet-ribet banget sih, cuman ngantrinya itu loh. Sudah panjang, rame dan kadang orang-orang yang pengen melegalisir gak ngerti ngantri dengan tatanan baru. Jaga jarak mas bro...!! Gak heran tentara perlu diturunkan untuk menertibkan antrian.  



3. Memiliki Akun di  Aplikasi eHAC Indonesia 

Ini dia yang paliiiiiingggggg memakan waktu selain legalisir surat keteranga hasil rapid test. Aplikasi eHAC Indonesia atau electronic Indonesia Health Alert Card. Setiap penumpang penerbangan diwajibkan mengisi data diri dan data perjalanan dari dan menuju ke mana melalui aplikasi ini. Untuk calon penumpang yang gak gatek sih bisa dengan mudah dan cepat. Toh bisa diisi sebelum tiba di bandara. 

Sementara untuk pejalan dari era kolonial, urusan aplikasi di gadget bisa memakan waktu lama selain memang kurang paham. Di bandara Gorontalo, petugasnya masih mau ngebantuin mengisi data di aplikasi. Tetapi di bandara Hasanuddin Makassar, sebelum masuk ke antrian tentara yang bertugas sudah memeriksa dan tidak membantu mengisi aplikasi Hanya memberi instruksi harus mendownload di mana. Sisanya ya sesuai kemampuan Anda.  

eHAC


Aku bersyukur meski berusia 42, aku gak gaptek gaptek amat dan masih lincah untuk urusan technology. Berhubung saat perjalanan dinas aku bersama rombongan dimana aku yang paling muda, akhirnya aku yang mengisikan data para peserta perjalanan dinas melalui satu akun saja. Ini tentu saja memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah cukup membuat satu akun saja di aplikasi eHAC. Satu orang yang memiliki akun adalah pelancong utama dan selebihnya menjadi pengikut dengan status yang disesuaikan, apakah keluarga, kenalan atau travel agent. Kekurangannya adalah, pada saat antri keluar dari bandara yang dituju, peserta yang datanya ada di aplikasi tersebut sebaiknya harus berendengan. Jika terpisah, maka akan memperlambat proses antri keluar. Kasian yang ngantri di belakang kita. 

4. Sediakan Waktu Untuk Mengantri dan Check In di Bandara  

Traveling di era new normal memang berbeda. Dulu kita bisa tiba di bandara selambat-lambatnya sejam sebelum berangkat. Itu juga belum check in, belum masukin bagasi. Sekarang, tunggu dulu Markonah! Pelancong setidaknya harus berada di bandara paling lambat dua hingga tiga jam sebelumnya. Antrian yang mengular, proses pengecekan surat-surat untuk izin terbang dan proses check in pun kini memerlukan surat rapid test yang sudah dilegalisir segala. 




Meski ada kemungkinan dipersilahkan memotong antrian untuk penerbangan yang sudah sejam lagi akan boarding, tetapi tetap saja ada kemungkinan telat di bagian check in penerbangan especially jika kamu punya bagasi. So, make sure to spare some time. 

5. Membawa Masker dan Hand Sanitizer 

Ini penting, PENTING BANGET! Berada dalam ruangan tertutup ber AC selama lebih kurang 2 hingga 3 jam di pesawat, bahkan di ruang tunggu bandara, kita mau gak mau bersama dengan sekumpulan orang-orang yang belum tentu peduli dengan protokol kesehatan. Kebanyakan orang memang membawa masker, tapi menggunakannya secara baik dan benar belum tentu. Tidak semua orang juga dalam keadaan sehat. 

Meski tidak diperlihatkan, bisa jadi karena takut diseret ke ruang karantina, ada juga loh pelancong yang batuk dan pilek. Mereka tidak semuanya menghalangi batuk dan bersinnya dari orang-orang dengan cara menutupi dengan masker atau tissue. Lebih banyak batuk dan bersin sesukanya aja, malah membuka maskernya. Tangan pun tidak dibersihkan setelahnya. Jadinya, kita yang benar-benar extra hati-hati dengan selalu jaga jarak, menggunakan masker, ganti masker jika sudah batuk, bersin atau sudah lebih dari 8 jam. Sering-sering cuci tangan atau membersihkan dengan hand sanitizer. It seems a little paranoid, but believe me it helps. 



Nah, itu dia 5 hal yang perlu dipersiapkan saat traveling di era new normal berdasarkan pengalaman aku. Kamu punya pengalaman juga? Yuk, share tips kamu di kolom komentar!  

Usaha Kue Kekinian Masih Laris dan Tipsnya untuk Pemula

Usaha kue merupakan salah satu usaha yang masih laris manis dan banyak dicari oleh konsumen di pasaran. Kue bisa digunakan untuk cemilan dan juga hidangan utama sehingga dengan fungsi kue tersebut maka tidak heran kue merupakan makanan yang banyak disukai oleh masyarakat.


Usaha Kue Kekinian Masih Laris dan Tipsnya untuk Pemula





Bagi Kamu yang mempunyai ketertarikan untuk membuka usaha kue, di bawah ini ada beberapa tipsnya yang dapat digunakan untuk memulai membuka usaha kue:

 

  1. Memilih jenis kue yang akan dijual

Tips pertama yang bisa diperhatikan oleh pemula adalah dengan memilih jenis kue yang akan dijual. Dengan pertimbangan yang matang ketika akan memulai usaha maka bisa untuk menentukan keberhasilan tersebut. Oleh karena itulah Kamu bisa untuk berpikir dan menyiapkan berbagai hal dengan matang sebelum akan membuka usaha kue agar dapat berhasil. Seperti dengan memilih jenis kue yang akan dibuat apakah kue basah atau kue kering. Selain itu juga bisa memilih kue yang populer seperti kue nastar, kue putri salju, dan juga kue lainnya. Terakhir adalah dengan memilih rasa kue yang disukai dan bisa laris manis seperti rasa coklat dan keju.

 

  1. Memasarkan dengan harga kompetitif

Tips selanjutnya yang dapat diperhatikan ketika akan membuka usaha kue untuk pemula adalah dengan memberikan harga kompetitif. Ketika membeli kue, konsumen juga akan membandingkan harga selain dari rasanya. Cara untuk bisa memberikan harga kompetitif adalah dengan membeli bahan di tempat yang menawarkan harga bahan kue murah seperti di Tokowahab.com yang juga menyediakan bahan kue lengkap.

 

  1. Memilih cara penjualan yang efektif

Tips terakhir yang bisa diperhatikan oleh pemula ketika akan membuka usaha kue adalah dengan memilih cara penjualan. Selain dengan memasarkan kue di tetangga dan secara offline, sekarang ini cara penjualan secara online bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan keuntungan lebih baik. Dengan menjual kue keju secara online juga tidak perlu untuk menyewa tempat atau kedai sehingga akan mengurangi biaya dan modal yang dipersiapkan untuk membuka usaha kue.





Nah.. gimana, gampang kan? Membuka usaha kue kekinian bukan lagi hal yang terlalu sulit. Apalagi di era di mana kita harus pinter-pinter cari duit. Yuk, mulai dari sekarang!

Kampung Pelangi, Melihat Warna Warni Semarang dari Ketinggian

Semarang masih menyisakan petang ketika akhirnya aku keluar dari hotel tempat menginap. Tujuan pertama adalah Kampung Pelangi. Tempat ini adalah salah satu spot pariwisata kekinian Semarang yang cukup viral. Letaknya di Jl. DR. Sutomo No.89, Randusari, Kec. Semarang Sel Kota Semarang. Di depannya berjejer penjual bunga segar dan hias untuk papan ucapan maupun buket. Terlihat asri dengan wangi bunga sayup sayup sampai tercium walaupun terkadang bergantian dengan bau dari kanal yang menyeruak. Padahal kanalnya sudah lumayan bersih,loh! 

Eniwei... Kampung Pelangi ini sedikit banyak mengingatkanku pada Ihwa Mural Village di Seoul, Korea Selatan. Selain karena lokasinya adalah perumahan penduduk yang dindingnya dihias lukisan mural nan artistik, konturnya pun nanjak abis. Harus kuat naik tangga. Untungnya tangga-tangga di Kampung Pelangi tidak sebanyak dan sejahannam tanjakan di Ihwa Mural Village, tapi lumayan lah buat olahraga sore. Siapin betis dan paha yang kuat aja ya, kak! Oiya, jangan lupa napas yang panjang.  




Awalnya Kampung Pelangi ini adalah perkampungan kumuh. Pemerintah Kota Semarang akhirnya menata perkampungan ini  agar terlihat menarik dan bersih. Menurut penduduk yang sempat aku temui, masing-masing rumah mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk membeli cat sedangkan untuk pengerjaan  mural dilakukan mandiri. Warnanya terserah, motif muralnya pun tergantung selera yang punya rumah. Pokoknya kelihatan menarik dan enak dipandang mata. 

Memang ada beberapa spot dimana pengerjaan muralnya dilombakan, ada pula dikerjakan khusus oleh anak muda kreatif yang bukan penduduk Kampung Pelangi. Apapun perkampungan ini pun bagai disulap menjadi tempat yang berseni dan jauh dari kesan kumuh. Mungkin karena diperlombakan dan mendapar bantuan dana, penduduk setempat pun makin semangat menghias rumah dan pekarangannya. Selain mural, hiasan-hiasan seperti lampion, payung-payung kertas mempercantik bagian atas jalan. Buat kamu yang suka foto-foto atau pengoleksi konten, Kampung Pelangi cocok banget jadi lokasi foto-foto instagram. Bahkan beberapa penduduk mengkhususkan halaman rumahnya menjadi spot foto yang instagramable. Tentu saja tidak gratis, tapi gak mahal kok! 




Dari sekian banyak spot Instagramable di Kampung Pelangi, ada satu spot yang menjadi favorit aku. Letaknya berada di bagian paling atas perkampungan dan menjadi lokasi penempatan nama Kampung Pelangi. Lumayan ngos ngosan juga untuk mencapainya, tapi begitu sampai di atas pemandangan yang disajikan luar biasa. Penampakan Kota Semarang berhias sunset dan langit bersemu jingga. Apalagi jika ada pesawat yang bergerak ke dan dari bandara, rasanya kayak sudah di drama Korea aja. Tak ada kebisingan yang terdengar, hanya suara angin dan sesekali suara unggas peliharaan warga. Kalau tidak ingat hari sebentar lagi gelap, masih betah nongkrong aku di sana. 

Oiya, saat menuju puncak (kek lagu ya..) Kampung Pelangi, mau tidak mau kita melewati jalan setapak menanjak di samping dan depan perumahan warga. Waktu sore adalah waktu di mana kebanyakan mereka duduk-duduk di depan rumah. Jadi sebaiknya jangan lupa permisi dan gak berisik. Pengalamanku dulu di Ihwa Mural Village, awalnya warga setempat senang-senang aja wilayahnya didatangi turis. Lama kelamaan dengan semakin banyaknya turis yang datang, mereka mulai merasa tidak nyaman. Beberapa turis terkadang lupa bahwa tempat yang mereka datangi ini meskipun menjadi objek wisata tapi tetap saja adalah wilayah perumahan. Mereka terkadang berisik karena terlalu heboh berfoto atau terlalu senang sehingga ngobrol keras-keras. Namanya juga kompleks atau perkampungan, orang-orang yang tinggal di situ tentu butuh ketenangan. Pada akhirnya dibuatlah pengumuman di beberapa titik untuk mengingatkan para turis agar tidak berisik. 

Saat aku berkunjung ke Kampung Pelangi, aku belum menemukan pengumuman atau teguran tertulis agar para pengunjung tidak berisik, sih. Mungkin karena pengunjung belum sebanyak turis yang datang ke Ihwa Mural Village di Seoul. Bisa jadi karena pendatang sudah tahu diri dengan kesopanan dan keramahan warga Kampung Pelangi. Meski begitu, tidak ada salahnya aku mengingatkan melalui tulisan ini. Ya siapa tahu ada yang berniat ke sana. Menikmati suasana boleh, tapi tetap harus jaga sikap ya gaes! 


Hari beranjak malam ketika aku memutuskan untuk mengakhiri eksplorasiku di Kampung Pelangi. Lampu-lampu mulai dinyalakan, adzan Magrib pun terdengar entah dari sudut yang mana. Aku pun mulai bergegas keluar dari kampung yang penuh warna. Terus terang aku tak tahu keluar dari pintu yang mana padahal aku butuh informasi itu agar pengemudi taksi online tidak salah menjemput. Untungnya mba mba di salah satu kios penjual bunga di depan Kampung Pelangi memberi tahu di titik mana pengemudi harus menjemputku. Ini mungkin adalah keramahan yang sederhana, namun bagi pendatang seperti saya hal itu adalah bentuk pertolongan yang penuh warna. Layaknya pelangi, seperti nama tempat ini.