Desain Smartphone Mencerminkan Penggunanya

Sadar gak sih, desain sebuah barang itu jadi hal pertama yang bikin orang yang ngeliat jadi nengok dan lebih memperhatikan. Desain keren, aneh, atau jelek sekali pun pasti bikin orang akan lebih ngeliatin. Cuma yang bikin beda adalah desain yang keren itu pasti bikin yang ngeliat jadi pingin punya. Barang yang kita pilih mencerminkan penggunanya,loh!

Tampilan fisik atau desain sebuah barang memang seringkali mempengaruhi seorang pembeli. Setiap orang pengen terlihat keren. Makanya kebanyakan orang memilih barang yang keren juga agar penampilan dan imagenya tetap terjaga. termasuk smartphone. Tampilan fisik smartphone memberikan rasa gengsi buat pemiliknya. Orang masa keren gini, smartphone-nya masak gitu… ya nggak?



Makanya seringkali sebelum menggali lebih dalam kecanggihan smartphone, kita sebagai pembeli biasanya mencermati dulu desainnya. Coba aja perhatiin pengunjung toko atau outlet smartphone. Lebih lama bolak balik megang satu smartphone ke satu smartphone lainnya. Banding-banding, enak mana ya.. keren mana yah.. 

Nah, salah satu smartphone masa kini yang gak bisa dilewatkan adalah Huawei. Produsen smartphone ini baru saja meluncurkan Huawei Y6 yang memiliki desain keren di kelasnya.


Oiya, cek en ricek ternyata Huawei Y6 ini harganya cuma sejutaan lho! Asik kan? Wiih..untuk smartphone dengan desain sekeren ini, Huawei Y6 boleh juga yah.. 

Lebih Keren Dengan Huawei Y6


Terkadang kecanggihan fitur nggak selalu jadi jaminan penting apakah smartphone tersebut pas dan nyaman buat kita. Kalau sudah nyaman dengan tampilannya, enak dipegang dan mudah digunakan, pengguna pun merasa lebih puas. Kekerenan pemiliknya pun makin terpancar. Wuiih... 




Gimana, keren nggak? Nah kalau mau tahu lebih banyak tentang smartphone keren ini, coba Google dulu deh 'Huawei Y6' untuk lebih jelas mencermati desainnya yang elegan dan berkelas. 

First Impression : Descendants of the Sun

Abang Joong Ki kembali................................ yay!

Ini reaksi pertama saya tahun lalu ketika kabar Song Joongki yang baru aja kelar wamil langsung tanda tangan kontrak untuk main drama. Lawan mainnya bukan aktris sembarangan. Gak lain gak bukan, mbak Song Hye Kyo yang kelihatan tidak dimakan usia (bete deh!).  Song Joong Ki dan Song Hye Kyo berperan dalam drama “Descendants of the Sun”, sebuah drama Korea semi layar lebar yang syuting dulu baru tayang. Bikin penasaran...

Descendants of the Sun


Saya sebenarnya pengen nonton drama ini di KBS World, berhubung “Descendants of the Sun” diproduksi oleh KBS 2TV. Apa daya setelah digoda dengan berbagai macam preview dan teaser, plus colekan dari empok empok drama di Path, there i was, download episode 1 di jam kuliah saat mahasiswa senior sedang ujian proposal judul. Sunbae (baca : senior), berjuanglah untuk thesismu. Saya nonton Song Joong Ki berjuang di medan laga dengan gantengnya. 

Storyline Descendants of the Sun

Secara garis besar plot ceritanya adalah tentang sulitnya dokter bedah dan tentara papan atas pacaran. Song Joongki yang masih bau-bau abis wamil itu, didapuk berperan sebagai kapten Yoo Shi Jin yang kerap ditugaskan untuk misi khusus. Semacam penyelamat-negara-pembela-perdamaian-antar-bangsa gitu deh. Sementara Song Hye Kyo adalah memainkan karakter Kang Mo Yeon, seorang dokter bedah yang sangat ingin sekali menjadi professor di rumah sakit tempatnya bekerja. 

Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon bertemu pertama kali di rumah sakit saat Yoo Shi Jin mengantar teman baik sekaligus rekan satu teamnya di militer Seo Dae Young mengejar pencopet yang terluka. Kang Mo Yeon sempat mengira Yoo Shi Jin adalah anggota mafia yang menganiaya membernya, jadi dia sempat ngejutekin sang kapten. Yang dijutekin bukannya kesel, malah jatuh cinta pada pandangan pertama ke si dokter. Hadeuh.. 



And that's how the story begins. Gak pake lama, mereka berdua sudah saling flirting-flirtingan. Sempat janjian untuk kencan, tapi selalunya gagal karena Yoo Shi Jin mendapat panggilan tugas negara. Profesi mereka yang bertolak belakang membuat keduanya sepakat untuk mengakhiri hubungan yang belum pula dimulai. 

8 bulan kemudian secara tak diduga mereka dipertemukan oleh profesi mereka masing-masing, di sebuah negara yang sedang dilanda perang. Profesi yang membuat mereka terpisah, kini malah mempertemukan mereka kembali. How it will end ? Santaaaai.. masih ada 14 episode,nih! 

My First Impression 

Dari dua episode pertama memang masih terlalu cepat untuk membuat kesimpulan apakah drama ini beneran bagus atau it's just another k-drama. Berikut kesan saya sepanjang dua episode Descendants of The Sun. 

Drama Korea Rasa Film Layar Lebar 

Mungkin emang bagus juga ya kalau syuting dulu abis itu baru tayang. Bagian produksi punya waktu untuk mengerjakan tugas mereka dengan tidak terburu-buru. Sinematographynya keren, editingnya cantik. Saya paling suka perpindahan antara bagian Yoo Shi Jin bertugas membebaskan tawanan dengan Kang Mo Yeon yang sedang melaksanakan operasi. It's very smooth, yet beautiful. Adegan tatap-tatapan di ruang emergency dengan tirai sebagai pembatas juga keren banget. Tinggal di cut sudah jadi video klip, hahaha. 



Satu hal saja yang bikin kesel, adegan tatap-tatapan antara Song Joongki dan Song Hye Kyo seharusnya dikurangi aja. Bikin iri! Untung bukan saya editornya, kalau iya, akan banyak scene berakhir di tangan editor. :D 

Pemain & Karakter 

Selain Song Joong Ki dan Song Hye Kyo, banyak pemain lain yang sudah akrab di mata namun susah diingat namanya. Tapi yang bikin saya semangat adalah : ONEW !! Dari kapan tahu Onew ini kerap disebut sebagai 'kembaran Song Joong Ki' That's why i really anticipated karakter yang dimainkan Onew dalam Descendants of The Sun. Would it too obvious kalau saya berharap Onew jadi sepupunya Joong Ki di drama ini? Terima kasih writer nim, kau tidak membuatnya seperti itu. It would be very awkward to see them has family line in your scenario.  

Descendants of the Sun


Sepertinya gak bakal ada second lead male, yang ada hanya bromance antara Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young, si muka datar berhati mellow. Mengutip kata sutradaranya," Ketika dua orang berbagi makanan, tempat tinggal, dan bahaya setiap hari, terjadi ikatan yang kuat berkembang di antara mereka." 

Jalan Cerita 

So far belum ada yang bikin keselek cilok sih. Kecuali mungkin pas adegan di pesawat hercules sesaat sebelum terjun. 

Descendants of the Sun

Dari semua negara yang bergolak di bumi ini, why Afganistan? Membayangkan 'a pretty boy soldier' dari Korea Selatan membebaskan tawanan Taliban saja sudah bikin saya rolling eyes. Help.. ! Selamatkan saya sajaaaa...  Joongki aaa. 

Melalui drama “Descendants of the Sun”saya juga baru tahu dokter bedah kalau lagi kangen sama patjar liatin foto rontgen. 

Descendants of the Sun

And i felt sorry for Kang Mo Yeon, karena tiap kali ngedate batal melulu. Rasanya semacam pacaran sama Peter Parker, the Spiderman atau Clark Kent, the Superman dan superhero lainnya. Baru juga mau nonton bareng, patjar sudah harus tugas negara. Dijemput pake helikopter pula (yang dinaiki Song Joongki seperti naik taksi aja, masih sempat dadah-dadah segala). Kesampaian nonton, belum juga lima menit film main, si patjar harus pergi lagi demi tugas negara. Duh.. gak kebayang uang SPPDnya berapa tuh yah.. sering banget dapat tugas negara. #heol #wanyeol  

Descendants of the Sun


Conclusion 

So far, sepanjang dua episode ini cukup membuat saya betah. Ceritanya mungkin akan berkembang lebih seru lagi di episode-episode depan, dan pastinya mata bakal lebih seger liat yang lucu-lucu. Masih ada kesempatan 14 episode lagi, gak mungkin kapten Yoo Shi Jin gak mandi sepanjang doi tugas di daerah panas dan berdebu seperti di Urk kan? #uhuk #kode . 

Lagian kapan lagi liat Song Hye Kyo kerudungan pake pashmina terdampar di bandara seperti rombongan gagal berangkat umroh. :D 

Descendants of the Sun

Saya gak sabar untuk melihat apa yang terjadi di episode berikutnya. Descendants of The Sun tayang setiap Rabu - Kamis di KBS World menggantikan The Merchant : Gaekju 2015. Menurut kamu, drama Descendants of The Sun layak tonton gak? Share pendapat kamu tentang drama ini di kolom comment, yah! Gomawo.. 
Follow my blog with Bloglovin

Pengalaman Pertama Membuat Pizza

Sesekali cerita tentang urusan dapur, boleh dong?

Minggu lalu rasanya pengen banget makan pizza. Sebenarnya lebih gampang beli jadi. Mulai dari pizza traditional yang dibakar sampai pizza goreng, sekarang ada dimana-mana. Tapi pengen aja bikin sendiri. Jadilah saya mengubek-ubek resep yang tersebar di seantero sosmed. Ternyata bahannya tidak terlalu menyusahkan untuk ditemukan (di supermarket, hehehehe). Cara membuatnya pun tidak seribet yang saya perkirakan. Jadi dengan modal nekat (eh... modal duit juga ding!), mari kita membuat pizza sendiri........ !!!



Berhubung ini pengalaman pertama dan saya gak mau terlalu ribet, jadi bahannya bener-bener dasar. Sedasar apa yang ada di lemari penyimpanan bahan di dapur saja, yah bu ibu.. jeng, ceu, kak, dek, mas.. (ya kali ada).

Bahan Adonan Pizza

250 gr tepung terigu berprotein tinggi
  50 gr tepung terigu berprotein sedang
200 ml air hangat
1 bungkus ragi instant
1 sdm minyak sayur
sejumput gula, garam dan cinta (yang disebut belakangan ini opsional. Tergantung stok hari ini)

Cara Membuat Adonan 

1. Tempatkan tepung terigu dalam wadah terpisah.
2. Dalam mangkuk kecil, larutkan ragi dalam air hangat beserta gula dan diamkan selama 10 menit hingga berbusa.
3. Campurkan larutan ragi dengan tepung. Tambahkan garam.
4. Uleni adonan hingga tercampur rata hingga kalis dan elastis. Tambahkan minyak sayur agar tidak lengket.
5. Bentuk adonan menjadi bola dan tutupi dengan serbet. Tempatkan mangkuk di daerah yang hangat dan biarkan naik selama 30 menit atau sampai dua kali lipat dalam volume.

Pada akhirnya saya gak merhatiin jam karena adonan saya tinggal untuk cuci mobil. Iyesss, saya nyuci mobil sendiri lohh. Begitu mobil kelar dicuci, adonan sudah naik. Tinggal nunggu ditepuk-tepuk ( tapi gak usah sambil bilang,"yang sabar yah..). 




Bahan Isi Pizza: 

1 bungkus Saus Spaghetti instant
3 buah Sosis
Mentega secukupnya untuk menumis
Keju slice / keju parut sesuai selera

Cara Membuat Isi Pizza

Lelehkan mentega, masukkan saus spaghetti bersama 3 buah sosis yang telah dipotong-potong. Aduk rata hingga mengental. And that's how it's done! *miss praktis*

Cara Membuat Pizza

Menurut resep yang saya contek dan pengalaman melihat almarhum mama membuat pizza, adonan yang tadi dibiarkan mengembang kita ambil lalu dipelototin supaya mengkeret.

Ehhh.... gak gitu juga kali! Ok serius! 

Tekan adonan ke bawah untuk menghilangkan gelembung yang ada. Uleni lagi sebentar dan bagi menjadi 2 bola adonan. Tempatkan pada permukaan yang sudah diberi tepung. Tutupi dengan serbet dan biarkan adonan naik selama lebih kurang 1 jam.


Sementara itu ayo cuci pakaian ! 

Setelah lebih kurang sejam, ambil 1 adonan sementara yang 1 lagi saya biarkan tetap tertutup. Adonan kemudian saya ratakan di loyang segiempat bawaan oven listrik yang saya gunakan.

Olesi adonan dasar pizza dengan saus yang sudah disiapkan. Panggang dengan suhu 170 derajat kurang lebih 25 menit.

Di 10 menit terakhir tambahkan potongan keju.

Sembari nunggu pizza matang, mari kita lanjut nyuci pakaian.

Ting!

Timer oven sudah berbunyi, berarti saatnya melihat hasil eksperimen. Tadaaaa.......



Berhubung wanginya menggoda selera pizzanya buru-buru diletakkan di piring yang tidak compatible dengan bentuk pizzanya sendiri. Foto juga sudah buru-buru, gak pake prinsip Food Photography lagi. Maklum, sudah nyuci mobil plus nyuci baju rasa laparnya naik 3x lipat. *cari pembenaran*

Baca juga : Food Photography Untuk Pemula 

Meski penampakannya tidak seindah pizza bermerk kondang, gak yangka ternyata rotinya empuk, pinggirnya garing, toppingnya sudah berasa di Italia aja (ya keleeess kan pake saus spaghetti). Hahaha...

Saya sukaaaaa... Hanya ada satu hal yang bikin kecewa. Kejuuuunyaaaa kurang ngejuuuu.. Memang ada harga ada kualitas. Kebetulan yang ada di stok cuma keju biasa saja. Ok, next time perlu diperhatikan.

Jadi yah gitu deh pengalaman pertama saya membuat pizza. Namanya juga percobaan pertama, disana sini pasti ada kekurangan. So far, gak membuat pizzanya gagal sih. Lumayan nyantai juga pembuatannya, karena saya bisa sambil nyambi cuci mobil dan nyuci pakaian diantaranya. Hehehe..

Bagaimana dengan kamu, sudah pernah bereksperimen membuat pizza sendiri juga? Atau mending beli jadi aja ? Share your comment, below ya!

Tips Food Photography Untuk Pemula

Saya lagi senang-senangnya motret makanan nih. Jadi ketika beberapa waktu lalu komunitas Kompakers Makassar mengadakan workshop food photography bagi membernya, dengan segera saya join. Mendadak jadi anggota, apalah.. demi ilmu baru gak apa-apa kan?



Kebiasaan foto makanan atau minuman sebelum actually memakannya, sudah jadi kebiasaan banyak orang. Dengan berbagai tujuan, foto-foto tersebut kemudian diupload ke sosial media. Kebanyakan asal jepret, langsung upload. Yang penting ketahuan makan apa, dimana. Apakah itu sudah termasuk food photography?

Menurut kak Sandhy Geta, seorang food photographer handal di Makassar, food photography adalah salah satu bidang di commercial photography, khususnya still life. Hasil foto tersebut digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti advertising, majalah atau menu.

Food Photography vs Food Documentation 


Karena dimaksudkan untuk menerbitkan selera makan atau bikin ngiler orang yang melihatnya, maka food photography ini memerlukan beberapa persiapan sebelum pengambilan gambar. Sementara yang umum dilakukan oleh para social media freak sebenarnya dikategorikan sebagai food documentation dimana sebuah foto yang dalam pengambilannya tidak memerlukan sebuah persiapan khusus.





Sebenarnya kita bisa kok melompat naik ke kategori food photography. Tentunya ada berbagai persiapan khusus.  Nah, jadi apa saja persiapan dalam food photography? Yuk kita cek bersama :

1. Komposisi Pencahayaan 

Ada dua jenis pencahayaan yang kerap digunakan dalam food photography, yaitu :

Available/Ambient light.  
Memotret menggunakan available/ambient light menggunakan cahaya yang tersedia seperti cahaya matahari, bulan bahkan petir.  Jika pemotretan dilakukan di dalam ruangan berarti kita memanfaatkan cahaya yang ada pada ruangan itu (room light).

Tempatkan media, objek dan property foto di dekat jendela dimana cahaya tidak langsung menyinari. Pastikan untuk mematikan setiap lampu dekat atau lampu di atas kepala jika kita hanya ingin sinar matahari, tidak ada pencampuran di lampu buatan.

Penggunaan cahaya yang tersedia adalah tantangan tersendiri bagi fotografer. Penerangan dalam ruangan yang mengandalkan cahaya matahari, misalnya, mungkin memerlukan penggunaan warna atau reflektor untuk memanipulasi cahaya. Tips paling gampang sebenarnya objek yang difoto ditempatkan di dekat jendela  dan siapkan reflektor agar cahaya bisa menyebar.

Pada workshop food photography bersama Kompakers Makassar hari itu, kami menggunakan alas kue segiempat berlapis kertas silver sebagai reflektor. Cukup mudah didapatkan walaupun agak rempong kita bawa kemana-mana, apalagi kalau lagi hang out di kafe dan pengen motret makanannya. Triknya bisa menggunakan kertas roti, kertas kalkir atau kertas putih lainnya yang tidak terlalu tebal. Selain itu kain putih tipis, atau bahkan serbet besar terbuat dari linen/katun putih juga bisa dicoba untuk digunakan sebagai reflektor.

Artificial Light
Jenis pencahayaan ini menggunakan penerangan buatan seperti flash pada kamera/smartphone atau lampu studio. Untuk menunjang memanipulasi cahaya ada tambahan alat yang lebih kompleks seperti softbox, octabox, diffuser dan sebagainya.

Untuk food photography professional  pasti lebih banyak printilannya dibanding food photography pemula. Sebagai pemula biasanya lebih mengandalkan available/ambient light. Meski begitu jika ingin menggunakan artificial light, lampu meja belajar pun sebenarnya bisa digunakan sebagai pengganti lampu studio.

2. Komposisi Gambar 

Selain pencahayaan, hal penting lainnya dalam food photography adalah komposisi gambar. Tujuannya tentu agar makanan atau minuman yang ditampilkan pada foto tidak saja terlihat menarik tapi juga menggiurkan. Ada tiga jenis komposisi gambar yang perlu diketahui :

The Rule of Thirds 

The Rule of Thirds mungkin merupakan prinsip yang paling terkenal dari komposisi fotografi. Prinsip dasar di balik aturan ini adalah menempatkan objek pada rasio sepertiga dan dua pertiga bagian layar.



Untuk lebih memudahkan penempatan objek, pilih menampilkan grid pada display kamera atau smartphone kita. Layar akan terbagi ke dalam 9 kotak, tiga horisontal dan tiga ruang vertikal. Dari ke 9 kotak itu kita memiliki pertemuan empat titik pada layar. Bagian paling menarik dari foto diletakkan tepat di salah satu empat titik, entah itu di bagian atas, bawah, kiri atau kanan.

Diagonal

Pada komposisi diagonal rule objek foto ditempatkan pada konsep garis diagonal dengan bantuan garis pada grid di layar smartphone atau view finder di kamera. Meski objek tidak harus ditempatkan selurus mungkin, bukan berarti kamera atau smartphone yang dimiringkan. Agar membentuk gambar yang diagonal, kita yang harus mengatur objek kita sesuai dengan diagonal frame di kamera kita.



Dead Centre

Ini dia teknik yang paling gampang dan mungkin paling sering diterapkan saat kita memotret makanan sebelum makan. Objek foto ditempatkan di tengah-tengah persinggungan garis yang membagi ke 4 bidang pada grid di layar smartphone.



3. Background 

Background bisa mempercantik sebuah foto tapi juga bisa mengalihkan perhatian pada objek sebenarnya. Gunakan background yang sederhana dan tidak terlalu mencolok, sehingga perhatian orang yang melihat foto kita  tetap terfokus pada objek foto.

Background yang kontras dengan warna makanan dapat pula membuat objek foto kita terlihat lebih menggiurkan. Coba deh perhatikan foto makanan oriental di menu-menu, iklan di media atau display billboard. Biasanya foto tersebut menggunakan background putih. Dengan warna putih sebagai background warna dari masakan oriental yang pada umumnya berwarna terang akan lebih menonjol.



Sementara untuk makanan berwarna pucat bisa diakali dengan latar belakang gelap dan tambahkan beberapa taburan maupun hiasan dengan warna warni agar makanan terlihat lebih segar.

Kamera 

Setelah membeberkan aturan dasar dari food photography, lalu muncul pertanyaan di sesi tanya jawab. Haruskah menggunakan kamera dslr atau mirrorless untuk pengambilan gambar pada food photography ?



Sebenarnya tidak perlu, kecuali kalau memang ingin benar-benar serius menggarap food photography ini sebagai lahan penghasilan. Basically, sebagai pemula menggunakan kamera smartphone pun boleh banget. Toh sekarang smartphone mempunyai kamera yang makin hari makin canggih. Meski kata kak Sandy ada satu smartphone yang kualitas fotonya setara dengan kamera dslr, saya sendiri percaya sebenarnya gak terlalu penting pake kamera atau smartphone apa. The most important thing is the man behind the camera.

Practice Makes Perfect 

Saya percaya foto adalah sebuah seni, dan seni itu tidak bergantung hanya pada kecanggihan alat tapi lebih kepada yang menggunakan alat tersebut. Secanggih apapun kameranya kalau yang menggunakan tidak mengerti kegunaan fitur-fitur yang ada atau tidak punya sense of photography akan percuma juga. Untuk mengasah seni fotografi yang kita miliki, kita tetap harus berlatih. Bener kan?

Saya juga masih dalam taraf belajar. Hasil jepretan menggunakan smartphone itu saya upload di Instagram @vitamasli. Follow akunnya boleh kak.. :D

Hasil mengikuti workshop ini sudah saya terapkan meski kadang-kadang saya masih melanggar aturan juga sih (Well.. rules are made to be broken, right?). Kalau kamu mengikuti aturan dasar food photography atau mengikuti 'perasaan' saja? Share di kolom komentar yah..

Disclaimer : all food photos taken by @vitamasli 

6 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Untuk Meraih Beasiswa S2

Sesekali ngomongin sekolahan, ah.. 

Tahun lalu saya memutuskan dengan nekatnya kembali ke kampus untuk mendapatkan gelar S2. Sebenarnya sudah lama saya berencana kuliah lagi. Saya menghargai pendidikan dan suka mempelajari hal-hal baru, (tsahhh). Pengen banget rasanya mempelajari ilmu yang berbeda dengan jurusan yang saya ambil di program S1. Maunya sih ilmu yang baru ini bisa dikombinasikan dengan kepentingan kerjaan juga, 

Tapi kuliah program master itu gak murah kan, yah. Lagipula saya kan anaknya suka gratisan, hihihihi.. Jadi tentu saja yang incar adalah program beasiswa. Awalnya saya mengincar beasiswa luar negeri dong, biar sekalian bisa jalan-jalan seperti teman-teman penerima beasiswa lainnya (hihiihi.. ayo ngaku kaliaaan, itu niatnya belajar atau mau traveling?). 

Apa daya karena sesuatu dan lain hal, saya batal mengejar beasiswa luar negeri. Akhirnya beasiswa dalam negeri pun dihajar. Gak apa-apa deh!  Yang penting biaya kuliah dibayarin, ngampus di universitas negeri terakreditasi A, bukan yang abal-abal, ilmunya dapat, dan urusan pekerjaan (mudah-mudahan) lancar.  



Setelah melewati serangkaian seleksi hingga test masuk berupa TPA dan test TOEFL, alhamdulillah saya berhasil diterima di universitas negeri yang kebetulan kampus almamater juga sih. Selain biaya pendidikan, biaya operasional bulanan juga termasuk dalam beasiswa. Saya hanya harus menyelesaikan masa belajar selama gak lebih dari dua tahun dan tidak DO atau memutuskan keluar sebelum selesai. Dengan kata lain : Study well, get my degree on time and I'll be just fine. 

Pretty easy? 

Bagi beberapa orang, kelihatannya sangat mudah. Saking mudahnya di mata mereka, jadi salah kaprah. Mereka menganggap karena saya menerima beasiswa dari kementerian tempat saya bernaung, maka beasiswa ini adalah 'pemberian'. Duh, kalau benar begitu adanya saya dengan senang hati minta beasiswa ke Sunkyungkwan University supaya bisa sealmamater dengan Song Joongki. Atau minta dibiayain sekolah ke Belanda supaya bisa traveling pas weekend ke Inggris. 

Kalau mau diterusin, ntar jadi curhat. Jadi mari kita abaikan saja! Hahaha.. 

Sebenarnya setiap orang berhak mendapatkan beasiswa. Sama halnya dengan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tercantum dalam pasal 31 UUD 1945. Namun, tentu saja beasiswa hanya ditawarkan kepada orang-orang 'terpilih' yang dianggap mampu secara intelektual dan mempunyai visi, misi yang jelas terhadap ilmu yang akan dipelajarinya nanti. Itu kata pemberi beasiswa loh.. 

Dengan biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung, gak cuma satu orang kali yang pengen. Buanyaaaaak.. and when i said 'buanyak' itu bisa ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu orang. Untuk menentukan siapa saja yang berhak dibiayai ini gak cukup pake cap-cip-cup-kembang-kuncup. Diperlukan 'seleksi' yang prosesnya lebih dari sekedar memakai topi seleksi seperti di film Harry Potter. 

Jadi kalau sudah tahu yang pengen dapat beasiswa itu banyak dan kita harus melewati proses seleksi, lalu apa yang harus kita lakukan? 

USAHA DONG............... bukan bakar menyan! (Kecuali kalau menurut kamu, bakar menyan masuk dalam kategori berusaha). 


Meski saya hanya penerima beasiswa dalam negeri dan saya tahu banyak yang lebih jago diluar sana, berikut beberapa hal yang (telah) saya lakukan untuk meraih beasiswa : 

Mencari Informasi 

Beasiswa itu banyak kok dan setiap tahun selalu ada. Kamu hanya perlu cari informasi lewat mana saja. Paling gampang sih, googling aja keuleus. Mulai pencarian informasi sedini mungkin, supaya punya cukup waktu untuk melengkapi semua persyaratan dan dokumen yang dibutuhkan. Baca persyaratannya dengan baik dan pilih mana yang cocok buat kamu. Berangan-angan dapat beasiswa boleh saja, tapi perlu tindakan untuk menghasilkan karya nyata. 

Memastikan Kualitas Diri Sesuai dengan Kualifikasi 

Persyaratan beasiswa itu bermacam-macam. Mulai dari umur, IPK, skor TOEFL/IELTS/JLPT/TOPIC (tergantung negara yang dituju) hingga skor TPA. Umur dan IPK saat di program S1 memang sudah tidak bisa diganggu gugat. Kalau tidak memenuhi syarat, ya sudah skip aja. Masih ada beasiswa yang lain. Tapi kalau skor TOEFLTOEFL/IELTS/JLPT/TOPIC  dan TPA kamu belum mencukupi, masih bisa diusahakan. 

Jika misalnya persyaratan TOEFLnya minimal berskor 550 sementara skor kamu hanya 547 misalnya (apes banget sih!), siapkan diri untuk test TOEFL sampai melampaui skor minimal. Jangan puas hanya 550 saja. Pengalaman, dari IPK aja sudah diranking. Setelah itu penyeleksian berkas dipersempit dengan meranking skor TPA dan skor kemampuan bahasa kamu. 

Menentukan Bidang Studi dan Universitas yang Diinginkan

Ini penting karena beberapa beasiswa mensyaratkan Letter of Acceptance dari perguruan tinggi. Biasanya yang pelamar beasiswa yang sudah memiliki LoA kemungkinan untuk menerima beasiswa lebih besar. Tapi ada juga malah membantu proses LoA itu. Pelamar beasiswa hanya perlu menentukan bidang studi dan universitas yang terdaftar dalam kerjasama pihak pemberi beasiswa. Jika lolos seleksi administrasi , test masuk perguruan tinggi dan wawancara, pihak pemberi beasiswa yang mengurus proses penerimaan hingga terdaftar sebagai mahasiswa. Lagipula kalau belum tahu mau kuliah di bidang apa, buat apa kuliah lagi? 

Menyiapkan Dokumen-Dokumen Penting

Ijazah, transkrip nilai,sertifikat yang dilegalisir, essay dan surat rekomendasi adalah dokumen-dokumen yang penting untuk disiapkan. Surat rekomendasi biasanya dari dosen atau pimpinan tempat kamu bekerja atau organisasi tempat kamu bergabung. Jika kamu memburu beasiswa luar negeri, siapkan dokumen-dokumen tersebut dalam bahasa Inggris. 

Bingung gimana mentranslasikan ijazah dan transkrip nilai? Ada badan tertentu yang berkompeten. Berbayar tentunya. Pastikan saja badan yang mentranslasikannya bisa dipercaya dan akurat. Paling aman, datang ke pusat bahasa universitas negeri di kota kamu. 

Fokus dan Pantang Menyerah

Memang ada banyak beasiswa yang tersedia, namun fokuslah hanya pada beasiswa yang relevan saja. Melengkapi persyaratan dan dokumen itu butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit. No pain no gain, tentu saja berlaku. Makin besar dan terkenal beasiswa yang kamu kejar, makin besar pula usaha yang harus dikerahkan. 

Banyak yang gagal karena sudah males duluan mikir harus urus ini itu, TOEFL harus sekian gak nyampe-nyampe, pengurusan ijin ke atasan dan lain sebagainya. Bahkan sudah capek-capek cari info, mengurus dokumen ini itu, belajar keras agar skor TOEFL dan TPA sesuai standar, tetap tidak diterima juga. 


Menyerah? Boleh..,asalkan jangan ngiri ya sama yang berhasil menerima beasiswa. Banyak kok yang berhasil mendapatkan beasiswa setelah beberapa kali mencoba. Ingat saja, setiap pintu yang tertutup, akan ada jendela yang terbuka. Belum terbuka juga ? Jangan lupa 'ketuk'lah dengan doa. 

Berdoa dan Stay Positive 

Mendapat beasiswa adalah salah satu bentuk rejeki juga, menurut saya. Tuhan itu maha adil dan maha tahu, seberapa besar keinginan dan usaha kita. Kerjakan apa yang bisa kita lakukan, berdoa minta yang terbaik dan stay positive. Kalau pun misalnya gagal juga hingga batas usia tidak lagi bisa apply beasiswa, yakin aja baik buruknya sesuatu untuk kita, hanya Tuhan yang tahu. Don't be greedy, ketamakan selalunya hanya membawa kita hal yang pada akhirnya memusingkan kita sendiri. Tsaah.. 

Dari saya sih, itu aja. Ada yang mau menambahkan pengalaman atau tips dan triknya? Boleh loh.. silahkan komen di bawah ya. Jangan lupa share jika kamu pikir postingan ini berguna. 

Keep on fighting till the end. Good luck!

Kantong Plastik Tak Lagi Gratis

Hari Minggu kemarin saya tiba-tiba pengen makan pizza. Sebenarnya gampang aja sih, tinggal beli jadi, tapi ada rasa-rasa pengen turun ke dapur buat sendiri. Jadilah saya cek en ricek bahan di dapur dan ternyata gak nemu ragi.

Mampirlah saya ke sebuah supermarket besar sebelah kompleks. Seperti biasa, perempuan kalau belanja, niat awalnya bisa jadi cuma mau beli ragi. Endingnya, ragi, barang utama yang ingin dibeli malah out of stock. Di kasir malah nyodorin keju, sosis, kopi sampai buah semangka, hihihi.. Gak ngagetin itu sih.

Yang sedikit mengagetkan adalah, pas di kasir ada pengumuman bahwa mulai hari Minggu itu, tanggal 21 Februari 2016, supermarket tersebut memberlakukan program kantong plastik berbayar. Setiap pemakaian kantong plastik, ukuran kecil dan besar dihargai Rp.200/lembar. Katanya mengikuti peraturan pemerintah.


Kebijakan kantong plastik berbayar yang diterapkan oleh supermarket tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.1230/PSLB3-PS /2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Disebutkan didalam surat edaran, kantong plastik ditetapkan berbayar Rp 200 dan sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kebijakan ini dilaunching bertepatan dengan hari Peduli Sampah Nasional 2016, tanggal 21 Februari kemarin. Demikian yang saya dengar dari mas-mas pusat informasi yang membacakan pengumuman.

Saya sempat bertanya bagaimana kalau besok-besok belanja lagi tapi bawa tas belanjaan sendiri. Ada tuh tas belanjaan ala tote bag yang kapan hari sempat dikampanyekan juga oleh pihak supermarket. Mbak kasirnya bilang boleh aja, malah boleh bawa kantong plastik sendiri.

Saya pribadi sebenarnya setuju saja dengan kebijakan ini. Selama ini sering banget mendapati kasir yang 'boros' kantong plastik. Apa-apa diberi plastik terpisah, padahal satu kantong plastik aja sebenarnya bisa muat lebih banyak barang. Saya sering terpaksa minta jangan terlalu banyak pake kantong plastik dan ngatur-ngatur sendiri barang belanjaan di kasir. Kebiasaan itu sempat menuai komentar dari salah seorang kasir,"Kantong plastiknya gak dibayar kok, bu." Nah loh, sekarang gimana?

Sebelum diterapkannya kebijakan kantong plastik berbayar ini pun sebenarnya sudah ada gerakan 'goes green' di beberapa swalayan besar. Mereka menyediakan tas-tas belanjaan yang bisa dibeli seharga 10 - 20 ribu rupiah. Saya ikutan dong, beli juga. Kantong plastik di rumah sudah kebanyakan.

Ternyata ketika beberapa waktu kemudian saya kembali ke sana dengan tote bag tersebut, tidak semua karyawan supermarket mengerti tentang program 'go green' ini. Tas 'Goes Green' saya malah ditahan pihak security karena dianggap termasuk tas besar yang tidak bisa dibawa masuk. Lucu juga ya? Batal deh, jadi pelanggan peduli lingkungan.


Nah, berhubung di supermarket pertama ragi yang saya perlukan sedang out of stock, saya pun melipir ke supermarket lainnya di mall sebelah. Ternyata di supermarket tersebut juga diterapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Saat mengantri di kasir, saya sempat mendengar komentar dari beberapa pelanggan di depan dan di belakang saya. Reaksi pertama, mereka cukup kaget kalau harus membayar kantong plastik. Gak sampai ada yang menolak sih. Mungkin mereka berpikir, hanya dua ratus rupiah ini.

Sementara saya saat itu memilih untuk tidak memakai kantong plastik berhubung belanjaan saya hanya sekotak ragi dan keju slice. Jadi dengan memegang kedua item itu saya pun berlalu dengan selembar struk belanja.

Hari ini saya ketika saya ngobrol dengan beberapa rekan kantor mengenai kebijakan ini, mereka tidak mempermasalahkan mengeluarkan uang dua ratus rupiah per lembar kantong plastik. Dengan alasan kepraktisan daripada harus bawa kantong belanja sendiri, mereka memilih untuk membayar saja.

Jika kebanyakan orang berpikir seperti itu, kebijakan yang bermaksud untuk mengurangi limbah kantong plastik ini kemungkinan besar gak bakal ngefek. Tapi kalau harga kantong plastik ini dinaikkan menjadi Rp.5000 atau Rp.20.000 misalnya, bisa-bisa masyarakat banyak yang demo. Repot juga kan?

Kantong Plastik Berbayar, Program Ramah Lingkungan 

Sebenarnya kebijakan ini dibuat katanya untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik dan membiasakan masyarakat membawa tas belanja sendiri dari rumah. Produksi sampah nasional dalam setahun bisa mencapai 64 juta ton, dimana 8,9 juta ton adalah sampah plastik. Maunya sih dengan kebijakan ini bisa menekan jumlah produksi sampah plastik.

"Kantong plastik itu kan bisa dipake buat wadah sampah juga. Kalau gak pake kantong plastik, kita buang sampah pake apa?"komentar salah seorang ibu. 

Penggunaan kantong plastik memang tidak dilarang, hanya disarankan oleh pemerintah agar dikurangi. Tujuan jangka panjangnya adalah agar Indonesia bebas sampah di tahun 2020. Selain itu menurut para pencinta lingkungan dengan mengurangi sampah plastik, kita bisa membantu menyelamatkan bumi dari pemanasan global.



Kantong Plastik Berbayar di Luar Negeri


"Kira-kira di luar negeri kantong plastiknya berbayar juga gak ya?" tanya seorang rekan di kantor. 

Setahu saya sih sudah ada beberapa negara yang menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar, meski hanya di daerah tertentu saja. Misalnya di Australia selatan dan utara, wilayah ibukota (Canberra) dan kota Freemantle menerapkan hal tersebut.

Di Amerika Serikat menurut plasticbaglaws.org, 16 negara bagian seperti Alaska, Arizona, California, Colorado, Connecticut, Hawaii, Indiana, Maryland, New York, Oregon, Pennsylvania, Texas, Vermont, Virginia, Washington state dan Washington DC juga turut menerapkan hal yang sama. Di salah satu drama Korea juga sempat ada adegan pembelinya dikenakan biaya kantong plastik.

Mungkin ada yang mau menambahkan?

Donasi Kantong Plastik Berbayar, Untuk Siapa? 


Biaya kantong plastik yang disebut sebagai 'donasi' di nota belanja, sempat pula dipertanyakan dalam obrolan para pegawai di kantor saya.

"Uang dua ratus rupiah itu buat apa ya? Jangan-jangan gara-gara ada harga kantong plastik, penjual di warung-warung kecil ikut-ikutan membebani pembeli dengan biaya kantong plastik. Lebih parah kalau biaya kantong plastiknya dibebankan ke harga barang. Harga-harga bisa naik dong gara-gara program kantong plastik berbayar,"pendapat seorang rekan kerja. 

Menurut yang saya baca di Antara News, Pakar Lingkungan Hidup dari Universitas Indonesia Emil Salim mengatakan uang yang didapat dari kantong plastik berbayar dapat digunakan untuk menanggulangi kemiskinan di Tanah Air.

Sementara menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), nantinya seluruh hasil penjualan kantong plastik yang disediakan oleh perusahaan retail minimarket dan pasar swalayan akan dialokasikan untuk pembinaan edukasi konsumen.

Entah bagaimana langkah kongkrit dari donasi kantong plastik berbayar tersebut. Saya sendiri pesimis ya. Tapi lihat dari sisi baiknya, dengan kebijakan kantong plastik berbayar ini, kita bisa pake tote bag yang lucu-lucu. Bisa jadi lahan bisnis baru juga untuk memproduksi tote & shopper bag , mungkin? *wink*

Semoga saja kepercayaan kita pada kebijakan pemerintah ini tidak disalahgunakan demi kepentingan lain. Toh katanya kebijakan ini akan diberlakukan selama enam bulan mulai 21 Februari hingga 5 Juni 2016 mendatang. Jika tidak berhasil atau terjadi polemik, kebijakan ini akan ditinjau kembali.

Nah sekarang, mau pake tote bag atau tetap pakai kantong plastik berbayar? 

K-Drama Special : Splash Splash Love

Mungkin karena saya sudah lamaaaaa nonton drama Korea, belakangan saya lebih milih-milih tontonan. Yang menye-menye gak jelas, coret! Cerita si kaya pacaran sama si miskin, lewat! Drama yang kepanjangan juga, enggak ah.. Kecuali ceritanya bagus seperti Reply 1988, ya bolehlah!

Baca juga : Review K-Drama Reply 1988

Ada satu drama Korea yang sudah saya tonton bulan lalu (iya maapkeun, baru sempat ngereview) dan menarik banget. Drama special ini hanya dua episode saja, dibintangi Yoon Doojoon BEAST dan aktris berbakat Kim Seul Gi. Judulnya Splash Splash Love, atau kalau diterjemahkan menjadi Percikan Percikan Cinta.. Halah! 


Sinopsis Splash Splash Love 

Splash Splash Love adalah drama percintaan time-traveling, di mana tokoh utama wanitanya secara ajaib terdampar ke era Joseon. 

Kim Seul Gi memainkan karakter Dan Bi, seorang siswa SMA masa kini yang males belajar padahal bentar lagi ujian nasional. Ibunya sudah berulangkali mengingatkan dia untuk serius belajar, begitu juga wali kelasnya di sekolah. Soal matematika dengan perkalian 3 x 6 saja sangat berat diselesaikannya. Pfft...

Dan Bi bukannya tidak mau belajar, dia kemana-mana membawa buku pelajaran dan tidur dengan bukunya, kok (yes, literally). Mungkin karena tertekan batin harus lulus ujian nasional saja yang membuat dia malah tidak bisa berkonsentrasi. 



Di hari pertama ujian nasional, hujan turun dengan derasnya. Dan Bi, yang sudah tertekan batin duluan malah makin tidak pede mengikuti ujian. Bukannya masuk kelas, dia malah kabur dengan paniknya ke sebuah taman. Dengan kegalauan level tinggi, dia berdoa agar dia bisa menghilang. 

Disaat itu dari sebuah genangan air di taman tersebut, Jang Dan Bi mendengar bunyi dentuman. Entah bagaimana, dari genangan tersebut Jang Dan Bi melihat sebuah proses upacara yang membuatnya penasaran. Antara takut, ingin tahu bercampur nekat Jang Dan Bi melompat ke dalam genangan tersebut. Ajaibnya, dia muncul dari dalam wadah air di era Joseon. 

Disitulah, Jang Dan Bi bertemu Lee Do (diperankan oleh Yoon Doo Joon), raja Josoen. Saat itu Lee Do sedang ogah-ogahan memimpin upacara minta hujan. Sudah tiga tahun kerajaan Joseon kekeringan. Di jaman itu, orang-orang di istana sangat percaya supranatural. Para dukun istana mengklaim kekeringan ini akibat raja mereka belum punya anak juga.



Raja Lee Do adalah raja yang mencoba berpikir logis berdasarkan ilmu pengetahuan. Dia sama sekali tidak mau percaya hal-hal mistis. Raja Lee Do sebenarnya membutuhkan orang yang jago matematika. Makanya dia berpikir ritual yang mereka lakukan ini percuma dan berniat membubarkannya. Saat itulah Jang Dan Bi muncul dari dalam wadah air dan mengagetkan seluruh orang di tempat itu, termasuk raja Lee Do dan Jang Dan Bi sendiri. 

Jang Dan Bi mengira dia terdampar di lokasi syuting drama saeguk (hahaha, gila parah banget ekspresinya Dan Bi), sedangkan Lee Do dan orang-orang di Istana mengira dia adalah utusan dewa yang menghantar hujan. Jang Dan Bi akhirnya ngeh bahwa tempat dimana dirinya berada sekarang bukan lokasi syuting dan kelangsungan hidupnya bergantung dari turunnya hujan. Jang Dan Bi akhirnya membuat kesepakatan dengan raja dengan mengaku jago matematika dan bersedia menjadi tutornya. 

What I Like About Splash Splash Love

Meski Splash Splash Love ini bertema perjalanan waktu yang pernah beberapa kali diangkat pada drama Korea sebelumnya, writernimnya asik banget memadukan beberapa fakta dengan fiksi seperti :

Raja Lee Do atau lebih dikenal dengan nama raja Sejong, adalah raja yang menciptakan karakter jungeum (karakter lama hangul) yang merupakan cikal bakal aksara bahasa korea. Dikisahkan dalam Splash Splash Love, terciptanya huruf hangeul ini karena terinspirasi oleh Jang Dan Bi.  

Park Yeon adalah guru pribadi raja Lee Do. Dia sebenarnya lebih tertarik pada bidang musik. Berhubung di jaman itu menjadi musisi belum bisa menjadi pilihan, maka dia berjuang agar lulus menjadi pegawai kerajaan. Dalam Splash Splash Love, Park Yeon digambarkan sebagai pengawal pribadi raja Lee Do.




Jang Yeong Sil, ilmuwan astronomi penemu alat ukur hujan, jam air dan globe angkasa di jaman Joseon. Fakta tersebut sudah tertulis dalam sejarah Korea. Bahkan Jang Dan Bi yang males belajar pun tahu hal itu. Dia malah mengira Park Yeon adalah Jang Yeong Sil. Dia gak tahu bahkan para penonton pun clueless bahwa di tangan writernim, Jang Yeong Sil adalah seorang perempuan. Gilaaaa!! Hahahaha.. Yah, namanya juga fakta bercampur fiksi, ada disclaimer di awal drama. 

Tentang  Jang Yeong Sil memang jarang banget disinggung di drama Korea. Tapi di awal tahun 2016 ini KBS 2TV akhirnya menayangkan drama sejarah pertama yang mengangkat kehidupan Jang Yeong Sil sebagai karakter utama. Pemerannya tentu bukan perempuan, tapi bapaknya Daehan, Minguk, Manse : Song Il Gook. Reviewnya nyusul yaaakk setelah dramanya kelar! 

Kembali lagi tentang Splash Splash Love, drama ini menjadi spesial juga berkat aktor dan aktrisnya. Gak ada yang lebih pas memerankan Jang Dan Bi selain Kim Seul Gi.  Dia memainkan karakter Jang Dan Bi dari stress gara-gara ujian akhir, sampai pada titik di mana dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupnya dengan baik. 

Karakter Jang Dan Bi yang senang maen, panjang akal dan ceplas ceplos terasa hidup. Ekspresinya tuh dapat banget, apalagi kalau mengeluarkan komentar yang ' ajaib ' sampai bawa-bawa Kim Soo Hyun dan Jang Geum segala. Kocak parah lah anak ini! 

Selfie Jaman Joseon
Raja Lee Do, si arogan, agak kekanakan, pokoknya khas pangeran baru keangkat jadi raja deh. Setelah bergaul dengan Jang Dan Bi, mulai deh kelihatan sifat manis dan baik hatinya. Auuhh.. 

Raja Lee Do ini diperankan oleh Doo Joon. Awalnya saya gak ngeh loh ini Doo Joon nya Beast. Berubah sekali penampakannya, apakah karena dia kelihatan kurus? Atau logatnya yang mendadak Joseon? Haduh pokoknya, suka lah sama Doo Joon di sini. Seperti kata Jang Dan Bi, dia lebih keren daripada Kim Soo Hyun di The Moon That Embrace The Sun. ROLTF.

Selain itu saya juga suka cinematographynya yang bikin betah nonton. Endingnya juga sukaaaaaa... beneran gak maksa. Pertanyaan saya cuma satu : Kenapa adegan payungan di semua drama Korea selalu pake payung berwarna kuning? Wae? Wae?? 



Conclusion

Secara keseluruhan, Splash Splash Love ini adalah drama romantis komedi yang membuat hal-hal sederhana terlihat keren. Bahwa gak selamanya seorang siswa yang kelihatan bodoh, gak tahu apa-apa sama sekali itu ada pada karakter Jang Dan Bi. Ibu yang doyan nonton drama saeguk dan bawaannya bawel mengingatkan belajar, sebenarnya memperlihatkan perhatiannya dengan cara yang mungkin bikin telinga panas. Sekesal-kesalnya anak dibawelin melulu, dalam hatinya pasti menyimpan cinta dan kerinduan yang akan membawanya pulang kembali ke dalam ibu. So sweet.. 

Menceritakan kisah yang kuat, menciptakan tokoh yang berkarakter dan mengembangkan kisah serta menghubungkannya dengan cara yang masuk akal memang bukan hal yang mudah. Splash Splash Love hanya perlu dua episode saja untuk merangkum keseluruhan cerita yang biasanya memerlukan 16 episode hingga lebih dalam drama Korea biasa. Gak maksa, gak dipanjang-panjangin, tuntas dengan pas. Lucu, nyeleneh, mengharukan, manis jadi satu. Serasa makan cilok pake saus tteokbokki, hihihi..


Jadi kalau butuh tontonan drama Korea yang asik tapi gak makan banyak waktu, Splash Splash Love bisa dijadikan pilihan. Selamat makan tteokbokki, eh.. selamat nonton!