Hari Kopi Sedunia dan Kopi Indonesia
Hari kamis, tanggal 1 Oktober, seperti biasa saya sudah bersedia untuk menyeduh kopi sebelum berangkat ke kantor. Baru saja hendak memanaskan air, saya berubah pikiran. Hari ini tanggal 1, hari gajian, harus ngopi yang enak buatan barista berpengalaman, nih! Senikmat-nikmatnya kopi buatan sendiri, kadang-kadang saya juga pengen dibuatin kopi, hihihi.
Jadilah saat jam makan siang saya beranjak ke sebuah kedai kopi tanpa asap rokok di sebuah mall dekat kantor. Saya baru menyesap ice coffee pesanan ketika notifikasi twitter menggetarkan smartphoneku. Wah, ternyata hastag #HappyInternationalCoffeeDay lagi trending. OMG.. kok bisa lupa gini. Mulai tahun ini Tanggal 1 Oktober resmi didaulat menjadi Hari Kopi Sedunia. Tepok jidat! *jidat barista* Harusnya kan bisa ngopi gratis nih! #eh
Kenapa Harus Ada Hari Kopi Sedunia ?
Jadi gini ceritanya.. *sudah mulai curhat nih*
Sebenarnya Hari Kopi bukanlah hal baru. Hari Kopi adalah perayaan tahunan yang diperingati di berbagai negara pada tanggal yang berbeda-beda. Sebagai contoh di Malaysia, Amerika, Kanada, Inggris, Ehiopia dan Swedia memperingatinya di tanggal 29 September. Sementara di Costa Rica dirayakan di tanggal 12 September, Taiwan di tanggal 7 November, Nepal di tanggal 17 November dan Indonesia pada tanggal 17 Agustus.
Nah di bulan Maret 2014 International Coffee Organization sebuah organisasi yang menaungi 75 negara penghasil kopi menetapkan tanggal 1 Oktober 2015 sebagai Hari Kopi Internasional. Perayaan Hari Kopi Internasional ini dipusatkan di Milan, Italia sebagai kota penyelenggara World Expo Milano 2015. Perayaan ini tidak saja untuk para penikmat kopi tapi juga sebagai bentuk tanda respect pada petani-petani kopi dan penggerak industri kopi di seluruh dunia yang sudah menghadirkan kopi ke hadapan kita. Lebih lengkapnya silahkan tonton video di bawah ini untuk tahu lebih banyak tentang kopi dalam kehidupan sehari-hari.
Indonesia sebagai negara penghasil kopi ke 4 terbesar di dunia (turun 1 peringkat tersusul Kolombia) tentu saja tidak mau ketinggalan. Selain ikut berpameran dalam World Expo Milano 2015 di Milan, Kemenperin, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan yang bekerja sama dengan beberapa asosiasi kopi mengadakan diskusi dan icip-icip kopi Indonesia gratis di Jakarta. Harapannya dengan event ini bisa menjadi momentum untuk mengembangkan kesadaran masyarakat untuk mencintai kopi Indonesia.
Sejarah Kopi Indonesia
Tanaman kopi yang dipercaya berasal dari benua Afrika masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Belanda pada tahun 1896. Saat ini Belanda membawa jenis kopi Arabika dari Yaman. Dengan bibit kopi Arabica tersebut Belanda membuka perkebunan kopi komersil di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Perkebunan Kopi juga dibuka di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor hingga ke Flores.
Sayangnya perkebunan kopi Arabika di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi terserang penyakit karat daun (HV) yang menyebabkan kematian pohon kopi secara besar-besaran. Akhirnya dimulailah pembudidayaan jenis tanaman kopi Liberika dan Ekselsa yang lebih tahan penyakit HV. Namun ternyata daerah lain seperti Flores dan Timor perkebunan kopi Arabika mereka sehat-sehat saja, tidak terserang hama.
Pada perkembangannya kopi Liberika tidak begitu populer dan digantikan oleh kopi jenis Robusta. Kini Robusta menjadi andalan Indonesia sebagai produk kopi ekspor selain Arabica. Letak geografis Indonesia memungkinkan kedua jenis ini tersebar di penjuru Indonesia. Robusta tumbuh di daerah rendah dan Arabica tumbuh di dataran tinggi.
Kopi Indonesia, Dari Aceh Hingga Papua
Kopi Indonesia adalah salah satu minuman yang banyak disukai orang di luar negeri. Orang-orang Eropa, Amerika, Australia bahkan Asia dan Afrika sangat menghargai kopi Indonesia. Nah, kopi Indonesia apa saja sih yang disukai oleh penikmat kopi mancanegara?
Begitu banyak ragam hasil kopi dari seluruh Indonesia namun kebanyakan produk premium diekspor ke luar negeri. Alasannya karena pasar luar lebih menjanjikan dibanding tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sayangnya walaupun nama kopi Indonesia melejit, namun petani kopi Indonesia tidak mendapat apa-apa.
Perbedaan harga beli di petani dan harga jual di kafe-kafe terlalu jauh. Ironisnya kopi-kopi Indonesia tersebut dibeli oleh negara lain lalu kemudian diolah kembali atau repackage dan dikirim lagi ke Indonesia dengan label berbeda dan dilempar ke kafe-kafe francise di dalam negeri. Sementara pasar dalam negeri hanya kebagian kopi Robusta berkualitas di bawah kualitas ekspor. Tidak banyak yang peduli, malah lebih banyak yang memilih menikmati kopi dari negara lain. Padahal pengen deh merasakan kopi premium hasil bumi Indonesia seperti bule-bule itu menikmati kopi Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau.
Mudah-mudahan dengan adanya Hari Kopi International atau International Coffee Day ini bisa menumbuhkan kecintaan kita pada kopi produksi dalam negeri. Semoga juga pemerintah berbaik hati memperhatikan nasib para petani kopi supaya mereka bisa lebih makmur dan buntut-buntutnya masih tetap berusaha untuk membudidayakan kopi Indonesia. Pemilik kafe lokal pun maunya sih lebih banyak menyediakan kopi Indonesia berkualitas bagus yang dibeli langsung dari petani lokal, jangan yang impor dong Bro. Mahal! Petani kita juga gak dapat apa-apa.
Entah penikmat kopi atau bukan, tidak ada salahnya mendukung kopi Indonesia dengan meminum atau merekomendasikannya. Masa mau kalah sih dengan Kolumbia yang berhasil menggeser peringkat Indonesia ke posisi 4? After all siapa yang bisa menyelamatkan kopi lokal kalau bukan orang Indonesia sendiri. Happy International Coffee Day, smell and drink your coffee!
Happy International Coffee Day!
Begitu banyak ragam hasil kopi dari seluruh Indonesia namun kebanyakan produk premium diekspor ke luar negeri. Alasannya karena pasar luar lebih menjanjikan dibanding tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sayangnya walaupun nama kopi Indonesia melejit, namun petani kopi Indonesia tidak mendapat apa-apa.
Perbedaan harga beli di petani dan harga jual di kafe-kafe terlalu jauh. Ironisnya kopi-kopi Indonesia tersebut dibeli oleh negara lain lalu kemudian diolah kembali atau repackage dan dikirim lagi ke Indonesia dengan label berbeda dan dilempar ke kafe-kafe francise di dalam negeri. Sementara pasar dalam negeri hanya kebagian kopi Robusta berkualitas di bawah kualitas ekspor. Tidak banyak yang peduli, malah lebih banyak yang memilih menikmati kopi dari negara lain. Padahal pengen deh merasakan kopi premium hasil bumi Indonesia seperti bule-bule itu menikmati kopi Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau.
You Can't Buy Happiness But You Can Buy Coffee, And That's Pretty Close
Mudah-mudahan dengan adanya Hari Kopi International atau International Coffee Day ini bisa menumbuhkan kecintaan kita pada kopi produksi dalam negeri. Semoga juga pemerintah berbaik hati memperhatikan nasib para petani kopi supaya mereka bisa lebih makmur dan buntut-buntutnya masih tetap berusaha untuk membudidayakan kopi Indonesia. Pemilik kafe lokal pun maunya sih lebih banyak menyediakan kopi Indonesia berkualitas bagus yang dibeli langsung dari petani lokal, jangan yang impor dong Bro. Mahal! Petani kita juga gak dapat apa-apa.
Entah penikmat kopi atau bukan, tidak ada salahnya mendukung kopi Indonesia dengan meminum atau merekomendasikannya. Masa mau kalah sih dengan Kolumbia yang berhasil menggeser peringkat Indonesia ke posisi 4? After all siapa yang bisa menyelamatkan kopi lokal kalau bukan orang Indonesia sendiri. Happy International Coffee Day, smell and drink your coffee!






































