Tips dan Trik Ngeblog Asik
Sabtu siang itu, matahari sedang terik-teriknya ketika saya keluar dari gedung PWI Sulsel. Maklum, sudah pukul setengah satu siang. Matahari lagi lucu-lucunya. Tapi apalah arti teriknya matahari dibanding panasnya api neraka (tsaahh..). Jadi ketika adzan dhuhur berkumandang dari mesjid sebelah gedung PWI Sulsel, pelatihan Blogger dan Menulis Reportase di Social Media yang saya ikuti pun harus break sejenak. Menambah ilmu buat ngegaet job review lewat blog boleh saja, tapi jangan lupa sama pemberi job review yang sesungguhnya, hihihi... *uhuk* *lalu berdoa dapat job review yang banyak*
Memang belakangan ini banyak orang yang tertarik pengen jadi blogger salah satu alasannya karena pengen mengisi pundi-pundi rupiah (dan dollar kalo maunya gue sih!), Dan itu gak salah. Apalagi semakin banyak korporasi/brand yang percaya pada blogger untuk urusan branding atau promosi. Sekarang di event launching produk bukan lagi kawasan kekuasaan wartawan loh. Blogger juga mendominasi. Makanya penting banget untuk Blogger bisa menulis reportase di social media biar bisa 'bersaing' dengan wartawan.
Eh tapi apa iya blogger dan wartawan harus saingan?
Baca juga : Blogger dan Menulis Reportase di Social Media
Di sesi kedua pelatihan Blogger dan Menulis Reportase di Social Media, giliran kang Arul berbagi pengalaman. Beliau ini dulu pernah berprofesi sebagai wartawan tapi sekarang memilih menjadi blogger, dosen dan sering menjadi juri lomba blog. Dari pengalamannya bisa ditangkap, sebenarnya wartawan dan blogger itu tidak perlu saingan, kok. Masing-masing punya media, style peliputan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing .
Menurut kang Arul wartawan itu punya kelebihan yang tidak dimiliki blogger, yaitu : teknik wawancara. Wartawan (jaman dulu, khususnya) tahu gimana mengorek nara sumber agar bercerita. Contoh kasus ibu-ibu penjual cabe di pasar dan kenaikan harga cabe. Seorang blogger bisa jadi langsung nanya aja sama ibunya,"Bu, bolehkah saya membeli cabe? Harga sekilo berapa ya?"
Sementara wartawan bisa dengan kalimat dan nada yang lebih buat ngajak curhat,"Duh bu.. harga cabe naik ya? Kok bisa sih..." bla bla bla bla.. ibunya curhat deh sampe gak nyadar wartawannya pada akhirnya gak beli sama sekali.
Ketika diundang di event launching pun, wartawan dan blogger punya sikap yang berbeda. Blogger, begitu nyampe langsung foto-foto produk dan suasana launchingnya lalu ngetweet sedangkan wartawan lihat-lihat situasi dulu, nyari angle yang tepat buat tulisannya lalu baru deh foto-foto untuk kelengkapan tulisan.
Saat menulis berita, wartawan dan blogger punya style tersendiri. Tulisan wartawan cenderung mengikuti apa yang tertera di press release. Jika diperhatikan tulisan di media tentang produk atau event sepertinya sama, ya karena sumbernya sama. Sedangkan blogger lebih ke story telling, tulisan natural dan penuh penjiwaan. Kadang-kadang saking menjiwainya membawa hal-hal yang gak mungkin ditulis wartawan karena berkesan curcol dan memakai istilah-istilah gaul.
Tapi bukan berarti wartawan dan blogger jadi mengekslusifkan diri. Kedua profesi ini sebenarnya bisa belajar dari keunikan masing-masing. Wartawan bisa belajar jadi blogger sementara blogger bisa mengambil trik wartawan.
Makanya kang Arul mengajak para wartawan yang hadir dalam pelatihan untuk ikut ngeblog. Menurutnya,"Diluar sana banyak hal bisa diceritakan yang tak bisa dimuat di media cetak atau televisi." Apalagi kalau mengingat tulisan wartawan yang tidak boleh memihak dan memasukkan pendapat pribadi, ngeblog bisa jadi alternatif menyalurkan yang tidak bisa tersalurkan(apa sih?Hehehe). Ini bukan hanya untuk wartawan saja, menulis blog bisa bermanfaat juga untuk profesi lainnya.
Menurut kang Arul wartawan itu punya kelebihan yang tidak dimiliki blogger, yaitu : teknik wawancara. Wartawan (jaman dulu, khususnya) tahu gimana mengorek nara sumber agar bercerita. Contoh kasus ibu-ibu penjual cabe di pasar dan kenaikan harga cabe. Seorang blogger bisa jadi langsung nanya aja sama ibunya,"Bu, bolehkah saya membeli cabe? Harga sekilo berapa ya?"
Sementara wartawan bisa dengan kalimat dan nada yang lebih buat ngajak curhat,"Duh bu.. harga cabe naik ya? Kok bisa sih..." bla bla bla bla.. ibunya curhat deh sampe gak nyadar wartawannya pada akhirnya gak beli sama sekali.
Ketika diundang di event launching pun, wartawan dan blogger punya sikap yang berbeda. Blogger, begitu nyampe langsung foto-foto produk dan suasana launchingnya lalu ngetweet sedangkan wartawan lihat-lihat situasi dulu, nyari angle yang tepat buat tulisannya lalu baru deh foto-foto untuk kelengkapan tulisan.
Saat menulis berita, wartawan dan blogger punya style tersendiri. Tulisan wartawan cenderung mengikuti apa yang tertera di press release. Jika diperhatikan tulisan di media tentang produk atau event sepertinya sama, ya karena sumbernya sama. Sedangkan blogger lebih ke story telling, tulisan natural dan penuh penjiwaan. Kadang-kadang saking menjiwainya membawa hal-hal yang gak mungkin ditulis wartawan karena berkesan curcol dan memakai istilah-istilah gaul.
Tapi bukan berarti wartawan dan blogger jadi mengekslusifkan diri. Kedua profesi ini sebenarnya bisa belajar dari keunikan masing-masing. Wartawan bisa belajar jadi blogger sementara blogger bisa mengambil trik wartawan.
Makanya kang Arul mengajak para wartawan yang hadir dalam pelatihan untuk ikut ngeblog. Menurutnya,"Diluar sana banyak hal bisa diceritakan yang tak bisa dimuat di media cetak atau televisi." Apalagi kalau mengingat tulisan wartawan yang tidak boleh memihak dan memasukkan pendapat pribadi, ngeblog bisa jadi alternatif menyalurkan yang tidak bisa tersalurkan
Ngeblog memang tidak semena-mena bisa membuat seseorang menjadi kaya."Jangan pernah berpikir hari ini ngeblog, minggu depan sudah sukses,"kang Arul mengingatkan. Seperti juga pekerjaan lainnya, untuk mendapatkan reward dari ngeblog membutuhkan proses yang bisa jadi cukup panjang untuk beberapa blogger. Mulailah menulis sebagai ladang amal terlebih dahulu. "Ketika ada usaha pasti ada jalan", pesan kang Arul.
Untuk blogger pemula, kang Arul pun memberi beberapa tips ngeblog :
Lagipula menurut saya, hal yang kita anggap remeh belum tentu gak penting di mata orang lain. Malah dalam beberapa kasus, sesuatu yang kita anggap biasa aja adalah pengetahuan yang luar biasa untuk pembaca blog kita. Jadi tidak ada salahnya dituliskan saja, ya kan?
*lalu begadang, buat postingan lomba*
Untuk blogger pemula, kang Arul pun memberi beberapa tips ngeblog :
1. Mulailah Menulis Hal-Hal yang 'Remeh'
Sesuatu yang remeh terkadang diperlukan dan dicari orang di internet. Hari gini, ibu-ibu kalau anaknya sakit bukannya ke dokter, tapi googling dulu. Nyari resep masakan gak melulu di buku resep, tinggal buka internet aja. Sampe mata berkedut aja nyarinya gak jauh, just a google away.Lagipula menurut saya, hal yang kita anggap remeh belum tentu gak penting di mata orang lain. Malah dalam beberapa kasus, sesuatu yang kita anggap biasa aja adalah pengetahuan yang luar biasa untuk pembaca blog kita. Jadi tidak ada salahnya dituliskan saja, ya kan?
2. Tuliskan Secara Menarik
Tentu saja agar sesuatu yang remeh itu dilirik orang, cobalah menuliskannya secara menarik. Kalo kata kang Arul sih...“Nge-blog lah dengan style mendramatisir. Tulisan pada lima belas detik pertama, sangat penting membuat betah para pembaca.”Sesuatu yang jelek, jika dikemas dengan baik maka hasilnya akan kelihatan lebih baik. Benar juga! *lalu ngebayangin artis-artis Korea tanpa make-up dan baru bangun tidur. Masih keliatan keren gak ya?*
3. Rutinlah Menulis
Ala bisa karena biasa, pernah dengar? Begitu juga dalam hal ngeblog. Awalnya bisa jadi gak mudah, tapi jangan cepat menyerah. Sehari boleh saja satu atau dua halaman. Jika dilakukan rutin setiap hari, tidak saja memperlancar proses membuat tulisan, lama-lama postingan yang kita punya bisa dijadikan buku. Ih, keren ya! *lalu kepikiran sudah berapa postingan di blog ini yang senada untuk dibukukan*4. Jangan Memaksakan Diri Untuk Menulis, Enjoy it!
Jika merasa nulis buat blog itu susah, cari teman buat nulis ngeblog bareng supaya semangat. Jangan memaksakan diri untuk mengejar deadline agar tidak terbebani (Eh, nyindir saya nih, kang? Saya kan deadliner lomba, hihihi). Agar tidak memberatkan tulisan boleh dicicil! Dan yang paling penting adalah enjoy dalam menulis. Ngeblog jangan dibawa susah lah yaa... setuju?5. Jangan Tinggalkan Pekerjaan Utama Demi Blog
Saat jenuh-jenuhnya dengan pekerjaan utama lalu kenalan dengan profesi baru yang tampaknya menyenangkan, seringkali beberapa orang kepikiran untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ini bisa juga terjadi bagi para blogger pemula yang mulai merasakan enaknya jadi blogger. Bertemu orang-orang baru, dapat teman-teman blogger yang lebih asik dibanding rekan kerja di kantor, gak perlu dikejar-kejar tugas dari big boss yang rese dan bisa bekerja buat diri sendiri adalah beberapa alasan yang sering menggoda para blogger pemula,
Kang Arul yang saat ini memilih untuk cuti panjang dari pekerjaannya sebagai wartawan pun tidak fully jadi blogger saja. Dia juga menjadi dosen di beberapa kampus, walaupun kang Arul bukan blogger pemula lagi. Apalagi blogger pemula, ya kan?
Pada sesi tanya jawab beberapa peserta pelatihan dari kubu non-blogger kelihatan sangat antusias untuk mulai ngeblog. Salah seorang peserta dari bidang hubungan masyarakat pemerintahan (sueerrr bukan gue!!) sedikit curhat bagaimana blog ini bisa diberdayakan untuk kegiatan-kegiatan humas.
Kang Arul yang saat ini memilih untuk cuti panjang dari pekerjaannya sebagai wartawan pun tidak fully jadi blogger saja. Dia juga menjadi dosen di beberapa kampus, walaupun kang Arul bukan blogger pemula lagi. Apalagi blogger pemula, ya kan?
...kecuali kalau sudah sekelas Trinity Traveler, yah bolehlah minta pensiun dini. Sementara itu belum terjadi, ketidaknyamanan di kantor bisa dilampiaskan dengan nulis di blog dan ketemu teman-teman blogger yang asik-asik. Asal jangan kebablasan curcol tentang pekerjaan aja dan dipublished. Remember my friends, don't shit the hand that feeds you,sekesel apapun kita apa kantor dan orang-orang didalamnya.-- Ini menurut saya --
Ternyata pihak pemerintahan pun bisa menggunakan blog sebagai media mensosialisasikan peraturan-peraturannya. Kang Arul menyarankan walaupun memang ada pakem-pakem bahasa resmi yang harus dipatuhi oleh pemerintahan, tapi gak ada salahnya mencoba menggaet blogger lokal untuk bekerjasama mensosialisasikan peraturan pemerintah atau pelatihan blog. UHUKKK!!! *sodorin kartu nama*
Terakhir kang Arul lagi-lagi bocorin tips untuk blogger pemula agar lebih semangat nulis, yaitu dengan IKUT LOMBA BLOG. Selain mengasah kemampuan menulis, lomba blog hadiahnya kan lumayan tuh buat nambah-nambah bayar cicilan, hahaha..
Beberapa tips yang bisa kita contek agar menang lomba review produk ala kang Arul, adalah :
Nah, kalau seperti ini tulisan kita style blogger tapi setajam
Selama lebih kurang dua jam di waktu tunduh-tunduhnya (baca:ngantuk) tanpa secangkir kopi, peserta pelatihan diberi semangat oleh kang Arul dengan tips dan trik serta motivasi. Bolehlah dinobatkan sebagai blogger motivator, hehehehe..
Saya adalah salah satu yang termotivasi untuk ngeblog lebih baik lagi. Saya pikir memang segala sesuatu tidak ada yang tidak berproses, Rome wasn't build in a day. Begitu juga untuk urusan ngeblog. Cepat atau tidaknya kita pada posisi yang kita inginkan tergantung juga dari usaha kita.
![]() |
| Bagi Bagi Hadiah Untuk Blogger dan Wartawan |
Gak usah juga mikirin kerenan mana, blogger atau wartawan. Keduanya sama-sama keren dan bisa belajar dari masing-masing keahliannya. Mana tahu 'rejeki' kita terkoneksi dari hubungan yang baik antara blogger dan wartawan, ya kan?
Terimakasih PWI Sulsel dan Blogger Reporter Indonesia untuk pelatihan Blogger dan Menulis Reportase di Social Media yang berguna banget. Dapat ilmunya, eh bisa kopdar-an dengan blogger dan wartawan juga.
![]() |
| Blogger dan Wartawan Peserta Pelatihan ( Pic by BRID) |
Dan yang paling penting, BRID kalau perlu blogger reviewer di Makassar tahu kan siapa yang harus dihubungi? Hehehehe..
Visit here for Must-Have Free Blogging Tool



































