5 Tips Video Editing untuk Pemula

Beberapa waktu lalu saya sudah share Video Editing Software untuk Pemula. Alhamdulillah sudah ada yang menemukan 'jodoh' softwarenya. Nah, sekarang pertanyaan berikutnya : "Habis itu ngapain?" 

Ya mulai mengedit lah! Masa cuma dianggurin, hihihii.. 

Saat ini semakin mudah untuk merekam satu moment melalui media video. Kita bisa merekam moment tersebut melalui video recorder bahkan melalui handphone. Tapi bukan berarti hanya karena kita semua punya kamera video maka kita bisa merekam acara sekeren tayangan-tayangan di televisi.  

Ada proses editing yang harus dikerjakan dan itu tidak mudah loh. Bagi para video editor, video yang masih 'mentah' hasil rekaman pada kameramen ini harus disulap supaya terlihat bagus dan menghibur

Nah bagaimana dengan kita yang masih pemula ini? 


Tips Video Editing Untuk Pemula
pic cr: techapp
Sebenarnya tidak terlalu berbeda.  Dibawah ini ada beberapa tips yang mudah-mudahan bisa membantu: 

1. Buang yang Tidak Perlu

Dari pengalaman waktu masih jadi newbie editor di kantor, pesan dari semua PD hampir sama : Buang yang tidak perlu. Pilihlah scene-scene yang terbagus dari semua video mentah yang kita punya. Buang gambar yang shaky atau goyang dan tidak bisa diedit lagi walaupun dengan effect.

Terkadang video editor mengalami dilema memilih diantara scene-scene terbaik. Dalam pengeditan profesional, editor bekerja sama dengan seorang PD yang akan menentukan. Tapi jika bekerja sendiri, you are the editor and the PD. So stick with the story board.

Oh wait? Did I tell you about story boad? Story board ini semacam skenario yang mempermudah pekerjaan editor untuk satu adegan ke adegan yang lain. Ibarat kerangka karangan dalam menulis, pembuatan video juga membutuhkan story board supaya gak ngalor ngidul dan sesuai durasi yang ditetapkan.

2. Gunakan Effect Seperlunya

Pengeditan video sebenarnya hampir sama dengan pengeditan naskah. Gambar yang biasa saja juga perlu dipoles agar orang tertarik dan betah menontonnya. Disini kita memerlukan effect agar video terlihat menarik. 




Dalam aplikasi yang kita gunakan, video effect tersebut sudah disertakan. Tapi kesalahan para video editor rookie adalah terkadang mereka menggunakan semua efek video disediakan supaya keliatan keren. Padahal sih malah jadi norak karena tidak tepat penggunaannya.  

Untuk langkah awal pakai satu atau dua transisi saja dan jangan menggunakannya setiap detik.  Eneg juga kita yang nonton kalau semuanya pake effect transisi. Tambahkan satu atau dua filter yang baik, agar ada tampilan di layar terlihat berbeda, Misalnya menggunakan filter hitam & putih atau sepia., untuk kesan 'classic'. Jika mengedit video musik, gunakan beberapa filter tetapi sesuaikan dengan irama musik. Supaya gambar tidak monoton, boleh loh mempercepat atau memperlambat gambar dengan menggunakan speed effect. Tentunya disesuaikan juga yah dengan musik latar yang digunakan.

3. Musik Latar Sebagai Pemanis


Dalam editing penggunaan musik latar sangat membantu tampilan sebagian besar program menjadi menarik (kecuali untuk program hard news, news flash atau breaking news). Pilihlah musik latar yang kira-kira sesuai dengan topik video.


Misalnya untuk video tutorial, pilihlah musik yang mid-beat atau upbeat. Jika menggunakan lagu dengan lirik atau vokal jaga agar suara penyanyi tidak berbenturan dengan suara orang yang berbicara di video. Gunakan vokal untuk bagian video di mana tidak ada dialog. Jangan lupa untuk menyesuaikan pergantian shots dan speed dengan beat musik latar yang dipergunakan.

Tips : Gunakan music dari Youtube Audio Library pada tab Youtube Creator Studio untuk menghindari pelanggaran hak cipta.

4. Normalisasikan Audio


Selalu pastikan untuk  menormalkan audio saat mengedit. Ini artinya semua tingkat suara tidak boleh melewati puncak di audio meteran bar. Bar ini adalah daerah software editing video yang bergerak naik dan turun ketika video diputar. Contoh jika memakai Adobe Premiere, audio bar akan berwarna hijau untuk level audio normal dan kuning menuju merah jika terlalu keras. Penonton tentunya tidak mau audio yang terlalu rendah atau terlalu keras, jadi tolong diperhatikan yah.

5. Sabar dan Jangan Gampang Menyerah

Untuk hasil yang bagus tentu butuh proses, setuju? Memang ngedit tuh gak bisa cepat dan buru-buru (kecuali kalau cuma cut to cut doang buat Breaking News sih, harus cepat kalo gak disentil PD). Video 3 menit yang biasanya kita tonton di televisi atau di YouTube itu proses pembuatannya bukan 3 menit juga loh, saya yakin. Salah satu teman editor saya yang jago aja, ngedit paket acara 30 menit butuh seharian, itu juga pasti dibongkar lagi ama PDnya (huahahaha.. nasib editor). Kadang editornya sendiri yang gak puas, hasil editannya dibongkar lagi untuk diedit ulang. 

Memang sih sekarang banyak aplikasi gratisan di smartphone atau video editor apps online yang bisa 'ngeditin' video kita. Tapi yah gitu, ada watermarknya dan kalau saya pribadi sih gak puas banget.  Ini salah satu video yang saya edit menggunakan aplikasi di smartphone.





No Pain No Gain, ya gak? Kalau mau hasil bagus ya usaha dong! Jadi saran saya sih, practise makes perfect and by this i mean, jangan gampang menyerah. Kalau gak tahu, Googling atau join forum editing.  Forum yang besar mempunyai ratusan member yang tahu pro dan kontra dari aplikasi yang kita gunakan dan masalah yang kita alami. Tenang aja, kita tidak sendiri, bahkan video editor jago pun gak segan-segan belajar dari yang newbie. 

So, selamat mengedit ya. Have fun!

Mari Belajar Bahasa Korea [Part 2]

Annyeonghaseo.. 

Menyambung niat bahwa setiap hari Rabu adalah waktu belajar bahasa Korea bareng, kali ini saya akan berbagi beberapa kata yang berhubungan dengan Mari Belajar Bahasa Korea Part 1 : 안녕하세요 [an-nyeong ha-se-yo]. 


Ada perjumpaan, ada pula perpisahan, ya kan? Nah, dalam bahasa Korea untuk mengucapkan 'Selamat tinggal' bisa menggunakan kata-kata berikut : 




Semoga berguna. 다음주에 보자, sampai ketemu minggu depan.
안녕히 계세요, annyeonghi gyeseyo. 

Rammang-Rammang, Nirwana yang Tersembunyi

Traveling Rammang-Rammang

Menyebut objek wisata Sulawesi Selatan kebanyakan orang akan teringat Tana Toraja, Makassar atau Tanjung Bira. Padahal Sulawesi Selatan, provinsi dengan berjuta potensi pariwisata ini ternyata menyimpan satu objek wisata menarik yang tidak banyak diketahui orang.

Salah satunya adalah Rammang-Rammang. Tak banyak yang tahu tentang tempat ini. Namanya nyaris tak terdengar karena tenggelam oleh objek wisata alam lain yang berlokasi tak jauh dari Makassar seperti Bantimurung. 

Rammang-Rammang

Rammang-Rammang sendiri sebenarnya adalah deretan batu karst yang membentang sepanjang 45000 hektare di Gugusan Pegunungan Kapur (karst) Maros-Pangkep. Dalam catatan UNESCO, Rammang-Rammang adalah pegunungan karst terbesar kedua, terluas, terpanjang, dan terindah di dunia. Selain itu UNESCO menetapkan Rammang-Rammang sebagai kawasan cagar alam yang memiliki keragaman hayati yang unik dan sisa peninggalan manusia purba di beberapa dinding gua.

How To Rammang Rammang 

Sebenarnya tidak sulit untuk mencapai Rammang-Rammang. Lokasinya berada di Desa Salenrang Dusun Rammang-rammang, Kabupaten Maros. Jarak untuk sampai ke sana sekitar 32 kilometer dari pusat Kota Makassar, dengan lama perjalanan sekitar 60 sampai 90 menit. 

Bagaimana Ke Rammang-Rammang


Ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk menikmati keindahan Rammang- Rammang. Pengungjung bisa memilih jalur darat atau jalur sungai. Dari dermaga Rammang-Rammang kita bisa menyusuri sungai Pute dengan menumpang perahu  yang disebut sebagai Jolloro’ oleh masyarakat setempat.

Dengan membayar tarif sekitar Rp150 sampai Rp200 ribu pulang pergi untuk sebuah Jolloro berpenumpang 10 orang, penumpang akan diajak menyusuri batu karst dengan suasana sungai yang tenang dan berhias Mangrove, pohon Nipa dan pohon Bakau.

Sungai Pute
Sungai Pute, Rammang-Rammang 

Rammang-Rammang, Nirwana Yang Tersembunyi

Setelah menempuh perjalanan 30 menit dari dermaga Rammang-Rammang, dusun Kampung Berua ada di depan mata. Di kampung kecil ini  terdapat  sawah luas dengan latar  belakang pegunungan karst selayaknya lukisan. Bayangkan betapa indahnya pemandangan ini dilihat di malam hari. 
Rammang-Rammang
Hutan Batu, Dusun Kampung Berua
Tidak salah jika pemerintah provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata menggelar event Festival Full Moon dengan tema ‘Hidden Paradise’ di tanggal 4-5 Agustus 2015 lalu. Event ini sedianya untuk lebih memperkenalkan Rammang-Rammang di mata dunia, mengingat potensi pariwisata di tempat ini sangat luar biasa. 

Selain pemandangan deretan pegunungan karst yang disebut sebagai Hutan Batu, Rammang-Rammang mempunyai sejumlah objek wisata alam lain. Sebut saja Telaga Bidadari, Goa Bulu Barakka, Goa Telapak Tangan, dan Goa Pasaung. 

Take Only Memories, Leave Only FootPrints

Beberapa waktu lalu sebuah event yang diberi tajuk Festival Full Moon digelar oleh Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan untuk mengekspose keindahan Rammang-Rammang. Event ini sempat ternoda dengan kecerobohan dan ketidakpedulian dari peserta acara. Sampah berupa sisa makanan, tissue, gelas air minum bergelimpangan di beberapa tempat. Padahal panitia sudah menyiapkan kantong pembuangan di beberapa titik. Saya yang membacanya lewat social media menjadi sangat malu event berskala besar untuk memperkenalkan Rammang-Rammang  tercoreng seperti ini. 

Menurut beberapa traveler, objek wisata yang tidak terekspos media sebenarnya lebih indah untuk dinikmati.Karena jika sudah banyak yang tahu, terkadang tingkah pengunjung yang tidak peduli lingkungan akhirnya membuat sebuah objek wisata kehilangan daya tariknya. 

Haruskah Rammang-Rammang tetap menjadi nirwana yang tersembunyi agar keindahannya bisa tetap abadi? Ataukah kita sebagai pengunjung harus siap berbenah diri menjaga lingkungan disaat menikmati pemandangan yang alami?

Traveling Quote

Jawabannya ada pada kita sendiri. Bukan pada pilar-pilar batu karst yang menjulang di antara kebun dan sawah-sawah dengan padi emas menguning. Karena Rammang-Rammang adalah nirwana yang tersembunyi yang tak pantas untuk dikotori. Datanglah berkunjung namun jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki.

1001 Cerita Nebeng Mobil Grand Livina

Iyah.. jadi ceritanya, dulu waktu belum berani nyetir sendiri saya tuh suka nebeng ama teman-teman. Alhamdulillah teman-temanku tuh baik hati banget sering antar jemput kalau pengen hang out bareng. Tapi lama-lama nebeng gak enak juga kan.. Lagian dari dulu emang pengen nyetir sendiri. Sudah punya SIM, sudah kursus nyetir, sudah ngumpet-ngumpet bawa sendiri tapi yah gitu deh,. Belum direstui nyetir secara resmi. Hiks.

Suatu hari seorang teman baik yang sudah duluan nyetir sendiri kemana-mana mengajak saya makan siang. Saat pulang dia bertanya mengapa saya belum nyetir juga padahal punya mobil dan memiliki SIM. Curhat dong jadinya.. Eh tidak disangka dia malah menawarkan saya untuk mencoba mobil Grand Livina barunya. 

Waduhh!! Saya senang sekaligus deg-degan. Biar bagaimanapun beraninya, saya takut mobil teman lecet. Masih baru gitu loh.. Lagipula waktu kursus mobil yang saya kendarai bukan Grand Livina. Mobil di rumah pun merknya berbeda. Saya khawatir akan sulit mengendarainya. Duh.. take it or leave it?

Pengalaman nebeng akhirnya jadi nyetir sendiri ini lalu teringat kembali pas baca ada lomba 1001 Cerita Keluarga Livina berhadiah mobil Nissan Grand Livina. Sebenarnya sudah lama banget tahu lomba ini tapi waktu itu saya pikir cuma untuk yang punya Grand Livina doang. Eh ternyata, yang pernah punya pengalaman sebelumnya berkendara dengan Nissan Grand Livina boleh ikutan juga.

Klik Gambar Untuk Daftar
Ya ampun kebetulan banget sik! Mana cara ikutan gampang banget. Kunjungi website 1001 Cerita Keluarga Livina, klik 'Daftar Di Sini', lalu submit video/tulisan testimoni singkat. Pada form pendaftaran, di kolom “Tipe Mobil” silahkan isi dengan “Others” saja jika tidak memiliki Nissan Grand Livina saat ini. Syarat dan ketentuan lomba bisa dibaca di SINI.



Hadiahnya keren banget pula!  
  • 1 Mobil Nissan Grand Livina 
  • Uang Belanja Setahun (12 bulan x IDR 1 juta) untuk 3 Video Testimoni Favorit 
  • Voucher Belanja IDR 1 juta untuk 5 Foto Testimoni Favorit
Duhhh pengen... 

Jadilah saya cuzz ke website 1001 Cerita Keluarga Livina dan ikutan submit cerita/testimoni singkat dalam bentuk tulisan seperti ini :


Simple banget kan?

Nah kalau ada yang pengen ikutan lomba ini juga, boleh banget loh. Mumpung masih ada kesempatan sampai tanggal 15 September 2015. Gak punya Grand Livina apalagi yang sudah jelas-jelas pake Grand Livina, cuz daftar!

Link Pendaftaran : 1001 Cerita Keluarga Livina


Grand Livina


Jangan lupa berdoa yang banyak. Siapa tahu rejeki kan bisa menangin Nissan Grand Livina atau voucher belanja jutaan rupiah. Kalau menang, boleh dong ikutan nebeng Grand Livina lagi #eh. 

Yuk Ikutan!! 

Video Editing Software Untuk Pemula



Saya suka ngedit video dan pernah jadi editor video di salah satu tipi. Selain ngedit untuk kerjaan, saya sebenarnya lebih suka ngedit  MV fanmade. Itu loh.. music video dengan ide sendiri yang footagenya (potongan gambar) diambil dari drama/iklan atau fancam. Kalau iseng dan suka banget sama satu OST K-drama saya bisa bela-belain ngedit MV fanmade lengkao dengan lirik bahasa Inggris dan original sound dari drama.

Meskipun sekarang sudah di take down dengan sukarela karena dapat surat cinta dari Youtube dua kali, tapi akan tetap menjadi kenangan, cuy!




Boleh loh subscribe Youtube channel Vita Masli #uhuk #promote #subscribermasih2K

Memang sih bikin MV fanmade  itu gak ada bayaran sama sekali dan footagenya gak sekinclong hasil capture kamera, tapi puasnya melebihi editan video tayang di TV nasional *halah*. Ya kan ide kita sendiri, footage milih sendiri sesuai imajinasi kita terhadap sebuah lagu.

Beberapa orang mungkin kepikiran untuk membuat home video atau video tutorial, hanya saja terbentur pada kekurangtahuan software yang bisa dipergunakan agar hasil video keliatan ciamik *halah*. Sebenarnya ada banyak video editor mulai dari yang gratis sampai berbayar untuk PC/laptop maupun smartphone yang bisa dipakai. Sebagai langkah awal, saya rekomendasikan 3 Video Editing Software Untuk Pemula dibawah ini: 

1 . Windows Movie Maker 2012, bukanlah aplikasi paling keren di jagad video editing tapi paling tidak mudah digunakan dan hasilnya juga lumayan daripada lu manyun. Design antarmukanya lebih banyak di drag and drop (tarik dan jatuhkan, haduh ini bahasa Indonesia enaknya apa yah..). Artinya pengguna tinggal menarik klip video dari folder komputer dan menempatkan klip tersebut langsung ke timeline Windows Movie Maker.

Software ini juga mempunyai beberapa efek yang mudah digunakan. Memang untuk yang pengen efek ala-ala tayangan di tipi gak akan menemukannya di Windows Movie Maker. Tapi kalau baru pertama kali coba-coba ngedit, software ini pas banget buat newbie. 



Apakah Windows Movie Maker bisa menambahkan audio? Bisa.. saya pertama kali membuat MV fanmade memakai Windows Movie Maker dan diupload di Youtube. Hasilnya? Setelah 400rb views, video saya diblock Youtube dan saya dapat warning. Hihihi.. nasib! 

2 . Videopad Video Editor,  sebuah software yang mempunyai basic standar pengeditan video dengan beberapa tambahan fitur seperti efek layar hijau chromakey dan panjang transisi dapat disesuaikan. Videopad juga menyediakan fitur reverse klip video, mempercepat atau memperlambat mereka, mengurangi kamera goyang, menambahkan foto stills dalam video dan menyesuaikan warna. Pengguna dapat mengedit video 3D dan mengkonversi film 2D ke 3D. VideoPad juga mendukung editing video qualitas HD. 

VideoPad bisa digunakan di Windows 8.1, XP, Vista, 7, 8 and 10 ( 64bit/32bit) dan Android versi 2.3.3 keatas. Sebenarnya aplikasi ini bisa juga diinstall di  Mac Intel OS X 10.4.4 ke atas dan iPad dengan  iOS 4.3 keatas. Tapi kalo saya punya Mac atau iPad mending pake iMovie aja keuleus.. Hehehe... 

Oiya, VideoPad ini ada versi gratis dan berbayarnya. Yang berbayar tentu saja fitur dan efeknya lebih lengkap dibanding gratisan. Yalah.. ada harga ada kualitas, gratisan gak boleh protes :D 

3 . Wondershare Filmora Video Editor,  tersedia untuk Windows dan Mac OS X. Yang saya suka dari Wondershare adalah ada banyak fitur seperti memotong gambar, cropping, overlay teks, efek transisi, sulih suara, dll. Berasa video editing profesional  tanpa membuat kita kesulitan saat menggunakannya. User interfacenya sangat sederhana bahkan untuk yang tidak memiliki pengetahuan editing video. 

Kita juga dapat melakukan capture langsung menggunakan kamera komputer dan mikrofon, atau melakukan screencast di layar PC/Laptop. Itu loh yang biasa dilakukan vlogger pembuat tutorial-tutorial penggunaan software atau video reaction para kpopers. 




Jika video sudah selesai diedit, langsung di export atau di convert ke format yang diinginkan. Bisa juga diburn ke dalam bentuk DVD atau di share via media social seperti Youtube atau Facebook. 

Nah, itu dia video editing software untuk pemula. Sebenarnya masih banyak software lainnya, tapi saya pilih yang termudah saja untuk yang baru nyoba-nyoba. Untuk cara mengedit video dan memodifikasi gambar, di kesempatan lain yah. Kalau masih ada yang penasaran saya menggunakan software apa, saya menggunakan Adobe Premiere CS 6 dan Sony Vegas 12. Ribet? Iyah! *supaya gak dibilang songong* hahaha...

Sampai nanti! 

Email dari Amerika

Saya tertarik untuk membaca buku ini ketika selesai mengikuti Workshop Narrative Journalism di Makassar International Writer Festival bulan Juni 2015 lalu. Bukan karena judulnya, tapi lebih kepada ketertarikan saya pada materi workshop dan cara Janet Steele membagi ilmunya pada kami. Saya ingin tahu bagaimana ia menerapkan apa yang sudah dibaginya pada kami dalam tulisannya sendiri. Jadi begitu workshop selesai, saya langsung cuzz ke booth book sale untuk membeli buku Email dari Amerika ini.  



Janet Steele, adalah seorang profesor jurnalisme di School Of Media and Public Affairs, George Washington University, Washington DC. Janet sangat identik dengan narrative journalism (jurnalisme sastrawi). Pada 1997-1998 Janet mendapatkan beasiswa Fulbright untuk mengajar di Universitas Indonesia serta riset di Lembaga Pers Dr. Soetomo di tahun 2005 -2006. Setiap tahun Janet Steele bertandang ke Indonesia. Tidak heran saat saya bertemu dengannya di Makassar International Writer Festival, bahasa Indonesianya cukup lancar. Dia bahkan menulis Email dari Amerika dalam bahasa Indonesia.
Awalnya saya pikir ini semacam satu  essay yang panjang. Ternyata Email dari Amerika adalah kumpulan tulisan yang dikirim Janet Steele melalui email untuk mengisi sebuah  kolom di surat kabar Surya dari tahun 2007 hingga 2011. Topik yang ditulisnya tentang cerita sehari-hari yang mungkin bagi beberapa orang sangat sederhana, namun ketika  dilihat dari sudut pandang Janet Steele, seorang Amerika yang jatuh cinta pada Indonesia, ada kesan lain yang saya dapatkan.


Tulisan tentang salju, misalnya. Janet Steele bercerita tentang anak-anak sekolah di Amerika yang sangat suka salju.


Jika ada banyak salju, tidak ada sekolah! Istilahnya snow days atau hari salju.  ( Halaman 15)


Kontradiksi dengan anak-anak, para orangtua di Amerika tidak suka snow days karena mereka harus mencari tempat penitipan anak. Salju juga banyak memberi ‘kerepotan’ di jalan, bandara bahkan peraturan-peraturan. Misalnya setiap pemilik rumah harus bertanggung jawab menyapu salju dari trotoar di depan rumahnya.


Kalau ada pejalan kaki yang terpeleset karena salju belum disapu, si penghuni rumah bisa digugat. (Halaman 16)


Janet Steele juga banyak bercerita tentang Indonesia. Sebagai seorang Associate Professor  di Sekolah Media dan Urusan Publik di George Washington University, Janet sering berkunjung ke Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia untuk workshop Jurnalisme Sastrawi, menjadi pembicara atau melakukan research. Liburan kuliah di tempatnya mengajar menjadi waktu yang dipergunakan untuk Janet melakukan kegiatannya di Indonesia.


Di salah satu sub bab berjudul ‘Teknisi’ yang ditulisnya pada tanggal 25 Juli 2008, Janet Steele bercerita tentang mesin cuci di apartemennya di Jakarta  yang rusak.


Di Amerika, kalau ada seseuatu yang rusak biasanya dibuang. Beda sekali di Indonesia! Saya sangat terkesan dengan para teknisi Indonesia yang bisa memperbaiki apa saja.  (Halaman 83)


Setelah diperiksa ternyata yang rusak adalah bagian switch dari mesin cuci Janet. Sayangnya sang teknisi tidak membawanya. Alih-alih meninggalkan mesin cuci Janet begitu saja, sang teknisi memberi alternatif agar mesin cuci itu tidak perlu menggunakan switch.

Masih tentang teknisi, Janet mendapat kesulitan dengan bola lampunya.

Tidak ada masalah dengan bola lampu. Juga tidak ada masalah dengan kabel listrik dibagian bawah. Akhirnya dia melepaskan bagian atas. Ada kawat yang rusak! Sesudah beberapa menit Pak Nim memperbaiki kawat, lampu saya menyala. Saya sangat senang. Sekali lagi saya sangat yakin para teknisi Indonesia bisa memperbaiki apa saja. (Halaman 84)

Dan ketika dia kembali ke Amerika dan menemukan masalah yang sama denga mesin cucinya. Janet tidak bisa tidak membandingkan teknisi Amerika dan Indonesia. Teknisi Amerika menolak 'mengakali' sesuatu, karena standar perusahaan Indonesia dan Amerika yang berbeda. Janet harus menunggu switch yang dipesan dari pabrik satu atau dua minggu lagi.

Janet Steele tidak hanya bercerita tentang hal-hal yang ‘ringan’ tapi juga yang bersinggungan dengan politik. Ditulis dengan gaya narrative journalism, email yang berjudul Minggu Dili di tanggal 9 Agustus 2009 ini menarik sekaligus memberi persepsi baru.


Kemarin, Sabtu, saya bertemu dengan seorang teman dari Timor untuk makan siang, namanya Fatima. Dia dulu kuliah di Jakarta. Dia masih punya banyak teman di Indonesia. Waktu Fatima kuliah, dia tinggal di rumah kos bersama beberapa teman lain. Salah satu menjadi sahabat baik, seperti saudara dan ketika Fatima berada di Jakarta dia selalu mengunjungi ‘keluarga kedua’ itu.


Fatima bercerita mengenai ‘keluarga’ dia di Jakarta, terutama orang tuanya. Sesudah jajak pendapat tahun 1999 ayahnya tidak ingin Fatima kembali ke Dili. “Untuk apa?” dia bertanya. Lebih banyak kesempatan di Indonesia.


Tapi Fatima adalah putri Timor yang baik, dan dia membalas bahwa semua keluarga dia tinggal di sana. Selain itu, Timor Leste menjadi negerinya sendiri. ( Halaman 203 -204)


Di bagian lain dari buku ini, Janet Steele juga berkisah tentang pengalamannya dengan orang Dili. Mereka ternyata lebih suka berbahasa Indonesia dibandingkan berbahasa Portugis. Sama seperti petugas hotel lebih suka ‘‘menyelundupankan’ air mineral Aqua ke dalam kamar hotel Janet dibanding air import dari Portugis yang diharuskan di hotel tersebut.


Mungkin ada benarnya, orang Timor Leste hanya terpisah batas wilayah kenegaraan saja dengan Indonesia. Pada dasarnya hati mereka masih Indonesia banget.


Macam-macam kesan, pengalaman, selipan pemikiran dan perenungan ditulis Janet dalam 150 emailnya di buku ini. Selain pandangannya tentang Indonesia, Amerika, Malaysia,  dan beberapa tempat lain, Janet pun tak ragu membagi kisah pribadinya tentang keluarga, teman terdekat, mahasiswa dan bahkan tentang hewan peliharaannya : Conrad.


Saya memiliki burung beo, atau mungkin lebih tepatnya jika dikatakan dia yang memiliki saya. Namanya Conrad. Dia berwarna hijau dengan sedikit merah, biru dan kuning. Ukurannya kira-kira 35 sentimeter. Dia tinggal di sangkar burung besar, yang terletak dekat meja tulis di rumah saya. Tetapi biasanya pintu sangkar itu dibuka dan Conrad duduk di atas. Tempat favoritnya di atas bahu saya. ( Conrad, halaman 13)


Conrad menghiasi beberapa tulisan dari buku Email dari Amerika ini. Tidak mengherankan, karena selama 20 tahun Janet ditemani Conrad. Ada banyak hal-hal menarik yang mereka lalui bersama. Janet menggambarkan betapa Conrad adalah burung yang pencemburu.


Kecemburuan Conrad tidak hanya kepada orang-orang yang dekat pada Janet tetap juga kepada barang-barang yang ‘mengambil perhatian’ Janet. Dia tidak suka pada televisi, alat penghisap debu dan radio. Menurut saya Conrad tidaklah sepencemburu itu. Mungkin dia cuma tidak suka kebawelannya ditandangi. Mungkin..


Membaca tulisan-tulisan Janet tenang Conrad sedikit banyak membuat saya bisa mengerti perasaan Janet ketika Conrad akhirnya meninggal. Iyah… saya pun sedih dibuatnya.




Tulisan-tulisan Janet yang mengalir dan deskriptif memang bisa membawa kita melihat dan merasakan pengalaman-pengalaman yang ada dalam Email dari Amerika ini. Perbedaan dan persamaan dari Indonesia dan Amerika yang dirasakannya sebagai dosen / orang biasa ditulis dengan kerendahan hati dan tidak menjatuhkan satu negara dengan lainnya.


Saya juga menyukai bagaimana Janet membuat judul yang sangat singkat, hanya satu atau dua kata saja, namun menggambarkan apa yang diceritakannya. Sederhana, tidak perlu berbunga-bunga tapi tetap membuat orang tertarik untuk ingin tahu apa yang dituliskannya.


Saya bukannya tidak menemukan kekurangan dari buku ini, tapi tidak banyak. Saya pikir untuk beberapa email isinya ada yang  terlalu singkat. Kadang seperti berlari terburu-buru lalu tiba-tiba sudah ‘Salam hangat dan sampai minggu depan’ (Kalimat penutup semua email Janet). 

Sebenarnya bisa dimengerti karena tulisan-tulisan ini sejatinya untuk mengisi kolom surat kabar yang tentunya punya patokan berapa kata untuk setiap edisinya. Mungkin saya hanya terlalu menikmati membaca tulisan-tulisan Janet hingga tidak rela berhenti.


Bagaimanapun saya menikmati membaca buku ini. Banyak hal yang terkadang terlupa untuk diperhatikan dari hubungan antar manusia, antar manusia dan hewan, antar dua kehidupan di dua benua yang berbeda. Sayang buku ini tidak saya temukan di toko-toko buku besar. Tapi mungkin jika berminat bisa menghubungi Yayasan Pantau melalui twitter di @@Yayasan_Pantau.  

Yes, I Got Her Signature and Note. Yay! 

Email dari Amerika ditulis dalam bahasa Indonesia ala Janet Steele yang bisa dinikmati bahkan untuk orang yang merasa berat untuk membaca literatur non fiksi sekalipun. Menarik untuk dibaca, selayaknya surat dari seorang teman lama.

69 Tahun BNI 46, Bank Yang Peduli Dan Selalu Berbagi

Bank Negara Indonesia atau yang biasa dikenal sebagai BNI adalah sebuah bank yang saya yakin sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Didirikan setahun setelah Indonesia merdeka tepatnya di tanggal 5 Juli 1946, BNI 46 telah menjadi bagian dari berbagai transaksi keuangan perusahaan, kementerian milik negara dan perorangan. 

Saya tahu BNI 46 sejak kecil. Bukan karena saya menjadi nasabah, tapi semata karena kantornya tidak jauh dari rumah dan sering dilewati saat berangkat ke sekolah. Waktu itu kalau ada yang nanya, "Tahu gak bank BNI?" jawaban saya adalah "Tahu dong.. Bank hijau orenj dekat lapangan." Maklum, namanya juga anak-anak, lebih cepat nangkap warna dan tempat main sesepedaannya saja. 

Barulah ketika saya kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri, BNI 46 menjadi bagian dari status saya sebagai mahasiswa. Mulai dari bayar  uang kuliah, menerima beasiswa sampai belanja-belanja jajanan dengan memakai kartu mahasiswa yang bisa dipergunakan sebagai kartu debit.

Beranjak ke dunia kerja, hubungan saya dengan BNI 46 tetap bertahan. Instansi tempat saya ditugaskan mensyaratkan pembukaan rekening di BNI sebagai media transfer gaji. Tiap awal bulan adalah moment yang paling saya tunggu. Sms cinta dari 3346 BNI SMS banking itu loh.. bikin deg-deg serr gimana gitu. Gaji telah tiba...



Tapi sebenarnya BNI 46 lebih dari sekedar media pentransferan gaji. BNI 46 adalah bank yang peduli dan selalu berbagi.


BNI adalah bank komersial tertua dalam sejarah Republik Indonesia dan didirikan oleh Margono Djojohadikusumo salah satu dari anggota BPUPKI. Sejak didirikan banyak hal yang sudah dilakukan oleh BNI 46 untuk Indonesia. Mungkin banyak yang tidak tahu, BNI 46 adalah bank pemerintah pertama dan tertua yang bertanggung jawab dalam menerbitkan dan mengeluarkan ORI (Oeang Republik Indonesia).

Dalam masa perjuangan BNI 46 sempat berfungsi sebagai bank sentral dan bank umum sebelum akhirnya beroperasi sebagai bank komersial sejak tahun 1955. Di tahun yang sama BNI 46 membuka kantor cabang di Singapura sebagai kantor cabang pertama di luar negeri. Hingga kini

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?

BNI 46 bertekad untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Sejak tahun 1960 komitmen ini dibuktikan dengan membuka Bank Terapung untuk melayani masyarakat yang tinggal di kepulauan atau daerah yang sulit dijangkau dengan transportasi darat. Di era 1960-an itu  BNI 46 menghadirkan inovasi-inovasi baru agar masyarakat Indonesia lebih semangat menabung. Diantaranya :

1. Bank Keliling,  jasa layanan perbankan di mobil keliling bagi wilayah yang jauh dari jangkauan kantor cabang atau ranting.

2Bank Sarinah, dari perempuan dan untuk perempuan. Layanan ini khusus bagi nasabah perempuan dimana seluruh petugasnya juga perempuan. Bisa dibilang ini inovasi BNI 46 yang sangat mengistimewakan perempuan di tahun 1960-an

3. Bank Bocah, salah satu cara BNI 46 dengan mengedukasi anak-anak membiasakan menabung. Menariknya, pelayanan Bank Bocah dilakukan juga oleh anak-anak. Mungkin supaya anak-anaknya tidak kagok kali yah..

4. Layanan Perbankan Perguruan Tinggi, untuk membantu para mahasiswa dalam bertransaksi membayar uang kuliah dan menerima beasiswa atau kiriman dari orang tua. Hayo.. yang ini pasti ada yang merasakannya juga kan?

Sebagai bank yang mempunyai visi menjadi Bank yang ‘unggul’ ‘terkemuka’ dan ‘terdepan’ dalam layanan dan kinerja, membuat bank BNI selalu siap memberikan layanan prima dan solusi. Tidak saja kepada seluruh nasabah, mitra pilihan utama tapi juga bagi para inverstor tanpa melupakan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas. Melalui BNI berbagi, program Corporate Social Responsibility (CSR), BNI 46 telah banyak membuat kegiatan-kegiatan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Yuk diintip:



Untuk program  Bina Lingkungan. BNI 46 telah memberi bantuan bencana alam, aktif menyiapkan beragam fasilitas perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia khususnya di daerah-daerah terpencil dan memberikan bantuan pengembangan sarana dan prasarana umum.

Hanya itu?

Tentu tidak..

BNI 46 bekerja sama dengan Yayasan Komodo Kita  mengalokasikan Rp 7,077 miliar untuk Pulau Komodo. Dengan berbagai program dan binaan diharapkan Pulau Komodo sebagai desa wisata dapat menjadi lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara penduduk dan Komodonya sendiri. Nah loh, segitu perhatiannya BNI 46 pada lingkungan. Komodo saja dipikirin coba..

Dalam bidang pelestarian alam, BNI 46 memang tidak main-main. BNI 46 mempunyai Pusat Pembibitan Tanaman yang bekerjasama dengan Paguyuban Budiasi, berbagi bibit pohon di berbagai tempat.

Jakarta, Bandara Kualanamu, Hutan Kota Banda Aceh, Taman Kota Trembesi Banda Aceh, Hutan Kotan Manahan Solo, Taman Kota Wonosari-Yogyakarta, lereng Gunung Sumbing, Hutan dan Taman Kota Udayana-Bali menjadi daerah-daerah pendistribusian bibit pohon. Bukan untuk sekedar gaya-gayaan, maksud BNI 46 tentu saja untuk mengurangi emisi karbon, membudayakan gaya hidup sehat, ramah lingkungan serta mendukung program pemerintah “One Billion Indonesia Trees” (OBIT). Selain itu BNI 46 juga mempunyai proyek Hutan Kota, Energi Terbarukan, Pengembangan Ekowisata.

Dan itu budgetnya tidak main-main loh.. Di tahun 2014, BNI mengelontorkan Rp. 59.133.322.379 untuk program-program CSR BNI Berbagi.

REALISASI DANA BINA LINGKUNGAN BNI 2014


Bidang
Realisasi (Rp.)
Pendidikan dan Pelatihan
 18.531.531.613
Pelestarian Lingkungan
 14.301.505.181
Peningkatan Kesehatan
 5.607.869.332
Sarana Ibadah
 11.127.854.000
Pengembangan Prasarana dan Sarana Umum
 5.391.376.276
Pengentasan Kemiskinan
 1.380.791.400
Korban Bencana Alam
 2.792.394.577
Total
 59.133.322.379

Sementara untuk program pemberdayaan masyarakat BNI 46 punya Kampoeng BNI yang membantu masyarakat dalam penyaluran kredit lunak dengan sistem klaster yang dilakukan di beberapa daerah khususnya di pedesaan. Tujuan sederhanan saja, agar ekonomi masyarakat di suatu kawasan tersebut dapat berkembang melalui pinjaman lunak.

Terdapat pula  program kemitraan maupun bantuan bina lingkungan untuk menunjang aktivitas ekonomi lokal dengan menekankan pada keunikan masing-masing cluster dalam berbagai macam produk yang menjadi keunggulan daerah tersebut.

Atas program-program CSR yang diluncurkan BNI 46, kerjasama dengan lembaga-lembaga dunia yang berkompeten dibidangnya pun terjalin.

Bukti keberhasilan dari program-program tersebut terlihat dari pencapaian yang diraih oleh BNI 46 sejak tahun 2009.

Hidup adalah berbagi. Sebagai badan keuangan yang mempunyai tanggung jawab terhadap kepentingan publik, selama 69 tahun BNI 46 telah membuktikan kepeduliannya dengan berbagi melalui program-program yang menyentuh banyak lapisan masyarakat Indonesia. Saya yakin dengan bertambahnya usia dan pengalaman, semakin handalnya sumber daya manusia yang dimiliki BNI 46, semakin prima pula layanan, kepedulian dan tanggung jawab terhadap nasabah, lingkungan dan komunitas.

Tetaplah melayani negeri dan menjadi kebanggaan bangsa. Jaya terus BNI 46!