Web Drama, Trend Baru Drama Korea

Gara-gara beberapa waktu lalu di twitter heboh dengan  web drama EXO Next Door, seorang teman (yang gak usah disebut namanya, ntar dia kondang)  nanya-nanya di whatssapp.  Dia penasaran kok bisa rame aja dibicarakan. Memangnya ceritanya super duper keren bingits? (Ngomong ala seumuran fansnya EXO). 

Akhirnya saya ceritakan sekilas story linenya dan alasan web drama yang baru 2 episode itu jadi TTWW (lengkapnya ntar di postingan berikutnya yah, supaya kalian betah maen ke blog gue. #modus), dia nanya lagi nontonnya dimana. Setelah diberitahu nontonnya di Line TV, dia nanya lagi "Channel TV baru? Harus langganan lagi dong..." 

Well, you don't have to, secara yang namanya web drama emang gak tayang di televisi tapi di website. 

Mungkin banyak yang belum tahu apa sih web drama itu?

Misaeng Prequel Web Drama 

Ketika Daehan,Minguk, Manse, Kim Soo Hyun dan Ha Ji Won Bertemu

Susah bagi saya untuk tidak membahas Song Triplets, Daehan Minguk Manse ketika yang tiap hari saya pantengin adalah mereka. Kadang-kadang terlintas dipikiran, mereka ini sebenarnya bisa banget membentuk boyband. Mereka bertiga sama-sama suka nyanyi dan masing-masing punya spesiality. Daehan bisa jadi leader sekaligus visual karena dia yang paling ganteng (menurut saya). Minguk menjadi 'the brain' and 'the voice (semacam Kyuhyun di Super Junior gituh..) karena paling cepat hapal lagu dan pinter. Manse? Mmh.. dia tipikal member boyband dengan imej bad boy yang suka becanda gitu deh. Ya kan?

Ternyata baru-baru ini imajinasi saya tentang Song Triplets boyband ini kurang lebih terwujud dalam sebuah iklan bank yang mereka bintangi. Bukan plek jadi boyband sih. Di iklan 30 detik itu Daehan, Minguk, Manse bertransformasi menjadi anak band. Bonusnya  ada Kim Soo Hyun dan Ha Ji Won juga loh.. Super duper keren! 



Peringatan : 
Hati-hati! Iklan ini berpotensi membuat penonton mengklik icon replay berulang kali. Menghubungi dokter jika jatuh cinta pada Song Triplets atau makin cinta sama Kim Soo Hyun adalah usaha yang tidak berguna. 

Supernova Episode Gelombang, Keping ke 5 Di Tangan Alfa Edison

Gelombang adalah salah satu novel rangkaian dari Supernova yang ditulis oleh Dewi 'Dee' Lestari. Ini bukan pertama kalinya saya membaca karya-karya Dee, bisa dibilang saya termasuk fans beratnya (walaupun bukan hardcore fan ya.Uhuk!). Di tahun 2000, ketika pertama kali Supernova : Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh terbit, saya tidak pernah menyangka bahwa ternyata cerita ini bersambung menjadi beberapa keping kisah yang ditulis masing-masing dalam satu buah novel. Sepanjang 14 tahun, Dee sudah menulis Akar, Petir, Partikel. Di tahun 2014  Gelombang dipublished dan menjadi keping kedua dari terakhir dari serial Supernova.

Supernova Episode Gelombang

Supernova Episode Gelombang, Keping ke 5 Di Tangan Alfa Edison 


Dalam setiap keping, selalu ada tokoh sentral yang berbeda dari keping sebelumnya. Untuk Gelombang, Dee 'menciptakan' Alfa Edison, seorang Batak dengan kecerdasan luar biasa. Orangtuanya bercita-cita ingin Alfa
menjadi orang yang tidak sekedar menjadi jago kampung. Persiapan telah dibuat namun kedua orangtunya dihadang dilema. Alfa diperebutkan oleh dua orang sakti mandraguna dari dua kampung berbeda. Orang-orang sakti ini berniat menjadikan Alfa sebagai murid spritualnya. Dari salah satu diantara mereka, Alfa diberi sebuah batu bersimbol aneh. Dia harus menjadi 'penjaga' kampung seperti batu itu menjaga dirinya. Untuk itu dia tidak boleh merantau. Sesuatu yang bisa menyia-nyiakan kecerdasan seorang Alfa Edison a.k.a Inchon.

Bukan tanpa sebab Inchon diperebutkan orang-orang sakti ini. Para tetua-tetua adat dan orang-orang sakti ini percaya Inchon telah dipilih oleh Si Jaga Portibi, mahluk gaib yang menjadi penghubung antara pencipta dan manusia. Inchon tidak hanya 'bertemu' dengan Si Jaga Portibi dalam keadaan sadar, tapi juga saat ia terlelap. Setiap kali dia tertidur, Inchon bermimpi aneh dan mencekam. Ada sesuatu dalam mimpinya yang berusaha untuk membunuhnya. 

Mimpi itu terus memburunya walaupun ia telah merantau jauh ke Amerika. Sebagai imigran gelap dia berusaha menembus belantara New York menjadi mahasiswa sekaligus karyawan perusahaan trader Wall Street ternama. Bermimpi jika ia tertidur menjadi ketakutan terbesar Inchon. Dia menjadi insomnia kelas akut. Suatu hari seseorang perempuan hadir dan memicunya untuk menghadapi ketakutan terbesarnya.

Dan itu membawanya jauh hingga ke Tibet, dimana satu demi satu jawaban dari semua pertanyaannya yang disimpan bertahun-tahun akhirnya terjawab. 

Hanya ada satu pertanyaan tersisa, dimanakah Inchon harus menemukan  keempat pemegang batu bersimbol seperti yang dipunyainya? 

My Impression

Dee selalu luar biasa dalam merangkai kata dan cerita. Saking luar biasanya saya sempat dibuat bingung dan agak mabok istilah-istilah di Supernova: Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh. Untunglah makin kesini, serial Supernova semakin bisa mengeluarkan Dee dari keinginan terlihat pintar dan benar-benar memperlihatkan dia betul-betul cerdas dengan tidak menumpahkan semua istilah-istilah yang tidak familiar seenak hatinya. Selain Partikel, Gelombang adalah salah satu keping yang cukup santai dalam penuturan dan alur cerita. 

Hal yang menarik adalah, jika pun tidak pernah membaca novel sebelumnya, masih tetap akan mengerti jalan cerita. Namun Gelombang juga tidak luput dari kesalahan-kesalahan kecil. Saya sangat menikmati cerita pencarian Diva hingga ketika lampu sorot pindah pada tokoh Inchon kecil. Namun ketika Inchon pindah ke New York ada beberapa hal yang saya rasa sebagai 'pelajaran gaya hidup bebas' terselubung. Walaupun Alfa beragama penyembah berhala (menurut keluarga yang ditebengin Inchon) dan hidup di New York yang bebas, tidak bisakah Inchon digambarkan tidak ikut-ikutan tidak perjaka hanya karena teman-temannya menertawainya? I mean, buku ini dibaca oleh anak muda Indonesia. Jika ada contoh, bisa jadi ini dijadikan pembenaran : Cowok Perjaka sebelum menikah itu gak cool, meeen..... Apapun agamanya, bolehkan kalau bukan hanya perempuan yang menjaga diri tapi juga lelaki? 

Untuk hal yang lain seperti jalan hidup Inchon yang terlalu mudah, dari ke Jakarta, pindah ke New York, dapat beasiswa hingga kerja di perusahaan ternama dengan gaji luar biasa tidak mengesankan buat saya. Namanya juga fiksi, tokoh utama tetap harus dipermudah jalannya walaupun kadang ada beberapa hal yang terlalu dipaksa. Semisal kenapa harus ke Amerika dulu untuk akhirnya bertemu sebuah buku yang ditulis Kalden? Bukannya dia sering nongkrong di toko buku bekas bapaktua? 

Inchon juga digambarkan jago bermain gitar dan berhasil memenangkan kontes di sebuah club. Bisa jadi ini penggambaran Dee untuk tokoh Inchon agar dia kelihatan lebih keren daripada sekedar jadi geek, mahasiswa peraih beasiswa di universitas ivy league. But that don't impress me much! Tidak ada hubungannya juga dengan inti cerita. Kecuali kalau tiba-tiba dia jadi ksatria bergitar dalam mimpinya lalu menemukan jawaban tanpa harus ke Tibet. (Lah, jadi Bang Rhoma dong... ). 

Dan walaupun ini bukan novel agama, saya merasa banyak unsur-unsur ajaran agama Budha yang disuntikkan dalam pemaparan kisahnya. Sesuatu yang pernah membuat saya jadi sedikit antipati pada Dee saat ia menuliskan Zarah yang beragama Islam namun dengan entengnya menjawab Jamur sebagai Tuhannya. *Sigh* But,hey! Dee hanya menulis untuk dirinya sendiri dulu, memang bukan untuk memenuhi selera pasar. Salah pembaca kalau kemudian jatuh suka. Ya kan?

Ada hal yang saya kagumi, ada pula yang harus saya maklumi. Yang jelas Dee adalah seorang penulis dengan segudang ide namun terkadang terlalu liar berimajinasi. Keliaran imajinasinya itu bisa jadi membawa pembaca jadi penasaran atau malah berhenti ditengah jalan karena kelelahan.

Gelombang adalah salah satunya buah pemikiran dan hasil riset Dee yang akan berlanjut pada Intelensia Embun Pagi yang akan menghubungkan novel-novel sebelumnya. Diantara beberapa hal yang tidak memuaskan tadi saya masih tetap penasaran ingin membaca ending dari serial Supernova. Sementara itu, mari terbawa gelombang hingga waktu yang belum ditentukan. 

Selamat membaca!

First Impression : Sensory Couple. The Girl Who Can Sees Smell

Saya jarang-jarang nih mau nulis tentang K-drama yang lagi tayang, baru 2 episode pula. Biasanya kan saya ngereview K-drama yang sudah selesai tayang aja. Tapi ini pengecualian sodara-sodara, because i just can't help it! Drama ini terlalu sayang hanya untuk disukai sendirian. Virusnya harus disebar ke seluruh penjuru mata angin. Wush wush... 

K-drama ini berjudul Sensory Couple atau dibeberapa waktu sebelumnya sempat diberi judul Girl Who Can Sees Smell. Saya lebih suka menyebutnya sebagai Sensory Couple karena judul ini lebih pas. Bukan hanya sang tokoh perempuan yang punya 'kemampuan' khusus tapi juga tokoh prianya. Pas kan kalo disebut couple?

Sensory Couple a.k.a The Girl Who Can Sees Smells

The Story : 

Sensory Couple dimulai dengan cerita 4 tahun lalu ketika Choi Eun Sool ( Shin Se Kyung) pulang sekolah. Sambil berjalan pulang dia mengirimkan sms kepada ibunya minta dimasakin ramyun. Little that she knows,

Melintas Batas Singapore - Malaysia

Sejak kemunculan Trinity sepertinya banyak orang-orang Indonesia yang ingin berlibur ke luar negeri sebagai backpacker. Sampai sekarang dengan makin mudahnya orang mengakses informasi dan perusahaan penerbangan yang kerap menggoda iman dengan promo tiket murah, makin banyak orang pula yang kepengen melihat dunia lain eh maksudnya negara lain.

Pertanyaannya adalah harus kemana memulainya? 

Dulu saya juga bertanya yang sama. Tahun 2013, saya nekat traveling berdua saja dengan teman, tanpa tour, cuma ngikutin trend : being a backpacker. Setelah punya passport, mikir punya mikir mending nyari negara yang gak usah pake visa dan bahasanya gak bikin susah. Singapore  langsung menjadi top of mind. Negaranya rapih, gak ruwet, sistem transportasi bagus dan wilayahnya gak seberapa luas. Pas lah buat traveler pemula.

Perjalanan ke Singapore bisa dibaca disini.


Melintas Batas Singapore - Malaysia


Lalu kemudian  saya pikir tanggung amat kalau hanya ke Singapore saja. Maka disusunlah rencana berikutnya : Mari nyebrang ke Penang, Malaysia. Kenapa Penang? Karena saya penasaran aja dengan negara bagian Malaysia yang katanya pertemuan jaman kolonial, Melayu dan peranakan.Seru kali yah..

Waktu itu sebagai orang yang pengen ngerasain jadi backpacker, maunya sih bisa kemana-mana dengan modal sehemat mungkin. Jarak Singapore ke Malaysia tidak seberapa jauh, tapi kan gak mungkin juga jalan kaki, hihihih. Cek en ricek selain naik pesawat ternyata ada moda transportasi bus yang bisa dipilih. Saya sengaja memilih bus malam supaya bisa menghemat waktu dan biaya karena gak perlu nginap di hotel. Rencananya sih tinggal bobo di bus, pagi sudah tiba di Penang.   

Ternyata operator bus yang melayani rute Singapore-Penang itu banyak dengan harga dan bus yang beragam. Pilihan akhirnya jatuh pada  operator bus Sri Maju. Selain harganya yang lumayan murah dibanding yang lain, busnya juga kelihatannya nyaman. Untuk tiketnya sendiri bisa dibeli secara online dengan pembayaran kartu kredit atau dibeli langsung di agen resminya di Golden Mile Complex. Waktu itu saya memilih beli secara online supaya gak repot aja. Begitu tiba di kantor pemasarannya di Golden Mile Complex, saya tinggal memperlihatkan e-booked pada petugas yang kemudian diganti dengan tiket beneran.  
Sambil menunggu jadwal keberangkatan, saya sempat nongkrong sebentar di Golden Mile Complex. Nongkrong disini adalah sebenar-benarnya nongkrong, bukan nongkrong cantik sambil ngopi-ngopi di cafe. Golden Mile Complex itu bukan semacam mall walaupun memang pertokoan. Saya sempat melihat-lihat sekilas keadaan di lantai 1 saat mencari toilet. Banyak kios kios makanan, pakaian, outlet cemilan dan yang paling banyak adalah agent-agent bus antar kota-negara. Jadi ketika selesai menoilet dan bus belum ada tanda-tanda berangkat juga, saya nongkrong di pelataran Golden Mile Complex bersama penumpang yang menunggu bus masing-masing. 

Disaat itulah saya sempat ngobrol dengan seorang perempuan muda yang malam itu juga lagi nunggu bus jurusan Ipoh. Dia sempat gak percaya ketika tahu saya ke Singapore dan saat itu mau ke Penang hanya berdua saja dengan teman. Cewek pula! Dan itu baru pertama kalinya ke luar negeri. Padahal kalau dipikir, dia bukannya ke luar negeri juga, sendiri pula. Mungkin bagi dia Singapore - Ipoh jaraknya hanya sepelemparan kapur, tidak termasuk luar negeri walaupun harus periksa passport.

Pengalaman pemeriksaan passport di perbatasan Singapore-Malaysia jadi pengalaman yang unik juga. Jauh sebelum berangkat saya sudah sempat browsing tentang hal ini. Banyak sekali yang saya baca menginformasikan : HARUS BURU BURU. BUS GAK MAU NUNGGU. KETINGGALAN? TUNGGU BUS BERIKUTNYA. Padahal kenyataannya... 

Bus yang saya tumpangi berhenti di imigrasi Singapore setelah tiga puluh menit berangkat dari Golden Mile Complex. Karena sudah baca informasi Bus gak mau nunggu  dan didukung orang-orang lain juga keknya buru-buru amat sampe lari-larian gitu, saya pun dengan sigap ikut lari ke dalam gedung imigrasi. Ternyata antriannya sudah mengular. Mungkin itu kali ya kenapa orang-orang di warning untuk cepet-cepatan lari, supaya gak kelamaan ngantri. 

Nyatanya proses antrian berjalan tertib dan petugas imigrasinya juga gak banyak cingcong langsung stempel aja. Gak berapa lama sudah selesai dan kembali ke bus yang MASIH NUNGGU dong dengan antengnya.. Memang sih cuma pindah tempat sekian meter aja, tapi penumpang tetap ditungguin sampai semua naik. Bukannya langsung berangkat lagi dan penumpang yang tertinggal harus nungguin bus dari operator yang sama untuk ditebengin. Duh! Sungguh siapapun yang menuliskan tips dan trick perjalanan dengan bus dari Singapore ke Penang seperti itu bener-bener harus mengedit lagi tulisannya deh. Ada kali lima menitan saya menunggu di dalam bus sampai akhirnya bus kembali melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Tau gitu yaah gak usah lari-larian. (Iyahh saya terlalu lugu... ) 

Couch Bus Sri Maju Yang Setia Menunggu 

Setelah passport dikecup basah dengan stempel imigrasi Singapore, gak sampe lima menit bus membawa kami ke gedung imigrasi perbatasan Malaysia.  Kali ini gak perlu lari-lari mendapatkannya walaupun langkah tetap harus dipercepat. Kantor imigrasi perbatasan Malaysia ini sedikit lebih kecil dan suram dibandingkan gedung imigrasi Singapore Sepertinya sudah terpampang nyata perbedaan kedua negara tetangga ini. Petugasnya juga tidak begitu teliti memeriksa barang bawaan pendatang, antriannya gak karuan, ruangan sesak ACnya gak terasa. Ya sudahlah, yang penting passport sudah dikecup basah lagi dengan stempel imigrasi. Welcome me Malaysia..  Let's get back to the bus!

Couch bus yang saya tumpangi cukup nyaman. Tempat duduknya empuk dan bisa diatur sehingga bisa menjadi tempat tidur, AC dingin walaupun lagu yang diplay pakcik supir adalah lagu India. Karena sudah capek banget seharian ngider di Singapore, saya tertidur dengan nyenyak sampai di terminal Sungai Nibong, Penang pagi buta. Gak kepikiran lagi untuk foto-foto interior bus (Walaupun masih aware dengan sekumpulan anak band keren yang duduk di bagian belakang. Hihihi). 

Lampu jalan masih nyala, langit masih gelap ketika bus tiba di Terminal Sungai Nibong. Saya disambut udara Penang pukul setengah enam pagi. Masih ada waktu buat sholat subuh. Alhamdulillah ada musholla di lantai dua terminal yang masih sepi. Ternyata terminalnya rapih. Selain ada musholla, terminal berlantai dua ini juga dilengkapi kamar mandi dan kantin. Yay! Bisa bersih bersih badan yang pegel agak kecut manis ini dulu kan...

Seselesainya bebersih badan, saya masih sempat selonjoran kaki di musholla sambil cek en ricek itinerary. Satu dua orang silih berganti masuk musholla untuk mengejar Subuh yang tertunda. Ternyata mereka ini mahasiswi-mahasiswi dari berbagai daerah di Malaysia yang sedang menuntut ilmu di Penang. Mereka cukup ramah ditanya ini itu dalam bahasa melayu sesekali bercampur bahasa Inggris. Lumayan lama ngobrol, mereka harus bergegas kembali ke asrama. Di luar langit sudah terang, jalan di depan terminal sudah mulai ramai. Saatnya berangkat. Mari telusuri Penang  di postingan berikutnya. Penang, here i come..

Terminal Sungai Nibong, Penang 

Note:
Pics taken by Ankhe, karena foto-foto yang saya ambil kebanyakan selfie. Hahaha *iyaah waktu itu level kenarsisanku setinggi level Maicih yang paling pedes* 

Behind The Scene Pemotretan Iklan : Daehan Minguk Manse dan Song Il Kook

Sementara yang lain masih belum bisa move on dari Ji Chang Wook yang mengupload fotonya 'balapan liar' di Bali, aku masih gak bisa melepaskan diri dari tiga bocah kembar ini :  Daehan, Minguk, Manse. Song Triplets ini sudah aku bahas sebelumnya disini, cuma karena kemarin sebagai ritual sehari-hari aku mampir ke forum dan melihat ini :

Daehan dan Appa Ppoppo

Whoaa... Dispatch! Setelah selama ini membocorkan scandal-scandal dating para artis Kpop sekarang malah published foto ini. Daebak! Seandainya Dispatch adalah situs berita Indonesia yang terkadang judulnya gak nyambung dengan isi beritanya, foto ini  bisa diberi judul : SELEBRITIES KOREA BERCIUMAN. 

*Lalu dikeplak massa*

GenKdrama, Ketika Perbedaan Tak Jadi Masalah

Masih ingat gak jaman pemilihan presiden tahun lalu? Di social media rame update-an status tentang kandidat pilihan yang kemudian berakhir 'rusuh' di tab comment. Gimana gak rusuh kalau terjadi perang hujatan, saling sindir menyindir atau lebih parah lagi secara terbuka berantem di social media. Serunya (atau sarunya?) berantemnya bisa melebar sampai ke dunia nyata sampai putus komunikasi dan tali silaturahmi. Kelakuan sudah 11-12 dengan fans hardcore One Direction, Justin Bieber, Agnes Mo, Super Junior, EXO dan segala macam idol-idol itu. Kalo ingat lagi jaman itu, gila yah..bisa sampai segitunya cuma karena perbedaan 'idola'. Hayo siapa disini yang sempat renggang hubungan pertemanannya gara-gara beda 'idola'? 
"Segala perbedaan itu.. Membuatmu jauh dariku.."

                                        Ari Lasso - Perbedaan

Oke lupakan, lagu Ari Lasso gak ada hubungannya dengan Kpop, Kdrama or whatsoever!

Gara-gara itulah akhirnya waktu itu saya mengambil jalan tengah : GAK MAU UPDATE STATUS BERBAU POLITIK, walaupun kadang-kadang tangan gatel setengah mati. Kalau dipikir-pikir lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Kalau opini kita berbeda, biasanya banyak yang komen gak mau kalah. Makanya mending bahas yang lain aja deh. Drama Korea,misalnya.

Dan ternyata saya gak sendiri.
Diantara teman-teman di media social, ada beberapa 'biang' Drama Korea. Jadi sementara yang lain sibuk dengan perdebatan tak berujung tentang siapa yang paling pantas, kami 'sibuk' berkicau di socmed tentang drama Korea yang telah dan sementara ditonton. Saling menanggapi jika ada yang menarik hati tapi tidak saling menyakiti perasaan jika berbeda opini.

Misalnya nih, terus terang saya gak suka sama Lee Min Ho dan Park Shin Ye. Gak ada satupun dari drama keduanya yang saya tonton (Jadi ngerti kan kenapa saya gak nonton The Heirs?). Bukan benci loh..gak suka aja. Walaupun sejuta umat bilang Lee Min Ho ganteng dan Park Shin Ye keren, dimata saya kemampuan akting mereka datar (tsaaahh!). Coba bayangin kalo komentar semacam ini di lapak lain, misal bilang "Aku gak suka EXO, mereka nyontek SuJu aja ihh!" niscaya bakal dibash abis sama anak-anak EXO-L. (Ada yang mau nyoba?)

Nah, reaksi seperti ini yang tidak (atau belum?)  saya temukan diantara para pencinta drama Korea. Beda selera jenis drama aja gak sampai ada yang marahan. Saya yang suka banget sama Misaeng sering banget nebar-nebar racun Misaeng. Senang aja kalau ada yang ter-Sales Team 3 juga. Lumayan kan bisa diajak ngobrol di rooftop sambil minum susu basi.

Misaeng, The Best K-Drama Ever!!