From Nothing To Something - Super Junior's Attack

Salam Khas SuJu
Jadi begitulah.. Saya seperti terkena "Super Junior's Attack". Out of nowhere saya yang awalnya gak berasa apa-apa ama mereka, gak benci tapi gak suka juga mulai keranjingan lagu-lagu dan betah banget nge-youtube-ing video-video mereka. Suddenly saya gak lagi terkantuk kantuk mendengarkan percakapan bahasa Korea.And to make it even worse saya membeli dua CD original mereka serta memfollow akun-akun twitter personilnya. Ahay! From feels nothing turns to something like this. Semua gara-gara kehebohan media saat kedatangan mereka ke Jakarta beberapa waktu lalu.

Sebenarnya sudah lama saya tahu boyband ini secara profesi (tambahan) sebagai penyiar radio mengharuskan saya always up to date with what's hot and not in music industry. Saya juga sebenarnya malah sempat membahas mereka sekilas di salah satu postingan saya. Tapi saya gak pernah begitu tertarik untuk mendengarkan lagu-lagu atau memperhatikan mereka secara lebih detail. Yang saya tahu salah satu personilnya sempat di kabarkan dekat dengan Agnes Monica dan jadi bahan perbincangan di Twitter pula. Malah saya sempat terkena kebosanan karena setiap kali saya menonton  channel TV Korea sepertinya mereka selalu ada entah lewat video klip, acara musik bahkan variety show. 

Pernah suatu ketika ada acara KBS Love Request yang menampilkan mereka menyambangi seorang anak dari Indonesia yang terkena katarak dan harus di operasi di Seoul. Karena katanya anak itu suka banget sama lagu Mr. Simple maka mereka nyanyi lah lagu itu secara acapella which is menurut saya waktu itu..They're just another pretty face boyband who couldn't sing well.. Dan asli lagu "Mr. Simple" itu ganggu banget, apalagi kalo muncul hampir tiap jam di channel-channel music.

Jadi ketika siang itu saya menyetel tipi dua orang Presenter infotainment mulai ngebahas kedatangan boyband Korea yang di tunggu-tunggu sejuta umat K-popers ini saya jadi geli sendiri. Pertama saya teringat jaman saya masih lugu sampai ngefans setengah mampus pada boyband-boyband Amerika sampai rela bolos sekolah demi bela tiket dan nonton konser mereka di Jakarta. Kedua karena salah satu teman saya ngefans banget dengan Siwon dan saya waktu itu gak  tahu namanya sampai saya nyebut dia dengan Miwon. Entah dari mana twit berhembus yang mention protes banyak banget. Karena lucu sekalian saja saya nge-twit "Soju, boyband asal Korea.." dan beterbanganlah mention-mention mulai yang menganggap itu lucu sampai yang take it seriously. Saking seriusnya si teman yang suka banget sama Siwon tidak kepikiran kepada saya ketika ternyata dia kelebihan ID Press nonton Super Show hari ke dua. 

Semakin mendekati harinya semakin hebohlah pemberitaan. Di Twitter juga tidak berhenti-berhentinya ada yang berkicau tentang event Super Show 4 ini. Hari gini memang juara banget deh kalau mau menghembuskan berita-berita di twitter. SHow hari pertama sukses membuat TT Indo dan WW di hiasi hastag #SS4INADay1. 

Teman saya si Siwonest itu pun sudah mengabarkan akan berangkat ke Jakarta di hari itu untuk SS4Day2. Seorang teman lagi sudah mengupload foto tiket yang sudah di tukarkan di venue ke Pic BBM dan Twitter. Karena pemberitaan tentang Super Show 4 ini juara banget,muncullah mereka di berbagai acara infotainment sampai berita-berita di TV yang "serius".

Saya pikir, ini apa menariknya sih boyband ini sampai segitu hebohnya di beritakan. Kedatangan salah stau personilnya yang terpisah dengan yang lain pun di beritakan lengkap dengan foto cowok bermasker itu di bandara. Tapi kan emang begitu Indonesia, segala sesuatu dibuat se-dramatic mungkin, seheboh mungkin sampai tidak bisa lagi membedakan mana informasi yang berguna mana yang sekedar untuk naikin rating semata. 

Entah di acara apa dan bagaimana sampai akhirnya saya merhatiin personil boyband ini satu-satu. Ini gara-gara Mbak Tike Priatna Kusuma di interview dan dia cerita pengalaman nonton Super Show 4 di Singapore. Dia juga cerita awalnya dia ngefans sama boyband ini karena di sekitar tahun 2010 ketika dia dapat jatah siaran pagi sering banget lagu Bonamana masuk di playlist. Dia ngerasa lagu ini ganggu banget,tapi lama kelamaan enak juga di dengar dan bikin semangat. Tambah ngefans lah dia ketika tahu personilnya secakep Kyuhyun dan suaranya bagus banget pula. 

Kenapa komentar Tike Priatna ini jadi nge-gong banget di kepala saya? Gak lain gak bukan karena :
  1. Kami sama-sama penyiar radio ( selera musik mungkin beda, tapi sense of good music kan bisa dipercayalah)
  2. Mba Tike ini sudah gak termasuk abege lagi. Jadi kalo dia aja pede pede aja nonton diantara para abege abege ini berarti it's worth to watch lah.. 
  3. Kyuhyun? Suaranya bagus? Yang mana itu? Perasaan orang-orang selalu bilang yang paling cakep itu Siwon dan menurut saya tampangnya emang cakep sih tapi too plastic :D ( If you know what i mean)
Jadilah saya pemirsa yang penasaran. Tiap kali ada tayangan yang menghadirkan mereka walau selintas saya mulai memperhatikan tampang-tampang mereka. Mana..mana yang paling cakep. Mata (dan hati) saya selalu mentok pada satu orang. Hanya saja saya gak tahu namanya. Gimana ceritanya saya bisa bertanya pada om Google kalo saya hanya tahu tampang gak tahu nama. Si teman yang Siwonest itu pun sudah gak aktif lagi di BBM dan Twitter setelah dia touchdown di MEIS. Dan begitulah hari kedua terlewati tentu saja dengan hastag #SS4INADay2 yang tetap bercokol jadi jawara TT. Dua orang contact di BBM pun sudah mengupload foto mereka lengkap dengan ID Press sementara saya di hari yang sama stuck dengan shownya Agnes Monica di Makassar yang malah di kabarkan oleh para ELF ada di MEIS nonton Super Show pula.

Day 3 semakin heboh dan mulai banyak tangis-tangisan gak rela mereka harus balik ke Seoul. Lucunya adalah saya mengikuti twit-twit melalui hastagnya.Rasanya seperti being stalker tapi ini sekaligus banyak akun. Membaca satu satu twit para ELF ini seringkali mengingatkan saya pas masih lugu-lugunya ngefans boyband. How the fans see their idols as perfect human and sometimes forget they're only human..Nothing as perfect as it seems. Oh well, biarkanlah itu sebagai proses mereka menjadi dewasa. (Eh emang saya sudah? hehehehe)

Setelah menyimak liputannya sepanjang dua jam di salah satu TV swasta, i began to like it. Yah emang pada dasarnya ada lagu-lagu tertentu yang mereka harus lipsync. Tapi secara ini adalah hiburan, how to entertain people is the most important of show business. Stage, lighting, sounds, the scenario of the show adalah satu hal yang akhirnya membuat saya nyesel kenapa tidak nonton Super Show 4. Saya suka banget nonton pertunjukan musik yang keren, kalau kek gini rasanya gak rugi tiga jam dalam venue to watch them. To make it even worse, teman saya si Siwonest itu ternyata kelebihan 1 ID Press karena salah satu anggota teamnya ada yang batal berangkat di detik detik terakhir. She took my joke seriously sampe gak kepikiran ngasih ke saya ID Press yang berharga itu. ID Press untuk orang-orang media partner acara itu tempatnya pasti gak sama dengan para fans..Lebih penting lagi, itu gratis.. Hehehehe
Keren banget kan

Trus trus kenapa saya akhirnya keterusan suka?

Akhirnya saya tahu juga siapa yang namanya Kyuhyun..Ternyata dia adalah orang yang bikin mata saya mentok ke dia dan gak bisa pindah lagi.. (halah..) tapi saya gak tahu namanya itu. I was like senang menemukan suatu barang yang hilang gitu. I finally know his name.. And it was him, the one i don't know what his name is.. Kalau kata lagu Can't Take My Eyes Off of You lah.. Teman seruangan di kantor sempat memblue toothkan lagu solonya " Hope is A Dream That Doesn't Sleep" dan beneran suaranya emang merdu menggetarkan jiwa gitu.. Saya sampai kepikiran,cowo ini kalo ikutan MTQ pasti menang.. #eh. Tapi hey, it's another story yahh.. yang ngefans sama Kyuhyun jangan di bawa ke hati lohhh.. :D 

And the rest is history.. 
Ketika sudah tahu nama, sudah mulai membesar rasa keingin tahuan, ngefans is just a matter of time. Most of my time asal komputer nganggur dikit saya you tube-ing tentang mereka. Their MV,Behind the scene,on the stage sampai ke variaty show yang mereka bintangi. Gak di rumah, gak di kantor, gak di tempat siaran. And i found out some things that make me fall for them.. 

Ya,mereka memang cakep. Ada yang dari sononya ada juga yang dengan sedikit bantuan operasi plastik di bagian mata dan hidung jadilah mereka seperti sekarang ini. Tapi talent mereka juga ada. Beberapa diantara mereka suaranya memang bagus bange. Saya yakin gak tergabung dalam boyband pun mereka pasti sukses. Sementara yang lain suaranya biasa saja tapi mereka punya spesialisasi talent sendiri. Ada yang bisa nge-rap,ada juga yang jago nge-dance, ada yang bisa ngemsi, ada yang spesialis akting dan drama dan menurut saya itu yang akhirnya membuat mereka gak seperti boyband pada umumnya. Didukung oleh management dan team yang solid di belakang mereka, kelebihan-kelebihan mereka ini blending dengan bagusnya tanpa ada yang jadi center of the stage. Coba deh perhatiin boyband dari masa ke masa.. Pasti ada salah satu yang menonjol banget semetara yang lain semacam backing vokal dan penari latar yang mangap mangap di belakang. 

Ada satu film semi dokumentar mereka yang tayang di MBC yang memasukkan komentar seorang pengamat musik di Korea. Menurutnya salah satu hal yang akhirnya membuat Super Junior ini kuat dan lebar range fansnya adalah karena masing-masing punya talenta sendiri-sendiri. Mereka secara personal bisa lebih sering  muncul menyapa pulik melalui tivi,radio bahkan di stage dan itu sangat berimbas pada bertambahnya orang-orang yang akhirnya mulai menyukai mereka. Yah, seperti saya ini lah.. :D

Saya kalau nonton video video mereka di Youtube itu gak pernah gak ketawa. Ada aja celutukan-celutukan mereka yang lucu. Entah kepada host acara atau ke masing-masing personil mereka sepertinya bisa santai saja mengeluarkan joke bahkan saling menceritakan kebiasaan-kebiasaan masing-masing personil. Apalagi si Kyuhyun.. Ini dia personil paling Evil sampai di beri julukan "Evil Maknae" saking seringnya ngeledekin,ngerjain dan berkomentar-komentar cuek pada personil lain yang notabene adalah sunbae alias senior-seniornya. Sudah paling terakhir masuk, paling muda, paling "tidak hormat" pada yang lebih tua. Maklum di Korea, hirarki itu penting banget.. Senior dan Junior itu gak bisa seenak jidatnya bahkan ketika berkomunikasi.Tapi sepertinya jadi pengecualian untuk Kyuhyun. Walaupun sempat balas di tumpahin kekeselan tapi gak parah banget.. Lagian siapa yang tahan sihh marah lama-lama kalau tampangnya gini..


Satu hal yang pasti, untuk sampai ke tahap yang mereka jalani sekarang perjuangan dan pengorbanan mereka itu gak ringan. Di training bertahun-tahun, latihan tiap hari harus di jalani dengan penuh keikhlasan dan tidak mudah putus asa. Sesuatu yang mungkin tidak dijalani oleh para personil boyband girlband Indonesia saat ini. Mereka gak menjalani training bertahun-tahun, permak penampilan, pengorbanan waktu dan tenaga. Kita tahunya ehh sudah ada boyband girlband baru aja ngedance di tivi. Tapi akhirnya itu lah yang membedakan kualitas antara yang kerja keras dan di tempa waktu dengan yang karbitan. Hey, I'm just saying :D. 

It makes me think Mereka kelihatannya gampang cari duit, muncul di tivi, jadi selebritis tapi kalau kerja keringatan juga..Satu lagu bisa keringatan gituh.. bayangin kalo satu show sekitar tiga jam..Apa gak seember tuh cucian bajunya.. Belum bangun pagi-paginya, latihannya, rehearsalnya, ini nya itunya.. Badan remuk, jauh dari rumah, gak punya pacar.. aishh berat banget gitu yah sepertinya. Sementara kita ada yang duduk manis ngantor,kerja dikit gak pake keringat (walaupun stressnya mungkin juga luar biasa), di bayar juga. Tapi yahh itu dia, besarannya gak sama.. That's why i believe "No Pain No Gain". Mau lebih yah harus mau berjuang dan berkorban. There's no easy way to get something best.

And i wonder, could it be the ELF who adore them think the same way too. Bukan hanya sekedar cinta mati karena kecakepan tampangnya,lagu-lagu,dance atau sekedar harapan untuk jalan-jalan ke Korea.. Bagaimana proses mereka menjadi yang sekarang dan nantinya, how to struggle in life and how to survive mudah-mudahan jadi hal yang para ELF ini pikirkan. Bukan hanya sekedar screaming out loud to them, but learn from them so one day ELF yang teriak-teriak histeris ini bisa di histerisin juga oleh orang lain karena usaha mereka. Jangan sampai nge-fans jadi hal yang gak berguna..

Super Junior - The Last Men Standing

Yah,semoga saja. Kalau gak bisa yahh..Sorry Sorry deh..

XoXo

V




The Stories Of Mr. Taxi

Ini bukan tentang lagunya Girls Generation, tapi ini sedikit cerita tentang taksi-taksi yang saya tumpangi seminggu belakang ini. 



Mr. Taxi Banyak Tingkah 


Dimulai ketika pagi itu saya harus berangkat ke Jakarta demi tugas negara. Segera setelah sholat Subuh saya menelpon salah satu armada taxi yang nomer hotlinenya paling teringat. Kira-kira lima menit kemudian taxi yang ditunggu pun datang.

Dari luar taksi nya terlihat masih baru dan cling. Supirnya pun menyapa sangat  ramah dan sigap membantu mengangkatkan koper kecilku ke bagasi. Tapi begitu naik ke dalam taksi, bau rokokpun mulai menyeruak. Ah, pak supir tadi baru saja merokok sepertinya. Dia pun berusaha menghilangkan bau itu dengan membuka dua kaca depan sampai hampir mentok. A cold wind menerobos masuk tapi tetap saja tidak bisa mengusir bau rokok sepenuhnya. Dalam hati saya menyabarkan diri untuk tidak mengomel pagi-pagi buta.

Sayangnya supir taksi ini seakan menguji kesabaran saya. Dia mengambil rute memutar lewat tol padahal saya sudah menyebutkan rute biasa.  Begitu memasuki ruas  tol teman saya sudah menelpon dan mengabari dia sudah tiba di bandara. Saya menjawab bahwa saya juga sudah di perjalanan dan segera akan tiba, padahal taksi baru saja melewati Gedung Keuangan. Pak supir dengan antengnya menyetir dengan kecepatan yang ingin membuat saya menginjak kaki kanannya untuk menekan pedal gas dalam-dalam. Malah taksi sempat berhenti di tengah tol untuk mengecek sesuatu di bagian belakang mobil yang menimbulkan bunyi aneh. Oh gosh!

Ketika teman seperjalanan saya itu kembali mem-BBM menanyakan posisi dan mengabari mengabari penumpang GA tujuan Jakarta sudah dipersilahkan masuk ke ruang tunggu,saya mulai kesal level tiga. Dengan nada sedatar-datarnya saya meminta dia mempercepat laju taksinya yang tidak di tanggapinya. Barulah ketika saya bilang rute yang di pilihnya ini lebih jauh dan memutar dia menanggapinya dengan,"Oh ya?". Supir ini memang minta di geplak sepertinya. Saya hanya bisa menyabarkan diri dan berdoa semoga saya tidak terlambat.

Dan tibalah saya di depan sign keberangkatan. Pak supir itu mengangkat koper saya dari bagasi dan meletakkan di emperan. Dia tidak berbalik ke taksinya hingga saya memanggilnya. Saya berikan dia uang selembar seratus ribu rupiah yang di terimanya dengan ucapan "Terima kasih" yang luar biasa ramah, menutup pintu dan hendak berlalu. Jelas saja saya langsung menegurnya mengingatkan argo yang tercantum hanya 70 ribu sekian. Dengan senyum liciknya dia bilang sekalian dengan uang tol. Uang tolnya gak lebih dari tujuh ribu, kata saya dalam hati.

"Argo hanya tujuh puluh ribu pak, bapak harusnya ngasih saya kembalian,"jelas saya keukeuh. Dia menjawab dengan nada paling ramah,"oiya, ini saya punya kembalian," dan menyodorkan saya sepuluh ribu lalu dia langsung ngacir .

Anger management banget yah pagi-pagi. Saya tidak pernah keberatan memberi tips kepada supir taksi yang nyetirnya efisien,baik dan gak banyak tingkah. Tapi ini bener-bener keterlaluan buat saya. Sengaja mengambil rute paling jauh dan mengakali argo. Untuk taksi sekelas Bosowa yang merupakan taksi pertama dengan armada paling besar di Makassar,hal ini sangat di sayangkan. Jelas-jelas merugikan penumpang, bukan hanya dari segi uang tapi juga waktu. Saya hampir saja telat boarding. Taksi dengan nomer 146 itu gak bakal saya lupakan.

Mr. Taxi dengan Corporate Value


Cerita tentang taksi ini masih berlanjut sampai ke Jakarta. Begitu keluar dari ruang kedatangan Bandara Soekarno-Hatta saya dan teman langsung menuju pool Blue Bird, taksi andalan sejuta traveler bahkan yang sudah berkali-kali ke Jakarta sekalipun. Bapaknya tidak terlalu banyak ngomong seperti supir Bosowa nomer 146 yang tadi saya tumpangi di Makassar. Dia hanya menanyakan secara spesifik letak gedung yang kami tuju.

Karena saya baru sekali ke gedung tersebut dan itupun sudah hampir setahun saya lupa-lupa ingat. Seingat saya gedung ini walaupun berada di Jakarta Barat tapi dekat dengan perbatasan Jakarta Selatan. Ada dua akses jalan tol yang bisa di lalui, yaitu Tol Kebon Jeruk atau Tol yang keluarnya di daerah Slipi. Pak supir ini pun mengusulkan untuk melalu Tol Kebun Jeruk saja tapi atas saran teman yang berkantor di Jakarta akhirnya saya meminta dia untuk lewat tol ke arah Slipi saja. Alasan teman saya itu keluar dari Tol di Kebun Jeruk itu  macet.

Tanpa banyak tanya lagi bapaknya pun menyetir mobil dan saya sibuk mengobrol dengan teman setaksi. Begitu sampai di perempatan lampu merah Slipi-Palmerah Pak supir pun bertanya terus atau belok kanan. Jreng jreng.. saya lupa dong! Lebih tepatnya gak tahu sih.. Akhirnya saya menelpon teman saya lagi dan pak supir pun menelpon temannya seprofesinya. Dalam bahasa Jawa yang dia pikir saya tidak mengerti dia bertanya dimana sebenarnya letak Gedung Pusdiklat Kementerian saya ini. Sepertinya temannya itu menyebutkan nama halte busway terdekat dan dia langsung mengerti.

Di lain pihak teman saya di telpon pun meminta bicara dengan pak supir untuk meng-guidenya ke jalan yang benar (halah!). Setelah ber-iya iya beberapa kali, pak supir mengembalikan handphone saya dan bilang,"Seharusnya tadi lewat Tol Kebun Jeruk saja,mbak. Lebih dekat. Seperti ini sekarang kita harus mutar." Saya mengernyitkan alis,"Bukannya di Kebon Jeruk macet pak?"saya balas bertanya.

"Kami  tidak menawarkan jalan yang sekiranya kami tahu macet mbak.  Apalagi sengaja mengambil rute memutar. Rute pilihan teman mbak tadi ini bisa ngongkos seratus ribuan, padahal kalau lewat Kebon Jeruk mungkin hanya enampuluh sampai tujuh puluh ribu saja. Bagi kami bukan soal  uangnya mbak, yang penting penumpang kami tiba di tujuan cepat dan selamat.  Blue Bird itu tahu penumpang  mengejar waktu jadi sebisa mungkin kami ngambil rute terdekat mbak.Kalau macet,bukan Jakarta namanya kalau gak macet mbak, apalagi hari senin seperti ini,"katanya lagi tanpa nada menggurui apalagi menggerutu.

Duh,belum apa-apa saya sudah dapat petatah petitih dari supir taksi tentang value corporate-nya. Buntut-buntutnya saya malah ngobrol tentang jalan-jalan di Jakarta. Intinya : Corporate Value lebih penting dari selisih duit sekian rupiah. Daebak!

Mr. Taxi Sengaja Matiin AC


Lain Makassar,lain Jakarta, lain pula Bandung. Di kota ini sebenarnya saya sangat jarang sekali memilih moda transportasi taksi sebagai pilihan. Selain ada yang siap mengantar dengan kendaraan pribadi, kalaupun saya naik transportasi umum saya memilih angkot bahkan kalo perlu jalan kaki saja. Bukan karena apa-apa, jalan-jalan di Bandung itu banyak yang satu arah. Bisa jadi jarak A ke B itu hanya selemparan upil, tapi karena arus satu arah dan menggunakan kendaraan, kita harus mutar jauh. Begitu balik dari B ke A malah dekat banget.

Jadi ceritanya di Bandung saya dan teman yang sedang kunjungan kerja berniat nyari cimol dan jajanan Sunda lainnya. Niat tinggal niat ketika akhirnya kami sepakat menuju deretan FO di jalan Riau. Agar tak ribet kami memilih menggunakan taksi. Karena di Bandung Silver Bird terbatas, jadi gak bisa milih ketika akhirnya yang menepi malah Taksi Gemah Ripah.

Tanpa banyak komentar dan sapaan pak supir membawa kami dari Cihampelas ke Jalan Riau. Satu-satunya yang mengganjal di hati adalah pak supir menurunkan kedua kaca depan hingga setengahnya. Udara Bandung sedang dingin-dinginnya malam itu di iringi gerimis yang mengundang lapar. Saya meminta pak supir menaikkan kaca dan menyalakan AC saja. Sekali di minta tampaknya pak supir tak mendengar. Dua kali di minta dia hanya menaikkan kaca tapi tidak rapat serta tidak menyalakan AC.

Awalnya saya pikir mungkin pak supir ini juga sudah merokok jadi ingin menghilangkan jejak-jejak bau rokoknya. Tapi penciuman saya cukup sensitif dengan bau rokok dan tidak mendeteksinya. Saya meminta ketiga kalinya ditambah pesan,"Sekalian nyalain AC aja deh pak," supaya jelas maksud dan tujuan saya untuk menutup kaca mobil. Barulah bapaknya mengikuti permintaan. Sepertinya tipikal supir ini memang harus di sebutkan sejelas-jelasnya :).

Setelah mengubek jalan Riau ( lebih tepatnya jadi pelanggan terakhir yang siap diusir dari FO) saya mengajak teman ke daerah Dago atas untuk ngemil-ngemil cantik di Warung Ngebulnya Vabyo. Sekali lagi kami memilih naik taksi saja daripada ribet di jalan naik angkot di jam sembilan malam. Dan sekali lagi yang menepi adalah taksi Gemah Ripah. Supir taksinya pun punya kebiasaan yang sama, membuka kaca setengah sampai kami harus mengingatkan untuk menaikkannya serta menyalakan AC. Supirnya tidak banyak ngomong dan walaupun ngomong nadanya pun datar saja tidak di ramah-ramahkan.Tapi nurut juga akhirnya.

Mr. Taxi Scammer 


Ketika keluar dari Warung Ngebul, kami di sambut hujan derasnya Bandung. Beberapa taksi yang lewat terisi semua. Hingga akhirnya ketika hujan semakin deras, berhentilah Taksi Putra. Dengan buru-buru karena tak mau kehujanan kami masuk dan mengatakan tujuan kami. Pak supirnya mengiyakan ramah.

Ketika taksi berjalan argo belum nyala juga, teman saya pun menegur. Pak Supirnya menjawab dengan nada sangat bersahabat,"Tidak pake argo neng, karena ke daerah situ dari sini sekali jalan dua puluh ribu. Memang sudah tarifnya." Dan kami di belakang melotot gak karuan. "Gak bisa dong pak, kami mau pake argo,"protes teman saya. Tapi bapaknya keukeuh dan saya tidak punya tenaga lagi untuk berdebat apalagi keluar dari taksi berhujan hujan menunggu taksi berikutnya.

Jarak dari Dago atas ke Cihampelas itu gak jauh. Paling banyak sepuluh ribuan saja. Tapi pemberitahuan gak pake argo ketika sudah berada di perjalanan itu yang gak enakin banget. Sebenarnya saya dan teman gak pelit-pelit banget ngasih tips tapi pada akhirnya dengan setengah hati saya pun membayar sejumlah yang bapak itu minta tapi pake catatan sangat besar di ingatan : Bahkan di Bandung pun ada scamming.

My Two Cents.. 


Lain lubuk lain ikannya, lain kota lain pula tipe pengendara taksinya. Tapi walau bagaimana pun image sebuah produk tergantung pelayanannya. Mungkin yang berbuat kesalahan cuma satu orang, tapi kejelekan lebih gampang tersebar daripada kebaikan. Beruntunglah jika nilai-nilai suatu produk bisa di jaga oleh para employeesnya. Bayangkan jika satu keburukan itu tersebar menjadi word of mouth yang lebih powerful dibanding iklan yang beredar. Bad image tentu saja tidak bisa di hindarkan.

Review Novel : Selamanya Cinta

Sejak dulu saya suka membaca hampir tentang apa saja, bahkan mencoba membaca pikiran orang. Eh,tentu saja belum berhasil walaupun terkadang sekali dua bisa menangkap yang tersirat dari yang tersurat. Lebih banyak saya membaca majalah,koran,buku,blog bahkan tweet. Yah,jaman sudah berubah.Sebuah bacaan bukan hanya dari selembar dua lembar kertas kan?

Bicara tentang blog, ada sebuah blog yang entah dari mana saya temukan tapi akhirnya membuat saya betah berkunjung kesana. Blog ini isinya kisahnya sebenarnya tentang hal-hal yang biasa di jumpai sehari hari. Penulisnya pun juga tidak berusaha menggambarkan dirinya sebagai orang yang bijak dan terlalu baik hati hingga tidak bisa marah dan memaki. Walaupun tetap dalam koridor yang bertata bahasa rapih, ia masih bisa mengungkapkan dengan lugas jika ia cemburu dan sakit hati. Manusiawi..

Dibeberapa bagian sering terselip postingan semacam cerita pendek yang berkisah tentang seorang lelaki bernama Abe. Sesekali saya membacanya tapi kemudian saya berpikir ini mungkin kisah pribadi jadi saya lebih sering melewatinya. Saya malah lebih tertarik membaca postingan tentang Kenzo. Abe menurutku tidak menarik secara nama. Entah kenapa selalu tergambar seorang lelaki berkulit hitam,rambut keriting dengan wajah yang tegas. 

Eniwei, tapi biarlah. Toh akhirnya saya tidak memperhatikannya sampai si penulis blog ini memposting "Coming Soon My Novel!" yang mengabarkan bahwa kisah Abe ini akan di jadikan novel dengan judul "Selamanya Cinta". Pertama yang saya pikirkan adalah "Wow!" lalu kemudian "Oke,sepertinya ceritanya akan sama saja dengan novel-novel galau lainnya." Dan saya melupakannya walaupun sempat men-DMnya untuk ikut order novel itu.

Sampai kemudian saya ke toko buku terbesar di kota saya untuk mengambil pesanan The Hunger Games Set Box ku dan bertemulah saya dengan ini :



Beli gak ya apa nunggu gratisan saja dari dia? Hahahha.. yang benar aja. Demi sebuah karma baik karena saya juga pengen menerbitkan buku sendiri akhirnya saya beli. Semua tidak segalau sinopsis singkat di blognya..

Ini tentang dua sahabat, Reina dan Abe. Yang satu jatuh cinta diam-diam, satu lagi malah sibuk naksir cowok-cowok lain. Yang satu menodai masa abegenya dengan kegalauan cinta, yang satu lagi sibuk menyangkal perasaannya sendiri. Sebuah peristiwa tragis yang berujung maut semakin menjauhkan keduanya. Bertahun-tahun setelah itu, ketika yang satu mulai pasrah, yang satu lagi mencoba menyiasati takdir supaya mereka bisa bersatu

Akan kah mereka bersatu?
Kisah Reina dan Abe sebenarnya kisah yang sering terjadi bahkan semacam kisah klasik dalam dunia persekolahan. Cinta yang di lingkupi persahabatan.  Mungkin ada yang mengalaminya di masa SMP, SMA (seperti di buku ini ) bahkan mungkin juga kuliah. Endingnya pastilah beragam. Ada yang jadian, ada yang akhirnya pisah karena kematian, ada juga yang akhirnya move on ke hati yang lain. Yang mana kah dari tipikal ending tadi yang menjadi ending kisah Reina dan Abe? Lalu siapa Dita yang disebut sebut di awal novel ini? Apapula hubungannya dengan Abe?

Seperti biasa setiap kali saya merekomendasikan sebuah bacaan atau film saya gak mau bocorin endingnya. Saya cuma bisa bilang novel ini salah satu dari sekian novel yang berending menarik yang pernah saya baca. Selama saya membacanya saya berharap-harap cemas menanti akhir kisah Reina dan Abe. Semacam punya keinginan tetapi belum tentu tahu apakah keinginan itu terwujud atau tidak.

Hal lain yang menarik adalah cara bertuturnya. Berbeda dengan novel "sastra galau" lainnya bahasanya sangat "Indonesia" walaupun saat para karakter bertutur mereka berinteraksi selayaknya kita berbicara sehari-hari. Ada lo-gue, ada aku kamu, walaupun tidak selebai sinetron jaman sekarang. Ibarat pakaian, novel ini terjahit rapih dari awal sampai akhir. Selayaknya cappuccino, ada rasa pahit dan manis dalam ceritanya yang di beri latte art pengindah suasana. Sedikit banyak membawa saya ke kenangan masa SMP. Ikut senang,deg-degan,gemes,sedih dan ingin dicintai seperti Abe mencintai Reina....

Dan saya ketipu endingnya!

Ha!

Selesai membaca buku ini yang diam-diam suka sama sahabatnya,teman kantor,teman kuliah,teman sekolah bahkan seniornya kalian akan jadi lebih tahu apa yang harus di lakukan dengan waktu yang ada.. Selamanya cinta, bisa saja :) 

Happy Reading 

xoxo

Vie

The Hunger Games.. Games Yang Menggemaskan

Menggemaskan atau menggenaskan,should i say?

Coba bayangkan jika anda terpilih secara acak sebagai salah satu kontestan dari sekian remaja berusia 12-18 tahun, senang atau malah keder duluan? Permainan yang di sebut The Hunger Games ini adalah sebuah reality show yang di buat untuk menghukum perbuatan pemberontak yang berhasil menghancurkan distrik ke-13. Distrik 1 hingga Distrik 12 harus mengirimkan  seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan untuk ikut berkompetisi di permainan hidup dan mati ini. Mereka dilepas di tengah hutan dan harus tetap bertahan hidup karena hanya akan ada satu pemenang dalam permainan ini. Caranya? Setiap kontestan harus membunuh kontestan yang lain..


Katnis Everdeen Volunteered

The Hunger Games.. Games Yang Menggemaskan

Awalnya bukan  Katniss Everdeen,16 tahun, yang terpilih untuk mengikuti permainan ini melainkan adiknya Primrose. Karena rasa sayangnya pada adiknya itu maka ia mengajukan diri sebagai sukarelawan menggantikan adiknya mewakili Distrik 12. Katnis punya seorang sahabat (cowok) bernama Gale Hawthrone yang juga diikutkan dalam undian kontestan. Kepada Gale lah Katnis menitipkan adik dan ibunya karena yang terpilih dari kumpulan anak lelaki adalah Peeta Mellark,teman sekolah Katnis yang pernah melemparkannya roti saat Katnis kelaparan di tengah hujan. 

Katnis dan Peeta di bawa ke Capitol dan bertemu dengan Mentor pemabuk. Katnis yang kurang bisa bersosialisasi sempat kesal dengan tingkat mentor Haymitch Abernathy,pemenang The Hunger Games edisi ke 50.Sementara Peeta yang pintar mengambil hati bisa cepat akrab dengan mentornya. Menurut Haymitch cara Peeta benar. Walaupun Katnis jago memanah tapi jika tidak bisa mengambil hati publik dia akan susah mendapatkan sponsor. Dengan kata lain akan lebih susah untuk bertahan hidup.

Sponsor?

Ya, seperti halnya acara-acara TV lain yang berdasarkan rating, semakin banyak penonton yang menyukai penampilan seorang kontestan maka semakin banyak pula produk yang ingin mensponsorinya. Hal ini terbukti pada saat Katnis yang berhasil mencuri perhatian para sponsor di hari terakhir persiapan sebelum permainan di mulai. Awalnya Katnis dianggap sepele karena dia tidak bisa memanah tepat ke sasaran. Tapi begitu dia memberi element suprise dengan memanah apel di mulut Babi Panggang yang hendak di santap oleh Producer acaranya, barulah ia mendapat perhatian. 

Dan sponsornya?

Tunggu adegan dimana Katnis terluka bakar atau pada saat Peeta terkena sayatan pedang. Ada ada saja kiriman datang dari sponsor. Jangan membayangkan tiba-tiba ada produk hape melayang atau sabun cuci di pinggir kali lalu kemudian ada running text " Moment ini dipersembahkan oleh...". Tidak se obvious itu sih. Lebih smooth dan gak bikin eneg. 

Katnis and Peeta.. Moment Ini Dipersembahkan Oleh..
And everybody loves Katnis. Tidak saja karena dia adalah seorang volunteer menggantikan adiknya,mempunyai skor awal tertinggi atau kontestan yang tidak sebringas yang lain, tapi juga di dukung oleh kelihaian teamnya dalam "mengemas" Katnis dalam satu paket. Salah satu contohnya ketika ia tampil bersama Peeta dalam parade tribute di malam pembukaan The Hunger Games. Girl On Fire akhirnya menjadi julukannya karena ia menggenakan busana yang bersalut api. Saat Katnis di interview di hadapan berjuta pasang mata dia sempat grogi dan menjawab jujur apa adanya. Tak tahunya itu malah membuat dia lebih di sukai lagi oleh penonton. Sedangkan Peeta yang memang dasarnya gampang mengambil hati malah semakin menaikkan rating saat ia mengatakan sebenarnya dia menyukai seorang gadis tapi gadis itu tidak memperhatikannya sampai saat ia mengikuti The Hunger Games. Bahkan jika ia menang tak akan ada artinya karena itu berarti dia harus mengalahkan gadis itu. 

Jeng jeng jeng.. Sudah mulai kepo yahh?

Film ini diangkat dari buku trilogy yang di tulis oleh penulis muda Suzanne Collins. Semetara saya menulis review ini saya belum membaca bukunya. Tapi saya mendapat kesan film ini terinspirasi oleh Gladiator dan acara-acara reality show di TV. Permainan saling membunuh? Untuk remaja berusia 12-18 tahun pula? Apa reality show semacam American Idol, The X Factor atau The Amazing Race sudah gak jaman lagi yah pada saat itu?

Apapun yah film untuk PG-13 ini cukup menghibur. Seru sekali melihat para kontestan ini dengan berbagai karakter berusaha untuk bertahan hidup. Ditambah dengan bumbu-bumbu ala reality show yang di sisipkan oleh sang producer acara. Mulai dari kebakaran hutan mendadak,di kejar sekawanan monster anjing gila sampai adegan dalam gua ketika Katnis merawat Peeta dan tibalah paket sup dari Sponsor bertuliskan " Is that what you called a kiss?" >> ( Untungnya tidak di persembahkan oleh permen Kiss). But they kissed and someone seemed had his heart broken to see it on TV.
 
Kabarnya masih di minggu pertama pemutarannya film ini sudah berhasil mengalahkan Twilight Saga, Harry Potter dan Batman. Mungkin karena kisahnya yang sudah familiar dengan kehidupan sehari-hari kali yah? Kita bisa dengan mudah bertemu dengan sosok Peeta yang sebenarnya kurang percaya diri dan punya skill yang biasa saja tapi bisa berhasil karena tahu mengambil hati orang lain. Kita juga mungkin punya teman yang skill yang mumpuni tapi gak dilirik lirik juga karena tidak tahu bergaul seperti Katnis. Atau teman seperti Cato yang ambisius sampai gak peduli siapapun bahkan si Rue yang pemalu tapi menyenangkan.

.... I Won't Forget
So what is gonna be? Apakah Katnis yang akan memenangkan The Hunger Games ke 74 kali ini? Bagaimana dengan Peeta? Lalu lalu.. si Gale apa kabar? Well, saya gak mau merusak suasana dengan memberi tahukan endingnya. Walaupun saya tahu ada juga yang sudah googling tentang film ini atau malah sudah baca bukunya. Tapi saya percaya setiap orang punya pengalaman dan kesan yang berbeda untuk setiap film dan buku yang di bacanya. I just say akan ada hubungan Edward - Bella - Jacob lagi sepertinya.. 

Well, Happy Hunger Games! And may the odds be ever in your favor!

XoXo

Vie


Rick Price And Kahitna, Love in Concert

Hujan yang sedari pagi deras membasahi Makassar berhenti siang itu saat penukaran voucher tiket Rick Price And Kahitna Love In Concert di buka. Untungnya langit Makassar tak lagi galau saat malam menjelang. Langit, kamu gak usah ikutan galau juga deh..Ada juaranya lagu galau malam ini : Kahitna. 

Saya bergegas menuju venue. Di tiket tercantum pukul delapan malam adalah waktunya walaupun saya agak pesimis acara akan di mulai tepat waktu. Tak apa. Panitia menggunakan sistem pembagian berdasarkan kelas dan duduk di kursi. Tidak seperti ujian di kelas, semakin jauh dari dosen/guru semakin baik. Nah ini harus cari tempat strategis demi view yang oke. 

Betul saja, di depan sudah penuh terisi. Hati masih tenang, selama ini saya nonton pertunjukan musik eventually saya pasti bisa ke depan panggung. *Nyengir*. Sambil duduk manis di tengah bersama "Gerombolan Asik" saya menyusun strategi. Enaknya sih nonton pertunjukan musik yg lagu-lagunya asik jangan sambil duduk biar bisa seru-seruan. Tawaran ID Card Press dari kantor ( Yes, You're late Mister.. Kenapa gak dari tadi sore sih) sebenarnya bisa menempatkan saya di barisan terdepan bersama para crew TV lainnya. Tapi setelah beberapa menit berada di antara mereka saya merasa gak enak meninggalkan Gerombolan Asik. Balik lagi duduk di deretan tengah menunggu performancenya Om Rick Price. 

Postcard from Rick Price
Beda. Itulah yang tampak dalam konser Rick Price dan Kahitna. Tidak seperti konser-konser pada umumnya di mana musisi Indonesia hanya menjadi pembuka dan musisi luar negeri yang menjadi bintang utamanya, kali ini Rick Price akan tampil sebelum Kahitna. Tapi sebelum Om Rick muncul, tersebutlah dua orang MC yang kurang persiapan. Sepanjang yang saya tahu dua MC dari radio M dan P ini sudah sering ngemsi. Sayangnya mereka mungkin gak cari tahu apa aja sih lagu-lagunya Rick Price dan Kahitna. Si emsi cowo dengan gamblangnya bilang,"Siapa sih disini yang gak tahu hits-hitsnya Kahitna, seperti Jinak-Jinak Merpati..." 

Jedeeeenggggg!!! 

Saya sebagai orang yang pernah mentraining si emsi cowo di radio M jadi malu gimana gitu. Don't hide behind your cue card,please cari tahu siapa yang lo presenting ini.. Gak usah terlalu banyak di bahas lah dua MC ini.Tanpa babibu lagi muncullah Rick Price dengan setelan keren dan gitar. 
Jreng!

Tak banyak basa basi Rick memainkan lagu-lagu dari album lawas dan barunya. Seperti yang saya duga sebelumnya sambutan penonton Makassar adem ayem saja. Malah lebih banyak yang sibuk dengan gadget dan socmed mereka masing-masing. Satu dua kali saya dengar dari belakang teriakan "Heaven Knows" yang tentunya di tanggapi sepi oleh Rick Price. Penyanyi ini memang terlihat sedikit kaku dan jaim dengan penonton. Terlalu dingin. Memang dia sempat melemparkan satu dua pertanyaan ke penonton, misalnya : Siapa yang disini pengantin baru dan Siapa yang nonton dengan anaknya? Hanya saja penonton Makassar juga menanggapinya dengan ke-jaiman yang sama. Mungkin ada yang kurang mengerti bahasa Inggris tapi tak sedikit yang memang kurang jelas mendengar apa yang di katakan Rick. Entahlah. Tapi saya sempat membuka jasa translate bahasa Inggris ke Indonesia gegara Rick.*Eh bayar dong :p * #ditimpukseBallRoom.

Si Muka Jutek Bagi-Bagi Tttd
Penonton Makassar mulai sedikit bersuara ketika Rick menyanyikan "Nothing Can Stop Us Now"  Oh well, gak bisa nge-blaming mereka juga sih. Lagu-lagu Rick Price yang lekat di ingatan mereka mungkin hanya tiga : Nothing Can Stop Us Now, If You Were My Baby dan Heaven Knows. Jadi ketika Rick membawakan lagu-lagu dari album terbarunya "The Water's Edge" kebanyakan masih dengan duduk manisnya hanya bertepuk tangan selayaknya. At least they were trying to be nice. Walaupun begitu tidak melunturkan standar perform Rick Price, tetap kuat dan maksimal.
Hingga kemudian Rick Price mengumumkan ia akan perform sebuah lagu bersama Kahitna, penonton langsung semangat lagi. Melihat tanggapan penonton yang bertolak belakang dengan sebelumnya,rasanya pengen menepuk bahu Rick,"Yang sabar yah.. Tapi kami menyimak loh tadi.."pake hastag #PukPuk.

Rick Price silam ke belakang panggung dan Kahitnya yang jelas-jelas lebih di tunggu mulai menyanyikan lagu-lagu andalan mereka. Di buka dengan Everybody Needs Somebody, Cerita Cinta dan Aku Punya Hati tanpa jeda. Setelah lagu ketiga Hedi Yunus mulai menyapa penonton di timpali ke Mario dan Carlo.Vokalis yang satu ini bener-bener jadi andalan Kahitna sekarang nampaknya. Gak bisa disalahkan juga secara sebagai penyanyi berusia paling muda dan good looking bisa di pakai untuk ngegaet para fans baru yang Abege gitu. Maklum untuk bertahan di industri musik don't underestimated the power of putih abu-abu tampaknya. Walaupun yang anak kuliahan juga tetap jadi perhatian. Tapi harusnya sih biar bagaimanapun Kahitna jangan sampai lupa dengan fans lamanya yang sudah dewasa. Mereka gak bakal ada selama 25 tahun tanpa dukungan fans lama loh..

Kahitna Nyanyi Lagu Cantik
Secara garis besarnya Kahitna who own the night. Mereka lebih komunikatif dan sangat bisa mengambil hati penonton Makassar. Bukan saja dengan cara trio vokalis membuat penonton lain sirik sesirik-siriknya dengan seorang penonton yang di tarik ke atas panggung tapi juga joke yang di lontarkan Yovie Widianto tentang miscommunication dengan orang Makassar.

Ceritanya sewaktu kuliah Yovie pernah bertandang ke kosan temannya yang berasal dari Makassar. Waktu itu ia bertanya,"Kopi mana?" Maksudnya nanya Kopi buat dia mana. Tapi di jawab oleh teman Makassarnya dengan "Sapi main bola". Bingunglah Yovie. Ditanyain Kopi buat dia mana kok malah diberi jawaban tentang Sapi sih. Padahal dalam dialek Makassar sehari hari Sapi itu kependekan dari SA PergI sedangkan Kopi itu Kau PergI. Lumayan bisa buat orang Makassar ini tertawa tanpa merasa di tertawakan :D

Konser malam itu di tutup dengan penampilan bersama Kahitna dan Rick Price membawakan lagu Heaven Knows. Rick Price pun turun ke panggung menyapa penonton untuk terakhir kalinya masih dengan muka lempengnya. Anyhow, konser ini sebenarnya boleh dikatakan kurang memuaskan buat saya bukan karena perform mereka tapi karena ketentuan dari Panitia yang mensetting penonton untuk duduk. Padahal akan lebih seru jika dibuat kelas festival,berdiri di depan panggung seperti biasa.

Heaven Knows - Rick Price & Kahitna



Priceless Moment with Mr.Price
By the way setelah konser habis panitia memberi kesempatan untuk tanda tangan Rick Price. Aksi dorong-dorongan pun terjadi di depan meja dimana Rick dengan muka lempengnya mendatangani setumpuk postcardnya. Saya berhasil dua kali minta tanda tangannya malah sempat foto bersama walaupun nyempil-nyempil dengan "Gerombolan Asik".

Apapun memang gak ada gading yang tak retak, demikian lah.. Sampai ketemu lagi di konser berikutnya.

XoXO

V

My Kopi O' ... Ooohh Begini Rasanya

Ketika di Bulan Desember tahun lalu ada sebuah slot di Mall Ratu Indah yang di tutupi label "My Kopi O' " di sepanjang papan tripleks yang mengelilinginya sy langsung kepikiran "Yeah, another place to ngopi2 cantik to go". Dan keadaan itu terus terlihat sampai kemudian benar-benar buka di awal bulan Maret. Gila, lama bener preparationnya.. Lebih lama dari tempat ngopi sebelah yang sama-sama "pasang banner" opening soon ituh..

Anyway, Senin siang saya dan seorang teman memutuskan untuk ngopi-ngopi cantik di tempat itu. Menurut seorang di ranah twitter Cappuccinonya enak. Saya sih sebenarnya kurang begitu yakin karena pas saya nanya ke dia tentang satu tempat ngopi di lokasi yang sama dia malah belum pernah nyobain Cappuccinonya.Padahal menurut saya Cappuccino buatan mas Barista juara nasional itu belum ada tandingannya, at least di Makassar. 

My Kopi O' ... Ooohh Begini Rasanya

Jadi masuklah saya ke My Kopi O'. Satu hal yang langsung menarik perhatian adalah konsep design Open Kitchennya. Cantik. Didesign dengan berwarna putih membuat tempatnya jadi terkesan luas dan homey. Saya duduk manis di meja non-smoking dan datanglah mas-mas waiternya yang lebih terlihat seperti satpam bagi saya. Dia menyodorkan dua menu ukuran koran. Satu untuk menu Food dan satunya lagi menu Beverage. Di beberapa sisi  nama makanan/minumannya nampak icon jempol dan gambar cabe. Menurut mas-masnya itu berarti menu pilihan dan tingkat kepedesan masakannya. Yang menarik dari menu ini adalah di bagian belakang ada informasi bisa berfoto dengan setting My Kopi O'. Melihat design interiornya memang boleh banget di pakai untuk foto Pre Wedding atau semacamnya. 

Back to menu, My Kopi O' menyediakan menu yang beragam mulai dari ala Melayu-peranakan Cuisine, ala Japan hingga Western. Pilih punya pilih ini lah menu lunch kami tadi..

Caesar Salad


Cappuccino with Almond





Yakiniku Noodle & Ice Coffee Blackforest 






The Taste


Sebagai pencinta Cappuccino saya cuma bisa bilang penambahan rasa tertentu dalam Cappuccino hanya akan merusak cita rasa. Almond lebih enak di campur di bahan kue bukan di kopi. Untuk yang suka ngopi-ngopi sachetan ya bolehlah mencoba Cappuccino disini.Ringan cenderung manis. Gak perlu tambah gula. FYI Kopi basednya adalah kopi Robusta Lampung. Sementara Caesar Saladnya lumayan enak walaupun rasa Bawang Bombaynya agak susah hilang dari lidah. Habis makan ini better siapin permen atau mouthwash yah.. 

Pilihan ke dua adalah Yakiniku Noodle yang rasanya juga tidak terlalu istimewa walaupun juga tidak bisa dikatakan gak enak. Mungkin karena sudah terlanjur kecewa dengan Cappuccino nya jadi masakan ini dan Ice Coffee Blackforest nya pun akhirnya jadi biasa saja. 

The Price 


Memang sih di menu kisarannya antara 20rb-an hingga 40-rb-an. Tapi jangan lupa ada tax dan service nya. Empat menu tadi menghabiskan uang Rp.154rb-an. Mahal untuk ukuran rasa yang biasa saja. Dengan harga segitu saya bisa ngopi di Sbux ato di Black Canyon Coffee with a better taste of Coffee. 

Is it worth to hang out there?


It depends. Untuk ngopi2 cantik atau nge-date tempatnya tepat karena ada sisi romantisnya juga. Jika hang out with various people yang tujuannya gak sekedar ngopi tapi juga makan berat, tempat ini juga boleh di jadikan pilihan karena menunya beragam mulai dari Appetizer hingga Dessert. Tapi bagi saya mungkin cuma sekali itu saja saya mau berkunjung lagi kecuali ada yang traktir :)

Bagaimana pun selalu ada harga untuk setiap kenyamanan. Tapi soal kopi, mungkin masih banyak tempat yang lain.  Silahkan buktikan sendiri. 

XOXO


V

Because It's Me.. As Simple As That


I do believe that people choose something based on what they are like. I'm a simple girl who pursue my dreams by doing what i like the most. I love writing,listening to music,reading book and traveling. Those things and the path in life that i chose finally brought me to broadcasting.

I have been a full time government officer who being placed in public broadcasting TV for about a year and half. Actually when i applied to be government officer for this Ministry, it never crossed my mind that i would be joining the TV department. I was very shocked that moment. But because  i also being part time radio announcer since i was in university,i have some experience and skill that related enough to my new job. The media may be different but the based rules are quiet the same. So i thank God, i have this experience on radio broadcast so that's why i won't let it go although I have my full time job. So far, because my show on the radio is only on Saturday and Sunday the part time job and a full time one go on very well. 

To think about it, my full time job and my part time job both need creativity. How to make the audience and the people stick to the program and choose it as the trusted media is a very challenging job to do. Especially because i produce my own radio show as well as being the DJ myself. So i have to find the topic,the guest (if there's any),arrange the playlist and communicate it all to the audiences. Sometimes it makes me crazy when the preparation is need more time and at the same time i got schedule in the main office. As an editor for TV News Programme there's no official day off. Whether it's weekend or holiday if it's my name is on schedule i have to work. So typically my routine is a very hectic especially on weekend. Sometimes it's a little bit frustrating but above of all the hectic things,most of the time i think it's very cool. I'm sure most people think that person who works in the media such TV and Radio is very cool,right? (Oh.. my confidence)

Anyway..it's the same thing of what i'm thinking when it comes to technology. Everyday there are a lot of some things new invented and there are many gadgets that thrown in to the market. If it's only to follow desire , i probably end up with buying all the cool gadget everytime. Thank God, i'm not impulsive person. Choosing the right one that suitable with my needs is sometimes hard. For example, because i love to writing and my two jobs required me to do media editing such video and voice, i need a notebook that not only looks good but also feels good without make me stress. There are many times i got stressed out by the notebook or personal computer that suddenly freeze out when i edit video or voice for my project. I need something that can fulfills my needs.

Then i saw this..i think i don't need to look for more. It's just so me. For someone who do creative works,this notebook seems the right one. Tough,thin,light,3rd generation Intel Core i7 processor,AMD Radeon HD 7670M GPU, VRAM 1 GB and so handy. It has gesture hand which is so cool. You know why it's cool? Because you can wave your hand to start music playback, advance a slide in a Powerpoint presentation,turn one webpage to another like turn the pages of the book . The control technology taps the webcam to recognize gestures. It allows musicians to record, edit, and produce music as well as  i can edit my video easily. Moreover the battery has lifetime for 7 hours. And the color.. oh my God.. It's metallic with soothe a purple color tinge.  If there's love at the first sight, it would be that moment when i saw this Vaio Seri E 14P.

I want one.. And the guy who hold it,too.. :) 
It's a breath taking. I can do video or audio editing and if i got stuck of idea i can relax my mind by browsing the internet at the same time. I don't know how much the price but then again..for this quality and the brand i think it's worth to buy. Although i don't rejected any gift of this notebook, i only can say i'm gonna have it right away. There are probably any other notebooks but it suits my needs. It's supports what i'm doing which need creativity and yet looks cool just like me. Hahaha.

So it's probably true. People intend to choose based on what they are alike. As for me i think i found the one, i choose this Vaio Seri E 14P as my choice. Because it's me.. As simple as that.