Books Of The Month

Setiap bulan saya selalu mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli keperluan-keperluan harian. Buku salah satu diantaranya. Bulan ini saya bertekad membeli dua buku saja. Selain karena dua buku itu saja harganya sudah 200 rb-an, saya masih punya utang 2 buku yang belum saya baca. Rencananya sih akan saya review juga. Sayangnya seperti juga beberapa buku sebelumnya yang tergelatak manja di sebelah tempat tidur saya, sepertinya saya sudah mulai kekurangan motivasi untuk menuliskannya dalam blog ini.

Anyway...
Here are the books i bought.. Jreng jreng...





Books Of The Month

Onward (Howard Schultz dan Joanne Gordon)

Saya penasaran saja tentang asal muasal Starbucks yang kata banyak orang kopinya biasa saja ( mmh iya juga sih) tapi bisa mendunia banget. Beberapa hari membawa buku ini kemana-mana, sempat di kira karyawan Starbucks. Halah! Saya aja gak yakin karyawan Starbucks baca buku ini. Padahal buku ini bagus banget untuk tahu History dan esensi tempat mereka bekerja. Diluar issue Starbucks adalah penyumbang terbesar Israel dan serangan-serangannya ke Palestina, untuk belajar management dan building your own company rasanya tidak apa-apakan membaca buku ini? 


Dia Ada Dimana-mana ( M. Quraish Shihab) 

Sebelumnya saya sudah membeli dan membaca buku ulama ini. Tidak menggurui tapi bertutur sebagaimana seorang bapak pada anaknya. Persis seperti yang biasa beliau lakukan di acara-acara keagamaan di TV. Itulah mengapa saya tidak ragu untuk membeli buku ini. Buku ini mengajak kita lebih memperhatikan hal-hal kecil di sekeliling kita yang sesungguhnya bisa mempertemukan kita dengan "tangan_Nya". Setiap saat dan di semua tempat. 

Hermes Temptation ( Fitria Yusuf & Alexandra Dewi) 

Ini bukan novel. Ini kisah tentang dua sosialita yang jadi reseller sebuah brand yang bernama HERMES. Lika liku dan keseruan mereka menjadi reseller sekaligus cerita-cerita mereka tentang para client penggila brand tersebut. Membacanya tidak membuat saya tiba-tiba pengen punya Tas Birkin juga sih, tapi paling gak saya berkesimpulan "The real beauty of a bag rests upon the people who carry it." Gila aja harganya bisa seharga rumah, isi tasnya apa aja yah? Oh iya, buku ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Underground ( Ika Natassha) 

Nah kalo ini asli Novel. Berkisah tentang sekumpulan anak muda yang bekerja di salah satu TV ala MTV  yang berlatar belakang kota New York. So far saya membacanya agak bosan juga. Saya gak melihat keseruan dari novel setebal 385 halaman dalam bahasa Inggris ini. Mungkin karena sang penulis tidak betul betul tahu dunia pertelevisian jadi gak bener-bener bisa masuk ke dunia para tokoh-tokoh kreasinya. Sebelumnya saya sudah pernah membaca novel-novel Ika Natassa seperti A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare dan  Anthology Rasa yang kesemua tokoh utamanya berlatar berlakang banker ( which is "dia banget"). Jadi berasa banget ketika dia menggambarkan pekerjaan para tokoh ini hanya dengan beberapa penggambaran mereka membuka atau menutup siaran mereka. Ribet-ribetnya dunia TV broadcasting, being producer sampai suatu acara jadi tontonan tidak begitu kerasa. Apapun itu nice try untuk penulis yang katanya gak pernah pake draft dan langsung menulis saja. No wonder, karakternya sekali lagi sangat Ika Natassha banget. :) 

Nah loh, jadi di review dikit-dikit deh.. 

Apapun itu semoga tidak menyurutkan keinginan yang lain untuk membacanya. Jikapun sudah ada yang pernah membaca salah satu atau salah dua buku-buku diatas dan punya pendapat berbeda gak masalah. Sudut pandang dan selera orang beda-beda kan ya... :) 

And it reminds me, kalau buku biasa saja saya punya waktu membacanya bahkan hingga di angkot ataupun saat menunggu, harusnya waktu membaca Al-Quran harus lebih banyak yah :)

The Reader and The Sinner..

xoxo

V


Starbuck Mall Ratu Indah, Ketika Racikan Adalah Segalanya

Jadi begitulah..

Ketika suatu hari mataku bersirobok dengan papan segede gaban yang mengcover pojokan terdepan sebuah mall di Makassar, dadaku berdegup kencang, hysterical tak terkira ( Ok, maaf agak lebay). Yes, finally saya gak perlu lagi jauh-jauh nge-starbuck because it'll be in my town, di Mall paling dekat dengan kantor ( which is yang kayaknya lebih sering saya pantengin dibanding kantor sendiri). Saya gak perlu lagi ngeces membayangkan dan berharap diklat di Jakarta hanya untuk mencicipi Caramel Frappuchino-nya,  Java  Chips Frappuccino dan masih banyak lagi. Mengapa  memilih Starbuck, bukan tempat kedai kopi yang lain? Mmmh..long story. Intinya bagi saya  di setiap kedai kopi masing-masing punya speciality. Dan untuk Frappuchino, Starbuck paling oke lah..

Jadi begitu kira-kira dua minggu kemudian kedai ini buka, di hari kedua i finally went there and order my coffee. Dasar gak konsisten, saya memesan Tall Hot  Hazelnut Latte karena tiba-tiba aja lagi kepengen yang hangat. Sudah membayangkan rasa yang biasanya saya dapatkan tiba tiba hancur aja gituh.. It feels like rasa syrup Hazelnutnya nempel di ujung lidah. You know, kind of taste if you use some artificial sweeteners. Pffhh..

Starbuck Mall Ratu Indah, Ketika Racikan Adalah Segalanya

Ketika suatu hari mataku bersirobok dengan papan segede gaban yang mengcover pojokan terdepan sebuah mall di Makassar, dadaku berdegup kencang, hysterical tak terkira ( Ok, maaf agak lebay). Yes, finally saya gak perlu lagi jauh-jauh nge-starbuck because it'll be in my town, di Mall paling dekat dengan kantor ( which is yang kayaknya lebih sering saya pantengin dibanding kantor sendiri). Saya gak perlu lagi ngeces membayangkan dan berharap diklat di Jakarta hanya untuk mencicipi Caramel Frappuchino-nya,  Java  Chips Frappuccino dan masih banyak lagi. Mengapa  memilih Starbuck, bukan tempat kedai kopi yang lain? Mmmh..long story. Intinya bagi saya  di setiap kedai kopi masing-masing punya speciality. Dan untuk Frappuchino, Starbuck paling oke lah..Eh tapi yah, dasar sy banci starbuck beberapa hari  kemudian sy datang lagi dong. Pesan yang standar aja. Tall Hot Cappucino. And then what i got? It tasted like Latte.. Cappuccino itu dibuat dalam  sepertiga proporsi. Ini berarti cappucino yang tepat adalah sepertiga espresso, sepertiga susu yang dikukus, dan sepertiga busa susu. Sedangkan Latte adalah espresso dalam kombinasi dengan susu yang dihangatkan dengan uap air (semacam di kukus lah ya) dengan perbandingan ideal 16:2. Seorang barista yang baik akan menggabungkan busa, hasil dari kukusan susu, dan espresso bersama-sama. So it's taste different with Cappucino. Ibaratnya Latte itu susu kopi dan Cappucino itu Kopi Susu. Dan tiba-tiba aja dong di Starbuck Mall Ratu Indah ini saya di sodorin Cappucino berasa Latte.. Pffh #2

Ketiga kalinya saya datang gegara seorang teman yang bilang dia punya compliment. Awalnya saya pikir ini compliment yang mana lagi nih? Ternyata compliment standar beli minuman plus makanan gratis 1 minuman lagi. Oh well, yang itu sih perasaan pas di kasir selalu di tawarin deh.. Anyway, atas nama lama gak ketemu akhirnya saya iyain saja nongkrong di Starbuck lagi walaupun agak-agak pesimis. Eh ini salah saya apa gimana yah, tiap kali di depan mas/mbaknya selalu hilang aja itu Caramel Frappuccino atau Java Chip Frappuccino di kepala. Dan malam itu saya memesan Valencia Machiato Grande, sodara-sodara. Teman saya itu sampai ngomong, "Nih yah kalo sebentar saya gak bisa tidur, lo yang bakal saya gangguin.." secara dia juga terpaksa harus mesan yang ukuran grande untuk Hazelnut Lattenya demi compliment yang dia punya. 

Dan begitulah.. 

Ditemani Avocado Choco Cake dan saya memesan Cheese Bagel tambahan, kami duduk di meja paling sudut (secara hari itu lagi penuh-penuhnya tuh Starbuck) dan saling menatap dengan pandangan yang.. OMG, is this real beverages or what???!


Saya jelas tahu yang Ice Valencia Machiato itu kopi dengan rasa jeruk.. tapi yang saya gak tahu adalah kenapa rasanya kek minum kopi terus kita masuk ke satu ruangan yang baru saja di semprot bayfresh lalu kita menjulurkan lidah. Yah sodara-sodara.. itulah dia Machiato rasa Bayfresh Jeruk. Teman saya pun ikut nyicipin Valencia Machiato saya dan merasakan hal yang sama. Begitu juga dengan Hazelnut Latte yang dia pesan persis sama rasanya dengan yang saya gambarkan diatas. Untungnya food yang kami pesan dua duanya bisa menutupi rasa enek yang kami rasakan tiap kali menenguk minuman yang kami pesan. And i wonder, apa memang perlu saya nyebutin rincian bahannya saat memesan? Pffh #3

"Mas saya pesan 1 shot espresso, susu low fat panas pakein dikit  foam, topping-nya honey Valencia drizzle gak pake Bayfresh yaa..." 

Malam itu saya berjanji saya gak mau ngopi di Starbuck Makassar lagi. Mending di Jakarta aja. Kalo yang ini aja rasanya sudah ajaib, i wonder gimana rasa Frappuchino nya? Tapi begitulah, janji tinggal janji.. 

Tadi siang setelah tiga hari gak ngopi as usual hari Senin untuk memperbaiki mood saya harus ngopi yang enak. Setelah beberapa kali insiden-insiden rasa itu saya akhirnya memutuskan Cappuccino Black Canyon Mall Raru Indah memang paling mantap. Padahal Barista yang pagi bukan Barista yang jago loh.. cukupanlah. At least gak beda jauh dengan Barista malam yang jago nge-latte art itu. 

Nah, tadi itu sebenarnya pengen langsung nongkrong disana. Tiba-tiba aja gitu saya merasa stuck. Dan entah mengapa Dewi Starbuck memanggil-manggil ke kedainya.. and here i was with my friend having Hot Tall Vanilla Latte ( Ya, tadi hujan badai yah saya butuh yang hangat-hangat). Mas yang sudah biasa ngeliat saya ( atau mungkin sudah enek kali yah) memberi informasi bahwa kemarin satu lagi kedai Starbuck di buka di Makassar, tepatnya di Trans Mall Studio. Cek en ricek pegawainya sama saja dengan yang di Mall Ratu Indah, terlintas di benak saya : Jangan-jangan bakal gak sama beresnya nih.. 



Eniwei, tadi saya sempat komplen juga masalah rasa Starbuck di Makassar dengan yang di Jakarta. And hell yeah, mungkin karena kebanyakan yang datang ini baru sekali nge-Starbuck jadi mereka akhirnya memukul rata customernya adalah newbie dalam urusan peng-starbuck-an. Sampai akhirnya Mbak Barista yang (pernah jutekin saya) akhirnya membuatkan pesanan saya special. Tapi tetap saja rasanya kok gak pas aja yaahh. Pfffh #4

Untungnya, sekali lagi untungnya ada Cheese Bagel penyelemat. Kalo gak, i donno what to do about it. Saat check out, Mas Baristanya ngasih saya Voucher Compliment 4 lembar.. Hahahai, well anyway thank you for your hospitality. I probably will use it for the second store at Trans Mall. Semoga kali nanti rasanya gak mengecewakan lagi. Kalau perlu saya rinciin satu-satu berapa pumps mocha saucenya, berapa scoops Frappuccino Chipsnya dan berapa pumps coffe nya.

"Tall, low fat, 2 Pumps Coffee, 2 Pumps Mocha Sauce, 2 scoops Java  Chips Frappuccino,  blended.."

Kalau sampai disitu rasanya masih tetap salah.. i donno what to do next.. :( Saya gak bisa bilang gak bakal ngopi lagi di Starbuck ( mungkin yang di Makassar, tapi di kota lain gak janji), tapi yang pasti saya gak mo perang dengan Baristanya kok..Setelah baca pengalaman Vabyo di Kedai 1001 mimpi, saya selalu berhati-hati dengan tingkat ke sensian para Barista. Jangan sampai orderan saya di ludahin atau malah di kasi extra u**l... yaaaiiksss...