Melipir Sejenak Ke Floating Market Lembang

Bandung selalu menjadi kota 'kenangan' dan favorit buat aku di kawasan Jawa Barat. Oke, setelah Sukabumi tentu saja, berhubung sempat tinggal di sana beberapa tahun. Jadi, tiap kali ada kesempatan ke Jakarta, rasanya selalu pengen melipir sejenak ke sana.

Melipir Sejenak Ke Floating Market Lembang Bandung 




Hari beranjak siang ketika teman saya ini (yang emang gak bisa bangun pagi no matter how hard you beg, hahaha) menjemput saya di penginapan backpacker di kawasan Lengkong, Bandung. Sebelum ke Floating Market, atas saran teman saya itu kami mampir dulu ke In & Out Urban Eatery yang gak begitu jauh dari penginapan. Saya yang masih kenyang dengan sarapan nasi kuning yang disediakan penginapan backpacker Pondok E7, akhirnya memilih untuk memesan Jus Mango Alpukat yang gedenya diluar ekspektasi. Puas.. banget!




Jalan Menuju ke Floating Market Lembang 


Lokasi Floating Market cukup mudah dijangkau, at least kalau menggunakan mobil pribadi. Gimana kalau angkutan umum? Wah, ini saya kurang faham. Saran saya, berangkatnya rame-rame aja, naik Grabcar atau GoCar. Bayarnya patungan, sudah gitu tinggal setting alamat aja di Google Maps   Jalan Grand Hotel No.33E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Beres! 

Floating Market di Lembang ini kami tempuh dengan mobil sekitar satu jam. Trafik cukup padat berada di sekitar jalan Setiabudi, selebihnya lumayan santai untuk ukuran hari Minggu. Begitu memasuki kawasan Floating Market, perlu menyiapkan uang 20 ribu rupiah per orang untuk membayar tanda masuk.

Lumayan mahal ya? Tapi tenang aja, soalnya tiket masuk tadi bisa ditukar dengan minuman di dua outlet yang tersedia di area. Kita bisa memilih minum kopi Nescafe hangat, cokelat Milo atau ice tea Nestle.  Pilihan saya? Ya tentu saja kopi. Lumayan loh, meskipun Lembang sudah tidak sedingin dulu lagi, namun jika angin berhembus mengingatkan ku pada suhu kota Seoul di musim semi. Tsah..




Baca juga: Jalan Kemana, Namsan Seoul Tower di Musim Semi 

Kulineran di Floating Market Lembang 


Seperti namanya Floating Market ini berupa pasar terapung yang menghadirkan beragam jualan makanan di tepi danau buatan. Makanan yang disediakan cukup beragam, mulai dari masakan dan cemilan  khas Sunda sampai cemilan negara lain sebangsa Jepang gitu juga ada. Sejujurnya saya gak begitu merhatiin karena pandangan saya sudah fokus pada masakan khas Sunda yang sudah saya rindukan semacam Lotek, Karedok dan Bala-Bala.




Uniknya jualan di Floating Market ini tidak diperjual belikan dengan uang rupiah yang biasa kita gunakan sehari-hari. Transaksi di Floating Market menggunakan koin khusus dengan nominal 5000 dan 10 ribu rupiah yang bisa ditukarkan di loket penukaran. Saran aja nih, meskipun lapar mata, jangan bablas nuker koin karena koin yang tidak dipergunakan tidak bisa ditukar kembali menjadi rupiah. Sayang kan ya?

Oiya, di sepanjang tempat ini pula ada pasar mini bernama Pasar Gembong yang khusus menjual buah-buahan, keripik, manisan, cemilan dan pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh.





Taman Berkonsep Mixed Jepang, Korea, Cina  dan Sunda  


Floating Market Lembang ini tidak melulu tentang makan. Beberapa spot ditata sedemikian rupa menjadi taman dan side walk mengelilingi danau. Selain bisa dijadikan tempat bersantai, spot-spot ini penting banget buat kamu yang suka foto-foto.

Beberapa bagian taman disetting bergaya Jepang dimana jalan setapak dibuat untuk pejalan kaki dengan pepohonan yang diatur sedemikian rupa di sisi kiri dan kanan. Tak lupa disediakan beberapa saung untuk sekedar dijadikan tempat mengaso sejenak. Lumayan loh untuk dijadikan tempat untuk berfoto.



Gak cuma berfoto, kita bisa menikmati pemandangan yang apik di sini. Taman-taman tertata rapih dengan bunga berwarna warni. Danau buatan tampak tenang dan bersih menjadi jalur perahu yang membawa pengunjung mengitari Floating Market. Saya gak sempat mencobanya, tapi tampaknya asik. 




Suasananya yang nyaman, saya masih bisa mendengar suara burung berkicau disela-sela angin yang berdesir menabuk dedaunan pada pohon-pohon di sekitar. Suara air berkecipuk disaat ikan-ikan Mas berebut makanan yang ditebar pengunjung semakin membuat pengunjung lupa hiruk pikuk perkotaan.  Wah.. I can stay here just to sit on the rock and enjoy the moment.




Di beberapa sisi lain dibuat semacam pelataran yang mengarah ke danau, sering dijadikan tempat untuk photo session bagi yang menyewa Kimono ala Jepang atau Hanbok Korea di stand tertentu. Bagi pengunjung lain boleh berfoto di sisi lain asalkan tidak menganggu photo session pengunjung yang khusus menyewa pakain khas Jepang dan Korea tersebut.

Tenang aja, masih banyak lokasi foto yang bisa kamu manfaatkan untuk nambah-nambah foto sosmed kamu kok, gratis!! Salah satunya adalah taman berkonsep Cina di depan Taman Kelinci. Cocok buat jadi latar foto.



Ketika kaki lelah melangkah, sila mampir di kursi-kursi dan bangku-bangku yang disediakan di pinggir danau. Mau ngobrol kek atau mau makan bekal bawaan sendiri, terserah. Jangan lupa jaga kebersihan ya! Meskipun ada petugas kebersihan, bukan berarti kita bisa seenaknya meninggalkan sampah. Banyak tempat sampah disediakan. Mau belanja suvenir? Tenang aja, booth keren bergaya rumah khas Sunda menyediakan beragam suvenir yang lumayan bisa dijadikan oleh-oleh.




Sedikit banyak konsep taman di Floating Market ini mengingatkan saya pada konsep Songdo Central Park yang pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu di Korea. Eh, saya belum pernah posting ya? Next, tolong saya diingatkan! Hehe.

Mengintip Kelinci Bermain di Taman Kelinci 

Makin kuat keyakinan saya bahwa konsep Floating Market ini sedikit banyak mengacu pada konsep Songdo Central Park karena ada Taman Kelinci nya. Nah, bedanya di Floating Market untuk bermain bersama para Kelinci ini, harus bayar tiket seharga Rp.20.000.




Kelilingi deh tuh, taman yang ditata layaknya hutan mini untuk para Kelinci. Untuk anak-anak kayaknya sangat irresistible ya, secara kelincinya emang lucu-lucu parah. Saya sendiri gak sempat masuk berhubung hari sudah hampir magrib dan rasanya sayang aja kalau hanya sebentar. Toh, saya masih bisa melihat para Kelinci tersebut bermain dari luar, pagarnya kan model kawat besi doang. Lagian setelah melewati kawasan Setia Budi, setiap kali kumelihat Kelinci-Kelinci ini, teringat nasib teman-teman mereka yang berakhir menjadi sate. Sedih aku tuh...




..And A Whole Lot More 

Selain Floating Market sebenarnya ada beberapa wahana di kompleks yang sama yang bisa kamu datangi. Tentunya harus bayar tiket masuk lagi untuk masing-masing wahana. Misalnya untuk Rainbow Garden harus bayar 10ribu lagi untuk menikmati taman dengan berbagai macam jenis bunga berwarna warni. Selain itu terdapat wahana Kota Mini, dimana para anak-anak bisa belajar mengenal konsep kota berikut dengan profesi-profesi yang mendukung seperti apa dan bagaimana petugas pemadam kebakaran, polisi dan lain sebagainya.

Bagi kamu para muslimah berhijab yang ingin berenang, ada kolam renang khususnya loh. Kamu bisa berenang tanpa bercampur dengan non muhrim, tentunya tetap menggunakan pakain khusus renang. Factory Outlet pun ada,loh! Ya kali pengen beli baju, celana, training suit dan masih banyak lainnya. Tersedia untuk pria dan wanita dari ukurun anak-anak hingga dewasa. Komplit lah!

Hari beranjak senja, tidak terasa saya sudah empat jam menikmati keindahan Floating Market di Lembang ini. Tempat rekreasi yang pas untuk seluruh keluarga, bahkan untuk yang datang bersama teman-teman. Sekedar membuang penat hidup perkotaan, bolehlah melipir sejenak ke Floating Market Lembang.


All Photos taken with Sony Alpha 6000 

Blogging, Profesi atau Hobi ?

Blog merupakan singkatan dari web log[1] adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urutan terbalik (isi terbaru dahulu sebelum diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut. (Sumber : Wikipedia

Sejarah mencatat bahwa media blog pertama kali diluncurkan oleh Pyra Labs yang kemudian diakusisi oleh Google di tahun 2002. Saya sendiri pertama kali mengenal blog di tahun 2009, itu pun awal mulanya karena keranjingan nulis di notesnya Friendster dan Multiply. Pada dasarnya saya memang suka menulis sejak kecil di diary. Begitu menemukan media yang sedikit mengurangi kepegelan jari saya mencatat segala hal dalam pikiran dan perasaan, tentu saja saya senang dan menikmati. Awalnya blog saya ada empat, masing-masing satu di Blogspot, Wordpress, Multiply dan Tumblr. Banyak amat? Ya kan masing-masing ada nichenya. 

Saya ngeblog tentang pikiran-pikiran saya tentang hal-hal yang terjadi di sekitar dan hal-hal yang lagi dibicarakan orang di Blogspot. Curhatan gak jelas saya tuliskan di Wordpress. Saya sok berpujangga melalui puisi-puisi cemen (yang ternyata sempat masuk majalah dan dibayar) di Multiply. Sementara Tumblr saya isi dengan foto-foto dengan caption singkat. 

Sejalan waktu, Multiply hilang dan saya lupa backup tulisan saya tersimpan di mana. Sudah gak tahu mau posting apa di Tumblr karena sudah ada Instagram. Blogspot berubah niche dengan postingan 'campur sari' yang dinamakan "lifestyle" dan Wordpress yang akhirnya saya private demi kemaslahatan bersama karena saya gak mau mengumbar perasaan pribadi saya kepada seluruh dunia. 

Blogging, Profesi atau Hobi ?  




Dalam perjalanannya dari tahun 2009, Blogging kemudian jadi booming di tahun 2012. Mungkin karena pada tahun itu juga (correct me if I'm wrong), publisher buku hunting penulis dari blogger. Media blog pun dilirik oleh brand untuk dijadikan media informasi dan promosi. 

Banyak buku dan novel yang penulisnya adalah blogger. Gak sedikit pula blogger yang diundang ke press conference, event launching atau apalah bersanding dengan para wartawan media cetak dan elektronik. Lomba-lomba penulisan berpindah ke blog, hadiahnya juga lumayan banget. Mulai dari gadget, voucher, uang tunai, jalan-jalan ke luar negeri dan masih banyak lagi. Sangat menggiurkan bukan? 

Pada akhirnya it seems like everybody wants to blogging, mostly about anything. Yang dulunya blogger 'curhat' , berupaya mengubah positioningnya agar lebih ketahuan personal brandingnya seperti apa. Ada yang saklek ke satu niche aja (make up, traveling atau gadget dan seterusnya), ada yang masih gado-gado segala niche dihantam kayak saya, hahaha. Yang awalnya posting sesuai mood, jadi berusaha untuk paling tidak posting seminggu sekali. Malah ada yang posting dua hari sekali. 

Gak cuma frekuensi publish postingan yang dijaga, konten pun semakin ke sini semakin dibenahi. Postingan tidak melulu sekedar tulisan. Foto dan video dibuat semenarik mungkin lalu kemudian disematkan dalam postingan. Selamat tinggal template bawaan, kupu-kupu dan musik latar yang enak terlihat di mata yang punya blog tapi ngeselin di mata pembaca. Mulai membuat judul yang click bait, belajar SEO biar masuk page one Google dan printilan lain yang kadang-kadang jika ingin didramatisasi menghasilkan pertanyaan 'kamu ngeblog demi apa sih?' 




Demi kelihatan blognya keren, up to date, kekinian, lalu kemudian orang-orang memuji 'blognya keren, kamu pasti tahu segala sesuatu tentang ngeblog yang apik' ? Demi membentuk image sebagai blogger yang smart, cantik, menarik, baik hati  dan tidak sombong yang isi postingannya sangat bijak dan layak untuk dijadikan panutan? 

Jangan-jangan demi dilirik brand agar diajak kerjasama dan menghasilkan rupiah-rupiah yang lumayan bisa membunyikan notifikasi sms banking di hape? Pengen kayak segelintir mba mba dan mas mas yang sudah berjaya menjadikan blog sebagai mata pencaharian utamanya, gak perlu ngantor dan kelihatannya hanya jalan-jalan lalu posting di sosmed  sedang ngeblog di tempat-tempat ciamik itu? 

Saya pikir, mostly bloggers itu niatnya pengen berbagi konten yang (semoga) berguna buat orang banyak, yang bisa dijadikan amal jariah dan syukur-syukur ternyata adalah endorsement terselubung (eh!). Ketika kemudian personal brandingnya terbentuk sebagai blogger yang keren dan tech savvy misalnya, atau blogger yang bisa jadi panutan itu kembali pada apa yang sering kita posting dan bagaimana kita menggambarkan diri kita melalui postingan tersebut.

Saya ngeblog secara serius tahun 2011. Waktu itu ada lomba menulis tentang Korea Selatan yang diselenggarakan oleh KBS World. Hadiah utamanya adalah jalan-jalan ke Seoul. Tulisannya memang gak harus dipublished di blog, malah sebenarnya tulisannya harus dikirim via email ke panitia. Cek en ricek, saya tahu bahwa gak cuma KBS World yang menyelenggarakan lomba berhadiah traveling ke Korea Selatan. KTO (Korea Tourism Organization) pun biasanya tiap tahun menjaring para blogger yang sering menulis tentang Korea Selatan sebagai ambasadornya. Diajak dong ke Korea Selatan. Mau dong sayaaaa...

Semangatlah saya blogging tentang Korea Selatan. Apakah kemudian saya berhasil ke Korea karena blogging? Belum sih.. Lomba menulis KBS World hanya berhasil meraih juara harapan. Hadiahnya dompet, hahaha.  KTO pun belum melirik saya nih jadi ambassador.

Apakah kemudian saya patah semangat? Gak lah.. karena setelah itu banyak kesempatan dan job offer datang kepada saya walaupun itu gak ada hubungannya dengan Korea Selatan. Untuk postingan-postingan itu saya dibayar dengan jumlah yang alhamdulillah. Pada akhirnya saya beneran bisa ke Korea Selatan dan bisa mendapatkan kursi untuk ibadah haji dari recehan-recehan blogging.

See, sometimes it's not all about the money tapi duitnya datang sendiri. 

Lanjut....

Gimana kalau orientasinya memang nyari duit menjadikan blogging sebagai profesi? Siapa bilang gak bisa. Bisa aja. Tapi perlu diingat prosesnya gak bakal instan. Gak cuma sekedar buat akun google, tersebut kemudian membuat blog, dijadikan TDL, posting satu dua kali sekenanya lalu kemudian kamu bisa resign kamu dan nunggu dollar datang ke rekening. Bukannya gak mungkin, but it takes time, consistency and effort to do that. 

Emang Enak Jadi Blogger ? 


Kebanyakan orang melihat bahwa enak banget jadi blogger. Diundang ke event-event di tempat yang keren, pulang bawa goodie bag, dikasih uang transport, nginap gratis di hotel, dapat gadget keren, ke luar negeri, jadi pembicara, transferan rupiah sampai dollar, ngumpul-ngumpul melulu. Macam-macam lah ya orang-orang menilai blogger tampaknya seperti itu. Akhirnya pengen jadi blogger juga karena pengen seperti blogger-blogger yang sudah 'jadi' itu.

Saya sering loh dapat-dapat komentar dari teman-teman atau kenalan,"enak banget lu ya, barang-barang kebanyakan gratis. Duit ada aja. Nongkrong sana sini, ih keren banget!"

Makasih loh ya.. hehehe. Alhamdulillah, dibanding blogger kondang yang kerjasamanya sama brand gede-gede itu, saya masih kategori pas pas an. Pas butuh, pas ada. 

Lagipula sedikit yang orang tahu bahwa ada foundation yang harus dibangun. Mulai dari blognya itu sendiri, kontennya, kemudian bloggernya pun harus kuat di personal branding dan networking. Terima job pun harus diselesaikan tepat waktu dengan kualitas yang sebaik harga deal. Kedepannya harus selalu memikirkan konten berikutnya seperti apa dan kualitasnya harus upgrade terus. Harus menjaga hubungan baik dengan semua orang especially brand, pembaca dan sesama blogger. 

Banyak printilan lainnya yang banyak orang gak tahu karena mereka fokus ke hasil yang didapatkan oleh para blogger. Jadi ketika mereka memulai dan kemudian hasil yang diharapkan tak kunjung datang, kecewalah mereka. Gak sedikit pula yang akhirnya menerima paid postingan apa aja dengan harga berapa aja. Sesuatu yang gak bisa dijudge salah, tapi ya merusak harga blogger itu sendiri. If it's all for the money, bisa jadi sah-sah aja. Namun jika melihat para blogger lain yang ngeblog pakai hati dan put their effort on their post, rasanya agak gimana... gitu. 




Saya pribadi berpikir walaupun terkadang pengen banget menjadikan blogging ini sebagai profesi, pada akhirnya saya memilih blogging ini hanya sebagai hobi. Hobi yang dibayar, hehehe. Kenapa? Karena makin ke sini, waktu saya kebanyakan habis untuk kerjaan utama saya di kantor. Menulis mulai mood moodan. Terkadang ada job yang saya gak bisa ambil karena saya gak yakin bisa memenuhi deadline atau ada juga job yang saya tolak karena tidak sesuai dengan konsep blog ini. Saya juga gak jago-jago banget menulis dan membuat konten kreatif. So maybe next time, kalau saya sudah pensiun kali yah, hahaha. Mudah-mudahan panjang umur dan masih sehat. 

Selamat Hari Blogger Nasional, Keep On Blogging Till The End 


Mumpung hari ini tanggal 27 Oktober adalah hari Blogger Nasional jika kamu tertarik ngeblog, silahkan banget loh. Saran saya jangan memulai ngeblog hanya karena uang. Boleh banget menjadikan blogging sebagai salah satu mata pencaharian, siapa yang bisa larang? Remember, segala sesuatu ada prosesnya bahkan mie instant pun harus direbus dulu sebelum disajikan. Begitupun uang, gak begitu tiba-tiba datang kalau tidak diusahakan. 

Bagi kamu yang sudah ngeblog baik itu hitungan bulanan bahkan yang sudah lebih tua dari saya, keep on blogging till the end. Blogging mau dijadikan profesi atau hobi is all up to you. Content is the king and consistency is the queen. Meskipun menulis hanya bisa sekali dua dalam sebulan, jarang ke event dan kumpul dengan komunitas kayak saya, you're still blogger no matter what other bloggers say. lol. 



Nah, kamu sendiri melihat blogging ini profesi atau hobi? Sharing yuk komen kamu.  

Work-Vacation at Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta

Yes,ini bukan staycation, karena pada dasarnya nginap di Grand Mercure Hotel Jakarta Harmoni ini sebenarnya kerja yang harus diinapin di hotel. Bulan September ini kantor gue mengadakan Rapat Kerja Nasional untuk penyusunan kebutuhan barang tahun 2020. Berhubung rapatnya dijadwalkan selama empat hari dari pagi sampai malam, daripada ngerepotin, peserta rapat dan nginap di hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta.




Ini sebenarnya kali kedua gue nginap di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ini. Hanya baru kepikiran untuk ngereview tempatnya, karena just in case ada yang perlu tempat nginap selama di Jakarta atau beneran staycation bareng keluarga bukannya rapat kayak gue. Lokasinya strategis, berada di jalan Hayam Wuruk no, 36-37 Jakarta Pusat. Mudah dijangkau dengan menggunakan transportasi umum seperti Trans Jakarta (Halte Sawah Besar itu pas ada di depan hotel), gak begitu jauh dari stasiun Gambir buat kamu yang naik kereta dan armada online lainnya.

Work-Vacation at Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta  


Begitu memasuki area gedung Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini, kita harus melewati security check. Demi keamanan, gak apa-apalah. Gak begitu ganggu juga. Setelah itu barulah kita memasuki area lobby disambut oleh door boy yang ramah. 

Dua kali menginap di sini, proses check in memang agak lama karena tamu datang gak henti-hentinya. Berombongan pula. Gue aja cape liatnya. Sepanjang kamu sabar dan gak lagi kebelet, gue rasa bakal fine-fine aja. Toh lobbynya juga nyaman dan luas. Silahkan duduk-duduk dulu aja nunggu antrian. Gak begitu lama juga sih, karena receptionnya ada enam dengan satu line khusus VIP membernya Grand Mercure Hotel.






Kali kedua ini alhamdulillah diarrange sama panitia gue dapat kamar di lantai 17, lantai non smoking area. Kamarnya juga lebih luas dibanding kemarin. Kali ini gue dapat kamar double bed, sofa dan TV 50" lebih gede dibanding yang kemarin dengan city view. Alhamdulillah..




Tempat Nongkrong Favorit 


Pardon my messy bed, 
Fasilitas kamar lainnya seperti kamar mandi sangat sangat memuaskan banget menurut aku. Ruang shower dan wc kering terpisah oleh ruang dandan dengan kaca super gede. Toiletries nya pun lengkap. Mulai dari yang standar macam sabun gel dan sabun batang, sampai alat shaving dan sewing kit pun tersedia. 

Hal yang paling aku suka adalah lightingnya yang sangat-sangat mengundang untuk ngerekam video ala-ala beauty vlogger itu. Hahaha! Ada sejam kali gue ada di kamar mandi saban pagi. Mandi dan dandan aja sampai puas.



Selama gue nginap, makan pagi, siang dan malam disediakan di restaurant. Letaknya di lantai 1, gak begitu jauh dari lift dan lobby. Restaurantnya sih lumayan asik suasananya. Cukup luas, meskipun seringkali saat sarapan pagi numpak banget sampai ngantri. Maklum, hotel ini kayaknya gak pernah sepi penginap. Jadi kalau gak buru-buru mending sarapannya pukul 9.30 aja, atau sekalian pukul 7. Jadwal sarapan pagi antara 06.00 - 10.00 , makan siang 12.00-14.30 dan makan malam 07.00-09.00. Diantara bisa aja, tapi menunya sudah bukan yang buffet lagi.



Bicara tentang menu, ini dia yang agak ngeganjel buat gue. Berhubung tiap kali nginap di Grand Mercure Hotel Harmoni ini gak sehari dua dan makannya full set pagi sampai malam (plus coffee break 3 kali). Sebenarnya menu mereka sangat bervariatif, mulai dari yang tradisional, western sampai menu ala Chinese dan Jepang pun ada. Dari appetizer to dessert, yang sudah fixed maupun customize. Minuman juga lengkap, dari air mineral, infused water, es teh sampai kopi espresso tersedia. Malah di jam sarapan, ada corner jamu dimana kita bisa pesan jamu sama mbok-mboknya.






Sayangnya, menunya sangat mudah ditebak. Tiap hari selalu ada nasi goreng, mie goreng ataupun bihun goreng, bubur ayam, bubur kacang ijo, bubur ketan, sushi, miso sup dan seterusya. Lauknya ayam olahan berbagai daerah, ikan goreng dan semacamnya. Dessertnya pudding dan kue tradisional. Meskipun sesekali ada Soto Bandung, Mie Kuah, Pasta, Pizza atau apalah, tapi menu tetap itu selalu ada masakan olahan dari POKCAY. Hahaha.. Kebaca banget lah pokoknya. Apa karena gue nginapnya semingguan jadi berasa sama semua makanannya? Hehehehe...

Overall untuk kategori masakan hotel, all menu di Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini gak ada yang gak enak. Gue sih ngarepin banget, besok-besok ada Waffle, Coto Makassar atau Ayam Goreng ala Korea atau masakan Korea lainnya. Soalnya beberapa kali gue ketemu penginap asal Korea juga di Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini. Ya kali mereka juga rindu makanan rumah kan saat bepergian jauh.  Ataukah sebenarnya ada cuma timingnya gak pas dengan waktu kedatangan gue? Entahlah, yang jelas akhirnya gue menemukan Bakso Kuah yang kerap dirindukan di sarapan hari terakhir. Enak!!

Bakso Kuah yang Dirindukan Akhirnya Muncul di Sarapan Hari Terakhir 


Oiya, bicara soal makanan rumah, kalau misalnya gak cocok sama masakan hotel, disekitar Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta banyak banget spot kuliner lokal yang pantas dicoba. Daerah Pecenongan merupakan kawasan kuliner yang sayang untuk dilewatkan. Misalnya di belakang hotel tuh ada Mie Aceh Pandra. Mie Aceh dan Kopi nya juara!

Pengen makan fastfood, silahkan melipir ke sebelah hotel,ada McD yang buka 24 jam. Di depan hotel ada Gajah Mada Plaza yang menyediakan tempat makan francise lainnya atau sekedar cuci mata dan beli keperluaan yang lupa terbawa. Contoh gue gak bawa kemeja putih padahal di jadwal acara tercantum dress code putih. Akhirnya gue melipir ke Gajah Mada Plaza. Kebenaran banget di lobby nya ada bazaar diskon apa gitu. Nemu lah gue kemeja putih seharga tiga puluh lima ribu aja. Murah meriah, alhamdulillah.

Selain tempat makan, lokasi Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini cukup strategis ke mana-mana. Dekat dengan spot wisata seperti Kota Tua, pusat perbelanjaan Glodok, Grand Indonesia dan  Plaza Indonesia. Jalurnya juga gak begitu macet meskipun gak bisa dibilang sepi. Kalau janjian ama teman banyak lokasi pilihan yang gak nyusahin semua pihak lah, hahaha.

Dari segi pelayanan, gue merasa juga cukup puas. Mulai dari door boy sampai petugas housekeeping semuanya ramah dan helpfull banget. Kalau ketemu dengan penginap di manapun, salah satu dari Standar Operasional Procedure mereka selalu menyapa penginap. Hal yang gue juga suka adalah gue bisa minjem setrika dari housekeeping. So, gue gak perlu repot-repot bawa setrika apalagi khawatir wardrobe gue lecek selama seminggu.



Oiya, di lantai 19 ada Rooftop Sky Loungenya juga loh. Sayangnya sewaktu acara pembukaan kemarin gue gak sempat foto-foto saking padatnya rentetan acara. Pastinya view from the top is amazing, bisa ngeliat view Jakarta di waktu malam. Untuk kamu yang demen olahraga, di lantai 5 tersedia gym, spa dan kolam renang. Selama dua kali nginap di situ gue gak sempat ke sana (baca:males). Maybe next time deh, gue sempatin nyamperin (doang! Olahraga mah belum tentu).

Lelah berpikir demi negara, gak ada salahnya buat mencoba massage di kamar. Gak sempat ke restaurant untuk makan atau lapar tengah malam? Don't worry, tingkat angkat telpon dan room service siap nganterin makanan yang kamu order dari menu yang tersedia. Jadi siapa bilang kerja gak bisa 'rasa vacation' ?



So, would I be back to Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta? Well, I wish! It was a pleasant stay and I enjoyed it so much. Gimana, kamu tertarik nginap di sini gak atau malah pernah nginap di sini sebelumnya? Yuk, share pengalaman kamu di kolom komentar ya! 


4 Alasan Mengapa Blogger Harus Memakai Jasa Hosting Domain

Membangun sebuah website adalah hal yang sedang ngehits dilakukan para millenials saat ini. Peruntukan websitenya bisa untuk berbagai keperluan mulai dari bisnis, sharing informasi, promosi iklan dan lain sebagainya. Kita semua pastinya sudah familiar dengan blogspot. Masih banyak yang memilih menggunakan Blogspot karena berbagai alasan. Mulai dari murah, lebih mudah dikonfigurasi, tampilan lebih simpel, dan lain sebagainya. 
Tapi, memiliki website dengan domain sendiri lebih tentunya lebih kredibel dibandingkan Kamu yang masih menggunakan blogspot. Selain karena faktor kredibilitas, seseorang yang punya website sendiri menunjukan bahwa dirinya menggunakan jasa hosting domain yang profesional dan lebih bernilai di mata visitornya, salah satunya IDwebhost.



Dengan memiliki hosting sendiri, banyak manfaat yang akan bisa dirasakan. Dalam hal performa, memiliki web sendiri dengan menggunakan jasa hosting adalah ide yang sangat keren. Kamu bisa melakukan konfigurasi dengan lebih banyak, memberikan fitur lebih banyak, dan yang pasti penampilannya pun juga akan lebih keren. Kenapa bisa begitu? 
Ada 4 alasan mengapa kamu harus pindah ke hosting domain sekarang juga : 

4 Alasan Menapa Blogger Harus Memakai Jasa Hosting Domain



1.  Website Terlihat Lebih Profesional


Sebuah website yang terlihat lebih professional pastinya akan semakin menarik di mata pengunjung. Apalagi jika masih newbie. Untuk bisa mengalahkan para pemilik web yang sudah jalan dulu diluar sana, kita wajib untuk memiliki website yang lebih indah dan lebih bagus ketimbang mereka. 

Namun, tak perlu khawatir karena dengan menggunakan jasa hosting semuanya kini akan bisa lebih mudah. kita bisa mengoptimalkan pelayanan dan fitur yang ingin diberikan kedalam website baru tersebut. Setelah itu, kamu pun akan bisa meningkatkan kemampuan web yang dimiliki dengan baik. Kamu akan bisa menciptakan sesuatu yang berbeda dan lebih berkesan bagi para pengunjung blog. 




Mereka pun tidak akan segan untuk berkunjung lagi ke situs kamu. Apabila kamu masih memakai website berjenis blog, besar kemungkinan para pelanggan akan malas berkunjung atau membeli produk yang dipasarkan di website. Alasannya, mereka akan menilai web tersebut kurang bernilai dan tidak terlihat professional. Ini membuat promosi website yang sudah ada menjadi kurang optimal. Kamu pun harus bekerja lebih keras untuk membuat promosi berhasil. Padahal akar masalah satu, yaitu di website yang kita miliki. Cukup menggunakan jasa hosting saja, seharusnya semua sudah beres.

2.  Jasa Hosting Membuat Kamu Memiliki Website Yang 100% Milikmu 


Ini pastilah keren banget, kamu bisa memiliki website yang bisa 100% jadi milik sendiri. Dengan memiliki website yang benar-benar sepenuhnya punya kita sendiri. Pastinya ini akan memudahkan pemilik untuk mengelolanya dengan model apapun. Tentu saja hal ini berbeda jika kamu menggunakan platform seperti blogspot. Biasanya Google akan secara tiba-tiba menghapus website tersebut kedalam mesin pencari apabila melanggar ketentuan dan syarat yang berlaku. Beda cerita kalau memakai hosting sendiri. Kamu akan benar-benar menjalankan website yang sepenuhnya bisa menjadi milik kita sendiri.  


Selain itu, ini juga akan memberikan dampak psikologis berupa sense of ownership. Yang mana kita sebagai pemilik website dengan label domain tertentu akan merasa bangga mempunyainya. Rasa bangga ini diatas segalanya. Karena jasa hosting akan memastikan kita mendapatkan website yang profesional sehingga bisa dibentuk dengan aneka fitur dan model apapun yang kamu kehendaki. Tentu saja hal ini juga akan memudahkan kamu untuk bisa mempunyai website yang bisa Kamu konfigurasi sendiri sesuai kebutuhan. Dampak panjangnya nanti, situs tersebut perlahan tapi pasti akan bisa terlihat lebih manis dan memiliki impression atau kesan yang bagus di mata pengunjung.

3. Mau Plugin Model Apapun Tak Perlu Bingung, Karena Hosting Domain Menyediakan Semuanya 

Seiring berjalannya waktu plugin era sekarang lebih banyak varian ketimbang plugin era dulu. Para milenials bisa memanfaatkan beragam plugin tersebut sesuka hati mereka. Ditambah lagi, hal ini juga akan membuat tampilan situs yang awalnya biasa saja menjadi terlihat lebih ciamik. Sebuah situs yang hanya berisikan tema plain atau kosong pastinya terlihat aneh. Namun, dengan beragam plugin yang disematkan dalam sebuah situs, penampilannya pun akan menjadi lebih expert dan meyakinkan. Jelas, hal ini akan bisa memberikan kesan yang luar biasa bagi siapa saja yang melihat website tersebut.


Ada sejumlah plugin yang bahkan bisa diset secara auto. Maksudnya adalah plugin tersebut akan bekerja secara otomatis apabila ada beberapa masalah yang terjadi dalam website. Misalnya bug untuk menjadwal postingan, dan lain sebagainya. Secara otomatis plugin akan bekerja membenahi kinerja web yang terkendala bug. Hasilnya pun juga akan diluar dugaan sangat luar biasa. Dengan memiliki tampilam domain yang lebih bagus, maka kamu pun akan lebih percaya diri mempromosikan web tersebut ke banyak orang. Jasa hosting akan menyediakan pelayanan semacam ini yang pastinya sangat kamu inginkan dan cari selama ini. Sebuah website yang bisa tampil sedemikian rupa sangat menarik dan sedap dipandang. 

4. Pengaturan Tema Bisa Dilakukan Secara Bebas

Bagi kamu yang menggunakan jasa hosting, kamu akan dimanjakan dengan sebuah website yang mampu menyediakan tema beragam, baik itu tema berjenis pribadi, maupun tema yang professional. Pengguna pun bisa memilih tema manapun yang sesuai dengan kebutuhan. Secara kasat mata, tema ibarat background dari website yang dimiliki. Dengan penampilan tema yang bagus, sudah pasti siapa saja akan lebih mudah mendapatkan penampilan web yang terbaik.
Ada beberapa tema yang mengharuskan kamu membayar untuk menikmati semua fiturnya. Namun, ada tema bagus yang tersedia secara free. Pilihan ada di tangan kamu. Yang pasti, tema tersebut bisa kamu konfigurasi sesuai kehendak.  


Miliki Website Profesional dengan Jasa Hosting Domain 

Akhir kata, Saya hanya bisa menyarankan kamu yang ingin memiliki blog dengan tampilan website profesional bisa melakukannya dengan mudah dengan memakai jasa hosting yang tersedia. Dari sinilah kamu akan bisa mendapatkan semua manfaat yang ada dalam satu paket. Sebuah website yang professional, kredibel dan tentu saja lebih bernilai dibandingkan yang lain. Penampilan website yang awalnya biasa saja akan menjadi luar biasa. 
Website yang bagus dan punya domain yang independen akan memiliki value yang lebih baik. Kesannya pun juga sangat mendalam dan bisa dinikmati para pengunjungnya. Pilihlah pelayanan hosting domain yang professional untuk menciptakan sebuah web yang professional untuk memenuhi kebutuhan kamu.  Bagaimana? Apakah kamu sudah mulai berpikir untuk memiliki web sendiri? Share komentar kamu di bawah ya.. 

3 Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Mengganti Laptop

Hidup itu sudah berat tanggung jawabnya di akhirat, makanya laptop jangan ikut2an berat. Kamu gak bakal sanggup. Ganti aja!  


Ditengah kecanggihan teknologi dan semakin tingginya mobilitas manusia kekinian, memiliki (atau setidaknya menggunakan) perangkat yang ringkas menjadi suatu tuntutan tersendiri. Termasuk komputer yang membantu aktivitas kita sehari-hari, baik untuk kerja, sekolah ataupun sekedar maen game. 


Saya masih ingat pertama kali punya laptop itu di tahun 2009. Setelah sekian lama modal pakai punya kantor atau minjem punya kakak, akhirnya tabungan cukup beli laptop. Alhamdulillah, meskipun spesifikasinya cuma bisa buat MS Office, nonton video dan putar lagu, paling tidak adalah tulisan-tulisan yang bisa dipajang di blog. 

Laptop ini kemudian menjadi kenangan ketika kegemaran nonton drama Korea membuat saya pengen ngedit video. Gak bisa enggak, saya harus ganti baru. Soalnya boro-boro install Adobe Premiere,ngedit video pakai aplikasi bawaan windows aja ngelagnya minta ampun. Harus ganti nih! Andai saja tahun itu per hestek an sudah marak, niscaya di Facebook dan Twitter sudah kuupdate status #2011GantiLaptop 


Baca juga : 3 Kriteria Memilih Notebook Agar Produktif Maksimal 

Cek en ricek, browsing sana sini, baca review segala rupa, akhirnya bulat tekad harus menemukan jodoh laptop dengan spesifikasi  yang mumpuni. Setidaknya laptop tersebut menggunakan processor i5, 2Gb RAM atau lebih, penyimpanan 500 GB atau lebih dan layar dengan resolusi 1980x1080 , supaya bisa ngedit video tanpa lagging tentu saja. 

Apa daya tahun itu dollar lagi semangatnya seperti atlit panjat tebing di Asian Games.  Naik nya cepat amat, bet! Sementara itu gaji naik kagak, daya beli berkurang. Pinter-pinternya konsumen aja dalam membeli, apalagi yang dibeli perangkat elektronik kayak laptop gini. Harganya ngikutin kurs dollar, seperti kamu ngikutin perkembangan gebetan. Pepet terus..!

Di saat itulah aku mulai berpikir realistis. Buat apa ikut-ikutan beli merk mahal, kalau dengan spesifikasi yang sama saya sudah bisa merk lain dengan kualitas yang tak kalah bahkan bisa jadi lebih bagus. 



Aku dan Laptop ASUS,  Bersama Menggapai Cita  


Pucuk dicinta ulam tiba. Di salah satu lapak komputer pusat perniagaan elektronik terbesar di Makassar saya menemukan laptop ini : ASUS A43S. Spesifikasinya di tahun 2011 sudah bisa  digunakan mengedit video dan main game. Processor Intel® Core™ i5 2430M, Memory 4 GB SDRAM yang bisa ditambah hingga 8GB, layar 14.0" 16:9 HD, kartu grafis AMD Radeon® HD 6730M dengan 2GB DDR3 VRAM, penyimpanan 750 GB, didukung dengan baterai 6 Cells 5200 mAh, DVD, koneksi nirkabel hingga  USB 3.0 dan 3 in 1 card reader.  Tampilannya juga berkelas, gak malu-maluin lah dibawa nongkrong di cafe atau working space.  






Harga laptop dengan spesifikasi seperti di atas memang gak murah. Aku belinya dari rapelan gajian (hahaha!) sekitar 7 juta rupiah. Mahal, iyah! Pertimbangan aku, processornya sudah Intel i5 yang mana saat itu masih baru. Selain kuat menghandle software editing photo,audio dan video, processor ini gak mungkin cepat tergusur. Masih bisa dipakai sampai beberapa tahun ke depan, lah.

Gak nyangka ASUS A43s ini masih awet aja sampai sekarang. Sejak dibeli tahun 2011 hingga saat ini di tahun 2018, ada banyak peristiwa yang kulalui bersamanya. Selama itu pula skill mengedit videoku makin terasah dan subscriber YouTube channel bisa mencapai 5ribuan (bahagia!). ASUS A43s ini pula yang membantu aku memproduseri acara Kwave Radio Show dan Weekend Sensation di Radio SPFM sejak tahun 2011 hingga 2014. 

Dalam bidang tulis menulis,  aku juga sudah mulai menambahkan konten grafis pada postingan-postingan di blog dan mulai mengerjakan proyek-proyek menulis lainnya. Gak tahu lagi deh, gimana aku bisa menyelesaikan semua hal-hal yang aku sukai ini tanpa bantuan alat spektakuler seperti laptop ASUS ku ini. 


Laptop ASUS ini pula yang membantu aku memenangkan beberapa lomba blog yang hadiahnya sudah melewati harga laptopnya sendiri. Lewat laptop ini pula, kerjaan kantor, slide presentasi-presentasi, tugas kuliah hingga tesis S2 lahir dan terselesaikan. Bahkan dikala senggang, laptop ASUS membebaskan kepenatan hidup lewat gaming dan nonton drama Korea. Bener-bener jadi teman bermain dan belajar yang menghasilkan.  Gak rugi lah belinya, alhamdulillah. 




Memang dalam perjalanannya selama tujuh tahun bersama, pasti ada lah rewel-rewelnya dikit. Baterai pasti sudah gak tahan lama, sudah 7 tahun bo'!  Namun yang  paling aku rasakan adalah beratnya itu loohhh... Buset, 2,4 kg itu buat aku gak kuat.  Yah, maklum lah umur makin nambah ye.. harap maklum, hahaha. Akhirnya mulai deh kepikiran lagi #2018GantiLaptop. 


Hidup itu sudah berat tanggung jawabnya di akhirat, makanya laptop jangan ikut2an berat. Kamu gak bakal sanggup. Ganti aja. 

Pikiran seperti ini sudah mulai menghantui tiap kali ada kegiatan di luar yang memerlukan membawa laptop. Ganti.. ganti.. ganti.. tapi ganti dengan yang mana? Makin ke sini pilihan makin banyak, euy! Harga juga harus diperhitungkan karena lagi-lagi dollar di tahun 2018 ini naik terus kayak perolehan medali Indonesia di Asian Games. Sekali lagi aku harus bersikap realistis, membeli perangkat komputer yang notabene bukan kebutuhan primer ini membutuhkan beberapa pertimbangan. 



3 Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Mengganti Laptop 


1. Beli Laptop, Spesifikasi atau Gengsi ? 

Ok, ini pertanyaan yang seringkali bikin bimbang seperti perasaan Cinta dan Rangga pas musuhan di AADC pertama. Maunya sih spesifikasinya yang top, tapi biasanya merk dan tampilannya jatuhnya kurang enak di mata pemirsah yang melihat kita. Pilih gengsi? Siapin aja duit yang buanyak meskipun pada akhirnya kamu mengakui dalam hati bahwa kemampuan laptop itu gak lebih bagus dari merk dengan harga di bawahnya. Entah kamu setuju atau enggak, merk memang ada harganya, yes? 

Aku adalah tipe orang yang tahu diri. Kalau kemampuan finansial saya belum mampu beli gengsi, saya pilih aja yang spesifikasinya tinggi tapi gak malu-maluin. Contoh : ASUS Vivobook Flip TP410 ini. 






Melihat spesifikasi di atas, menurut saya, ini sudah pas dengan kebutuhan. Operating sistemnya sudah Windows 10. Selain lebih ringan, pengoperasiannya juga makin simple dan mendukung touch screen. Asal tahu aja, saking sukanya aku menggunakan OS ini, laptop ASUS A43s ku ini ku'paksa' install Windows 10 meskipun rekomendasinya hanya Windows 7. Bisa? Ya bisa dong.. running well. Gak ngerti lagi aku tuh ASUS gimana mempersiapkan laptopnya. Apa aku memang gak salah pilih laptop ya? 


Aku pikir, makin ke sini teknologi yang diusung ASUS tentu memikirkan tidak saja untuk penggunaan satu hingga dua tahun ke depan. Jadi, jangankan word processing sebangsa nulis postingan, buat slide presentasi, bikin infografis atau browsing sambil denger lagi, aku pikir ngedit video aja bisa nih dengan ASUS Vivobook Flip TP410. 

2. Kebutuhan atau keinginan? 

Ini adalah dua hal yang sekilas serupa tapi tidak sama. Kalau hanya sekedar pengen karena ngeliat yang lain sudah punya atau pengen jadi yang pertama punya, baiknya tahan dulu deh. Sayang duitnya. Toh kalau pun paling duluan punya, bisa bertahan berapa lama sih rasa bangganya dibanding derita ngirit makan atau bahkan nyicil kreditnya? 

Lain cerita kalau emang butuh, meskipun laptop Asus A43s saya masih bisa berfungsi, namun aku butuh laptop yang lebih ringan baik dari segi teknis maupun beratnya.  Maklum umur sudah 40 tahun, gendong laptop seberat 2 kg itu rasanya melelahkan, serius! 

Aku kemarin sempat kepikiran beli Tab saja karena selain lebih ringan dibawa kemana-mana, bisa saya gunakan juga buat baca-baca e-book atau sekedar browsing. Lalu saya mikir dong, kalau mau ngetik postingan gimana? Nyaman gak? Harus beli keyboard lagi.  

Sementara jika memilih ASUS Vivobook Flip TP410 keandalannya bisa jadi 4 mode yaitu


a. Media stand 


Mau nonton, denger musik, atau sekedar liat-liat foto? Boleeh... ASUS Vivobook Flip TP410 ini memiliki lebih dari cukup ruang untuk presentasi bisnis, album foto, dan multimedia. Tidak sekedar seperti laptop pada umumnya, namanya juga Flip jadi bisa dilipat hingga 360 derajat. Wih keren! 






b. Powerful laptop


Dengan processor tercanggih di kelasnya, didukung oleh memory, penyimpanan yang cukup lega dan baterai yang awet, banyak yang bisa dikerjakan kapan pun dan di manapun. 


c. Share Viewer 


Ada hal tertentu yang pengen diperlihatkan kepada orang lain di sekitar kita? Boleeeh.. flip aja! Gak perlu perlihatkan keyboardnya, cukup layarnya. Praktis.




d. Responsive Tablet  

Seperti keinginan yang menjadi nyata, ASUS Vivobook Flip TP410 layarnya bisa dilepas. Touch screen pula. Jadi semacam tablet yang aku pengenin itu loh. Sudah gitu, layarnya memiliki presisi sensor sentuh yang tinggi, sehingga bisa oret-oret pula  dengan menggunakan ASUS Pen.  Happy aku tuh.. ASUS Vivobook Flip TP410 ini tampaknya lebih menguntungkan!  







3. Apakah Sepadan dengan Uang yang Dikeluarkan ?

Menurut aku beli barang itu harus memiliki keuntungan. Tahu sendiri kan barang elektronik itu gak bisa dijadikan investasi karena harganya cepat banget turunnya saking pesatnya teknologi. Makanya saya beli barang yang kira-kira bisa dipakai untuk menghasilkan atau setidaknya membantu menghasilkan uang. Biar balik modal gitu maksudnya, hehehe.. 

Dulu waktu aku beli ASUS A43s harganya sekitar tujuh juta sekian-sekian, emang lumayan banget.  Dengan spesifikasi yang bisa membantu kita ngedit video, audio dan foto harga segitu memang sangat beralasan. Teknologi processornya masih dipakai hingga saat ini. Aku juga sudah kebantu banget dalam pekerjaan aku mengedit.  


Nah melirik ASUS Vivobook Flip TP410, harganya dibanderol mulai dari 6.899.00 hingga 9.099.000 (tergantung processor dan kapasitas harddisknya).  Tapi dari segi kepraktisanmya yang tipis dan ringan saja sudah kebantu banget. Beratnya hanya 1,6kg sudah dengan baterainya. Dimensi ASUS Vivobook Flip TP410 cukup tipis hanya 1,92cm saja.  Teknologi yang diusungnya pun kekinian dan tentu saja berkelas. 






Dari segi keamanan, ASUS Vivobook Flip TP410 menggunakan fingerprint sensor selain user dan password yang bisa diset up. Jadi gak sembarang orang bisa login ke laptop kita sampai buka-buka data segala. Mengetikpun bisa lebih nyaman. Ini karena backlict keyboard yang memungkinkan kita bisa tetap melihat huruf-huruf di keyboard meski di tempat gelap. Canggih ya? 

Supaya makin semangat membuat konten kreatifnya, gak lupa ASUS Vivobook Flip TP410 ini dilengkapi Sonic Master yang didesain untuk menghasilkan suara yang tidak hanya menggetarkan jiwa (halah!) tapi juga nyaman di telinga. 


Dengan segala kecanggihan ini, apakah sepadan dengan uang yang dikeluarkan? Ada harga ada kualitas tentu saja. Aku pikir harga yang telah ditetapkan cukup beralasan melihat fitur yang ditawarkan. Sesuai pengalaman, jika ASUS aku aja yang sebelumnya bisa awet hingga tujuh tahun dan 'balik modal', aku pikir kenapa tidak ASUS Vivobook Flip TP410 memberi pengalaman yang sama? 

Untuk memastikan hal tersebut, VivoBook Flip TP410 ini telah dikenai tes buka-tutup hingga 20.000 siklus. Sehingga siap untuk mode apa pun, kapan saja - selama bertahun-tahun yang akan datang. Siapa tau bisa meraup sekeping dua keping recehan layaknya youtubers lainnya. Suka ngedesign? Bisa ngerjain proyek juga kan.. Apalagi yang suka nulis. Rajin-rajin posting, pasang adsense, ikut lomba blog kali aja menang.  Aseek sekali! 






Jadi kalaupun pada akhirnya saya berpindah hati, bukan karena pengen aja atau harus punya duluan. Tapi memang ASUS Vivobook Flip TP410 inilah yang bisa jadi menemani aktivitas aku dalam  menyiapkan content-content untuk berbagai platform lain ke depannya. Kalau bisa produktif sekaligus stylish dan tech-savvy, kenapa gak? 

Nah itu dia 3 hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengganti laptop. Jadi gimana, #2018GantiLaptopAsus gak? Biar barengan kita pakai #AsusLaptopku. 


Referensi : https://www.asus.com/id/2-in-1-PCs/ASUS-VivoBook-Flip-14-TP410UA



Disclaimer :  Postingan ini diikutsertakan pada :