Jalan Ke Mana ? Seoul - Part 1

Hai gaes! (Eh sudah mirip sama vloggers gak? Hahaha). Ternyata banyak juga yah  yang penasaran nih ternyata tentang trip musim semi di Korea Selatan. Saya banyak mendapat DM di Instagram dan email yang isinya pertanyaan seputar itinerary, visa sampai biaya. Jadi gak apa-apa lah ya, saya ngebahas salah satu hal yang sering ditanyain di DM instagram saya, yaitu : "itinerary" .

Baca juga : Sulit Atau Mudah Mengurus Visa Korea ? 

Eh, tapi btw sudah follow Instagram saya gak nih? Follow dong.. follow! Insya Allah foto2nya gak bikin "sakit mata" dan taat komposisi. Hehehehe.. 

Jalan ke Mana di Seoul ?

Ok, jadi selama lebih kurang 7 hari di Seoul itu saya ke mana aja? Mmh.. sebenarnya dari kapan hari sebelum berangkat saya sudah ngelisting tempat-tempat must visited. Tempat-tempat yang turis banget dan tempat-tempat lokasi syuting drama Korea atau variety show. Berhubung saya kerja di media televisi, sempat siaran radio selama 16 tahun dan waktu itu masih kuliah S2, ada beberapa tempat yang mungkin gak menarik buat kebanyakan pelancong tapi menarik banget buat saya.

Oleh karena itu seperti yang pernah saya posting sebelumnya, itinerary itu memang tergantung dari masing-masing orang. Kamu mau ke mana, mau ngapain aja. Awalnya saya ngelist hampir 5 universitas yang pengen saya singgahi. Ini akibat pengen kuliah S2 di Seoul tapi gak kesampaian. Hiks. Saya juga ngelist lokasi syuting drama Goblin yang sempat saya intip dari berbagai fansite. Stasiun televisi pun gak luput dari daftar tempat-tempat yang ingin saya kunjungi.



Sayang beribu sayang, namanya juga itinerary itu rencana manusia. Pada kenyataannya hanya Allah yang menentukan. Eh, bener loh! Saya gak becanda.  Terkadang ada beberapa yang gak bisa dihindari meski sudah diprepare jauh-jauh hari. Entah itu cuaca, dibuat nyasar sama Google Map, keenakan di satu lokasi sampai gak rela beranjak, kecapean dan hal-hal lain yang kadang-kadang gk masuk akal seperti ketiduran di subway yang salah jalur pula. Heol! Ini beneran saya alami.

Baca juga : Traveling Rame-Rame, Berdua atau Sendiri ? 

Pada akhirnya itinerary yang sudah saya susun di Indonesia tinggal bye! Saya asli ngikutin kata hati aja dengan bantuan penunjuk arah entah dari website Visit Seoul atau Visit South Korea guide book Seoul dari KTO. Lebih simple dan disusun berdasarkan wilayah jadi lebih hemat waktu dan ongkos subway. Saya terus terang agak telat menemukan guide book ini, padahal mejeng di rak brosur di sebelah pintu utama penginapan. Di subway stasion khususnya yang besar semacam di Myeongdong dan Hub-Station  juga ada. Saran saya begitu tiba di Incheon Airport segera cari guide book ini aja.

Day 1 ( Korstay  dan Malam Mingguan di Myeongdong ) 

Hari pertama di Seoul saya habiskan setengahnya untuk istirahat sebentar di hostel. Pesawat saya nyampe pukul 9 an gitu deh di Incheon Airport. Urusan imigrasi, ambil bagasi sampai beli T-money dan simcard itu aja mungkin sekitar sejam gitu deh karena ngantri dan emang Incheon Airport itu sangat luas. Lengkapnya silahkan nonton vlog tentang Incheon Airport yang ini: 



Dari Incheon Airport ke Seoul saya tempuh dengan menggunakan  KTX Arex All-Stop. Ini artinya kereta subway ini berhenti di semua station besar yang dilalui. Jadinya agak lama dibandingkan ngambil KTX Arex non-stop, apalagi jika stasiun tujuan kamu adalah Seoul Station seperti saya. Tapi biayanya lebih murah, sekitar 4250 Won. 


Pic dari Visit Seoul 

Saya menginap di KORSTAY Seoul Station Guesthouse yang ternyata gak begitu jauh dari Seoul Station. Bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 12 menitannya orang Korea deh, hahaha. Bisa juga nyambung pakai subway line 4 dan turun di stasiun pertama dari Seoul Station. Saya memilih untuk nyambung pakai subway aja dengan biaya 1250 Won. Lalu kemuudian saya nyesel karena memang jaraknya dekat aja kok buat jalan kaki. Tambahan lagi di stasiun Sookmyung University yang jaraknya sepelemparan wedges doing dari Korstay itu, gak ada lift apalagi escalator karena ini hanya stasiun kecil. Jadilah saya dan partner perjalanan harus ngangkat koper segede gaban melalui tangga jahanam. Alhamdulillah ada ahjussi yang baik hati menawarkan bantuan ngangkatin koper sampai ke pintu exit 1. Ahh.. kalau di Indonesia ini mungkin sudah paranoid duluan mengira mau dipalakin. Hahaha... 

Sesampai di Korstay sekitar pukul 12 siang, niatnya cuma mau naro koper, mandi, sholat dan leyeh-leyeh bentar abis itu cari makan siang. Nyatanya, begitu abis mandi, sholat dan baring sebentar malah ketiduran sampai pukul 5 sore. Aigoo.... Rencana awal mau main ke Seoul Fortress Wall lalu mampir ke Dongdaemun  dan ke Myeongdong akhirnya cuma bisa terealisasi ke Myeongdong aja. Sebenarnya 3 destinasi itu satu line dengan Sookmyung University station, sama-sama di line 4. Jaraknya juga gak begitu jauh, paling jauh ke Seoul Fortress Wall itu turun di Hyewa station setelah Dongdaemun, hanya 10 menitan dengan jarak 6,8 km. Hanya karena ketakutan saya aja jalan-jalan malam hari di Seoul Fortress Wall yang bikin saya mengurungkan niat. Di drama sih kelihatannya romantic ya ngeliat kota Seoul dari atas, tapi kalau liat rutenya yang kudu jalan lagi ke atas hadeuuuhh mending saya ke Myeongdong aja deh!

How to Myeongdong ? Take Seoul Metro Subway Line 4, turun di Myeongdong Station 

Namsan Tower Terlihat dari Salah Satu Sisi Myeongdong 

Myeongdong itu malah lebih dekat, cuma 4 stasiun aja dari stasiun Sookmyung University dengan jarak 2.6 km. Waktu tempuh cuma sekitar 5 menit, itu juga sudah sama nunggunya. Stasiun Myeongdong ini termasuk stasiun yang cukup ramai dan gede, karena ini adalah salah satu spot tourism dengan pusat perbelanjaan yang lengkap. Mau cari yang murah meriah, yang mahalan dikit, yang super mahal ada di sini. Gak heran stasiun Myeongdong ini dilengkapi dengan customer service, vending mechine, ATM, tourism center, escalator dan lift. Dindingnya full dengan LED billboard super gede yang menampilkan advertising produk artis-artis Korea sampai ucapan selamat ulang tahun atau apalah buat artis-artis kpop. Katanya sih, kalau mau mengukur besarnya fanbase suatu artis, bisa dilihat dari seberapa gede billboard artis tersebut terpampang nyata di stasiun Myeongdong. 

Ultahnya bulan Februari, Masih Bertahan Sampai Bulan April 
Gong Yoo Oppa Ngajak Ngopi 

Nah, saya di Myeongdong ngapain aja? 

Myeongdong itu adalah area perbelanjaan, particularly, banyak banget outlet kosmetik. Kamu nyari merk kosmetik Korea apapun ada di Myeongdong. Selain kosmetik, Myeongdong juga punya outlet fashion, café, tempat makan sampai karaoke pun ada. Namanya juga pusat perbelanjaan lah ya. Area Myeongdong ini sangat luas, kamu bakal mudah tersesat apalagi kalau pakai patokan outlet kosmetik. Soalnya satu brand kosmetik bisa punya tiga sampai empat outlet di Myeongdong aja! Saran saya kalau memang mau jalannya misah-misah sama teman-teman kamu, paling gampang janjian di outletnya Nature Republic yang paling gede yang jaraknya cuma 20 meter dari exit 6. Gak bakal salah karena dinding berhiaskan dedaunan trus ada tulisan Nature Republic. Dari arah manapun bakal kelihatan. 

Waiting Spot, Nature Republic Main Shop

Area perbelanjaan Myeongdong gak melulu isinya outlet, gaes. Banyak loh pedagang kaki lima nya. Bedanya mereka gak jualan di trotoar tapi di tengah jalan. Memang sengaja sih diset seperti itu karena mobil dan motor hamper gak ada yang  bersileweran. Jualan dari para pedagang kaki lima ini beragam banget loh. Paling banyak sih emang street food gitu, tapi kamu juga bisa mendapatkan berbagai macam pernak pernik yang lucu-lucu, t-shirt, syal, sampai coat. Di sini kamu juga bisa beli buah-buahan especially Strawberry yang rasanya manis dengan ukuran yang lebih gede daripada di Indonesia. 

Bungeoppang atau Kue Ikan, Salah Satu Snack Food seharga 3000 Won 

Harga street food di Myeongdong itu mulai dari 1000 -7000 Won gitu. Sementara harga asesories dan fashionnya lumayan beragam, murah meriah gitu deh. Nawar bisa, cuma rata-rata sudah matok harga. Penjualnya juga cukup bisa berbahasa Inggris, walaupun seadanya. Kalaupun kamu gak bisa berbahasa Korea dan agak susah berbahasa Inggris, kalkulator dan google translate bisa kamu andalkan. 

Pedagang Kaki Lima dengan Segala Jualannya

Myeongdong juga punya underground shopping center, jadi sebelum ke bagian subway kamu bakal ngelewatin deretan toko-toko yang jualan baju lah, koper lah, makanan lah sampai kpop goods seperti CD, bantal, keychain dan lain-lain. Just be careful don't get carry away, bisa-bisa kamu jalan terus sudah sampai Dongdaemun, hahaha. 

So, I spent my first night strolling around in Myeongdong karena tiba-tiba gak berasa aja eh sudah hampir jam 11 malam aja. Sebenarnya Metro Subway di Seoul beroperasi sampai pukul 12 malam, cuma karena pengen kereta berubah menjadi labu, saya dan partner sepakat mengakhiri petualangan hari pertama setelah beli beberapa produk kosmetik, snack yang sudah diulik ke halal annya, strawberry yang super enak dan window shopping di underground shopping center. Sebelum kembali ke Korstay, gak lupa beli nasi instan di CU Mart dekat penginapan. 

Total Spending For Day 1 


Transportasi
ICN ke Seoul Station : 4250 
Seoul Station ke Sookmyung University : 1250 
Penginapan ke Myeongdong : 1250 
Myeongdong ke Penginapan : 1250 

Food + Snack 

Binggere (Susu Pisang) : 3000 (2 botol) 
Strawberry : 7000 Won 
Snack         : 3000 
Belt            : 5000 
Kosmetik   : Gue lupa belanja apa aja, sorry ! 
Belanja di CU : 1500 Won (kalau gak salah ingat) 

Total 27.500 diluar harga kosmetik yang aku beli.

Baca juga : Traveling Ke Korea Butuh Budget Berapa ? 

So, hari kedua saya jalan ke mana lagi di Seoul? Tunggu di postingan berikutnya yah, gaes! 


Novel Review : Imaji Terindah - Sitta Karina

Entah bagaimana awalnya hingga akhirnya sebuah DM dari Sitta Karina mampir di akun Twitter saya. I mean, yes.. I follow her on Twitter, karena saya suka aja baca blognya dan twitnya yang banyak ngasih tips menulis. Tapi untuk ditawari akan dikirimi novel tulisannya untuk direview, duh.. aku sama sekali gak kepikiran. Apalagi novelnya beneran sampai ke rumahku kira-kira.. mmmh.. empat bulan yang lalu.

Iyah, tahun lalu! Kenapa baru sekarang direview? Bukan.. bukan karena aku orangnya gak konsisten dengan sebuah komitmen apalagi gak menghargai kebaikan hati orang lain. Lebih karena novelnya tiba-tiba ngilang dari rak setelah aku baca. Usut punya usut ada yang pinjem dan gak sempat bilang ke aku. Jadilah akhirnya ketika ketemu lagi, aku baru bisa foto novelnya dan ngeposting review ini.  

Imaji Terindah : Jangan Jatuh Cinta Kalau Nggak Berani Sakit Hati.


So, apa sebenarnya isi novel Imaji Terindah ini?



Kisah dalam Imaji Terindah bermula dari dua pemuda dari dua keluarga yang terikat hubungan bisnis. Yang satu bosan lalu jadi iseng, satunya lagi memendam curiga tanpa sebab jelas. Chris dan Kei. Novel Imaji Terindah ini akan lebih focus ke Chris sebagai salah satu bagian dari keluarga Hanafiah yang terkenal super tajir dan memiliki aneka bisnis.

Dalam novel in karakter Chris digambarkan sebagai seorang murid SMA kelas atas yang mampu beli barang-barang mahal tanpa berpikir dua kali. Pokonya ' I get What I See'. Jangankan mobil mewah, ngajak Kimura Takuya (Iyaah... 'that' Kimura Takuya, actor legendarisnya Jepang itu) maen ke rumahnya. Christopher Hanafiah is that guy who would walk around the school, looking straight ahead and all the girls at school look at him like he was the prince of some fairy tale. Prince Christopher, that's what he called and no one argue.

Hidupnya tampak plain boring, sampai kemudian Kei menantang dia untuk jatuh cinta.

"Jangan Jatuh Cinta Kalau Nggak Berani Sakit Hati."

Chris Hanafiah yang merasa tertantang untuk membuktikan, akhirnya menjatuhkan proyek percobaan jatuh cintanya pada Kianti Srihadi, siswa baru di sekolah pindahan dari Jepang. Aki, begitu nama panggilannya, tidak menanggapi pernyataan cinta Chris. Baginya persahabatan lebih mengena dibanding berpacaran dengan pangeran sekolahan ini. Ada sesuatu yang Aki tidak ingin Chris ketahui tentang dirinya. Dia merasa bersahabat saja sudah cukup.

Chris mau tidak mau mengikuti keinginan Aki untuk hanya sekedar menjadi sahabat. Hari demi hari kedekatan mereka berdua membuat Chris akhirnya mengetahui sesuatu yang tidak ingin Aki tampakkan kepadanya. Kedekatannya dengan Aki pun sedikit banyak mempengaruhi hubungannya dengan Alde dan Rimbi yang sudah lama menjadi sahabatnya. Namun untuk menjauh dari Aki pun ternyata tidak dapat dilakukannya setelah mengetahui rahasia gadis itu.

Complicated? Mmh.. makanya jangan jatuh cinta kalau gak berani sakit hati. Hahaha.. *Mulai ikut-ikutan, deh!* 


My Two Cents 


Novel ini adalah sebuah kisah bergenre teenlit dari series Keluarga Hanafiah yang sudah banyak dikenal oleh pembaca teenlit. Berhubung aku bukan pembaca teenlit, jadilah membaca novel Imaji Terindah ini menjadi 'perkenalan' aku dengan anggota klan Hanafiah ini.

Kisahnya sih sebenarnya tipikal anak sekolahan, dimana kita bakal ngefans dengan cowok jago basket yang posturnya tinggi, wajahnya tampan, naik mobil ke sekolah dan jalan di seantero sekolahan dengan muka lempeng seakan gak peduli dengan orang sekitarnya yang terpana menatap ketampanannya. Masa di mana anggota cheerleaders adalah cewek paling megang di sekolah. Masa di mana awalnya kamu ber 'loe-gue' sama gebetan dan kemudian ber 'saya-kamu'. Aiishh.. jadi ingat mantan! *Eh, gimana?*

Menurut aku Sitta Kirana, menuliskan cerita ini sangat mengalir dan enak untuk dibaca, hanya saja kurang greget. Mungkin karena aku sudah ngelewatin masa-masa cinta anak sekolahan gini, kali ya? Overall sih, baca novel ini banyak quote yang bagus juga menurut aku. Ada beberapa hal juga yang bisa kita pelajari dari karakter Aki.

Sitta juga membungkus ending novel ini bagus banget, jadi meskipun kamu bukan pembaca novel teenlit, misalnya kayak aku, kamu masih bisa consider this novel as a one of good piece of art yang gak rugi kamu baca. Meskipun begitu, aku sebenarnya kurang sreg dengan penamaan karakternya. Dari nama Kianti menjadi Aki itu gambarannya jadi beda. Kianti nama yang cantik, sementara Aki mengingatkan aku pada 'Aki Aki' dalam Bahasa Sunda, hehehe...

So if you like teenlit kind of novel, you should read Imaji Terindah. Sementara if you're not teen anymore, baca novel ini bisa jadi kamu akan teringat lagi gimana menyenangkannya jadi anak SMU dulu.

Happy reading, gaes! Please let me know in comment section below, pendapat kamu tentang novel ini.

Staycation di Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar

Pekan lalu aku dan bapak sepakat runaway dulu dari rumah kami yang berantakan pasca banjir bulan lalu yang sampai saat itu belum selesai juga diberesin. Iya nih, akhir Desember tahun lalu gak disangka gak diduga, kawasan rumah aku yang adem ayem bebas banjir itu tiba-tiba aja tergenang hampir selutut orang dewasa.

Hujan yang deras siang malam tercurah dan sukses membuat rumah pun kemasukan air yang cukup tinggi. Karpet-karpet harus digulung dan diangkat ke tempat yang lebih tinggi, kulkas dan mesin cuci harus dinaikin ke atas meja dan masih banyak perintilan lainnya. Ketika banjir surut, ngepel, menjemur segala barang dan dokumen yang basah  dan beberes isi rumah itu loh yang ternyata gak beres-beres sampai seminggu. Akhirnya karena lelah dan sumpek, aku atas saran bapak, memilih untuk staycation di hotel aja. 2D1N itu cukup lumayan kan, daripada lu manyun.

Staycation di Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar

Pilih punya pilih, aku memutuskan untuk menginap di Whiz Prime Hotel yang menurut aplikasi pemesan hotel adalah hotel bintang tiga. Di Makassar, Whiz Prime Hotel ada dua. Whiz Prime yang pertama terletak di jalan Sultan Hasanuddin dan yang baru aja opening di bulan July 2017 lalu adalah Whiz Prime Hotel Sudirman. Tertarik dengan lokasinya yang terletak di jalan protokol dan menjadi salah satu lokasi car free day di Makassar, aku pun akhirnya ngebooking kamar lewat salah satu aplikasi pemesanan hotel. Lumayan dapat diskon pula.



Pada Sabtu siang sekitar pukul setengah satu siang, aku dan bapak sudah sampai di Whiz Prime Hotel. Berhubung waktu check-in itu sebenarnya pukul dua siang, aku agak ragu juga, bisa gak ya early check in. Waktu booking kamar via aplikasi aku sempat ngasih note minta early check in sih, tapi kan belum tentu dipenuhi juga. Pun aku sudah telpon sebelumnya dan petugas yang saat itu menerima telpon aku bilang jika ada kamar yang sudah ready, bisa aja early check-in. Masalahnya aku dan bapak sudah kadung keluar rumah dan makan siang di luar, jadi sekalian aja daripada muter-muter lagi. Hayati lelah.. pengen leyeh-leyeh segera. Maklum, aku anaknya lemah pada kasur saat weekend. Maunya tiduuurrrr mulu. Hahahhaa..

Sebelum masuk ke lobby tentunya aku cari tempat parkir dulu buat si Merah. Dari luar tampaknya parkiran di  Whiz Prime Hotel ini sangat terbatas. Jadi jelas saja aku Alhamdulillah banget dapat space parkiran yang nyaman buat si Merah. Setelah masalah parkiran aman, baru deh aku masuk ke lobby buat check in.

Petugas resepsionis yang bertugas siang itu menjelaskan bahwa aturan yang berlaku di Whiz Prime Hotel untuk check in yah sama aja dengan hotel-hotel yang lain. Pukul dua siang. Tapi namanya juga rejeki blogger bermodal senyum dan banyak doa, ada kamar yang sudah ready dan akhirnya aku bisa check in saat itu juga. Yippie!!! Let's start the staycation!

Baca juga: Staycation di Zenrooms Bawakaraeng Makassar

Kamar yang aku tempati adalah kamar 501 yang terletak di lantai non-smoking. Kesan pertama yang aku dapatkan begitu aku membuka pintu adalah...  Pintunya keras juga ya dibukanya. Hahaha.. Selebihnya, keadaan kamar sama persis dengan foto yang ada di website. Putih minimalis dengan aksen hijau warna Whiz Prime Hotel. Dua jendela besar cukup memberi akses sinar matahari masuk. Bagus banget buat pencahayaan untuk foto atau rekam vlog. #eh



Ada meja tulis juga di sudut dekat jendela, bisa buat menempatkan laptop sambil berharap ada ide yang bisa ditulis buat ngeblog. Meja ini sekaligus buat naruh coffee maker sih, kali aja mau ngeteh atau ngopi sambil melihat pemandangan atap-atap rumah orang, kantor Pelni atau mobil yang lalu lalang di jalan Jenderal Sudirman seberang sana.  

Sampai detik itu saya cukup puas sampai saya menemukan bahwa slippernya cuma satu dan wastafel di kamar mandi yang mungil itu penutup di bagian bawahnya keras banget untuk ditarik. Saya perlu menelpon ke front desk, yes? Apa daya telpon di kamar 501 is out of service. Terpaksa saya ke lantai bawah dong untuk menginformasikannya.

Untungnya gak pake drama. Staff yang bertugas di front desk dengan sigap menginformasikan pada petugas bersangkutan untuk menyelesaikan ketidakberfungsian fasilitas di kamar 501. Wastafel sudah beres, telpon sudah bisa dipakai, slipper sudah lengkap, eh ternyata ada satu lagi yang ganggu. Sarung bantalnya.

Duh, mohon maaf lahir dan batin ya Whiz Prime, harusnya sih sebagai hotel jaringan tentunya Anda punya standarnisasi kerapihan dan kebersihan. Aku baru nyadar pas mau leyeh-leyeh ternyata pada salah satu sarung bantal terdapat tapak sol sepatu. Gak tahu deh, ini noda yang susah dihilangkan atau jangan-jangan gak dicuci apa gimana. Apalagi melihat seprei dan bed covernya tampak lecek kek gak disetrika. Gak mau suudzon, akhirnya aku laporkan ke house keeping. Diganti sih, tapi kan.. mmmh.. pointnya turun lagi.

Jalan Sore di Lapangan Hasanuddin dan


Ya sudahlah ya.. sementara bokap nonton televisi, aku memilih tidur siang aja sebagai anak yang baik dan masih dalam masa pertumbuhan (ke samping). The bed is so so so hard meskipun gak sekeras spring bed hotel di Korea. Alhamdulillah ya ACnya adem dan nyes banget, akhirnya bikin aku pulas sekitar sejam an sebelum akhirnya aku memutuskan untuk jalan cantik di lapangan Hasanuddin yang terletak di seberang Whiz Prime Hotel.

Ini dia salah satu benefit nginap di Whiz Prime, masih bisa olahraga meskipun gak ada ruangan gym apalagi kolam renang. Tinggal nyebrang aja, ada lapangan Hasanuddin dengan track lari, lapangan sepak bola, lapangan volley, lapangan basket yang sementara direnovasi dan lapangan tenis. Lapangan ini sejatinya berada di tanah milik TNI, tapi bisa dipergunakan untuk umum kok! Saya sempat 10 kali putaran jalan kaki loh! Ini prestasi buat saya yang gak kuat lari, hahaha! Jalan cantik is enough for me. Lalu kemudian saya lapar dan memutuskan untuk mampir makan bakso di jajaran penjual bakso yang tekenal dengan nama kawasan bakso Kachak a.k.a Kartika Chandra Kirana. 10 kali putaran lenyap ditelan semangkok bakso mas Boy. Bhay!!

Selain lapangan Hasanuddin, gak jauh dari Whiz Prime Hotel terdapat salah satu icon kota Makassar yaitu Monumen Mandala. Tidak perlu membayar untuk memasuki monument ini. Sayangnya, monument yang berdiri dengan gagah ini tampak tidak terurus. Seharusnya bisa jadi tempat wisata sekaligus pembelajaran sejarah buat anak sekolah dan turis. Apa daya, tampaknya pemerintah kota (atau provinsi?) kurang memberi perhatian yang memadai. Yah... sedih!

Monumen Mandala Makassar


Drama Pindah Kamar


Setelah ngebakso dan aku mulai gerah, balik lah ke aku ke hotel buat mandi. Disinilah drama terjadi, sodara-sodara. Ketika aku mandi di area shower, airnya sih lancar ya, baik itu air panas maupun air dingin. Enaklah mandinya. Sayang, airnya menggenang hingga ke area toilet yang dipisahkan pintu kaca. Menggenangnya gak kira-kira, nutupin jari-jari kaki. Aigooo.. mau gak mau aku nelpon lagi dong ke front office. Mana air yang menggenang itu menyisakan kenangan air yang agak lama surutnya. Bokap aku sudah agak sepuh ya dan beliau pernah kena stroke jadi kakinya gak sekuat yang dulu lagi, Selain lantainya jadi basah dan gak nyaman untuk dipijak, aku gak mau bokap aku tergelincir dan kenapa-napa. Memang hotelnya mau nanggung apa? The best way is, aku minta pindah kamar which is itu dipenuhi oleh pihak managementnya.

Pindahan lah aku ke kamar 524 dengan bantuan staffnya yang ngangkatin barang-barang aku. Kamar 524 ini masih selantai dengan kamar 501, sama-sama di lantai kawasan non-smoking. Bedanya kamar ini ada di ujung yang lain. Namun begitu aku buka pintu kamar, bau asap rokok jelas sekali tercium. Bikin sesak buat aku yang memang sensitive banget dengan debu dan asap rokok. Staff yang ngebantu kita pindahan sudah berusaha untuk menyemprotkan pengharum ruangan, which is itu gak berhasil sama sekali. Aku gak bisa membiarkan diriku batuk-batuk melulu sepanjang malam. Lagian siapa juga sih yang merokok dalam kamar berAC di lantai non-smoking? 

Lagi-lagi aku minta pindah kamar dan menobatkan aku menjadi tamu yang paling banyak komplainnya. Ya abis gimana, dong! Jadilah aku dapat kamar di lantai 3 area non smoking room, kamar 310.  Kamar tampak bersih dan rapih, tidak berbau asap rokok, air tidak mengenang di kamar mandi, it seems perfect.



Abaikan keberantakan baru aja pindahan kamar dan belanja cemilan ini, gaes!

Sampai kemudian aku pengen ngeblog dan meletakkan laptop di meja tulis. Kok ada semut sih? Periksa punya periksa, semut itu berasal dari sisa rebusan Indomie yang tampak sudah mengering di dasar kettle. Oh My God!

Hotel ini kok drama banget sih menurut gue? Untuk ukuran hotel bintang tiga dan masih baru, masa kebersihan peralatan gak diperhatikan sih? Mau gak mau aku angkat telpon lagi dan menghubungi house keeping. Segera diganti sih, tapi kan.. Ya sudahlah ya, sebenarnya masih ada lagi yang pengen aku pertanyakan dari kamar 310 ini yaitu masalah salah satu colokan listrik dekat telpon yang tidak berfungsi. Tapi karena sudah keseringan komplen, aku pasrahin aja lah. Toh di kamar tersedia 6 colokan kok, 1 gak berfungsi aku rasa gak perlu terlalu dipermasalahkan. *Sigh*

Sayang banget sih menurut aku, karena sebenarnya hotel ini masih cukup baru beroperasi. Artinya secara fasilitasnya harusnya hotel ini gak memiliki kekurangan. Kamarnya sih lumayan spacious ya untuk ukuran Superior. Desainnya juga simple, modern minimalis gitu.  Lokasinya juga cukup strategis memudahkan ke mana-mana. Untuk traveling atau business trip ini cukup penting. Mau makan, tempat makan banyak kok di sekitar hotel, mulai dari kelas bakso sampai café juga ada. Sebelah sanaan dikit bisa ngelayap ke mall, mau ke pantai Losari juga gak jauh.

Hotel ini juga memiliki restaurant. Aku gak makan malam di situ sih, cuma sarapan aja. Dari segi menu, sarapannya cukup beragam. Mulai dari makanan berat seperti nasi, sayur, ayam rica-rica, mie goreng, bubur ayam, coto Makassar sampai roti  dan buah. Minumannya cukup bervariasi dari kopi, teh dan jus Jambu serta air putih tentu saja. Rasanya sih biasa aja, gak fantastis sampai terkenang-kenang gitu (ealaaah...).

Sarapan Pilihan Aku


Hal yang membuat aku senang nginap di Whiz Prime Hotel Sudirman adalah karena aku bisa memanfaatkan waktu aku buat jalan sehat, entah di lapangan Hasanuddin atau di car free day sepanjang jalan Jenderal Sudirman. Sesuatu yang seringkali hanya sebatas janjian ama teman di WA dan gak terwujud karena aku sudah males duluan mikirin jarak antara rumah ke Sudirman. Sebenarnya gak lebih dari 7 km sih, tapi aku males aja, hahaha! Jadi dengan nginap di Whiz Prime Hotel Sudirman, ibaratnya aku tinggal keluar hotel aja sudah bisa olahraga. Staycation yang sangat berfaedah, kan?

Selain itu harga kamar superiornya gak mahal-mahal banget sih. Aku dapat harga 294rb untuk kamar superior Queen Bed dengan sarapan untuk dua orang. Lumayan terjangkau kan, ya? Tingkat keamanannya juga cukup baik. Akses lift ke setiap lantai hanya bisa menggunakan kartu kamar, jadi kalau ada tamu harus selalu lewat recepcionist dulu. Staffnya juga ramah dan sigap membantu. Ini adalah salah satu value yang bisa diandalkan dari Whiz Prime Hotel ini.

Sudut Andalan Untuk Ngeblog atau Foto

Meskipun begitu, ketelitian dalam kebersihan dan kerapihannya harus ditingkatkan. Kalau kata bokap aku sih, bisa jadi supervisor atau managernya kurang intens ngecheck cara kerja staff dan kedisplinan housekeeping. I mean, jangan sampai ada kejadian sarung bantal yang kotor, kamar non smoking yang berbau rokok atau kettle yang belum dicuci. Masalah kamar mandi, suara dari luar yang bisa kedengaran dengan jelas,pintu kamar mandi yang harus ditarik dan push sekuat tenaga untuk membukanya,  misalnya, itu mungkin akibat pembangunan hotel ini yang terkesan buru-buru banget. Padahal Whiz Prime Hotel Sudirman ini desainnya keren, seperti jaringan Whiz Prime Hotel pada umumnya . Internetnya aja lumayan lancar meskipun channel televisi terbatas. At least ada tvN dan aku bisa streaming video, aku sudah bahagia kok. Hotelnya juga masih baru ini...
Mudah-mudahan cukup aku aja yah yang mendapatkan 'drama pindah kamar'  kayak gini. Saran aku, kapan-kapan kamu traveling ke Makassar, business trip, lokasi buat ngevlog, pengen cari tempat untuk nulis or just getaway from your daily life for staycation dan kamu  butuh hotel dengan harga terjangkau di lokasi yang strategis, Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar ini bisa kamu jadikan opsi. Paling sederhananya, sebaiknya menurut aku mending milih kamar di lantai 2 atau 3 untuk non smoking karena menurut aku pembuangan air di showenya nya lebih lancar. Carilah kamar yang berada di area 01 sampai 10 yang relative lebih gak berisik. Tapi mudah-mudahan dengan serentetan complain, pihak management hotel bisa lebih meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan.

Happy staycation ya, gaes!

5 Hal Penting Untuk Liburan Menyenangkan

Dari pengalaman-pengalaman traveling aku selama ini, ada beberapa hal yang aku jadikan pedoman ((ciee pedoman)) agar liburan menyenangkan, gak ribet dan tentu saja gak berbuntut bikin aku lelah lahir batin. Nah, apa aja? Ini dia beberapa yang aku list: 

5 Hal Penting  Untuk Liburan  Menyenangkan



1. Berburu Tiket Pesawat yang Sesuai Budget

Lokasi liburan berada nun jauh dari lokasi tempat tinggal memang lebih enak ditempuh dengan naik pesawat. Selain bisa menghemat waktu tempuh, lebih nyaman buat tubuh juga. Tentu saja ada harga ada kenyamanan. Harga tiket pesawat akhirnya membuat kita berusaha nyari harga yang murah. Begitu denger atau baca kata ‘Tiket Promo’ mata langsung berbinar-binar. Gak mau berangkat ke destinasi itu aja bikin kita (atau aku aja kali ya?) tiba-tiba jadi kepikiran ke sana, cek-cek tanggal yang pas dengan kegiatan kantor trus mulai nyari-nyari penginapan. 

Padahal sebenarnya meskipun bukan musim promo, kita tetap bisa traveling. Toh murah atau enggak kan relative dan termasuk rejeki-rejekian juga. Daripada gak berangkat-berangkat juga, mending cari tiket pesawat dengan harga yang sesuai dengan budget kamu aja deh. Jika dapat yang harganya sampai puluhan ribu rupiah saja, Alhamdulillah. Misalpun dapat harga standar pun, gak usah banding-bandingin sama traveler sebelah lah. Be a traveler anti baper, yes?

2. Penginapan yang Nyaman dan Aman

Entah kamu liburan sendiri, berdua atau bareng dengan keluarga, penginapan yang nyaman dan aman is a must. Jauh dari rumah loh ini. Gak perlu mewah sih, menurut aku. Sepanjang itu nyaman, aman dan harganya terjaungkau buat aku sih, yes. Syukur-syukur ada kolam renang, spa dan gym nya (hahahaha.. lalu disambit yang punya hotel. Maunya murah, banyak keinginannya! ). 

3. Itinerary

Ini penting nih! Di lokasi yang kita tuju pasti ada banyak tempat menarik yang pengen dikunjungi. Gak semua tempat perlu kita kunjungi, tergantung sukanya apa dan waktu yang tersedia. Mengunjungi satu tempat ke tempat yang lain dengan terburu-buru pun kurang menyenangkan juga loh. Kadang malah bikin cape doang. Jadi misalnya aku nih suka daerah pantai dan kulineran mending aku fokus ke pantainya aja sambil nyicipin makanan lokal. Gitu aja sih, senyamannya kamu. 

4.  Jangan Ngerepotin Orang Lain 

Liburan berdua atau rame-rame memang menyenangkan, tapi gak semua hal jadi bisa mengandalkan orang lain. You have to take care of yourself. Misalnya seexcitednya menjelajah, jaga kesehatan. Bawa obat-obatan ringan semacam minyak angin, plester obat, vitamin, gak ada salahnya. Malah menurut aku penting untuk dibawa. Just in case terjadi sesuatu, misalnya masuk angin karena kecapean atau kegores karang pas jalan-jalan di pantai. Sakit saat traveling kan gak enak juga buat kamu dan teman seperjalanan kamu yang harus merawat kamu. Jangan sampai ngerepotin, ah! 

5. Jangan Ngerepotin Diri Sendiri 

Biasanya traveling itu identik dengan oleh-oleh. Perlu gak sih bawa sedemikian banyak oleh-oleh yang menuh-menuhin bagasi itu? Kalau aku sih, oleh-oleh itu bisa dikondisikan. Misalnya ada cemilan yang bisa dimakan bersama atau barang khas tertentu yang ngingetin kita ama orang itu,. small things buat orang yang gak milih-milih oleh-oleh juga sih. 

Intinya, kalau budget memungkinkan yah kenapa enggak beliin orang tertentu oleh-oleh. Tapi kalau sudah misalnya bawanya susah, harganya mahal (dan bukan bistip yaa!) dan kemungkinan besar nyari barangnya harus niat banget, biasanya aku memilih untuk gak bawa oleh-oleh daripada aku repot sendiri. Liburan itu harusnya menyenangkan dan gak ribet, bener gak?


Liburan yang Menyenangkan di Namsan Tower, Seoul

So, that's it 5 hal  yang menurut aku penting untuk liburan yang menyenangkan. Kamu punya ide yang berbeda? Boleh share dibawah ya... 

Makin Mudah Wisata ke Belitung

Menjelang akhir tahun seperti ini, rasa-rasanya pengen liburan. Gak perlu panjang-panjang sih, 1 – 3 hari lumayan lah ya. Paling tidak sekedar menghilangkan kejenuhan dari rutinitas atau ‘pemandangan’ lu-lagi-lu-lagi. 

Satu tujuan wisata di Indonesia yang pengen banget aku kunjungi itu Belitung. Iyah, Pulau Belitung yang booming gara-gara film Laskar Pelangi itu,loh. Sempat liat foto-foto teman yang sudah pernah mampir ke situ, aku kan jadi pengen juga.

Makin Mudah Wisata ke Belitung 


Banyak tempat-tempat yang tampaknya menyenangkan untuk dikunjungi, misalnya keindahan di gugusan pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Lengkuas, Pulau Basir, Pulau Pelayar, dan Pulau Burong. Menjelajah dari satu pulau ke pulau lain dengan menggunakan kapal nelayan semacam seru, ya gak sih? Bisa snorklingan atau sekedar terapung cantik (pake pelampung tentu aja) sambil menikmati hembusan angin pantai dan deru ombak. Sedeepp bener yaa..  


Selain wisata jelajah pulau, di Pulau Belitung kita bisa bertemu dengan spesies hewan asli pulau seperti monyet Tarsius dan rusa Belitung. Katanya nih, hewan-hewan asli itu bisa ditemukan di konversi Alam Batu Menas. Agak masuk ke hutan-hutan gitu sih gaes. Tentunya ini pas banget buat mantan anak pramuka yang suka bertualang.

Aku sih paling semangat mengunjungi satu kekhasan tersendiri dari pulau Belitung. Ada satu daerah bernama Mangar yang dijuluki kota 1001 kopi. karena banyaknya kedai kopi di salah satu bagian di kota ini. Sebagai pencinta kopi tentunya aku wajib kudu pasti banget nih menyesap secangkir dua cangkir kopi lokal di sana.

Nah, yang namanya liburan jauh kayak gini pastinya harus nyari tiket murah, hotel dan kalau perlu sih sudah ada yang nganterin ke mana-mana. Semacam paket wisata yang murah meriah menyenangkan gitu deh.

Sebagian orang bisa mungkin punya banyak waktu untuk browsing-browsing cari info atau bandingin harga tiket pesawat atau hotel yang satu dengan yang lain. Mulai dari cari tiket+hotel+itinerary. Sejujurnya aku paling males dengan hal-hal yang seperti ini. Kalau gak dapat tiket pesawat lewat travel fair, mending nyari tiket pesawat+hotel lewat aplikasi aja. 

Selama ini aku kan suka pesan tiket pesawat ya tiket pesawat aja, hotel entah booking di mana lagi, itinerary aku susun sendiri. Tahunya sekarang selain booking tiket di Traveloka sudah bisa booking hotel dan paket wisata pula. Gak perlu pusing mikirin itinerary dengan paket wisata Traveloka ini. Tinggal  cuzz aja. Caranya mudah kok.

1. Cari Tiket Pesawat dan Hotel

Masukkan detail penerbangan (berangkat dari mana, tanggal berapa, balik tanggal berapa, tiket untuk berapa orang) dan detail hotel (daerah mana, tanggal nginap dan untuk berapa orang). Klik Cari paket 


2.  Pilih Penerbangan dan Hotel 



Pilihan sesuai kemampuan, waktu dan senyamannya kamu aja. Tiket pesawat+Hotel sudah sepaket, dapat harga diskon pula. Malah setelah aku banding-bandingin, sebenarnya pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, loh. Hematnya bisa sampai 20% tanpa kode promo apapun. Lumayan kan, lebih Murah daripada pesan terpisah! Sisa uangnya mungkin bisa digunakan untuk wisata kulineran. Selain itu produk paket tiket+hotel ini mudah digunakan. Jadi sekarang tidak perlu lagi memesan tiket & hotel secara terpisah. Mudah dan saving time banget kan ya… 


4. Konfirmasi Penerbangan dan Penginapan 


5. Pilih Metode Pembayaran  


Tersedia bermacam pilihan metode pembayaran mulai dari kartu kredit sampai bayar di Indomaret/Alfamart. Aku kebetulan merasa lebih praktis bayar via Indomaret aja. 



Setelah bayar di kasir, biasanya pembayaran otomatis terupdate di sistem Traveloka. Kalaupun misalnya ada gangguan, Klik ‘Saya Sudah Bayar’ dan upload bukti pembayaran dari kasir sebagai konfirmasi pembayaran. Setelah terkonfirmasi, akan ada e-tiket penerbangan dan voucher hotel yang masuk di alamat email kita. 



Mmmh, kalau kayak gini kan meski gak ada libur kejepit nasional bahkan jika cuti sudah habis, masih bisa short trip nih gegara Traveloka. Kamu sudah pernah nyoba belum?  Kayaknya wisata seru ke pulau Belitung bakal lebih seru nih. Yuk, let’s go traveling and have fun!! 

Kerja Sambil Kuliah, Bisa Gak Ya?

Ada masanya di mana seorang pegawai atau karyawan merasa perlu untuk meningkatkan keilmuannya dalam bidang tertentu. Saat itulah di mana kita kepikiran untuk kuliah lagi. Lalu kita kepikiran, kerja sambil kuliah bisa gak, ya? 

Sebenarnya segala sesuatu bisa diusahakan jika memang sudah niat. Tentunya ada beberapa hal yang perlu disiapkan agar kerja dan kuliah bisa sejalan dan gak ada yang keteteran. Berangkat dari pengalaman pribadi selama dua tahun belakangan ini kerja sambil kuliah di jenjang S2, ini dia 6 hal yang perlu kamu siapkan agar kerja dan kuliah kamu bisa sejalan:



Kerja Sambil Kuliah, Bisa Gak Ya? 


1. Surat Tugas Belajar atau Surat Izin Belajar

Pastikan kamu mendapat salah satu dari dua surat sakti ini supaya kamu bisa tenang menjalani masa perkuliahan. Tanpa surat ini bisa dibilang percuma aja kamu kuliah, apalagi kalau ngambil kuliah regular dimana jam kuliahnya di hari dan jam kerja Senin sampai Jumat. Masih mending kalau kuliahnya dalam kota. Gimana kalau kamu diterima di universitas di kota berbeda atau malah di luar negeri? It's going to be very tough tanpa salah satu dokumen ini. 

Surat tugas belajar atau izin belajar adalah dokumen administrasi yang menunjukkan bahwa tempat kamu bekerja merestui dan memang mendukung kamu untuk menguprade pendidikan. Bisa jadi sebagai pertimbangan mutasi atau promosi. Bedanya adalah, surat tugas belajar membebaskan kamu sepenuhnya dari tugas-tugas sebagai karyawan selama masa belajar. Sementara surat izin belajar hanya membolehkan kamu kuliah namun tetap mengutamakan tugas-tugas kamu di kantor. 

Biasanya surat tugas belajar diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang mendapatkan beasiswa dari negara atau karyawan swasta yang memang ditugaskan langsung oleh perusahaannya untuk kuliah. Sedangkan surat izin belajar itu tidak bersifat penugasan tapi atas keinginan dan biaya dari pegawai/karyawan itu sendiri. 

Nah, pilih tugas belajar atau izin belajar nih? 

Menurut aku sih lebih enak tugas belajar. Disamping gratis karena mendapat beasiswa, kita juga bisa off dari tugas-tugas kantor. Jadi lebih konsen dengan tugas-tugas kuliah. Kamu juga bisa milih universitas di luar kota atau sekalian di luar negeri. Tapi untuk mendapatkan tugas belajar memang harus lewat program beasiswa atau dapat penunjukan langsung dari kantor. Keduanya pasti harus melewati seleksi yang cukup ketat. Begitu selesai kuliah juga harus ingat 'balas budi', gak boleh minta pindah selama dua tahun. Sementara untuk surat izin belajar, tidak ada kewajiban kerja kembali di tempat yang sama.  



Apapun, entah itu surat tugas belajar atau surat izin belajar, pastikan kamu pegang dokumen itu untuk kelancaran perkuliahan dan setelah kamu kembali bekerja. Percaya deh gaes, kuliah tanpa salah satu surat itu bikin kamu sport jantung, kuliah keteteran, ngantor juga gak nyaman. So, make sure you have one of them sebelum kamu masuk kuliah. 

2. Siapkan Fisik dan Mental 

Dunia kerja dan dunia kuliahan itu adalah dua dunia yang sangat berbeda. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitannya masing-masing. Kamu bisa aja terbiasa lembur di kantor dan berharap kuliah bakal jadi 'liburan panjang', bisa leyeh-leyeh, senang-senang sambil sesekali dengerin dosen. Bisa jadi sih, aku juga dulu mikirnya gitu. 

Tapi.. ternyata tugas kuliah S2 itu lebih banyak dan lebih berat serta deadlinenya tuh singkat banget. Aku pernah loh dapat tugas jam 5 sore, jawabannya mesti ditulis tangan dan harus dikumpul sebelum adzan subuh. Ada juga tuh tugas yang harus diemail sebelum jam sekian ke dosen yang bersangkutan. Kadang aku mikir ini tugas kuliah atau proyek Roro Jongrang, hahaha. Tapi berhubung aku sudah sering ditempa mengejar deadline lomba blog (hahaha), alhamdulillah ya jadi terbiasa #eh




Nah, hal lain yang menguras tenaga adalah kalau kamu cuma dapat surat izin belajar which is itu berarti kemungkinan untuk bolak balik kantor-kampus itu sangat besar, you better prepare! Bayangin aja, kadang-kadang ada jadwal kuliah pagi yang bener-bener pagi, lebih pagi dari jam kantor kamu. Itu berarti kamu harus ke kantor dulu buat absen, lalu ngacir ke kampus bekejaran dengan pengendara lain di jalan yang sama terburu-burunya dengan kamu. Setelah kuliah, kamu balik lagi ke kantor. Jadi yah, kuatkan fisik aja lah ya! 



3. Kenali Kemampuan dan Keterbatasan Diri 

Berkaitan dengan poin sebelumnya, penting banget untuk mengenali kemampuan diri kamu. Misalnya aku tahu diri banget kalau pikiranku lebih jernih ketika waktu subuh sebelum atau sesudah sholat. Soalnya disitu waktu yang sangat tenang menurut aku. Jadi aku bisa lebih konsentrasi dalam membuat makalah atau slide presentasi bahkan jika tugasnya harus dikumpul beberapa jam lagi.

Untuk yang terbiasa bekerja dibawah tekanan  hal ini bisa jadi efektif. Tapi kalau kamu gak terbiasa, jangan dipaksa juga. Oleh karena itu kamu harus tahu kemampuan kamu seperti apa. 



Begitu pun dengan keterbatasan diri kita. Disaat tugas kantor sedang banyak-banyaknya, sementara tugas kuliah juga numpuk gak ada salahnya untuk menentukan prioritas yang mana dulu nih yang harus diselesaikan sesuai dengan deadlinenya. Gak ada salahnya mengkomunikasikan keterbatasan dalam membagi waktu ini pada rekan kerja atau teman kuliah. Mana tahu mereka bisa membantu, kan?

A little help bisa sangat berarti apalagi untuk kamu yang terpaksa menjadi amoeba (baca:membelah diri) antara kerja dan kuliah seperti ini. 

4. Tetapkan Target 

Kalau kamu dapat tugas belajar, tentu aja kamu lebih prioritaskan kuliah,dong. Beban kerjaan di kantor itu apa? Hahaha *lalu disundut sama yang hanya dikasih surat ijin belajar*.    Namun, entah kamu full gak ngantor atau masih tetap harus ngantor sembari kuliah, pasang target untuk menyelesaikan tugas kuliah, menentukan topik tesis, menyusun tesis hingga ujian tutup itu penting banget gaes!



Untuk yang tugas belajar, biasanya beasiswa hanya diberikan dua tahun. Setelahnya kalau waktunya molor, silahkan bayar sendiri (which is itu sangat sangat nyesekin hati banget). Hal yang sama juga berlaku untuk surat ijin belajar. Biaya kan emang nanggung sendiri kan dari awal, tapi emang mau berlama-lama terbebani urusan pekerjaan dan kuliah yang gak beres-beres?

Diluar bahwa manusia berencana Tuhan menentukan, gak ada salahnya untuk menetapkan target agar tetap pada arah dan tujuan. Tsaaah!! 

5. Don't Forget To Have Fun 

Masa kuliah itu sebenarnya adalah masa yang sangat menyenangkan. You'll meet a lot of new people dengan karakter yang seru-seru dalam suasana yang lebih santai dibanding di kantor. Gak melulu diskusi, buat makalah, siapin slide atau presentasi tapi juga kamu bisa mendapatkan waktu 'liburan' even it's just nongkrong di kantin sambil nungguin dosen yang belum datang-datang juga atau ngetrip  ke luar kota dalam rangka nyari data (ah.. alesyan!).

Jalan Jalan Rasa Kuliah di Ewha University, Seoul 

Gak usah serius-serius banget meski kamu menetapkan target tertentu. Sometimes, pembelajaran terbaik itu bukan dari teori-teori di buku, melainkan dari socialising kamu dengan teman-teman dan dosen di kampus. Make your life balance and don't forget to have fun, alright? 

6. Keep On Fighting Till The End 

Cita-cita mulia semacam menuntut ilmu seperti kuliah ini memang ada aja tantangannya. Entah itu dari dalam diri kamu sendiri misalnya tiba-tiba semangatnya drop, ada masalah di kantor, di rumah atau kehidupan pribadi), dari orang lain atau dari jalan hidup yang sudah digariskan yang Maha Kuasa.

Ada masanya di mana kamu bisa jadi merasa, mengapa kerja sambil kuliah ini terasa berat? Apa sebaiknya berhenti aja? Lalu kamu  kehilangan arah, tak tahu jalan pulang dan merasa menjadi butiran debu. Tenang aja gaes, bahkan debu pun bisa jadi permata, hina jadi mulia, kok (Halah, ini jadi kayak lagu!). 

The point is, segala sesuatu yang menjadi pilihan kita memang mempunyai konsekwensi tersendiri. Kita sebagai orang (yang dituntut) dewasa harus menerima dan menghadapinya.  Rehat sejenak menurut aku sih gak masalah, tapi kalau menyerah.. wah, kok sayang banget ya rasanya secara sudah banyak waktu, tenaga (dan mungkin biaya) yang dikorbankan.

Kalau kamu merasa lelah dan kepikiran berhenti, pikir lagi emang siapa sih yang nyuruh kamu kuliah? Apa yang pertama kali membuat kamu pengen kuliah lagi? Tujuannya apa,sih ? Mudah-mudahan dari situ muncul lagi motivasi untuk semangat dan berjuang lagi. Keep on fighting till the end!

After Class With Pasca Sarjana Komunikasi Unhas Angkatan 2015 


Nah, itu dia beberapa hal yang based on my experience itu bisa membantu kita untuk kerja sambil kuliah. Sebenarnya gak terlalu penting bisa atau enggak, karena sebenarnya semua orang tuh bisa. Pertanyaannya kamu mau apa enggak? Kalau kamu sudah mau, apapun juga bisa kok. Semoga 6 hal di atas bisa membantu kamu untuk menjalankan kerja sambil kuliah. Semangat!! 

Reuni, Buat Apa Sih?

Akhirnya setelah sekian lama di gadang-gadang lewat whatsapp grup, melewati berbagai left dan join dari membernya, mute conversation saking ramenya percapakapan, pindah pindah calon venue dan endebre endebre, akhirnya hari itu datang juga. Reuni 20 tahun Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin angkatan 1997 (iyaaahh.. saya sudah tua!) jadi juga digelar di tanggal 23 September 2017 lalu.

I came to the venue not expect anything. Gak berharap bertemu siapa (aahh untungnya gak pernah pacaran sama teman seangkatan) atau gak kepikiran mau menghindari siapa (ya kali ada yang punya 'urusan lama belum kelar' kan ye...). Tidak berharap apapun bukankah akan lebih menyenangkan karena tidak akan ada rasa kecewa, yes? (#teamBaper yeeesssss!!!).

Reuni, Buat Apa Sih? 


Hujan deras menyambut ketika akhirnya saya tiba di aula Gedung Pertemuan Ilmiah Universitas Hasanuddin. Teman-teman sudah duduk membentuk lingkaran, bapak ibu dosen senior sudah memberi sepatah dua patah kata. Saya pun segera bergabung sembari menebar senyuman to the familiar faces dan dadah-dadah kepada para hadirin. ((hadirin)).




"Salah satu kebanggaan dosen adalah melihat anak didiknya sukses dan tidak melupakan dosen-dosennya."  ( Ir. Tahir Ali, Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin) 

Saya pernah baca satu postingan tentang seorang alumni yang berpapasan dengan dosennya . Pengen negur tapi kok malu, ntar gak dikenalin. Gak ditegur kok ya rindu pengen salim. Akhirnya dia hanya melewati dosennya begitu saja tanpa tahu dosennya sebenarnya ingat wajah walaupun gak ingat nama. Maklum, beribu mahasiswa sudah ditemui, gak mungkin juga hapal semua nama kan?

Makanya begitu memasuki sesi foto bersama, gak lupa saya nyamperin dosen pembimbing TA (Tugas Akhir) ku, ibu Ir.Hj.Nien Khamsawarni Nauman,yang diundang khusus di acara reuni ini. Gak berharap beliau ngenalin atau tahu namaku, yang penting salim dulu aja.

"Ibu apa kabar? Sehat, bu?"tanyaku sembari mengulurkan tangan untuk salim.

"Alhamdulillah, ibu sehat,"jawabnya ramah dengan senyum merekah menyambut tangan saya.

"Bu, boleh selfie bareng gak bu?"tanya saya hati-hati.

"Ayo ayo..!"jawab beliau. Teman-teman yang lain jadi ikut merapat dan akhirnya jadi wefie deh. hahaha...




"Mana hasilnya, coba liat. Bagus gak?"tanyanya. Saya memperlihatkan hasil groufie kami. Beliau tampak puas dan topik pembicaraan beralih ke hal lain.

Tak ada pertanyaan kerja di mana, sudah menikah atau belum, punya anak berapa atau pertanyaan-pertanyaan standar reuni gak penting yang terkadang bikin yang ditanya gak enak hati. Pengajar yang bijak tidak mengukur kesuksesan anak didiknya dari hal-hal seperti itu, bukan?



Walking The Memory Lane


Acara reuni 20 tahun angkatan 97 Teknik Elektro Universitas Hasanuddin di siang itu selesai setelah makan siang bersama dengan para dosen. Kami pun bergerak menuju pelataran Universitas Hasanuddin di mana beberapa tahun lalu menjadi lokasi foto angkatan. Mengulang yang sudah-sudah. Mengabadikan kembali yang pernah ada.

Seharusnya setelah itu kami bubar sejenak memberi kesempatan teman-teman dari luar kota untuk beristirahat sebelum menghadiri rangkaian acara berikutnya di malam hari. Tapi saya gak peduli. Kugandeng tangan Lenny, one of my partner in crime yang menjerumuskan saya ke lembah penyiaran radio ke arah studio EBS FM.

Radio EBS  adalah  radio kampus yang awalnya didirikan oleh kakak-kakak senior di jurusan Elektro jadi gak salah namanya EBS, singkatan dari Electro Broadcasting System. Pemancar sampai mixer dirakit sendiri oleh mereka sekalian mempraktekkan yang sudah dipelajari dari mata kuliah dan praktikum di lab. Gimana gak keren, coba? Dulu yang siaran hanya bisa dari mahasiswa Elektro saja. Saya dan Lenny termasuk salah satunya. Jadi gak ada salahnya nostalgia dulu kali yaaa....



Saat ini radio EBS gak lagi dimiliki sepenuhnya oleh jurusan teknik Elektro. Entah sejak tahun berapa radio EBS diakuisis pihak kampus dan berubah menjadi Education Broadcasting System. Penyiarnya tidak hanya dari Elektro atau anak Teknik saja namun juga terbuka untuk seluruh mahasiswa Universitas Hasanuddin. Gak apa-apalah, yang penting sejarahnya gak dilupakan oleh kru penerusnya.

Hari beranjak sore, saya pun segera melipir. Reuni menjadi semacam pintu terbuka melalui lorong masa lalu dengan rasa masa kini. Time change, memories still remain. Tinggal pintar-pintarnya kita aja menelusuri lorong waktu itu. Terkenang boleh, tersesat di dalamnya jangan sampai. Pun, tidak untuk membandingkan yang dulu dan yang baru. Datanglah kemudian bertemu dan membuat memori baru. Reuni buat saya, yah  seperti itu. Kalau kamu? 

Review Skincare : Nature Republic Super Aqua Max White C Waterful Emulsion

Sekali-kali boleh lah ya ngereview product skincare secara sebenarnya aku merhatiin banget perawatan kulitku meskipun jarang ngepost. Kali ini aku mau share salah satu produk skincare yang aku pakai sejak pulang dari Seoul. Efek ngebolang di Myeongdong, cyn.. hehehe.

I wrote the review in English, just because I think I'm in the mood of it. 

Review Skincare : Nature Republic Super Aqua Max White C Waterful Emulsion 



If you walk around Myeongdong, there are so many cosmetic shop including Nature Republic. This brand has a lot of store in Seoul including in Myeongdong,the centre of cosmeric shopping are. 

As far as I notice there are two big store of Nature Republic in Myeongdong. One of them is the literally at the corner of the block near the Myeongdong exit station ( I forgot which exit, sorry). You will easily notice the store by its green leaves wall decoration and the sound of EXO hits songs.  The other one is in the middle. I'd prefer the last one because the shopkeepers are really helpful and one of them is good in English. I came to that store twice and she still remembers me. Maybe because I'm too much asking (and spent a lot. lol). 

Anyway, one of Nature Republic products that I bought was Super Aqua Max White C Waterful Emulsion. I don't have any particular reason when I took that out of the shelf, it's just because I need emulsion product since the weather in Seoul makes my skin dry and the skincare that I brought from Indonesia didn't help much. There are two varieties of Nature Republic Super Aqua emulsion  for exact, still I chose Super Aqua Max White C Waterful Emulsion because it's contain with vitamin C. The price was reasonable too and there was discount at the time I shopped (approximately 120rb rupiah). Tempting right? lol



The first thing to notice is Nature Republic Super Aqua Max White C Waterful Emulsion comes in 150 ml in a glass bottle. It's a little bit complicated for travelling, though, especially for the clumsy traveller like me. I accidentally dropped the bottle when I was packing back to Makassar and the outer bottle cap (which made by plastic) broken in two. But it doesn't effect much since the bottle has another cap inside. The hole inside the bottle is somewhat small to prevent the emulsion out too much.



I have combination skin, my T area is a little bit oily. Thankfully my skin is not sensitive or allergic with any type of skincare but I always prefer water based one. So, a good emulsion should be water based, lightweight, and easily absorbed in my opinion. It has to hydrating, without making my skin oilier, something nice and calming, and with a nice smell. Nature Republic Super Aqua Max White C Waterful Emulsion has it all. After wash my face, I apply an appropriate amount about 3 drops, and then gently pat to enhance its absorption into the skin.



Nature Republic Super Aqua Max White C Waterful Emulsion is light and has a good absorption. It applied really well on my skin, so hydrating that feels almost like a light cream. It feels good so I continue to use it when I'm back to Makassar. I'm a little bit worried at first because the weather in Makassar is different than in Seoul. It turns out that I don't have to worried, it's just fit well at least on my 'uncomplicated' skin.

I already use it for about 5 months and all that I can say is this product  is pretty hydrating. Another benefit is because it's contain with  rich vitamins and Camu-camu extract to brighten the skin tone. It also provide vitamin C to brighter and cleaner skin.

So far it's been my 'must use' skincare and I don't have any problem with it. I think if your skin type is dry to normal or even combination, you probably would like this product. Aside of those skin type you still can found another variant of the Aqua collection from Nature Republic. It has a lot of variety for specific skin types.