Masakan Korea Buatan Ahjumma

Ajumma / Ajoomma ( Korea: 아줌마 ) berasal dari kata Korea Ajoomeoni ( Korea: 아주머니 ) , dan adalah kata Korea penghormatan untuk  wanita menikah atau berusia menikah . Meskipun kadang-kadang diterjemahkan " bibi , " tapi tidak benar-benar mengacu pada hubungan keluarga. 

Gara-gara suka nonton drama Korea, saya jadi tahu bahwa ada panggilan Ahjumma untuk wanita menikah atau yang sudah memasuki usia menikah. Ahjumma juga sering dipergunakan sebagai panggilan kepada ibu-ibu yang bekerja di rumah makan atau yang mengurusi makanan kita di rumah. Dan gara-gara Ahjumma pula saya bisa menikmati masakan Korea di rumah saya di Makassar.

Jadi ceritanya, saya memang dari dulu tertarik dengan budaya Korea termasuk masakannya. Jauh-jauh ke Singapore, mentoknya malah di stall masakan Korea gara-gara yang masak ahjumma asli Korea yang menclaimed 'No Pork, No Lard'. Jalan ke Jakarta juga selalu menyempatkan diri nyicip masakan Korea. Ke Bandung malah mangkal di fastfood Korea juga. Memang sih, mungkin rasanya sedikit berbeda dengan di Korea. Sama seperti betapa anehnya rasa Coto Makassar di Jakarta, atau Pisang Ijo khas Makassar di Bandung. Tapi berhubung pengen, yahh pengen aja.. 

Korean Food

Cuma yah gitu deh!
Mencari masakan Korea di Makassar itu tidak gampang. Restaurant cuma 1, Fastfood ayam franchise juga 1. Ahhh.... 저는 자장면을 먹고 싶어 jeoneun jajangmyeoneul meoggo sipeo,saya pengen makan Jajangmyeon. Itu loh.. mie hitam yang biasanya di delivery order di drama-drama atau variety show Korea.

Teman saya waktu itu sempat bilang di Instagram ada tuh yang di jualan masakan Korea di Makassar. Nama akun Instagramnya :  @ahjumma.upg. Dari bionya sih katanya no pork, no lard dan halal. Wih, asik tuh kayaknya. 

Cuma saya sempat khawatir juga, biasanya homemade small industry seperti ini harus di order paling tidak sehari sebelumnya. Ngobrol punya ngobrol via LINE chat, ternyata masakan Ahjumma itu siap pesan dan baru dimasak begitu diorder. Jadi masakan pesanan tiba dalam keadaan freshly cooked pada pemesan. Wah, jadi tambah lapar aja... Apalagi lihat menu yang disediakan lengkap dengan foto-fotonya di Instagram. Selain Jajangmyeon, ada Spicy/Honey  Chicken, Bulgogi, Bibimbap, Tteokbokki. Semua tampak menggiurkan *lap iler*.  Duh, pilih yang mana ya?

Jajangmyeon Dan Spicy Chicken Buatan Ahjumma 


Jjeng..jeng... And here's the moment of truth. Momen pembuktian apakah makanan yang saya pesan ini memang seenak penampakannya di IG. Mmh..let's see mau nyoba yang mana dulu nih? Jajangmyeon atau Spicy Chicken ? Gak perlu mikir lama, mari sikat Jajangmyeonnya.



So, gimana rasa dari Jajangmyeon buatan Ahjumma ini?

Dimulai dari tekstur mienya yang kenyal, tidak basah dan tidak  menggumpal, itu berarti mienya baru dimasak dan masih segar. Saus jajangnya sendiri pekat, terasa manis dan gurih tapi tidak bikin enek. Biasanya Jajangmyeon yang asli diberi potongan daging Babi, tapi karena ini adalah Jajangmyeon halal maka diganti dengan sayuran yang dipotong kotak dan  bawang bombay. Mmmh..yummy!

Korean Food


Sambil mengunyah Jajangmyeon, tangan saya meraih potongan Spicy Chicken dari kotak yang berbeda. It's actually potongan sayap ayam yang di goreng dengan bumbu dan dilumuri saus pedas ala Korea.

Saya pernah mencoba Spicy Chicken ala Korea sebelumnya, tapi ternyata saya lebih suka buatan Ahjumma. Ketika digigit, bagian luarnya crispy tapi daging di dalamnya empuk banget. Rasa saunya perpaduan pedas dan manis. Biasanya kalau di Korea, Spicy Chicken ini  disantap dengan minuman 맥주 (baca : Maegju) atau beer. Tapi kan gak mungkin yaahh. Jadi mari kita menikmatinya dengan air putih saja, lebih sehat! :D

Masakan Korea

Jangan hiraukan tampilannya yang berantakan yah.. Namanya juga kalap!

Sekalap-kalapnya ternyata saya masih menyisakan seperempat porsi Jajangmyeon. Selain porsinya yang lumayan besar, kepala bagian belakang tiba-tiba jadi sakit. Duh, ini berarti entah Jajangmyeon atau Spicy Chickennya yang pake MSG kebanyakan. Maklum, saya sensitif banget dengan pemakaian MSG dalam makanan. Kalau bukan rasa pahit di ujung lidah, bagian belakang kepala (bukan leher loh yah..) pasti sakit. Makanya saya selalu menghindari masakan ber-MSG.

Jadi ketika sang owner nanya-nanya gimana rasa masakannya, dengan jujur apa adanya saya bilang enak, saya suka Spicy Chickennya walaupun Kimchinya kurang asem dan saya gak menghabiskan Jajangmyeonnya karena kepala saya tiba-tiba sakit.


Setelah itu Ahjumma pake minta maaf segala dan siap mengganti Jajangmyeon pesanan saya dengan Tteokbokki tanpa MSG. Ehh???

Tteokbokki, Complimentary Snack Dari Ahjumma  

Sepanjang saya order delivery  atau santap di tempat, biasanya hanya restaurant/eatery atau coffee shop besar yang selalu bersedia mengganti makanan/minuman yang tidak sesuai selera pemesan. Untuk tempat makan kecil atau homemade delivery, pemesan harus siap terima pesanan apa adanya. Suka ya syukur, gak suka ya sudahlah gak usah pesan lagi daripada bete karena komplen tidak ditanggapi.

Makanya saya gak mau komplen, yah cukup jadi catatan aja. Eh gak tahunya, keesokan harinya beneran ada paket Tteokbboki dari Ahjumma menunggu di meja makan. Ahh.. rejeki mahasiswa yang pulang kampus kelaperan emang ada aja. Alhamdulillah ya!

Masakan Korea

Tteokbokki adalah penganan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis. Pada jaman dinasti Joseon, snack ini disebut sebagai Gungjung Tteokbokki. Pada waktu itu, masakan ini berupa Huintteok (kue beras) yang dimasak dengan kecap asin bersama daging sapi, bagogari, kecambah kacang hijau, peterseli, shiitake, wortel, dan bawang bombay. Rasanya jauh berbeda dari Tteokbokki berbumbu cabai yang dikenal sekarang. 

Sebelumnya saya sudah sempat mencoba Tteokbokki di salah satu food stall Korea di Jakarta, jadi penasaran aja perbedaan rasa dengan buatan Ahjumma. Pada dasarnya Huintteok yang digunakan teksturnya sama saja, kenyal. Selain Huintteok juga ditambahkan Odeng dan irisan daun bawang dan bawang bombay. Bedanya terletak di sausnya. Pada dasarnya Tteokbokki memang tidaklah sepedas warna sausnya yang merah menyala. Rasa manis dan gurih memang lebih menonjol. Sebenarnya enak, cuma entah kenapa saya merasa ada 'rasa' yang hilang dari tteokbokki buatan Ahjumma ini.

Berhubung Tteokbokki ini adalah makanan pelengkap, akhirnya saya merebus mie (tanpa bumbu) dan memasukkannya dalam saus Tteokbokki. Biar lebih pedes sesuai selera saya, tidak lupa saya tambahkan Boncabe. Mmmh... Sedapnyee'...

Ramyun Tteokbokki

Gambar ini diambil setelah makan setengah porsi dan sadar belum di foto. :D 

Kesimpulannya... 

Overall dari tiga menu buatan Ahjumma.upg yaitu Jajangmyeon, Spicy Chicken dan Tteokbokki semuanya enak. Menurut saya sesuai dengan lidah lokal pada umumnya. Menurut ownernya, berhubung disesuaikan dengan selera lidah lokal jadi rasa asin Gochujang (bumbu dasar dihampir semua masakan Korea yang berkuah) ditutupi dengan gula hingga rasanya jadi lebih gurih. 

Ini juga berlaku pada Kimchi yang menurut saya kurang asem dan (lagi-lagi) kurang pedes. Kimchi harusnya difermentasi sekitar paling tidak sebulan dan didinginkan dalam kulkas atau gentong. Lagi-lagi mengikuti selera lidah lokal, Kimchi buatan Ahjumma adalag fresh Kimchi yang berusia hanya beberapa hari. Bisa dimaklumi, karena saya sering mendengar komentar teman-teman yang bilang Kimchi itu asem dan gak enak. 
Well, selera orang beda-beda sih. Untungnya order di Ahjumma bisa di customized sesuai keinginan rasa pemesan. Ownernya enak diajak ngobrol kok, kasi tahu aja apa yang bahan apa yang mau dikurangi atau diganti. Seperti saya maunya gak pake MSG dan Gochujang yang banyak dari standar lidah lokal, Ahjummanya siap-siap aja membuatkan. 

Tentang Harga

Masalah harga, untuk satu porsi dibandrol sekitar 50 ribu sampai 55 ribu. Kemahalan? Bahan bumbu untuk pembuatan masakan semua di import dari Korea, dipilih kehalal-annya dan dibayar pake dollar, jadi cukup beralasan juga sih. Lagian porsinya cukup besar kok, bisa buat berdua. Lumayan kan, bisa patungan. Mudah-mudahan kalau dollarnya turun, harganya bisa ikutan turun juga, yes? 

Saya sih lain kali mau order lagi. Good taste  with good service, yang seperti ini bisa bikin pelanggan kembali. Setuju? 

Mengenal Sejarah Hari Hangeul Di Korea

안녕하새요, 여러분 
Annyeonghaseo, yorobun.. Hai semuanya.. !! Lama yah gak bahas bahasa Korea. Nah, mumpung tanggal 9 Oktober 2015 adalah Hangeul Day, yuk kita bahas lagi tentang huruf Hangeul ini.

Di postingan Mengenal Huruf Hangeul, saya sudah sempat ngebahas dikit tentang sejarah huruf Hangeul. Tapi mungkin belum banyak yang tahu, kenapa sih harus tanggal 9 Oktober yang ditetapkan sebagai hari Hangeul di Korea Selatan?

Korean Alphabet


Sejarah Hari Hangeul 


Jauh sebelum huruf Hangeul diciptakan oleh King Sejong, selama lebih dari satu milenium Korea mempergunakan karakter Cina dalam penulisan. Huruf tersebut kemudian diadaptasi dan disebut dengan karakter Hanja  yang dilengkapi dengan sistem fonetik seperti Hyangchal , Gugyeol , dan Idu.

Namun, bagi kebanyakan orang karakter Hanja sulir untuk dipelajari, terutama bagi kalangan dengan status sosial rendah. Mereka tidak mudah mendapatkan akses pendidikan atau bahkan tidak sama sekali. Makanya buta huruf merajalela di seluruh Korea.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Raja Sejong mulai mengembangkan sistem menulis baru yang lebih mudah untuk dipelajari yang disebut dengan Hangeul. Awalnya para Yangban (kaum bangsawan) menentang keras dibuatnya Hangeul ini. Alasannya karena takut akan timbul gejolak sosial yang datang dari kalangan bawah. Intinya mereka ini takut kalau kalangan bawah ini menjadi "rakyat jelata yang berpendidikan." Akibatnya, Raja Sejong harus sangat berhati-hati dengan proyek huruf Hangeul ini, jadi sangat sedikit dokumentasi selama tahap awal proyek tersebut. Duuh susah juga ya jadi raja yang bijak.

The Great King Sejong 


Raja Sejong


Karena sedikitnya dokumentasi yang ada, para sejarawan awalnya menyimpulkan bahwa "Ulang Tahun" Hangeul jatuh sekitar tanggal 29 Oktober. Namun, ketika ditemukan fakta bahwa pada tanggal 9 Oktober 1443 Hangeul pertama kali dibuat dengan penjelasan yang lebih mudah (Hunminjeongeum Haerye), para sejarawan akhirnya menetapkan  tanggal 9 Oktober sebagai hari Hangeul di Korea.

Perbedaan Hari Hangeul di Korea Selatan dan Korea Utara


Meski begitu ketika terjadi perpecahan wilayah di Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan, peringatan huruf Hangeul ini pun menjadi berbeda. Korea Selatan menamainya hari Hangeul dan diperingati setiap tanggal 9 Oktober. Sedangkan di  Korea Utara, mereka menyebutnya sebagai disebut hari Chosŏn'gŭl Day dan dirayakan pada tanggal 15 Januari, Tanggal ini dipilih karena merujuk pada  tanggal, 15 Januari 1444 ( 1443 di kalender lunar ) yang diyakini sebagai hari Hunmin Jeongeum sebenarnya.

huruf hangul


Dibandingkan dengan karakter Cina atau Hanja yang dipergunakan sebelumnya, Hunminjeongeum atau Hangeul lebih mudah untuk dipelajari dan juga nyaman digunakan. Selain itu Hangeul juga unik dan ilmiah karena setiap vokal terbuat dari garis yang mewakili langit, bumi dan manusia sementara konsonan mencerminkan bentuk mulut manusia pada saat pengucapan.

Hunminjeongeum Haeryebon (Buku Panduan) atau Hangeul mendapat pengakuan dari UNESCO dalam Memory of the World Register pada Oktober 1997 dan memberikan kontribusi besar untuk mengurangi buta huruf di Korea.

Untuk mengenal huruf Hangeul lebih jauh, ceki-ceki postingan Mengenal Huruf Hangeul di postingan sebelumnya yah!

Happy Hangeul Day! 

Hari Kopi Sedunia dan Kopi Indonesia

Hari kamis, tanggal 1 Oktober, seperti biasa saya sudah bersedia untuk menyeduh kopi sebelum berangkat ke kantor. Baru saja hendak memanaskan air, saya berubah pikiran. Hari ini tanggal 1, hari gajian, harus ngopi yang enak buatan barista berpengalaman, nih! Senikmat-nikmatnya kopi buatan sendiri, kadang-kadang saya juga pengen dibuatin kopi, hihihi. 

Jadilah saat jam makan siang saya beranjak ke sebuah kedai kopi tanpa asap rokok di sebuah mall dekat kantor. Saya baru menyesap ice coffee pesanan ketika notifikasi twitter menggetarkan smartphoneku. Wah, ternyata hastag #HappyInternationalCoffeeDay lagi trending. OMG..  kok bisa lupa gini. Mulai tahun ini Tanggal 1 Oktober  resmi didaulat menjadi Hari Kopi Sedunia. Tepok jidat! *jidat barista* Harusnya kan bisa ngopi gratis nih! #eh


Kenapa Harus Ada Hari Kopi Sedunia ? 


Jadi gini ceritanya.. *sudah mulai curhat nih*

Sebenarnya Hari Kopi bukanlah hal baru. Hari Kopi adalah perayaan tahunan yang diperingati di berbagai negara pada tanggal yang berbeda-beda. Sebagai contoh di Malaysia, Amerika, Kanada, Inggris, Ehiopia dan Swedia memperingatinya di tanggal 29 September. Sementara di Costa Rica dirayakan di tanggal 12 September, Taiwan di tanggal 7 November, Nepal di tanggal 17 November dan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. 

Nah di bulan Maret 2014 International Coffee Organization sebuah organisasi yang menaungi 75 negara penghasil kopi menetapkan tanggal 1 Oktober 2015 sebagai Hari Kopi Internasional. Perayaan Hari Kopi Internasional ini  dipusatkan di Milan, Italia sebagai kota penyelenggara World Expo Milano 2015. Perayaan ini tidak saja untuk para penikmat kopi tapi juga sebagai bentuk tanda respect pada petani-petani kopi dan penggerak industri kopi di seluruh dunia yang sudah menghadirkan kopi ke hadapan kita. Lebih lengkapnya silahkan tonton video di bawah ini untuk tahu lebih banyak tentang kopi dalam kehidupan sehari-hari. 



Indonesia sebagai negara penghasil kopi ke 4 terbesar di dunia (turun 1 peringkat tersusul Kolombia) tentu saja tidak mau ketinggalan. Selain ikut berpameran dalam World Expo Milano 2015 di Milan, Kemenperin, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan yang bekerja sama dengan beberapa asosiasi kopi mengadakan diskusi dan icip-icip kopi Indonesia gratis di Jakarta. Harapannya dengan event ini bisa menjadi momentum untuk mengembangkan kesadaran masyarakat untuk mencintai kopi Indonesia. 

Sejarah Kopi Indonesia

Tanaman kopi yang dipercaya berasal dari benua Afrika masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Belanda pada tahun 1896. Saat ini Belanda membawa jenis kopi Arabika dari  Yaman. Dengan bibit kopi Arabica tersebut Belanda membuka perkebunan kopi komersil di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Perkebunan Kopi juga dibuka di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor hingga ke Flores. 

Sayangnya perkebunan kopi Arabika di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi terserang penyakit karat daun (HV) yang menyebabkan kematian pohon kopi secara besar-besaran. Akhirnya dimulailah pembudidayaan jenis tanaman kopi Liberika dan Ekselsa yang lebih tahan penyakit HV. Namun ternyata daerah lain seperti Flores dan Timor perkebunan kopi Arabika mereka sehat-sehat saja, tidak terserang hama.

Pada perkembangannya kopi Liberika tidak begitu populer dan digantikan oleh kopi jenis Robusta. Kini Robusta menjadi andalan Indonesia sebagai produk kopi ekspor selain Arabica. Letak geografis Indonesia memungkinkan kedua jenis ini tersebar di penjuru Indonesia. Robusta tumbuh di daerah rendah dan Arabica tumbuh di dataran tinggi.

Kopi Indonesia, Dari Aceh Hingga Papua 

Kopi Indonesia adalah salah satu minuman yang banyak disukai orang di luar negeri. Orang-orang Eropa, Amerika, Australia bahkan Asia dan Afrika sangat menghargai kopi Indonesia. Nah, kopi Indonesia apa saja sih yang disukai oleh penikmat kopi mancanegara?


Happy International Coffee Day! 


Begitu banyak ragam hasil kopi dari seluruh Indonesia namun kebanyakan produk premium diekspor ke luar negeri. Alasannya karena pasar luar lebih menjanjikan dibanding tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sayangnya walaupun nama kopi Indonesia melejit, namun petani kopi Indonesia tidak mendapat apa-apa.

Perbedaan harga beli di petani dan harga jual di kafe-kafe terlalu jauh. Ironisnya kopi-kopi Indonesia tersebut dibeli oleh negara lain lalu kemudian diolah kembali atau repackage dan dikirim lagi ke Indonesia dengan label berbeda dan dilempar ke kafe-kafe francise di dalam negeri. Sementara pasar dalam negeri hanya kebagian kopi Robusta berkualitas di bawah kualitas ekspor. Tidak banyak yang peduli, malah lebih banyak yang memilih menikmati kopi dari negara lain. Padahal pengen deh merasakan kopi premium hasil bumi Indonesia seperti bule-bule itu menikmati kopi Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau.

You Can't Buy Happiness But You Can Buy Coffee, And That's Pretty Close 

Mudah-mudahan dengan adanya Hari Kopi International atau International Coffee Day ini bisa menumbuhkan kecintaan kita pada kopi produksi dalam negeri. Semoga juga pemerintah berbaik hati memperhatikan nasib para petani kopi supaya mereka bisa lebih makmur dan buntut-buntutnya masih tetap berusaha untuk membudidayakan kopi Indonesia. Pemilik kafe lokal pun maunya sih lebih banyak menyediakan kopi Indonesia berkualitas bagus yang dibeli langsung dari petani lokal, jangan yang impor dong Bro. Mahal! Petani kita juga gak dapat apa-apa.

Entah penikmat kopi atau bukan, tidak ada salahnya mendukung kopi Indonesia dengan meminum atau merekomendasikannya. Masa mau kalah sih dengan Kolumbia yang berhasil menggeser peringkat Indonesia ke posisi 4? After all siapa yang bisa menyelamatkan kopi lokal kalau bukan orang Indonesia sendiri. Happy International Coffee Day, smell and drink your coffee!

September Ceria yang Biru Bersama Dian Pramana Poetra dan Vina Panduwinata di Makassar Jazz Festival 2015

Stall kopi dan surabi yang berjejer berdampingan di pelataran venue Makassar Jazz Festival seakan memanggil-manggilku. Malam masih muda, display smartphoneku baru menunjukkan jam delapan malam. Seorang teman berinisiatif memesankan kopi sementara saya dan seorang teman lagi memilih Surabi mana yang ingin kami nikmati. Kopi hitam tanpa gula bersama Surabi Nangka special akhirnya menemani kami menunggu perform dari dua legend musik Indonesia.


Dian Pramana Poetra, Tetap Bersinar 

Call me old fashion atau ketahuan angkatannya, tapi sejujurnya kita tidak bisa menilai umur seseorang dari musisi atau lagu-lagu yang diketahuinya. Contohnya Dikta Wicaksono, vokalisnya Yovie & Nuno. Did you know that he likes Jimmy Hendrix padahal dia kelahiran 1986? Iyah, cuma gara-gara sering dengerin bokapnya muterin Jimmy Hendrix doang loh. 

Sama dengan saya *halah,biar temenan ama Dikta*. Sebenarnya kakak saya adalah orang yang memperkenalkan saya pada lagu-lagu Dian Pramana Poetra. Untuk yang gedenya bergelimang lagu-lagu Sheila On 7, Cokelat, Padi, Yovie & Nuno mungkin masih bisa related lah yah. Tapi kalau yang melek musik Indonesia karena Raisa, Tulus, atau Isyana Sarasvati  mungkin berpikir 'Who's this guy?' Dan ini beneran ada yang berkomentar seperti itu. Duuhh...

Sebenarnya bukan salah si bocah itu juga, karena memang Oom Dian Pramana Poetra ini sudah lama gak ngeluarin album. Tapi karya ciptaannya kan sudah diremake berulang kali oleh penyanyi-penyanyi yang si bocah ini pasti tahu. Oh my God, saya merasa terbawa kenangan saat persoalan hidup bisa dengan mudah diselesaikan dengan melihat kakak menikmati lagu dari kaset side A ke side B.



Pada penampilannya itu Dian Pramana Poetra membawakan sekitar 10 lagu. I didn't counting karena gue bener-bener menikmati lagu demi lagu walaupun pada penampilan awal gue gak mengenali intro lagunya. Maklum, sudah lama gak dengerin lagu-lagunya Dian PP. Melayang, Surat, Keraguan, Semurni Kasih (ini saya tahu judulnya gara-gara browsing di youtube), Masih ada dan tentu saja Kau Seputih Melati. Dan bener aja, ketika mulai membawakan lagu-lagu andalannya seperti Kau Seputih Melati, si bocah baru ngeh 'Ohhh.. ini kan... ini kan..' Untungnya dia gak bilang 'Ini kan lagunya Sammy Simorangkir.' Hehehe 

Di sela-sela penampilannya dia selalu berinteraksi dengan penonton, sekedar bercerita atau bercanda. Lumayan kan buat tarik napas. Berhubung penonton juga larut dengan nostalgianya masing-masing, semua lagu dinyanyiin bareng. Mas Dian sih santai-santai aja nyodorin mikenya ke arah penonton. 

Kelihatannya Dian Pramana Poetra ini cukup kelelahan. Mungkin karena hawa panas Makassar sampai sebentar-sebentar dia ngelap keringat sampai buka blazer segala. Mas Dian sempat duduk di tepi panggung bahkan duduk di kursi sambil memainkan gitarnya. Bisa jadi trik, bisa jadi emang cape beneran.



Etapi yaahh.. walaupun begitu, suaranya tetap sama beningnya dengan yang di dengerin di kaset (atau sekarang CD deh!). Menurut teman saya, "Dia nyanyi effort less gitu, gak usah teriak-teriak tarik urat. Tapi keren!" Dan yang jelas tampangnya masih sama, tetap dengan model rambut yang sama dan berkacamata. Lagi-lagi kata teman saya, 'Nih Oom-oom kok ganteng yah... " #toyor

"Puas?' tanya Dian Pramana Poetra. Jelas saja penonton menjawab belum dan minta encore. Ada yang minta lagu Bohong dan Oh Ya, dua lagu jaman dia bergabung di K3S (which is saya lupa dong, kalau dia pernah tergabung di situ). Tapi pada akhirnya dia memilih menyanyikan lagu Biru yang membuat (lagi-lagi) penonton Makassar Jazz Festival nyanyi bareng. Apalagi saya.. nyanyi sepenuh hati, hihihihi...  

Sempat kepikiran kenapa gak dinyanyiin bareng Vina Panduwinata yang mempopulerkan lagu ini ya? Mama Vina kan ada di Makassar Jazz Festival juga. Duh jadi harap-harap cemas, lagu Biru akankah dinyanyikan juga oleh mama Vina yang akan tampil berikutnya? 

Lampu stage 1 padam. Dian Pramana Poetra pun silam. Sekarang cari posisi lebih nyaman untuk menyaksikan Vina Panduwinata. Mmh duduk di mana ya enaknya? 

Vina Panduwinata, Antara Mama Vina, Si Burung Camar dan Sampah yang Berserakan

Ketika Dian PP silam dan lampu stage 1 pun dipadamkan, sebenarnya ada penampilan DJ di lapangan tengah. Di stage 2 pun menghadirkan penampil Jazz lokal berikutnya, namun saya memilih untuk tetap berada di lokasi stage 1. Mumpung penonton lain pada bubar, ini bisa menjadi kesempatan buat saya mendapatkan lokasi duduk yang lebih enak dan dekat panggung. Saya tahu para abege yang nungguin Tulus sudah mulai merapat walaupun yang mereka tungguin perform setelah Vina Panduwinata. Gak boleh kalah sama abege. Mari kita merapat lebih dekat ke panggung!

Sebuah spot strategis namun kosong kudeteksi berada di tengah depan panggung. Sedikit curiga kenapa spot potensial ini malah tidak diduduki orang, ternyata ini jawabannya : 

Sampahnya kak... 
Bekas bungkus Kebab, koran alas duduk dan paper cup ini ditinggal begitu saja oleh entah siapa. Walhasil sisa-sisa makanan yang ada dalam sampah tersebut mengundang semut-semut yang berukuran gede, Seriously, this is so annoying. Padahal pihak panitia sudah berulangkali mengingatkan penonton untuk tidak buang sampang sembarang dan menjaga kebersihan Fort Rotterdam. Masih aja ada yang melanggar. Shame on you!

Untungnya setelah menyelesaikan masalah sampah, musisi yang sebentar lagi manggung mulai menyetel alat musiknya. Tanda-tanda sebentar lagi pertunjukan stage 1 akan dimulai kembali. Malam bergeser ke pukul 11 malam ketika akhirnya sang MC memanggil Vina Panduwinata ke atas panggung. Penonton bersorak, yang ditunggu akhirnya datang juga!



Vina Panduwinata muncul dari sisi panggung setelah sebelumnya Troy Kurniawan Quintet (ini dapat contekan dari website Makassar Jazz Festival) memainkan sebuah lagu pembuka yang judulnya entah apa. Hiihihi.. Memakai dress warna biru berpayet dengan punggung sedikit terbuka, Mama Vina langsung menyapa penonton dan intro lagu Di Dadaku Ada Kamu versi Jazz yang lembut mendayu pun mengalun. Tidak ayal penonton yang sudah akrab dengan lagu ini ikut bernyanyi. 

"Mau dicepatin gak lagunya? Terlalu slow ya? Jam segini nanti kalian pada ngantuk. Kita cepetin aja yah..." 
Vina bertanya pada penonton. Lagu Di Dadaku Ada Kamu pun diangkat beatnya oleh Troy Kurniawan Quintet yang mengiringi mama Vina. Penonton semakin bersemangat mengikuti lagu demi lagu hits yang dibawakan Vina. Beberapa kali dia menunjukkan kekhawatirannya jangan sampai penonton yang ada di Makassar Jazz Festival tidak tahu lagu yang dibawakannya. Duhh tante.. merendah amat sih. 

Mungkin mama Vina merendah, mungkin juga karena yang dilihatnya di bagian depan adalah abege-abege yang nungguin Tulus. Yang jelas ada seorang cewek di belakang saya sempat nyelutuk,"Whoaa bagus ya suaranya." 

MENURUT NGANA?



Hahahaha... Emang ada-ada aja yang kurang luas wawasan musiknya ini. Jauh sebelum kalian kenal Raisa, penyanyi yang ada di depan kamu itu sudah membawa nama harum ke festival-festival lagu mancanegara. Pliss deh, hari gini ada Youtube, radio juga masih ada, Google ditanyain apa aja bisa, coba lah jangan kudet amat. 

Sebagai penyanyi yang sudah banyak makan asam garam manggung dimana-mana, mama Vina sudah tahulah menghandle penonton. Disetiap jeda lagu mama Vina selalu ngobrol dengan kami.

Saat jeda sebelum lagu Burung Camar, Vina Panduwinata sempat bertanya, "Ada yang masih ingat gak saya dulu ini panggilannya apa?" Penonton menjawab,"Burung Camar." Vina melanjutkan lagi,"Sekarang saya lebih sering dipanggil mama Vina. Makanya kalau lagi jalan-jalan ke mana gitu trus ada yang manggil saya 'Burung Camar', tanpa menoleh pun saya tahu itu adalah fans lama. Kalau 'mama Vina' berarti mereka masih anak muda. Tapi herannya sekarang nenek-nenekpun manggil saya mama Vina,"kisahnya yang lalu disambut gelak tawa penonton. 

Setahu saya memang Vina Panduwinata mulai terkenal dengan lagu Burung Camar. Mamaku suka sekali lagu itu. Lagu itu sering sekali dimainkan di rumah sewaktu saya kecil. Ketika mulai beranjak gede, giliran tante dan kakak saya yang 'meracuni' dengan lagu-lagu Vina Panduwinata lainnya. Jadi begitu mama Vina nyanyi Surat Cinta, September Ceria, Cinta dan Burung Camar langsung saja saya sikat, ikutan nyanyi dengan penonton lainnya.

Good times don't last forever, they said. Begitu juga dengan perform Vina Panduwinata. Malam yang makin larut dan durasi yang diberikan hanya satu jam saja membuat mama Vina harus minta pamit. Penonton gak bolehin dia pergi begitu saja dong."Lagi... Lagi... Lagi..." terdengar dari segala penjuru. Akhirnya sebagai lagu penutup mama Vina membawakan lagu andalannya : Biru.

Sudahlahh.. setelah dengar lagu ini dan mama Vina silam ke belakang panggung sudah gak niat lagi nonton Tulus yang perform setelahnya. Biarlah itu menjadi jatah para abege-abege. Paling tidak saya yakin diantara mereka satu atau dua orang lebih terluaskan wawasan musiknya malam itu dengan menyimak penampilan Dian Pramana Poetra dan Vina Panduwinata. Sementara saya dan tiga orang teman sudah terbawa kenangan dan harus kembali pada kenyataan : BESOK SENIN WOY! KERJA LAGI....!!

Tiada pernah aku.. bahagia. Sebahagia kini ohhh kasih...  - BIRU 

Lagu itu terus terngiang di kepala, hingga saat ini. I had a great time with my friends back there, walaupun untuk urusan foto memoto tidak tahu mengapa jepretan kamera saya hasilnya kebanyakan out focus. Untung ada Jenny, fotografer andalan yang bersedia dititipin foto. Makasih ya Jen..

Tentunya terima kasih Makassar Jazz Festival untuk performances yang menyenangkan. Bener-bener September Ceria yang Biru buat saya dan teman-teman. Mudah-mudahan masih ada kesempatan menikmati panggung bertabur bintang menuai kenangan seperti ini. Sampai ketemu tahun depan! 

Lebih Dekat Dengan Yovie & Nuno dan Pakarena Etno Mission di Makassar Jazz Festival

20 September 2015, di hari Minggu itu perasaan galau campur aduk gara-gara tugas paper mata kuliah yang belum kelar-kelar itu akhirnya sirna sudah. Sebuah pesan di BBM mengabarkan dosen yang bersangkutan mindahin jadwal kuliah ke hari Rabu membuat hati saya plong gak terkira. Oh yess!! Presentasi ditunda, saya  masih punya waktu buat memperbaiki paper dan............. bisa bersenang-senang nonton Makassar Jazz Festival 2015. Yay!!!!


Makassar Jazz Festival adalah sebuah event yang pertama kali diadakan sejak tahun 2010 lalu. Masih baru sih, tapi lumayan banget akhirnya ada event seperti ini di Makassar. Lokasinya di Fort Rotterdam, pula. Asal tahu aja Fort Rotterdam ini benteng peninggalan kerajaan Gowa - Tallo, salah satu ikon pariwisata kota Makassar. Bisa dibayangkan, nonton pertunjukan musik Jazz beralas rumput, bertahta langit berbintang dan dikelilingi bangunan tua ala kolonial Belanda gitu. Jadi pengen bawa pacaarrrrrrr.................... 

Tapi rugi, kalo bawa pacar gak bisa ngecengin Dikta, vokalisnya Yovie and Nuno. Hahahaha!!

Ribet Ribet Serunya Nonton Makassar Jazz Festival 

Makassar Jazz Festival 2015 digelar selama dua hari, 19 - 20 September 2015. Di hari pertama line upnya : Fariz RM, Mus Mujiona, Imaniar, sementara hari kedua ada : Yovie & Nuno, Dian Pramana Poetra, Vina Panduwinata dan Tulus. Keren-keren kan? 

Sebenarnya saya sudah coba diracunin oleh seorang teman untuk nonton dua hari berturut-turut. Apa daya the power of mahasiswa-baru-pascasarjana-renking-satu-harus-ngerjain-paper-kalau-gak-ntar-kepikiran ini lebih kuat. Jadi saya memilih nonton hari ke dua aja. Lebih ngena di umur. *uhuk*

Maka jadilah saya dan tiga orang teman meluncur ke Fort Rotterdam selepas magrib karena Yovie & Nuno dijadwalkan tampil pukul 18.45. 'Paling ngaret..,' pikir kami. E...tapi ternyata, sengaret-ngaretnya dugaan, ternyata kami tetap aja ketinggalan dua lagu pertama. Terimakasih atas kemacetan yang gak saya sangka bakal terjadi. Pfft..sekarang emang gak bisa pergi mepet-mepet waktu di Makassar. 

Belum lagi dapat parkiran yang susyeh. Sempat tiga kali di'usir' dengan hormat oleh ibu-ibu jualan yang gak mau kita parkir di depan warungnya dan tukang parkir yang gak rela kita parkir paling deket dengan pintu masuk, akhirnya saya yang belum beli tiket ini masuk duluan nyamperin seorang teman yang sudah duluan nyampe. Beli tiketttt, iyeeesss kali ini saya gak dapat gratisan dari radio. Ishh, sedih :( 



Begitu turun mobil sudah disambut daeng-daeng calo yang nawarin tiket seharga 200rb. Ini sih biasa. Saya langsung melenggang ke counter resmi aja. Kebetulan ada potongan harga karena kerjasama dengan salah satu bank. Sayup-sayup saya mendengar suara musik berkumandang dari dalam venue. Ahh.. Yovie and Nunonya sudah naik panggung. Buru-burulah saya masukin PIN. Saking buru-burunya sampai salah 3x. Terblokir dengan sukses dong! 

Pindah lagi ke counter beli tunai. Gak pake diskon, harga tetap 250rb. Keluar dari counter, daeng calonya nyamperin,"Saya bilang ji toh disitu 250rb. Sama saya 200rb ji." Iya deh Daeng.. gak apa-apa dong beli tiket resmi. Ok, sip? Lalu saya pun buru-buru melipir masuk ke dalam, lari-lari menghampiri lokasi stage 1 dimana Yovie and Nuno sudah memulai pertunjukannya.  

Yovie And Nuno, Asik Tapi Nanggung 

Lagu favorit saya, Indah Kuingat Dirimu baru saja usai. Dari panggung intro lagu Dia Milikku membahana. Saya menarik teman  bergegas mendekati deretan penonton yang sudah duduk rapih di rumput. Penonton waktu itu tidaklah terlalu padat. Saya sempat bertanya pada seorang perempuan di sebelahku,"Sudah berapa lagu?" yang kemudian dijawab,"Tiga ama yang ini." Ahhh..

Rasa kecewa harus ditelan bulat-bulat. Gak apalah. Sekarang gimana caranya supaya saya yang duduk di belakang ini harus dapat tempat lebih dekat dengan panggung. Sesuai prinsip, 'apapun tiketnya, harus selalu yang terdepan'. Ahay!

Dengan modal 'permisi' akhirnya saya bisa berada sedikit lebih dekat panggung. Seandainya teman gak nolak ditarik ke depan, ada kali saya di depan panggung salaman ama Dikta. Iya nih, sejak gak pernah wawancara artis Indonesia lagi, saya agak norak kalo nonton konser. Padahal waktu siaran, males banget foto bareng artis. Hahaha! *kualat*

Pic by Vita Masli except Song List by YovieandNuno IG video

Jadilah saya menerima kenyataan duduk bersila, nyanyi sepenuh hati, tepuk tangan dan ngacungin layar smartphone yang sudah gue instal aplikasi LED bertuliskan 'DIKTA' . Huahahahaha sumpeh saya merasa norak banget!! Tapi masalahnya,  itu Dikta bikin heran deh...  Perasaan waktu kapan gitu terakhir ketemu dia masih culun banget. Ini sekarang sudah body makin jadi, kulit tambah putih, kacamata makin keren, rambut cepak.. Ya Allah, diriMu kan tahu tipe favorit hambaMu ini? Kenapa tiba-tiba jadi dekat di mata, jauh di atas panggung sih? *cabut-cabut rumput* 

Eh tapi siapa itu yang nyanyi sok asik, lelumpatan samping Dikta? Kok bukan Dudi? Saya bisik-bisik dengan teman sebelah yang sama cluelessnya. Untung ada om Google yang bisa ditanyain segala macam *kecuali nanya jodoh kita siapa*. Oh ternyata vokalis baru, namanya Arya Windura sebagai pengganti Dudi Oris. Cakep sih, lucu aja. Tapi kalo dari segi vokal saya masih lebih suka suara Dudi yang pas aja dengan melodi khas Yovie and Nuno. 

Mungkin juga karena baru jadi vokalis setahun belakangan, si Windura ini lebih banyak di ekspos di panggung. Dia juga lebih banyak mendekatkan diri ke penonton sampai ngajak salah satu cewek ke atas panggung saat lagu 'Janji Suci'. Sementara penonton yang lain nyorakin tanda sirik ke cewe itu, gue mah ngedukung aja. Boleeehh... bawa Winduranya pulang sekalian boleh... Tapi Diktanya tetap ya, jangan kemana-mana. *Mulai posesip dan delusional*

Windura


Sekitar 9  lagu dibawakan oleh Yovie and Nuno malam itu. Selain Janji Suci, hits seperti Sakit Hati, Merindu Lagi, Menjaga Hati, sampai Janji Diatas Ingkarnya Audy pun dibabat habis sama mereka. Wajar.. lagu ciptaan mas Yovie, gak apa-apa dong? Sama gak apa-apanya band konsep pop rock manis ini muncul di event Jazz Festival. *lalu disenyumin mas Yovie...*

Kedua vokalis Yovie and Nuno cukup aktraktif di atas panggung. Mungkin karena sudah lama gak nonton mereka manggung dan terbiasa dengan kehadiran Dudi Oris, melihat Windura yang bagaikan kutu loncat itu sempat membuat saya agak sedikit naikin alis. Mungkin karena dia juga masih baru, gak henti-hentinya dia ngelirik contekan list lagu yang ada di lantai panggung. Takut salah lagu kali dia. Sementara Dikta sering ngilang malah sempat groufie colongan segala, Windura melulu ditaro di depan.

Coba Cari Gue, Ada Di Mana? ( Foto dari IG yovieandnuno)
Penampilan Yovie and Nuno ditutup dengan lagu Juwita yang diplesetin teman jadi nama saya, hahaha, Thanks ya gaesss... Hihihii. Habis itu sudah tanpa ba bi bu, si Windura sudah langsung 'Terima Kasih' aja. Panggung gelap, mereka bubar. Penonton bengong. Sudah gitu aja?? Asik sih, tapi nanggung. Serasa diputusin pake SMS, Bye gitu aja, Hiks!

Pakarena Etno Mission, Kolaborasi Barat dan Timur 

Setelah penampilan Yovie and Nuno di stage 1, saya dan teman-teman sepakat ngopi-ngopi dulu sebelum pertunjukan berikutnya. Kebetulan di dalam venue juga terdapat beberapa stall makanan dan cemilan yang lumayan buat ganjel perut (yang sebetulnya sudah diisi semangkuk bakso sebelym berangkat ini.Hihihi). 

Pas lagi nungguin kopi dan serabi pesanan, terdengar lagu Love Me Like You Do yang biasanya dinyanyikan oleh Ellie Goulding dari arah Selatan. Masa sih ada Ellie Goulding bo' di Makassar Jazz Festival, mungkin saya berhalusinasi. Tapi teman saya juga bertanya yang sama. Karena penasaran, urusan kopi dan serabi kami tinggal dan bergegas ke sumber suara.

Ternyata stage 2 ada di sana. Sebuah band dengan vokalis perempuan yang terlihat masih muda dan cantik sedang memainkan keyboard dan menyanyikan Love Me Like You Do dengan aransemen Jazzy. Penampilannya tidak hanya memukau penonton lokal tapi juga penonton bule yang saya duga turis. Mereka duduk selonjoran di rumput depan panggung, berdiri bahkan ada juga yang duduk santai di atas dinding Benteng Rotterdam.

Pakarena Etno Mission
Pakarena Etno Mission di Makassar Jazz Festival Day 2 
Saya sendiri lebih memilih duduk santai beralas rumput di depan panggung sementara teman-teman berada di barisan belakang. Band ini sepertinya asik. Saya melihat di tengah panggung duduk tiga lelaki dengan pakaian tradisional lengkap dengan alat musiknya. Dugaan saya,  mereka akan menggabungkan aliran musik jazz dan tradisional. 

Bener! Di lagu ketiga, sang leader memperkenalkan nama band mereka : Pakarena Etno Mission, sekaligus menceritakan sebuah pengantar untuk lagu Keteng In Kiten ( Bulan di Kiten). Lagu ini ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Makassar dan bahasa Bulgaria. Isi lagunya kira-kira jika kita merindukan seseorang, maka tataplah bulan. Karena di belahan bumi manapun kita berada, kita menatap bulan yang sama... Kebetulan malam itu bulan setengah sedang bersinar diatas sana. Waduuuhhh, daeng!Dikta.. mana Dikta??! Teuteup yaa belum bisa move on dari stage 1.



Di lagu Keteng in Kiten ini lah dikolaborasikan dua genre musik dari barat dan timur. Musik jazz berpadu dengan suara pui-pui (seruling) lalu diakhir lagu para gendangers (maksudnya pemain gendang) beraksi dengan pukulan yang mengingatkan saya pada musik-musik trasional Irlandia. Penontonpun diajak bertepuk tangan seirama ketukan nada. Kalau gak malu sebenarnya saya pengen nari ala Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet di Titanic itu loh.. tapi lapar ah. #alesyan!! 

Kelar menyaksikan penampilan Pakarena Etno Mission, saya segera menyerbu stall surabi dan kopi kembali. Let's gathered the energy, habis ini mau nonton Dian Pramana Poetra. Liputan keseruannya ada di bagian ke dua. 

Vita Masli 1st Giveaway With Super Junior

Kayaknya sudah banyak yang tahu ya, kalau aku tertarik dengan Korea Pop Culture atau yang kerennya sih disebut Hallyu. Mulai dari K-drama, K-Movie, K-Variety Show, K-Food sering aku bahas disini. Postingan technology pun masih sempat-sempatnya aku sisipin hal-hal yang berbau Korea, hahaha.. 

Tapi sudah ada tahu gak sih kalau sebenarnya aku juga suka K-Pop? (Yang sering dengar aku siaran di Kwave Radio Show pasti tahu). Dari sekian banyak artis Kpop yang beredar dari jaman tahu kapan, hanya ada satu yang mengunci hatiku dengan pesona gado-gado mereka (hahaha bahasanya). Gak lain gak bukan adalah..... 

Super Junior, Boyband Kpop Pertama yang Mencuri Hatiku 


Super Junior Magic - exclude Sungmin & Shindong who Currently in Military Service 

Awalnya aku sama sekali tidak tertarik loh dengan Kpop-Kpopan. Seriously! Mungkin karena waktu itu aku sudah terinfluence dengan Jpop sebangsa Arashi, News, Kanjani 8 dan Utada Hikaru (yeaahh ketahuan deh angkatan gue!) jadi agak merasa Kpop ini terlalu berisik. Hehehe...

Sampai kemudian aku kenal Super Junior yang kemudian membuatku mengclaim diri sendiri sebagai ELF alias Everlasting Friends. Hahaha... kualat deh tuh! Beli CD, nonton konser, semua variety show dan drama yang ada member SJnya ditonton, tiap siaran masukin satu-dua lagu Super Junior atau member solo, segala hal yang bisa kusisipin Super Junior, aku sisipin deh. Sampai beberapa teman-teman yang sudah lama kenal aku sempat protes,"Sudah deh, di socmed bahas Suju masa di dunia nyata juga masih bawa cowo-cowo itu sih.." Ada juga komentar seperti : "Serius lo masih suka SJ? Mereka sudah tua, tau." lalu mencoba meracuni aku dengan boyband baru lain. 

Meme Super Junior


Related Post :  From Nothing To Something - Super Junior's Attack



Maaf aja ya gaes, aku mah orangnya setia. *sama boyband aja aku setia, apalagi sama... * Eiya deng sempat kemakan EXO juga sih, tapi kan itu karena Leeteuk sebelum wamil sempat berpesan,"Boleh liat boyband yang baru tapi kalau aku selesai kembali, kalian balik ke aku yah." 

#OKSIP! #Alesyan

Super Junior MV - Magic 

Eh tapi beneran loh, walaupun sempat selingkuh tipis-tipis, hatiku tetap pada 11 orang ini. Ya kalaupun sempat ada perpindahan bias, bulan ini suka Donghae tapi liat Siwon juga suka, Aku sedih Leeteuk berangkat wamil tapi liat Heechul balik wamil jadi naksir. Tapi sebenarnya member manapun yang kubilang kusukai, sepertinya hatiku tetap sama Kyuhyun  dari awal sampai akhir. #pelukkyuhyun

Donghae Meme

Vita Masli 1st Giveaway With Super Junior


Tahun ini Super Junior memasuki 10 tahun berkarya di dunia musik Kpop. Aku yakin itu gak mudah. Persaingan di dunia entertainment yang begitu ketat dan ditambah kewajiban wajib militer yang mengharuskan satu demi satu member Super Junior bergantian cuti demi tugas negara, membuat mereka harus tetap kerja keras agar terus bertahan di deretan papan atas. 

Thanks to ELF yang masih setia dengan Super Junior, khususnya ELF Indonesia yang sering dicap sebagai fans yang kurang loyal. Pasalnya mereka katanya cuma bisa heboh di social media tapi gak semua nonton Super Show. Katanya lagi ELF Indonesia lebih banyak milih download lagu ilegal di internet ketimbang beli CD atau download di iTunes. Banyak yang mengklaim sebagai ELF tapi kalau nonton MV Super Junior bukannya dari youtube channel yang resmi tapi lagi-lagi download di di channel yang berbeda. Hehehehe.. Itu katanya loh, bener atau benar? 

Benar atau enggaknya, semua orang punya alasan tersendiri dengan pilihan yang mereka ambil. Nah, sama dengan aku yang memilih untuk buat giveaway untuk ELF Indonesia yang beruntung. Hitung-hitung ini supaya ELF Indonesia gak sedih ditinggal wajib militer ama oppa oppa ganteng ini : 

Donghae Siwon Eunhyuk Military Service


Caranya...... 

  1. Sebutkan alasan kamu suka Super Junior dan pendapat kamu tentang ELF Indonesia yang dicap sebagai fans yang kurang loyal karena alasan-alasan di atas. Ketik di kolom komentar blog ini beserta  nama, lokasi dan akun socmed kamu. 
  2. Follow akun twitter : @vitamasli  | IG : @vitamasli  | Google+ : @vitamasli | Pinterest : Vita Masli | Subscribe Youtube Channel : Vita Masli | Likes Fanpage  VitaMasli-dotcom. Follow blog ini juga bisa jadi tambahan point loh! 
  3. Share link postingan blog ini ke socmed kamu dengan mention akun socmed Vita Masli yang tertera diatas. Jangan lupa pake hastag : #VitaMasliSUJUGiveaway. Makin sering dishare makin jadi pertimbangan aku buat menangin kamu) 
  4. Periode giveaway : 20 September - 14 Oktober 2015 
  5. Pengumuman  Pemenang : 15 Oktober 2015 

Hadiahnya?



Mau??? Yukk cuzz, ikuti semua ketentuannya. Jangan sampai terlewat ya!

Goodluck! Uri neun Elphu eaiyo..

-------------------------------------------------------------**------------------------------------------------

UPDATE!!! 
    

AND THE WINNER IS................... 


Chukkae...!! Tunggu posternya di rumah kamu ya! 

Indonesia dalam Dunia Otomotif, Pemain atau Penonton?

Makassar sedang panas-panasnya, maklum musim kemarau belum memberi kesempatan hujan datang berkunjung. Debu hinggap dimana-mana, tidak terkecuali pada mobil kesayangan saya. 

"Kamu enak sih, kemana-mana naik mobil pribadi. Tinggal setel ACnya, gak ngerasain panasnya naik motor, apalagi pake angkot. Kemarau gak kepanasan, musim hujan gak kehujanan,"kata salah seorang teman. 

Alhamdulillah yah..

Perkataan teman itu saya syukuri dalam hati. Sebelum akhirnya nyetir sendiri, saya juga pernah ngerasain yang namanya panas-panasan naik motor dan  duduk berjubel di dalam angkot. Namun karena kebutuhan mobilisasi yang makin meningkat membuat saya memutuskan untuk memiliki kendaraan pribadi. Ditambah belum adanya itikad baik pemerintah untuk membuat sistem transportasi umum yang nyaman dan aman bagi penduduk, saya pikir bukan saya saja yang berpikiran untuk mempunyai kendaraan pribadi. Kalau tadinya sebuah keluarga hanya butuh satu mobil, saat ini tidak sedikit yang merasa butuh punya  dua atau tiga karena tuntutan situasi. 

Lihat saja antusias masyarakat pada pameran otomotif di Indonesia. Baru-baru ini telah digelar perhelatan akbar Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2015, salah satu pameran paling dinanti oleh para penyuka otomotif di seluruh Indonesia. Dibanjiri 359.374 pengunjung, total transaksi penjualan mobil dan motor sebesar Rp. 1.636 Triliun yang berasal dari penjualan 4.894 unit mobil dan sepeda motor. Luar biasa bukan?


Indonesia Internasional Motor Show 2015, Inovasi dan Warna Baru Dunia Otomotif Indonesia 

Selama lebih dari 20 tahun Indonesia International Motor Show diadakan, tahun ini IIMS menunjukkan 'wajah' barunya. IIMS yang memang diperuntukkan untuk  menjadi wadah bertemu dan berkumpulnya para penggemar otomatif, kali ini menyatukan unsur bisnis sebagai sarana promosi dan transaksi penjualan sekaligus menambahkan beragam budaya, hiburan dan edukasi yang bertautan dengan dunia otomotif.

Event yang diorganized oleh PT Dyandra Promosindo ini mengusung tagline baru " The Essence of Motor Show". Ajang pameran ini  menampilkan banyak teroboson termasuk menampilkan  sepeda motor, mobil tank, suku cadang mobil dan aksesoris industri dengan berbagai pertunjukan yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Beda aja gitu yah dengan pameran-pameran otomotif biasanya. 



Dan ternyata IIMS tidak hanya memamerkan produk otomotif buatan luar. IIMS juga memberi ruang bagi karya anak bangsa untuk dipamerkan di ajang tersebut. Salah satunya adalah ditampilkannya dua prototipe sepeda motor listrik karya mahasiswa ITS yang bermitra dengan Garansindo Inter Global digadang-gadang akan menjadi calon sepeda motor lokal berteknologi listrik pertama yang diproduksi massal. Hebatnya lagi seluruh rekayasa  rekayasa industrinya, komponen, desain, pokoknya semuanya merupakan buatan lokal, Whoaa.. bangga! 

Sepeda Motor Listrik buatan Indonesia (credit as tag)

Walaupun masih berupa prototype dan belum diproduksi, sepeda motor lisrik tadi sebenarnya adalah angin segar sekaligus sentilan bagi dunia otomotif Indonesia. 

Sepeda motor listrik ini bukan satu-satunya hasil kreativitas anak bangsa. Sejak beberapa tahun lalu Indonesia sebenarnya sudah menghasilkan beberapa mobil nasional  hanya sayangnya seakan tidak mendapat perhatian dari pemerintah. 




Keren...

Kalau melihat ini semua sebenarnya Indonesia tidak kekurangan orang-orang cerdas, kreatif dan visioner kok. Tapi memang deretan prototype-prototype ini harus terhenti di tengah jalan. Kendala macam-macam. Mulai dari tidak adanya investor, pasokan komponen, dan desain yang kurang menarik membuat banyak inovasi putra putri Indonesia ini akhirnya  gagal masuk ke proses produksi massal.

Indonesia dalam Dunia Otomotif, Pemain atau Penonton? 

Ironisnya jika dilihat dari sisi produksi mobil, sebenarnya Indonesia memiliki perkembangan yang sangat bagus. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Vijay Rao, Automotive and Transportation Practice Frost & Sullivan, menyatakan Indonesia merupakan salah satu perkembangan otomotif terbesar di ASEAN setelah Thailand. 

Frost & Sullivan memprediksi Indonesia akan menjadi pasar otomotif terbesar di ASEAN pada 2019 dengan total kendaraan mencapai 2,3 juta. 
Perkembangan ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, peningkatan kelas menengah dan peningkatan investasi sektor otomotif serta pemberlakuan regulasi otomotif yang mendukung pertumbuhan pasar. Sayangnya yang diproduksi itu adalah mobil-mobil keluaran negara lain.

Produk otomotif ternama rame-rame meningkatkan kapasitas produksinya malah sampai membuka pabrik segala di Indonesia. Banyaknya investor yang tergiur untuk berinvestasi di Indonesia tentunya disambut baik oleh pemerintah.

Memang, masuknya investasi jelas bakal menyerap tenaga kerja, penambahan penghasilan negara dari pajak yang artinya bakal memutar roda perekonomian. Tapi yang masih jadi pertanyaan buat saya pribadi adalah masalah pengembangan tekhnologi. Maukah produsen mobil itu mentransfer teknologi mesin mutakhir ke anak bangsa? Atau kita hanya sanggup menonton mereka dan menjadi pekerja sekaligus jadi pasar jualan industri otomotif mereka? 

Masa Depan Otomotif Indonesia

Isu lingkungan hidup membuat industri otomotif dunia mau tidak mau harus berinovasi untuk melahirkan produk yang ramah lingkungan. Mobil listrik adalah salah satu jenis yang sedang giat dikembangkan. Saat ini industri otomotif Jepang yang diramalkan akan merajai produksi sektor mobil listrik dunia telah mengekspor hasil produksinya ke Amerika dan Eropa.

Indonesia lagi-lagi dilirik oleh para pembuat mobil listrik sebagai tempat jualan saja. Padahal tidak sedikit putra bangsa yang membuat mobil listrik dengan design yang tidak kalah dibanding buatan luar negeri.


Create free infographics with Venngage


Mobil-mobil keren buatan Indonesia ini sebenarnya adalah langkah awal masa depan otomotif Indonesia.  Tidak bisa dipungkiri, memang masih ada beberapa kekurangan di sana sini. Namun ini kembali lagi kepada penentu kebijakan yang mengambil keputusan, mau dibawa kemana dunia otomotif Indonesia. Bahkan Karl Benz tidak semerta-merta sukses di awal pembuatan mobil berbahan bakar bensin. 

Mudah-mudahan dalam  IIMS berikutnya  akan makin banyak hasil karya anak bangsa yang dipajang bersanding dengan mobil/motor buatan luar. Maunya sih industri otomotif Indonesia  tidak lagi didominasi produk luar negeri dan kita bisa berbangga menjadi pemain dan bukan hanya sekedar mangsa empuk penjualan. Semoga!


Referensi : 

1.http://www.indonesianmotorshow.com/
2.http://kumpulan-berita-unik.blogspot.co.id/2014/07/Mobil-Paling-Keren-Buatan-Indonesia.html#ixzz3lf3XV4hV
3.http://binaswadaya.org/bs3/id/mobil-buatan-asli-indonesia/
4. Wikipedia

Infographics dibuat oleh Vita Masli untuk www.vitamasli.com


Tips dan Trik Ngeblog Asik


Tips Blogging

Sabtu siang itu, matahari sedang terik-teriknya ketika saya keluar dari gedung PWI Sulsel. Maklum, sudah pukul setengah satu siang. Matahari lagi lucu-lucunya. Tapi apalah arti teriknya matahari dibanding panasnya api neraka (tsaahh..). Jadi ketika adzan dhuhur berkumandang dari mesjid sebelah gedung PWI Sulsel, pelatihan Blogger dan Menulis Reportase di Social Media yang saya ikuti pun harus break sejenak. Menambah ilmu buat ngegaet job review lewat blog boleh saja, tapi jangan lupa sama pemberi job review yang sesungguhnya, hihihi...  *uhuk* *lalu berdoa dapat job review yang banyak*

Memang belakangan ini banyak orang yang tertarik pengen jadi blogger salah satu alasannya karena pengen mengisi pundi-pundi rupiah (dan dollar kalo  maunya gue sih!),  Dan itu gak salah. Apalagi semakin banyak korporasi/brand yang percaya pada blogger untuk urusan branding atau promosi. Sekarang di event launching produk bukan lagi kawasan kekuasaan wartawan loh. Blogger juga mendominasi. Makanya penting banget untuk Blogger bisa menulis reportase di social media biar bisa 'bersaing' dengan wartawan. 

Eh tapi apa iya blogger dan wartawan harus saingan?

Baca juga : Blogger dan Menulis Reportase di Social Media

Kang Arul, Pemateri Sesi Kedua Pelatihan Blogger & Menulis Reportase

Di sesi kedua pelatihan Blogger dan Menulis Reportase di Social Media, giliran kang Arul  berbagi pengalaman. Beliau ini dulu pernah berprofesi sebagai wartawan tapi  sekarang memilih menjadi blogger, dosen dan sering menjadi juri lomba blog. Dari pengalamannya bisa ditangkap, sebenarnya wartawan dan blogger itu tidak perlu saingan, kok. Masing-masing punya media, style peliputan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing .

Menurut kang Arul wartawan itu punya kelebihan yang tidak dimiliki blogger, yaitu : teknik wawancara. Wartawan (jaman dulu, khususnya) tahu gimana mengorek nara sumber agar bercerita. Contoh kasus ibu-ibu penjual cabe di pasar dan kenaikan harga cabe. Seorang blogger bisa jadi langsung nanya aja sama ibunya,"Bu, bolehkah saya membeli cabe? Harga sekilo berapa ya?"

Sementara wartawan bisa dengan kalimat dan nada yang lebih buat ngajak curhat,"Duh bu.. harga cabe naik ya? Kok bisa sih..." bla bla bla bla.. ibunya curhat deh sampe gak nyadar wartawannya pada akhirnya gak beli sama sekali.

Ketika diundang di event launching pun, wartawan dan blogger punya sikap yang berbeda. Blogger, begitu nyampe langsung foto-foto produk dan suasana launchingnya lalu ngetweet sedangkan wartawan lihat-lihat situasi dulu, nyari angle yang tepat buat tulisannya lalu baru deh foto-foto untuk kelengkapan tulisan.

Saat menulis berita, wartawan dan blogger punya style tersendiri. Tulisan wartawan cenderung mengikuti apa yang tertera di press release. Jika diperhatikan tulisan di media tentang produk atau event sepertinya sama, ya karena sumbernya sama. Sedangkan blogger lebih ke story telling, tulisan natural dan penuh penjiwaan. Kadang-kadang saking menjiwainya membawa hal-hal yang gak mungkin ditulis wartawan karena berkesan curcol dan memakai istilah-istilah gaul.


Tapi bukan berarti wartawan dan blogger jadi mengekslusifkan diri. Kedua profesi ini sebenarnya bisa belajar dari keunikan masing-masing. Wartawan bisa belajar jadi blogger sementara blogger bisa mengambil trik wartawan.

Makanya kang Arul mengajak para wartawan yang hadir dalam pelatihan untuk ikut ngeblog. Menurutnya,"Diluar sana banyak hal bisa diceritakan yang tak bisa dimuat di media cetak atau televisi." Apalagi kalau mengingat tulisan wartawan yang tidak boleh memihak dan memasukkan pendapat pribadi, ngeblog bisa jadi alternatif menyalurkan yang tidak bisa tersalurkan (apa sih?Hehehe).  Ini bukan hanya untuk wartawan saja, menulis blog bisa bermanfaat juga untuk profesi lainnya.


Ngeblog memang tidak semena-mena bisa membuat seseorang menjadi kaya."Jangan pernah berpikir hari ini ngeblog, minggu depan sudah sukses,"kang Arul mengingatkan. Seperti juga pekerjaan lainnya, untuk mendapatkan reward dari ngeblog membutuhkan proses yang bisa jadi cukup panjang untuk beberapa blogger. Mulailah menulis sebagai ladang amal terlebih dahulu. "Ketika ada usaha pasti ada jalan", pesan kang Arul.

Untuk blogger pemula, kang Arul pun memberi beberapa tips ngeblog :

1. Mulailah Menulis Hal-Hal yang 'Remeh'

Sesuatu yang remeh terkadang diperlukan dan dicari orang di internet. Hari gini, ibu-ibu kalau anaknya sakit bukannya ke dokter, tapi googling dulu. Nyari resep masakan gak melulu di buku resep, tinggal buka internet aja. Sampe mata berkedut aja nyarinya gak jauh, just a google away.

Lagipula menurut saya, hal yang kita anggap remeh belum tentu gak penting di mata orang lain. Malah dalam beberapa kasus, sesuatu yang kita anggap biasa aja adalah pengetahuan yang luar biasa untuk pembaca blog kita. Jadi tidak ada salahnya dituliskan saja, ya kan?

2. Tuliskan Secara Menarik 

Tentu saja agar sesuatu yang remeh itu dilirik orang, cobalah menuliskannya secara menarik. Kalo kata kang Arul sih...

“Nge-blog lah dengan style mendramatisir. Tulisan pada lima belas detik pertama, sangat penting membuat betah para pembaca.”  
Sesuatu yang jelek, jika dikemas dengan baik maka hasilnya akan kelihatan lebih baik. Benar juga! *lalu ngebayangin artis-artis Korea tanpa make-up dan  baru bangun tidur. Masih keliatan keren gak ya?*

3. Rutinlah Menulis

Ala bisa karena biasa, pernah dengar? Begitu juga dalam hal ngeblog. Awalnya bisa jadi gak mudah, tapi jangan cepat menyerah. Sehari boleh saja satu atau dua halaman. Jika dilakukan rutin setiap hari, tidak saja memperlancar proses membuat tulisan, lama-lama postingan yang kita punya bisa dijadikan buku. Ih, keren ya! *lalu kepikiran sudah berapa postingan di blog ini yang senada untuk dibukukan*

4. Jangan Memaksakan Diri Untuk Menulis, Enjoy it!

Jika merasa nulis buat blog itu susah, cari teman buat nulis ngeblog bareng supaya semangat. Jangan memaksakan diri untuk mengejar deadline agar tidak terbebani (Eh, nyindir saya nih, kang? Saya kan deadliner lomba, hihihi). Agar tidak memberatkan tulisan boleh dicicil! Dan yang paling penting adalah enjoy dalam menulis. Ngeblog jangan dibawa susah lah yaa... setuju? *lalu begadang, buat postingan lomba* 

5. Jangan Tinggalkan Pekerjaan Utama Demi Blog 

Saat jenuh-jenuhnya dengan pekerjaan utama lalu kenalan dengan profesi baru yang tampaknya menyenangkan, seringkali beberapa orang kepikiran untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ini bisa juga terjadi bagi para blogger pemula yang mulai merasakan enaknya jadi blogger. Bertemu orang-orang baru, dapat teman-teman blogger yang lebih asik dibanding rekan kerja di kantor, gak perlu dikejar-kejar tugas dari big boss yang rese dan bisa bekerja buat diri sendiri adalah beberapa alasan yang sering menggoda para blogger pemula,

Kang Arul yang saat ini memilih untuk cuti panjang dari pekerjaannya sebagai wartawan pun tidak fully jadi blogger saja. Dia juga menjadi dosen di beberapa kampus, walaupun kang Arul bukan blogger pemula lagi. Apalagi blogger pemula, ya kan?

...kecuali kalau sudah sekelas Trinity Traveler, yah bolehlah minta pensiun dini. Sementara itu belum terjadi, ketidaknyamanan di kantor bisa dilampiaskan dengan nulis di blog dan ketemu teman-teman blogger yang asik-asik. Asal jangan kebablasan curcol  tentang pekerjaan aja dan dipublished. Remember my friends, don't shit the hand that feeds you, sekesel apapun kita apa kantor dan orang-orang didalamnya.  -- Ini menurut saya --

Pada sesi tanya jawab beberapa peserta pelatihan dari kubu non-blogger kelihatan sangat antusias untuk mulai ngeblog. Salah seorang peserta dari bidang hubungan masyarakat pemerintahan (sueerrr bukan gue!!) sedikit curhat bagaimana blog ini bisa diberdayakan untuk kegiatan-kegiatan humas.

Ternyata pihak pemerintahan pun bisa menggunakan blog sebagai media mensosialisasikan peraturan-peraturannya. Kang Arul menyarankan walaupun memang ada pakem-pakem bahasa resmi yang harus dipatuhi oleh pemerintahan, tapi gak ada salahnya mencoba menggaet blogger lokal untuk bekerjasama mensosialisasikan peraturan pemerintah  atau pelatihan blog. UHUKKK!!! *sodorin kartu nama*

Terakhir kang Arul lagi-lagi bocorin tips untuk blogger pemula agar lebih semangat nulis, yaitu dengan IKUT LOMBA BLOG. Selain mengasah kemampuan menulis, lomba blog hadiahnya kan lumayan tuh buat nambah-nambah bayar cicilan, hahaha..

Beberapa tips yang bisa kita contek agar menang lomba review produk ala kang Arul, adalah :


Nah, kalau seperti ini tulisan kita style blogger tapi setajam silet wartawan nih jadinya. Makanya kalo wartawan bener-bener mau serius ngeblog, blogger ecek-ecek mah lewaaat.. *duhhh, siap-siap belajar jurus baru, ah.*

Selama lebih kurang dua jam di waktu tunduh-tunduhnya (baca:ngantuk) tanpa secangkir kopi, peserta pelatihan diberi semangat oleh kang Arul dengan tips dan trik serta motivasi. Bolehlah dinobatkan sebagai blogger motivator, hehehehe..

Saya adalah salah satu yang termotivasi untuk ngeblog lebih baik lagi. Saya pikir memang segala sesuatu tidak ada yang tidak berproses, Rome wasn't build in a day. Begitu juga untuk urusan ngeblog. Cepat atau tidaknya kita pada posisi yang kita inginkan tergantung juga dari usaha kita.

Bagi Bagi Hadiah Untuk Blogger dan Wartawan 
Usia bukan masalah menjadi blogger, yg penting mau dan semangat. Bukan berarti yang baru ngeblog gak bisa bersaing dengan blogger lama. Ada kok blog baru tapi Alexa rankingnya sudah lebih ramping dari blog yang lebih dulu exist. Itu karena blogger yang lebih serius ngurusin blognya biasanya pencapaiannya juga lebih cepat.

Gak usah juga mikirin kerenan mana, blogger atau wartawan. Keduanya sama-sama keren dan bisa belajar dari masing-masing keahliannya. Mana tahu 'rejeki' kita terkoneksi dari hubungan yang baik antara blogger dan wartawan, ya kan?

Terimakasih PWI Sulsel dan Blogger Reporter Indonesia untuk pelatihan Blogger dan Menulis Reportase di Social Media yang berguna banget. Dapat ilmunya, eh bisa kopdar-an dengan blogger dan wartawan juga.

Blogger dan Wartawan Peserta Pelatihan ( Pic by BRID) 

Dan yang paling penting, BRID kalau perlu blogger reviewer di Makassar tahu kan siapa yang harus dihubungi? Hehehehe..


Visit here for Must-Have Free Blogging Tool