Tahun 2019, Masih Mau Jadi Blogger ?

Hari ini menurut penanggalan Masehi adalah hari terakhir di tahun 2018. Banyak banget kejadian yang terjadi. Suka, duka, sedih, kesel, bahagia silih berganti. Ya, hidup itu semacam mood kita kala PMS, berubah-ubah susah dikendalikan. Terkadang sudah dipersiapkan pun masih tetap ada aja yang diluar kendali kita. Wajar... kita hanya manusia biasa. Skenario hidup sudah dituliskan oleh Allah SWT. Alurnya bisa dipilih, konsekwensinya tanggung sendiri.

Berat yaa.. hahaha. Tahun 2018 ini gue juga dipertemukan dengan banyak pilihan-pilihan penting, termasuk apakah tahun depan gue masih mau jadi Blogger atau tidak. 


Pic from Pexels.co dan dibuat Menggunakan Canva 

Ini dia 3 hal yang menjadi pertimbangan gue :

1. Karir 


Bulan Maret tahun 2018, beberapa hari setelah usia bertambah saya dipromosikan menduduki suatu jabatan. Konsekwensinya adalah promosi jabatan tersebut mengharuskan saya pindah dari Makassar ke provinsi tetangga. Jaraknya sih 'hanya' 8 jam. Tapi kan tetap aja jauh dari keluarga dan zona nyaman gue.


Makassar dengan segala isinya tentu gak ada apa-apanya dengan tempat yang baru ini. Ibukota provinsi berkembang, yang usianya masih belia. Kantor di tempat itu pun ibaratnya masih anak-anak. Masih berkembang banget.

Baca juga : Hello, Mamuju! 

Lalu kenapa diterima?

Awalnya setelah sholat istikharah, konsultasi dengan Bapak dan kakak-kakak, gue merasa mantap untuk mengambil promosi tersebut.  Bukan masalah 'akhirnya jadi pejabat', gilaaa berat tauuu itu. Tapi lebih kepada gue merasa bisa memberi kontribusi lebih banyak di level yang sudah harus bisa menganalisa dan memanage. Bukan sekedar pelaksana yang kadang idenya gak didengar dan hanya kerja keras bagai quda itu. 


pexels.com
Gue gak mengunderestimate level pelaksana karena gue sudah pernah merasakannya selama beberapa tahun. Gue bukan juga orang yang gila jabatan. Ada beberapa orang teman angkatan gue yang pernah bilang gini,"Gak perlu jadi pejabat kalau hanya mau berkontribusi." Ok fine. Sayangnya, gue hanyalah orang yang pengen selangkah lebih maju dalam setiap hal yang gue kerjakan. Ketika itu kemudian harus dipromosiin dengan embel-embel pejabat, ya mau gimana. Kalaupun ada yang memandang sebelah mata, gue jawab dengan kerja aja deh yaa...

Konsekwensi dipromosiin ini selain jauh dari rumah dan kenyamanan ternyata ngefek banget ke point berikutnya. Lanjut baca terus ya, gaes! 

2. Jabatan Penuh Tantangan


Gue tahu kerjaan gue ini deal with human dan Barang Milik Negara. Banyak banget peraturan pemerintah yang melingkupinya. Ketika berhadapan dengan peraturan dan manusia, gak semua mau diatur. Deal with human dengan segala karakter dan kebiasaannya adalah hal yang paling (kalau gue bisa bilang) bikin pusing. Apalagi yang karakter dan kebiasannya itu bertentangan dengan peraturan yang ada. Sudah deh, lu mau pake teori komunikasi atau teori manajemen apapun keknya gak ada yang mempan. Persuasif sampai saklek parah sudah dijalani, namun gak selamanya berjalan sesuai harapan. Asli menantang banget.

Meskipun saya memang sering banget kepikiran, ya sudahlah emang gak bisa berubah tempat ini. Karakternya sudah segitu gitunya emang dari berpuluh puluh tahun, gak bisa berubah dalam sekejap mata. Yang namanya diunderestimate karena gue perempuan, masa kerja masih kurang lama dan lebih muda dibanding pejabat lainnya sering banget gue terima. Bodo ah! Dunia kerja bukan lagi dominasi pria wahai old men and you have to deal with that. 


pexels.com

Termasuk juga posisi yang baru ini  membuat gue lebih banyak dinas luar di Jakarta. Rapat aja terus, beberapa ada yang nyelutuk gitu. Tanggung jawab juga besar, kok. Memangnya abis rapat gak ada tindak lanjutnya apa ya. Mmh... pemikiran kek gini ternyata masih ada aja di tahun 2018.

Selain itu tahun ini gue juga ngerangkap gantiin pejabat yang mutasi tapi penggantinya gak mau pindah ke Mamuju. Ibaratnya gue dicemplungin gitu aja ngehandle keuangan negara itu seperti belajar berenang gak pake pelampung, gak ditungguin dan lu belajar renang sambil nonton tutorialnya di YouTube. Yah gitu deh..

Alhamdulillah yah..lancar gak ada masalah ketika dihadapan pemeriksa. Malah gue ditawarin bergabung jadi auditor di kantor pusat. Whaat?? Hahaha.. ok itu mungkin cerita tahun depan.

3. Kurang Total Menjadi Influencer


Sejak tahun 2012 gue sudah meluruskan niat untuk serius ngeblog. Bahkan di tahun 2015 gue dah coba-coba ngevlog setelah ikut acaranya YouTube. Rencana awalnya tahun 2018 gue bakal lebih sering update. Apa daya karena kerjaan mengharuskan gue setidaknya Senin-Jumat di Mamuju, gue banyak banget ketinggalan event-event yang biasanya digelar di hari kerja. Why oh why??? Sementara itu gue malah belum nemu satu blogger pun di Mamuju. Mungkin gara-gara itu juga gak ada satu brand pun yang bikin event di kota tersebut.

Gara-gara beban kerja gue di kantor gue yang meningkat, gue jadi susah untuk meluangkan waktu ngeblog. Boro boro bikin vlog! Tapi rejeki Allah yang atur. Meskipun gak aktif di klub sosialita blogger, tawaran kerjasama tetap ada aja. Memang sih gue akui gak maksimal garapnya. Malah ada yang saking susahnya memanage waktu, gue lupa dong sudah iyain dua kerjaan dan sampai lewat deadlinenya gue gak ngerjain juga.  Duh... fatal banget! 





Pastilah gue ngerasa gak enak banget. Satu, alasannya lupa which is totally bener-bener kejadian bukan karena nyari-nyari alasan. Kedua, kredibilitas gue pasti sudah pasti tercoreng. Pihak yang ngajak kerjasama bisa jadi sudah ngeblacklist gue, gak bakal diajak kerjasama lagi karena gak bisa menyelesaikan pekerjaan. Ok, fine mba. Tapi kalau mba mas nya berubah pikiran, jangan-jangan ragu ngimel lagi ya. Putus aja bisa balikan kok.. hehehe.

Pembelajaran yang gue bisa ambil di sini adalah, pinter-pinter bagi waktu. Kalau merasa gak bisa menyelesaikan sebelum deadline, mending gak usah terima kerjasamanya. Daripada ada hati yang terluka dan kredibilitas yang terkoyak. Halah!

Tahun 2019, Masih Mau Jadi Blogger ?


Segala hal yang gue jalani di tahun 2018 ini membuat gue mau gak mau mikir, tahun depan apa gue masih mau jadi Blogger atau enggak. Gue tahu banget, blogger yang merangkap influencer itu gak gampang loh. Gak cuma asal ngeblog terus ngarep receh receh berjatuhan. Butuh konsistensi dan konten yang berguna. Penulisan dan presentasi konten gak ngasal. Persiapannya baaanyaaak dan kalau gak dijalani pake hati ikhlas dan senang pasti rasanya berat. 

Gue sejujurnya masih suka nulis, masih tertarik ngevlog dan edit video. Gue juga masih memegang teguh prinsip dalam segala hal gue harus selangkah lebih maju dari yang saat ini gue jalani. Mungkin saat ini gue masih belum menemukan ritme yang tepat. Bisa jadi gue juga sedang gak dapat feelnya untuk menggarap konten di blog dan vlog gue. 

Subscribe YouTube Channel Vita Masli dong, gaes! ((PESAN SPONSOR)) 


pexels.com
Semoga tahun 2019 gue sudah bisa start new dengan suasana yang lebih fresh dan lebih teratur. Paling penting, gue gak lupa ngerjain konten kerjasama supaya brand dan agency gak kapok ama gue, hahaha! Kamu sendiri gimana gaes? Tahun 2018 kalian ngapain aja? Silahkan share di komen yaa... 

Perpanjangan SIM itu Mudah!

Tahun ini, gak cuma paspor aku aja yang habis masa berlakunya. SIM aku juga. Senangnya SIM itu masa berlakunya lima tahun dan menyesuaikan dengan tanggal lahir kita. Jadi gak bakal lupa kecuali kalau lupa tanggal lahir, sih. Namun memang gak semua orang bisa menyempatkan diri untuk memperpanjang SIM. Bisa jadi karena sibuk, bisa pula karena males ngeribetin diri sendiri. Walhasil, SIM pun akhirnya kadaluarsa. Kalau sudah gini, ya nasib.. ikut tes ulang lagi deh. Gak mau kan kejadian seperti itu?



Perpanjangan SIM Itu Mudah! 

Sebelum SIM habis masa berlakunya, saya sudah mencari tahu bagaimana cara memperpanjang SIM A dan C. Ketika pertama kali perpanjangan SIM, saya sempat 'nitip' ke sekuriti kantor yang lama. Maklum, tidak mudah mendapatkan izin meninggalkan tempat kerja saat menjadi karyawati swasta. Biayanya pasti lebih banyak dibanding mengurus sendiri. Namanya juga menggunakan calo. Terkadang bisa dua kali lipat, but it's worth the time, mengingat jaman itu mengurus perpanjangan SIM biasanya memakan waktu menunggu dan bolak balik ke loket.

Hal ini saya rasakan sendiri ketika perpanjangan SIM ke dua kalinya. Saat itu saya sudah menjadi abdi negara, sudah bisa izin keluar kantor agak lama untuk perpanjangan SIM. Itu pun juga atas bantuan seorang teman yang memiliki keluarga dekat seorang petinggi di Polda. Saya datang ke kantor beliau, menunggu sebentar lalu kemudian 'lewat pintu samping' untuk difoto dan diambil sidik jari. Total waktu yang saya gunakan hingga SIM A dan C yang baru saya terima sekitar satu jam. Pembayarannya? Tentu agak sedikit di atas harga standar di loket karena ada 'ucapan terima kasih'nya.

Itu dulu...

Nah, di tahun 2018 ini alhamdulillah saya sudah kembali ke jalan yang benar. Mengurus sendiri, gak pakai calo, sudah gitu cepaaatt beett sampai waktu izin untuk keluar perpanjangan SIM ini bisa saya gunakan untuk ngopi-ngopi. Kok bisa sih?

Perpanjangan SIM di Gerai SIM 


Saat ini ada beberapa opsi lokasi perpanjangan SIM yang memudahkan kita selain langsung ke Polrestabes. Kita bisa ke Gerai SIM keliling yang sering mangkal di titik-titik keramaian strategis atau bisa ke Gerai SIM. Di Makassar sendiri terdapat dua Gerai SIM yang ditempatkan di mall yaitu Gerai SIM Panakukkang Square dan Gerai SIM Trans Mall Makassar.

Saya memilih untuk memperpanjang SIM di Gerai SIM Trans Mall Makassar karena lokasinya lebih dekat dari kantor. Awalnya agak khawatir juga, antrian panjang, lama dan ngeselin. Namun mengingat lokasinya di mall, seantri-antrinya paling gak masih berasa adem. Jadi datanglah saya ke Gerai SIM Trans Mall Makassar yang terletak di pintu masuk parkiran basement yang mengarah ke Carrefour.




Sebelumnya, siapkan terlebih dahulu persyaratannya :

1.  Mengisi Formulir Permohonan.
2.  KTP Asli & Fotokopi KTP
3.  SIM Asli.
4.  Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani dari Dokter
5. Asuransi

Formulir permohonan tersedia di loket Gerai SIM. Gak perlu repot membawa Surat Kesehatan Sehat Jasmani dan Rohani, karena di Gerai SIM tersebut menyediakan ruang pemeriksaan lengkap dengan dokternya. Pemeriksaan kesehatan sederhana saja yaitu tes buta warna. Setelah itu kemudian pemohon difoto di bilik sebelahnya. Tidak memakan waktu lama, SIM dicetak di front desk dan akhirnya SIM diserahkan kepada saya. Kalau dihitung-hitung hanya sekitar 15 menit, SIM baru sudah di tangan.

Biaya yang saya keluarkan untuk perpanjangan SIM A ini sebagai berikut dengan rincian :

1. Biaya Perpanjangan SIM A : Rp. 80.000
2. Surat Keterangan Sehat       : Rp. 25.000
3. Asuransi                               : Rp. 30.000
 Total                                        : Rp. 135.000

Alhamdulillah ya.. biaya gak begitu banyak, waktu yang dipergunakan juga gak lama. Gak terlalu ribet juga. Mungkin karena saya mengurusnya di Gerai SIM di mall yang tidak begitu ramai? Bisa jadi. Bagaimana pun, Gerai SIM seperti ini diperuntukkan untuk memudahkan jadi sebaiknya dimanfaatkan saja gaes!