Live My Way, Traveling Ke Waerebo Cara Aku Bareng Traveloka

Sejak tahun 2022, keinginan pengen traveling mulai bergejolak. Maklum, dua tahun dengan banyak aturan dan batas-batas yang tidak boleh dilanggar gara-gara pandemi itu memang bikin gak tahan. Aku tuh pengen yang bener-bener traveling, gitu loh! Mengeksplore tempat, kuliner, budaya dan berinteraksi dengan orang lokal. Itu arti traveling yang sesungguhnya buat aku. 

Tidak hanya sekedar datang ke tempat yang sering didatangi turis, foto-foto, makan-makan, foto-foto lagi, rekam video lalu pulang kembali ke Indonesia. Aku tuh ke suatu daerah, pengen tahu banyak, pengen ngerasain pengalaman yang tidak atau jarang dirasakan oleh orang lain. 

Makanya Aku tuh kalau traveling sering males ikut tur-tur gitu. Ikutan tur itu sebenarnya gak salah sih, karena sudah terorganisir itinerary mau kemana aja, waktunya, makannya, tempat nginapnya. Pokoknya istilahnya, kita tinggal angkat koper aja. Tapi kalau aku pikir-pikir lagi, traveling mandiri itu malah lebih seru! Serunya di mana? Sini aku kasi tahu... 

Traveling Cara Aku : Traveling Mandiri Live My Way! 

Sebelumnya aku disclaimer dulu, ini tidak untuk mendiskreditkan teman-teman yang lebih nyaman traveling dengan menggunakan travel agent. Aku cuma berbagi pengalaman keseruan aku aja, selama traveling mandiri ( tanpa travel agent). 

1. Bebas Menentukan Itinerary 

Salah satu hal yang paling penting buat aku adalah aku bisa menentukan itinerary perjalanan.  Mau ke mana aja dan durasinya berapa lama di tempat itu. Terkadang ada beberapa tempat yang menurut aku tuh kurang menarik, meskipun itu dikunjungi banyak turis.  

Alih alih ke pulau Nami, Aku malah memasukkan kota Songdo ke dalam itineraryku. Gak banyak turis  yang tahu kota ini. Kota Songdo adalah 'Smart City' Korea Selatan yang  letaknya sekitar 1,5 jam naik kereta dari Seoul. Kotanya ditata sebagai kota high technology tanpa melupakan unsur alam. Disini terdapat Songdo Central Park yaitu taman kota yang mengambil konsep Central Park New York. 

Central Park Songdo

Tau dong The Triplets Daehan-Minguk-Manse yang sempat ngehits sering maen ke Songdo Central Park? Nah, Songdo Central Park ini selain tidak jauh dari apartemen mereka dan juga family friendly location banget. Selain jadi tempat syuting 'The Return of Superman', Songdo Central Park ini seringkali dijadikan lokasi syuting beberapa drama Korea, khususnya area jembatan ini. 

Aku tuh sering senyum senyum sendiri aja kalau nonton drama Korea yang ceritanya berlokasi di Seoul, terus tiba-tiba ada adegan lari-larian di jembatan ini. Gila! Jauh ya larinya! Dari Seoul ke Songdo, hehehe.. 

Nah, coba kalau aku ikut tour traveling gitu, aku mungkin gak tahu ada tempat yang menarik seperti kota Songdo ini. Ya kan? 

Selain itu, karena aku dan temanku kerja di Lembaga Penyiaran Publik, maka kami pun penasaran dengan LPP (Televisi dan Radio Pemerintah) di Korea. Mampir lah kami ke gedung KBS di Yeoido dan area DMC ( Digital Media City) di kawasan Sangam-dong. Kalau kamu nonton Reborn Rich pasti tahu dong di salah satu episodenya dibahas pembangunan kawasan DMC ini sampai kemudian ada  stasiun penyiaran MBC, SBS, tvN, Mnet, Jtbc dan jaringan televisi berlangganan lainnya. 

Simulasi Siaran TV di KBS TV

Kalau gak traveling mandiri dan susun itinerary sendiri, kayaknya gak bakal tahu duluan aku tentang tempat-tempat itu, gaes! 

2. Bebas Mengeksplore Tempat yang Dikunjungi

Ada kalanya ketika ikut tour travel, kita harus terburu-buru berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Tidak sempat menikmati suasana. Ada kalanya pula kita gak begitu sreg dengan lokasinya, pengen segera ke lokasi berikutnya tapi kok masih harus nungguin teman seperjalanan. Ini yang kadang-kadang bikin aku bete. Padahal liburan itu harusnya bisa dinikmati, kan ya?

Enaknya traveling mandiri, aku bisa menyesuaikan durasi kunjungan aku ke satu tempat. Salah satu contoh ketika mengunjungi Gyeongbokgung Palace. Istana Raja Korea jaman Joseon ini serius luas banget! Bayangkan dari istananya, rumah raja, rumah ratu, rumah selir kelas pertama, kedua, ketiga, rumah ibunya raja, rumah pangeran, rumah istri pangeran, rumah saudara-saudaranya pangeran. Pokoknya jadi bisa ngebayangin gimana capenya ibunda ratu di Under The Queen's Umbrella lari-larian dari satu bangunan ke bangunan lain demi mengumpulkan anak-anaknya. 

Under The Queen's Umbrella Palace

Aku dan teman masuk mulai pukul 1 siang, keluar pukul 5 sore. Itu juga karena ingat batas waktu penyewaan Hanbok. Padahal masih ada beberapa bangunan dan taman yang tidak kami datangi. 

3. Lebih Banyak Tahu Informasi 

Saat menyusun itineray, tentu saja aku harus punya banyak referensi. Entah itu dari tulisan di blog, video di vlog, tiktok atau IG dan buku. Termasuk juga informasi-informasi yang ada di tempat wisata. Berhubung gak pake tour guide, jadi harus lebih banyak cari tahu informasi. Alhamdulillahnya sih, di tempat-tempat wisata sudah dilengkapi dengan papan informasi. Bahasa utamanya memang bahasa Korea dengan huruf Hangeul, tapi biasanya dilengkapi dengan bahasa Inggris, Bahasa Jepang dan Mandarin. 

Taman di Belakang Istana Ratu

Biasanya juga di spot spot wisata yang besar, ada semacam petugas guidenya juga kok, gaes! Tentu saja ini berbayar. Tapi kalau aku lebih sering jalan sendiri aja, googling di internet aja. Malah waktu di Gyeongbukgung Palace aku jadi 'pendengar setia' dari rombongan tour yang kebetulan berada di tempat yang sama denganku saat itu. Untungnya mereka menerangkannya menggunakan bahasa Inggris. Jadilah saya diam-diam mendengarkan sembari mengikuti mereka berkeliling di tempat itu. Sst.. jangan dilaporin ya! 

Nonton videonya di sini Youtube Channel Vita Masli, ya! 

4. Berinteraksi dengan Warga Lokal 

Jujur saja, jika ikut grup tour itu rasanya sangat dibatasi. Entah itu dari waktu, maupun interaksi dengan warga lokal. Paling interaksinya hanya saat tawar menawar. Gak ada interaksi yang bisa membuat kita mendapatkan pengalaman seperti warga lokal. 

Nongkrong di warung tenda saat hujan makan tteobokki sambil ngobrol dengan ahjumma penjualnya, misalnya. Diajarin mengucapkan 'Dongdaemun' yang benar oleh haraboiji (kakek-kakek) saat nunggu kereta datang. Begitu juga pas nanya arah ke siswa SMA dengan bahasa campur Inggris dan Korea. Diangkatin koper oleh ahjussi ahjussi di tangga stasiun subway sampai beberapa kali diajak ngobrol pake bahasa Jepang karena dikira orang Jepang. Lucu sekaligus seru,sih! 

5. Budget Sesuai Kemampuan 

Nah, ini dia! Karena kita sudah tahu kemampuan keuangan kita, jadi kita bisa memilih tempat penginapan, makanan, moda transportasi sampai mau beli oleh-oleh di mana dan apa yang mau dibeli pun bisa. Aku malah sempat buka jastip waktu itu, hehehe. 

Penginapan bisa memilih senyaman aku aja. Seringkali aku traveling berdua teman perempuan, seperti waktu ke Singapore, Kuala Lumpur, Korea Selatan, Lombok dan Bali. Sekali waktu juga pernah ke Bali berempat dengan teman cewek juga. 

Pernah juga aku traveling sendiri aja waktu ke Bandung, Solo dan Jogja. Biasanya aku booked penginapan yang private, sekamar berdua atau sekamar berempat. Namun, pernah juga pernah coba-coba nginap di hotel kapsul waktu traveling ke Bandung. Seru sih! 

Begitu juga dengan makanannya. Kalau di dalam negeri, biasanya gak terlalu masalah. Kecuali di Bali, harus selalu nyari makanan bersertifikat Halal. Begitu juga ketika traveling ke luar negeri (selain Malaysia) itu yang harus ekstra hati-hati. Sapi, ayam, kambing pun gak aku makan kalau gak disembelih pake bismillah. 

Beberapa orang mungkin gak peduli, tapi bagi aku ini penting sekali. Biasanya ketika bergabung ke dalam satu grup tour, makanannya kan sudah disediakan atau sudah ditentukan. Traveling mandiri bisa membuatku jadi lebih bebas menentukan pilihan makananku. 

6. Lebih Sehat 

Saat aku traveling mandiri, moda transportasi yang aku pilih adalah transportasi publik. Subway/MRT atau Bus umum adalah jalan ninjaku. Gak ada tuh yang namanya private bus seperti kalau kita ikut gruo tour apalagi pake taksi atau uber. Selain biaya taksi/uber itu mahal, transportasi publik di Singapore, Malaysia dan Korea Selatan itu bersih dan terjadwal. Penumpangnya juga tertib dan gak brutal. Relatif aman,lah! 

Hanya saja, Subway/MRT dan Bus umum itu tidak bisa berhenti pas di depan tempat yang kita pengen kunjungi dong! Jarak stasiun/halte ke tempat-tempat umum itu membuat kita harus berjalan kaki. Bahkan bisa naik turun tangga. Sehari itu bisa sampai 15 ribu sampai 25 ribu langkah. Daebak banget gak? Aku kalau pulang traveling luar negeri pasti berat badan aku turun. Gimana gak turun, jalan kaki tiap hari. 

Manfaat lain dari menggunakan public transport, kita bisa 'mendalami peran' sebagai warga lokal, hehe. Jalan kaki juga bisa membuat kita lebih banyak melihat sekeliling kita yang mungkin kalau kita naik mobil atau bus pribadi bisa terlewatkan. 

Misal waktu aku ke daerah Gwanghwamun Square, aku bisa ikut merasakan kampanye kandidat presiden Korea Selatan dan melihat Kang Ho Dong (walaupun dari jauh) yang lagi syuting variety show. Gak sengaja ketemu aktor drama (waktu itu belum terkenal banget) di Ewha University dan sebelahan sama Jackson (waktu itu masih member Got 7) di subway antar terminal di Bandara Incheon. Bisa juga dengerin obrolan orang Indonesia di kereta yang mungkin gak sadar atau gak tahu aku juga orang Indonesia. Hahaha! Seru, Seru, Seru!! 

Live My Way, Traveling Ke Waerebo Cara Aku Bareng Traveloka

Sebenarnya sejak tahun 2022, aku sudah ngelist dua tempat yang pengen aku datangi di tahun 2023 ini. Jepang di musim gugur dan Labuan Bajo di musim kemarau. Pas aku lagi browsing-browsing harga tiket dan hotel untuk kedua tempat itu di Traveloka, salah seorang teman aku bilang,"Kayaknya kalau ke Labuan Bajo itu ada open tripnya, deh! Cari aja di tab Xperience di website atau aplikasi Traveloka kamu di hape." 

Mmh.. paket trip, kedengarannya cukup menggoda aku sebagai 'si paling traveling mandiri' ini. Traveling ke Labuan Bajo itu identik dengan naik kapal Phinisi dan mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya. Sebenarnya bisa aja sih, pas sudah tiba di Labuan Bajo, aku ke pelabuhannya nyari kapal yang akan berangkat. Pasti ada tuh yang kurang satu atau dua orang. Hanya saja setelah aku pikir-pikir, kok semakin ke sini aku merasa hidup itu jangan terlalu dibuat sulit lah. Kalau ada yang open trip dan masuk akal juga harganya, kenapa gak? 

Waerebo, Konservasi Warisan Budaya Asia Pasifik


Mulailah aku browsing di Xperience by Traveloka dan dapat beberapa paket trip ke Labuan Bajo. Ketika scrolling di apps Traveloka itu lah, gak sengaja terbaca 'Trip ke Waerebo". Desa Wae Rebo adalah sebuah desa yang oleh UNESCO dijadikan sebagai  konservasi warisan budaya Asia Pasifik. Lokasinya berada di pegunungan terpencil di Desa Denge, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Lokasi Kampung Satar Lenda ini sendiri berjarak kurang lebih 6 jam perjalanan menggunakan motor atau mobil dari Labuan Bajo. Duh, langsung teringat pengalaman motoran keliling Lombok berdua dengan bestie aku (cewek loh ya!). Keknya seru, nih! 

Waerebo


Apalagi buat kita yang suka traveling sehat dan bukan tipe manja. Soalnya menuju Desa Waerebo itu harus jalan kaki alias tracking beberapa kilometer di tengah hutan. Jalurnya sih cukup aman walaupun memang tidak senyaman tracking di Korea atau Jepang. Tapi lumayan banget, jalan dan nanjak di atas tanah khas hutan gitu. Wae Rebo yang berada di lembah diantara pegunungan, jadi harus berjalan kaki dengan medan bervariasi mulai dari jalanan berbatu, jalan tanah yang menanjak hingga melewati sungai dengan jembatan bambu. Namun untuk pemandangan desa di atas awan, ya boleh aja sih! 
Nah, aku tuh tahu dari nonton vlognya Leonardo Edwin di Youtube pas dia traveling sendiri ke Waerebo. Dia naik motor sewaan dari Labuan Bajo selama 6 jam sampai ke Desa Denge. Beli makan di warung pinggir jalan tapi lalu nasinya jatuh berhamburan di jalan dan gak bisa di makan lagi. Akhirnya numpang makan di rumah warga dan naik ojek dengan tarif 50 ribu sampai ke pos pertama. 

Tracking sendiri di hutan menuju desa Waerebo sekitar 1 jam 50 menit. Tiba di desa Waerebo bayar 350rb untuk biaya makan dan tidur  rame-rame dengan traveler lainnya. Turun kembali ke desa, naik gojek 50 ribu lagi. Pulangnya naik motor lagi ke Labuan Bajo. Keliatannya seru dan tidak terlalu mahal biayanya. Kepikiran banget untuk trip sendiri aja. 

Sampai kemudian ada kejadian, ban motornya kempes dua kali. Dari yang tadinya turun paling pagi dari Waerebo menjadi orang yang paling terakhir meninggalkan desa Denge. Hahaha.. Wadidaw! Kepikiran karena aku pasti selalu traveling berdua sama cewek. 

Dulu memang sempat motoran berdua keliling Lombok sampai ke Bali berdua dengan teman cewek. Tapi kan kondisi jalan Lombok dan Bali itu masih lebih tourist friendly, sementara Waerebo ini tampaknya masih sangat asli. Jalan ke desa Denge nya aja masih banyak yang berbatu-batu dengan jembatan dari kayu. Haduh haduh.. pantesan ban motor Leo sampai jebol gitu. Serem juga kalau kejadian dua cewek mendorong motor di jalan, hehehe. 

Rencanakan Liburan di Traveloka


Makanya, aku memutuskan, kali ini aku akan ambil grup trip ke Waerebo lewat Experince di Traveloka. Aku mulai menulusuri paket-paket trip di Traveloka Experience dengan kata kunci Waerebo. Lumayan banyak juga dengan pilihan harga yang beragam. Untuk trip 2 Hari 1 Malam harga berkisar antara Rp. 1.700.000 - Rp. 2.550.000 tergantung fasilitasnya.  

Trip ke Waerebo


Bagusnya Xperience by Traveloka ini, selain ada informasi tentang tempat wisata tersebut juga dilengkapidengan apa yang akan kita lihat dan lakukan di tempat itu, itinerary yang jelas, fasilitas yang didapatkan termasuk juga review dari traveler-traveler lain yang sudah pernah mencoba paket trip Xperience tersebut. Tinggal tentukan tanggal kedatangan dan selesaikan transaksi pembayaran semudah kita beli tiket atau pesan hotel di Traveloka. 

Nah, mudahnya lagi, aku tuh bisa sekalian booking tiket dari Makassar-Bali- Labuan Bajo pulang pergi sekaligus pesan hotel di Labuan Bajo di Traveloka juga.  Biasanya juga Traveloka itu ada kupon atau kode voucher untuk diskon tiket pesawat atau hotel. Mantap banget kan? Lumayan bisa hemat dipake jajan di bandara, hehehe. 


Tiket ke Labuan Bajo


Kalau semudah ini sih, kayaknya aku akan ikut grup trip aja lewat Xperience Traveloka. Gak melulu harus full traveling mandiri. Prinsip aku sih, ikuti kata hati aja jalani hidup dengan cara kamu sendiri #LiveYourWay kalau memang lokasi yang kita tuju masih 'pure' gak ada salahnya kok pesan trip dan rasakan traveling bareng di Xperience Traveloka. 

Toh, paketnya juga ada acara bebasnya di desa Waerebo. Selain bisa menikmati indahnya alam ciptaan Allah SWT. aku juga bisa berinteraksi dengan warga lokal dan sesama traveler pula dengan pilihan travel agent yang terpercaya di Traveloka. Sesekali jalan rame-rame, kayaknya seru juga, ya kan? 

Gitu deh, cara aku traveling. Kamu sudah ada rencana traveling tahun ini? Pastinya lebih seru rencanakan liburan di Traveloka dong! Yuk, share di kolom komen ya rencana kamu! 


Pengalaman Umroh 2022 Setelah Pandemi ( Part 2 )

Air Mata yang Tak Terbendung di Tanah Haram 

Saya yakin semua jemaah yang datang ke tanah Haram entah itu di Madinah maupun Mekkah merasa haru di dalam hatinya. Entah disadari atau tidak, bisa disembunyikan atau sulit untuk dibendung, ketika berada di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, adalah air mata setetes dua tetes bahkan mungkin mengalir tanpa henti di pipi. 

Perasaan itu membuncah ketika melantunkan Talbiyah dalam perjalanan menuju Mekkah setelah mengambil miqot di Bir Ali dan makin tak tertahan lagi ketika menapakkan kaki di Masjidil Haram. Begitu menuruni tangga di gerbang King Fadh, bagian atas Ka'bah sudah bisa terlihat. Entah bagaimana kata yang tepat untuk menggambarkan perasaa saya. Rasa haru, takjub, syukur, hingga takut, bercampur menjadi satu. 

Iyah, saya merasa takut sekali. Begitu banyak dosa yang sudah saya perbuat, saya masih diizinkan Allah SWT menjadi tamunya dan menginjak tanah HaramNya. Saya takut dengan segunung dosa saya ini, apakah saya cukup pantas beribadah di sini. Terbayang Allah SWT merentangkan pelukannya,"Ayo, masuklah! Sini! Kemari! It's ok, don't be afraid. I still love you." 

Membayangkannya saja sudah membuat mata berkaca-kaca dan tak terasa selama tujuh putaran thawaf air mata saya jatuh berderai. Teman-teman segrup ketika melihat saya menangis tak berhenti sampai thawaf selesai mungkin berpikir,"Nih orang dosanya apa aja sih sampai segitunya?" Hahahaha.. 

Jujurly, tidak hanya dosa yang saya pikirkan tapi juga sadar betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah SWT meskipun banyak kali maksiat yang saya lakukan. Cape, lelah dengan segala perduniaan ini. Gak ada doa yang bisa saya baca selain doa mohon ampun untuk orang tua dan selamat dunia akhirat. 
Serius, sampai saat tulisan ini saya buat saya masih bisa nangis. 

Masya Allah Tabarakallahu, setidaknya hati saya gak sebebal bebal itu ternyata. Kupikir saya sudah mati rasa karena dosa sudah terlalu banyak. 




Kami melakukan umroh jam 12 malam. Saat itu Jemaah yang thawaf tidak sepadat yang saya bayangkan. Kami benar-benar dimudahkan berada di putaran bagian dalam, dimana kami bisa jelas melihat Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Meskipun belum ada jemaah yang diizinkan untuk menyentuh Hajar Aswad ataupun sholat di Hijr Ismail, tetap saja kata tour leader kami, thawaf kali ini sangat lancar dan terasa mudah.  Alhamdulillah. 

Tahapan selanjutnya setelah Thawaf adalah sholat dua rakaat di depan Maqam Ibrahim. Setelah itu dilanjutkan dengan minum segelas air Zam Zam sambil berdoa menghadap Ka'bah. Sebenarnya tidak ada doa yang diajarkan oleh Rasullah SAW saat meminum air Zam Zam. Semuanya kembali kepada yang meminumnya, karena air Zam Zam akan mengikuti niat dari peminumnya. 

Namun ada doa yang diriwatkan oleh Ibn Abbas RA dan ini yang terkenal di kalangan jemaah Umroh dan Haji. Doa tersebut adalah: "Allahumma innii as'aluka ilman naafian wa rizqan waasi'an wa syifaa'an min kulli daa'in wa saqomin birahmatika ya arhamarrahimin." Artinya: "Ya Allah aku mohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan sembuh dari segala penyakit. 

Airnya jangan diminum sampai habis. Sisakan beberapa tetes untuk membasuh wajah dan kepala. Setelah itu, bersiap menuju bukit Safa untuk melaksanakan Sa'i melintasi jalur Safa dan Marwah sebanyak tujuh lintasan. 

Sa'i, Merasakan Cinta Ibu Kepada Anaknya 


Saat mempelajari rukun umroh, Sa'i adalah salah satu rukun yang menarik bagi saya. Sa'i secara harafiah artinya berjalan dengan bergegas. Hal ini dimulai oleh Siti Hajar, ibu dari Nabiyullah Ismail berjalan secara bergegas antara Shafa dan Marwah sejauh 405 meter. 

Beliau Berharap untuk dapat memperoleh air untuk sang anak yang menangis. Beliau mendaki bukit terdekat, Shofa, untuk melihat barangkali saja ada pertolongan atau air di dekat situ. Namun Ia tidak melihat siapapun di sana. 

Beliau kemudian berjalan bergegas ke bukit Marwah dengan harapan dapat melihat ke tempat yang lebih luas. Tetapi dari bukit itu pun tak tampak apa yang dicarinya.  Siti Hajar pun  terus bolak-balik sambil berlari di atas panasnya pasir gurun sampai tujuh kali balikan seraya berdoa kepada Allah SWT. 

Atas izin Allah SWT, saat Siti Hajar tiba kembali ke tempat Ismail, ia melihat air telah memancar dari tanah di dekat kaki bayi yang sedang menangis itu. Masya Allah.. 

Sa'i tidak hanya sekedar rukun umroh/haji yang harus dilakukan berjalan kaki bolak balik tanpa tahu maknanya. Ada cinta seorang ibu kepada anaknya, ada hikmah untuk berusaha dan berdoa, ada hikmah bahwa hasil dari usaha kita membutuhkan waktu dan bisa jadi apa yang kita inginkan tidak selalu terkabul melalui diri sendiri, bisa jadi melalui orang lain. 

Siti Hajar telah berusaha dan berdoa berlari lari kecil ditengah teriknya gurun, bolak balik naik turun bukit demi air untuk Ismail. Ternyata sumber air didapatkan saat Ismail menghentak-hentakkan kakinya. Dilihat dari maknanya, kata Shafa berarti kejernihan, sedang Marwah adalah kepuasan. Artinya, bahwa suatu sa’i (usaha) musti dimulai dengan niat yang jernih sehingga akan mendapatkan kepuasan. 

Ketika melakukan ibadah Sa'i, Jamaah disunnahkan untuk membaca doa. Tidak ada doa yang spesifik, namun disunnahkan untuk membaca Laa ilha illallah wahdu lasyarikah, lalu takbir “Allahu Akbar”. Dan saat berada di bagian bawah antara kedua bukit itu (terutama di bathnul waadi/antara dua lampu hijau)disunnahkan membaca doa: 

“Robbighfirwarham wa’fu watakarrom wa tajaawaz amma talam innaka ta’lam ma laa na’lam innaka antallahul azzul akram.

Artinya: “Ya Tuhanku ampunilah, sayangilah, maafkankan, muliakanlah, hapuskanlah (kesalahan) yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia”.

Perjalanan antara Shafa dan Marwah mengandung pengertian memohon pertolongan kepada Allah dalam menghadapi kesulitan, dan memohon ampunan dari seluruh perbuatan dosa. Sehingga jarak 405 meter yang dilalui menjadi sekitar 3,15 Km ini bisa jadi terasa melelahkan, apalagi bagi yang sudah sepuh atau yang langsung melaksanakan umroh setelah melakukan perjalanan cukup jauh dari Madinah ke Mekkah. Namun, jika dilakukan dengan penuh kesadaran atas inti Sa'i, Insya Allah diberi kenikmatan dalam melaksanakannya. 

Alhamdulilah jalur Sa'i sudah difasilitasi sehingga lebih nyaman melintasinya. Lantai adem, AC dan kipas angin beruap bahkan bagi para Jamaah yang fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan sejauh 3,15 Km, disediakan penyewaan kursi roda dan motor listrik. Jika haus dalam menempuh perjalanan bolak balik Shafa dan Marwah, banyak disediakan deretan tangki air zam zam. 

Dibandingkan perjalanan Sa'i yang dilakukan ibunda Siti Hajar, ini tentu saja tidak ada apa-apanya. Sungguh, nikmat Allah SWT mana lagi yang kamu dustakan? 


Tahallul, Kembali Halal 

Setelah mengharu biru di prosesi Thawaf dan Sa'i, tibalah saat untuk melakukan Tahallul. Prosesi ini adalah  keadaan seseorang yang telah dihalalkan untuk melakukan rangkain kegiatan atau perbuatan yang sebelumnya dilarang selama menjalankan ihram. Rangkaian ini ditandai dengan cara mencukur atau menggunting beberapa helai rambut kepala, minimal tiga helai. 

Begitu selesai melakukan Tahallul, seketika aku merasa lega. Setidaknya, dari point of view aku, semua tahapan sudah aku lakukan tanpa ada gangguan, aman dan lancar. Paling penting sih, bisa menjaga supaya gak kentut pas melaksanakan Thawaf. Serius, ini aku aja heran. Mungkin karena saat perjalanan dari Madinah ke Mekkah, aku minum kopi dan mobilnya serius dingin banget AC nya. Jadinya perut kembung. 

Begitu tiba di Mekkah, setelah mandi wajib dan mengambil wudhu sebelum berangkat ke Masjidil Haram, aku tuh jadi sering kentut. Aku  mengulang wudhu sampai tujuh kali sampai pengen nyerah aja rasanya, minta umrohnya besok aja. 

Beneran deh, Setan itu emang ada di mana-mana. Makin pengen kita dekat sama Allah SWT, makin semangat dia menggoda kita. Alhamdulillah teman-teman sekamar dan team leader selalu mengingatkan untuk istigfar dan bersabar jika terjadi hal seperti ini. Kalau enggak, mungkin Aku sudah putus asa. 

Do'a adalah kunci. Jadi Aku berdoa, semoga wudhu aku gak batal selama menjalankan tahapan umroh. Semoga ibadah lancar dan semoga diterima Allah SWT. Alhamdulilah, setelah prosesi umroh dijalankan, barulah wudhu aku batal. Hahaha... 

Tahalul Umroh


Next, aku akan share pengalaman yang seru seru dengan teman-teman se grup Umrog di postingan berikutnya. Komen di bawah ya jika ada pertanyaan. Jangan lupa share postingan ini ke teman-teman kamu dan semoga yang baca disegerakan Allah SWT menuju Baitullah. Aamiin. 

Sampai bertemu di postingan berikutnya! 


Pengalaman Umroh di Tahun 2022

Bismillahırahmanirahim.. 

Dari sekian banyak bucket list yang saya susun, melaksanakan Ibadan Umroh berada di posisi kedua, tentunya setelah ibadah Haji. Sudah diimpikan sejak lama, didoakan disetiap masa, diusahakan menyisihkan uang dalam rekening bank syariah, demi apa? Demi berangkat ke Tanah Suci. Sehedon-hedonnya saya, masih tahu dirilah saya jadi hamba. 

Saya saja sampai sekarang masih tidak percaya akhirnya bisa menginjakkan kaki ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Malah sempat berkunjung ke kota Thaif dan mampir sebentar di kota Jeddah. Apalagi di masa pandemi yang belum berakhir, dimana banyak sekali protocol kesehatan yang harus dijalani. Bukan saja berimbas pada jumlah biaya yang barus dikeluarkan tetapi juga waktu yang barus disiapkan. 

Umroh di masa Pandemi



Sebelum pandemi, rata-rata biaya umroh sekitar 12-15 jutaan rupiah. Saat pandemi, melonjak hingga dua kali lipat. Masa karantina ikut memotong atau ditambahkan dalam masa umroh, ditambah pula sempat kejadian pernah dibolehkan untuk Umroh tapi saat mendaftar malah pelaksanaan Umroh dibatalkan oleh pemerintah. Akhirnya makin banyak yang mengurungkan niat untuk melaksanakan ibadah. 

Namun benar juga apa kata ulama dan orang saleh, melaksanakan Ibadah Haji atau Ibadah Umroh itu bukan karena punya uang atau mampu secara finansial.  Ini semata-mata karena Allah SWT memampukan orang-orang yang dipilihnya. 

Banyak yang mampu, tapi gak berangkat-berangkat juga. Ada yang mampu, tapi berangkatnya bukan karena hartanya tapi lewat jalur gratis. Ada yang kelihatannya susah bener ngumpulin duitnya karena ada-ada aja pengeluaran mendadak, tiba masa Umroh dibuka kembali malah dimampukan. 

Saya mendaftar di bulan Februari 2022, untuk keberangkatan tanggal 9 Maret 2022 dengan pesawat Garuda Indonesia. Urusan pervaksinan mulai dări vaksin covid 1&2 sampai Vaksin Menginitis selesai di bulan Februari. Dokumen-dokumen sudah lengkap, tersisa beberapa perlengkapan baju selama umroh yang belum kelar. 

Passport dan Visa Umroh



Tetiba ada kabar, jadwal keberangkatan dimajukan. Masya Allah! Biasanya yang kejadian keberangkatan ditunda atau dibatalkan, ini malah dimajukan menjadi tanggal 7 Maret 2022. Panik dong.. secara beberapa baju belum kelar dipermak dan Perlengkapan yang dipesan online masih otw. Belum dilaundry, belum dipacking. Panik? ya panik lah! 

Alhamdulillah banget, Penjahit bisa menyelesaikannya lebih cepat dan laundry bisa terhandle sehingga semua perlengkapan bisa dipacking ke koper sebelum Manasik Umroh. Siap-siap mau berangkat nih, eh tetiba dapat kabar lagi, karantina di Madinah ditiadakan.  Alhamdulillah. Nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan? 

Pengalaman Umroh 2022 saat Pandemi 

Sebelumnya sudah dijadwalkan bahwa akan ada karantina selama satu hari di Jakarta sebelum berangkat ke Madinah. Begitu pun sudah dikabarkan bahwa akan ada karantina lagi selama lima hari setelah tiba di Madinah. Saat mendaftar berangkat Umroh, sudah tau sih risikonya akan lebih banyak ngedon di kamar hotel akibat karantina. Makanya banyak orang-orang yang tau saya berniat umroh, menyarankan agar niat saya dibatalkan dulu aja. "Rugi kamu, mending tunggu aja setelah pandemi,"kata mereka lebih kurangnya begitu. 

Dipikir-pikir memang sangat sangat menghabiskan waktu. Bayangkan, dari yang umumnya 12 hari ibadah umroh termasuk perjalanannya, waktu ibadah harus dipotong masa karantina lima hari. Setelah ibadah umroh selesai, jemaah masih harus nambah lima hari lagi untuk karantina di Jakarta. Total hari yang diperlukan sekitar 22 - 28 hari. Gimana ngurus cutinya ini? 

Bermodal nekad dan keinginan kust, pokoknya tabun ini harus umroh apapun yang terjadi, saya berdoa kepada Allah SWT untuk dimudahkan. Semoga diizinkan Kepala Kantor untuk mengambil cuti alasan penting dengan alasan Ibadah Umroh yang Pertama. Alhamdulilah, kantor tidak mempermasalahkan meski permintaan cuti yang saya ajukan adalah 22 hari sesuai rundown penyelenggara Umroh. Urusan cuti beres, pekerjaan aman, terbanglah saya ke Jakarta dengan Garuda Indonesia. 

Ketika di perjalanan, dapat kabar, kami tidak perlu menginap di Jakarta untuk karantina sebelum diberangkatkan ke Madinah. Alhamdulillah... Jadi, setelah landing di CGK terminal 3, saya dan rombongan langsung cuzz ke hotel transit untuk istirahat beberapa jam lalu kemudian balik lagi ke CGK terminal 3. Kali ini menggunakan pesawat Saudia Airlines. 

Leaving On The Jet Plane To Madinah Al Munawwarah 


Berhubung sehari sebelumnya gak bisa tidur karena feels so excited berangkat umroh dan penerbangan Makassar - Jakarta itu pesawat pagi yang membuat saya harus standby di bandara jam 4.30 pagi, begitu duduk manis dan pesawat sudah melewati critical eleven, langsung bablas tidur. Cuma sempat bangun untuk terima 'paket' dari mba mba pramugari, sholat jama' magrib dan isya, makan dan abis itu tidur lagi. Gitu aja terus sampai badan pegel dan pesawat landed di bandara Prince Mohammad Bin Abdul Aziz di Madinah. 

Berangkat 19.00 WIB dan landed di Madinah sekitar pukul 01.00 waktu setempat which is empat jam telat dibandingkan Waktu Indonesia Bagian Barat. Total perjalanan sekitar 9-10 jam dari Jakarta menuju Madinah. Mengingat waktu perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, sebaiknya dzikir saja sampai ketiduran. Banyak-banyakin shalawat juga karena kita akan bertamu ke kota Rasullullah Muhammad SAW. 

Bandara di Madinah



Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi yang tidak terlalu lama (mungkin karena jalur umroh) dan bagasi yang sudah dihandling travel, pukul 02.00 saya dan rombongan melenggang kangkung keluar dari bandara Prince Mohammad Bin Abdul Aziz. 

Rombongan lalu menuju ke hotel Al-Andalus yang letaknya segaris lurus dengan gerbang 338 Masjid Nabawi. Ini sebenarnya bukan hotel yang dijanjikan oleh travel agent sih. Alasannya pihak Muasasah di Saudi yang memindahkan kami ke hotel ini. Wallahua'lam. Saat ini belum banyak hotel bintang empat yang beroperasi. Lagipula lokasi hotel Al-Andalus ini juga cukup strategis. View kamarku pun juga cukup menarik. Oke lah, no complain! 

Masjid Nabawi dari Jendela Kamar

Sesuai jadwal, kami berada di Madinah selama kurang lebih 6 hari. Alhamdulillah, selama itu pula kami dimudahkan dalam beribadah di Masjid Nabawi dan melakukan city tour ke tempat-tempat bersejarah di kota Madinah tanpa karantina dan PCR. 

Meskipun tetap harus menggunakan masker, namun tidak ada pemberlakuan jaga jarak, bahkan saat sholat. Makin rapat barisannya, makin bagus. Malah jemaah Indonesia yang paling sering ditarik-tarik untuk merapatkan barisan sholat. Mungkin karena kebanyakan dari jamaah masih mengikuti protokol kesehatan di negara kita Indonesia yang tercinta, yang mau sholat tarawih aja nanti harus vaksin booster. 

Masjid Quba

Pemerintah Arab Saudi bukannya tidak lagi melaksanakan protokol kesehatan dengan membolehkan jemaah berdesak-desakan. Untuk urusan sholat, memang sudah tidak lagi ada jarak. Tetapi untuk masuk ke tempat-tempat tertentu yang pasti padat jemaah, mereka memiliki sistem sendiri. 

Contohnya untuk masuk ke Raodah di Masjid Nabawi, setiap grup harus memiliki surat izin di mana tertera tanggal, waktu dan jumlah rombongan. Jika tidak memiliki surat tersebut atau tanggal, waktu dan jumlah jemaah di rombongan tidak sesuai, maka wassalam! Gak bakal bisa masuk beribadah di Raodah. 

Ini yang saya beserta rombongan alami waktu itu. Entah bagaimana, barcode di surat izin kami sudah digunakan oleh orang lain dua bulan lalu. Entah salah siapa juga, rombongan kami mendapatkan barcode 'bekas pakai'. Entah mau nyalahin siapa juga akhirnya rombongan kami batal masuk Raodah. Bahkan saya dan seorang teman di rombongan, nekad untuk nyelip-nyelip di rombongan orang lain pun tidak lolos di dua gate pemeriksaan terakhir. 

Subhanallah.. memang mungkin belum rejeki kami untuk beribadah di Taman Surganya Rasullah Muhammad SAW. Pun sudah qadarullahnya kami tidak bisa menziarahi makam Rasullah dan para sahabat, Saydina Abu Bakar Ra dan Saydina Umar bin Khattab, Ra. Kami hanya bisa memandang Kubah Hijau Masjid yang berpendar di depan kami dengan air mata yang diam-diam menetes seraya mengucap salam dan shalawat. Salamu Alaika Ya Rasullah wa rahmatullahi wa barakatu. Allahumma Shalli Ala Nabiyina Muhammad wa ala ali Nabiyina Muhammad. Salamu Alaika ya Sahabatullahu wa rahmatullahi wa barakatu. 

Air Mata yang Tak Terbendung di Tanah Haram 

Lanjut di Part 2. 

Traveling di Era New Normal

Sejak negara api menyerang dan Pembatasan Sosial dalam Berskala Besar atau PSBB, praktis kegiatan bepergian ke satu tempat ke tempat lain entah itu untuk traveling atau urusan pekerjaan pun menjadi ambyar. Selamat tinggal liburan. Cuti pun harus diperjuangkan, apalagi untuk ASN seperti saya. Boro-boro cuti, perjalanan dinas saja penuh pertimbangan. 

Bukan apa-apa, syarat untuk melakukan perjalanan entah itu urusan pribadi ataupun dinas memerlukan beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Itu tentu membutuhkan biaya. Ya alhamdulillah jika perjalanan itu untuk urusan dinas kantor. Otomatis bisa masuk ke dalam biaya perjalanan dinas karena berdasarkan surat tugas. Kebayangkan jika ini urusan pribadi semacam traveling. Tentunya pikir-pikir dulu. 

Awal bulan Juli 2020 ini Aku ditugaskan perjalanan dinas ke kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Senang, iyah pasti! Tapi ternyata ada beberapa hal yang perlu aku siapkan dan harus dijalani. Menurut aku, ini penting juga untuk teman-teman ketahui.  Apa saja kah itu? 

5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Traveling di Era New Normal 




1. Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Rapid Test nya bisa dilakukan di Rumah Sakit. Aku waktu itu melakukan Rapid Test di Rumah Sakit Mitra Mamuju dengan biaya Rp.460.000. Muaaahal yaa! Iyah! Pertama, petugas mengambil darah sebanyak 1 ampul dan aku harus menyetorkan KTP asli. Jika hasil rapid test dinilai reaktif, harus test swab yang tentunya biayanya lebih mahal dan waktu untuk mendapatkan hasilnya lebih lama. Alhamdulillah, hasil rapid test aku negatif jadi aku gak perlu di swab test. Hasil rapid test beserta surat keterangannya selesai kurang lebih satu jam.  

Surat ini diperlukan sekali, apalagi jika perjalanannya menggunakan pesawat. Untuk Rencana berangkat dari Mamuju  hari Jumat tengah malam lewat darat karena harus ke Makassar mengejar pesawat siang keesokan harinya ke Gorontalo. Berarti ada tiga pos Gugus Tugas yang harus aku lewati. Pos Gugus Tugas di kota Polman, perbatasan provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Kedua di Pos Gugus Tugas kota Pare-Pare di Provinsi Sulawesi Selatan dan yang ketiga di Bandara Sultan Hasanuddin sebelum check in. Dengan surat ini, bisa dibilang 50% dari prosedur perjalanan di era new normal sudah dikantongi. 

2. Legalisir Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Apakah setelah memiliki Surat Keterangan Hasil Rapid Test kita sudah bisa melenggang dengan bebasnya? Tunggu dulu Ferguso! Meski di surat keterangan tersebut sudah ada tanda tangan dokter dan penanggung jawab di rumah sakit tempat kita memeriksa, surat keterangan tersebut harus di legalisir di posko Gugus Tugas. Ada stempel, ada paraf, perlu ngantri. Gak ribet-ribet banget sih, cuman ngantrinya itu loh. Sudah panjang, rame dan kadang orang-orang yang pengen melegalisir gak ngerti ngantri dengan tatanan baru. Jaga jarak mas bro...!! Gak heran tentara perlu diturunkan untuk menertibkan antrian.  



3. Memiliki Akun di  Aplikasi eHAC Indonesia 

Ini dia yang paliiiiiingggggg memakan waktu selain legalisir surat keteranga hasil rapid test. Aplikasi eHAC Indonesia atau electronic Indonesia Health Alert Card. Setiap penumpang penerbangan diwajibkan mengisi data diri dan data perjalanan dari dan menuju ke mana melalui aplikasi ini. Untuk calon penumpang yang gak gatek sih bisa dengan mudah dan cepat. Toh bisa diisi sebelum tiba di bandara. 

Sementara untuk pejalan dari era kolonial, urusan aplikasi di gadget bisa memakan waktu lama selain memang kurang paham. Di bandara Gorontalo, petugasnya masih mau ngebantuin mengisi data di aplikasi. Tetapi di bandara Hasanuddin Makassar, sebelum masuk ke antrian tentara yang bertugas sudah memeriksa dan tidak membantu mengisi aplikasi Hanya memberi instruksi harus mendownload di mana. Sisanya ya sesuai kemampuan Anda.  

eHAC


Aku bersyukur meski berusia 42, aku gak gaptek gaptek amat dan masih lincah untuk urusan technology. Berhubung saat perjalanan dinas aku bersama rombongan dimana aku yang paling muda, akhirnya aku yang mengisikan data para peserta perjalanan dinas melalui satu akun saja. Ini tentu saja memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah cukup membuat satu akun saja di aplikasi eHAC. Satu orang yang memiliki akun adalah pelancong utama dan selebihnya menjadi pengikut dengan status yang disesuaikan, apakah keluarga, kenalan atau travel agent. Kekurangannya adalah, pada saat antri keluar dari bandara yang dituju, peserta yang datanya ada di aplikasi tersebut sebaiknya harus berendengan. Jika terpisah, maka akan memperlambat proses antri keluar. Kasian yang ngantri di belakang kita. 

4. Sediakan Waktu Untuk Mengantri dan Check In di Bandara  

Traveling di era new normal memang berbeda. Dulu kita bisa tiba di bandara selambat-lambatnya sejam sebelum berangkat. Itu juga belum check in, belum masukin bagasi. Sekarang, tunggu dulu Markonah! Pelancong setidaknya harus berada di bandara paling lambat dua hingga tiga jam sebelumnya. Antrian yang mengular, proses pengecekan surat-surat untuk izin terbang dan proses check in pun kini memerlukan surat rapid test yang sudah dilegalisir segala. 




Meski ada kemungkinan dipersilahkan memotong antrian untuk penerbangan yang sudah sejam lagi akan boarding, tetapi tetap saja ada kemungkinan telat di bagian check in penerbangan especially jika kamu punya bagasi. So, make sure to spare some time. 

5. Membawa Masker dan Hand Sanitizer 

Ini penting, PENTING BANGET! Berada dalam ruangan tertutup ber AC selama lebih kurang 2 hingga 3 jam di pesawat, bahkan di ruang tunggu bandara, kita mau gak mau bersama dengan sekumpulan orang-orang yang belum tentu peduli dengan protokol kesehatan. Kebanyakan orang memang membawa masker, tapi menggunakannya secara baik dan benar belum tentu. Tidak semua orang juga dalam keadaan sehat. 

Meski tidak diperlihatkan, bisa jadi karena takut diseret ke ruang karantina, ada juga loh pelancong yang batuk dan pilek. Mereka tidak semuanya menghalangi batuk dan bersinnya dari orang-orang dengan cara menutupi dengan masker atau tissue. Lebih banyak batuk dan bersin sesukanya aja, malah membuka maskernya. Tangan pun tidak dibersihkan setelahnya. Jadinya, kita yang benar-benar extra hati-hati dengan selalu jaga jarak, menggunakan masker, ganti masker jika sudah batuk, bersin atau sudah lebih dari 8 jam. Sering-sering cuci tangan atau membersihkan dengan hand sanitizer. It seems a little paranoid, but believe me it helps. 



Nah, itu dia 5 hal yang perlu dipersiapkan saat traveling di era new normal berdasarkan pengalaman aku. Kamu punya pengalaman juga? Yuk, share tips kamu di kolom komentar!  

Kampung Pelangi, Melihat Warna Warni Semarang dari Ketinggian

Semarang masih menyisakan petang ketika akhirnya aku keluar dari hotel tempat menginap. Tujuan pertama adalah Kampung Pelangi. Tempat ini adalah salah satu spot pariwisata kekinian Semarang yang cukup viral. Letaknya di Jl. DR. Sutomo No.89, Randusari, Kec. Semarang Sel Kota Semarang. Di depannya berjejer penjual bunga segar dan hias untuk papan ucapan maupun buket. Terlihat asri dengan wangi bunga sayup sayup sampai tercium walaupun terkadang bergantian dengan bau dari kanal yang menyeruak. Padahal kanalnya sudah lumayan bersih,loh! 

Eniwei... Kampung Pelangi ini sedikit banyak mengingatkanku pada Ihwa Mural Village di Seoul, Korea Selatan. Selain karena lokasinya adalah perumahan penduduk yang dindingnya dihias lukisan mural nan artistik, konturnya pun nanjak abis. Harus kuat naik tangga. Untungnya tangga-tangga di Kampung Pelangi tidak sebanyak dan sejahannam tanjakan di Ihwa Mural Village, tapi lumayan lah buat olahraga sore. Siapin betis dan paha yang kuat aja ya, kak! Oiya, jangan lupa napas yang panjang.  




Awalnya Kampung Pelangi ini adalah perkampungan kumuh. Pemerintah Kota Semarang akhirnya menata perkampungan ini  agar terlihat menarik dan bersih. Menurut penduduk yang sempat aku temui, masing-masing rumah mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk membeli cat sedangkan untuk pengerjaan  mural dilakukan mandiri. Warnanya terserah, motif muralnya pun tergantung selera yang punya rumah. Pokoknya kelihatan menarik dan enak dipandang mata. 

Memang ada beberapa spot dimana pengerjaan muralnya dilombakan, ada pula dikerjakan khusus oleh anak muda kreatif yang bukan penduduk Kampung Pelangi. Apapun perkampungan ini pun bagai disulap menjadi tempat yang berseni dan jauh dari kesan kumuh. Mungkin karena diperlombakan dan mendapar bantuan dana, penduduk setempat pun makin semangat menghias rumah dan pekarangannya. Selain mural, hiasan-hiasan seperti lampion, payung-payung kertas mempercantik bagian atas jalan. Buat kamu yang suka foto-foto atau pengoleksi konten, Kampung Pelangi cocok banget jadi lokasi foto-foto instagram. Bahkan beberapa penduduk mengkhususkan halaman rumahnya menjadi spot foto yang instagramable. Tentu saja tidak gratis, tapi gak mahal kok! 




Dari sekian banyak spot Instagramable di Kampung Pelangi, ada satu spot yang menjadi favorit aku. Letaknya berada di bagian paling atas perkampungan dan menjadi lokasi penempatan nama Kampung Pelangi. Lumayan ngos ngosan juga untuk mencapainya, tapi begitu sampai di atas pemandangan yang disajikan luar biasa. Penampakan Kota Semarang berhias sunset dan langit bersemu jingga. Apalagi jika ada pesawat yang bergerak ke dan dari bandara, rasanya kayak sudah di drama Korea aja. Tak ada kebisingan yang terdengar, hanya suara angin dan sesekali suara unggas peliharaan warga. Kalau tidak ingat hari sebentar lagi gelap, masih betah nongkrong aku di sana. 

Oiya, saat menuju puncak (kek lagu ya..) Kampung Pelangi, mau tidak mau kita melewati jalan setapak menanjak di samping dan depan perumahan warga. Waktu sore adalah waktu di mana kebanyakan mereka duduk-duduk di depan rumah. Jadi sebaiknya jangan lupa permisi dan gak berisik. Pengalamanku dulu di Ihwa Mural Village, awalnya warga setempat senang-senang aja wilayahnya didatangi turis. Lama kelamaan dengan semakin banyaknya turis yang datang, mereka mulai merasa tidak nyaman. Beberapa turis terkadang lupa bahwa tempat yang mereka datangi ini meskipun menjadi objek wisata tapi tetap saja adalah wilayah perumahan. Mereka terkadang berisik karena terlalu heboh berfoto atau terlalu senang sehingga ngobrol keras-keras. Namanya juga kompleks atau perkampungan, orang-orang yang tinggal di situ tentu butuh ketenangan. Pada akhirnya dibuatlah pengumuman di beberapa titik untuk mengingatkan para turis agar tidak berisik. 

Saat aku berkunjung ke Kampung Pelangi, aku belum menemukan pengumuman atau teguran tertulis agar para pengunjung tidak berisik, sih. Mungkin karena pengunjung belum sebanyak turis yang datang ke Ihwa Mural Village di Seoul. Bisa jadi karena pendatang sudah tahu diri dengan kesopanan dan keramahan warga Kampung Pelangi. Meski begitu, tidak ada salahnya aku mengingatkan melalui tulisan ini. Ya siapa tahu ada yang berniat ke sana. Menikmati suasana boleh, tapi tetap harus jaga sikap ya gaes! 


Hari beranjak malam ketika aku memutuskan untuk mengakhiri eksplorasiku di Kampung Pelangi. Lampu-lampu mulai dinyalakan, adzan Magrib pun terdengar entah dari sudut yang mana. Aku pun mulai bergegas keluar dari kampung yang penuh warna. Terus terang aku tak tahu keluar dari pintu yang mana padahal aku butuh informasi itu agar pengemudi taksi online tidak salah menjemput. Untungnya mba mba di salah satu kios penjual bunga di depan Kampung Pelangi memberi tahu di titik mana pengemudi harus menjemputku. Ini mungkin adalah keramahan yang sederhana, namun bagi pendatang seperti saya hal itu adalah bentuk pertolongan yang penuh warna. Layaknya pelangi, seperti nama tempat ini. 

Semarang (Akhirnya) Aku Datang

Sepucuk surat undangan tiba di mejaku siang itu di awal Januari tahun 2020 ini. Bukan, ini bukan surat undangan pernikahan dari mantan. Ini adalah surat undangan rapat kerja dari kantor pusat. Tidak seperti biasa, kali itu rapat kerja diadakan di Semarang. Yes, Semarang!! 



Jelas saja aku excited. Sekian lama aku traveling dan business trip seputar pulau Jawa, belum pernah sekalipun aku menginjakkan kaki ke Semarang. Pernah diniatkan untuk liburan sekalian ke Karimun Jawa, malah batal. Sekalinya dipasrahkan, tiba-tiba ada undangan rapat. Alhamdulillah yah. Artinya meski dalam rangka kerja, setidaknya ada sedikit kemungkinan untuk mengeksplor kota Semarang di sela waktu tersisa. 

Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah ini, sudah sejak lama mengusik keinginan tahuku. Berawal dari sejak SMP membaca buku karya NH.Dini seperti Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami dan Sekayu untuk tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Tulisannya walaupun menggambarkan kota Semarang di jaman penjajahan Belanda dan Jepang, dalam pikiranku aku membayangkan seperti apa kota Semarang di jaman modern. Hawanya mungkin tidak seadem Sukabumi, bisa jadi selembab Makassar, tetap saja aku penasaran. Terlebih, aku tertarik mengetahui kota yang menjadi tempat kelahiran seseorang yang sempat singgah di hati. Iyah, sesederhana itu.  Sebuah kenangan akhirnya menggugah keingintahuanku hingga bertahun kemudian. 

Semarang (Akhirnya) Aku Datang !


Perjalan kutempuh dengan pesawat Wings Air dari bandara Tampa Padang Mamuju, transit ganti penerbangan di bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan akhirnya tiba di bandara Ahmad Yani, Semarang. Tidak ada penerbangan langsung dari Mamuju, selain karena airlinesnya terbatas hanya ada Wings dan Garuda Indonesia, ukuran pesawatnya juga kecil. Sementara penerbangan dari Makassar ke Semarang pun kebanyakan tidak ada penerbangan langsung. Rata-rata harus transit di Surabaya atau Jakarta. Satu-satunya penerbangan direct dari Makassar ke Semarang menggunakan Sriwijaya Air adanya di hari Minggu. Maka berangkatlah aku di hari Minggu meskipun rapat kerjanya hari Rabu. Terpaksa ambil cuti demi traveling yang ditandem dengan perjalanan dinas. 




Cuaca cerah ketika aku tiba di bandara Ahmad Yani setelah lebih kurang 2 jam perjalanan dari Makassar. Perasaan bersemangat sekaligus penasaran dengan bandara Ahmad Yani. Katanya bandara ini adalah bandara pertama di Indonesia dengan konsep floating airport dan Terminalnya pun dibangun dengan konsep eco airport dan go green. Tampaknya memang seperti itu karena aku melihat lebih banyak dinding kaca untuk penghematan listrik dan ruang terbuka hijau. Terminal kedatangannya juga tergolong luas dan bersih. Tempat pengambilan bagasi pun lebih lapang dengan display yang informatif sehingga penumpang pun bisa lebih nyaman menunggu bagasinya. Sungguh berbeda dengan bandara Sultan Hasanuddin yang meskipun katanya bandara internasional tapi kondisinya tidak menampakkan ke internasionalannya. 

Naik BRT Trans Semarang dari Bandara Ahmad Yani 


Anyway, mumpung masih sore dan bawaan aku hanya 1 koper kabin dan ransel laptop, aku memutuskan untuk mencoba BRT bandara menuju pusat kota. Moda transportasi seperti taksi bandara atau ojek online sebenarnya ada. Berhubung aku selalu penasaran dengan moda transportasi publik di setiap kota yang aku kunjungi, maka kuputuskan untuk naik BRT aja. Lokasi halte BRT terletak tak jauh dari pintu keluar kedatangan. Hanya menyebrang dan jalan sekitar dua menit maka tibalah aku di halte BRT. 




Jadwal antar satu bus dengan bus lain berkisar 30 menit. Maka beruntunglah aku karena aku tiba di saat sekitar sepuluh menit sebelum bus tiba. Sebelumnya aku membeli tiket di loket sambil memastikan halte tempat aku turun. Hotel tempat rapat kerja yaitu PO Hotel terletak di jalan Pemuda. Letaknya tidak begitu jauh dari Halte Pemuda Balaikota. Pun hanya tinggal menyebrang jalan ke Joglosemar travel shuttle bus jika hendak ke Jogja. Lebih asiknya lagi, aku hanya perlu membayar Rp.3500 alias tiga ribu lima ratus rupiah menuju pusat kota Semarang. Dibandingkan naik Taksi Bandara atau Taksi Ojol dengan tarif puluhan ribu tentu BRT lebih murah, yes? 

Moda transportasi ini tidak aku sarankan untuk kamu yang datang dengan grup apalagi jika teman-teman kamu bukan tipe traveler penikmat transportasi publik. Meski BRTnya cukup nyaman dan penumpangnya cukup tertib, kamu harus berganti bus di halte transit untuk pindah koridor. Menurutku itu sudah biasa dan sebenarnya tidak terlalu masalah. Toh gak perlu bayar lagi, cuma sekali itu aja bayarnya. Pembayaran bisa dilakukan tunai maupun non tunai dengan e-money. Mudah, tidak merepotkan. 

Semarang, Pelan Pelan Saja 

Dari balik jendela bus BRT yang membawaku ke halte Pemuda di sebelah Balai Kota Semarang, kuperhatikan jalan dan segala perilaku penggunanya yang bisa kutangkap dengan mata. Aku mengharapkan kemacetan atau kesemrawutan layaknya kota besar dan ibukota provinsi. Tampaknya estimasiku tidak terpenuhi dengan lancarnya trafik sore itu. Penumpang BRT silih berganti naik dan turun di setiap pemberhentian. Tak sedikitpun kulihat mereka berdesakan. Mungkin mereka lebih baik menunggu bus berikutnya ketimbang harus berhimpitan di dalam. Tak ada keterburuan dalam gerakan. Begitu juga kendaraan yang lalu lalang. 

Hari berikutnya ketika aku hendak ke Kampung Pelangi, sempat aku mengobrol dengan supir mobil ojol yang mengantarkanku. Apakah di Semarang ada kemacetan, penjabretan atau pencurian kendaraan bermotor. Si mas menjawab santai,"Seperti kebanyakan kota besar ya pasti adalah mba. Tapi macetnya itu tidak separah Jakarta. Paling di pintu tol atau ada demo, banjir. Kawasan Simpang Lima ini ya paling gitu-gitu aja mba. Ramai lancar." 

Aku perhatikan juga cara mengemudi orang-orang di Semarang itu gak kesusu meski tidak bisa dibilang santai juga. Jarang ada yang mengklakson atau menyalip ugal-ugalan. Jadi aku juga sungkan minta supirnya nyetir agak cepat. Ya sudah, nikmatin aja lah. Namanya juga di tempat orang lain, ikuti aja kebiasaan setempat. 

Semarang Itu Manis, Seperti Kamu Kulinernya 

Mengunjugi satu tempat tidak akan afdol jika tidak mencicipi masakan khasnya. Terus terang aku hanya tahu kuliner khas Semarang itu hanya Lumpia. Jadi berburulah aku Lumpia yang katanya ngehits di kota ini. Sebenarnya Lumpia pun ada di Makassar, mungkin karena asal Lumpia itu hasil asimilasi Indonesia dan China yang dibawa oleh pedagang-pedagang di jaman lampau. Bedanya Lumpia di Semarang dimakan bersama acar timun, daun bawang dan cabe rawit. Isian Lumpia nya juga sedikit berbeda. Jika diminta memilih, mungkin karena sudah terbiasa, aku lebih memilih Lumpia Makassar saja. 


Selain Lumpia, jajanan khas Semarang adalah Wingko Babat. Nah kalau ini, aku suka. Gurih kelapa, ketan dan manisnya gula ditambah dengan perasa lain seperti durian, cokelat dan keju. Cocok banget sebagai teman minum kopi. Sayang masa berlaku Wingko Babat hanya 3 sampai 4 hari. Gak bisa nyetok banyak-banyak. 

Makanan berat lainnya yang menarik rasa dan teringat sampai sekarang adalah Garang Asem. Aku gak tahu apa ini masakan khas Semarang atau Jawa Tengah secara umum. Bagi aku yang suka masakan asem asem gurih dan pedes, Garang Asem ini cocok sekali. Apa mungkin karena aku mencobanya tepat sedang lapar laparnya? Saking laparnya, difoto pun tak sempat? 

Tampaknya tidak, karena terkadang saat lapar banget pun jika ada makanan yang tidak sesuai selera bisa jadi akan kita makan juga tapi tidak akan terkenang. Garang Asem ini berbeda. Terkadang pengen banget makan masakan ini, sayang di Mamuju gak ada yang jualan. 

Sebenarnya ada beberapa makanan lain yang sudah kucoba dan menjadi khas Semarang. Beberapa terasa sangat manis buatku hingga tidak kumasukkan dalam daftar favorit. Sekedar sudah pernah mencoba rasa yang pernah ada  khas setempat. Paling tidak aku jadi tahu kenapa orang Semarang manis-manis, seperti kamu eh seperti rasa masakannya. 

Semarang, Kutinggalkan Secuil Hatiku Untuk Kembali 


Beruntunglah sebelum pandemi Covid 19 aku masih berkesempatan mengunjungi Semarang meski hanya untuk beberapa hari saja. Belum banyak tempat yang kukunjungi, belum banyak makanan yang kucicipi dan belum  banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengan orang-orang di sana. Setidaknya aku sudah sempat menjejakkan kaki ke Semarang dan melengkapi cerita perjalananku ke ibu kota seluruh provinsi di pulau Jawa. 



Semoga setelah pandemi berakhir, ada kesempatan lagi untuk kembali. Mengulik kota ini lebih banyak, menikmati panas mataharinya yang garang namun tak terik, kerlap kerlip lampu di Simpang Lima dan keramahan  serta kelembutan khas Jawa Tengah. Kutinggalkan secuil hatiku, agar mudah aku untuk menemukan jalan kembali ke hatimu  tempat itu. Semarang, sampai bertemu lagi ya! 

One Day (and half) Trip for Nu’est Segno In Jakarta : Running Man, Berlari Mengejar Final Call di Bandara CGK

Kalian tahu kan, aku suka banget dengan musik Kpop. Tidak hanya suka menikmati, aku juga suka nonton konsernya. Meskipun memang tidak semua konser aku ikuti, tapi kalau ada yang aku suka banget biasanya aku bela-belain berangkat. Maklum, aku gak tinggal di Jakarta. Lokasi aku di Makassar dan itu berarti aku gak cuma spare uang tapi juga waktu untuk nonton konser Kpop. Jadi tentu saja aku pilih-pilih. Cari tiket pesawat murah itu loh, yang jadi sandungan untuk Kpopers luar Jakarta.


Konser Kpop Nu'est Segno in Jakarta

One Day (and half) Trip for Nu’est Segno In Jakarta, Hunting Promo Tiket Pesawat.

Harga tiket pesawat dan penginapan memang menjadi momok. Tahu dong harga tiket pesawat hari gini, kagak ada murah-murahnya! Aku sempat deg-degan aja, abis berapa juta nih cuma buat pesawat doang. Sementara aku sudah ngeluarin duit 1,5 juta untuk beli tiket Nu’est Segno in Jakarta. Mental sobat misqueenku bergejolak.

Pikir punya pikir, oke, aku memilih gaya traveler militan. Berangkat pagi dari Makassar, tiba siang di Jakarta, meet up sama temen, masuk venue, nonton konser dan langsung balik ke Makassar. Gak perlu nginap. Teman aku sih nawarin untuk nginap dulu di rumahnya, cuma aku anaknya gak enakan. Mending langsung cuzz aja, pulang ke rumah di Makassar. Intinya adalah One Day Trip Makassar – Jakarta PP.

Alhamdulilah banget Nu’est Segno in Jakarta itu jatuhnya pas hari Sabtu. Berarti aku gak harus izin apalagi cuti di kantor. Cari tiket pesawat lah aku di berbagi penyedia tiket pesawt online dengan niat, cari yang jam terbangnya paling masuk akal dan harganya bersahabat. Kebeneran banget buka aplikasi pegi-pegi dapat tiket pesawat dengan penerbangan jam 11 siang dari Makassar seharga 850rb dan dapat potongan 50 ribu. Jadinya aku hanya bayar 800 ribu rupiah aja. Alhamdulillah yaaa.. rejeki anak kost




Promo Tiket Pesawat



Nah, tiket pulangnya ini yang aku dilema. Kemarin-kemarin pengalaman nonton konser, biasanya durasinya sekitar 3 jam. Kalau konsernya mulai jam 6 atau jam 7, bisa-bisa keluarnya jam 10 malam. Itu juga belum kejebak macetnya di pintu keluar, jalan ke bandara dan endebre lainnya. Pesawat terakhir yang harganya masuk akal itu jam 11 malam. Ini sih bisa-bisa ke bandara bareng Nu’est nya nih (hahai..ngarep).


Ternyata gak dapat tiket jam segitu. Adanya tiket paling masuk akal yang bisa aku jangkau itu adalah penerbangan pukul 5 pagi. Mulai mikir, dari jam 10 malam sampai jam 3 pagi mau ngapain? Daripada rugi, mending nongkrong sambil bikin konten buat Youtube Channel Vita Masli. Sisanya ntar ajalah dipikir, yang penting dapat tiket pesawat pulang pergi aja supaya hati tenang.


Meskipun harga tiket pesawat Jakarta – Makassar PP gak semurah harga tiket pesawat Semarang Jakarta misalnya. Tapi karena aku pakai aplikasi Pegi Pegi, aku dapat harga tiket yang lebih terjangkau dan jam penerbangan yang gak ada di aplikasi lain. Dapat diskon pula hingga Rp.100.000. Penggunaannya gampang banget. Tentukan tanggal keberangkatan, dari bandara mana mau ke mana, pilih jam penerbangan dan harga tiket pesawat yang sesuai, masukkan data traveler, pilih metode pembayaran (aku pakai kartu kredit), dapat konfirmasi tiket, e-ticket dan invoice. Hati aku tenang deh, tiket pesawat pulang pergi sudah di tangan.

Tiket Pesawat Online



One Day (and half) Trip for Nu’est Segno In Jakarta


Pesawat Makassar – Jakarta, berangkat tepat waktu banget. Aku tiba di Jakarta juga sesuai jadwal. Dari area kedatangan bandara CGK, aku ke arah stasiun kereta Kalayang untuk naik kereta Bandara ke pemberhentian stasiun BNI Sudirman City. Rencananya Ruth_nina bakal jemput aku di sana setelah ngambil tiket di venue. Mobilnya dia parkir di mall F(x) dan naik TJ ke  BNI Sudirman city.






Dari sana kami akan akan naik MRT ke Istora Senayan. Dia belum pernah nyobain naik MRT, padahal tinggal dan kerja di Jakarta. Sementara aku yang sesekali datang, sudah sering naik kereta bandara dan sudah sekali nyoba MRT. Maklum sih, rute MRT gak lewatin rumah dan kantornya. Paling enggak, salah satu hikmah dari nonton konser Nu’est Segno in Jakarta adalah memasyarakatan menggunakan public transportation. Ciee.. Mengurangi polusi dan kemacetan Jakarta dan sudah bisa dipastikan waktunya karena baik itu kereta Kalayang, kereta Bandara hingga MRT berjalan sesuai jadwal.




Lanjuut..

Berhubung sudah menginjak usia’nonton-konser-harus-duduk’ , tiket sudah ada nomernya dong (seated number). Aku gak perlu ngantri dari pagi bersama para ciwik ciwik berstamina tinggi demi ketemu oppadeul. Tentu saja aku lebih milih makan siang dulu sekalian meet up dengan Ruri yang juga nonton Nu’est Segno In Jakarta. Kebetulan dia juga mau ngambil slogan yang dia beli dari fanbase di mall F(x).


Setelah makan siang (yang kesorean), kami langsung cuzz ke Istora Senayan dengan berjalan kaki. Jaraknya deket banget kok, masuk ke Gelora Bung Karno samping mall F(x) gak lebih dari 10 menit sudah nyampai. Dengan berjalan kaki, jadi lebih enak ngobrolnya. Aku juga bisa menikmati suasana kompleks Gelora Bung Karno yang sudah tertata rapih, bersih dan nyaman.
Ternyata Konser Nu’est Segno in Jakarta Itu... Seperti ini??

Berhubung gate dibuka pukul 17.30 dan kami sudah tiba di Istora Senayan pukul 16.30, masih ada spare 1 jam untuk ngapain ya? Pastinya foto-foto dong! Mecima,sebagai promoteur, sudah menyiapkan photo wall Nu’est di bagian depan venue. Antriannya lumayan panjang sih. Belum apa-apa sudah nyerah duluan.


Akhirnya aku, Nina dan Ruri memilih foto di depan banner masing-masing member. Bukan karena kami akgae dan gak mendukung OT5 ya (hahaha! L.O.V.E Twitter pasti tahu nih!). Lokasinya tuh lebih cakep aja, ad
a latar belakang ilalang dan matahari pas golden hour tuh bagus banget keliatannya dari titik itu.



Nu'est

NUEST


NUEST SEGNO


Puas foto-foto (lebih tepatnya sih sudah kehabisan gaya), kebenaran banget gate untuk seated number sudah dibuka. Cuzz masuk ah, supaya bisa ngadem AC di dalam venuenya. *Tetap make up gak boleh luntur*


Sesampai di dalam venue, I literally a little bit shocked. Bahkan sampai konser dimulai dan selesai, aku masih ngerasa ‘Ahh.. Ternyata Konser Nu’est Segno in Jakarta Itu... Seperti ini??’. Selesai konser, kami bertiga pun duduk sambil ganjel perut si Starbak F(x) untuk ngobrolin Nu’est Segno In Jakarta.




Sebenarnya obrolan kami tuh gak bakal abis kalau gak mas mas starbak nutup outletnya. Ruri harus misah duluan karena besoknya ada perjalanan dinas. Sementara Nina masih setia nemenin aku, untuk nganterin aku ke bandara pagi buta. Akhirnya kami nongkrong lagi di Mekdi 24 jam dekat bandara.


Running Man, Berlari Mengejar Final Call di Bandara CGK


Dasar emang faktor U tuh gak bisa dilawan, aku nyerah. Pukul 1 pagi, badan tuh dah berasa pengen baring. Ngantuk sih enggak, mungkin karena takut kebablasan atau karena pengaruh kopi. Akhirnya Nina nganterin aku ke bandara CGK, parkir mobil di parkiran terminal 1 dan tidur di mobil. Sebelumnya aku sudah web check in duluan, gak punya bagasi juga, jadi rencananya pukul 4 aku dah masuk ke area departure.


Tapi kok perasaan agak gak enak ya.. Di website Lion Air dan di boarding pass kok gak sama waktu boardingnya. Menurut website, pesawat nomer penerbangan aku tuh boarding 3.30 WIB. Sementara di boarding pass 4.30 WIB. Nina sudah beberapakali mengingatkan untuk make sure jadwal. Sejauh itu, gak ada SMS atau pemberitahuan dari pihak maskapai bahwa jadwal keberangkatan dimajukan.


Demi alasan keamanan agar, aku masang alarm pukul 3.30 WIB. Kebetulan juga, entah kenapa pas tidur di mobil tuh, ada pasangan yang lagi pacaran di parkiran samping mobil Nina. Mereka yang pacaran kok aku yang berasa diintai ya?


Akhirnya aku minta Nina drop aku di bagian keberangkatan 1A. Lewat dikit sih. Nah ini dia serunya. Setelah dadah-dadahan sama Nina and say thanks, aku masih jalan santai banget tuh ke bagian keberangkatan. Baru bangun cuy! Nyawa masih seperempat. Tapi demi dengerin nama lengkap aku dipanggil as a final call, aku langsung sprint as if aku tuh atlit lari aja.



Running Man
KAGAK MUNGKIN AKU LARI SECANTIK INI.. !! 
Bisa dibayangin dong, sudah final call, aku harus ngelewatin security check yang pertama dan di depan aku ada empat orang aja dulu dengan barang bawaan mereka yang maha rempong. Alhamdulillah petugas di security check in yang pertama mau mengerti dan mendahulukan aku untuk segera masuk. Ok, thank you, next!


Giliran cetak boarding pass, ya Tuhaaaan... tahu dong gimana bejubelnya antrian check in nya Lion Grup. Aku sudah makin panik aja, karena nama aku disebut lagi untuk kedua kalinya. Petugas Lion Air langsung mengarahkan aku ke loket 10, fast track. Untung sudah web check in duluan. Print Boarding pass, aman!


Aku lari lagi nih ke lantai dua.. Sudah mau putus aja nafas aku, gak naik escalator lagi saking pengen buru-burunya. Sudah kayak lagunya Sheila On 7 lah aku tuh, ‘Kita berlari dan teruskan bernyanyi..’ , lari terus sampai security check in ke dua. This is it, the rese part of security check in di saat keadaan genting seperti ini. Lepas jaket, lepas belt, lepas jam tangan, tas diperiksa. Aduhh Tuhaaaannn... lamaa bangett.. Aku sempat kepancing berdebat sama salah satu mas mas sekuritynya tentang kenapa datang boardingnya telat.


Laahh siapa yang majuin jadwal keberangkatan gueeeee, dari pukul 5 pagi jadi jam 4 pagi? Tanpa pemberitahuan lagi, SIAPAAAA??? Untung aku dah di bandara aja, coba aku masih di tempat lain, mau nangis aja aku tuh kali beli tiket pesawat lagi yang muahallnya ampun-ampunan itu. Emang paling bisa deh airlines satu ini, kalau dia yang telat, kita harus sabar. Kita nya hampir telat gara-gara dia mindahin jadwal seenak jidat, kita yang salah. Kzl!


Sudah gitu gatenya dipindahin pula. Hahahha.. mau nangis gak?! Aku malah salah jalur pula, aku turun ke bawah. Eh ternyata belok kiri karena pesawatnya pakai garbarata. Naik lagi, lari lagi. Sampai pintu pesawat, dua penumpang final call bareng aku sudah ada di depan. I’m the last one to enter the plane. Duduk di kursi sudah kayak butuh oksigen aja aku, ngos-ngosan, ngerasa bersalah juga sama penumpang lain. Ternyata penerbangan pukul empat pagi ini adalah penerbangan gabungan dari penerbangan jam 10 malam yang tertunda menuju Gorontalo, penerbangan pukul empat pagi dan penerbangan pukul lima pagi. Hadeeuhh!!


Smart Watch Ketinggalan di Security Check, WA Saat Pesawat Lepas Landas


Ini jangan..jangan..ditiru ya gaes! Meski bagaimana pun safety first, baik itu keamanan kamu dan penumpang lain. Jadi ceritanya, gak berapa lama setelah aku duduk, mengencangkan ikat pinggang dan beberapa announcement, pesawat akhirnya bergerak di landasan pacu. Saat itu aku baru teringat, aku gak pake jam tangan. Di mana smart watch aku?? Panik dong.. di tas gak ada, saku jaket gak ada. Tersangka utama, ketinggalan di security check nih.


Gak tau kenapa, aku refleks matiin mode pesawat di hape dan langsung nge WA Nina mengabarkan jam tangan aku ketinggalan di security check. Just in case bisa ditemukan di Lost and Found (kayak lagunya Nu’est aja ih!). Setelah tiga line WA itu aku baru sadar pesawat sudah lepas landas. Duh, nekat! Langsung matiin hape sambil berdoa semoga kami sepesawat gak kenapa-napa gara-gara perbuatan aku ini.


Karena dah cape banget, aku dah pasrah aja tentang smart watch aku. Ya sudah deh kalau hilang, aku ikhlasin, meskipun sayang juga karena smart watch itu hadiah lomba blog. Toh nanti begitu tiba di Makassar aku bisa langsung ngetweet ke pihak Lion Air untuk ngabarin tentang tertinggalnya jam tangan itu.






Alhamdulilah banget, setibanya di bandara Sultan Hasanuddin Makassar, WA aku dibales Nina. Dia ngabarin jam tangan aku ketemu. Sehabis nganterin aku ke bagian departure, dia gak langsung balik ke rumahnya tapi lanjut tidur di parkiran bandara. Pas bangun dia baca WA aku dan langsung masuk ke bandara buat nyariin smart watch aku yang ketinggalan. Haduh.. lucky me. Alhamdulillah yah.. Nina baik banget sih, lo!

Masih Mau One Day Trip Untuk Nonton Konser Kpop Lagi?

Definetely, yes! Jika ada rejeki kenapa enggak? Meskipun capenya ampun-ampunan dan stamina aku drop hingga flu berat, keseruan dan pengalamannya itu loh yang menurut aku gak tergantikan. Setiap perjalanan memiliki cerita uniknya tersendiri. Hampir ketinggalan pesawat, ketinggalan jam tangan, WA saat pesawat lepas landas sampai nekat pergi pulang gak pakai nginap adalah salah satunya. Bonus, pas masuk kantor lagi, teman sekantor bilang aku kurusan. Ternyata jalan kaki di bandara Hasanuddin, tiba di CGK, ke terminal Kalayang, Stasiun MRT, GBK sampai Istora, lari cepat di terminal 1 CGK, ternyata bisa menurunkan berat badan juga ya? Hahahaha.





Pengalaman perjalanan kamu apa? Cerita di kolom komentar ya!