Why I'm Not Blogging Lately


Hi all, long time no blogging. How are you doing?

My life is pretty busy right now, most of all because job at work, obviously. I also have to go back and forth to my hometown. My dad is not in a good shape, so I have to back on the weekend to Makassar and have to back to work on Monday in Mamuju. So yeah, it’s pretty hectic.



Why I'm Not Blogging Lately 


It's not an excuse to not updating my blog post, actually.  I just found out that I literally have no idea what to write. Yeah, it’s very lame reason, I admit that, because I spare some time to upload new contents for my Youtube channel. Yay!

So it’s obviously I’m into Youtube-ing nowdays. I upload my content once in a week, mostly about my traveling and ‘How to’ videos. It’s probably a little bit different with other content from YouTube channel from Indonesia you often watch. I rarely appear on video saying ‘Hi Guys.. welcome to my youtube channel’.. well, it’s not my thing, I supposed. My contents most likely cinematic or I try to make it cinematic (hahaha), and you have to click the CC button to read the caption. I call it travelog (because I travel and I vlog it). 

But maybe in near future, I try to make another concept of me talking on the front of the camera again. Maybe in English or Bahasa Indonesia, either way, I don’t know if I feel comfortable doing that again, I probably will. 



So, if you haven’t know about Vita Masli Youtube Channel just go to link below. Feel free to subscribe if you will and watch all of the videos that I already uploaded. Put some comments or share if you think it’s useful. 


Just for you know, I created Vita Masli YouTube channel for some time and now has about 5500 subscribers and more that 2 million views. If you wonder, what did I do to get that, just put some comment below so then I can write post or make a content out of it. 


What I do in Vita Masli You Tube Channel


My latest content is about my business trip and try the airport train from Soekarno Hatta International airport in Tangerang to Jakarta. It's quite awesome because I usually ride Grab or Blue Bird Taxi to get to the hotel. So when I heard that the airport train is on track, I decided to ride on it. I made vlog about how to get the train from Soekarno Hatta International airport to Jakarta. 



I also uploaded a content about how fascinating the view on top scene from the flight of Makassar to Jakarta and a little sneak peak of how big is Soekarno Hatta International airport Terminal 3



My content is always about traveling, sometimes I uploaded content about KPOP, the subject that made my channel grow big. This is one of the example, when I unboxing my NU'EST CD Happily Ever After.



I made my daily vlog too, including the unboxing of the lightest and the smallest portable stove for 'Anak Kost' like me.


and many...more. You probably need to check it out yourself.

Well, that’s it for now. I’m sorry I post this in English. I don’t know why. I just feel like it. I hope you don’t mind.

I'll see you again, soon.

Kemana Aja di Seoul Korea pada Musim Semi

Kapan waktu terbaik traveling ke Korea? Masing-masing pasti punya preference tersendiri. Bagi saya sebagai perempuan dari negeri tropis, I'd say : Spring. Musim semi khususnya di  bulan April, merupakan musim yang paling cocok menurut aku, gak sepanas musim panas dan gak sedingin musim dingin. Ngapain nyari musim panas ke luar negeri when you have matahari bersinar garang almost seven days a week, right? Meskipun penasaran aja dengan musim dingin, ruangan ber AC 18 derajat aja sering aku on off kan. So, yes,.. Spring is the best time. 

Kemana Aja di Seoul Korea pada Musim Semi 

Alhamdulillah ya, kesampaian juga bisa jalan-jalan di Korea pada musim yang gw impi-impikan. Tiba di saat Cherry Blossom masih bermekaran walaupun banyak yang bilang sudah pada abis tertiup angin dan kebawa hujan. Iyah, musim semi bukan berarti gak ada hujan ya. Ada sih, tapi kata orang-orang di sana, hujannya gak sedramatis saat musim panas.



Di musim semi, cuaca mulai menghangat dan matahari mulai tampak. Meski begitu, hawanya dong boo... menusuk sampai ke tulang. Suhu pada umumnya berkisar 16 - 22 derajat. Tapi kalau hujan turun dan setelahnya, selamat ya gengs.. siap-siap aja cari tempat yang hangat secara suhu bisa drop sampai 10 derajat.  Like literally asap-asap bisa keluar dari mulut kamu. Gue bener-bener nyesel gak bawa long coat dan nekat aja pakai jaket sepanjang pinggul aja waktu itu. So, you better prepare a warm clothes ya!

Tentu saja saat cuaca cerah, hal yang paling menyenangkan adalah strolling around alias muter-muter menikmati suasana jalanan kota Seoul. Call me norak or whatever, gue suka banget jalan kaki di Seoul. Sudah trotoarnya lebar, gak ada pedagang kaki lima, gak panas, gak banyak debu meski kadang-kadang nyelip bau babi panggang (hahahah.. astagfirullah ya Allah, gw gak niat loh ya!). Here's some sites to stopped by when strolling around in Spring time in Korea:

1. Taman Kota 




Di Korea, khususnya Seoul sebagai ibukota, banyak memberi space untuk taman kota. Kayaknya hampir setiap blok entah itu kawasan perkantoran, perumahan dan pertokoan ada taman yang bisa dipakai duduk-duduk santai. Jadi meskipun berada di tengah kota, kita masih bisa merasa nyaman berinteraksi dengan orang lain di luar ruangan. Gak harus ke cafe atau ke mall. Meskipun nongkrong di cafe di Seoul juga cukup asik, apalagi di hari yang dingin, gak ada salahnya untuk nongkrong di taman especially when the weather is fine.

2. Coffee Shop / Cafe  

 

Sebagai kota metropolitan, Seoul tidak lepas dari banyaknya coffee shop dan cafe di setiap sisi kotanya. Mulai dari yang francise internasional sampai coffee shop atau cafe lokal. Temanya juga unk-unik. Bahkan jika biasanya ada cafe atau coffee shop yang tidak membolehkan membawa hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, ada juga loh yang temanya playing with dog or cat. Tidak jarang coffee shop yang jadi tempat syuting atau mensponsori drama tertentu juga memajang memorabilia atau setting dari drama tersebut.



 

3. Festival Cherry Blossom,


Bulan Maret-April-Mei adalah bulan di mana banyak festival-festival yang bisa kita nikmati. Salah satunya adalah festival cherry blossom di Area Yeouiseo-ro, di belakang the National Assembly Building, Yeongdeungpo-gu, Seoul. Pengunjung dapat berjalan-jalan di sepanjang Sungai Hangang melalui terowongan pohon-pohon megah ini. Bunga musim semi lainnya yang mekar di bawah pohon termasuk azalea dan forsythias. Ada juga pertunjukan jalanan budaya, pameran dekorasi bunga, dan pameran foto yang berlangsung sepanjang periode festival. Biasanya festival ini diselenggarakan di saat cherry blossom lagi mekar-mekarnya yaitu di akhir bulan Maret hingga awal April.



Jikapun datang setelah itu, don't worry! Masih banyak tempat yang bisa kamu datangi untuk menikmati pemandangan cherry blossom berguguran di atas kepala kamu. Literally, berguguran seperti di drama-drama itu loh! Kamu bisa di Namsan Tower, Gyeongbokgung Palace atau kek gue lebih jauh lagi jalannya ke Songdo Central Park, sekitar satu setengah jam naik kereta dari Seoul Station. 


 4.  Campus Tour 


Selain festival cherry blossom, kamu bisa mampir ke festival kampus, di mana pengunjung bisa menikmati kuliner ala anak kampus dan menonton pertunjukan mahasiswa. Tidak jarang ada bintang tamunya, bintang Kpop yang lagi happening. Ini bisa jadi tidak gratis, tapi setidaknya ada pengalaman lah ya nonton festival semacam pensi gitu di kampus negara lain.



Jikapun tidak ada festival kampus, mampir strolling around di kawasan perkampusan tidak dilarang kok, asalkan jangan menganggu dan ikutan kuliah ya! Gue sempat dua kali ke kawasan Ewha University cuma karena pengen beli jerseynya, tapi dua duanya gagal karena salah timing dan sold out. Kekecewaan gue tertutupi dengan keindahan arsitektur dan sejarah kampus ini. Lumayan lah, nambah koleksi foto.

5. Pasar Malam 


Pengen nyoba makan di food truck? Boleh mampir ke Seoul Bamdokkaebi Night Market di kawasan Banpo Hangang Park, Dongdaemun Design Plaza, Cheonggyecheon Stream (Mojeongyo Bridge-Gwangtonggyo Bridge), and Yeouido Hangang Park. Gue waktu itu juga gak sengaja mampir saat strolling around area Hangang Park.




Rencana awalnya pengen ke Banpo untuk liat Banpo Bridge Rainbow Fountain. Tak kusangka kawasan sungai Han ini terbagi beberapa tempat dan gue sempat nyasar, jalan ke dingin. Untungnya banyak sesama turis dan orang Korea sendiri yang ngasih tahu jalan ke arah sana. Sampai di tekape, sempat heran juga kok ya rame banget ya sama food truck dan stands. Ternyata memang ada festival Seoul Bamdokkaebi Night Market. Banyak penjual pernak-pernik dan kuliner. Salah satunya ada food truck yang jualan makanan Indonesia seperti Nasi Goreng dan Mie Goreng. Whoaaa.. sudah kedinginan, lapar, nemu Nasi Goreng. Lengkap sudah! 

Harga seporsi nasi goreng kotakan seharga 75 ribu rupiah lengkap dengan sambal terasi dan kerupuk udang. Cek en ricek, babang yang jualan adalah orang Korea yang pernah magang di restaurant hotel bintang 5 di Bali. Gue sempat nanya pakai babi apa enggak dan dia bilang enggak. So, I ordered. Lumayan.. nasi goreng termahal yang pernah gue makan ini bikin hepi! 

6. Village 


Ada beberapa spot pariwisata di Seoul yang berada di kawasan perumahan bergaya klasik, khas perumahan Korea jaman dulu. Dua tempat yang paling terkenal di Seoul adalah di kawasan Insadong dan Ihwa Mural Village. Untuk yang suka jalan kaki, tempat yang seperti ini bisa jadi favorit kamu especially yang suka foto-foto. Hanya saja perlu diingat, Seoul adalah kota dengan kontur berbukit, jadi kuat-kuatin betis ya untuk mendaki. Banyak tangga jahannamnya pula! Gue menyebutnya seperti itu karena tangganya panjang dan nanjak abis. Lumayan, rasanya seperti tracking. Tapi, begitu sampai di atas, pemandangannya keren. It's worth the walk.


Naksan Park Seoul Fortress Walk


Jalan Kaki, Selain Sehat Bisa Membuatmu Lebih Hemat


Selama di Korea, gue puas-puasin jalan kaki. Bukan karena pengen hemat, tapi lebih karena mumpung bisa jalan kaki dengan nyaman sambil menikmati suasana musim semi. Bonus, denggan berjalan kaki, kita lebih bisa menikmati momen lebih baik, membuka kesempatan berkomunikasi dengan orang baru dan pulang-pulang ke Indonesia bisa lebih langsing, hahahaha! Beneran, pulang dari Seoul aku bisa turun 4 kg hanya dalam waktu 2 minggu. Wow banget kan?




Anyway, kamu sendiri gimana? Pernah strolling around di suatu tempat? Share pengalaman kamu juga ya di bawah!

Melipir Sejenak Ke Floating Market Lembang

Bandung selalu menjadi kota 'kenangan' dan favorit buat aku di kawasan Jawa Barat. Oke, setelah Sukabumi tentu saja, berhubung sempat tinggal di sana beberapa tahun. Jadi, tiap kali ada kesempatan ke Jakarta, rasanya selalu pengen melipir sejenak ke sana.

Melipir Sejenak Ke Floating Market Lembang Bandung 




Hari beranjak siang ketika teman saya ini (yang emang gak bisa bangun pagi no matter how hard you beg, hahaha) menjemput saya di penginapan backpacker di kawasan Lengkong, Bandung. Sebelum ke Floating Market, atas saran teman saya itu kami mampir dulu ke In & Out Urban Eatery yang gak begitu jauh dari penginapan. Saya yang masih kenyang dengan sarapan nasi kuning yang disediakan penginapan backpacker Pondok E7, akhirnya memilih untuk memesan Jus Mango Alpukat yang gedenya diluar ekspektasi. Puas.. banget!




Jalan Menuju ke Floating Market Lembang 


Lokasi Floating Market cukup mudah dijangkau, at least kalau menggunakan mobil pribadi. Gimana kalau angkutan umum? Wah, ini saya kurang faham. Saran saya, berangkatnya rame-rame aja, naik Grabcar atau GoCar. Bayarnya patungan, sudah gitu tinggal setting alamat aja di Google Maps   Jalan Grand Hotel No.33E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Beres! 

Floating Market di Lembang ini kami tempuh dengan mobil sekitar satu jam. Trafik cukup padat berada di sekitar jalan Setiabudi, selebihnya lumayan santai untuk ukuran hari Minggu. Begitu memasuki kawasan Floating Market, perlu menyiapkan uang 20 ribu rupiah per orang untuk membayar tanda masuk.

Lumayan mahal ya? Tapi tenang aja, soalnya tiket masuk tadi bisa ditukar dengan minuman di dua outlet yang tersedia di area. Kita bisa memilih minum kopi Nescafe hangat, cokelat Milo atau ice tea Nestle.  Pilihan saya? Ya tentu saja kopi. Lumayan loh, meskipun Lembang sudah tidak sedingin dulu lagi, namun jika angin berhembus mengingatkan ku pada suhu kota Seoul di musim semi. Tsah..




Baca juga: Jalan Kemana, Namsan Seoul Tower di Musim Semi 

Kulineran di Floating Market Lembang 


Seperti namanya Floating Market ini berupa pasar terapung yang menghadirkan beragam jualan makanan di tepi danau buatan. Makanan yang disediakan cukup beragam, mulai dari masakan dan cemilan  khas Sunda sampai cemilan negara lain sebangsa Jepang gitu juga ada. Sejujurnya saya gak begitu merhatiin karena pandangan saya sudah fokus pada masakan khas Sunda yang sudah saya rindukan semacam Lotek, Karedok dan Bala-Bala.




Uniknya jualan di Floating Market ini tidak diperjual belikan dengan uang rupiah yang biasa kita gunakan sehari-hari. Transaksi di Floating Market menggunakan koin khusus dengan nominal 5000 dan 10 ribu rupiah yang bisa ditukarkan di loket penukaran. Saran aja nih, meskipun lapar mata, jangan bablas nuker koin karena koin yang tidak dipergunakan tidak bisa ditukar kembali menjadi rupiah. Sayang kan ya?

Oiya, di sepanjang tempat ini pula ada pasar mini bernama Pasar Gembong yang khusus menjual buah-buahan, keripik, manisan, cemilan dan pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh.





Taman Berkonsep Mixed Jepang, Korea, Cina  dan Sunda  


Floating Market Lembang ini tidak melulu tentang makan. Beberapa spot ditata sedemikian rupa menjadi taman dan side walk mengelilingi danau. Selain bisa dijadikan tempat bersantai, spot-spot ini penting banget buat kamu yang suka foto-foto.

Beberapa bagian taman disetting bergaya Jepang dimana jalan setapak dibuat untuk pejalan kaki dengan pepohonan yang diatur sedemikian rupa di sisi kiri dan kanan. Tak lupa disediakan beberapa saung untuk sekedar dijadikan tempat mengaso sejenak. Lumayan loh untuk dijadikan tempat untuk berfoto.



Gak cuma berfoto, kita bisa menikmati pemandangan yang apik di sini. Taman-taman tertata rapih dengan bunga berwarna warni. Danau buatan tampak tenang dan bersih menjadi jalur perahu yang membawa pengunjung mengitari Floating Market. Saya gak sempat mencobanya, tapi tampaknya asik. 




Suasananya yang nyaman, saya masih bisa mendengar suara burung berkicau disela-sela angin yang berdesir menabuk dedaunan pada pohon-pohon di sekitar. Suara air berkecipuk disaat ikan-ikan Mas berebut makanan yang ditebar pengunjung semakin membuat pengunjung lupa hiruk pikuk perkotaan.  Wah.. I can stay here just to sit on the rock and enjoy the moment.




Di beberapa sisi lain dibuat semacam pelataran yang mengarah ke danau, sering dijadikan tempat untuk photo session bagi yang menyewa Kimono ala Jepang atau Hanbok Korea di stand tertentu. Bagi pengunjung lain boleh berfoto di sisi lain asalkan tidak menganggu photo session pengunjung yang khusus menyewa pakain khas Jepang dan Korea tersebut.

Tenang aja, masih banyak lokasi foto yang bisa kamu manfaatkan untuk nambah-nambah foto sosmed kamu kok, gratis!! Salah satunya adalah taman berkonsep Cina di depan Taman Kelinci. Cocok buat jadi latar foto.



Ketika kaki lelah melangkah, sila mampir di kursi-kursi dan bangku-bangku yang disediakan di pinggir danau. Mau ngobrol kek atau mau makan bekal bawaan sendiri, terserah. Jangan lupa jaga kebersihan ya! Meskipun ada petugas kebersihan, bukan berarti kita bisa seenaknya meninggalkan sampah. Banyak tempat sampah disediakan. Mau belanja suvenir? Tenang aja, booth keren bergaya rumah khas Sunda menyediakan beragam suvenir yang lumayan bisa dijadikan oleh-oleh.




Sedikit banyak konsep taman di Floating Market ini mengingatkan saya pada konsep Songdo Central Park yang pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu di Korea. Eh, saya belum pernah posting ya? Next, tolong saya diingatkan! Hehe.

Mengintip Kelinci Bermain di Taman Kelinci 

Makin kuat keyakinan saya bahwa konsep Floating Market ini sedikit banyak mengacu pada konsep Songdo Central Park karena ada Taman Kelinci nya. Nah, bedanya di Floating Market untuk bermain bersama para Kelinci ini, harus bayar tiket seharga Rp.20.000.




Kelilingi deh tuh, taman yang ditata layaknya hutan mini untuk para Kelinci. Untuk anak-anak kayaknya sangat irresistible ya, secara kelincinya emang lucu-lucu parah. Saya sendiri gak sempat masuk berhubung hari sudah hampir magrib dan rasanya sayang aja kalau hanya sebentar. Toh, saya masih bisa melihat para Kelinci tersebut bermain dari luar, pagarnya kan model kawat besi doang. Lagian setelah melewati kawasan Setia Budi, setiap kali kumelihat Kelinci-Kelinci ini, teringat nasib teman-teman mereka yang berakhir menjadi sate. Sedih aku tuh...




..And A Whole Lot More 

Selain Floating Market sebenarnya ada beberapa wahana di kompleks yang sama yang bisa kamu datangi. Tentunya harus bayar tiket masuk lagi untuk masing-masing wahana. Misalnya untuk Rainbow Garden harus bayar 10ribu lagi untuk menikmati taman dengan berbagai macam jenis bunga berwarna warni. Selain itu terdapat wahana Kota Mini, dimana para anak-anak bisa belajar mengenal konsep kota berikut dengan profesi-profesi yang mendukung seperti apa dan bagaimana petugas pemadam kebakaran, polisi dan lain sebagainya.

Bagi kamu para muslimah berhijab yang ingin berenang, ada kolam renang khususnya loh. Kamu bisa berenang tanpa bercampur dengan non muhrim, tentunya tetap menggunakan pakain khusus renang. Factory Outlet pun ada,loh! Ya kali pengen beli baju, celana, training suit dan masih banyak lainnya. Tersedia untuk pria dan wanita dari ukurun anak-anak hingga dewasa. Komplit lah!

Hari beranjak senja, tidak terasa saya sudah empat jam menikmati keindahan Floating Market di Lembang ini. Tempat rekreasi yang pas untuk seluruh keluarga, bahkan untuk yang datang bersama teman-teman. Sekedar membuang penat hidup perkotaan, bolehlah melipir sejenak ke Floating Market Lembang.


All Photos taken with Sony Alpha 6000 

Work-Vacation at Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta

Yes,ini bukan staycation, karena pada dasarnya nginap di Grand Mercure Hotel Jakarta Harmoni ini sebenarnya kerja yang harus diinapin di hotel. Bulan September ini kantor gue mengadakan Rapat Kerja Nasional untuk penyusunan kebutuhan barang tahun 2020. Berhubung rapatnya dijadwalkan selama empat hari dari pagi sampai malam, daripada ngerepotin, peserta rapat dan nginap di hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta.




Ini sebenarnya kali kedua gue nginap di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ini. Hanya baru kepikiran untuk ngereview tempatnya, karena just in case ada yang perlu tempat nginap selama di Jakarta atau beneran staycation bareng keluarga bukannya rapat kayak gue. Lokasinya strategis, berada di jalan Hayam Wuruk no, 36-37 Jakarta Pusat. Mudah dijangkau dengan menggunakan transportasi umum seperti Trans Jakarta (Halte Sawah Besar itu pas ada di depan hotel), gak begitu jauh dari stasiun Gambir buat kamu yang naik kereta dan armada online lainnya.

Work-Vacation at Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta  


Begitu memasuki area gedung Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini, kita harus melewati security check. Demi keamanan, gak apa-apalah. Gak begitu ganggu juga. Setelah itu barulah kita memasuki area lobby disambut oleh door boy yang ramah. 

Dua kali menginap di sini, proses check in memang agak lama karena tamu datang gak henti-hentinya. Berombongan pula. Gue aja cape liatnya. Sepanjang kamu sabar dan gak lagi kebelet, gue rasa bakal fine-fine aja. Toh lobbynya juga nyaman dan luas. Silahkan duduk-duduk dulu aja nunggu antrian. Gak begitu lama juga sih, karena receptionnya ada enam dengan satu line khusus VIP membernya Grand Mercure Hotel.






Kali kedua ini alhamdulillah diarrange sama panitia gue dapat kamar di lantai 17, lantai non smoking area. Kamarnya juga lebih luas dibanding kemarin. Kali ini gue dapat kamar double bed, sofa dan TV 50" lebih gede dibanding yang kemarin dengan city view. Alhamdulillah..




Tempat Nongkrong Favorit 


Pardon my messy bed, 
Fasilitas kamar lainnya seperti kamar mandi sangat sangat memuaskan banget menurut aku. Ruang shower dan wc kering terpisah oleh ruang dandan dengan kaca super gede. Toiletries nya pun lengkap. Mulai dari yang standar macam sabun gel dan sabun batang, sampai alat shaving dan sewing kit pun tersedia. 

Hal yang paling aku suka adalah lightingnya yang sangat-sangat mengundang untuk ngerekam video ala-ala beauty vlogger itu. Hahaha! Ada sejam kali gue ada di kamar mandi saban pagi. Mandi dan dandan aja sampai puas.



Selama gue nginap, makan pagi, siang dan malam disediakan di restaurant. Letaknya di lantai 1, gak begitu jauh dari lift dan lobby. Restaurantnya sih lumayan asik suasananya. Cukup luas, meskipun seringkali saat sarapan pagi numpak banget sampai ngantri. Maklum, hotel ini kayaknya gak pernah sepi penginap. Jadi kalau gak buru-buru mending sarapannya pukul 9.30 aja, atau sekalian pukul 7. Jadwal sarapan pagi antara 06.00 - 10.00 , makan siang 12.00-14.30 dan makan malam 07.00-09.00. Diantara bisa aja, tapi menunya sudah bukan yang buffet lagi.



Bicara tentang menu, ini dia yang agak ngeganjel buat gue. Berhubung tiap kali nginap di Grand Mercure Hotel Harmoni ini gak sehari dua dan makannya full set pagi sampai malam (plus coffee break 3 kali). Sebenarnya menu mereka sangat bervariatif, mulai dari yang tradisional, western sampai menu ala Chinese dan Jepang pun ada. Dari appetizer to dessert, yang sudah fixed maupun customize. Minuman juga lengkap, dari air mineral, infused water, es teh sampai kopi espresso tersedia. Malah di jam sarapan, ada corner jamu dimana kita bisa pesan jamu sama mbok-mboknya.






Sayangnya, menunya sangat mudah ditebak. Tiap hari selalu ada nasi goreng, mie goreng ataupun bihun goreng, bubur ayam, bubur kacang ijo, bubur ketan, sushi, miso sup dan seterusya. Lauknya ayam olahan berbagai daerah, ikan goreng dan semacamnya. Dessertnya pudding dan kue tradisional. Meskipun sesekali ada Soto Bandung, Mie Kuah, Pasta, Pizza atau apalah, tapi menu tetap itu selalu ada masakan olahan dari POKCAY. Hahaha.. Kebaca banget lah pokoknya. Apa karena gue nginapnya semingguan jadi berasa sama semua makanannya? Hehehehe...

Overall untuk kategori masakan hotel, all menu di Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini gak ada yang gak enak. Gue sih ngarepin banget, besok-besok ada Waffle, Coto Makassar atau Ayam Goreng ala Korea atau masakan Korea lainnya. Soalnya beberapa kali gue ketemu penginap asal Korea juga di Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini. Ya kali mereka juga rindu makanan rumah kan saat bepergian jauh.  Ataukah sebenarnya ada cuma timingnya gak pas dengan waktu kedatangan gue? Entahlah, yang jelas akhirnya gue menemukan Bakso Kuah yang kerap dirindukan di sarapan hari terakhir. Enak!!

Bakso Kuah yang Dirindukan Akhirnya Muncul di Sarapan Hari Terakhir 


Oiya, bicara soal makanan rumah, kalau misalnya gak cocok sama masakan hotel, disekitar Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta banyak banget spot kuliner lokal yang pantas dicoba. Daerah Pecenongan merupakan kawasan kuliner yang sayang untuk dilewatkan. Misalnya di belakang hotel tuh ada Mie Aceh Pandra. Mie Aceh dan Kopi nya juara!

Pengen makan fastfood, silahkan melipir ke sebelah hotel,ada McD yang buka 24 jam. Di depan hotel ada Gajah Mada Plaza yang menyediakan tempat makan francise lainnya atau sekedar cuci mata dan beli keperluaan yang lupa terbawa. Contoh gue gak bawa kemeja putih padahal di jadwal acara tercantum dress code putih. Akhirnya gue melipir ke Gajah Mada Plaza. Kebenaran banget di lobby nya ada bazaar diskon apa gitu. Nemu lah gue kemeja putih seharga tiga puluh lima ribu aja. Murah meriah, alhamdulillah.

Selain tempat makan, lokasi Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta ini cukup strategis ke mana-mana. Dekat dengan spot wisata seperti Kota Tua, pusat perbelanjaan Glodok, Grand Indonesia dan  Plaza Indonesia. Jalurnya juga gak begitu macet meskipun gak bisa dibilang sepi. Kalau janjian ama teman banyak lokasi pilihan yang gak nyusahin semua pihak lah, hahaha.

Dari segi pelayanan, gue merasa juga cukup puas. Mulai dari door boy sampai petugas housekeeping semuanya ramah dan helpfull banget. Kalau ketemu dengan penginap di manapun, salah satu dari Standar Operasional Procedure mereka selalu menyapa penginap. Hal yang gue juga suka adalah gue bisa minjem setrika dari housekeeping. So, gue gak perlu repot-repot bawa setrika apalagi khawatir wardrobe gue lecek selama seminggu.



Oiya, di lantai 19 ada Rooftop Sky Loungenya juga loh. Sayangnya sewaktu acara pembukaan kemarin gue gak sempat foto-foto saking padatnya rentetan acara. Pastinya view from the top is amazing, bisa ngeliat view Jakarta di waktu malam. Untuk kamu yang demen olahraga, di lantai 5 tersedia gym, spa dan kolam renang. Selama dua kali nginap di situ gue gak sempat ke sana (baca:males). Maybe next time deh, gue sempatin nyamperin (doang! Olahraga mah belum tentu).

Lelah berpikir demi negara, gak ada salahnya buat mencoba massage di kamar. Gak sempat ke restaurant untuk makan atau lapar tengah malam? Don't worry, tingkat angkat telpon dan room service siap nganterin makanan yang kamu order dari menu yang tersedia. Jadi siapa bilang kerja gak bisa 'rasa vacation' ?



So, would I be back to Grand Mercure Hotel Harmoni Jakarta? Well, I wish! It was a pleasant stay and I enjoyed it so much. Gimana, kamu tertarik nginap di sini gak atau malah pernah nginap di sini sebelumnya? Yuk, share pengalaman kamu di kolom komentar ya! 


Hello, Mamuju!

Long time no see, ya gaes! Harap maklum, sesuatu telah terjadi akhir bulan Maret lalu. Saya di mutasi ke sebuah ibukota provinsi Sulawesi Barat : Mamuju. Untuk kamu yang gak tahu where exactly Mamuju is, coba buka Google Earth deh! Soalnya saya juga gitu, hehehe. Saya tahu sih sebenarnya Mamuju itu dulu awalnya salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Namun semenjak pemekaran provinsi, akhirnya terbentuklah provinsi Sulawesi Barat dengan Mamuju sebagai ibukota provinsinya.

Ngubek-ubek Google dengan harapan dapat postingan blog yang ngebahas Mamuju, ternyata rata-rata postingan teratas malah gak reliable. Padahal buta banget nih soal Mamuju, apalagi tentang rumah, moda transportasi, jalan, tempat nongkrong #eh. There isn't too many information about this city. Pas nemu postingan di blog orang lain, eh itu entry tahun 2012. Walah! Lama amat. I have no idea at all, but still I have to move on. 


Hello, Mamuju! 

Gak pernah kepikiran sekalipun untuk hijrah ke sini. Apa daya tugas negara datang membawa banyaaak sekali keraguan. Terima gak, terima gak. Di terima, jauh dari rumah, Gak diterima, tantangan baru loh ini. Ujung-ujungnya gak ada cara lain selain minta petunjuk dari Allah SWT lewat sholat Istikharah. Gak lupa minta doa restu pertimbangan orangtua dan keluarga. Pada dasarnya mereka mendukung, walaupun bokap gak rela juga ngelepasin anak perempuan satu-satunya yang belum nikah ini ke daerah orang. Ya maklum lah, tanggung jawab masih sama bapak kan kalau anak perempuan belum menikah itu. Meskipun begitu, bapak adalah tipe orang yang faham bahwa anaknya ini tipe wanita karir. Gak betah gak kerja, walaupun gak nolak juga leyeh-leyeh liburan di waktu cuti.

So here I am, after diambil sumpah jabatan di Makassar, saya gak langsung terbang ke Mamuju. Tugas pertama sudah menanti, mengikuti sosialisasi aplikasi Analisis Beban Kerja di Jakarta. Gak lama, cuma dua hari. Setelah itu saya langsung menuju Mamuju. Cuzzzz...

How To Get There 

Ada dua alternatif transportasi menuju Mamuju, yaitu lewat darat dengan kendaraan bermotor dan udara a.k.a naik pesawat. Boleh pakai sepeda? Boleh.. cuma saya gak tau berapa lama kamu bisa kuat bertahan mengayuh sepedanya. Jika kamu dari Makassar dan memilih lewat darat, transportasi umum paling banyak digunakan adalah Bus AC bersuspensi bahkan Sleeper Bus yang menyediakan tempat tidur. Harga tiketnya tergantung penyedia jasa dan fasilitasnya. Kisarannya sekitar 150 rb - 220 rb rupiah.

Jarak Makassar - Mamuju yang cukup jauh, bisa sampai 8 - 10 jam perjalanan (tergantung sopirnya aja sih) membuat Bus untuk rute ini rata-rata seat couch gitu, lengkap dengan bantal dan selimut. Jadi bisa tidur sampai tiba di Mamuju. Lagipula Bus rute Makassar - Mamuju adalah bus malam yang berangkat meninggalkan Makassar sekitar jam 9 malam. Bahkan untuk tipe sleeper bus, ada tempat tidur di bagian belakang. Harganya agak lebih mahal pasti, sekitar 220rb Rupiah.



Bus akan tiba di Terminal Simbuang sekitar jam setengah enam pagi (paling cepat), tapi kalau busnya berlama-lama di terminal, perwakilan bus atau gak diminta-minta deh ada penumpang yang ribet banget dijemput di mana, bisa-bisa nyampainya pukul tujuh bahkan pukul delapan pagi. Bhaaaayy.. absen tepat waktu! Tapi ini biasanya jarang banget kok kejadian.

Alternatif kedua adalah menggunakan pesawat udara. Hanya ada dua perusahaan penerbangan dari Makassar yang memiliki rute ke Mamuju, yaitu Wings Air dan Garuda. Wings Air yang dioperasikan oleh Lion Group terbang 4x sehari sementara Garuda hanya 1x sehari. Harga tiket dari Makassar berkisar 348rb - 700rb dengan waktu tempuh 55 menit.



Saya kebetulan memilih naik Garuda. Kesan pertama saya pada kota ini diawali pada bandaranya, Tampa Padang. Bandara ini termasuk bandara kecil yang hanya bisa menampung pesawat baling-baling atau sekelas jet gitu. Semua rute transit dulu di Makassar untuk ganti pesawat.

Jangan ngarep ruang tunggu atau area kedatangan yang lapang dan luas. Begitu kamu datang, masuk ke ruangan bandara, ambil bagasi dan voilaaa... di depan kamu sudah nunggu deh tuh para penjemput. Yang lebih seru tuh bagian keberangkatan. Kamu jalan ke luar dari bandara menuju pesawat dan di sebelah kiri kamu bisa dadah-dadahan sama pengantar dari tempat parkir. Ringkas.

Bandara Tampa Padang berjarak 27 km dari pusat kota Mamuju. Moda transportasi yang tersedia taksi carteran yang bisa dinego tarifnya atau taksi Bosowa yang jumlahnya gak begitu banyak. Paling aman emang minta jemput sama orang yang sudah dikenal. Waktu itu saya dijemput pakai mobil dinas operasional kantor, jadi gak begitu ribet mikir ke kota mau naik apa. Malah yang bikin aku sempat agak panik adalah ternyata dua operator selular yang aku gunakan tidak ada sinyal di bandara.

Operator seluler yang satu emang belum beroperasi di Sulawesi Barat, sementara operator lainnya gak ada BTSnya di sekitar bandara. Untungnya, seperti yang saya katakan tadi, dari kita ngambil bagasi pun kita sudah bisa ngeliat para penjemput yang nunggu di teras bandara. Sekecil itu bandaranya, yet it's helpful.

Mamuju in My Eyes 


Sepanjang dua bulan saya di Mamuju rutinitas saya, kantor - kos an- kantor - kos an. Paling jalan-jalannya kalau harus ke KPPN atau ke bank. Sesekali melipir sebentar di sela urusan pekerjaan buat beli perintilan di kos an. Kalau gak kerja (even Sabtu meeting juga), saya tugas ke Jakarta atau sekalian balik ke Makassar. Nothing much to see, except pemandangan kota Mamuju dari jalan arteri yang baru aja selesai pembuatannya sebelum saya datang. Tsaah.. gak deng, selesainya bulan Januari tahun ini.



Jalan arteri ini lah semacam jalan terlebar dan terbagus yang menghubungkan pusat perkantoran Gubernur ke daerah pusat kota. Berhubung di Mamuju belum seramai Makassar apalagi Jakarta, jalan arteri ini berasa jalan tol tanpa bayar menurut saya. Bonus, dapat pemandangan keren antara laut dan pegunungan. Sisanya, selamat datang di jalan aspal yang kadang berlubang dan tergenang air.



Kota Mamuju masih bergeliat menjadi kota besar. Ada sih beberapa tempat makan yang dilabelin cafe tapi belum sempat ke sana. Satu, kebanyakan kerjaan. Dua, belum ketemu aja sama yang satu aliran suka nongkrong. Tiga, kayaknya liat dari depan kok tempatnya seperti gak menarik hati ya? Hahaha..

Satu-satunya Mall di kota ini malah baru buka bulan Mei ini. Itu juga masih bertahap, baru Matahari Departemen Store yang beroperasi. Rencananya di Mall Maleo ini akan dibuka Hypermart, Cinemaxx, Sport Station dan yang paling bikin aku senang : Share Tea!  Hahaha.. sesederhana itu kebahagian saya.

Semoga abis lebaran ini, saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengeksplore kota Mamuju. Jadi bisa lebih banyak cerita deh tentang kota ini di blog. Mana tahu bisa kubuatin vlognya juga kan.. (Duh, sudah lama gak ngedit). Siapa tahu berguna buat kamu yang pengen traveling atau dimutasi kerjaan juga ke Mamuju (hahahaha.. cari temen!). 

Jalan Ke Mana : Namsan Seoul Tower di Musim Semi

Seperti judulnya di atas, ini adalah bagian kedua dari pembeberan itinerary saya pas traveling ke Seoul musim semi tahun 2017 lalu. Belum sempat baca Part 1 nya? Silahkan loh yaa.. 


So, hari kedua ke mana aja? 



Jalan Ke Mana : Namsan Seoul Tower di Musim Semi 

Jauh-jauh hari sebelum berangkat, saya sudah ngelist tempat apa aja yang pengen didatangin. Salah dua nya adalah dua tempat ini. Awalnya untuk hari ke dua, tempat yang pengen didatangin itu sekitar 4 tempat. Pada akhirnya aku dan partner seperjalanan hanya 'mampu' dua tempat aja yaitu Namsan Tower dan Dongdaemin Design Plaza. Kenapa ? 

Terpesona Bunga Sakura di Namsan Tower 


Cherry Blossom Seoul


Hari kedua dimulai dengan bangun telat, sodara-sodara. Rencana keluar dari penginapan jam 9 pagi karena ada 4 lokasi yang pengen didatangi tinggal kenangan. Saya dan partner perjalanan ketiduran dan akhirnya baru keluar dari penginapan dengan rasa tak percaya sudah ada di Seoul pukul 9 pagi. Bukannya langsung turun ke stasiun subway yang cuma sepelemparan wedges itu, saya malah strolling around sekitar penginapan. Liat-liat situasi dan cari bekal buat makan siang. 

Asiknya di sekitar penginapan itu banyak café yang sudah ngebrewing kopi. Bayangin aja suhu 18-20  derajat pagi itu, gak panas, gak berdebu, gak bising dengan suara motor berknalpot gede, kamu jalan di trotoar yang gak ada penjual kaki limanya sama sekali, yang pinggir jalannya gak dipakai buat parkiran mobil, orang-orang berjalan kaki tanpa saling nabrak apalagi nawarin barang trus ada aroma kopi yang Wangi keluar dari café-café itu. Gimana saya gak mau jalan pelan-pelan menikmati suasana? 

Tapi tentu saja, for the sake of time dan saya juga mikirin partner perjalanan yang belum tentu suka jalan gak tentu arah kek saya ini, jalan santai berakhir di salah satu mart. Biasa, beli roti isi kacang merah, roti tawar yang ingridientnya harus saya google translate dulu (hihihi) dan  air mineral ukuran 1 liter (lumayan botolnya ntar gue isi lagi kan..). Bekal makan siang! Ini karena saya yakin bakal susyeh menemukan makanan halal di kawasan Namsan Tower. 


Seoul Korea Spring


Setelah beli cemilan buat makan siang itu (ih.. ngenes banget ya? hahaha) barulah kami cuzz putar arah ke exit dua stasiun Sookmyeong Women University yang ada di seberang mart. Tujuan pertama yang akan didatangi adalah Namsan Tower yang dapat dicapai menggunakan subway line 4. Jaraknya 4 pemberhentian, jadi gak begitu lama buat nyampai. Paling sekitar 5 menitan, termasuk nunggunya. 

Namsan Tower atau disebut juga N Seoul Tower adalah salah satu ikon pariwisata Korea Selatan, khususnya kota Seoul. Rasanya gak sah maen ke Seoul kalau gak mampir ke Namsan Tower. Apalagi buat orang yang demen nonton drama Korea atau acara televisi Korea termasuk juga video music. Namsan Tower kerap kali jadi lokasi syuting ini akhirnya jadi kebayang-bayang mulu, seperti apa sih Namsan Tower itu sebenarnya? Apakah memang seindah di layar kaca atau di YouTube? 


Spring Seoul


How To Namsan Seoul Tower 



Ada dua cara untuk menuju Namsan Seoul Tower. Bisa pakai cable car, bisa juga dengan menggunakan bus atau jalan kaki (jika mampu, hahaha). Jika menggunakan shuttle bus, rute yang bisa kamu pilih : 

1. Turun di Chungmuro Station (Seoul Subway Lines 3 & 4), Exit 2 depan Daehan Cinema atau  Dongguk University Station (Seoul Subway Line 3), Exit 6.

2. Seoul Station (Seoul Subway Lines 1 & 4), Exit 9, Itaewon Station (Seoul Subway Line 6), Exit 4 or Hangangjin Station (Seoul Subway Line 6), Exit 2.


3. Myeong-dong Station (Seoul Subway Line 4), Exit 3 .


Jika menggunakan cable car (seperti yang aku pilih) :


1. Turun di  Myeong-dong Station (Seoul Subway Line 4), Exit 3. Belok kanan ke arah hotel Pasific.

2. Namsan Oreumi directions: Dari perempatan Hoehyeon (antara Myeong-dong & Hoehyeon Subway Stations of Seoul Subway Line 4), jalan terus ke Namsan Tunnel 3. Ada Namsan Oreumi elevator gratis dari the Memorial Plaza (Tutup  Senin  09:00-14:00).


Aku memilih opsi cable car yang mana aku lewat stasiun Myeongdong (pilihan nomer 1). Sesampai stasiun Myeongdong aku dan partner keluar melalui exit 3. Bayangan kita adalah Namsan Tower itu sudah di depan mata secara sudah bisa keliatan dari tempat kita berada. Ternyata jaraknya gak sedekat apa yang tertera di Google Map, Tuhaaaaaan.... Belum lagi jalannya nanjak. Asli ini perlu kaki dan nafas yang kuat.

Sebenarnya ada Shuttle Bus tersedia di sekitar exit 3 Myeongdong. Entah kenapa waktu itu aku gak ngeliat, mungkin juga karena belum apa-apa aku sudah terdistraksi dengan deretan café-café, resto dan toko yang lucu-lucu seakan manggil minta didatangin. Jadilah aku memilih untuk jalan dengan asumsi deket koookkkk .. kata om Google.

Nyatanya 30 menit kemudian kami belum nyampe-nyampe juga. Hahhahahaha. 

Serunya jalan di kota Seoul adalah ada trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki meski jalannya sempit sekalipun. Jalan menanjak menuju Cable Car Station Namsan Tower gak begitu kerasa karena cuacanya juga mendukung, panas enggak, dingin juga enggak. Terus terang, jalan kaki di pedestrian dengan cuaca seperti ini adalah hal yang sangat sangat jarang bisa aku dapatkan di Makassar. Boro-boro mau jalan kaki, panasnya minta ampun gak ada side walk pula. Ada juga diklaksonin pengendara mobil dan motor. Huuuhuhu *jadi curhat*. 




Namsan Seoul Tower


Oiya, dalam perjalanan aku juga sempat bertemu pasangan muda dari Indonesia (aku lupa dari kota mana). Mbaknya yang lagi hamil muda ini bersama suaminya baru menikmati honeymoon tanpa tour travel juga hanya berdua. Ya iyalahh.. namanya juga honeymoon, masa sekelurahan sih! Ayo semangat ya, bumil!! 


Hal seperti ini yang aku suka dari berjalan kaki dibanding naik kendaraan saat menuju suatu tempat di Seoul. Selain bisa bertemu sesama turis, aku juga jadi bisa lebih tahu suasana sebuah kota dan bisa dengerin warganya ngobrol. Soalnya aku asli penasaran, apakah aksen yang ada di drama Korea atau variety show itu sama dengan aksen sehari-hari? Kita aja kalau ngomong sehari-hari dengan yang ada di film atau sinetron Indonesia kan beda ya. Jadinya aku sangat-sangat menikmati nguping mereka ngobrol meskipun gak begitu paham.

Seoul Cherry blossom
Lelaaaaahhh Mak.. Aku Lelah.... 


Menikmati semua itu, tanda-tanda cable car station sudah di depan mata. Akhirnyaaaaaaa... Tapi ternyata perjuanga belum selesai sodara-sodara. Untuk beli tiket cable carnya harus ngantri. Sebelumnya ngantri beli tiket dulu. Ada dua pilihan, beli tiket one way atau tiket bolak balik. Aku beli tiket bolak balik aja seharga W 8500  (which is I regret later). 

Berhubung hari itu hari Minggu, bukan cuma turis aja yang datang ke Namsan Tower. Orang Seoul especially yang datang sama pasangannya juga banyaaaaaak di depan mata. Belum lagi yang datang piknik dengan keluarga, lengkap sampai nenek-kakek nya. Intinya mah sabaaar aja antrinya. Toh gak ada yang maen serobot juga sih. Kalau cape ngantri, bisa duduk bentar di kursi yang disediakan tapi jangan lupa ngetag tempat ya..

And finally after a long wait, aku dan partner dapat jatah naik cable car ke Namsan Tower. Cable Carnya lebih gede daripada yang di TMII, muat 20an orang gitu deh. Gak nyampe 3 menitan perjalanan cable car yang menyuguhkan pemandangan pepohonan dan kota Seoul dari atas terlewati and tadaaaaaaa... akhirnya menginjak kompleks Namsan Seoul Tower yang luas banget itu. 



Seoul Tower


Bagian atas Namsan Seoul Tower yaitu menaranya berada pada ketinggian 480m di atas permukaan laut. Itu sudah termasuk tinggi Gunung Namsan (243 m) dan tinggi menara itu (236.7m). Sejatinya  menara ini pertama kali didirikan sebagai menara siaran untuk mengirimkan sinyal TV dan radio pada tahun 1969. Makanya sekilas mirip tower TVRI di Senayan, Jakarta kan? Bedanya pemerintah Seoul itu pinter memanfaatkan keadaan,  karena area menara pemancar ini dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu landmark representatif dan tempat multi-budaya di Seoul.

Di area plaza Namsan Seoul Tower tersedia banyak tempat nongkrong baik yang gratis maupun bayar. Gratisan tentunya di kursi-kursi yang disediakan di bawah pohon. Gue kebetulan jarang nemu tempat teduh di bawah pohon yang menyediakan kursi untuk menikmati suasana di Makassar, so I spent some time nongkrong sambil menikmati bekal makan siang yang sudah gue siapin tadi. 


Cherry Blossom Seoul
Maafkan Muka Semua, HAHAHHAA

Gembok Cinta Namsan Tower 


Namsan Seoul Tower
Sedang Mengira-ngira Berapa Harga Perkilo Gembok-Gembok Ini Kalau Diloakin 

Katanya gak sah gak ngelock in gembok di Namsan Tower. Gara-gara ini pula maka banyak deh yang jualan gembok di Namsan. Harganya lumayan juga, 5000 Won per gembok di jual di kios-kios resmi (bukan asongan ya, emang Indonesia?) di lokasi-lokasi khusus menggantungkan harapan   gembok cinta. Aku tentu saja gak beli, hahaha.. Lagian sudah banyak gembok di sana. Biarlah aku menggembok cinta Hwang Minhyun dengan doaku saja. Halah!


Love Lock


Pertunjukan Kesenian Tradisional di Namsan Tower 

Selain untuk makan dan foto-foto, Namsan Tower juga menghadirkan kesenian tradisional Korea pada jam-jam tertentu di plaza depan gazebo ((GAZEBO.. lu pikir ini di kampus)). Kebetulan banget pas baru tiba sedang ada pertunjukan tarian dan atraksi bertema pengawal kerajaan gitu. 






Pertunjukan kesenian tradisional ini berdurasi sekitar setengah jam. Penonton gak cuma turis mancanegara. Masyarakat Seoul (atau yang mungkin juga dari luar kota Seoul yang lagi wikenan) banyak yang duduk-duduk santai sambil menikmati pertunjukan yang cukup menghibur itu. Satu hal yang aku suka, penontonnya tertib dan saling mengerti. Tidak mengganggu pemandangan, menghalangi dan behave banget. Gak ada dorong-dorongan atau serebot tempat. Bener-bener kayak duduk di taman trus kebetulan aja ada pertunjukan gitu. The reaction also awesome tanpa harus teriak-teriak atau nyelutuk-nyelutuk gak jelas kek orang-orang kita nonton film di bioskop. #eh


Ada Apa Aja di Namsan Seoul Tower ? 

Selain bertebaran spot untuk pasang gembok cinta dan site untuk foto-foto dengan latar belakang cherry blossom, tujuh lantai Namsan Seoul Tower menyediakan tempat-tempat berikut : 

Seoul Tower Namsan
Hanbok Culture Experience 


L – Hanbok Culture Experience Center
1F – Starbucks, Sweet Monster, Gong Cha, Perfect Match, Steak, GS25, Souvenir shop
2F – Tokyo Steak
3F – Broadcasting facilities, security area
4F – Season’s Table, Game Plaza, Hosigi Double Chicken, Ah-Charm

[N Seoul Tower]


5F – N Sweet Bar, A Twosome Place, Ssentoy Museum, Hello Kitty Island

T1 – Ticket booth, N Burger, N Terrace, A Twosome Place, Olive Young, Cheil Jemyunso
T2 – The PLACE Dining
T3 – Hancook
T4 – Observatory, A Twosome Place
T5 – Observatory, Weeny Beeny
T7 – n.GRILL



Hanbok






Gak semua sempat aku datangi, sudah keburu sore. Makin malem tampaknya Namsan Tower makin rame. Mungkin karena malam minggu, makin banyak couple yang datang sambil pegangan tangan. Aihhh..  kabur ah daripada baper. 

Namsan Cable Car Tiket : 

Jam Operasi: 10:00-23:00
Pulang Pergi (Dewasa 8,500 won / Anak-anak 5,500 won)
Sekali Jalan (Dewasa 6,000 won / Anak - Anak 3,500 won)
Groups yang lebih dari 30 orang dapat diskon loh.

Meskipun saya beli tiket cable car pulang pergi, belakangan jadi nyesel mending ambil sekali jalan saja. Soalnya sudah ngantrinya lama, mending jalan turun aja menikmati pemandangan dengan tebaran bunga Sakura di mana-mana. Gimana? Tentukan pilihanmu.