12 Font Keren Untuk Blogging, Gratis!

Saya memang bukan anak desain, tapi urusan FONT cukup penting buat saya. Font yang unik, menarik, dan enak dipandang mata bisa memperindah tampilan dari gambar, naskah atau slide presentasi. Maklum, blogger diharapkan tidak hanya bisa memikat pembaca dari isi tulisan tapi juga presentasi awal dari blog post kita.

Dibuat Menggunakan Power Point 2016 



Sebenarnya ada banyak jenis font diluar yang disediakan operating system bawaan masing-masing laptop/PC atau aplikasi grafis di gadget. Lucu lucu pula! Memang gak semua nya gratis. Kalau mau digunakan secara komersil tentu saja ada syarat dan ketentuan berlaku nya yah. Tapi ada juga loh font-font cantik dan menarik yang gratis. Here are some of my favorite FREE fonts.


Dibuat Menggunakan Power Point 2016 



Bebas Neue | Black Jack | Sensa | Dolce Vita | PH | Sensei | Chunck Five | Pacifico | Santelia | Donau | Summer | Nexa Script |

Disclaimer:  Ini semua hanya gratis untuk penggunaan pribadi. Sekali lagi, jika digunakan secara komersial, silakan baca persyaratan layanan yang tercantum pada lisensi masing-masing font.  

Selamat mempercantik tampilan blog! Semoga berguna. 

Tempat Nongkrong Asik di Makassar : Numericca 29

Hal yang paling ngeselin saat berada di kantor adalah, ketika jam makan siang tiba dan rasa lapar sudah melanda tapi kantin kantor sudah kehabisan persediaan makanan. Mau gak mau opsinya hanya dua : pesan online atau sekalian keluar makan siang. Tentunya opsi kedua selalu menjadi pilihan. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari melihat 'pemandangan' baru, bukan?

Kali ini pencarian makan siang saya berhenti di Numericca 29 yang terletak di jalan Botolempangan no. 29, perempatan jalan Sawerigading. Sebelumnya tempat ini bernama Bangi Kopitiam yang menyediakan makanan ala Melayu-Cina. Berhubung kontrak franchisenya telah berakhir, sang owner tidak berniat memperpanjang dan malah berganti konsep. Dengan konsep baru 'Asian Kitchen, Market & Pastry', tempat ini membuat saya penasaran pengen nyoba.



Anyway, sesuai konsepnya Numerricca menyediakan makanan dan minuman bernuansa Asia, seperti dari Thailand, Malaysia, Jepang, China dan Indonesia. Bahkan terselip pula beberapa menu western semacam sandwich dan pasta. Selain itu Numericca 29 juga menyediakan pastry dan bakery sebagai dessert. Last but not least, di deretan minuman yang disediakan terdapat berbagai macam varian kopi dari biji kopi fresh pilihan. Mmh.. interesting.

The Menu


Setelah bolak balik lihat menu dan sempat bingung menentukan pilihan (abis banyak banget hidangannnya dan kelihatan sangat menggiurkan), akhirnya saya memilih Fried Rice Szechuan. 

Penampakan Fried Rice Szechuan ini memang seperti nasi putih biasa, tapi serius ini nasi goreng loh. Meski tanpa kecap manis atau sambel yang memberi warna cokelat atau kemerahan, rasa pedas dan manis terangkum dalam saus kari yang dituang disekelilingnya. Perpaduan nasi dan saus dilengkapi potongan cumi dan baso ikan. Gurihnya telur mata sapi menambah keberagaman rasa yang membuat saya tidak bisa berhenti untuk menyendok sesuap demi sesuap hingga ke tetes terakhir. Ketika sausnya lumer di lidah hanya ada satu kata : Yummy!



Untuk penyeimbang rasa di lidah, saya memesan Ice Americano sebagai minuman. Saya tidak sempat menanyakan dari biji kopi daerah mana yang mereka sediakan, tapi rasa kopinya tidak mengecewakan.



Tapi highlight dari menu makan siang saya hari itu adalah the dessert. Serius, ketika saya tahu di area pintu masuk Numericca 29 terdapat pastry and bakery corner segera saya melirik deretan cake, roti, donat hingga macaroons yang terpampang dengan cantiknya. Lebih menyenangkan lagi karena disediakan tester untuk beberapa cake pilihan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada : Blueberry Cheese Cake.



Blueberry Cheese Cake di Numericca 29 ini cake dan kejunya yang serasa lumer di lidah. Topping Blueberry yangsedikit manis menyeimbangkan rasa membuat saya menyendok sesuap lagi dan sesuap lagi. Gak pake lama, sudah habis. Heran, itu doyan atau masih lapar ya?

Selain Blueberry Cheese Cake, Choco cake nya juga bikin nagih. Cake nya empuk banget dengan cokelat yang berasa lumer di lidah. Selumer hatiku melihat tatapan Song Joongki.. (Aiish, mulai lagi deh).Jadi pengen lagi dan lagi..


Another cake yang bikin saya jatuh cinta adalah Opera Cake. This is totally a cake yang pengen saya buat sendiri cuma ribet minta ampun, hehehe.. Ini sebenarnya pesanan teman saya, tapi saya ikut icip juga. Finally ketemu Opera Cake yang rasanya tidak mengecewakan. Teman yang pas untuk disantap dengan Ice Coffee Caramel. Untuk yang gak suka rasa kopi yang berat atau suka yang manis-manis, silahkan coba padanan dessert ini.


The Atmosphere 

If you're looking a quite and homey place to lunch or to have some coffee and chit chat with your friends, this is the place. Numericca 29 menyediakan smoking area di bagian luar dan di lantai atas. Selain gak menganggu pengunjung yang bukan perokok, open space dan ruangan berAC di lantai atas memungkinkan para smokers untuk menikmati view sibuknya jalan Botolempangan dan sekitarnya.

Sementara untuk non smokers, bisa menikmati area indoor di lantai 1 yang menyediakan meja untuk berombongan atau berdua aja. Satu sudut favorit saya adalah sebuah meja untuk berdua di sudut ruangan dekat jendela. It's quite romantic buat yang lagi ngedate.. (Song Joongki mana Song Joongki? ).



Oiya, setiap malam minggu ada live music dari home band akustik di tengah hall utama. Boleh request, boleh ikutan nyanyi.

The Price

Harga minuman mulai dari 20ribuan (kecuali air mineral 9ribuan), makanan mulai dari 40ribuan dan cake dan pastry berkisar 10ribuan hingga 30ribuan. Palingan harus ingat aja harga belum termasuk pajak 10% dan service 5%. Jadi kalau bayarnya patungan, jangan cuma bayar harga makanan dan minumannya aja yah, pajak dan servicenya pura-pura gak keliatan. Hehehe.. 

The Conclusion 

Sekali lagi, masalah lidah dan kenyamanan memang tergantung selera. Sebagai tempat meet up dengan teman, meeting kecil-kecilan dengan klien, ngedate dengan pasangan, ngeblog (uhuk!) atau jadi tempat nongkrong asik sambil ngopi, segala kenyamanan dan enaknya menu yang ditawarkan di Numericca 29 menurut saya tidak mengecewakan. Worth to visit and dig in. Wanna try? Kalau saya sih yes! Kalau kamu? 

Fitur GoodFood, Makanan Biasa Jadi Tampak Luar Biasa!

Sejatinya segala persiapan food photography yang sepintas terlihat ribet itu memang dilakukan agar makanan yang difoto dapat menggugah selera yang melihatnya. Agar menarik menu sehari-hari rumahan biasa, bisa ditata sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan tampak mewah. Menunya mungkin cuma tahu tempe, tapi dengan plating alias pengaturan di piring yang cakep plus hasil foto yang juga cakep, pasti bikin yang liat fotonya jadi ngeces. 

Masih ingat kan sebelumnya saya sempat mengikuti workshop Food Photography bersama salah satu komunitas? Dalam workshop tersebut seorang peserta bertanya (uhuk, saya maksudnya!),"Gimana kalau saya gak punya kamera DSLR. Bolehkah mendalami food photography dengan modal kamera dari smartphone saja?" 



Jawabannya boleh banget! Karena sekarang kamera smartphone itu sudah canggih, malah terkadang hasilnya gak beda jauh dari kamera DSLR. Nah, kebetulan saat workshop tersebut Huawei baru saja mengeluarkan produk baru yaitu Huawei G8 yang mempunyai fitur yang keren banget buat motret makanan, namanya GoodFood. Kalo pas motret makanan, aplikasi kamera di-set pake fitur GoodFood, warna makanan jadi lebih bagus, otomatis tampilan pun jadi lebih menarik dan menggiurkan. 

Artinya fitur ini jadi penting banget kan, apalagi buat yang kerjaannya memang “jualan” makanan. Dari yang memang punya usaha menjual makanan maupun yang menjual jasa berhubungan dengan makanan, seperti food blogger. 

Bahkan ya, ada yang berawal dari selalu motret sajian makan siang hasil masakannya di rumah, pake smartphone, eh malah jadi punya profesi baru jadi food stylist. Itu gara-gara dia mengatur makanannya dengan cantik sehingga tampilan sajian dan hasil fotonya cakep. Serius banget jadi seperti hasil masakan restoran mahal yang difoto di studio foto profesional dengan food stylist profesional pula! 



Sst.. asal tahu saja, bayaran jadi food stylist dan food photographer itu gede loh. Apalagi di Makassar, kedua profesi ini  masih jarang digeluti. Padahal satu makanan bisa dihargai 500ribu rupiah. Kebayangkan kalau dapat job dari hotel atau restaurant yang gak mungkin jenis makanannya cuma satu... (otak cepat mikir aja kalau masalah duit). 


Jadi, mungkin memang sudah saatnya ya lebih membuat makanan rumahan jadi lebih sadar kamera. Nggak bisa asal-asalan! Siapa tau malah jadi peluang rejeki baru, ya gak? 

Yuk lebih serius menekuni Food Photography. Googling  Huawei G8 aja yah buat tahu lebih banyak tentang smartphone ini dan fitur GoodFood-nya. 

Selamat memotret! 

Desain Smartphone Mencerminkan Penggunanya

Sadar gak sih, desain sebuah barang itu jadi hal pertama yang bikin orang yang ngeliat jadi nengok dan lebih memperhatikan. Desain keren, aneh, atau jelek sekali pun pasti bikin orang akan lebih ngeliatin. Cuma yang bikin beda adalah desain yang keren itu pasti bikin yang ngeliat jadi pingin punya. Barang yang kita pilih mencerminkan penggunanya,loh!

Tampilan fisik atau desain sebuah barang memang seringkali mempengaruhi seorang pembeli. Setiap orang pengen terlihat keren. Makanya kebanyakan orang memilih barang yang keren juga agar penampilan dan imagenya tetap terjaga. termasuk smartphone. Tampilan fisik smartphone memberikan rasa gengsi buat pemiliknya. Orang masa keren gini, smartphone-nya masak gitu… ya nggak?



Makanya seringkali sebelum menggali lebih dalam kecanggihan smartphone, kita sebagai pembeli biasanya mencermati dulu desainnya. Coba aja perhatiin pengunjung toko atau outlet smartphone. Lebih lama bolak balik megang satu smartphone ke satu smartphone lainnya. Banding-banding, enak mana ya.. keren mana yah.. 

Nah, salah satu smartphone masa kini yang gak bisa dilewatkan adalah Huawei. Produsen smartphone ini baru saja meluncurkan Huawei Y6 yang memiliki desain keren di kelasnya.


Oiya, cek en ricek ternyata Huawei Y6 ini harganya cuma sejutaan lho! Asik kan? Wiih..untuk smartphone dengan desain sekeren ini, Huawei Y6 boleh juga yah.. 

Lebih Keren Dengan Huawei Y6


Terkadang kecanggihan fitur nggak selalu jadi jaminan penting apakah smartphone tersebut pas dan nyaman buat kita. Kalau sudah nyaman dengan tampilannya, enak dipegang dan mudah digunakan, pengguna pun merasa lebih puas. Kekerenan pemiliknya pun makin terpancar. Wuiih... 




Gimana, keren nggak? Nah kalau mau tahu lebih banyak tentang smartphone keren ini, coba Google dulu deh 'Huawei Y6' untuk lebih jelas mencermati desainnya yang elegan dan berkelas. 

First Impression : Descendants of the Sun

Abang Joong Ki kembali................................ yay!

Ini reaksi pertama saya tahun lalu ketika kabar Song Joongki yang baru aja kelar wamil langsung tanda tangan kontrak untuk main drama. Lawan mainnya bukan aktris sembarangan. Gak lain gak bukan, mbak Song Hye Kyo yang kelihatan tidak dimakan usia (bete deh!).  Song Joong Ki dan Song Hye Kyo berperan dalam drama “Descendants of the Sun”, sebuah drama Korea semi layar lebar yang syuting dulu baru tayang. Bikin penasaran...

Descendants of the Sun


Saya sebenarnya pengen nonton drama ini di KBS World, berhubung “Descendants of the Sun” diproduksi oleh KBS 2TV. Apa daya setelah digoda dengan berbagai macam preview dan teaser, plus colekan dari empok empok drama di Path, there i was, download episode 1 di jam kuliah saat mahasiswa senior sedang ujian proposal judul. Sunbae (baca : senior), berjuanglah untuk thesismu. Saya nonton Song Joong Ki berjuang di medan laga dengan gantengnya. 

Storyline Descendants of the Sun

Secara garis besar plot ceritanya adalah tentang sulitnya dokter bedah dan tentara papan atas pacaran. Song Joongki yang masih bau-bau abis wamil itu, didapuk berperan sebagai kapten Yoo Shi Jin yang kerap ditugaskan untuk misi khusus. Semacam penyelamat-negara-pembela-perdamaian-antar-bangsa gitu deh. Sementara Song Hye Kyo adalah memainkan karakter Kang Mo Yeon, seorang dokter bedah yang sangat ingin sekali menjadi professor di rumah sakit tempatnya bekerja. 

Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon bertemu pertama kali di rumah sakit saat Yoo Shi Jin mengantar teman baik sekaligus rekan satu teamnya di militer Seo Dae Young mengejar pencopet yang terluka. Kang Mo Yeon sempat mengira Yoo Shi Jin adalah anggota mafia yang menganiaya membernya, jadi dia sempat ngejutekin sang kapten. Yang dijutekin bukannya kesel, malah jatuh cinta pada pandangan pertama ke si dokter. Hadeuh.. 



And that's how the story begins. Gak pake lama, mereka berdua sudah saling flirting-flirtingan. Sempat janjian untuk kencan, tapi selalunya gagal karena Yoo Shi Jin mendapat panggilan tugas negara. Profesi mereka yang bertolak belakang membuat keduanya sepakat untuk mengakhiri hubungan yang belum pula dimulai. 

8 bulan kemudian secara tak diduga mereka dipertemukan oleh profesi mereka masing-masing, di sebuah negara yang sedang dilanda perang. Profesi yang membuat mereka terpisah, kini malah mempertemukan mereka kembali. How it will end ? Santaaaai.. masih ada 14 episode,nih! 

My First Impression 

Dari dua episode pertama memang masih terlalu cepat untuk membuat kesimpulan apakah drama ini beneran bagus atau it's just another k-drama. Berikut kesan saya sepanjang dua episode Descendants of The Sun. 

Drama Korea Rasa Film Layar Lebar 

Mungkin emang bagus juga ya kalau syuting dulu abis itu baru tayang. Bagian produksi punya waktu untuk mengerjakan tugas mereka dengan tidak terburu-buru. Sinematographynya keren, editingnya cantik. Saya paling suka perpindahan antara bagian Yoo Shi Jin bertugas membebaskan tawanan dengan Kang Mo Yeon yang sedang melaksanakan operasi. It's very smooth, yet beautiful. Adegan tatap-tatapan di ruang emergency dengan tirai sebagai pembatas juga keren banget. Tinggal di cut sudah jadi video klip, hahaha. 



Satu hal saja yang bikin kesel, adegan tatap-tatapan antara Song Joongki dan Song Hye Kyo seharusnya dikurangi aja. Bikin iri! Untung bukan saya editornya, kalau iya, akan banyak scene berakhir di tangan editor. :D 

Pemain & Karakter 

Selain Song Joong Ki dan Song Hye Kyo, banyak pemain lain yang sudah akrab di mata namun susah diingat namanya. Tapi yang bikin saya semangat adalah : ONEW !! Dari kapan tahu Onew ini kerap disebut sebagai 'kembaran Song Joong Ki' That's why i really anticipated karakter yang dimainkan Onew dalam Descendants of The Sun. Would it too obvious kalau saya berharap Onew jadi sepupunya Joong Ki di drama ini? Terima kasih writer nim, kau tidak membuatnya seperti itu. It would be very awkward to see them has family line in your scenario.  

Descendants of the Sun


Sepertinya gak bakal ada second lead male, yang ada hanya bromance antara Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young, si muka datar berhati mellow. Mengutip kata sutradaranya," Ketika dua orang berbagi makanan, tempat tinggal, dan bahaya setiap hari, terjadi ikatan yang kuat berkembang di antara mereka." 

Jalan Cerita 

So far belum ada yang bikin keselek cilok sih. Kecuali mungkin pas adegan di pesawat hercules sesaat sebelum terjun. 

Descendants of the Sun

Dari semua negara yang bergolak di bumi ini, why Afganistan? Membayangkan 'a pretty boy soldier' dari Korea Selatan membebaskan tawanan Taliban saja sudah bikin saya rolling eyes. Help.. ! Selamatkan saya sajaaaa...  Joongki aaa. 

Melalui drama “Descendants of the Sun”saya juga baru tahu dokter bedah kalau lagi kangen sama patjar liatin foto rontgen. 

Descendants of the Sun

And i felt sorry for Kang Mo Yeon, karena tiap kali ngedate batal melulu. Rasanya semacam pacaran sama Peter Parker, the Spiderman atau Clark Kent, the Superman dan superhero lainnya. Baru juga mau nonton bareng, patjar sudah harus tugas negara. Dijemput pake helikopter pula (yang dinaiki Song Joongki seperti naik taksi aja, masih sempat dadah-dadah segala). Kesampaian nonton, belum juga lima menit film main, si patjar harus pergi lagi demi tugas negara. Duh.. gak kebayang uang SPPDnya berapa tuh yah.. sering banget dapat tugas negara. #heol #wanyeol  

Descendants of the Sun


Conclusion 

So far, sepanjang dua episode ini cukup membuat saya betah. Ceritanya mungkin akan berkembang lebih seru lagi di episode-episode depan, dan pastinya mata bakal lebih seger liat yang lucu-lucu. Masih ada kesempatan 14 episode lagi, gak mungkin kapten Yoo Shi Jin gak mandi sepanjang doi tugas di daerah panas dan berdebu seperti di Urk kan? #uhuk #kode . 

Lagian kapan lagi liat Song Hye Kyo kerudungan pake pashmina terdampar di bandara seperti rombongan gagal berangkat umroh. :D 

Descendants of the Sun

Saya gak sabar untuk melihat apa yang terjadi di episode berikutnya. Descendants of The Sun tayang setiap Rabu - Kamis di KBS World menggantikan The Merchant : Gaekju 2015. Menurut kamu, drama Descendants of The Sun layak tonton gak? Share pendapat kamu tentang drama ini di kolom comment, yah! Gomawo.. 
Follow my blog with Bloglovin

Pengalaman Pertama Membuat Pizza

Sesekali cerita tentang urusan dapur, boleh dong?

Minggu lalu rasanya pengen banget makan pizza. Sebenarnya lebih gampang beli jadi. Mulai dari pizza traditional yang dibakar sampai pizza goreng, sekarang ada dimana-mana. Tapi pengen aja bikin sendiri. Jadilah saya mengubek-ubek resep yang tersebar di seantero sosmed. Ternyata bahannya tidak terlalu menyusahkan untuk ditemukan (di supermarket, hehehehe). Cara membuatnya pun tidak seribet yang saya perkirakan. Jadi dengan modal nekat (eh... modal duit juga ding!), mari kita membuat pizza sendiri........ !!!



Berhubung ini pengalaman pertama dan saya gak mau terlalu ribet, jadi bahannya bener-bener dasar. Sedasar apa yang ada di lemari penyimpanan bahan di dapur saja, yah bu ibu.. jeng, ceu, kak, dek, mas.. (ya kali ada).

Bahan Adonan Pizza

250 gr tepung terigu berprotein tinggi
  50 gr tepung terigu berprotein sedang
200 ml air hangat
1 bungkus ragi instant
1 sdm minyak sayur
sejumput gula, garam dan cinta (yang disebut belakangan ini opsional. Tergantung stok hari ini)

Cara Membuat Adonan 

1. Tempatkan tepung terigu dalam wadah terpisah.
2. Dalam mangkuk kecil, larutkan ragi dalam air hangat beserta gula dan diamkan selama 10 menit hingga berbusa.
3. Campurkan larutan ragi dengan tepung. Tambahkan garam.
4. Uleni adonan hingga tercampur rata hingga kalis dan elastis. Tambahkan minyak sayur agar tidak lengket.
5. Bentuk adonan menjadi bola dan tutupi dengan serbet. Tempatkan mangkuk di daerah yang hangat dan biarkan naik selama 30 menit atau sampai dua kali lipat dalam volume.

Pada akhirnya saya gak merhatiin jam karena adonan saya tinggal untuk cuci mobil. Iyesss, saya nyuci mobil sendiri lohh. Begitu mobil kelar dicuci, adonan sudah naik. Tinggal nunggu ditepuk-tepuk ( tapi gak usah sambil bilang,"yang sabar yah..). 




Bahan Isi Pizza: 

1 bungkus Saus Spaghetti instant
3 buah Sosis
Mentega secukupnya untuk menumis
Keju slice / keju parut sesuai selera

Cara Membuat Isi Pizza

Lelehkan mentega, masukkan saus spaghetti bersama 3 buah sosis yang telah dipotong-potong. Aduk rata hingga mengental. And that's how it's done! *miss praktis*

Cara Membuat Pizza

Menurut resep yang saya contek dan pengalaman melihat almarhum mama membuat pizza, adonan yang tadi dibiarkan mengembang kita ambil lalu dipelototin supaya mengkeret.

Ehhh.... gak gitu juga kali! Ok serius! 

Tekan adonan ke bawah untuk menghilangkan gelembung yang ada. Uleni lagi sebentar dan bagi menjadi 2 bola adonan. Tempatkan pada permukaan yang sudah diberi tepung. Tutupi dengan serbet dan biarkan adonan naik selama lebih kurang 1 jam.


Sementara itu ayo cuci pakaian ! 

Setelah lebih kurang sejam, ambil 1 adonan sementara yang 1 lagi saya biarkan tetap tertutup. Adonan kemudian saya ratakan di loyang segiempat bawaan oven listrik yang saya gunakan.

Olesi adonan dasar pizza dengan saus yang sudah disiapkan. Panggang dengan suhu 170 derajat kurang lebih 25 menit.

Di 10 menit terakhir tambahkan potongan keju.

Sembari nunggu pizza matang, mari kita lanjut nyuci pakaian.

Ting!

Timer oven sudah berbunyi, berarti saatnya melihat hasil eksperimen. Tadaaaa.......



Berhubung wanginya menggoda selera pizzanya buru-buru diletakkan di piring yang tidak compatible dengan bentuk pizzanya sendiri. Foto juga sudah buru-buru, gak pake prinsip Food Photography lagi. Maklum, sudah nyuci mobil plus nyuci baju rasa laparnya naik 3x lipat. *cari pembenaran*

Baca juga : Food Photography Untuk Pemula 

Meski penampakannya tidak seindah pizza bermerk kondang, gak yangka ternyata rotinya empuk, pinggirnya garing, toppingnya sudah berasa di Italia aja (ya keleeess kan pake saus spaghetti). Hahaha...

Saya sukaaaaa... Hanya ada satu hal yang bikin kecewa. Kejuuuunyaaaa kurang ngejuuuu.. Memang ada harga ada kualitas. Kebetulan yang ada di stok cuma keju biasa saja. Ok, next time perlu diperhatikan.

Jadi yah gitu deh pengalaman pertama saya membuat pizza. Namanya juga percobaan pertama, disana sini pasti ada kekurangan. So far, gak membuat pizzanya gagal sih. Lumayan nyantai juga pembuatannya, karena saya bisa sambil nyambi cuci mobil dan nyuci pakaian diantaranya. Hehehe..

Bagaimana dengan kamu, sudah pernah bereksperimen membuat pizza sendiri juga? Atau mending beli jadi aja ? Share your comment, below ya!

Tips Food Photography Untuk Pemula

Saya lagi senang-senangnya motret makanan nih. Jadi ketika beberapa waktu lalu komunitas Kompakers Makassar mengadakan workshop food photography bagi membernya, dengan segera saya join. Mendadak jadi anggota, apalah.. demi ilmu baru gak apa-apa kan?



Kebiasaan foto makanan atau minuman sebelum actually memakannya, sudah jadi kebiasaan banyak orang. Dengan berbagai tujuan, foto-foto tersebut kemudian diupload ke sosial media. Kebanyakan asal jepret, langsung upload. Yang penting ketahuan makan apa, dimana. Apakah itu sudah termasuk food photography?

Menurut kak Sandhy Geta, seorang food photographer handal di Makassar, food photography adalah salah satu bidang di commercial photography, khususnya still life. Hasil foto tersebut digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti advertising, majalah atau menu.

Food Photography vs Food Documentation 


Karena dimaksudkan untuk menerbitkan selera makan atau bikin ngiler orang yang melihatnya, maka food photography ini memerlukan beberapa persiapan sebelum pengambilan gambar. Sementara yang umum dilakukan oleh para social media freak sebenarnya dikategorikan sebagai food documentation dimana sebuah foto yang dalam pengambilannya tidak memerlukan sebuah persiapan khusus.





Sebenarnya kita bisa kok melompat naik ke kategori food photography. Tentunya ada berbagai persiapan khusus.  Nah, jadi apa saja persiapan dalam food photography? Yuk kita cek bersama :

1. Komposisi Pencahayaan 

Ada dua jenis pencahayaan yang kerap digunakan dalam food photography, yaitu :

Available/Ambient light.  
Memotret menggunakan available/ambient light menggunakan cahaya yang tersedia seperti cahaya matahari, bulan bahkan petir.  Jika pemotretan dilakukan di dalam ruangan berarti kita memanfaatkan cahaya yang ada pada ruangan itu (room light).

Tempatkan media, objek dan property foto di dekat jendela dimana cahaya tidak langsung menyinari. Pastikan untuk mematikan setiap lampu dekat atau lampu di atas kepala jika kita hanya ingin sinar matahari, tidak ada pencampuran di lampu buatan.

Penggunaan cahaya yang tersedia adalah tantangan tersendiri bagi fotografer. Penerangan dalam ruangan yang mengandalkan cahaya matahari, misalnya, mungkin memerlukan penggunaan warna atau reflektor untuk memanipulasi cahaya. Tips paling gampang sebenarnya objek yang difoto ditempatkan di dekat jendela  dan siapkan reflektor agar cahaya bisa menyebar.

Pada workshop food photography bersama Kompakers Makassar hari itu, kami menggunakan alas kue segiempat berlapis kertas silver sebagai reflektor. Cukup mudah didapatkan walaupun agak rempong kita bawa kemana-mana, apalagi kalau lagi hang out di kafe dan pengen motret makanannya. Triknya bisa menggunakan kertas roti, kertas kalkir atau kertas putih lainnya yang tidak terlalu tebal. Selain itu kain putih tipis, atau bahkan serbet besar terbuat dari linen/katun putih juga bisa dicoba untuk digunakan sebagai reflektor.

Artificial Light
Jenis pencahayaan ini menggunakan penerangan buatan seperti flash pada kamera/smartphone atau lampu studio. Untuk menunjang memanipulasi cahaya ada tambahan alat yang lebih kompleks seperti softbox, octabox, diffuser dan sebagainya.

Untuk food photography professional  pasti lebih banyak printilannya dibanding food photography pemula. Sebagai pemula biasanya lebih mengandalkan available/ambient light. Meski begitu jika ingin menggunakan artificial light, lampu meja belajar pun sebenarnya bisa digunakan sebagai pengganti lampu studio.

2. Komposisi Gambar 

Selain pencahayaan, hal penting lainnya dalam food photography adalah komposisi gambar. Tujuannya tentu agar makanan atau minuman yang ditampilkan pada foto tidak saja terlihat menarik tapi juga menggiurkan. Ada tiga jenis komposisi gambar yang perlu diketahui :

The Rule of Thirds 

The Rule of Thirds mungkin merupakan prinsip yang paling terkenal dari komposisi fotografi. Prinsip dasar di balik aturan ini adalah menempatkan objek pada rasio sepertiga dan dua pertiga bagian layar.



Untuk lebih memudahkan penempatan objek, pilih menampilkan grid pada display kamera atau smartphone kita. Layar akan terbagi ke dalam 9 kotak, tiga horisontal dan tiga ruang vertikal. Dari ke 9 kotak itu kita memiliki pertemuan empat titik pada layar. Bagian paling menarik dari foto diletakkan tepat di salah satu empat titik, entah itu di bagian atas, bawah, kiri atau kanan.

Diagonal

Pada komposisi diagonal rule objek foto ditempatkan pada konsep garis diagonal dengan bantuan garis pada grid di layar smartphone atau view finder di kamera. Meski objek tidak harus ditempatkan selurus mungkin, bukan berarti kamera atau smartphone yang dimiringkan. Agar membentuk gambar yang diagonal, kita yang harus mengatur objek kita sesuai dengan diagonal frame di kamera kita.



Dead Centre

Ini dia teknik yang paling gampang dan mungkin paling sering diterapkan saat kita memotret makanan sebelum makan. Objek foto ditempatkan di tengah-tengah persinggungan garis yang membagi ke 4 bidang pada grid di layar smartphone.



3. Background 

Background bisa mempercantik sebuah foto tapi juga bisa mengalihkan perhatian pada objek sebenarnya. Gunakan background yang sederhana dan tidak terlalu mencolok, sehingga perhatian orang yang melihat foto kita  tetap terfokus pada objek foto.

Background yang kontras dengan warna makanan dapat pula membuat objek foto kita terlihat lebih menggiurkan. Coba deh perhatikan foto makanan oriental di menu-menu, iklan di media atau display billboard. Biasanya foto tersebut menggunakan background putih. Dengan warna putih sebagai background warna dari masakan oriental yang pada umumnya berwarna terang akan lebih menonjol.



Sementara untuk makanan berwarna pucat bisa diakali dengan latar belakang gelap dan tambahkan beberapa taburan maupun hiasan dengan warna warni agar makanan terlihat lebih segar.

Kamera 

Setelah membeberkan aturan dasar dari food photography, lalu muncul pertanyaan di sesi tanya jawab. Haruskah menggunakan kamera dslr atau mirrorless untuk pengambilan gambar pada food photography ?



Sebenarnya tidak perlu, kecuali kalau memang ingin benar-benar serius menggarap food photography ini sebagai lahan penghasilan. Basically, sebagai pemula menggunakan kamera smartphone pun boleh banget. Toh sekarang smartphone mempunyai kamera yang makin hari makin canggih. Meski kata kak Sandy ada satu smartphone yang kualitas fotonya setara dengan kamera dslr, saya sendiri percaya sebenarnya gak terlalu penting pake kamera atau smartphone apa. The most important thing is the man behind the camera.

Practice Makes Perfect 

Saya percaya foto adalah sebuah seni, dan seni itu tidak bergantung hanya pada kecanggihan alat tapi lebih kepada yang menggunakan alat tersebut. Secanggih apapun kameranya kalau yang menggunakan tidak mengerti kegunaan fitur-fitur yang ada atau tidak punya sense of photography akan percuma juga. Untuk mengasah seni fotografi yang kita miliki, kita tetap harus berlatih. Bener kan?

Saya juga masih dalam taraf belajar. Hasil jepretan menggunakan smartphone itu saya upload di Instagram @vitamasli. Follow akunnya boleh kak.. :D

Hasil mengikuti workshop ini sudah saya terapkan meski kadang-kadang saya masih melanggar aturan juga sih (Well.. rules are made to be broken, right?). Kalau kamu mengikuti aturan dasar food photography atau mengikuti 'perasaan' saja? Share di kolom komentar yah..

Disclaimer : all food photos taken by @vitamasli