Penonton Ada Apa Dengan Cinta, Dulu dan Kini
Ok, ini bukan review apalagi spoiler karena saya gak mau terlalu menyoroti cerita AADC 2. Meski well, just say saya punya ekspektasi yang cukup besar untuk AADC 2 dan merasa ada yang sedikit ngeganjel. Tapi ya sudahlah yah. Skenario sudah jadi, filmya sudah terbit dan penontonnya sudah melampai 3 juta. Mendingan saya berbagi cerita tentang penonton Ada Apa dengan Cinta dulu dan kini saja. Setuju?
Saya termasuk salah satu dari generasi penonton pertama Ada Apa Cinta. Sewaktu film ini tayang di tahun 2002, saya bersama teman-teman nobar di hari pertama. Ngantri? Jelas. Tapi bukan saya sih yang ngantri. Entah gimana teknisnya saya lupa, yang jelas jam 4 sore sehabis siaran di radio, saya bersama teman-teman sudah duduk manis di barisan tengah.
Dan saya nangis. Nangis beleber sampai gak tahu saya nangis gara2 Cinta dan Rangga atau saya menangisi kisah percintaan saya sendiri, hahaha. Lalu kemudian pulangnya mampir ke Disc Tarra beli CD OSTnya. Besok-besoknya nonton lagi. Gitu terus sampai beberapa kali. Beli VCDnya, nonton lagi. Tidak berhenti sampai di situ, seperti juga dengan banyak penonton lainnya potongan2 dialog Rangga dan Cinta terbawa-bawa dalam percakapan sehari-hari. Puisi2 Rangga terngiang-ngiang sampai hari ini.
Sebegitunya.
12 tahun berlalu, tiba-tiba saja sebuah iklan mengetuk kenangan. Mini drama AADC setelah sekian purnama merebak kisah masa lalu. Apa kabar Cinta? Apa kabar Rangga? Apa kabar kita?
Dan begitulah kenangan-kenangan itu membuncah. "Sudah terlalu lama kita gak kumpul seperti ini,"kata Cinta dalam trailer AADC2.
Iyah, sudah terlalu lama. Ada Apa Dengan Cinta 2 harus ada. Terserah 1 purnama di New York beda dengan 1 purnama di Bekasi, misalnya. Durasi 10 menit dengan ending tatap-tatapan sambil senyuman di bandara (Incheon) itu gak cukup. We want more, mbak Mirles. I want more!
Sungguh mati aku jadi penasaran
Sampai mati pun akan kuperjuangkan
Yang diatas itu bukan OST AADC2, yah. Serius, bukan!
Tapi iyah, saya penasaran. Dari IGnya nicsap dan therealdisast saya akhirnya dapat sedikit clue : Cinta ke New York. Abis foto salju dan lokasi di IG nicsap dan therealdisast samaan sih. Sempat kepikiran jangan-jangan Cinta sakit hati gara-gara Rangga selingkuh di New York. Yeaah, cliche sih. But it happens all the time. Ok, most of the time. Tanya deh sama yang LDRan. *siul siul*
Tapi iyah, saya penasaran. Dari IGnya nicsap dan therealdisast saya akhirnya dapat sedikit clue : Cinta ke New York. Abis foto salju dan lokasi di IG nicsap dan therealdisast samaan sih. Sempat kepikiran jangan-jangan Cinta sakit hati gara-gara Rangga selingkuh di New York. Yeaah, cliche sih. But it happens all the time. Ok, most of the time. Tanya deh sama yang LDRan. *siul siul*
Penonton Ada Apa Dengan Cinta, Dulu dan Kini
Anyway, sebegitu excitednya saya dengan AADC 2 saya agak khawatir apakah saya bisa nonton di hari pertama. Alhamdulillah hari itu waktunya pas banget dengan hadirnya dua teman sekamar saya dulu jaman pra jabatan dari Jakarta. Salah seorang diantara kami berinisiatif untuk ngantri tiket. Gak pake lama (tahu tuh anak pake ilmu apa) dapat deh tiga tiket untuk jam pertunjukan 16.50. Meski ternyata tiket yang kami beli berada di seat baris ke tiga dari depan layar. Tak mengapa. Demi sebuah rasa penasaran dan sekeping kenangan. #halah
Ternyata I wasn't the only one who excited, that's for sure. Studio 2 kala itu terisi penuh oleh berbagai macam tipikal penonton yang bahkan saya aja gak kepikiran bakal ada. Ternyata selain mba mba kantoran yang teng go (atau malah abis makan siang sudah gak balik ke kantornya lagi) terdapat juga mahasiswa dan fresh graduate yang entah kapan nonton AADC 1, cowok-cowok yang gak jelas nonton karena paksaan atau sukarela, Ibu ibu yang keliatannya pantas saya panggil tante atau ibu dan... ibu ibu muda yang mendorong troli bayi. Malah ada loh yang mengendong bayinya yang mungkin baru berusia sebulan.
Buset..!
![]() |
| Hand model by Ank |
Buset..!
![]() |
| Ini suasana ketika saya ngantri tiket nonton kedua kalinya |
Bu ibu, dapat salam dari mba Melly Goeslow.
Jangan kau ajak dia
Jangan kepikiran dulu sama dia
Jangan ajak-ajak dia
(Jangan Ajak Ajak Dia - OST AADC 2)
Ok fine, lihat dari sisi lain. Mungkin bu ibu ini adalah generasi pertama AADC yang ketika itu masih gadis dan punya story tertentu dengan kisah percintaan Cinta dan Rangga. Mungkin bu ibu ini juga nonton AADC 1 di hari pertama tahun 2002 lalu, Yah, paling tidak bu ibu ini sedikit lebih kalem dibanding dede dede fresh graduate atau mungkin masih kuliah di sebelah deretan saya.
Jadi, ada tiga orang yang duduk di sana, dua perempuan dan satu laki-laki. Salah satu perempuan itu duduk persis di sebelah saya hanya dipisahkan tangga. Dua temannya tidak banyak berkomentar. Kalaupun ada reaksi tidak seheboh perempuan yang satu itu.
Rangga muncul sekilas, dia menjerit. Rangga ngelirik, dia histeris. Rangga ditampar ama Cinta, dia yang gak bisa terima. "Sakitnya hatikuuuuu," kalimat itu secara randomly dan berterusan diucapkan sepanjang penayangan film. Hanya Tuhan yang bisa menahan keinginan saya ngelempar pulpen ala2 Rangga di AADC1 ke arahnya. Etapi ini kan sudah AADC2 yah, jamannya lempar batal manja ala Milly aja. :D
Rangga muncul sekilas, dia menjerit. Rangga ngelirik, dia histeris. Rangga ditampar ama Cinta, dia yang gak bisa terima. "Sakitnya hatikuuuuu," kalimat itu secara randomly dan berterusan diucapkan sepanjang penayangan film. Hanya Tuhan yang bisa menahan keinginan saya ngelempar pulpen ala2 Rangga di AADC1 ke arahnya. Etapi ini kan sudah AADC2 yah, jamannya lempar batal manja ala Milly aja. :D
![]() |
| Lempar gak yaaaa??? ( Pic from: aadc2.com) |
Naaaaaaak.... itu Om Rangga lagi galau karena tante Cinta sudah gak tinggal di rumah yang dulu lagi. Please dong... *ala Maura* .
Seringkali kebanyakan penonton terbawa suasana. Pada adegan Trian minta penjelasan tentang Rangga yang legendaris itu ke Cinta, salah seorang penonton perempuan di barisan atas nyelutuk,"Dih kek cakep aja. Rangga lebih cakep daripada kamu."
Lemparkan saja piringnya biar ramai, mbak.. Hehehehe
Reaksi penonton memang bisa beda-beda sih. Ada yang diam-diam aja, tapi bapernya berhari-hari di status fesbuk. Ada juga yang komentar dikit-dikit sambil berbisik. Ada juga yang serius menyimak layaknya kritikus film. Ada yang bentar-bentar liat hapenya entah ngecek apa.
![]() |
| Cakep Mana Rangga atau Trian? |
Begitu juga nonton AADC2 nya dengan siapa. Ada yang nonton rame-rame serumah, teman segeng jaman sekolah atau kuliah, teman sekerja, sendiri atau sama pasangan bahkan bawa anak. Nonton sekali atau dua kali seperti saya pun ada. I'm not surprised AADC 2 bisa menyabet 3 juta penonton and still counting.
![]() |
| Pic from Official Line AADC2 |
Kesimpulannya, gak semua orang suka ada komentator saat film ditayangkan. Ini nonton film di bioskop, bukan pertandingan sepak bola atau upacara bendera tujuh belasan di Istana negara. Kalaupun you got carried away alias terbawa suasana, gak perlu harus kedengaran satu bioskop.
Gak semua orang juga nyaman mendengar suara bayi menangis tanpa henti. Si bayi juga mungkin gak nyaman karena terkaget-kaget gara-gara soundsystem yang menggelegar atau tawa penonton seruangan. Setidak nyamannya kita jika kursi kita ditendang-tendang oleh penonton di barisan belakang.
Gak semua orang juga nyaman mendengar suara bayi menangis tanpa henti. Si bayi juga mungkin gak nyaman karena terkaget-kaget gara-gara soundsystem yang menggelegar atau tawa penonton seruangan. Setidak nyamannya kita jika kursi kita ditendang-tendang oleh penonton di barisan belakang.
Anyway, 14 tahun perjalanan AADC ternyata tidak hanya cerita, karakter dan pemainnya yang berubah. Penontonnya juga. Dulu penonton AADC 1 baper diam-diam, sekarang bapernya berjamaah. Dulu nontonnya bareng sama teman segeng atau sama pacar, sekarang nontonnya bisa jadi sudah gak sama teman segeng atau sama pasangan yang baru (lengkap sama anak). Yah, semoga saja tidak sambil mengenang yang telah berlalu sambil mengaduh sampai gaduh.
Ah.. alangkah menyenangkan jika kita bisa duduk bersama menonton film (apapun itu), sembari menjaga kenyamanan nonton bersama. Setuju?
![]() |
| Pic from : aadc2.com |



















































