Traveling di Era New Normal

Sejak negara api menyerang dan Pembatasan Sosial dalam Berskala Besar atau PSBB, praktis kegiatan bepergian ke satu tempat ke tempat lain entah itu untuk traveling atau urusan pekerjaan pun menjadi ambyar. Selamat tinggal liburan. Cuti pun harus diperjuangkan, apalagi untuk ASN seperti saya. Boro-boro cuti, perjalanan dinas saja penuh pertimbangan. 

Bukan apa-apa, syarat untuk melakukan perjalanan entah itu urusan pribadi ataupun dinas memerlukan beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Itu tentu membutuhkan biaya. Ya alhamdulillah jika perjalanan itu untuk urusan dinas kantor. Otomatis bisa masuk ke dalam biaya perjalanan dinas karena berdasarkan surat tugas. Kebayangkan jika ini urusan pribadi semacam traveling. Tentunya pikir-pikir dulu. 

Awal bulan Juli 2020 ini Aku ditugaskan perjalanan dinas ke kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Senang, iyah pasti! Tapi ternyata ada beberapa hal yang perlu aku siapkan dan harus dijalani. Menurut aku, ini penting juga untuk teman-teman ketahui.  Apa saja kah itu? 

5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Traveling di Era New Normal 




1. Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Rapid Test nya bisa dilakukan di Rumah Sakit. Aku waktu itu melakukan Rapid Test di Rumah Sakit Mitra Mamuju dengan biaya Rp.460.000. Muaaahal yaa! Iyah! Pertama, petugas mengambil darah sebanyak 1 ampul dan aku harus menyetorkan KTP asli. Jika hasil rapid test dinilai reaktif, harus test swab yang tentunya biayanya lebih mahal dan waktu untuk mendapatkan hasilnya lebih lama. Alhamdulillah, hasil rapid test aku negatif jadi aku gak perlu di swab test. Hasil rapid test beserta surat keterangannya selesai kurang lebih satu jam.  

Surat ini diperlukan sekali, apalagi jika perjalanannya menggunakan pesawat. Untuk Rencana berangkat dari Mamuju  hari Jumat tengah malam lewat darat karena harus ke Makassar mengejar pesawat siang keesokan harinya ke Gorontalo. Berarti ada tiga pos Gugus Tugas yang harus aku lewati. Pos Gugus Tugas di kota Polman, perbatasan provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Kedua di Pos Gugus Tugas kota Pare-Pare di Provinsi Sulawesi Selatan dan yang ketiga di Bandara Sultan Hasanuddin sebelum check in. Dengan surat ini, bisa dibilang 50% dari prosedur perjalanan di era new normal sudah dikantongi. 

2. Legalisir Surat Keterangan Hasil Rapid Test 


Apakah setelah memiliki Surat Keterangan Hasil Rapid Test kita sudah bisa melenggang dengan bebasnya? Tunggu dulu Ferguso! Meski di surat keterangan tersebut sudah ada tanda tangan dokter dan penanggung jawab di rumah sakit tempat kita memeriksa, surat keterangan tersebut harus di legalisir di posko Gugus Tugas. Ada stempel, ada paraf, perlu ngantri. Gak ribet-ribet banget sih, cuman ngantrinya itu loh. Sudah panjang, rame dan kadang orang-orang yang pengen melegalisir gak ngerti ngantri dengan tatanan baru. Jaga jarak mas bro...!! Gak heran tentara perlu diturunkan untuk menertibkan antrian.  



3. Memiliki Akun di  Aplikasi eHAC Indonesia 

Ini dia yang paliiiiiingggggg memakan waktu selain legalisir surat keteranga hasil rapid test. Aplikasi eHAC Indonesia atau electronic Indonesia Health Alert Card. Setiap penumpang penerbangan diwajibkan mengisi data diri dan data perjalanan dari dan menuju ke mana melalui aplikasi ini. Untuk calon penumpang yang gak gatek sih bisa dengan mudah dan cepat. Toh bisa diisi sebelum tiba di bandara. 

Sementara untuk pejalan dari era kolonial, urusan aplikasi di gadget bisa memakan waktu lama selain memang kurang paham. Di bandara Gorontalo, petugasnya masih mau ngebantuin mengisi data di aplikasi. Tetapi di bandara Hasanuddin Makassar, sebelum masuk ke antrian tentara yang bertugas sudah memeriksa dan tidak membantu mengisi aplikasi Hanya memberi instruksi harus mendownload di mana. Sisanya ya sesuai kemampuan Anda.  

eHAC


Aku bersyukur meski berusia 42, aku gak gaptek gaptek amat dan masih lincah untuk urusan technology. Berhubung saat perjalanan dinas aku bersama rombongan dimana aku yang paling muda, akhirnya aku yang mengisikan data para peserta perjalanan dinas melalui satu akun saja. Ini tentu saja memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah cukup membuat satu akun saja di aplikasi eHAC. Satu orang yang memiliki akun adalah pelancong utama dan selebihnya menjadi pengikut dengan status yang disesuaikan, apakah keluarga, kenalan atau travel agent. Kekurangannya adalah, pada saat antri keluar dari bandara yang dituju, peserta yang datanya ada di aplikasi tersebut sebaiknya harus berendengan. Jika terpisah, maka akan memperlambat proses antri keluar. Kasian yang ngantri di belakang kita. 

4. Sediakan Waktu Untuk Mengantri dan Check In di Bandara  

Traveling di era new normal memang berbeda. Dulu kita bisa tiba di bandara selambat-lambatnya sejam sebelum berangkat. Itu juga belum check in, belum masukin bagasi. Sekarang, tunggu dulu Markonah! Pelancong setidaknya harus berada di bandara paling lambat dua hingga tiga jam sebelumnya. Antrian yang mengular, proses pengecekan surat-surat untuk izin terbang dan proses check in pun kini memerlukan surat rapid test yang sudah dilegalisir segala. 




Meski ada kemungkinan dipersilahkan memotong antrian untuk penerbangan yang sudah sejam lagi akan boarding, tetapi tetap saja ada kemungkinan telat di bagian check in penerbangan especially jika kamu punya bagasi. So, make sure to spare some time. 

5. Membawa Masker dan Hand Sanitizer 

Ini penting, PENTING BANGET! Berada dalam ruangan tertutup ber AC selama lebih kurang 2 hingga 3 jam di pesawat, bahkan di ruang tunggu bandara, kita mau gak mau bersama dengan sekumpulan orang-orang yang belum tentu peduli dengan protokol kesehatan. Kebanyakan orang memang membawa masker, tapi menggunakannya secara baik dan benar belum tentu. Tidak semua orang juga dalam keadaan sehat. 

Meski tidak diperlihatkan, bisa jadi karena takut diseret ke ruang karantina, ada juga loh pelancong yang batuk dan pilek. Mereka tidak semuanya menghalangi batuk dan bersinnya dari orang-orang dengan cara menutupi dengan masker atau tissue. Lebih banyak batuk dan bersin sesukanya aja, malah membuka maskernya. Tangan pun tidak dibersihkan setelahnya. Jadinya, kita yang benar-benar extra hati-hati dengan selalu jaga jarak, menggunakan masker, ganti masker jika sudah batuk, bersin atau sudah lebih dari 8 jam. Sering-sering cuci tangan atau membersihkan dengan hand sanitizer. It seems a little paranoid, but believe me it helps. 



Nah, itu dia 5 hal yang perlu dipersiapkan saat traveling di era new normal berdasarkan pengalaman aku. Kamu punya pengalaman juga? Yuk, share tips kamu di kolom komentar!  

Usaha Kue Kekinian Masih Laris dan Tipsnya untuk Pemula

Usaha kue merupakan salah satu usaha yang masih laris manis dan banyak dicari oleh konsumen di pasaran. Kue bisa digunakan untuk cemilan dan juga hidangan utama sehingga dengan fungsi kue tersebut maka tidak heran kue merupakan makanan yang banyak disukai oleh masyarakat.


Usaha Kue Kekinian Masih Laris dan Tipsnya untuk Pemula





Bagi Kamu yang mempunyai ketertarikan untuk membuka usaha kue, di bawah ini ada beberapa tipsnya yang dapat digunakan untuk memulai membuka usaha kue:

 

  1. Memilih jenis kue yang akan dijual

Tips pertama yang bisa diperhatikan oleh pemula adalah dengan memilih jenis kue yang akan dijual. Dengan pertimbangan yang matang ketika akan memulai usaha maka bisa untuk menentukan keberhasilan tersebut. Oleh karena itulah Kamu bisa untuk berpikir dan menyiapkan berbagai hal dengan matang sebelum akan membuka usaha kue agar dapat berhasil. Seperti dengan memilih jenis kue yang akan dibuat apakah kue basah atau kue kering. Selain itu juga bisa memilih kue yang populer seperti kue nastar, kue putri salju, dan juga kue lainnya. Terakhir adalah dengan memilih rasa kue yang disukai dan bisa laris manis seperti rasa coklat dan keju.

 

  1. Memasarkan dengan harga kompetitif

Tips selanjutnya yang dapat diperhatikan ketika akan membuka usaha kue untuk pemula adalah dengan memberikan harga kompetitif. Ketika membeli kue, konsumen juga akan membandingkan harga selain dari rasanya. Cara untuk bisa memberikan harga kompetitif adalah dengan membeli bahan di tempat yang menawarkan harga bahan kue murah seperti di Tokowahab.com yang juga menyediakan bahan kue lengkap.

 

  1. Memilih cara penjualan yang efektif

Tips terakhir yang bisa diperhatikan oleh pemula ketika akan membuka usaha kue adalah dengan memilih cara penjualan. Selain dengan memasarkan kue di tetangga dan secara offline, sekarang ini cara penjualan secara online bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan keuntungan lebih baik. Dengan menjual kue keju secara online juga tidak perlu untuk menyewa tempat atau kedai sehingga akan mengurangi biaya dan modal yang dipersiapkan untuk membuka usaha kue.





Nah.. gimana, gampang kan? Membuka usaha kue kekinian bukan lagi hal yang terlalu sulit. Apalagi di era di mana kita harus pinter-pinter cari duit. Yuk, mulai dari sekarang!

Kampung Pelangi, Melihat Warna Warni Semarang dari Ketinggian

Semarang masih menyisakan petang ketika akhirnya aku keluar dari hotel tempat menginap. Tujuan pertama adalah Kampung Pelangi. Tempat ini adalah salah satu spot pariwisata kekinian Semarang yang cukup viral. Letaknya di Jl. DR. Sutomo No.89, Randusari, Kec. Semarang Sel Kota Semarang. Di depannya berjejer penjual bunga segar dan hias untuk papan ucapan maupun buket. Terlihat asri dengan wangi bunga sayup sayup sampai tercium walaupun terkadang bergantian dengan bau dari kanal yang menyeruak. Padahal kanalnya sudah lumayan bersih,loh! 

Eniwei... Kampung Pelangi ini sedikit banyak mengingatkanku pada Ihwa Mural Village di Seoul, Korea Selatan. Selain karena lokasinya adalah perumahan penduduk yang dindingnya dihias lukisan mural nan artistik, konturnya pun nanjak abis. Harus kuat naik tangga. Untungnya tangga-tangga di Kampung Pelangi tidak sebanyak dan sejahannam tanjakan di Ihwa Mural Village, tapi lumayan lah buat olahraga sore. Siapin betis dan paha yang kuat aja ya, kak! Oiya, jangan lupa napas yang panjang.  




Awalnya Kampung Pelangi ini adalah perkampungan kumuh. Pemerintah Kota Semarang akhirnya menata perkampungan ini  agar terlihat menarik dan bersih. Menurut penduduk yang sempat aku temui, masing-masing rumah mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk membeli cat sedangkan untuk pengerjaan  mural dilakukan mandiri. Warnanya terserah, motif muralnya pun tergantung selera yang punya rumah. Pokoknya kelihatan menarik dan enak dipandang mata. 

Memang ada beberapa spot dimana pengerjaan muralnya dilombakan, ada pula dikerjakan khusus oleh anak muda kreatif yang bukan penduduk Kampung Pelangi. Apapun perkampungan ini pun bagai disulap menjadi tempat yang berseni dan jauh dari kesan kumuh. Mungkin karena diperlombakan dan mendapar bantuan dana, penduduk setempat pun makin semangat menghias rumah dan pekarangannya. Selain mural, hiasan-hiasan seperti lampion, payung-payung kertas mempercantik bagian atas jalan. Buat kamu yang suka foto-foto atau pengoleksi konten, Kampung Pelangi cocok banget jadi lokasi foto-foto instagram. Bahkan beberapa penduduk mengkhususkan halaman rumahnya menjadi spot foto yang instagramable. Tentu saja tidak gratis, tapi gak mahal kok! 




Dari sekian banyak spot Instagramable di Kampung Pelangi, ada satu spot yang menjadi favorit aku. Letaknya berada di bagian paling atas perkampungan dan menjadi lokasi penempatan nama Kampung Pelangi. Lumayan ngos ngosan juga untuk mencapainya, tapi begitu sampai di atas pemandangan yang disajikan luar biasa. Penampakan Kota Semarang berhias sunset dan langit bersemu jingga. Apalagi jika ada pesawat yang bergerak ke dan dari bandara, rasanya kayak sudah di drama Korea aja. Tak ada kebisingan yang terdengar, hanya suara angin dan sesekali suara unggas peliharaan warga. Kalau tidak ingat hari sebentar lagi gelap, masih betah nongkrong aku di sana. 

Oiya, saat menuju puncak (kek lagu ya..) Kampung Pelangi, mau tidak mau kita melewati jalan setapak menanjak di samping dan depan perumahan warga. Waktu sore adalah waktu di mana kebanyakan mereka duduk-duduk di depan rumah. Jadi sebaiknya jangan lupa permisi dan gak berisik. Pengalamanku dulu di Ihwa Mural Village, awalnya warga setempat senang-senang aja wilayahnya didatangi turis. Lama kelamaan dengan semakin banyaknya turis yang datang, mereka mulai merasa tidak nyaman. Beberapa turis terkadang lupa bahwa tempat yang mereka datangi ini meskipun menjadi objek wisata tapi tetap saja adalah wilayah perumahan. Mereka terkadang berisik karena terlalu heboh berfoto atau terlalu senang sehingga ngobrol keras-keras. Namanya juga kompleks atau perkampungan, orang-orang yang tinggal di situ tentu butuh ketenangan. Pada akhirnya dibuatlah pengumuman di beberapa titik untuk mengingatkan para turis agar tidak berisik. 

Saat aku berkunjung ke Kampung Pelangi, aku belum menemukan pengumuman atau teguran tertulis agar para pengunjung tidak berisik, sih. Mungkin karena pengunjung belum sebanyak turis yang datang ke Ihwa Mural Village di Seoul. Bisa jadi karena pendatang sudah tahu diri dengan kesopanan dan keramahan warga Kampung Pelangi. Meski begitu, tidak ada salahnya aku mengingatkan melalui tulisan ini. Ya siapa tahu ada yang berniat ke sana. Menikmati suasana boleh, tapi tetap harus jaga sikap ya gaes! 


Hari beranjak malam ketika aku memutuskan untuk mengakhiri eksplorasiku di Kampung Pelangi. Lampu-lampu mulai dinyalakan, adzan Magrib pun terdengar entah dari sudut yang mana. Aku pun mulai bergegas keluar dari kampung yang penuh warna. Terus terang aku tak tahu keluar dari pintu yang mana padahal aku butuh informasi itu agar pengemudi taksi online tidak salah menjemput. Untungnya mba mba di salah satu kios penjual bunga di depan Kampung Pelangi memberi tahu di titik mana pengemudi harus menjemputku. Ini mungkin adalah keramahan yang sederhana, namun bagi pendatang seperti saya hal itu adalah bentuk pertolongan yang penuh warna. Layaknya pelangi, seperti nama tempat ini.