Jatuh Cinta Pandang Pertama Pada Toyota Veloz

Pernahkah jatuh cinta pada pandang pertama? Bukan pada lawan jenis, tapi pada sebuah mobil. Saya pernah. Dua kali malah. Pertama pada si merah yang saya kendarai sekarang. Kedua kalinya adalah pada sebuah mobil MPV 5 pintu. 

Jadi gini ceritanya.. *mulai curhat* 




Siang yang panas itu, saya mampir sebentar ke sebuah mall dekat kantor. Niat awalnya makan siang. Entah bagaimana mata saya menangkap penampakan sebuah mobil MPV 5 pintu yang terlihat stylish di salah satu resto yang bersatu dengan showroom Toyota. Di depan counter SPGnya langkah saya terhenti, memandang mobil itu dari jauh sambil mengagumi dalam hati. Jarang-jarang jenis mobil seperti ini menarik perhatianku. 

“Silahkan dilihat aja dulu mbak,”kata mbak SPGnya memecah lamunanku. 

“Itu Avanza yang baru ya mbak?”tanyaku sambil memperhatikan design eksterior mobil itu lebih dekat. 

“Bukan mbak, ini Grand New Veloz yang baru. Grand New Avanza sebelah sini,”jawab si mbak yang kemudian saya tahu bernama Indri. Namun hati saya lebih tertarik pada Grand New Veloz yang kelihatan keren exteriornya ini. Ini mungkin disebut jatuh cinta pada pandang pertama. 


Lalu nyerocoslah mbak Indri tentang Grand New Veloz keluaran terbaru sembari menyalakan mesin agar saya bisa mendengarkan lembutnya suara putaran mesin Toyota Grand New Veloz ini. Wah boleh juga, beneran lembut suaranya. walaupun tidak selembut suara Raisa sih..

Saya memutuskan untuk duduk di bagian pengemudi. Dari tempat saya duduk leganya sudah berasa. Saya memperhatikan sekeliling kabin.  Grand New Veloz ini tampak cukup  luas dengan tampilan sporty dan stylish.Jarak antar kursi penumpang depan,  tengah dan belakang juga cukup nyaman. Joknya empuk dengan cover yang lembut dan tersedia 3 point seatbelt di seluruh bangku, dari depan sampai baris kedua dan ketiga.

Design dashboardnya juga stylish abis. Menurut mba Indri, warna dan design baru dashboard menjadi point utama yang membuat tampilan baru ini menjadi sporty dan stylish. Dengan tone warna hitam yang membungkus keseluruhan dashboard membuat panel designnya terlihat gagah dan kokoh di mata saya.


Dan kekerenan dashboard Grand New Veloz ini makin bertambah dengan audio systemnya. “Audio system sudah touchscreen loh mbak. Bisa CD, DVD, radio AM dan FM, USB, Aux atau play file dari Bluetooth dan iPod,"jelas Indri lagi.

Menarik, kataku dalam hati sambil memegang setir dengan kedua tangan. Tanpa sadar saya mengelus-elus lapisan kulit yang membalut setir Grand New Veloz ini. Ternyata di sisi sebelah kiri terdapat tombol yang bisa mengatur audio dan setelan setir. Dibawah klakson tertulis ‘Airbag’ menandakan Grand New Veloz ini juga menyiapkan airbag bagi keamanan pengemudi.

“Bukan hanya untuk pengemudi kok mbak, di bagian penumpang depan juga tersedia,”kata mbak Indri seakan bisa membaca pikiranku.

Indri pun lalu menambahkan informasi tentang lampu indicator di dashboard, design persneling hingga design panel power window yang baru di Grand New Veloz ini. “ Power window dilengkapi jam protection loh mbak, untuk perlindungan resiko kejepit kaca mobil. ” Wah, bener juga. Pernah dengar tuh ada kecelakaan tangan anak terjepit kaca mobil. Duh, Toyota ini pengertian banget sih.. Gak salah kalau Grand New Veloz disebut sebagai  mobil dengan exterior dan interior stylish untuk trendy lifestyle.


Spesifikasi Grand New Veloz


Tapi rasanya gak afdol kalau hanya sebatas melihat saja. Untuk menentukan sebuah produk itu tepat atau tidak bagi pengguna tentunya harus dicoba dulu. Kebetulan minggu itu Toyota sedang mengadakan test drive untuk Grand New Veloz dan Grand New Avanza. Saya pun ditawarkan oleh sang SPG untuk ikut test drive. Ayolah, siapa takut!

Test drive GRAND NEW VELOZ


Beberapa hari kemudian  saya  datang ke meeting point tempat penyelenggaraan test drive. Tidak lama kemudian saya langsung diarahkan ke bagian test drive dimana Grand New Veloz 1.3 matic siap menunggu di parkiran. 



Begitu saya menutup pintu dan menyalakan mesin, bunyi alarm tanda sabuk pengaman belum dikenakan berbunyi. Ok, memang sebaiknya jangan lupa memasang sabung pengaman untuk berkendara aman. Saya menyalakan AC dan berhembuslah hawa dingin yang bikin betah. Jangan lupa nyalain radio untuk test audionya. Nah, sekarang sudah siap turun ke jalan.

Ketika saya memindahkan gigi ke D dan mulai menginjak gas,saya jadi jatuh suka dengan tarikan mesinnya yang lebih bertenaga. Saat berada pada trafik yang cukup ramai dan memerlukan stop and go, akselerasi (peningkatan lambat ke cepat) pun mantap.

Begitupun ketika melewati tikungan akselarasi dan power steeringnya membuat saya  tidak sulit melakukan maneuver yang diperlukan. Dan bener juga kata Indri, tingkat kebisingan dalam kabin lebih teredam karena pengembangan kualitas suspensi dan rangka lantai yang lebih kuat. Menunggu di lampu merah pun tidak berasa, malah sempat-sempatnya selfie pula sama SPGnya! 



Pada akhirnya test drive yang menyenangkan itu akhirnya harus berakhir.  Saya sih maunya Grand New Veloz saya bawa pulang karena sudah kadung jatuh cinta. Namun cinta kan belum tentu memiliki *uhuk*. Paling tidak saya sudah merasakan aman dan nyamannya berkendara dengan Grand New Veloz. Mungkin tipe Agya yang sudah bersama selama ini lebih cocok  untuk saya,  tapi saya yakin Grand New Veloz  ini pas sebagai pilihan mobil untuk keluarga stylish. Betul kan?

Tulisan ini diikutsertakan pada : 

Lomba Blog Review Toyota Veloz Avanza 

Masakan Korea Buatan Ahjumma

Ajumma / Ajoomma ( Korea: 아줌마 ) berasal dari kata Korea Ajoomeoni ( Korea: 아주머니 ) , dan adalah kata Korea penghormatan untuk  wanita menikah atau berusia menikah . Meskipun kadang-kadang diterjemahkan " bibi , " tapi tidak benar-benar mengacu pada hubungan keluarga. 

Gara-gara suka nonton drama Korea, saya jadi tahu bahwa ada panggilan Ahjumma untuk wanita menikah atau yang sudah memasuki usia menikah. Ahjumma juga sering dipergunakan sebagai panggilan kepada ibu-ibu yang bekerja di rumah makan atau yang mengurusi makanan kita di rumah. Dan gara-gara Ahjumma pula saya bisa menikmati masakan Korea di rumah saya di Makassar.

Jadi ceritanya, saya memang dari dulu tertarik dengan budaya Korea termasuk masakannya. Jauh-jauh ke Singapore, mentoknya malah di stall masakan Korea gara-gara yang masak ahjumma asli Korea yang menclaimed 'No Pork, No Lard'. Jalan ke Jakarta juga selalu menyempatkan diri nyicip masakan Korea. Ke Bandung malah mangkal di fastfood Korea juga. Memang sih, mungkin rasanya sedikit berbeda dengan di Korea. Sama seperti betapa anehnya rasa Coto Makassar di Jakarta, atau Pisang Ijo khas Makassar di Bandung. Tapi berhubung pengen, yahh pengen aja.. 

Korean Food

Cuma yah gitu deh!
Mencari masakan Korea di Makassar itu tidak gampang. Restaurant cuma 1, Fastfood ayam franchise juga 1. Ahhh.... 저는 자장면을 먹고 싶어 jeoneun jajangmyeoneul meoggo sipeo,saya pengen makan Jajangmyeon. Itu loh.. mie hitam yang biasanya di delivery order di drama-drama atau variety show Korea.

Teman saya waktu itu sempat bilang di Instagram ada tuh yang di jualan masakan Korea di Makassar. Nama akun Instagramnya :  @ahjumma.upg. Dari bionya sih katanya no pork, no lard dan halal. Wih, asik tuh kayaknya. 

Cuma saya sempat khawatir juga, biasanya homemade small industry seperti ini harus di order paling tidak sehari sebelumnya. Ngobrol punya ngobrol via LINE chat, ternyata masakan Ahjumma itu siap pesan dan baru dimasak begitu diorder. Jadi masakan pesanan tiba dalam keadaan freshly cooked pada pemesan. Wah, jadi tambah lapar aja... Apalagi lihat menu yang disediakan lengkap dengan foto-fotonya di Instagram. Selain Jajangmyeon, ada Spicy/Honey  Chicken, Bulgogi, Bibimbap, Tteokbokki. Semua tampak menggiurkan *lap iler*.  Duh, pilih yang mana ya?

Jajangmyeon Dan Spicy Chicken Buatan Ahjumma 


Jjeng..jeng... And here's the moment of truth. Momen pembuktian apakah makanan yang saya pesan ini memang seenak penampakannya di IG. Mmh..let's see mau nyoba yang mana dulu nih? Jajangmyeon atau Spicy Chicken ? Gak perlu mikir lama, mari sikat Jajangmyeonnya.



So, gimana rasa dari Jajangmyeon buatan Ahjumma ini?

Dimulai dari tekstur mienya yang kenyal, tidak basah dan tidak  menggumpal, itu berarti mienya baru dimasak dan masih segar. Saus jajangnya sendiri pekat, terasa manis dan gurih tapi tidak bikin enek. Biasanya Jajangmyeon yang asli diberi potongan daging Babi, tapi karena ini adalah Jajangmyeon halal maka diganti dengan sayuran yang dipotong kotak dan  bawang bombay. Mmmh..yummy!

Korean Food


Sambil mengunyah Jajangmyeon, tangan saya meraih potongan Spicy Chicken dari kotak yang berbeda. It's actually potongan sayap ayam yang di goreng dengan bumbu dan dilumuri saus pedas ala Korea.

Saya pernah mencoba Spicy Chicken ala Korea sebelumnya, tapi ternyata saya lebih suka buatan Ahjumma. Ketika digigit, bagian luarnya crispy tapi daging di dalamnya empuk banget. Rasa saunya perpaduan pedas dan manis. Biasanya kalau di Korea, Spicy Chicken ini  disantap dengan minuman 맥주 (baca : Maegju) atau beer. Tapi kan gak mungkin yaahh. Jadi mari kita menikmatinya dengan air putih saja, lebih sehat! :D

Masakan Korea

Jangan hiraukan tampilannya yang berantakan yah.. Namanya juga kalap!

Sekalap-kalapnya ternyata saya masih menyisakan seperempat porsi Jajangmyeon. Selain porsinya yang lumayan besar, kepala bagian belakang tiba-tiba jadi sakit. Duh, ini berarti entah Jajangmyeon atau Spicy Chickennya yang pake MSG kebanyakan. Maklum, saya sensitif banget dengan pemakaian MSG dalam makanan. Kalau bukan rasa pahit di ujung lidah, bagian belakang kepala (bukan leher loh yah..) pasti sakit. Makanya saya selalu menghindari masakan ber-MSG.

Jadi ketika sang owner nanya-nanya gimana rasa masakannya, dengan jujur apa adanya saya bilang enak, saya suka Spicy Chickennya walaupun Kimchinya kurang asem dan saya gak menghabiskan Jajangmyeonnya karena kepala saya tiba-tiba sakit.


Setelah itu Ahjumma pake minta maaf segala dan siap mengganti Jajangmyeon pesanan saya dengan Tteokbokki tanpa MSG. Ehh???

Tteokbokki, Complimentary Snack Dari Ahjumma  

Sepanjang saya order delivery  atau santap di tempat, biasanya hanya restaurant/eatery atau coffee shop besar yang selalu bersedia mengganti makanan/minuman yang tidak sesuai selera pemesan. Untuk tempat makan kecil atau homemade delivery, pemesan harus siap terima pesanan apa adanya. Suka ya syukur, gak suka ya sudahlah gak usah pesan lagi daripada bete karena komplen tidak ditanggapi.

Makanya saya gak mau komplen, yah cukup jadi catatan aja. Eh gak tahunya, keesokan harinya beneran ada paket Tteokbboki dari Ahjumma menunggu di meja makan. Ahh.. rejeki mahasiswa yang pulang kampus kelaperan emang ada aja. Alhamdulillah ya!

Masakan Korea

Tteokbokki adalah penganan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis. Pada jaman dinasti Joseon, snack ini disebut sebagai Gungjung Tteokbokki. Pada waktu itu, masakan ini berupa Huintteok (kue beras) yang dimasak dengan kecap asin bersama daging sapi, bagogari, kecambah kacang hijau, peterseli, shiitake, wortel, dan bawang bombay. Rasanya jauh berbeda dari Tteokbokki berbumbu cabai yang dikenal sekarang. 

Sebelumnya saya sudah sempat mencoba Tteokbokki di salah satu food stall Korea di Jakarta, jadi penasaran aja perbedaan rasa dengan buatan Ahjumma. Pada dasarnya Huintteok yang digunakan teksturnya sama saja, kenyal. Selain Huintteok juga ditambahkan Odeng dan irisan daun bawang dan bawang bombay. Bedanya terletak di sausnya. Pada dasarnya Tteokbokki memang tidaklah sepedas warna sausnya yang merah menyala. Rasa manis dan gurih memang lebih menonjol. Sebenarnya enak, cuma entah kenapa saya merasa ada 'rasa' yang hilang dari tteokbokki buatan Ahjumma ini.

Berhubung Tteokbokki ini adalah makanan pelengkap, akhirnya saya merebus mie (tanpa bumbu) dan memasukkannya dalam saus Tteokbokki. Biar lebih pedes sesuai selera saya, tidak lupa saya tambahkan Boncabe. Mmmh... Sedapnyee'...

Ramyun Tteokbokki

Gambar ini diambil setelah makan setengah porsi dan sadar belum di foto. :D 

Kesimpulannya... 

Overall dari tiga menu buatan Ahjumma.upg yaitu Jajangmyeon, Spicy Chicken dan Tteokbokki semuanya enak. Menurut saya sesuai dengan lidah lokal pada umumnya. Menurut ownernya, berhubung disesuaikan dengan selera lidah lokal jadi rasa asin Gochujang (bumbu dasar dihampir semua masakan Korea yang berkuah) ditutupi dengan gula hingga rasanya jadi lebih gurih. 

Ini juga berlaku pada Kimchi yang menurut saya kurang asem dan (lagi-lagi) kurang pedes. Kimchi harusnya difermentasi sekitar paling tidak sebulan dan didinginkan dalam kulkas atau gentong. Lagi-lagi mengikuti selera lidah lokal, Kimchi buatan Ahjumma adalag fresh Kimchi yang berusia hanya beberapa hari. Bisa dimaklumi, karena saya sering mendengar komentar teman-teman yang bilang Kimchi itu asem dan gak enak. 
Well, selera orang beda-beda sih. Untungnya order di Ahjumma bisa di customized sesuai keinginan rasa pemesan. Ownernya enak diajak ngobrol kok, kasi tahu aja apa yang bahan apa yang mau dikurangi atau diganti. Seperti saya maunya gak pake MSG dan Gochujang yang banyak dari standar lidah lokal, Ahjummanya siap-siap aja membuatkan. 

Tentang Harga

Masalah harga, untuk satu porsi dibandrol sekitar 50 ribu sampai 55 ribu. Kemahalan? Bahan bumbu untuk pembuatan masakan semua di import dari Korea, dipilih kehalal-annya dan dibayar pake dollar, jadi cukup beralasan juga sih. Lagian porsinya cukup besar kok, bisa buat berdua. Lumayan kan, bisa patungan. Mudah-mudahan kalau dollarnya turun, harganya bisa ikutan turun juga, yes? 

Saya sih lain kali mau order lagi. Good taste  with good service, yang seperti ini bisa bikin pelanggan kembali. Setuju? 

Mengenal Sejarah Hari Hangeul Di Korea

안녕하새요, 여러분 
Annyeonghaseo, yorobun.. Hai semuanya.. !! Lama yah gak bahas bahasa Korea. Nah, mumpung tanggal 9 Oktober 2015 adalah Hangeul Day, yuk kita bahas lagi tentang huruf Hangeul ini.

Di postingan Mengenal Huruf Hangeul, saya sudah sempat ngebahas dikit tentang sejarah huruf Hangeul. Tapi mungkin belum banyak yang tahu, kenapa sih harus tanggal 9 Oktober yang ditetapkan sebagai hari Hangeul di Korea Selatan?

Korean Alphabet


Sejarah Hari Hangeul 


Jauh sebelum huruf Hangeul diciptakan oleh King Sejong, selama lebih dari satu milenium Korea mempergunakan karakter Cina dalam penulisan. Huruf tersebut kemudian diadaptasi dan disebut dengan karakter Hanja  yang dilengkapi dengan sistem fonetik seperti Hyangchal , Gugyeol , dan Idu.

Namun, bagi kebanyakan orang karakter Hanja sulir untuk dipelajari, terutama bagi kalangan dengan status sosial rendah. Mereka tidak mudah mendapatkan akses pendidikan atau bahkan tidak sama sekali. Makanya buta huruf merajalela di seluruh Korea.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Raja Sejong mulai mengembangkan sistem menulis baru yang lebih mudah untuk dipelajari yang disebut dengan Hangeul. Awalnya para Yangban (kaum bangsawan) menentang keras dibuatnya Hangeul ini. Alasannya karena takut akan timbul gejolak sosial yang datang dari kalangan bawah. Intinya mereka ini takut kalau kalangan bawah ini menjadi "rakyat jelata yang berpendidikan." Akibatnya, Raja Sejong harus sangat berhati-hati dengan proyek huruf Hangeul ini, jadi sangat sedikit dokumentasi selama tahap awal proyek tersebut. Duuh susah juga ya jadi raja yang bijak.

The Great King Sejong 


Raja Sejong


Karena sedikitnya dokumentasi yang ada, para sejarawan awalnya menyimpulkan bahwa "Ulang Tahun" Hangeul jatuh sekitar tanggal 29 Oktober. Namun, ketika ditemukan fakta bahwa pada tanggal 9 Oktober 1443 Hangeul pertama kali dibuat dengan penjelasan yang lebih mudah (Hunminjeongeum Haerye), para sejarawan akhirnya menetapkan  tanggal 9 Oktober sebagai hari Hangeul di Korea.

Perbedaan Hari Hangeul di Korea Selatan dan Korea Utara


Meski begitu ketika terjadi perpecahan wilayah di Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan, peringatan huruf Hangeul ini pun menjadi berbeda. Korea Selatan menamainya hari Hangeul dan diperingati setiap tanggal 9 Oktober. Sedangkan di  Korea Utara, mereka menyebutnya sebagai disebut hari Chosŏn'gŭl Day dan dirayakan pada tanggal 15 Januari, Tanggal ini dipilih karena merujuk pada  tanggal, 15 Januari 1444 ( 1443 di kalender lunar ) yang diyakini sebagai hari Hunmin Jeongeum sebenarnya.

huruf hangul


Dibandingkan dengan karakter Cina atau Hanja yang dipergunakan sebelumnya, Hunminjeongeum atau Hangeul lebih mudah untuk dipelajari dan juga nyaman digunakan. Selain itu Hangeul juga unik dan ilmiah karena setiap vokal terbuat dari garis yang mewakili langit, bumi dan manusia sementara konsonan mencerminkan bentuk mulut manusia pada saat pengucapan.

Hunminjeongeum Haeryebon (Buku Panduan) atau Hangeul mendapat pengakuan dari UNESCO dalam Memory of the World Register pada Oktober 1997 dan memberikan kontribusi besar untuk mengurangi buta huruf di Korea.

Untuk mengenal huruf Hangeul lebih jauh, ceki-ceki postingan Mengenal Huruf Hangeul di postingan sebelumnya yah!

Happy Hangeul Day! 

Hari Kopi Sedunia dan Kopi Indonesia

Hari kamis, tanggal 1 Oktober, seperti biasa saya sudah bersedia untuk menyeduh kopi sebelum berangkat ke kantor. Baru saja hendak memanaskan air, saya berubah pikiran. Hari ini tanggal 1, hari gajian, harus ngopi yang enak buatan barista berpengalaman, nih! Senikmat-nikmatnya kopi buatan sendiri, kadang-kadang saya juga pengen dibuatin kopi, hihihi. 

Jadilah saat jam makan siang saya beranjak ke sebuah kedai kopi tanpa asap rokok di sebuah mall dekat kantor. Saya baru menyesap ice coffee pesanan ketika notifikasi twitter menggetarkan smartphoneku. Wah, ternyata hastag #HappyInternationalCoffeeDay lagi trending. OMG..  kok bisa lupa gini. Mulai tahun ini Tanggal 1 Oktober  resmi didaulat menjadi Hari Kopi Sedunia. Tepok jidat! *jidat barista* Harusnya kan bisa ngopi gratis nih! #eh


Kenapa Harus Ada Hari Kopi Sedunia ? 


Jadi gini ceritanya.. *sudah mulai curhat nih*

Sebenarnya Hari Kopi bukanlah hal baru. Hari Kopi adalah perayaan tahunan yang diperingati di berbagai negara pada tanggal yang berbeda-beda. Sebagai contoh di Malaysia, Amerika, Kanada, Inggris, Ehiopia dan Swedia memperingatinya di tanggal 29 September. Sementara di Costa Rica dirayakan di tanggal 12 September, Taiwan di tanggal 7 November, Nepal di tanggal 17 November dan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. 

Nah di bulan Maret 2014 International Coffee Organization sebuah organisasi yang menaungi 75 negara penghasil kopi menetapkan tanggal 1 Oktober 2015 sebagai Hari Kopi Internasional. Perayaan Hari Kopi Internasional ini  dipusatkan di Milan, Italia sebagai kota penyelenggara World Expo Milano 2015. Perayaan ini tidak saja untuk para penikmat kopi tapi juga sebagai bentuk tanda respect pada petani-petani kopi dan penggerak industri kopi di seluruh dunia yang sudah menghadirkan kopi ke hadapan kita. Lebih lengkapnya silahkan tonton video di bawah ini untuk tahu lebih banyak tentang kopi dalam kehidupan sehari-hari. 



Indonesia sebagai negara penghasil kopi ke 4 terbesar di dunia (turun 1 peringkat tersusul Kolombia) tentu saja tidak mau ketinggalan. Selain ikut berpameran dalam World Expo Milano 2015 di Milan, Kemenperin, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan yang bekerja sama dengan beberapa asosiasi kopi mengadakan diskusi dan icip-icip kopi Indonesia gratis di Jakarta. Harapannya dengan event ini bisa menjadi momentum untuk mengembangkan kesadaran masyarakat untuk mencintai kopi Indonesia. 

Sejarah Kopi Indonesia

Tanaman kopi yang dipercaya berasal dari benua Afrika masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Belanda pada tahun 1896. Saat ini Belanda membawa jenis kopi Arabika dari  Yaman. Dengan bibit kopi Arabica tersebut Belanda membuka perkebunan kopi komersil di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Perkebunan Kopi juga dibuka di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor hingga ke Flores. 

Sayangnya perkebunan kopi Arabika di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi terserang penyakit karat daun (HV) yang menyebabkan kematian pohon kopi secara besar-besaran. Akhirnya dimulailah pembudidayaan jenis tanaman kopi Liberika dan Ekselsa yang lebih tahan penyakit HV. Namun ternyata daerah lain seperti Flores dan Timor perkebunan kopi Arabika mereka sehat-sehat saja, tidak terserang hama.

Pada perkembangannya kopi Liberika tidak begitu populer dan digantikan oleh kopi jenis Robusta. Kini Robusta menjadi andalan Indonesia sebagai produk kopi ekspor selain Arabica. Letak geografis Indonesia memungkinkan kedua jenis ini tersebar di penjuru Indonesia. Robusta tumbuh di daerah rendah dan Arabica tumbuh di dataran tinggi.

Kopi Indonesia, Dari Aceh Hingga Papua 

Kopi Indonesia adalah salah satu minuman yang banyak disukai orang di luar negeri. Orang-orang Eropa, Amerika, Australia bahkan Asia dan Afrika sangat menghargai kopi Indonesia. Nah, kopi Indonesia apa saja sih yang disukai oleh penikmat kopi mancanegara?


Happy International Coffee Day! 


Begitu banyak ragam hasil kopi dari seluruh Indonesia namun kebanyakan produk premium diekspor ke luar negeri. Alasannya karena pasar luar lebih menjanjikan dibanding tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia yang masih rendah. Sayangnya walaupun nama kopi Indonesia melejit, namun petani kopi Indonesia tidak mendapat apa-apa.

Perbedaan harga beli di petani dan harga jual di kafe-kafe terlalu jauh. Ironisnya kopi-kopi Indonesia tersebut dibeli oleh negara lain lalu kemudian diolah kembali atau repackage dan dikirim lagi ke Indonesia dengan label berbeda dan dilempar ke kafe-kafe francise di dalam negeri. Sementara pasar dalam negeri hanya kebagian kopi Robusta berkualitas di bawah kualitas ekspor. Tidak banyak yang peduli, malah lebih banyak yang memilih menikmati kopi dari negara lain. Padahal pengen deh merasakan kopi premium hasil bumi Indonesia seperti bule-bule itu menikmati kopi Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau.

You Can't Buy Happiness But You Can Buy Coffee, And That's Pretty Close 

Mudah-mudahan dengan adanya Hari Kopi International atau International Coffee Day ini bisa menumbuhkan kecintaan kita pada kopi produksi dalam negeri. Semoga juga pemerintah berbaik hati memperhatikan nasib para petani kopi supaya mereka bisa lebih makmur dan buntut-buntutnya masih tetap berusaha untuk membudidayakan kopi Indonesia. Pemilik kafe lokal pun maunya sih lebih banyak menyediakan kopi Indonesia berkualitas bagus yang dibeli langsung dari petani lokal, jangan yang impor dong Bro. Mahal! Petani kita juga gak dapat apa-apa.

Entah penikmat kopi atau bukan, tidak ada salahnya mendukung kopi Indonesia dengan meminum atau merekomendasikannya. Masa mau kalah sih dengan Kolumbia yang berhasil menggeser peringkat Indonesia ke posisi 4? After all siapa yang bisa menyelamatkan kopi lokal kalau bukan orang Indonesia sendiri. Happy International Coffee Day, smell and drink your coffee!