[MUSIC VIDEO] SWING - SUPER JUNIOR M

Jarang-jarang nih review MV. Biasanya paling novel, Kdrama/Jdorama atau concert saja. Berhubung tadi sore baru saja menonton MV terbaru dari SJ-M ( sub unit Super Junior yang khusus untuk pangsa pasar Mandarin), saya sebagai ELF merasa tergerak hati untuk membahasnya disini. Super Junior gitu loh.. Lama banget  hiatusnya. Aku kan jadi kangen gitu.... ihiks.

Anyway, ini adalah mini album ke-3 dari Super Junior M. Singel andalannya berjudul 'Swing' yang genrenya gak sebrisik lagu-lagu mereka yang sebelumnya. Mungkin karena pengaruh umur juga kali yah, SJ-M diberi konsep bukan sebagai anak sekolahan ( EXO kalee...) atau clubbers ( EUNHAE bangets!). Menurut Zhoumi di salah satu interview dengan media di China, kali ini konsep mereka adalah orang kantoran. 

Yes! Finally, setelah MV Eunhae memberi suasana baru dengan syuting di London dan ELF memohon-mohon bahan sampe bikin hastag yang segera jadi TTWW di Twitter, akhirnya MV Super Junior ada "storyline"nya. Ini lebih dari lumayan mengingat selama ini MV-MV Super Junior sangat "In the Box" sekali. Thank God ! MV kali ini konsepnya "out of the box" walaupun gak bener-bener baru juga sih idenya.

Destination Anywhere - Singapore 2 Days 1 Night

Ini bukan variety show 2 Days & 1 Night a.k.a 1박 2일 yah.. Ini sebenarnya cerita setahun lalu, tapi belum pernah diposting sebelumnya. Di bulan April 2013 saya nekat backpackeran berdua aja dengan seorang teman (cewek) ke Singapore dan Malaysia. Kenapa dua negara itu? Silahkan loh baca disini.

Anyway, setelah terkantuk-kantuk di pesawat (maklum belum tidur semalam gara-gara berangkat dengan pesawat paling pagi), akhirnya sampai juga di Changi. Sebelum ini sudah sering baca dan lihat foto-foto bandara yang katanya lengkap dan bersih ini, akhirnya bisa lihat sendiri walaupun cuma di terminal 3 nya. Ahay! Lumayan sih, sempat ketemu artis entah siapa itu namanya di Toilet  dan di depan Starbuck. Ternyata kami satu pesawat. Jadi lebih percaya diri jalan di karpet merah Changi (eh beneran karpetnya merah!).Tuh kan, artis aja naik budget airlines kok :p *kibas poni*

Destination Anywhere - Singapore 2 Days 1 Night 


Bebas dari pemeriksaan Imigrasi *yes, stempel kedua* lanjut mengejar MRT. Sebenarnya gak usah dikejar juga sih. Jadwal MRT di SG biasanya tepat kok. Kalo ketinggalan, masih akan ada MRT lain yang akan lewat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Teman seperjalanan sempat mengira saya akan deg-degan karena ini pengalaman pertama saya ke SG sementara dia sudah yang entah keberapa kali. Padahal sebenarnya sih biasa aja yah. Excited yet somehow i thought i belong to this city or country. Segalanya serba teratur, sistem antrian rapih dan bebas asap rokok di tempat umum. Ya Allah saya senang banget!! 

Di MRT entah dari stasiun apa (saya lupa. Gak merhatiin), naiklah sepasang remaja. Cowoknya sih biasa aja yah, ceweknya yang mirip Agnes Monica. Sepertinya sih mereka dari kampus. Ternyata di gerbong itu ada teman mereka juga tapi temannya berdiri agak di tengah gerbong sementara si "Agnes Mo" ini dengan pacarnya berdiri di dekat pintu seberang saya. Mereka sempat berhai-hai dari jauh lalu kemudian kembali ke obrolan dengan partner mereka masing-masing. Saya gak begitu merhatiin lagi cuma sempat selintas ngomong ke teman kalau si "Agnes Mo" ini kalo ke Indonesia bisa jadi member cherrybelle kali (eh masih ada ya tuh grup?). Dua stasiun sebelum tujuan saya, si "Agnes Mo" ini turun. Sebelum turun dia sempat dong ber-dadah ke temannya. Ketika itulah dia melewati saya dan terciumlah bau yang membuat saya berpikir,"Apa di SG deodorant mahal ya? Tawas gak ada?" Seriously! SG bisa saja free dari asap rokok di ruang public, tapi bebas bau ketek? Belum tentu juga sih :) 

Solo traveling
Kamar seharga 700-an ribu semalam
Banyak yang bilang kalau menginap di kawasan Little India, maka siap-siaplah mencium bau yang lebih unik lagi. Gak tahu yah apa karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar hotel jadi tidak bisa memastikan benar tidaknya. Hotel Arianna tempat saya menginap cuma tempat untuk mandi dan buang badan alias tidur. Sisa waktu yang terbatas membuat saya dan teman lebih banyak jalan. Untungnya tempat menginap lokasinya strategis, tepat di depan Mustafa Centre, dekat dengan Mesjid dan stasiun MRT. Tempat makannya juga lumayan. Lumayan India gitu maksudnya. Jadilah saya nyobain makanan India yang kaya rempah dan kaya BAWANG! Sempat takjub juga ketika memesan martabak. Pikiran sih yah kali mirip dengan martabak di Indonesia. Ternyata sodara-sodara, ini sih telur dadar pake bawang merah buanyak banget. Hihihihi duh langsung rindu aja gitu dengan abang-abang martabak Bangka. 

Selain makanan (dan keluarga), saya gak kangen tuh dengan Indonesia. Apalagi kalau ingat traffic jam setiap pergi dan pulang kerja. Di SG memang terjadi penumpukan orang di setiap stasiun MRT. Orang-orang dengan berbagai style berjalan dengan kecepatan diatas rata-rata kecepatan jalan orang Indonesia. Nyaris gak ada orang yang jalannya santai. Kecepatan eskalatornya juga lebih laju. Ditiap eskalator ada layar LCD yang menginformasikan MRT yang akan memasuki stasiun dalam hitungan menit dan detik. Jadi jangan heran jika ada yang setengah lari malah lari beneran demi mengejar MRT idaman. Walaupun akan ada lagi MRT berikutnya, tapi yang namanya telat tetap akan jadi telat kan? Makanya aturan berdiri di sebelah kiri eskalator harap diingat karena sebelah kanan diperuntukkan untuk jalur "buru-buru". Jadi jangan berdiri sembarangan yah..

Penduduk Singapore mayoritas menggunakan transportasi umum seperti MRT, Bus bahkan ada yang pakai sepeda. Eh tapi bukan berarti gak ada mobil pribadi yah disana. Ada banget! Dan merknya aduh tolong bikin ngiri!Gak percuma sih beli Jaguar, Lamborghini atau Ferrari, jalannya luas, gak macet, gak berlubang dan pengguna jalannya taat peraturan rambu-rambu. Wus wus wus aja gituh. Memang sih karena harga,pajak dan BBMnya muahal jadinya gak semua bisa beli mobil tapi paling gak transportasi umumnya bersih,rapih, tepat waktu dan tarifnya reasonable. Jadi malu kalau membandingkannya dengan transportasi kita :( 

Setiap tempat pariwisata bisa diakses dengan mudah dengan transportasi umum khususnya MRT. Sistem Mass Rapid Transit (MRT) mungkin merupakan cara tercepat untuk berkeliling Singapura selain dengan taksi atau mobil rental. Mau jalan ke pulau Sentosa atau main di Marina by The Bay tinggal perhatiin peta MRT. Unduh aja peta rute kereta ini dari www.smrt.com.sg dan gunakan sebagai  petunjuk jalan untuk berkeliling di Singapura. Nyasar juga gak ada yang malakin kok. Tinggal nanya aja di pusat informasi loket MRT atau orang yang ada disekitar. Saya sempat nyasar sekali di halte bus yang sepi ( huhuhu kalo di Indonesia sudah ngeri aja). Seorang perempuan (wanita karir look alike lah) yang sedang menunggu bus ditempat itu menjadi sasaran saya bertanya. Biasanya kalo nanya di tempat di Indonesia paling dijawab,"Oh.. dekat kok. Lurus aja deh abis itu belok kanan terus mentok kiri bla bla bla !" Ukuran dekatnya relatif. Dekat disitu gak dekat di kaki gue, bisa jadi kan? Nah mbak-mbak sinjapor ini nunjukin lokasi yang saya tuju lengkap dengan peta dari GPS di iPhonenya. Dan dia gak mau ngelepasin kita sampai kita bener-bener ngerti harus mengarah kemana. Hihihi terharu deh ( tapi akan lebih terharu kalau dia nganterin kita sampai tujuan ya? Ah, jadi ngelunjak!).

Selama disana saya puas-puasin pake MRT, maklum di Indonesia gak ada kan. Setelah nyimpan barang di hotel tempat pertama yang saya tuju adalah Boat Quay. Dermaga ini sekarang menjadi tempat yang sangat terkenal di kalangan muda mudi Singapore sebagai tempat nongkrong. Gak jauh dari situ ada Clarke Quay dengan bangunan-bangunan tua seperti museum dan gedung parlemen yang masih  dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Terdapat sebuah jembatan tua dan terowongan yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau pesepeda.

Backpacker Traveling
Tempat nongkrong anak muda Singapore di sore hari
Banyak juga loh orang-orang yang berolahraga lari bahkan sampai ke kawasan patung Merlion. Cukup dengan berjalan kaki 15 menit saya dan teman sudah bertemu dengan patung icon Singapore itu. Dari tempat itupula saya menyaksikan permainan laser dari Marina Bay Sands. Nah ini salah satu wisata gratisan di Singapore. Cukup nongkrong aja disitu setiap pukul 8 atau 9.30 malam. Pertunjukan cahaya, LED, lampu sorot, high power laser, musik dan layar air yang  menghasilkan efek visual yang menarik. Kalau kaki masih kuat, silahkan teruskan langkah ke arah gedung Esplanade yang mirip durian itu. Ini adalah gedung pertunjukan seni, museum bahkan ada mallnya juga. Disebelahnya ada semacam food court yang rame banget, mungkin karena segala macam makanan ada disini., cuma yang muslim silahkan liat-liat dulu Halal gaknya yah. Sebenarnya gak jauh dari sana ada Singapore Eye yang sayangnya pada saat itu sedang tidak beroperasi (lagi maintenance atau apalah, gak ngerti juga). Akhirnya cuma numpang lewat di depan The Float - Marina Bay lokasi konser SMTOWN Singapore dulu sambil ngebayangin dadah-dadahan dengan Kyuhyun. Maklum pengaruh capek jadi terkadang sering berhalusinasi, hehehehe..

Backpacker Traveling

Solo Traveling


Dengan wilayah yang gak luas-luas amat, sebenarnya Singapore bisa dikhatamkan dalam 1 hari 1 malam. Karena jadwal yang padat (ceileh..) itinerary di SG pun dipadat-padatkan. Setelah wisata malam ke daerah pelabuhan dan nyicip-nyicip kuliner di kawasan Little India, pagi hingga pukul sembilan malam saya masih sempat ke menjelajah kawasan pulau Sentosa dan jejeritan gak jelas karena 'salah memilih' permainan disana. Saya juga masih sempat ke Garden By The Bay sampai hampir ketiduran di bale-balenya. Masih sempat juga ngetes-ngetes petugas tourist information centrenya gara-gara alunan musik seruling Sunda yang terdengar dari speaker saat kami di Garden By The Bay. Ih jangan-jangan ngaku-ngaku pula kalau itu musik khas Singapore. Untungnya si mas-mas officer itu ngaku kalau itu memang musik khas Indonesia. Dia malah bilang suka banget dengan musik gamelan Bali dan pernah traveling bareng pacarnya ke Bali. (Iyahh deh om, ngerti situ sudah punya pacar.. Gak naksir juga kali :p ) 

Solo Traveling
Salah satu icon "Garden By The Bay"
Kalau sekedar window shopping atau narsis-narsisan foto di setiap pengkolan jalan sih sebenarnya tidak begitu banyak makan waktu. Di Singapore belanja buat oleh-oleh juga banyak pilihan sih selain gantungan kunci. Saya sempat beli beberapa buah canvas bag lucu-lucu dengan harga $10 untuk 3 biji di Bugis Street,. Dengan harga yang sama dengan gantungan kunci atau magnet tempel, canvas bag ini worthed to buy. Selain bisa jadi oleh-oleh juga bisa dijual kembali di Indonesia. Lumayan kan, satu tas bisa dijual Rp. 99.000 (loh?!! jadi jualan!). 

Solo Traveling
Bugis Street 
Diluar itu saya gak banyak melihat hal-hal menarik di Singapore. Dari segi keindahan alam, Indonesia jelas lebih indah. Kuliner? Indonesia masih tetap juara. Kebersihan? Nah ini dia.. jadi malu. Singapore terkenal dengan aturan denda $1000. Buang sampah sembarangan, denda! Merokok sembarangan, denda! Pipis sembarangan, denda! Meludah sembarangan aja bisa didenda. Dengan banyaknya peraturan dan denda yang muahaallll itu bikin banyak orang mikir untuk melanggar. Yang bikin saya mikir adalah, dari sekian banyak anggota dewan perwakilan rakyat yang sering kunjungan kerja atau berobat ke SG gak ada gitu yah yang kepikiran membuat negara kita sebersih dan setertib SG? Singapore itu negara seupil, bayangin aja kalo ketimbun sampah dari penduduknya. Tenggelam kali bisa ya? Negeri kita luasnya nomer empat di dunia (kata wikipedia), masa gak bisa sih paling gak bikin trotoar yang lebar, bersih dan nyaman UNTUK PEJALAN KAKI. Iri banget deh! Disana gak ada istilah pejalan kaki di klaksonin sama pengendara mobil/motor. Bahkan saat menyebrang (tanpa traffic light), pengendara mobil/motor berhenti memberi jalan. Mereka senang-senang aja sih sepertinya secara pejalan kakinya juga jalannya cepat, gak ada yang nyebrang bak model jalan di catwalk. Gak perlu sampai diklaksonin juga kali.. :)

Solo backpacker
Trotoar yang lebar dan lapang 

Hal menarik lainnya dari penduduk Singapore adalah 'Gadget'nya. Sepanjang jalan kenangan di SG yang namanya iPhone, Samsung Galaxy Series S dan Note keluaran terbaru ada di genggaman tua-muda hingga bocah SD! Supir taksinya pake S3 dan mas-mas penjaga loket MRT pake Note 2 (waktu itu masih baru-barunya). Duh, jadi pengen ngumpetin Blackberry bulukan ini jauh-jauh ke dalam tas. Makanya senang banget pas ngeliat seorang bule di MRT pegang handphone Nokia monochrome maha jadul lagi sms-an pake bahasa yang saya gak ngerti. Usut punya usut itu adalah bahasa Finland. Bule ini ternyata ekspatriat dari Nokia Finlandia, huaaahhh ya pantas. Mungkin lagi ngetest-ngetest apalah gitu yah.. 

Anyway, tujuan dari traveling tidak harus selalu sama, bisa kemana aja. Semuanya kembali lagi ke traveler masing-masing. Sukanya apa? Mau dapat pengalaman apa? Atau cuma mau belanja oleh-oleh aja? Sesederhana apapun itu, bahkan sekedar menikmati jalan kaki di troator Singapore yang bersih dan lebar bisa menjadi pengalaman tak terlupakan. 

Solo traveler
The Blue Sky of Singapore, Gak Lebih biru daripada langit Indonesia

Berikutnya Destination Anywhere lanjut ke Penang, Malaysia. Kali ini bukan karena gedung-gedung tua ala kolonialnya yang menarik mata, tetapi karena pertemuan dengan seseorang di sana. Nantikan yah.. 

XoXo

V

[K-Drama] REPLY 1994 - Cinta Pertama Akan Membawamu Kembali

Setelah menunggu setahun, akhirnya series Reply 1994 tayang juga. Sejak Reply  1997 selesai tayang tahun 2012 lalu memang sudah di"kibas-kibas"kan berita bahwa akan ada "sambungan". Awalnya saya berharap ini adalah lanjutan kisah Reply 1997. Penasaran saja dengan kehidupan pernikahan Sung Shi-won dan Yoon Yoon Jae. Eh ternyata settingnya malah semakin mundur ke tahun 1994. Pemainnya pun berbeda tentu saja.

Title: 응답하라 1994 / Eungdabhara 1994
Also known as: Answer Me 1994 / Reply 1994
Genre: Youth, sitcom
Episodes: 21
Broadcast network: tvN
Broadcast period: 2013-Oct-18 to 2013-Dec-28 (Friday & Saturday)
Rating : 11.9 %

Main Cast : 
Go Ara as Sung Na-jung
Jung Woo as "Sseureki" (meaning "Garbage" or "Trash")
Yoo Yeon-seok as "Chilbong" (meaning "Seven Shut-outs")
Kim Sung-kyun as "Samcheonpo" (referencing his hometown)
Son Ho-jun as "Haitai" (referencing baseball team Haitai Tigers)
Baro as "Binggeure" (meaning "Smiley"; referencing baseball team Binggrae Eagles)
Min Do-hee as Jo Yoon-jin
Sung Dong-il as Sung Dong-il (Na Jung's Dad)
Lee Il-hwa as Lee Il-hwa ( Na Jung's Mom)

Drama Korea Reply 1994
Kiri-Kanan : Kim Sung Kyun, Yoon Yeon Seok, Son Hojun, Jung Woo, Baro, Min Do Hee, Go Ara


In The Bag, Kisah Koper yang Tertukar Cinta

Don't Judge The Book By Its Cover

Dulu sih katanya gitu. Belakangan sepertinya sudah tidak berlaku, paling gak buat saya :D. Salah satu contohnya pas nemu novel yang ini di kategori "New Arrival" sekitar dua minggu lalu ( iyah,maafkan aku agak malas nulis belakangan ini). 

Ketika membaca back cover story aku pikir, wah lumayan seru juga nih. Walaupun sempat agak ragu mengingat penulis naungan  penerbit "Gramedia Pustaka" seringnya agak kaku, akhirnya saya bawa pulang juga Lagi-lagi karena sampulnya keren. Hahaha!



Ternyata gak nyesel juga sih belinya. 

Pertama karena terjemahannya enak dibaca. In The Bag ini memang novel terjemahan. Penulisnya Kate Klise ini awalnya adalah seorang koresponden majalah People yang banyak meliput skandal selebriti sampai pembunuhan berantai. Jadi jelas ini bukan novel K-Drama, yes? Hahaha..  Nah, In The Bag ini adalah novel dewasa pertamanya. Namun walaupun dilabeli "novel dewasa" tenang saja karena gak ada adegan-adegan seperti "Fifty Shades Of Grey" kok :D *eh gak ada yang kecewa kan*

In The Bag ini bercerita tentang Coco remaja tanggung bersama Ibunya, Daisy serta Webb dan Ayahnya Andrew. Coco dan Daisy sedang dalam rangka liburan ke Paris sementara Webb diajak Ayahnya dalam rangka pekerjaan ke Madrid. Mereka secara kebetulan satu pesawat dari Chicago dan secara tidak sengaja terlibat "kecelakaan". Ayah Andrew tidak sengaja membuat Daisy ketumpahan wine dan menodai bajunya. Dia bermaksud untuk minta maaf tetapi pramugari menyuruhnya untuk segera duduk. Andrew pun menuliskan pesan disecarik kertas dan menyelipkannya di saku tas Daisy. Sebuah permintaan maaf dan ajakan kencan sebagai permintaan maaf. Ternyata bukan hanya Daisy yang tertimpa hal mengesalkan, Coco juga. Tasnya tertukar. Dia baru sadar ketika ia membongkar tasnya dan menemukan pakaian dan sepatu laki-laki. Di Madrid Webb tak kalah terkejut melihat isi ranselnya yang berubah menjadi "cewek".

Tas yang tertukar dan pesan yang terselip menjadi benang merah kisah antara Coco-Webb dan Daisy-Andrew. Dua orang tua tunggal yang mengira mereka terlalu sibuk untuk berkencan dan dua remaja yang diam-diam tidak berhenti saling mengirimkan email flirting rahasia. Membaca novel ini seperti mengajak saya jalan-jalan di Paris, Madrid hingga Barcelona. 

Aku suka cara Kate Klise menulis. Setiap bab POV diambil dari ke empat character secara bergantian.  Liburan selama 6 hari ini dilengkapi dengan gambar yang berhubungan dengan perjalanan mereka. Sangat enak untuk dibaca.Kate tahu menempatkan dirinya dalam kerangka berpikir bukan saja orangtua tetapi juga remaja 17 tahun. Menarik. Interaksi ibu dan anak perempuannya, ayah dan anak lelakinya dan dua remaja yang masing-masing belum pernah berkencan dipaparkan secara ringan sekaligus juga menyentuh.  Mmh, kadang-kadang sebagai anak sering lupa pengorbanan dan pengertian orang tua menghadapi mood anaknya :D * hugs *  sementara sang anak rahasia-rahasian menyusun rencana ketemuan. Ah, bandelnya anak-anak :p 

Jatuh cinta, kadang kala memang begitu mudah dan penuh resiko seperti tertukar bagasi pada penerbangan International. Jatuh cinta juga kadang kala begitu rumit karena salah pengertian. Namun jatuh cinta itu menyenangkan seperti adventure dalam perjalanan. Gak setuju? Coba baca dulu deh novelnya. Habis itu kasih tahu aku yah pendapatmu disini :D 

Selamat membaca!
XoXo

V

[Novel Review] Her Sunny Side, A Bittersweet Love Story.

It's my second time to read Japanese Novel. First was 'Kitchen' ( that i haven't finished till now) and second was "Her Sunny Side". At first i was attracted by the title "Her Sunny Side". It's so catchy. I also read that this novel will be filmed with casts of two of my favorite Japanese actor and actress : Matsumoto Jun and Ueno Juri. Those two reason finally made me buy this novel. So cheesy,right? :)) 


STPC - LONDON, Hujan dan Misteri Cinta


Saya membeli novel ini dari sebuah shopping online tanpa membaca sinopsisnya. Saya hanya sempat mencari tahu siapa pengarangnya. Setelah blogwalking dan membaca beberapa entry postingan penulisnya, Windry Ramadhina, saya memutuskan memesan novel ini. Terus terang ada perasaan seperti "Judge The Book By Its Cover". Saya sebenarnya agak malas membaca novel non-sastra penulis Indonesia karena sering ketipu cover dan back cover story. Namun mengingat bahwa ini adalah terbitan Gagas Media saya hanya berharap pilihan saya tidak salah. 

Begitu novel itu tiba ditangan saya, segera saja novel bersampul sederhana itu saya baca. Sebuah postcard sebagai bonus terselip di belakang sampul. Ok, seperti biasa bonus novel STPC pada umumnya (padahal mungkin akan lebih menyenangkan jika yang terselip adalah tiket Jakarta-London PP, misalnya). Sebuah kalimat "Untuk Para Pencinta Hujan" tercetak di halaman setelah ucapan terima kasih penulis. Pencinta Hujan? Ok, that's me. Jadi apakah kita akan berhujan-hujan bersama di London?



STPC - LONDON, Hujan dan Misteri Cinta


Cerita dibuka dengan Prolog yang makin menarik perhatian saya. London yang terkenal dengan cuaca yang berkabut dan berhujan sudah terhampar di depan mata. Namun penulis mengajak saya kembali ke Jakarta di Bab pertama. Diawali Oleh Wiski, menggambarkan latar belakang kisah ini terjadi. Gilang, seorang penulis yang memendam cintanya bertahun-tahun pada tetangga sekaligus sahabatnya, Ning memutuskan untuk mengejar Ning ke London. Di kota itulah tempat Ning kuliah dan akhirnya bekerja di Tate Museum, tempat yang selalu menjadi impian Ning selama ini. Terpisah ribuan kilometer membuat Gilang dikomporin empat sahabat terbaiknya untuk segera menuntaskan ketidakpastian hubungannya dengan Ning. 

Dan berangkatlah Gilang dengan segala keberanian yang dia punya. Ternyata perjalanannya ke London untuk mengejar cintanya membawanya banyak bertemu dengan orang-orang yang tak pernah disangkanya. Seorang lelaki blasteran Indonesia-Eropa yang serupa tampangnya dengan Guy Fawkes, karakter V for Vendetta di pesawat. Seorang lelaki Inggris tua yang selalu setia datang berkunjung ke penginapannya hanya untuk bertengkar dengan wanita berwajah masam pemilik penginapan. Seorang blasteran Inggris India yang bekerja di tempatnya menginap, perempuan Indonesia yang terobsesi memiliki buku cetakan pertama dan tentu saja dia. Seorang perempuan yang selalu muncul di saat hujan, cantik dan selalu membius Gilang dengan pesonanya. Tanpa nama, dia datang, tersenyum,menyapa lalu kemudian hilang disaat hujan reda. Tak ada jejak kemana perempuan serupa malaikat itu pergi. Hanya ada sebuah payung merah miliknya yang tertinggal. Itupun ternyata dibawa lari si lelaki bertampang Guy Fawkes.Sial! 


Gilang merasa kesialannya belum berkurang. Bertemu dengan Ning ternyata tak semudah skenario yang direncanakannya di Jakarta. Saat bertemu pun tak membuat semuanya jadi mudah untuk Gilang mengungkapkan perasaannya yang terpendam. Seorang lelaki, Finn,  serupa Ethan Hawkes di Great Expectation diperkenalkan Ning padanya. Hanya teman,kilah Ning. Namun dimata Gilang ia merasa lelaki ini diam-diam sudah merebut gadisnya. Waktu yang semakin sempit membuat Gilang harus segera mengungkapkan cintanya pada Ning. Diluar ketakutannya langkahnya didahului si Ethan Hawkes, ternyata Gilang juga takut jika Ning tak akan bersikap sama lagi padanya jika ternyata Ning tak merasakan perasaan yang sama. 

Persahabatan antara lelaki dan perempuan memang selalu bisa dijadikan latar belakang cerita. Entah siapa, tetapi biasanya salah satu diantara mereka punya perasaan yang lebih dibanding lainnya. Klise, namun benar adanya. Jika keduanya ternyata menyimpan perasaan yang sama, tentu saja akan menjadi happy ending. Sedihnya, kemungkinan sad ending pun bisa terjadi. Nah apakah novel ini berakhir bahagia atau sedih? Silahkan baca sendiri yah..

Yang jelas saya sangat menikmati membaca novel ini. Selalu ada kejutan disetiap babnya.Bikin penasaran. Seperti potongan puzzle,satu demi satu pieces dari tokoh yang berbeda terekat oleh satu kesamaan. Mengapa perempuan cantik tanpa cela itu selalu datang saat hujan dan pergi ketika hujan reda? Mengapa payung merah yang tampak sederhana ternyata sangat berharga? Semuanya akan terjawab di akhir cerita. Selamat membaca dan mari larut dalam hiruk pikuk kota London yang berkabut cinta.

XoXo
V

This Is Us : One Direction, Normal Guys Who Had Fun But Were Terrible Terrible Terrible Dancers

Ok, let's forget awhile about Kpop things and get back to the kind of music i used to love ( hey, I still do!) : Western Pop. Or just "Pop"..whatever you may called. Anyway, i'm talking about the movie called: This is Us by a British boyband called "One Direction" ( and everybody says : Ahhh... ) 




I'm not a Directioner,actually. But i kinda like some their hits like "One Way or Another, Kiss You, One Thing, Little Thing, That's Makes You Beautiful" and other songs from their first to third album that loaded into my ipod. :D

And for the record, i don't even know each one of their names except for Zayn (because he's moslem), Harry ( because he dated Taylor Swifth) and Liam ( because one of my friend always talk about him). The only thing i knew was : They are X-Factor UK's contestant who didn't win but totally got a HUGE success.

So.. i just knew that they will release their first movie. Skeptically i thought, just like any happening idol they got to have at least one movie while they're on top. Justin Bieber, Katy Perry, even SMTown Family and Super Junior made their "daily activities and tour life" into 3D Movie. But  when i first saw "Best Song Ever" music video on Vevo channel, the skeptical mind of mine just swept away. I hope to see something different.

My Ticket
So there i was, sitting in the C row, 5 minutes late, hoping to get entertained by these five guys from England. I have to warn you,  this is  the kind of movie that made for fans and should be enjoy by the fans only. I mean, who cares about what these boys do at the backstage, driving the golf car like crazy, chasing and lift up by their bodyguard or waking up in the middle of the night after 10 minutes sleep just for record verse part of the new song. Only fans do. They screaming out loud like crazy every time they see Harry half naked or Zayn smiles (which is i admitted.. oh well, cute!). They sing along with these boys in every concerts footage that appear. You know, those kind of things that only fans would do. But the fun part is, i did enjoy watching this movie, although i'm not the Directioner.

This Is Us :  One Direction, Normal Guys Who Had Fun But Were Terrible Terrible Terrible Dancers


Basically it's almost the same with Justin Bieber "Never Say Never and Katy Perry "The Part Of Me". There are story about them on stage and backstage. Unfortunately "This Is Us" you won't see the "private" life like what we see in Katy Perry's. There was no love live that expose in. Not even a slight talk about Taylor Swifth. *no hope*

But the excitement wasn't diminished. Chris Rock, Christiano Rinaldo, Martin Scorsese and of course not to forget Simon Cowell  are appear as the cameo. These boys talking about themselves, actually about the basic things like how they met, the first impression and even talked about there was a time when they had special conversation about kicked Zayn out of the band. I don't know if it was revealed before, but i just knew that. Hahaha.

As a none-Directioner  i found this movie like a documentary of how a boyband that doesn't look like a stereotype boyband been made. I mean, if we look back to the former boybands like Nsync', Backstreet Boys, Take That, Westlife or even older than that, New Kids On The Block, they all have the same pattern.

They are all consist of five good looking boys which have bad boy, sweet boy, funny boy, playful boy and calm boy. Some can sing, some can rap, other can dance. I'm not judging but i can see these pattern too in One Direction. The different is They ALL can sing ( and got good voice) but CAN'T dance.

They don't want to wearing the same wardrobe, smile or act like they tell them to be. They just want to be.. Them, just like ordinary guys in age between 19-21 years old. They come across as the regular guys they claim to be, five fellows who like to mess about, are grateful for their family. The difference is they surrounded by girls who can't stand not to scream or even fainting every time they showed up, flying from one country to another and have a little time to sleep.

Yes, there are some scene when they "mess" their image. Harry's sarcastic. Niall's exuberant. But  This Is Us is the Rockumentary that shows the innocuous image of One Direction. Well, hopefully those images are hold their ground because most of their precursors skidded on their fame, lost and hard to get back. 


This is us One Direction


FYI, "This Is Us" , is a 3D movie which is ( for me) only works on concert scene. It really looks like these boys in front of you. So prepared yourself to be stupefied or screaming (just like most of the girls who watching this movie). Nothing special on the effects,but the you can get the atmosphere of the concerts.

There are some extra visual zip to their usual concert spectacle, transforming the singers into superheroes or augmenting the “Space Invaders”-inspired graphics. effectively boosting the 3-D appeal. Most of the viewers are Directioners so it wasn't a surprised to hear them sing along just like they're really at the gig. If you're not the Directioner, don't worry.

I only knew their best hits but i still can enjoyed the movie. In fact, i was surprised when they're perform "Teenage Dirtbag" in one of the concert scene. "Teenage Dirtbag" is a song by American alternative rock group Wheatus. It was released in July 2000 as the lead single from their eponymous debut album. It was included on the soundtrack of the movie Loser. Some of you probably don't know it.. or you do? :D 

In the end, i agreed to what one of them said that he hopes One Direction is remembered  as normal guys who had fun but were terrible terrible terrible dancers. lol. Because that's what this movie wants to show the world that this is who they are. They're all good in singing ( and no one who doing only rapping) but they're seriously terrible dancers. 


Obviously, those who hate group’s music should avoid “This Is Us” at all costs. But if you just want to have some fun after a-long-hard-weekdays, this movie should give you something entertain and to get to know them a little more. And probably you couldn't help but like One Direction, even sing along every time “Best Song Ever” came on your car radio. Or you don't? :D. Can't wait to read your comment about it.