Tempat Nongkrong Asik di Makassar : Numericca 29

Hal yang paling ngeselin saat berada di kantor adalah, ketika jam makan siang tiba dan rasa lapar sudah melanda tapi kantin kantor sudah kehabisan persediaan makanan. Mau gak mau opsinya hanya dua : pesan online atau sekalian keluar makan siang. Tentunya opsi kedua selalu menjadi pilihan. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari melihat 'pemandangan' baru, bukan?

Kali ini pencarian makan siang saya berhenti di Numericca 29 yang terletak di jalan Botolempangan no. 29, perempatan jalan Sawerigading. Sebelumnya tempat ini bernama Bangi Kopitiam yang menyediakan makanan ala Melayu-Cina. Berhubung kontrak franchisenya telah berakhir, sang owner tidak berniat memperpanjang dan malah berganti konsep. Dengan konsep baru 'Asian Kitchen, Market & Pastry', tempat ini membuat saya penasaran pengen nyoba.



Anyway, sesuai konsepnya Numerricca menyediakan makanan dan minuman bernuansa Asia, seperti dari Thailand, Malaysia, Jepang, China dan Indonesia. Bahkan terselip pula beberapa menu western semacam sandwich dan pasta. Selain itu Numericca 29 juga menyediakan pastry dan bakery sebagai dessert. Last but not least, di deretan minuman yang disediakan terdapat berbagai macam varian kopi dari biji kopi fresh pilihan. Mmh.. interesting.

The Menu


Setelah bolak balik lihat menu dan sempat bingung menentukan pilihan (abis banyak banget hidangannnya dan kelihatan sangat menggiurkan), akhirnya saya memilih Fried Rice Szechuan. 

Penampakan Fried Rice Szechuan ini memang seperti nasi putih biasa, tapi serius ini nasi goreng loh. Meski tanpa kecap manis atau sambel yang memberi warna cokelat atau kemerahan, rasa pedas dan manis terangkum dalam saus kari yang dituang disekelilingnya. Perpaduan nasi dan saus dilengkapi potongan cumi dan baso ikan. Gurihnya telur mata sapi menambah keberagaman rasa yang membuat saya tidak bisa berhenti untuk menyendok sesuap demi sesuap hingga ke tetes terakhir. Ketika sausnya lumer di lidah hanya ada satu kata : Yummy!



Untuk penyeimbang rasa di lidah, saya memesan Ice Americano sebagai minuman. Saya tidak sempat menanyakan dari biji kopi daerah mana yang mereka sediakan, tapi rasa kopinya tidak mengecewakan.



Tapi highlight dari menu makan siang saya hari itu adalah the dessert. Serius, ketika saya tahu di area pintu masuk Numericca 29 terdapat pastry and bakery corner segera saya melirik deretan cake, roti, donat hingga macaroons yang terpampang dengan cantiknya. Lebih menyenangkan lagi karena disediakan tester untuk beberapa cake pilihan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada : Blueberry Cheese Cake.



Blueberry Cheese Cake di Numericca 29 ini cake dan kejunya yang serasa lumer di lidah. Topping Blueberry yangsedikit manis menyeimbangkan rasa membuat saya menyendok sesuap lagi dan sesuap lagi. Gak pake lama, sudah habis. Heran, itu doyan atau masih lapar ya?

Selain Blueberry Cheese Cake, Choco cake nya juga bikin nagih. Cake nya empuk banget dengan cokelat yang berasa lumer di lidah. Selumer hatiku melihat tatapan Song Joongki.. (Aiish, mulai lagi deh).Jadi pengen lagi dan lagi..


Another cake yang bikin saya jatuh cinta adalah Opera Cake. This is totally a cake yang pengen saya buat sendiri cuma ribet minta ampun, hehehe.. Ini sebenarnya pesanan teman saya, tapi saya ikut icip juga. Finally ketemu Opera Cake yang rasanya tidak mengecewakan. Teman yang pas untuk disantap dengan Ice Coffee Caramel. Untuk yang gak suka rasa kopi yang berat atau suka yang manis-manis, silahkan coba padanan dessert ini.


The Atmosphere 

If you're looking a quite and homey place to lunch or to have some coffee and chit chat with your friends, this is the place. Numericca 29 menyediakan smoking area di bagian luar dan di lantai atas. Selain gak menganggu pengunjung yang bukan perokok, open space dan ruangan berAC di lantai atas memungkinkan para smokers untuk menikmati view sibuknya jalan Botolempangan dan sekitarnya.

Sementara untuk non smokers, bisa menikmati area indoor di lantai 1 yang menyediakan meja untuk berombongan atau berdua aja. Satu sudut favorit saya adalah sebuah meja untuk berdua di sudut ruangan dekat jendela. It's quite romantic buat yang lagi ngedate.. (Song Joongki mana Song Joongki? ).



Oiya, setiap malam minggu ada live music dari home band akustik di tengah hall utama. Boleh request, boleh ikutan nyanyi.

The Price

Harga minuman mulai dari 20ribuan (kecuali air mineral 9ribuan), makanan mulai dari 40ribuan dan cake dan pastry berkisar 10ribuan hingga 30ribuan. Palingan harus ingat aja harga belum termasuk pajak 10% dan service 5%. Jadi kalau bayarnya patungan, jangan cuma bayar harga makanan dan minumannya aja yah, pajak dan servicenya pura-pura gak keliatan. Hehehe.. 

The Conclusion 

Sekali lagi, masalah lidah dan kenyamanan memang tergantung selera. Sebagai tempat meet up dengan teman, meeting kecil-kecilan dengan klien, ngedate dengan pasangan, ngeblog (uhuk!) atau jadi tempat nongkrong asik sambil ngopi, segala kenyamanan dan enaknya menu yang ditawarkan di Numericca 29 menurut saya tidak mengecewakan. Worth to visit and dig in. Wanna try? Kalau saya sih yes! Kalau kamu? 

Pengalaman Pertama Membuat Pizza

Sesekali cerita tentang urusan dapur, boleh dong?

Minggu lalu rasanya pengen banget makan pizza. Sebenarnya lebih gampang beli jadi. Mulai dari pizza traditional yang dibakar sampai pizza goreng, sekarang ada dimana-mana. Tapi pengen aja bikin sendiri. Jadilah saya mengubek-ubek resep yang tersebar di seantero sosmed. Ternyata bahannya tidak terlalu menyusahkan untuk ditemukan (di supermarket, hehehehe). Cara membuatnya pun tidak seribet yang saya perkirakan. Jadi dengan modal nekat (eh... modal duit juga ding!), mari kita membuat pizza sendiri........ !!!



Berhubung ini pengalaman pertama dan saya gak mau terlalu ribet, jadi bahannya bener-bener dasar. Sedasar apa yang ada di lemari penyimpanan bahan di dapur saja, yah bu ibu.. jeng, ceu, kak, dek, mas.. (ya kali ada).

Bahan Adonan Pizza

250 gr tepung terigu berprotein tinggi
  50 gr tepung terigu berprotein sedang
200 ml air hangat
1 bungkus ragi instant
1 sdm minyak sayur
sejumput gula, garam dan cinta (yang disebut belakangan ini opsional. Tergantung stok hari ini)

Cara Membuat Adonan 

1. Tempatkan tepung terigu dalam wadah terpisah.
2. Dalam mangkuk kecil, larutkan ragi dalam air hangat beserta gula dan diamkan selama 10 menit hingga berbusa.
3. Campurkan larutan ragi dengan tepung. Tambahkan garam.
4. Uleni adonan hingga tercampur rata hingga kalis dan elastis. Tambahkan minyak sayur agar tidak lengket.
5. Bentuk adonan menjadi bola dan tutupi dengan serbet. Tempatkan mangkuk di daerah yang hangat dan biarkan naik selama 30 menit atau sampai dua kali lipat dalam volume.

Pada akhirnya saya gak merhatiin jam karena adonan saya tinggal untuk cuci mobil. Iyesss, saya nyuci mobil sendiri lohh. Begitu mobil kelar dicuci, adonan sudah naik. Tinggal nunggu ditepuk-tepuk ( tapi gak usah sambil bilang,"yang sabar yah..). 




Bahan Isi Pizza: 

1 bungkus Saus Spaghetti instant
3 buah Sosis
Mentega secukupnya untuk menumis
Keju slice / keju parut sesuai selera

Cara Membuat Isi Pizza

Lelehkan mentega, masukkan saus spaghetti bersama 3 buah sosis yang telah dipotong-potong. Aduk rata hingga mengental. And that's how it's done! *miss praktis*

Cara Membuat Pizza

Menurut resep yang saya contek dan pengalaman melihat almarhum mama membuat pizza, adonan yang tadi dibiarkan mengembang kita ambil lalu dipelototin supaya mengkeret.

Ehhh.... gak gitu juga kali! Ok serius! 

Tekan adonan ke bawah untuk menghilangkan gelembung yang ada. Uleni lagi sebentar dan bagi menjadi 2 bola adonan. Tempatkan pada permukaan yang sudah diberi tepung. Tutupi dengan serbet dan biarkan adonan naik selama lebih kurang 1 jam.


Sementara itu ayo cuci pakaian ! 

Setelah lebih kurang sejam, ambil 1 adonan sementara yang 1 lagi saya biarkan tetap tertutup. Adonan kemudian saya ratakan di loyang segiempat bawaan oven listrik yang saya gunakan.

Olesi adonan dasar pizza dengan saus yang sudah disiapkan. Panggang dengan suhu 170 derajat kurang lebih 25 menit.

Di 10 menit terakhir tambahkan potongan keju.

Sembari nunggu pizza matang, mari kita lanjut nyuci pakaian.

Ting!

Timer oven sudah berbunyi, berarti saatnya melihat hasil eksperimen. Tadaaaa.......



Berhubung wanginya menggoda selera pizzanya buru-buru diletakkan di piring yang tidak compatible dengan bentuk pizzanya sendiri. Foto juga sudah buru-buru, gak pake prinsip Food Photography lagi. Maklum, sudah nyuci mobil plus nyuci baju rasa laparnya naik 3x lipat. *cari pembenaran*

Baca juga : Food Photography Untuk Pemula 

Meski penampakannya tidak seindah pizza bermerk kondang, gak yangka ternyata rotinya empuk, pinggirnya garing, toppingnya sudah berasa di Italia aja (ya keleeess kan pake saus spaghetti). Hahaha...

Saya sukaaaaa... Hanya ada satu hal yang bikin kecewa. Kejuuuunyaaaa kurang ngejuuuu.. Memang ada harga ada kualitas. Kebetulan yang ada di stok cuma keju biasa saja. Ok, next time perlu diperhatikan.

Jadi yah gitu deh pengalaman pertama saya membuat pizza. Namanya juga percobaan pertama, disana sini pasti ada kekurangan. So far, gak membuat pizzanya gagal sih. Lumayan nyantai juga pembuatannya, karena saya bisa sambil nyambi cuci mobil dan nyuci pakaian diantaranya. Hehehe..

Bagaimana dengan kamu, sudah pernah bereksperimen membuat pizza sendiri juga? Atau mending beli jadi aja ? Share your comment, below ya!

Ngeblog di Mark Trees Cafe Makassar

Belakangan ini urusan ngeblog agak terganggu. Ide sih ada aja, tapi paling tersimpan di draft. Kemana nih semangat yang menggelora di awal tahun? Apa karena tugas menulis makalah tiap minggu ada aja sampai sudah bosan duluan liat laptop'? 

Daripada terbawa kemalesyan yang tak kunjung padam sementara ada 8 postingan 'kontrak' yang perlu diselesaikan, saya terpikir untuk ngeblog di kafe. Iyess.. saya terinspirasi Carry Bradshaw dan J,K Rowling yang bisa mendapatkan inspirasi menulis sambil ngopi di sebuah coffee shop. Ya kalee saya juga bisa begitu. Begitulah, akhirnya di suatu pagi saya mengangkat laptop ke sebuah kafe baru di Makassar bernama Mark Trees Cafe. 

Mark Trees Cafe Makassar

Mark Trees Cafe 

Lokasi : Jalan Batu Putih, Makassar. Belokan pertama kanan, depan kantor camat. 

Terus terang saya tertarik mengunjungi Mark Trees Cafe karena penasaran dengan foto-foto yang ditampilkan di akun Instagramnya. Mungkin sekarang memang lagi ngetrend, konsep outdoor cafe yang berkesan eco friendly gitu ya? Mark Trees Cafe ini tidak terkecuali. 

Bangku kayu dan sofa empuk menjadi tempat duduk yang nyaman bersanding di bawah pohon rindang. Untuk pengunjung yang lebih menikmati kopinya dengan ditemani rokok. ruangan terbuka ini bisa dijadikan pilihan. Sementara untuk non perokok yang ingin menyesap kopinya tanpa asap rokok, boleh ambil tempat di indoor space. Ruangannya nyaman, nyess banget dengan AC. Cocoklah buat pencinta kopi yang gak merokok dan gak doyan panas seperti saya.

Tempat Nongkrong di Makassar

Tempat Nongkrong di Makassar

Food and Beverages 

Pilihan makanan dan minuman yang dipersiapkan Mark Trees Cafe cukup beragam. Sesuai dengan jam operasinya yang buka mulai pukul 9 pagi, Mark Trees Cafe menyediakan menu sarapan, brunch (breakfast and lunch) yang ringan dan menu berat untuk makan siang atau malam. Cemilan-cemilan peneman minum kopi juga tersedia. Bagi yang bukan peminum kopi, ada menu minuman lainnya yang bisa dipilih sesuai selera.

Berhubung saya adalah penikmat kopi, saya memilih Cappuccino for mood booster saya pagi itu. Karena masih pukul setengah 10 pagi, untuk makanan saya memilih Cronut Sandwich.

Food Photography

Pesanan saya datang kurang dari tiga lagu yang terdengar dari pengeras suara di Mark Trees Cafe. Cappuccino tiba dengan panas. Rasanya juga tidak terlalu mengecewakan. Cocoklah dinikmati setelah menyantap Cronut Sandwichnya yang renyah dan gurih. Not bad untuk memulai hari.

The Price 

Harga makanan dan minuman mulai dari 20ribuan. Untuk Cappuccino dan Cronut Sandwich pesanan, saya 'hanya' membayar sekitar 55ribuan saja. Lumayan terjangkau kan? 

The Atmosphere 

Ketika saya datang, seorang waitres dan seorang barista masih sibuk bersih-bersih. Saya datang agak pagi sih, sengaja supaya belum ada pengunjung lain. Keuntungan buat saya pastinya, karena saya bisa ngeblog dengan nyaman. Speaker yang terpasang di setiap penjuru cafe mengalunkan lagu-lagu upbeat kekinian menambah mood buat nulis. Makin siang tempo lagunya diturunkan dan eranya pun main ke tahun akhir 90-an hingga awal 2000-an. Pas banget buat menemani jari-jari ini menari diatas keyboard laptop. 

Ngeblog di Cafe

Katanya beranjak siang hingga malam, pengunjung Mark Trees Cafe makin rame. Selain dipakai sebagai tempat makan, cafe ini juga jadi tempat nongkrong. Gak heran di tengah ruangan outdoor tersedia berbagai permainan seperti kartu Uno dan beberapa board game lainnya yang bisa dipergunakan untuk menambah keseruan. 

Sayang saya hanya bisa berada di Mark Trees Cafe hingga menjelang tengah hari. Satu postingan selesai. Saya pun berlalu dengan sebuah lagu. Kapan-kapan bolehlah mampir ke sini lagi. Untuk ngeblog sambil main kartu Uno, bisa dicobakan ?

Follow my blog with Bloglovin

Kerja, Ngopi dan Gaul di Peeple Coffee Working Space Makassar

Kadang-kadang kalau lagi bosen di kantor, saya biasanya nyari tempat nongkrong di mana saya bisa ngopi-ngopi cantik sekaligus tetap terhubung dengan kerjaan. Belakangan makin marak tempat nongkrong baru di Makassar yang bisa dikunjungi dengan konsep mereka masing-masing. Salah satunya adalah working cafe.

Konsep ini sebenarnya berawal dari gaya hidup digital nomad. Itu loh,  individu yang memanfaatkan teknologi untuk bekerja jarak jauh dan menjalani gaya hidup mandiri dan nomaden. Ketika mereka membutuhkan tempat yang cukup nyaman, bisa makan dan minum dan tentu saja terkoneksi internet, dimana lagi mereka berlabuh kalau bukan di kafe ? Nah, konsep working cafe ini pun akhirnya sampai di Makassar dan diterapkan oleh Peeple Coffee Working Space.


Peeple Coffee Working Space

Lokasi : Jalan Singa, perempatan Tupai 

Peeple Coffee Working Space mengusung konsep coffee shop tempat para freelancer (atau yang bosan dengan suasana kantornya) bekerja sambil ngopi-ngopi. Working spacenya sendiri cukup nyaman, ber AC dan dilengkapi white board. Tersedia 4 baris meja ala meja kerja tanpa kubikel lengkap dengan lampu meja dan colokan di setiap meja. Di sisi lain terdapat ruang yang bisa dipake untuk meeting yang bisa menampung sekitar 8-10 orang. Jika berminat 'ngantor' di sini, cukup pesan makanan/minuman minimal 80rb/orang.

Selain untuk kerja, Peeple Coffee Working Space ini sebenarnya cocok juga untuk yang pengen nongkrong aja sambil ngopi-ngopi. Tersedia ruangan outdoor dan indoor. Sayangnya ruangan indoor yang berAC ini untuk para perokok atau yang gak keberatan dengan asap rokok. Non smoker seperti saya  dipersilahkan memilih tempat di outdoor space. Pffiuh.. *lap keringat*

#FromWhereISit

Food & Beverage 

Sesuai dengan namanya Peeple Coffee and Working Space ini memang menonjolkan minuman kopi. Pencinta kopi dimanjakan dengan kopi-kopi Indonesia dari kopi Aceh Gayo, kopi Kintamani, kopi Jawa hingga kopi Toraja. Baristanya menyediakan kopi pilihan dengan dua cara  (Aeropress dan Syphon) yang dapat dipilih sesuai keinginan. Jika suka, bisa beli kopi giling juga loh di sini.


Untuk yang tidak terlalu suka kopi hitam, tenang.. ada minuman lain yang tidak kalah nyessnya, kok.



Selain minuman, Peeple Coffee and Working Space menyediakan makanan berat juga. Tersedia Soto Betawi, Mie Jawa, Ikan Dori Goreng dan Nasi Goreng.




Mau  ngemil-ngemil cantik sambil ngopi juga bisa. Andalannya itu  Sandwich, Toast Bread dengan pilihan isian  seperti Kaya, Mentega, Keju hingga isi Daging dan Bayam.


Price 

Harga makanan dan minuman berkisar antara 20 - 40 ribuan rupiah. Relatif terjangkau.

Likes & Dislike 

Saya suka sandwich dan kopi racikan baristanya. Pas! Peeple Coffee Working Space juga hanya menyediakan kopi lokal, which is itu penting untuk meningkatkan kecintaan pecinta kopi Indonesia pada kopi negeri sendiri.  Soto Betawi juga lumayan, walaupun amat sangat bersantan menurut saya. Tapi masih mendinganlah rasanya dibanding Nasi Goreng yang bagi saya kurang begitu pas di hati eh, di lidah. 

Untuk interior dan eksteriornya cukup menarik. Sesuai dengan konsepnya sebagai working space, Peeple Coffee Working Space ini menyediakan wifi dan colokan di setiap meja. Cuma.. yang bikin saya kecewa adalah ruangan ber-AC (non working space) hanya untuk perokok.  Mungkin para perokok dipersilahkan merokok tapi harus menelan asapnya sekalian. Mungkin yaah... mungkin. 

Tapi suer, rasanya gak adil banget buat para pencinta kopi yang tidak merokok seperti saya. Gimana coba saya gak banding-bandingin dengan cabang coffee shop international yang mempersilahkan para smokers ngopi di luar atau membuatkan ruangan khusus untuk smokers. Tapi ya sudahlah, ntar saya dibilang pro coffee shop luar negeri  pula ( lirik grup sebelah)

Terakhir kali ke sana, saya datang pukul 10 pagi dengan harapan para smokers belum pada datang. Ternyata ruangan berAC sudah ditongkrongin perokok pula. Ya sudahlah saya melipir ke working space. Sayangnya, meski ruangannya nyaman banget saya tidak bisa berkonsentrasi menulis karena segerombolan mbak-mbak bagian keuangan yang memperdebatkan kredit balance. Wifinya pun gak kunjung berkenalan dengan perangkat laptop saya. Akhirnya saya kembali ke area outdoor dan menyalakan modem wifi milik saya sendiri.

Conclusion

Masalah wifi mungkin temporary, siapa tahu memang ISP nya sedang gak oke aja. Waitersnya juga ramah dan helpful banget. Makanan dan minumannya overall tidak terlalu mengecewakan. Sebagai tempat kerja, ngopi, gaul bahkan arisan, Peeple Coffe Working Space ini bisa dilirik. Hanya saja semoga peraturan ruangan ber AC untuk perokok bisa diubah agar pencinta kopi yang bukan perokok seperti saya bisa nyaman ber AC pula. Jadi next time saya gak harus ngopi di coffee shop international hanya untuk merasa dihargai sebagai a non smoker coffee lover.  

Masakan Korea Buatan Ahjumma

Ajumma / Ajoomma ( Korea: 아줌마 ) berasal dari kata Korea Ajoomeoni ( Korea: 아주머니 ) , dan adalah kata Korea penghormatan untuk  wanita menikah atau berusia menikah . Meskipun kadang-kadang diterjemahkan " bibi , " tapi tidak benar-benar mengacu pada hubungan keluarga. 

Gara-gara suka nonton drama Korea, saya jadi tahu bahwa ada panggilan Ahjumma untuk wanita menikah atau yang sudah memasuki usia menikah. Ahjumma juga sering dipergunakan sebagai panggilan kepada ibu-ibu yang bekerja di rumah makan atau yang mengurusi makanan kita di rumah. Dan gara-gara Ahjumma pula saya bisa menikmati masakan Korea di rumah saya di Makassar.

Jadi ceritanya, saya memang dari dulu tertarik dengan budaya Korea termasuk masakannya. Jauh-jauh ke Singapore, mentoknya malah di stall masakan Korea gara-gara yang masak ahjumma asli Korea yang menclaimed 'No Pork, No Lard'. Jalan ke Jakarta juga selalu menyempatkan diri nyicip masakan Korea. Ke Bandung malah mangkal di fastfood Korea juga. Memang sih, mungkin rasanya sedikit berbeda dengan di Korea. Sama seperti betapa anehnya rasa Coto Makassar di Jakarta, atau Pisang Ijo khas Makassar di Bandung. Tapi berhubung pengen, yahh pengen aja.. 

Korean Food

Cuma yah gitu deh!
Mencari masakan Korea di Makassar itu tidak gampang. Restaurant cuma 1, Fastfood ayam franchise juga 1. Ahhh.... 저는 자장면을 먹고 싶어 jeoneun jajangmyeoneul meoggo sipeo,saya pengen makan Jajangmyeon. Itu loh.. mie hitam yang biasanya di delivery order di drama-drama atau variety show Korea.

Teman saya waktu itu sempat bilang di Instagram ada tuh yang di jualan masakan Korea di Makassar. Nama akun Instagramnya :  @ahjumma.upg. Dari bionya sih katanya no pork, no lard dan halal. Wih, asik tuh kayaknya. 

Cuma saya sempat khawatir juga, biasanya homemade small industry seperti ini harus di order paling tidak sehari sebelumnya. Ngobrol punya ngobrol via LINE chat, ternyata masakan Ahjumma itu siap pesan dan baru dimasak begitu diorder. Jadi masakan pesanan tiba dalam keadaan freshly cooked pada pemesan. Wah, jadi tambah lapar aja... Apalagi lihat menu yang disediakan lengkap dengan foto-fotonya di Instagram. Selain Jajangmyeon, ada Spicy/Honey  Chicken, Bulgogi, Bibimbap, Tteokbokki. Semua tampak menggiurkan *lap iler*.  Duh, pilih yang mana ya?

Jajangmyeon Dan Spicy Chicken Buatan Ahjumma 


Jjeng..jeng... And here's the moment of truth. Momen pembuktian apakah makanan yang saya pesan ini memang seenak penampakannya di IG. Mmh..let's see mau nyoba yang mana dulu nih? Jajangmyeon atau Spicy Chicken ? Gak perlu mikir lama, mari sikat Jajangmyeonnya.



So, gimana rasa dari Jajangmyeon buatan Ahjumma ini?

Dimulai dari tekstur mienya yang kenyal, tidak basah dan tidak  menggumpal, itu berarti mienya baru dimasak dan masih segar. Saus jajangnya sendiri pekat, terasa manis dan gurih tapi tidak bikin enek. Biasanya Jajangmyeon yang asli diberi potongan daging Babi, tapi karena ini adalah Jajangmyeon halal maka diganti dengan sayuran yang dipotong kotak dan  bawang bombay. Mmmh..yummy!

Korean Food


Sambil mengunyah Jajangmyeon, tangan saya meraih potongan Spicy Chicken dari kotak yang berbeda. It's actually potongan sayap ayam yang di goreng dengan bumbu dan dilumuri saus pedas ala Korea.

Saya pernah mencoba Spicy Chicken ala Korea sebelumnya, tapi ternyata saya lebih suka buatan Ahjumma. Ketika digigit, bagian luarnya crispy tapi daging di dalamnya empuk banget. Rasa saunya perpaduan pedas dan manis. Biasanya kalau di Korea, Spicy Chicken ini  disantap dengan minuman 맥주 (baca : Maegju) atau beer. Tapi kan gak mungkin yaahh. Jadi mari kita menikmatinya dengan air putih saja, lebih sehat! :D

Masakan Korea

Jangan hiraukan tampilannya yang berantakan yah.. Namanya juga kalap!

Sekalap-kalapnya ternyata saya masih menyisakan seperempat porsi Jajangmyeon. Selain porsinya yang lumayan besar, kepala bagian belakang tiba-tiba jadi sakit. Duh, ini berarti entah Jajangmyeon atau Spicy Chickennya yang pake MSG kebanyakan. Maklum, saya sensitif banget dengan pemakaian MSG dalam makanan. Kalau bukan rasa pahit di ujung lidah, bagian belakang kepala (bukan leher loh yah..) pasti sakit. Makanya saya selalu menghindari masakan ber-MSG.

Jadi ketika sang owner nanya-nanya gimana rasa masakannya, dengan jujur apa adanya saya bilang enak, saya suka Spicy Chickennya walaupun Kimchinya kurang asem dan saya gak menghabiskan Jajangmyeonnya karena kepala saya tiba-tiba sakit.


Setelah itu Ahjumma pake minta maaf segala dan siap mengganti Jajangmyeon pesanan saya dengan Tteokbokki tanpa MSG. Ehh???

Tteokbokki, Complimentary Snack Dari Ahjumma  

Sepanjang saya order delivery  atau santap di tempat, biasanya hanya restaurant/eatery atau coffee shop besar yang selalu bersedia mengganti makanan/minuman yang tidak sesuai selera pemesan. Untuk tempat makan kecil atau homemade delivery, pemesan harus siap terima pesanan apa adanya. Suka ya syukur, gak suka ya sudahlah gak usah pesan lagi daripada bete karena komplen tidak ditanggapi.

Makanya saya gak mau komplen, yah cukup jadi catatan aja. Eh gak tahunya, keesokan harinya beneran ada paket Tteokbboki dari Ahjumma menunggu di meja makan. Ahh.. rejeki mahasiswa yang pulang kampus kelaperan emang ada aja. Alhamdulillah ya!

Masakan Korea

Tteokbokki adalah penganan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis. Pada jaman dinasti Joseon, snack ini disebut sebagai Gungjung Tteokbokki. Pada waktu itu, masakan ini berupa Huintteok (kue beras) yang dimasak dengan kecap asin bersama daging sapi, bagogari, kecambah kacang hijau, peterseli, shiitake, wortel, dan bawang bombay. Rasanya jauh berbeda dari Tteokbokki berbumbu cabai yang dikenal sekarang. 

Sebelumnya saya sudah sempat mencoba Tteokbokki di salah satu food stall Korea di Jakarta, jadi penasaran aja perbedaan rasa dengan buatan Ahjumma. Pada dasarnya Huintteok yang digunakan teksturnya sama saja, kenyal. Selain Huintteok juga ditambahkan Odeng dan irisan daun bawang dan bawang bombay. Bedanya terletak di sausnya. Pada dasarnya Tteokbokki memang tidaklah sepedas warna sausnya yang merah menyala. Rasa manis dan gurih memang lebih menonjol. Sebenarnya enak, cuma entah kenapa saya merasa ada 'rasa' yang hilang dari tteokbokki buatan Ahjumma ini.

Berhubung Tteokbokki ini adalah makanan pelengkap, akhirnya saya merebus mie (tanpa bumbu) dan memasukkannya dalam saus Tteokbokki. Biar lebih pedes sesuai selera saya, tidak lupa saya tambahkan Boncabe. Mmmh... Sedapnyee'...

Ramyun Tteokbokki

Gambar ini diambil setelah makan setengah porsi dan sadar belum di foto. :D 

Kesimpulannya... 

Overall dari tiga menu buatan Ahjumma.upg yaitu Jajangmyeon, Spicy Chicken dan Tteokbokki semuanya enak. Menurut saya sesuai dengan lidah lokal pada umumnya. Menurut ownernya, berhubung disesuaikan dengan selera lidah lokal jadi rasa asin Gochujang (bumbu dasar dihampir semua masakan Korea yang berkuah) ditutupi dengan gula hingga rasanya jadi lebih gurih. 

Ini juga berlaku pada Kimchi yang menurut saya kurang asem dan (lagi-lagi) kurang pedes. Kimchi harusnya difermentasi sekitar paling tidak sebulan dan didinginkan dalam kulkas atau gentong. Lagi-lagi mengikuti selera lidah lokal, Kimchi buatan Ahjumma adalag fresh Kimchi yang berusia hanya beberapa hari. Bisa dimaklumi, karena saya sering mendengar komentar teman-teman yang bilang Kimchi itu asem dan gak enak. 
Well, selera orang beda-beda sih. Untungnya order di Ahjumma bisa di customized sesuai keinginan rasa pemesan. Ownernya enak diajak ngobrol kok, kasi tahu aja apa yang bahan apa yang mau dikurangi atau diganti. Seperti saya maunya gak pake MSG dan Gochujang yang banyak dari standar lidah lokal, Ahjummanya siap-siap aja membuatkan. 

Tentang Harga

Masalah harga, untuk satu porsi dibandrol sekitar 50 ribu sampai 55 ribu. Kemahalan? Bahan bumbu untuk pembuatan masakan semua di import dari Korea, dipilih kehalal-annya dan dibayar pake dollar, jadi cukup beralasan juga sih. Lagian porsinya cukup besar kok, bisa buat berdua. Lumayan kan, bisa patungan. Mudah-mudahan kalau dollarnya turun, harganya bisa ikutan turun juga, yes? 

Saya sih lain kali mau order lagi. Good taste  with good service, yang seperti ini bisa bikin pelanggan kembali. Setuju? 

Bersantai Sejenak di Lopi Cafe Makassar

Weekend biasanya kemana?

Kalau saya suka jalan-jalan sambil icip-icip kuliner, nyari cafe atau coffee shop baru untuk ditongkrongin. Weekend kemarin saya sempatkan ke Lopi Cafe di jalan Bougenville, Panakukang Makassar. Kebetulan Kumpulan Emak-Emak Blogger chapter Makassar berniat buka puasa bersama,. Berhubung tiba-tiba ditunjuk jadi PIC, saya akhirnya mengusulkan sudahlah bukber di Lopi Cafe aja. Sekalian ngumpul, sekalian review. Ok Sip!

Ketika saya memasuki Lopi Cafe interior dengan unsur kayu dan unfinished style membuat suasana terkesan di rumah sendiri. Dengan dua jendela kaca besar menghadap ke jalan, Lopi cafe hanya memerlukan lighting seperlunya. Lighting yang tidak terlalu dominan ini menurut saya memberikan mood santai. Ditambah dengan mural art dengan aksen Makassar, Lopi Cafe terlihat sangat unik dan menarik.

recommend cafe

Dulu awalnya lokasi tempat Lopi Cafe diperuntukkan oleh pemiliknya sebagai travel agent. Dasar kreatif, sang owner pun kepikiran kenapa tidak sekalian buat homestay aja sih? Jadilah dibuat Makassart Homestay lengkap dengan tempat parkir. Ternyata rata-rata traveler yang menginap lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada menyewa mobil. Daripada jadi lahan kosong akhirnya tempat parkir itupun diubah menjadi cafe dengan kapasitas sekitar 20-30 orang.

Tempat yang saya reservasi sebelumnya berada di sebelah kiri pintu masuk. Ada sebuah bangku kayu panjang dengan bentuk yang unik bersandar pada dinding. Dihadapannya diletakkan sebuah meja persegi panjang yang juga terbuat dari bahan kayu. Awalnya saya tidak memperhatikan bentuk kursinya hingga saya bertanya pada Nunu, orang yang bertanggung jawab mendesign cafe ini, tentang arti nama Lopi Cafe. Kata Nunu, Lopi diambil dari bahasa Bugis (salah satu dari empat suku yang ada di Sulawesi Selatan) yang berarti Perahu. Awalnya saya pikir filosofinya mungkin si pemilik cafe ingin 'membawa' para pengunjung berlayar dalam ragam kuliner dan keakraban suasana, which is totaly wrong! Hahahaha.. *iyaaa saya terlalu romantis mungkin ya?*

lopi cafe makassar

Usut punya usut nama Lopi diambil karena interior yang pertama kali menarik perhatian Nunu adalah sebuah perahu sampan. Perahu ini kemudian dibagi dua dan menjadi dua buah bangku panjang. Salah satu bagian dari perahu sampan berada di sebelah meja saya dan satunya lagi ternyata yang direservedkan Nunu untuk saya.  Kedua bagian perahu inilah yang menjadi centre stage dari Lopi Cafe. Keren ya?

Jadi, makan apa kita di Lopi Cafe?

cafe di makassar

Lopi Cafe menyediakan menu pembuka hingga desert yang menggoda. Menu lokal seperti Nasi Goreng dan  Mie Goreng bersanding dengan menu international seperti Spaghetti, Lasagna atau Fish and Chip. Ada beberapa menu special yang dibuat oleh chef dengan nama yang unik seperti Mother In Law yang katanya sepedes ucapan mertua. Hahaha.. lucu juga.  Tapi saya tidak memilih itu, belum punya mertua. Ntar saya trauma gimana? Akhirnya sambil menunggu teman-teman KEB yang lain saya akhirnya memutuskan untuk memesan Fish and Chips sebagai hidangan utama, dan Nutella Pie sebagai dessert dan Cappuccino sebagai minuman.

Suasana Lopi Cafe semakin mendekati waktu berbuka semakin ramai. Memang harus reservasi dulu nih sebelum kesini. Tidak beberapa lama member KEB satu persatu tiba. Nani memilih Mie Goreng beserta jus Sirsak dan Qiah memesan Nasi Goreng merah plus Jus Taro. Adzan Magrib terdengar dari televisi yang terpasang di dinding Lopi Cafe, let's dig in..

Pertama yang saya coba setelah meneguk air mineral adalah Fish and Chips yang ternyata datang bersama French Fries dan sausnya. Satu porsi terdiri dari tiga potong dengan ukuran yang cukup mengenyang untuk perut yang mencoba diet seperti saya.

cafe di makassar
Fish and Chips ala Lopi Cafe

Ketika pesanan Nani dan Qiah datang, saya tidak tahan untuk tidak mencicipi sedikit dari pesanan mereka. Mie Gorengnya bercita rasa tradisional dan tidak greasy. Nasi Goreng Merahnya juga lumayan menggoda. Setelah menyantap ketiga menu tadi tidak terasa berat dilidah seperti biasanya jika makanan kebanyakan MSG.

Untuk minuman, saya tidak sempat mencicipi minuman pilihan Nani dan Qiah, tapi kata Nani Jus Sirsaknya enak banget. Terasa sekali Sirsaknya. Saya sendiri yang memesan Cappuccino juga merasa cukup puas dengan racikan sang barista. Tidak terlalu pahit (aman buat kamu yang cuma suka kopi gitu-gitu aja) tapi juga masih berasa kopinya hingga tidak mengecewakan pencinta kopi seperti saya. Nutella Pie dengan ice cream on top juga pas banget di lidah sebagai selingan meneguk Cappuccino. Untuk ngopi-ngopi cantik, it's recommended choice.

cafe di makassar
Nutella Pie

Makassar cafe
Cappuccino

Lopi Cafe yang buka mulai pukul 11 siang sampai pukul 1 pagi ini menurut saya adalah salah satu tempat yang akan saya datangi lagi jika ingin hangout sambil ngobrol santai dengan teman-teman. Saya suka suasana cafenya, mungkin karena kebanyakan yang datang cewek-cewek , saya aman dari asap rokok. Total harga yang saya keluarkan juga tidak terlalu membuat kerusakan untuk dompet. Cukup terjangkau.

Jadi kapan-kapan ada kesempatan traveling ke Makassar, jangan lupa mampir ke Lopi Cafe yah. Sekalian pilih penginapannya di Makassart Homestay aja (yang akan segera diperluas menjadi hotel berlantai 4). Maybe some other time saya pun akan kembali datang untuk  ngetik-ngetik cantik sambil menyesap Cappuccino, biar dikata  ala Carrie Bradshaw di Lopi Cafe, gitu... Hehehe. Bersantai sejenak di Lopi Cafe, why not?

Makan Siang di Gastros Coffee and Eatery Makassar


"Maksi dimana?"
(Maksi =  makan siang)

Ini adalah pertanyaan paling sering terlontar menjelang jam makan siang di kantor. Bisa jadi karena bosan dengan makanan di kantin, tapi lebih sering karena alasan 'sekalian jalan-jalan', jadilah jam makan siang biasanya gue cuzz ke tempat makan yang enak dan nyaman. Ditemani Im Siwan tentu saja, mobil Agya kesayangan gue. 

Kali ini giliran "Gastros Coffee & Eatery" di Mall Ratu Indah di Jalan Ratulangi Makassar. Tidak sulit menemukan restaurant ini karena terletak di lantai dasar, dekat parkiran. Setelah memarkir Agya gue dengan cantiknya, jalan sedikit, kelihatan deh signnya.
Makassar
Gastros Coffee and Eatery Makassar 
Memasuki Gastros Coffee and Eatery gue disambut dengan interior dan dekorasi yang mengingatkan gue pada Bistro di Paris ( halah, kek gue pernah kesana aja!). Dinding batu bata (tanpa dipoles), kursi dan meja yang terbuat dari kayu dengan jendela lebar sehingga tidak perlu lampu yang banyak dan terang. 

Kebetulan gue masuk dari pintu samping yang berwarna kuning, berhadapan langsung dengan deretan couch kulit dan meja kayu yang ditempatkan di sisi jendela. Penuh. Gue akhirnya memilih bagian bawah yang berhadapan dengan bar barista dan kasir. Hey, ternyata ada list menu yang direkomendasikan Gastors terpajang di dindingnya.   
Kuliner Makassar
Gastros Must Taste List 

Mencicipi Udon dan Tempura ala Marugame Udon Makassar

Siapa sih yang gak suka mie? Dari tua,muda,dewasa hingga anak-anak kayaknya gak ada yang gak suka jenis makanan yang satu ini. Mie hadir di menu kuliner berbagai negara dengan bermacam variasi termasuk Jepang. Di negeri Sakura salah satu jenis Mie yang disukai adalah Udon. 

Di satu hari Minggu sore yang ceraaah *saking cerahnya saya merasa perlu ngadem dibawah AC* saya menerima ajakan seorang teman untuk mencoba salah satu tempat makan baru di Makassar. Nama tempat yang direkomendasikannya adalah Marugame Udon. Dari namanya saja sudah langsung kebayang kuliner mie Udon khas Jepang. Bentuknya sama dengan mie kebanyakan, sama-sama panjang dengan warna putih kekuningan. Bedanya adalah dari ketebalan dan tentu saja kuahnya yang lebih kental. Membayangkannya sudah bikin ngeces aja nih! 

Jadi berangkatlah saya dengan Im Siwan, mobil kesayangan saya. Tidak sulit menemukan lokasi Marugame Udon yang terletak di lantai 1 pintu timur Mall Panakukkang. Rasanya lebih sulit menemukan tempat parkir secara waktu itu pas hari Minggu, tanggal muda, jam empat sore pula. Tumplek plek lah berbagai mall goers dari tua muda, penduduk Makassar sampai pengunjung dari luar daerah lengkap dengan bus antar kotanya. Kalau body mobil gak compact langsing kek Im Siwan saya, yakin deh agak mepet-mepet menjurus lecet. Pfft.. 

Anyway, saat saya sampai di Marugame Udon, teman saya  sudah memesan makanan duluan. Setelah berhai-hai sejenak saya segera menuju kitchen bar Marugame Udon, tempat pengunjung memesan makanan sekaligus bisa melihat kokku (koki dalam bahasa Jepang) sibuk mengolah pesanan kita. 

Marugame Udon Makassar 


My Kopi O' ... Ooohh Begini Rasanya

Ketika di Bulan Desember tahun lalu ada sebuah slot di Mall Ratu Indah yang di tutupi label "My Kopi O' " di sepanjang papan tripleks yang mengelilinginya sy langsung kepikiran "Yeah, another place to ngopi2 cantik to go". Dan keadaan itu terus terlihat sampai kemudian benar-benar buka di awal bulan Maret. Gila, lama bener preparationnya.. Lebih lama dari tempat ngopi sebelah yang sama-sama "pasang banner" opening soon ituh..

Anyway, Senin siang saya dan seorang teman memutuskan untuk ngopi-ngopi cantik di tempat itu. Menurut seorang di ranah twitter Cappuccinonya enak. Saya sih sebenarnya kurang begitu yakin karena pas saya nanya ke dia tentang satu tempat ngopi di lokasi yang sama dia malah belum pernah nyobain Cappuccinonya.Padahal menurut saya Cappuccino buatan mas Barista juara nasional itu belum ada tandingannya, at least di Makassar. 

My Kopi O' ... Ooohh Begini Rasanya

Jadi masuklah saya ke My Kopi O'. Satu hal yang langsung menarik perhatian adalah konsep design Open Kitchennya. Cantik. Didesign dengan berwarna putih membuat tempatnya jadi terkesan luas dan homey. Saya duduk manis di meja non-smoking dan datanglah mas-mas waiternya yang lebih terlihat seperti satpam bagi saya. Dia menyodorkan dua menu ukuran koran. Satu untuk menu Food dan satunya lagi menu Beverage. Di beberapa sisi  nama makanan/minumannya nampak icon jempol dan gambar cabe. Menurut mas-masnya itu berarti menu pilihan dan tingkat kepedesan masakannya. Yang menarik dari menu ini adalah di bagian belakang ada informasi bisa berfoto dengan setting My Kopi O'. Melihat design interiornya memang boleh banget di pakai untuk foto Pre Wedding atau semacamnya. 

Back to menu, My Kopi O' menyediakan menu yang beragam mulai dari ala Melayu-peranakan Cuisine, ala Japan hingga Western. Pilih punya pilih ini lah menu lunch kami tadi..

Caesar Salad


Cappuccino with Almond





Yakiniku Noodle & Ice Coffee Blackforest 






The Taste


Sebagai pencinta Cappuccino saya cuma bisa bilang penambahan rasa tertentu dalam Cappuccino hanya akan merusak cita rasa. Almond lebih enak di campur di bahan kue bukan di kopi. Untuk yang suka ngopi-ngopi sachetan ya bolehlah mencoba Cappuccino disini.Ringan cenderung manis. Gak perlu tambah gula. FYI Kopi basednya adalah kopi Robusta Lampung. Sementara Caesar Saladnya lumayan enak walaupun rasa Bawang Bombaynya agak susah hilang dari lidah. Habis makan ini better siapin permen atau mouthwash yah.. 

Pilihan ke dua adalah Yakiniku Noodle yang rasanya juga tidak terlalu istimewa walaupun juga tidak bisa dikatakan gak enak. Mungkin karena sudah terlanjur kecewa dengan Cappuccino nya jadi masakan ini dan Ice Coffee Blackforest nya pun akhirnya jadi biasa saja. 

The Price 


Memang sih di menu kisarannya antara 20rb-an hingga 40-rb-an. Tapi jangan lupa ada tax dan service nya. Empat menu tadi menghabiskan uang Rp.154rb-an. Mahal untuk ukuran rasa yang biasa saja. Dengan harga segitu saya bisa ngopi di Sbux ato di Black Canyon Coffee with a better taste of Coffee. 

Is it worth to hang out there?


It depends. Untuk ngopi2 cantik atau nge-date tempatnya tepat karena ada sisi romantisnya juga. Jika hang out with various people yang tujuannya gak sekedar ngopi tapi juga makan berat, tempat ini juga boleh di jadikan pilihan karena menunya beragam mulai dari Appetizer hingga Dessert. Tapi bagi saya mungkin cuma sekali itu saja saya mau berkunjung lagi kecuali ada yang traktir :)

Bagaimana pun selalu ada harga untuk setiap kenyamanan. Tapi soal kopi, mungkin masih banyak tempat yang lain.  Silahkan buktikan sendiri. 

XOXO


V