Melipir Sejenak Ke Floating Market Lembang

Bandung selalu menjadi kota 'kenangan' dan favorit buat aku di kawasan Jawa Barat. Oke, setelah Sukabumi tentu saja, berhubung sempat tinggal di sana beberapa tahun. Jadi, tiap kali ada kesempatan ke Jakarta, rasanya selalu pengen melipir sejenak ke sana.

Melipir Sejenak Ke Floating Market Lembang Bandung 




Hari beranjak siang ketika teman saya ini (yang emang gak bisa bangun pagi no matter how hard you beg, hahaha) menjemput saya di penginapan backpacker di kawasan Lengkong, Bandung. Sebelum ke Floating Market, atas saran teman saya itu kami mampir dulu ke In & Out Urban Eatery yang gak begitu jauh dari penginapan. Saya yang masih kenyang dengan sarapan nasi kuning yang disediakan penginapan backpacker Pondok E7, akhirnya memilih untuk memesan Jus Mango Alpukat yang gedenya diluar ekspektasi. Puas.. banget!




Jalan Menuju ke Floating Market Lembang 


Lokasi Floating Market cukup mudah dijangkau, at least kalau menggunakan mobil pribadi. Gimana kalau angkutan umum? Wah, ini saya kurang faham. Saran saya, berangkatnya rame-rame aja, naik Grabcar atau GoCar. Bayarnya patungan, sudah gitu tinggal setting alamat aja di Google Maps   Jalan Grand Hotel No.33E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Beres! 

Floating Market di Lembang ini kami tempuh dengan mobil sekitar satu jam. Trafik cukup padat berada di sekitar jalan Setiabudi, selebihnya lumayan santai untuk ukuran hari Minggu. Begitu memasuki kawasan Floating Market, perlu menyiapkan uang 20 ribu rupiah per orang untuk membayar tanda masuk.

Lumayan mahal ya? Tapi tenang aja, soalnya tiket masuk tadi bisa ditukar dengan minuman di dua outlet yang tersedia di area. Kita bisa memilih minum kopi Nescafe hangat, cokelat Milo atau ice tea Nestle.  Pilihan saya? Ya tentu saja kopi. Lumayan loh, meskipun Lembang sudah tidak sedingin dulu lagi, namun jika angin berhembus mengingatkan ku pada suhu kota Seoul di musim semi. Tsah..




Baca juga: Jalan Kemana, Namsan Seoul Tower di Musim Semi 

Kulineran di Floating Market Lembang 


Seperti namanya Floating Market ini berupa pasar terapung yang menghadirkan beragam jualan makanan di tepi danau buatan. Makanan yang disediakan cukup beragam, mulai dari masakan dan cemilan  khas Sunda sampai cemilan negara lain sebangsa Jepang gitu juga ada. Sejujurnya saya gak begitu merhatiin karena pandangan saya sudah fokus pada masakan khas Sunda yang sudah saya rindukan semacam Lotek, Karedok dan Bala-Bala.




Uniknya jualan di Floating Market ini tidak diperjual belikan dengan uang rupiah yang biasa kita gunakan sehari-hari. Transaksi di Floating Market menggunakan koin khusus dengan nominal 5000 dan 10 ribu rupiah yang bisa ditukarkan di loket penukaran. Saran aja nih, meskipun lapar mata, jangan bablas nuker koin karena koin yang tidak dipergunakan tidak bisa ditukar kembali menjadi rupiah. Sayang kan ya?

Oiya, di sepanjang tempat ini pula ada pasar mini bernama Pasar Gembong yang khusus menjual buah-buahan, keripik, manisan, cemilan dan pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh.





Taman Berkonsep Mixed Jepang, Korea, Cina  dan Sunda  


Floating Market Lembang ini tidak melulu tentang makan. Beberapa spot ditata sedemikian rupa menjadi taman dan side walk mengelilingi danau. Selain bisa dijadikan tempat bersantai, spot-spot ini penting banget buat kamu yang suka foto-foto.

Beberapa bagian taman disetting bergaya Jepang dimana jalan setapak dibuat untuk pejalan kaki dengan pepohonan yang diatur sedemikian rupa di sisi kiri dan kanan. Tak lupa disediakan beberapa saung untuk sekedar dijadikan tempat mengaso sejenak. Lumayan loh untuk dijadikan tempat untuk berfoto.



Gak cuma berfoto, kita bisa menikmati pemandangan yang apik di sini. Taman-taman tertata rapih dengan bunga berwarna warni. Danau buatan tampak tenang dan bersih menjadi jalur perahu yang membawa pengunjung mengitari Floating Market. Saya gak sempat mencobanya, tapi tampaknya asik. 




Suasananya yang nyaman, saya masih bisa mendengar suara burung berkicau disela-sela angin yang berdesir menabuk dedaunan pada pohon-pohon di sekitar. Suara air berkecipuk disaat ikan-ikan Mas berebut makanan yang ditebar pengunjung semakin membuat pengunjung lupa hiruk pikuk perkotaan.  Wah.. I can stay here just to sit on the rock and enjoy the moment.




Di beberapa sisi lain dibuat semacam pelataran yang mengarah ke danau, sering dijadikan tempat untuk photo session bagi yang menyewa Kimono ala Jepang atau Hanbok Korea di stand tertentu. Bagi pengunjung lain boleh berfoto di sisi lain asalkan tidak menganggu photo session pengunjung yang khusus menyewa pakain khas Jepang dan Korea tersebut.

Tenang aja, masih banyak lokasi foto yang bisa kamu manfaatkan untuk nambah-nambah foto sosmed kamu kok, gratis!! Salah satunya adalah taman berkonsep Cina di depan Taman Kelinci. Cocok buat jadi latar foto.



Ketika kaki lelah melangkah, sila mampir di kursi-kursi dan bangku-bangku yang disediakan di pinggir danau. Mau ngobrol kek atau mau makan bekal bawaan sendiri, terserah. Jangan lupa jaga kebersihan ya! Meskipun ada petugas kebersihan, bukan berarti kita bisa seenaknya meninggalkan sampah. Banyak tempat sampah disediakan. Mau belanja suvenir? Tenang aja, booth keren bergaya rumah khas Sunda menyediakan beragam suvenir yang lumayan bisa dijadikan oleh-oleh.




Sedikit banyak konsep taman di Floating Market ini mengingatkan saya pada konsep Songdo Central Park yang pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu di Korea. Eh, saya belum pernah posting ya? Next, tolong saya diingatkan! Hehe.

Mengintip Kelinci Bermain di Taman Kelinci 

Makin kuat keyakinan saya bahwa konsep Floating Market ini sedikit banyak mengacu pada konsep Songdo Central Park karena ada Taman Kelinci nya. Nah, bedanya di Floating Market untuk bermain bersama para Kelinci ini, harus bayar tiket seharga Rp.20.000.




Kelilingi deh tuh, taman yang ditata layaknya hutan mini untuk para Kelinci. Untuk anak-anak kayaknya sangat irresistible ya, secara kelincinya emang lucu-lucu parah. Saya sendiri gak sempat masuk berhubung hari sudah hampir magrib dan rasanya sayang aja kalau hanya sebentar. Toh, saya masih bisa melihat para Kelinci tersebut bermain dari luar, pagarnya kan model kawat besi doang. Lagian setelah melewati kawasan Setia Budi, setiap kali kumelihat Kelinci-Kelinci ini, teringat nasib teman-teman mereka yang berakhir menjadi sate. Sedih aku tuh...




..And A Whole Lot More 

Selain Floating Market sebenarnya ada beberapa wahana di kompleks yang sama yang bisa kamu datangi. Tentunya harus bayar tiket masuk lagi untuk masing-masing wahana. Misalnya untuk Rainbow Garden harus bayar 10ribu lagi untuk menikmati taman dengan berbagai macam jenis bunga berwarna warni. Selain itu terdapat wahana Kota Mini, dimana para anak-anak bisa belajar mengenal konsep kota berikut dengan profesi-profesi yang mendukung seperti apa dan bagaimana petugas pemadam kebakaran, polisi dan lain sebagainya.

Bagi kamu para muslimah berhijab yang ingin berenang, ada kolam renang khususnya loh. Kamu bisa berenang tanpa bercampur dengan non muhrim, tentunya tetap menggunakan pakain khusus renang. Factory Outlet pun ada,loh! Ya kali pengen beli baju, celana, training suit dan masih banyak lainnya. Tersedia untuk pria dan wanita dari ukurun anak-anak hingga dewasa. Komplit lah!

Hari beranjak senja, tidak terasa saya sudah empat jam menikmati keindahan Floating Market di Lembang ini. Tempat rekreasi yang pas untuk seluruh keluarga, bahkan untuk yang datang bersama teman-teman. Sekedar membuang penat hidup perkotaan, bolehlah melipir sejenak ke Floating Market Lembang.


All Photos taken with Sony Alpha 6000 

Blogging, Profesi atau Hobi ?

Blog merupakan singkatan dari web log[1] adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urutan terbalik (isi terbaru dahulu sebelum diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut. (Sumber : Wikipedia) 

Sejarah mencatat bahwa media blog pertama kali diluncurkan oleh Pyra Labs yang kemudian diakusisi oleh Google di tahun 2002. Saya sendiri pertama kali mengenal blog di tahun 2009, itu pun awal mulanya karena keranjingan nulis di notesnya Friendster dan Multiply. Pada dasarnya saya memang suka menulis sejak kecil di diary. Begitu menemukan media yang sedikit mengurangi kepegelan jari saya mencatat segala hal dalam pikiran dan perasaan, tentu saja saya senang dan menikmati. Awalnya blog saya ada empat, masing-masing satu di Blogspot, Wordpress, Multiply dan Tumblr. Banyak amat? Ya kan masing-masing ada nichenya. 

Saya ngeblog tentang pikiran-pikiran saya tentang hal-hal yang terjadi di sekitar dan hal-hal yang lagi dibicarakan orang di Blogspot. Curhatan gak jelas saya tuliskan di Wordpress. Saya sok berpujangga melalui puisi-puisi cemen (yang ternyata sempat masuk majalah dan dibayar) di Multiply. Sementara Tumblr saya isi dengan foto-foto dengan caption singkat. 

Sejalan waktu, Multiply hilang dan saya lupa backup tulisan saya tersimpan di mana. Sudah gak tahu mau posting apa di Tumblr karena sudah ada Instagram. Blogspot berubah niche dengan postingan 'campur sari' yang dinamakan "lifestyle" dan Wordpress yang akhirnya saya private demi kemaslahatan bersama karena saya gak mau mengumbar perasaan pribadi saya kepada seluruh dunia. 

Blogging, Profesi atau Hobi ?  




Dalam perjalanannya dari tahun 2009, Blogging kemudian jadi booming di tahun 2012. Mungkin karena pada tahun itu juga (correct me if I'm wrong), publisher buku hunting penulis dari blogger. Media blog pun dilirik oleh brand untuk dijadikan media informasi dan promosi. 

Banyak buku dan novel yang penulisnya adalah blogger. Gak sedikit pula blogger yang diundang ke press conference, event launching atau apalah bersanding dengan para wartawan media cetak dan elektronik. Lomba-lomba penulisan berpindah ke blog, hadiahnya juga lumayan banget. Mulai dari gadget, voucher, uang tunai, jalan-jalan ke luar negeri dan masih banyak lagi. Sangat menggiurkan bukan? 

Pada akhirnya it seems like everybody wants to blogging, mostly about anything. Yang dulunya blogger 'curhat' , berupaya mengubah positioningnya agar lebih ketahuan personal brandingnya seperti apa. Ada yang saklek ke satu niche aja (make up, traveling atau gadget dan seterusnya), ada yang masih gado-gado segala niche dihantam kayak saya, hahaha. Yang awalnya posting sesuai mood, jadi berusaha untuk paling tidak posting seminggu sekali. Malah ada yang posting dua hari sekali. 

Gak cuma frekuensi publish postingan yang dijaga, konten pun semakin ke sini semakin dibenahi. Postingan tidak melulu sekedar tulisan. Foto dan video dibuat semenarik mungkin lalu kemudian disematkan dalam postingan. Selamat tinggal template bawaan, kupu-kupu dan musik latar yang enak terlihat di mata yang punya blog tapi ngeselin di mata pembaca. Mulai membuat judul yang click bait, belajar SEO biar masuk page one Google dan printilan lain yang kadang-kadang jika ingin didramatisasi menghasilkan pertanyaan 'kamu ngeblog demi apa sih?' 




Demi kelihatan blognya keren, up to date, kekinian, lalu kemudian orang-orang memuji 'blognya keren, kamu pasti tahu segala sesuatu tentang ngeblog yang apik' ? Demi membentuk image sebagai blogger yang smart, cantik, menarik, baik hati  dan tidak sombong yang isi postingannya sangat bijak dan layak untuk dijadikan panutan? 

Jangan-jangan demi dilirik brand agar diajak kerjasama dan menghasilkan rupiah-rupiah yang lumayan bisa membunyikan notifikasi sms banking di hape? Pengen kayak segelintir mba mba dan mas mas yang sudah berjaya menjadikan blog sebagai mata pencaharian utamanya, gak perlu ngantor dan kelihatannya hanya jalan-jalan lalu posting di sosmed  sedang ngeblog di tempat-tempat ciamik itu? 

Saya pikir, mostly bloggers itu niatnya pengen berbagi konten yang (semoga) berguna buat orang banyak, yang bisa dijadikan amal jariah dan syukur-syukur ternyata adalah endorsement terselubung (eh!). Ketika kemudian personal brandingnya terbentuk sebagai blogger yang keren dan tech savvy misalnya, atau blogger yang bisa jadi panutan itu kembali pada apa yang sering kita posting dan bagaimana kita menggambarkan diri kita melalui postingan tersebut.

Saya ngeblog secara serius tahun 2011. Waktu itu ada lomba menulis tentang Korea Selatan yang diselenggarakan oleh KBS World. Hadiah utamanya adalah jalan-jalan ke Seoul. Tulisannya memang gak harus dipublished di blog, malah sebenarnya tulisannya harus dikirim via email ke panitia. Cek en ricek, saya tahu bahwa gak cuma KBS World yang menyelenggarakan lomba berhadiah traveling ke Korea Selatan. KTO (Korea Tourism Organization) pun biasanya tiap tahun menjaring para blogger yang sering menulis tentang Korea Selatan sebagai ambasadornya. Diajak dong ke Korea Selatan. Mau dong sayaaaa...

Semangatlah saya blogging tentang Korea Selatan. Apakah kemudian saya berhasil ke Korea karena blogging? Belum sih.. Lomba menulis KBS World hanya berhasil meraih juara harapan. Hadiahnya dompet, hahaha.  KTO pun belum melirik saya nih jadi ambassador.

Apakah kemudian saya patah semangat? Gak lah.. karena setelah itu banyak kesempatan dan job offer datang kepada saya walaupun itu gak ada hubungannya dengan Korea Selatan. Untuk postingan-postingan itu saya dibayar dengan jumlah yang alhamdulillah. Pada akhirnya saya beneran bisa ke Korea Selatan dan bisa mendapatkan kursi untuk ibadah haji dari recehan-recehan blogging.

See, sometimes it's not all about the money tapi duitnya datang sendiri. 

Lanjut....

Gimana kalau orientasinya memang nyari duit menjadikan blogging sebagai profesi? Siapa bilang gak bisa. Bisa aja. Tapi perlu diingat prosesnya gak bakal instan. Gak cuma sekedar buat akun google, tersebut kemudian membuat blog, dijadikan TDL, posting satu dua kali sekenanya lalu kemudian kamu bisa resign kamu dan nunggu dollar datang ke rekening. Bukannya gak mungkin, but it takes time, consistency and effort to do that. 

Emang Enak Jadi Blogger ? 


Kebanyakan orang melihat bahwa enak banget jadi blogger. Diundang ke event-event di tempat yang keren, pulang bawa goodie bag, dikasih uang transport, nginap gratis di hotel, dapat gadget keren, ke luar negeri, jadi pembicara, transferan rupiah sampai dollar, ngumpul-ngumpul melulu. Macam-macam lah ya orang-orang menilai blogger tampaknya seperti itu. Akhirnya pengen jadi blogger juga karena pengen seperti blogger-blogger yang sudah 'jadi' itu.

Saya sering loh dapat-dapat komentar dari teman-teman atau kenalan,"enak banget lu ya, barang-barang kebanyakan gratis. Duit ada aja. Nongkrong sana sini, ih keren banget!"

Makasih loh ya.. hehehe. Alhamdulillah, dibanding blogger kondang yang kerjasamanya sama brand gede-gede itu, saya masih kategori pas pas an. Pas butuh, pas ada. 

Lagipula sedikit yang orang tahu bahwa ada foundation yang harus dibangun. Mulai dari blognya itu sendiri, kontennya, kemudian bloggernya pun harus kuat di personal branding dan networking. Terima job pun harus diselesaikan tepat waktu dengan kualitas yang sebaik harga deal. Kedepannya harus selalu memikirkan konten berikutnya seperti apa dan kualitasnya harus upgrade terus. Harus menjaga hubungan baik dengan semua orang especially brand, pembaca dan sesama blogger. 

Banyak printilan lainnya yang banyak orang gak tahu karena mereka fokus ke hasil yang didapatkan oleh para blogger. Jadi ketika mereka memulai dan kemudian hasil yang diharapkan tak kunjung datang, kecewalah mereka. Gak sedikit pula yang akhirnya menerima paid postingan apa aja dengan harga berapa aja. Sesuatu yang gak bisa dijudge salah, tapi ya merusak harga blogger itu sendiri. If it's all for the money, bisa jadi sah-sah aja. Namun jika melihat para blogger lain yang ngeblog pakai hati dan put their effort on their post, rasanya agak gimana... gitu. 




Saya pribadi berpikir walaupun terkadang pengen banget menjadikan blogging ini sebagai profesi, pada akhirnya saya memilih blogging ini hanya sebagai hobi. Hobi yang dibayar, hehehe. Kenapa? Karena makin ke sini, waktu saya kebanyakan habis untuk kerjaan utama saya di kantor. Menulis mulai mood moodan. Terkadang ada job yang saya gak bisa ambil karena saya gak yakin bisa memenuhi deadline atau ada juga job yang saya tolak karena tidak sesuai dengan konsep blog ini. Saya juga gak jago-jago banget menulis dan membuat konten kreatif. So maybe next time, kalau saya sudah pensiun kali yah, hahaha. Mudah-mudahan panjang umur dan masih sehat. 

Selamat Hari Blogger Nasional, Keep On Blogging Till The End 


Mumpung hari ini tanggal 27 Oktober adalah hari Blogger Nasional jika kamu tertarik ngeblog, silahkan banget loh. Saran saya jangan memulai ngeblog hanya karena uang. Boleh banget menjadikan blogging sebagai salah satu mata pencaharian, siapa yang bisa larang? Remember, segala sesuatu ada prosesnya bahkan mie instant pun harus direbus dulu sebelum disajikan. Begitupun uang, gak begitu tiba-tiba datang kalau tidak diusahakan. 

Bagi kamu yang sudah ngeblog baik itu hitungan bulanan bahkan yang sudah lebih tua dari saya, keep on blogging till the end. Blogging mau dijadikan profesi atau hobi is all up to you. Content is the king and consistency is the queen. Meskipun menulis hanya bisa sekali dua dalam sebulan, jarang ke event dan kumpul dengan komunitas kayak saya, you're still blogger no matter what other bloggers say. lol. 



Nah, kamu sendiri melihat blogging ini profesi atau hobi? Sharing yuk komen kamu.