Makin Mudah Wisata ke Belitung

Menjelang akhir tahun seperti ini, rasa-rasanya pengen liburan. Gak perlu panjang-panjang sih, 1 – 3 hari lumayan lah ya. Paling tidak sekedar menghilangkan kejenuhan dari rutinitas atau ‘pemandangan’ lu-lagi-lu-lagi. 

Satu tujuan wisata di Indonesia yang pengen banget aku kunjungi itu Belitung. Iyah, Pulau Belitung yang booming gara-gara film Laskar Pelangi itu,loh. Sempat liat foto-foto teman yang sudah pernah mampir ke situ, aku kan jadi pengen juga.

Makin Mudah Wisata ke Belitung 


Banyak tempat-tempat yang tampaknya menyenangkan untuk dikunjungi, misalnya keindahan di gugusan pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Lengkuas, Pulau Basir, Pulau Pelayar, dan Pulau Burong. Menjelajah dari satu pulau ke pulau lain dengan menggunakan kapal nelayan semacam seru, ya gak sih? Bisa snorklingan atau sekedar terapung cantik (pake pelampung tentu aja) sambil menikmati hembusan angin pantai dan deru ombak. Sedeepp bener yaa..  


Selain wisata jelajah pulau, di Pulau Belitung kita bisa bertemu dengan spesies hewan asli pulau seperti monyet Tarsius dan rusa Belitung. Katanya nih, hewan-hewan asli itu bisa ditemukan di konversi Alam Batu Menas. Agak masuk ke hutan-hutan gitu sih gaes. Tentunya ini pas banget buat mantan anak pramuka yang suka bertualang.

Aku sih paling semangat mengunjungi satu kekhasan tersendiri dari pulau Belitung. Ada satu daerah bernama Mangar yang dijuluki kota 1001 kopi. karena banyaknya kedai kopi di salah satu bagian di kota ini. Sebagai pencinta kopi tentunya aku wajib kudu pasti banget nih menyesap secangkir dua cangkir kopi lokal di sana.

Nah, yang namanya liburan jauh kayak gini pastinya harus nyari tiket murah, hotel dan kalau perlu sih sudah ada yang nganterin ke mana-mana. Semacam paket wisata yang murah meriah menyenangkan gitu deh.

Sebagian orang bisa mungkin punya banyak waktu untuk browsing-browsing cari info atau bandingin harga tiket pesawat atau hotel yang satu dengan yang lain. Mulai dari cari tiket+hotel+itinerary. Sejujurnya aku paling males dengan hal-hal yang seperti ini. Kalau gak dapat tiket pesawat lewat travel fair, mending nyari tiket pesawat+hotel lewat aplikasi aja. 

Selama ini aku kan suka pesan tiket pesawat ya tiket pesawat aja, hotel entah booking di mana lagi, itinerary aku susun sendiri. Tahunya sekarang selain booking tiket di Traveloka sudah bisa booking hotel dan paket wisata pula. Gak perlu pusing mikirin itinerary dengan paket wisata Traveloka ini. Tinggal  cuzz aja. Caranya mudah kok.

1. Cari Tiket Pesawat dan Hotel

Masukkan detail penerbangan (berangkat dari mana, tanggal berapa, balik tanggal berapa, tiket untuk berapa orang) dan detail hotel (daerah mana, tanggal nginap dan untuk berapa orang). Klik Cari paket 


2.  Pilih Penerbangan dan Hotel 



Pilihan sesuai kemampuan, waktu dan senyamannya kamu aja. Tiket pesawat+Hotel sudah sepaket, dapat harga diskon pula. Malah setelah aku banding-bandingin, sebenarnya pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, loh. Hematnya bisa sampai 20% tanpa kode promo apapun. Lumayan kan, lebih Murah daripada pesan terpisah! Sisa uangnya mungkin bisa digunakan untuk wisata kulineran. Selain itu produk paket tiket+hotel ini mudah digunakan. Jadi sekarang tidak perlu lagi memesan tiket & hotel secara terpisah. Mudah dan saving time banget kan ya… 


4. Konfirmasi Penerbangan dan Penginapan 


5. Pilih Metode Pembayaran  


Tersedia bermacam pilihan metode pembayaran mulai dari kartu kredit sampai bayar di Indomaret/Alfamart. Aku kebetulan merasa lebih praktis bayar via Indomaret aja. 



Setelah bayar di kasir, biasanya pembayaran otomatis terupdate di sistem Traveloka. Kalaupun misalnya ada gangguan, Klik ‘Saya Sudah Bayar’ dan upload bukti pembayaran dari kasir sebagai konfirmasi pembayaran. Setelah terkonfirmasi, akan ada e-tiket penerbangan dan voucher hotel yang masuk di alamat email kita. 



Mmmh, kalau kayak gini kan meski gak ada libur kejepit nasional bahkan jika cuti sudah habis, masih bisa short trip nih gegara Traveloka. Kamu sudah pernah nyoba belum?  Kayaknya wisata seru ke pulau Belitung bakal lebih seru nih. Yuk, let’s go traveling and have fun!! 

Kerja Sambil Kuliah, Bisa Gak Ya?

Ada masanya di mana seorang pegawai atau karyawan merasa perlu untuk meningkatkan keilmuannya dalam bidang tertentu. Saat itulah di mana kita kepikiran untuk kuliah lagi. Lalu kita kepikiran, kerja sambil kuliah bisa gak, ya? 

Sebenarnya segala sesuatu bisa diusahakan jika memang sudah niat. Tentunya ada beberapa hal yang perlu disiapkan agar kerja dan kuliah bisa sejalan dan gak ada yang keteteran. Berangkat dari pengalaman pribadi selama dua tahun belakangan ini kerja sambil kuliah di jenjang S2, ini dia 6 hal yang perlu kamu siapkan agar kerja dan kuliah kamu bisa sejalan:



Kerja Sambil Kuliah, Bisa Gak Ya? 


1. Surat Tugas Belajar atau Surat Izin Belajar

Pastikan kamu mendapat salah satu dari dua surat sakti ini supaya kamu bisa tenang menjalani masa perkuliahan. Tanpa surat ini bisa dibilang percuma aja kamu kuliah, apalagi kalau ngambil kuliah regular dimana jam kuliahnya di hari dan jam kerja Senin sampai Jumat. Masih mending kalau kuliahnya dalam kota. Gimana kalau kamu diterima di universitas di kota berbeda atau malah di luar negeri? It's going to be very tough tanpa salah satu dokumen ini. 

Surat tugas belajar atau izin belajar adalah dokumen administrasi yang menunjukkan bahwa tempat kamu bekerja merestui dan memang mendukung kamu untuk menguprade pendidikan. Bisa jadi sebagai pertimbangan mutasi atau promosi. Bedanya adalah, surat tugas belajar membebaskan kamu sepenuhnya dari tugas-tugas sebagai karyawan selama masa belajar. Sementara surat izin belajar hanya membolehkan kamu kuliah namun tetap mengutamakan tugas-tugas kamu di kantor. 

Biasanya surat tugas belajar diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang mendapatkan beasiswa dari negara atau karyawan swasta yang memang ditugaskan langsung oleh perusahaannya untuk kuliah. Sedangkan surat izin belajar itu tidak bersifat penugasan tapi atas keinginan dan biaya dari pegawai/karyawan itu sendiri. 

Nah, pilih tugas belajar atau izin belajar nih? 

Menurut aku sih lebih enak tugas belajar. Disamping gratis karena mendapat beasiswa, kita juga bisa off dari tugas-tugas kantor. Jadi lebih konsen dengan tugas-tugas kuliah. Kamu juga bisa milih universitas di luar kota atau sekalian di luar negeri. Tapi untuk mendapatkan tugas belajar memang harus lewat program beasiswa atau dapat penunjukan langsung dari kantor. Keduanya pasti harus melewati seleksi yang cukup ketat. Begitu selesai kuliah juga harus ingat 'balas budi', gak boleh minta pindah selama dua tahun. Sementara untuk surat izin belajar, tidak ada kewajiban kerja kembali di tempat yang sama.  



Apapun, entah itu surat tugas belajar atau surat izin belajar, pastikan kamu pegang dokumen itu untuk kelancaran perkuliahan dan setelah kamu kembali bekerja. Percaya deh gaes, kuliah tanpa salah satu surat itu bikin kamu sport jantung, kuliah keteteran, ngantor juga gak nyaman. So, make sure you have one of them sebelum kamu masuk kuliah. 

2. Siapkan Fisik dan Mental 

Dunia kerja dan dunia kuliahan itu adalah dua dunia yang sangat berbeda. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitannya masing-masing. Kamu bisa aja terbiasa lembur di kantor dan berharap kuliah bakal jadi 'liburan panjang', bisa leyeh-leyeh, senang-senang sambil sesekali dengerin dosen. Bisa jadi sih, aku juga dulu mikirnya gitu. 

Tapi.. ternyata tugas kuliah S2 itu lebih banyak dan lebih berat serta deadlinenya tuh singkat banget. Aku pernah loh dapat tugas jam 5 sore, jawabannya mesti ditulis tangan dan harus dikumpul sebelum adzan subuh. Ada juga tuh tugas yang harus diemail sebelum jam sekian ke dosen yang bersangkutan. Kadang aku mikir ini tugas kuliah atau proyek Roro Jongrang, hahaha. Tapi berhubung aku sudah sering ditempa mengejar deadline lomba blog (hahaha), alhamdulillah ya jadi terbiasa #eh




Nah, hal lain yang menguras tenaga adalah kalau kamu cuma dapat surat izin belajar which is itu berarti kemungkinan untuk bolak balik kantor-kampus itu sangat besar, you better prepare! Bayangin aja, kadang-kadang ada jadwal kuliah pagi yang bener-bener pagi, lebih pagi dari jam kantor kamu. Itu berarti kamu harus ke kantor dulu buat absen, lalu ngacir ke kampus bekejaran dengan pengendara lain di jalan yang sama terburu-burunya dengan kamu. Setelah kuliah, kamu balik lagi ke kantor. Jadi yah, kuatkan fisik aja lah ya! 



3. Kenali Kemampuan dan Keterbatasan Diri 

Berkaitan dengan poin sebelumnya, penting banget untuk mengenali kemampuan diri kamu. Misalnya aku tahu diri banget kalau pikiranku lebih jernih ketika waktu subuh sebelum atau sesudah sholat. Soalnya disitu waktu yang sangat tenang menurut aku. Jadi aku bisa lebih konsentrasi dalam membuat makalah atau slide presentasi bahkan jika tugasnya harus dikumpul beberapa jam lagi.

Untuk yang terbiasa bekerja dibawah tekanan  hal ini bisa jadi efektif. Tapi kalau kamu gak terbiasa, jangan dipaksa juga. Oleh karena itu kamu harus tahu kemampuan kamu seperti apa. 



Begitu pun dengan keterbatasan diri kita. Disaat tugas kantor sedang banyak-banyaknya, sementara tugas kuliah juga numpuk gak ada salahnya untuk menentukan prioritas yang mana dulu nih yang harus diselesaikan sesuai dengan deadlinenya. Gak ada salahnya mengkomunikasikan keterbatasan dalam membagi waktu ini pada rekan kerja atau teman kuliah. Mana tahu mereka bisa membantu, kan?

A little help bisa sangat berarti apalagi untuk kamu yang terpaksa menjadi amoeba (baca:membelah diri) antara kerja dan kuliah seperti ini. 

4. Tetapkan Target 

Kalau kamu dapat tugas belajar, tentu aja kamu lebih prioritaskan kuliah,dong. Beban kerjaan di kantor itu apa? Hahaha *lalu disundut sama yang hanya dikasih surat ijin belajar*.    Namun, entah kamu full gak ngantor atau masih tetap harus ngantor sembari kuliah, pasang target untuk menyelesaikan tugas kuliah, menentukan topik tesis, menyusun tesis hingga ujian tutup itu penting banget gaes!



Untuk yang tugas belajar, biasanya beasiswa hanya diberikan dua tahun. Setelahnya kalau waktunya molor, silahkan bayar sendiri (which is itu sangat sangat nyesekin hati banget). Hal yang sama juga berlaku untuk surat ijin belajar. Biaya kan emang nanggung sendiri kan dari awal, tapi emang mau berlama-lama terbebani urusan pekerjaan dan kuliah yang gak beres-beres?

Diluar bahwa manusia berencana Tuhan menentukan, gak ada salahnya untuk menetapkan target agar tetap pada arah dan tujuan. Tsaaah!! 

5. Don't Forget To Have Fun 

Masa kuliah itu sebenarnya adalah masa yang sangat menyenangkan. You'll meet a lot of new people dengan karakter yang seru-seru dalam suasana yang lebih santai dibanding di kantor. Gak melulu diskusi, buat makalah, siapin slide atau presentasi tapi juga kamu bisa mendapatkan waktu 'liburan' even it's just nongkrong di kantin sambil nungguin dosen yang belum datang-datang juga atau ngetrip  ke luar kota dalam rangka nyari data (ah.. alesyan!).

Jalan Jalan Rasa Kuliah di Ewha University, Seoul 

Gak usah serius-serius banget meski kamu menetapkan target tertentu. Sometimes, pembelajaran terbaik itu bukan dari teori-teori di buku, melainkan dari socialising kamu dengan teman-teman dan dosen di kampus. Make your life balance and don't forget to have fun, alright? 

6. Keep On Fighting Till The End 

Cita-cita mulia semacam menuntut ilmu seperti kuliah ini memang ada aja tantangannya. Entah itu dari dalam diri kamu sendiri misalnya tiba-tiba semangatnya drop, ada masalah di kantor, di rumah atau kehidupan pribadi), dari orang lain atau dari jalan hidup yang sudah digariskan yang Maha Kuasa.

Ada masanya di mana kamu bisa jadi merasa, mengapa kerja sambil kuliah ini terasa berat? Apa sebaiknya berhenti aja? Lalu kamu  kehilangan arah, tak tahu jalan pulang dan merasa menjadi butiran debu. Tenang aja gaes, bahkan debu pun bisa jadi permata, hina jadi mulia, kok (Halah, ini jadi kayak lagu!). 

The point is, segala sesuatu yang menjadi pilihan kita memang mempunyai konsekwensi tersendiri. Kita sebagai orang (yang dituntut) dewasa harus menerima dan menghadapinya.  Rehat sejenak menurut aku sih gak masalah, tapi kalau menyerah.. wah, kok sayang banget ya rasanya secara sudah banyak waktu, tenaga (dan mungkin biaya) yang dikorbankan.

Kalau kamu merasa lelah dan kepikiran berhenti, pikir lagi emang siapa sih yang nyuruh kamu kuliah? Apa yang pertama kali membuat kamu pengen kuliah lagi? Tujuannya apa,sih ? Mudah-mudahan dari situ muncul lagi motivasi untuk semangat dan berjuang lagi. Keep on fighting till the end!

After Class With Pasca Sarjana Komunikasi Unhas Angkatan 2015 


Nah, itu dia beberapa hal yang based on my experience itu bisa membantu kita untuk kerja sambil kuliah. Sebenarnya gak terlalu penting bisa atau enggak, karena sebenarnya semua orang tuh bisa. Pertanyaannya kamu mau apa enggak? Kalau kamu sudah mau, apapun juga bisa kok. Semoga 6 hal di atas bisa membantu kamu untuk menjalankan kerja sambil kuliah. Semangat!! 

Reuni, Buat Apa Sih?

Akhirnya setelah sekian lama di gadang-gadang lewat whatsapp grup, melewati berbagai left dan join dari membernya, mute conversation saking ramenya percapakapan, pindah pindah calon venue dan endebre endebre, akhirnya hari itu datang juga. Reuni 20 tahun Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin angkatan 1997 (iyaaahh.. saya sudah tua!) jadi juga digelar di tanggal 23 September 2017 lalu.

I came to the venue not expect anything. Gak berharap bertemu siapa (aahh untungnya gak pernah pacaran sama teman seangkatan) atau gak kepikiran mau menghindari siapa (ya kali ada yang punya 'urusan lama belum kelar' kan ye...). Tidak berharap apapun bukankah akan lebih menyenangkan karena tidak akan ada rasa kecewa, yes? (#teamBaper yeeesssss!!!).

Reuni, Buat Apa Sih? 


Hujan deras menyambut ketika akhirnya saya tiba di aula Gedung Pertemuan Ilmiah Universitas Hasanuddin. Teman-teman sudah duduk membentuk lingkaran, bapak ibu dosen senior sudah memberi sepatah dua patah kata. Saya pun segera bergabung sembari menebar senyuman to the familiar faces dan dadah-dadah kepada para hadirin. ((hadirin)).




"Salah satu kebanggaan dosen adalah melihat anak didiknya sukses dan tidak melupakan dosen-dosennya."  ( Ir. Tahir Ali, Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin) 

Saya pernah baca satu postingan tentang seorang alumni yang berpapasan dengan dosennya . Pengen negur tapi kok malu, ntar gak dikenalin. Gak ditegur kok ya rindu pengen salim. Akhirnya dia hanya melewati dosennya begitu saja tanpa tahu dosennya sebenarnya ingat wajah walaupun gak ingat nama. Maklum, beribu mahasiswa sudah ditemui, gak mungkin juga hapal semua nama kan?

Makanya begitu memasuki sesi foto bersama, gak lupa saya nyamperin dosen pembimbing TA (Tugas Akhir) ku, ibu Ir.Hj.Nien Khamsawarni Nauman,yang diundang khusus di acara reuni ini. Gak berharap beliau ngenalin atau tahu namaku, yang penting salim dulu aja.

"Ibu apa kabar? Sehat, bu?"tanyaku sembari mengulurkan tangan untuk salim.

"Alhamdulillah, ibu sehat,"jawabnya ramah dengan senyum merekah menyambut tangan saya.

"Bu, boleh selfie bareng gak bu?"tanya saya hati-hati.

"Ayo ayo..!"jawab beliau. Teman-teman yang lain jadi ikut merapat dan akhirnya jadi wefie deh. hahaha...




"Mana hasilnya, coba liat. Bagus gak?"tanyanya. Saya memperlihatkan hasil groufie kami. Beliau tampak puas dan topik pembicaraan beralih ke hal lain.

Tak ada pertanyaan kerja di mana, sudah menikah atau belum, punya anak berapa atau pertanyaan-pertanyaan standar reuni gak penting yang terkadang bikin yang ditanya gak enak hati. Pengajar yang bijak tidak mengukur kesuksesan anak didiknya dari hal-hal seperti itu, bukan?



Walking The Memory Lane


Acara reuni 20 tahun angkatan 97 Teknik Elektro Universitas Hasanuddin di siang itu selesai setelah makan siang bersama dengan para dosen. Kami pun bergerak menuju pelataran Universitas Hasanuddin di mana beberapa tahun lalu menjadi lokasi foto angkatan. Mengulang yang sudah-sudah. Mengabadikan kembali yang pernah ada.

Seharusnya setelah itu kami bubar sejenak memberi kesempatan teman-teman dari luar kota untuk beristirahat sebelum menghadiri rangkaian acara berikutnya di malam hari. Tapi saya gak peduli. Kugandeng tangan Lenny, one of my partner in crime yang menjerumuskan saya ke lembah penyiaran radio ke arah studio EBS FM.

Radio EBS  adalah  radio kampus yang awalnya didirikan oleh kakak-kakak senior di jurusan Elektro jadi gak salah namanya EBS, singkatan dari Electro Broadcasting System. Pemancar sampai mixer dirakit sendiri oleh mereka sekalian mempraktekkan yang sudah dipelajari dari mata kuliah dan praktikum di lab. Gimana gak keren, coba? Dulu yang siaran hanya bisa dari mahasiswa Elektro saja. Saya dan Lenny termasuk salah satunya. Jadi gak ada salahnya nostalgia dulu kali yaaa....



Saat ini radio EBS gak lagi dimiliki sepenuhnya oleh jurusan teknik Elektro. Entah sejak tahun berapa radio EBS diakuisis pihak kampus dan berubah menjadi Education Broadcasting System. Penyiarnya tidak hanya dari Elektro atau anak Teknik saja namun juga terbuka untuk seluruh mahasiswa Universitas Hasanuddin. Gak apa-apalah, yang penting sejarahnya gak dilupakan oleh kru penerusnya.

Hari beranjak sore, saya pun segera melipir. Reuni menjadi semacam pintu terbuka melalui lorong masa lalu dengan rasa masa kini. Time change, memories still remain. Tinggal pintar-pintarnya kita aja menelusuri lorong waktu itu. Terkenang boleh, tersesat di dalamnya jangan sampai. Pun, tidak untuk membandingkan yang dulu dan yang baru. Datanglah kemudian bertemu dan membuat memori baru. Reuni buat saya, yah  seperti itu. Kalau kamu?